Showing posts with label Surya Saputra. Show all posts
Showing posts with label Surya Saputra. Show all posts

Wednesday, December 5, 2018

Ini Lho Promise (2017)

Film-film produksi Screenplay Films itu penting bagi industri perfilman tanah air. Walau sering dicap berkualitas sinetron, judul-judul macam "London Love Story" dan "ILY from 38.000 Ft" sanggup meraih jutaan penonton bahkan bukan tidak mungkin memperkenalkan kultur menonton bioskop kepada sasaran pasarnya (pemirsa televisi). Lambat laun mereka bakal melirik film lain, menjalani proses "belajar film". Tapi "Promise" ialah perkara Istimewa di mana para pembuatnya berambisi mengusung kisah remaja dan bangunan alur rumit, menerapkannya di formula FTV dangkal yang mana tidak selaras hingga gagal bekerja.

Kisahnya dibuka melalui pengenalan sepasang sahabat, Rahman (Dimas Anggara) dan Aji (Boy William). Rahman merupakan remaja polos anak pemuka agama (Surya Saputra). Didikan kolot sang ayah membuatnya aib berinteraksi pula enggan menatap mata perempuan dengan alasan menghormati. Tapi kenapa tato Dimas Anggara beberapa kali terlihat? Sebegitu malaskah departemen make-up film ini? Tidakkah sutradara Asep Kusdinar menyadari itu? Come on, menonton porno saja Rahman tidak berani, apalagi menciptakan tato. Sebaliknya, Aji ialah playboy, anak gaul yang bicara sok asyik, menggulung lengan dan membuka kancing seragamnya. Come on, anak gaul tak lagi berpenampilan begitu termasuk di Jogja yang menjadi setting.

Kenapa Jogja dipilih tak pernah terperinci kecuali penegasan protagonisnya ialah laki-laki kampung nan polos pula lurus. Really? Para penulisnya niscaya tidak memahami Jogja. Rahman pun hanya sesekali menggunakan logat Jawa (bukan bahasa Jawa) dan pelafalan Dimas Anggara terdengar menggelikan. Singkat cerita, akhir tertangkap berair menyimpan film porno derma Aji, Rahman diharuskan menikah oleh ayahnya. Ada potensi menggugat konsep perjodohan dan anutan kolot bersenjatakan agama, tapi Sukhdev Singh dan Tisa TS selaku penulis naskah urung bereksplorasi, membiarkannya tertinggal sebagai hiasan nihil substansi. Lalu dengan siapa Rahman dijodohkan? Di sini alur "Promise" bererak makin ambisius, menggunakan gaya non-linier. 
Kisahnya eksklusif melompat beberapa waktu ke depan, ketika Rahman berkuliah di Milan, bertemu Moza (Mikha Tambayong) yang rahasia jatuh cinta padanya. Hadir pula Ricky Cuaca sebagai comic relief tak lucu yang tampil hanya untuk bertingkah norak dan menyebalkan. Total screentime-nya tak hingga 10 menit termasuk adegan Ricky marah-marah di daerah umum lantaran menabrak tiang. Come on, this is Milan for fuck sake! Rahman sendiri rupanya tengah mencari sang istri yang identitas serta alasan kepergiannya belum terungkap. Sampai ia bertemu Aji yang sekarang menjadi fotografer sukses dan berpacaran dengan model berjulukan Sunbulat (Amanda Rawles).

Lupakan fakta bila sebelumnya Rahman dan Aji tak pernah diperlihatkan tertarik akan bidang yang mereka geluti di Milan, lantaran toh jalan hidup insan siapa yang tahu. Anda bisa mendadak ingin menjadi politikus ketika kuliah walau di Sekolah Menengan Atas bercita-cita sebagai aktivis. God only knows. Mari fokus pada pilihan alur non-linier saja. Apakah pemakaian gaya tersebut penting? Tentu tidak. Sama tidak pentingnya dengan pertanyaan "Kucing jatuh dari pohon apanya dulu?" yang balasan serta konteksnya teramat menggelikan. Pemakaian alur non-linier tak lebih dari bentuk kemalasan menghadirkan kejutan yang bahkan sama sekali tak mengejutkan.
"Promise" justru tersesat di kerumitan kisah yang dibangun. Alurnya asal melompat, begitu awut-awutan tanpa disertai alasan terperinci mengapa dari titik A ceritanya perlu melompat ke titik D, kemudian kembali ke B, dan seterusnya. Film ini tidak memerlukan kejutan, cukup nuansa romantis. Masalahnya, lompatan alur memaksa paparan hubungan Rahman dan cinta sejatinya ditempatkan di tengah menjelang akhir. Penonton dipaksa tersentuh oleh percintaan yang belum sempat disaksikan. Andai perjuangan memunculkan kejutan yang tidak perlu ini ditiadakan, bukan tidak mungkin filmnya bisa sedikit mempermainkan emosi. 

Bila ada faktor penyelamat, itu terletak pada beberapa shot memikat mata lengkap disertai warna-warna cerah. Jangan lupakan pula Mikha Tambayong yang sama memikatnya bagi mata. Mengenakan busana yang ditata apik oleh Aldie Harra, walau akting Mikha masih belum layak disebut realistis (sinetron-ish), penonton laki-laki pastinya bakal terhibur oleh gerak-gerik termasuk tariannya sewaktu clubbingAm I being sexist right now? Entahlah, tapi ketika filmnya menempatkan sang aktris selaku eye candy semata yang karakternya tak menyimpan signifikansi, saya bisa apa? 

Setiap tingkah dan keputusan aksara sulit diterima nalar sehat. Di produksi Screenplay lain saya sanggup mendapatkan sikap tak logis yang sengaja dibentuk demi memuaskan hasrat penonton atas konsep cinta sejati. Kali ini kebodohan mereka sudah keterlaluan, terlampau dipaksakan demi menggerakkan alur atau menambah konflik. Dosis kalimat puitis pun bertambah dan makin menggelikan semisal "Kamu seterang lampu di luar sana" (lampu mana mbak? Berarti kalau mati listrik Rahman tidak lagi terang?). Selipan unsur pernikahan, perjodohan, dan religiusitas tak menciptakan "Promise"  lebih remaja alasannya ialah semuanya sekedar tempelan yang bila dihilangkan pun tak jadi masalah. Untuk apa pula memaksakan tampil (sok) pintar dengan alur acak dalam suguhan semacam ini? Seolah belum cukup, menjelang simpulan filmnya masih menyelipkan unsur penyakit secara mendadak, menambah satu lagi hal tak perlu di tengah ambisi besar yang berujung kehancuran. Ungkapan "less is more" nampaknya patut diresapi Screenplay Films.

Tuesday, December 4, 2018

Ini Lho Dear Nathan (2017)

Dilihat dari sampul luarnya, gampang menghakimi "Dear Nathan" sebagai kisah cinta cukup umur dangkal yang sekedar mengandalkan paras rupawan para pemain drama dan baris kalimat sok puitis. Tapi siapa sangka, penyesuaian adaptasi novel berjudul sama karya Erisca Febriani ini merupakan salah satu romansa putih abu-abu paling manis dalam beberapa tahun terakhir. Tidak perlu setting luar negeri megah, wardrobe serba mahal, atau kemewahan-kemewahan lain yang belakangan kerap digunakan film cinta dalam negeri guna membuai penonton biar melupakan setumpuk kelemahannya. "Dear Nathan" sanggup membuai alasannya dua sejoli tokoh utamanya likeable serta believable.

Salma (Amanda Rawles) dan Nathan (Jefri Nichol) pertama bertemu ketika mereka terlambat mengikuti upacara bendera di sekolah. Nathan membantu Salma masuk lewat jalan rahasia, kemudian menghilang. Rupanya Nathan dikenal bandel, hampir tiap hari laga walau satu-satunya yang ia jadikan sasaran pukulan ialah para bully atau preman. Rupanya pertemuan pertama itu eksklusif menciptakan Nathan jatuh hati, dan dibantu oleh Rahma (Diandra Agatha), ia mulai mendekati Salma, yang meski menyimpan perasaan sama, ragu untuk eksklusif mendapatkan cinta Nathan. Tanpa diketahui banyak orang, Nathan sendiri menyimpan duduk kasus terkait masa kemudian tragis keluarganya.
Mengambil setting SMA, "Dear Nathan" menghadirkan pernak-pernik dunia tersebut. Bagus Bramanti dan Gea Rexy paham benar ibarat apa asmara yang pernah dialami secara umum dikuasai orang ketika SMA, kemudian menuangkannya ke naskah dalam dosis tepat. Curi-curi pandang ketika pelajaran olahraga, duduk berdua di sudut belakang sekolah, hingga jadi sentra perhatian sewaktu kali pertama berangkat berboncengan berdua. Memori saya dilemparkan ke masa itu dan dibentuk tersenyum mengingatnya. Sekolah Menengan Atas ialah kawasan cinta monyet penuh romantisme gombal mulai bersemi. "Dear Nathan" sanggup merangkum poin itu sembari menyelipkan keping lain ibarat sobat egois yang gemar mengatur, tata tertib menyebalkan, hingga selintas ukiran siswa akademisi (nan sok suci) dengan mereka yang dianggap nakal.

Nathan mewakili korban prejudice yang dipandang jelek bahkan sampah alasannya menolak mengikuti jalur lurus yang dianggap sesuai kaidah moralitas. Namun di balik tingkah kasar, ada kebaikan yang enggan diperhatikan orang-orang di sekitarnya. Nathan bukan insan penghasil quote "ajaib" macam Dimas Anggara di film-film produksi Screenplay. Daripada berkata-kata mesra, ia eksklusif bertindak untuk hal kecil sekalipun macam membelikan Salma cilok di jam istirahat. Jefri Nichol punya pesona yang bakal memancing jeritan penonton perempuan (dan beberapa pria) tanpa perlu kaku bertutur akhir berusaha tampak keren. Nichol tak coba mendramatisir penuturan kalimatnya. Terdengar manis berkat pelafalan natural, asyik, gampang menggaet simpati penonton bagi Nathan. Bagi para laki-laki emosional, Nathan akan terasa relatable
Cinta pada Salma ditambah perjuangan mengambil kembali kasih sayang ibu (Ayu Dyah Pasha) mendorong perubahan Nathan. Konsisten dengan perlawanannya terhadap prejudice, film ini tak berniat mengubah Nathan menjadi sosok lain yang oleh konsensus publik dianggap lebih baik ibarat Aldo (Rayn Wijaya) si ketua OSIS berprestasi misal. Serupa yang diungkapkan Salma, Nathan mesti menjadi versi lebih baik dari dirinya sendiri. Tetap easy going namun lebih teratur, pula bersedia memulai babak gres hidup khususnya bersama sang ayah (Surya Saputra). Patut disayangkan, mencapai titik ini penceritaan kurang mulus. Proses perubahan Nathan terkesan mendadak, tidak bertahap. Lubang pun sempat hadir terkait timeline membingungkan suatu adegan. Saya tidak sanggup menuliskan adegan apa, tapi melibatkan momen penting salah satu tokoh.

Daripada orkestra menggelegar, sutradara Indra Gunawan ("Hijrah Cinta") menentukan lagu-lagu pop ringan guna menemani perjalanan cinta Nathan dan Salma. Pilihan tepat, alasannya momen-momen mereka berdua terasa manis tanpa harus didramatisasi berlebihan (penyakit banyak romansa Indonesia). Balutan komedi segar hasil interaksi malu-malu kucing dua cukup umur sukses pula hidupkan suasana. Amanda Rawles berjasa di sini, dengan baik menangani kecanggungan dan salah tingkahnya Salma yang efektif memancing senyum. Ditutup oleh kebahagiaan manis di bawah guyuran hujan, lengkaplah "Dear Nathan", romantika cukup umur dengan pemfokusan pada penokohan, suatu hal yang sekarang semakin jarang ditemui tatkala puisi-puisi hampa nihil rasa jadi andalan.

Friday, November 30, 2018

Ini Lho Reuni Z (2018)

Berjam-jam aku memandangi halaman review yang masih putih polos alias kosong. Sambil duduk ditemani batang demi batang rokok, ingatan aku melayang kembali menuju Reuni Z, kerja sama kedua Soleh Solihun bersama Monty Tiwa di dingklik penyutradaraan sehabis Mau Makara Apa? (2017), berharap memperoleh wangsit ihwal paragraf pembuka. Tapi nihil. Semakin memeras otak, semakin kusut isi kepala. Mungkin aku sedang buntu. Mungkin aku penulis yang buruk. Mungkin alasannya cuma sedikit hal berkesan dalam filmnya.  Reuni Z memang tidak buruk, tetapi bakal segera terlupakan. Padahal, dilupakan jauh lebih mengerikan dari dikejar zombie.

Berbeda dengan jajaran protagonis, khususnya Juhana (Soleh Solihun) dan Jeffri (Tora Sudiro) yang sulit melupakan permasalahan mereka semasa SMA. Sempat bersahabat, bahkan membentuk grup band bersama, keduanya bertengkar di panggung, menghasilkan kekerabatan canggung yang bertahan hingga 20 tahun kemudian tatkala reuni diadakan. Ketika Juhana telah angkat nama sebagai bintang film film murahan sekaligus bintang iklan pompa air, Jeffri tetap merasa Juhana menghancurkan mimpinya sukses di dunia musik. Jeffri sendiri sekarang menikahi Lulu (Ayushita), si mantan bassis, dan sudah dianugerahi momongan, sedangkan Juhana masih hidup seorang diri.
Ketiganya, ditambah Mastur si penggebuk drum yang telah berganti kelamin dan nama menjadi Marina (Dinda Virgo Dewi), bertemu lagi di reuni Sekolah Menengan Atas yang oleh naskah buatan Soleh bersama Agasyah Karim dan Khalid Kashogi bukan cuma dijadikan arena para zombie berburu mangsa empuk, pula memfasilitasi keberadaan ensemble cast. Dari Surya Saputra si tukang bully, Henky Solaiman si guru, Verdi Solaiman si tukang pamer, Fanny Fabriana si MC, Ence Bagus si laki-laki sok alim, Joe P Project si satpam, hingga penampilan pasangan Anjasmara dan Dian Nitami. Begitu ambisius, kisahnya berusaha membagi porsi nyaris sama rata ke setumpuk nama di atas. Waktu pun terbagi, sehingga elemen persahabatan Juhana-Jeffri yang harusnya diutamakan justru sebatas numpang lewat.

Setelah repot-repot menaruh fokus pada banyak tokoh, ketika datang waktunya tamat hidup menjemput tanggapan serangan zombie, adegan kematian malah tersaji off-screen. Apalagi kalau bukan demi meminimalkan sadisme yang berpotensi memantik debat kusir melelahkan di tahap sensor. Dampaknya, beberapa kematian tak terduga maupun pengorbanan karakternya urung berefek. Polanya sering berulang. Salah satu tokoh terkepung pasukan zombie, sebelum adegan eksklusif berpindah tanpa memperlihatkan nasibnya. Bahkan sulit mengetahui apakah seseorang sudah meregang nyawa atau belum, kalau bukan alasannya mereka tak muncul di momen penutup.
Poin terkuat Reuni Z, yang sejatinya juga urung dimaksimalkan, ialah komedi. Beberapa kali aku tergelak. Melanjutkan pencapaian di Hangout (2016), Dinda jadi sosok terlucu yang mencuri perhatian berkat kesediaan menanggalkan rasa aib ketika melucu. Totalitas. Masalahnya tak semua tokoh menyimpan karakteristik selucu Marina alias Mansur. Jeffri tak lebih dari laki-laki paruh baya yang sesekali bersikap bodoh. Sementara profesi Juhana sebagai bintang film film murahan hanya dijadikan jalan biar film ini sanggup memajang beberapa parodi poster film Indonesia klasik serta menyelipkan cameo Joko Anwar. Selebihnya, daya tarik Juhana cuma sebuah slogan yang semakin sering diulang semakin menghilang kelucuannya.

Serbuan zombie sanggup memunculkan kesan atmosferik sebagaimana Night of the Living Dead (1968), sanggup pula seru menyerupai Dawn of the Dead, baik versi Romero (1978) atau remake karya Zack Snyder (2004). Tapi kejar-kejaran dengan zombie di Reuni Z tidak menegangkan, mencekam, atau seru. Humornya pun kolam bangun sendiri, di mana mengganti zombie dengan makhluk lain, takkan menghipnotis gaya leluconnya. Timbul beberapa pertanyaan. Bagaimana zombie mendeteksi korbannya? Mereka sanggup ditipu oleh bau, terpancing suara, tapi kadang melihat buruannya. Mereka pun sanggup tidak boleh melalui serangan di bab badan mana saja, menciptakan konklusi yang coba bermetafora bahwa mengenai kekuatan persahabatan jadi kurang berarti. Setidaknya riasan dan imbas Istimewa pada titik puncak digarap cukup baik.


Untuk ulasan versi vlog sanggup ditonton di sini:

Thursday, November 29, 2018

Ini Lho Something In Between (2018)

Untuk pertama kalinya, romana produksi Screenplay Films bisa tampil menyentuh hati. Naskah karya Titien Wattimena (Aruna & Lidahnya, Dilan 1990, Tanda Tanya) dan Novia Faizal (Cinta Tapi Beda, Heart Beat) bertindak selaku pembeda. Apabila naskah di film-film sebelumnya yang digarap oleh Tisa TS memperlakukan patah hati atau tragedi, semata sebagai alat biar para pemain mengalirkan air mata sederas mungkin, musik mengalun sekeras mungkin, sementara di dingklik sutradara, Asep Kusdinar (Magic Hour, London Love Story, Promise) berkesempatan mengeksploitasi gerak lambat demi efek dramatis.

Tapi dalam Something in Between, peristiwa menyedihkan bertugas memicu efek domino berupa tersulutnya emosi-emosi lain, termasuk yang bersifat positif. Titien dan Novia melaksanakan itu tanpa menjauh dari gaya khas Screenplay Films, ibarat obrolan puitis dan twist dramatis, yang kali ini disertai bumbu fantasi (we’ll get into that later). Pasangan pemeran utamanya pun masih diisi wajah familiar, yakni Jefri Nichol dan Amanda Rawles, yang sebelum ini telah bersama di 4 film (tidak termasuk cameo), serta bakal kita jumpai lagi pada final bulan ini lewat Dear Nathan Hello Salma.

Saya tidak bisa banyak menuliskan alurnya, lantaran mengungkap peristiwa selepas 20 menit pertama saja berpotensi spoiler. Pastinya, dalam Something in Between ada seorang cowok yan tetapkan kembali ke Indonesia dari London sehabis ia terus bermimpi ihwal sebuah kawasan dan seorang gadis. Dari sana, kita dibawa melihat pemandangan familiar: Jefri Nichol dan Amanda Rawles memerankan sepasang siswa-siswi Sekolah Menengan Atas yang saling cinta.

Tidak ada alasan besar lengan berkuasa mengapa Gema (Jefri Nichol) begitu kepincut pada Maya (Amanda Rawles), lantaran keduanya pun jarang berinteraksi, salah satunya lantaran mereka berasal dari kelas yang berbeda. Gema ialah murid kelas reguler, sementara Maya anak kelas unggulan. Menariknya, naskah film ini menyadari ketiadaan alasan tersebut, bahkan menjadikannya materi pembicaraan. Gema sendiri beralasan jikalau “Menyukai Maya lantaran tampak luarnya saja sudah sekuat ini, apalagi menyayangi dalamnya?”. Tidak masuk nalar memang. Tapi begitulah cara kerja cinta SMA.

Bicara romantika milik Screenplay Films sama saja bicara tuturan lisan gombal. Something in Between menekan obrolan (sok) puitisnya hingga ke takaran yang sanggup dikonsumsi secara aman, walau beberapa kalimat ditambah sikap antik Gema guna merebut hati Maya sesekali masih terasa cringey. Beruntung, Jefri dan Amanda memainkan “interaksi gulali” Gema-Maya melalui cara yang menyenangkan, sehingga saya pun menikmati keberamaan keduanya.

Melewati satu jam pertama, tensi sempat anjlok seiring permasalahan yang semakin menipis, sementara tingkah-tingkah unik Gema mulai menjadi pisau bermata dua. Berkat Dilan dan Nathan, metode rayuan tidak lazim kembali terkenal di dongeng cinta Sekolah Menengan Atas perfilman kita. Di sini, “proposal cinta” dan “kue ulang tahun” dari Gema sanggup membuat nuansa manis. Namun kemudian ia melangkah terlalu jauh, dan pada sebuah momen (anda akan tahu yang mana), “kreativitas” miliknya mulai terasa ndeso ketimbang romantis. Sayangnya momen tersebut turut berposisi sebagai titik balik dramatis filmnya, sehingga proses “banting setir” itu berlangsung kurang mulus, tak semudah itu diterima.

Perihal elemen fantasi, lagi-lagi saya tak bisa menjabarkan detailnya. Elemen tersebut memang berfungsi sebagai twist, tapi naskahnya bukan (cuma) mementingkan efek kejut, juga mengakibatkan elemen fantasi itu sebagai alat memainkan drama emosional seputar hubungan berbasis memori antara karakter. Memori yang memberi bobot rasa, bukan saja terkait urusan romansa, pula pertemanan dan keluarga. Dalam pengemasannya, alih-alih mengharu biru secara berlebihan sebagaimana biasa, kali ini penyutradaraan Asep Kusdinar lebih sederhana, membiarkan jajaran pemain, khususnya para pendukung, mengatrol kekuatan adegan.

Dari Yayu Unru sebagai penjaga sekolah, hingga Surya Saputra dan Djenar Maesa Ayu yang memerankan orang renta Maya, semua menerima kesempatan mengaduk-aduk perasaan penonton. Hadir pula Slamet Rahardjo, memerankan Pak Bagus si Kepala Sekolah yang hampir tiap kalimatnya terdengar menggelitik. Sejak Slamet Rahardjo di The Perfect Husband yang rilis April lalu, romansa produksi Screenplay Films memang mulai menampilkan aktor-aktor berpengalaman, yang terbukti merupakan keputusan tepat. Mari menantikan Christine Hakim dalam Dancing in the Rain bulan depan.

Andai bukan lantaran ending-nya, Something in Between takkan berhenti hanya sebagai persembahan terbaik Screenplay Films sejauh ini, bahkan layak disebut salah satu film Indonesia terbaik sepanjang tahun. Ending-nya inkonklusif, terburu-buru mengakhiri dongeng sebelum memberi resolusi memuaskan yang berpotensi membawa emosi menuju puncak. Ada kesan semuanya disimpan untuk materi sekuel. Bukan keputusan bijak. Selain melucuti kekuatan filmnya, melihat perolehan penonton hari pertama yang cukup rendah, saya mewaspadai sekuelnya bakal segera diproduksi. Sayang sekali.

Ini Lho Dear Nathan Hello Salma (2018)

Ironis. Dear Nathan Hello Salma (berikutnya disebut “Hello Salma”) terkena pengaruh tren “Jefr-Amanda” yang dimulai oleh film pertamanya, yang secara mengejutkan jadi salah satu tontonan terbaik tahun lalu. Setelahnya, selama satu setengah tahun, mereka berpasangan dalam 4 judul (Jailangkung, Jailangkung 2, A: Aku, Benci, dan Cinta, Something in Between), belum ditambah One Fine Day di mana Amanda Rawles menerima tugas kecil. Padahal Hello Salma yaitu film solid, tapi serupa pasangan yang selalu bersama tiap hari, niscaya ada kejengahan, sehingga kilau-kilau percintaan yang dahulu manis mulai terkikis.

Tapi kembali, Hello Salma tetap film apik. Mengadaptasi novel berjudul sama karya Erisca Febriani, kisahnya melanjutkan romantika Nathan (Jefri Nichol) dan Salma (Amanda Rawles) selepas keduanya tetapkan berpacaran di film pertama. Namun, memasuki tahun selesai SMA, relasi mereka justru retak, (lagi-lagi) jawaban kekisruhan buatan Nathan, yang berujung memaksanya pindah sekolah. Mereka menentukan putus. Sewaktu Salma tertekan jawaban paksaan ayahnya (Gito Gilas) melanjutkan kuliah di Fakultas Kedokteran UI (terjadi pada banyak dewasa termasuk di sekitar saya), Nathan bertemu Rebeca (Susan Sameh) di sekolah barunya.

Rebeca tak ubahnya Nathan di masa lalu. Dia hidup sendiri, jauh dari ibu lantaran enggan tinggal bersama sang suami gres pasca ayahnya meninggal bunuh diri, sebagaimana dahulu konflik Nathan dengan ayahnya (Surya Saputra). Apabila perkelahian jadi pelarian Nathan, Rebeca karam dalam depresi, bahkan mencoba bunuh diri. Kemiripan itu mendorong Nathan tergerak mengulurkan tangan, sesuatu yang hasilnya meluluhkan hati sang gadis.

Bagus Bramanti (Mencari Hilal, Kartini, Benyamin Biang Kerok) mempertahankan elemen terbaik dari naskah film pertama buatannya, yakni ihwal motivasi. Kita tak perlu bertanya-tanya “Kenapa?”, alasannya yaitu senantiasa ada alasan jelas. Sungguh masuk akal bila Rebeca kepincut. Ketika keluarganya menjauh, pihak sekolah hanya bisa memarahi dan menghukum, juga jadi korban perundungan teman-teman, Nathan justru berdiri, bersedia terlibat perkelahian demi membelanya.

Nathan menghembuskan napas gres bagi hidup Rebeca, mengalunkan kembali musik di telinganya menyerupai dikala Nathan memperbaiki radio tape milik mendiang ayahnya. Sama pula dengan bagaimana Rebeca membawa nyawa gres untuk franchise ini. Nathan tetap sosok yang dicintai penggemarnya berkat kemampuan Jefri Nichol menyeimbangkan sisi bad boy dan sweet boy. Chemistry-nya dengan Amanda Rawles pun sekuat biasanya, jikalau bukan bertambah natural.

Tapi mungkin itu penyebabnya. Mereka berdua masih (atau selalu) sama, dan sesudah bersama di begitu banyak film dalam waktu berdekatan, saya mulai lelah menyaksikan dinamika yang “itu-itu saja”. Nathan berseloroh, Salma merespon lewat perilaku malu-malu mau. Beberapa pihak mungkin bakal berargumen bahwa itu bukan kesalahan filmnya, melainkan eksploitasi berlebihan dari industri. Tapi tidak. Orang-orang di balik Hello Salma sadar betul formula Jefri-Amanda telah diperas habis-habisan, dan ketimbang mencoba arah gres yang segar, mereka menentukan jalur gampang dengan mengikuti pola.

Dan begitu Rebeca muncul sebagai sosok likeable berkat kemahiran Susan Sameh memainkan 2 wajah berlainan karakternya, Hello Salma malah datang di titik jenuhnya kala kedua tokoh utamanya bersama. Khususnya dikala sutradara Indra Gunawan (Hijrah Cinta, Dear Nathan, Serendipity) memasang mode autopilot, berbeda dibanding film pertama tatkala ia sanggup mengkreasi beberapa situasi romantis. Tarian slo-mo di bawah ujan sebagai penutup, misalnya.

Bukti kebersamaan Jefri-Amanda mulai menjemukan adalah, setiap Hello Salma menyelipkan elemen komplemen (meski kecil), contohnya menaruh Surya Saputra—dengan sisi kebapakan yang jauh dari kaku—di antara mereka, filmnya selalu menemukan pijakannya lagi. Semua berjalan mulus selama layar tidak cuma menampilkan mereka saja. Satu-satunya modifikasi bagi dinamika Nathan dan Salma, yakni menggiring Salma menuju kondisi yang lebih gelap, pun tak seberapa membantu.

Permasalahan Salma relevan. Tekanan orang tua, depresi pada pelajar jawaban tuntutan akademis, semua penting untuk dituturkan. Namun naskahnya urung menghasilkan penelusuran mendalam terhadap masalah-masalah di atas, melainkan sebatas jembatan semoga Nathan dan Salma bisa kembali bersama. Nasib demikian turut dialami Rebeca, yang berujung dikesampingkan selaku penghubung, walau kondisinya lebih kompleks, menarik, pun bisa mengemban tugas Salma sebagai penyalur isu.

Untunglah, soal menyusun momen-momen ringan termasuk komedik, naskahnya tampil solid. Walau satu adegan yang menampilkan seorang dukun terasa dipaksakan, sisanya bisa menghadirkan senyum dan tawa, apalagi dikala berurusan dengan situasi-situasi canggung yang berujung celetukan jenaka karakternya. Hello Salma menunjukkan bahwa seri Dear Nathan masih menonjol dibanding romansa putih abu-abu kebanyakan. Andai Jefri dan Amanda tak sesering itu bersama. Sebab, sewaktu pasangan utama film romansa yang mestinya didukung penonton justru tenggelam, tentunya ada permasalahan.  

Tuesday, November 6, 2018

Ini Lho Hujan Bulan Juni (2017)

Hujan Bulan Juni selaku penyesuaian novel puitis berjudul sama buatan Sapardi Djoko Darmono dari luar tampak sederhana tapi mengandung pergolakan rumit nan filosofis soal cinta di dalam. Mengisahkan Sarwono (Adipati Dolken) dan Pingkan (Velove Vexia), sepasang kekasih yang mengajar di Universitas Indonesia. Sarwono yang menentukan puisi sebagai cara mengungkapkan segala isi hati kepada Pingkan mulai khawatir begitu sang kekasih bakal melanjutkan kuliah di Jepang selama dua tahun. Alasannya Katsuo (Koutaro Kakimoto, putera Tetsuo Kurata alias Kotaro Minami), laki-laki Jepang sesama alumni UI yang akan menemani Pingkan selama masa studinya. 

Ini bukan semata konflik saling cemburu saling curiga yang kerap dijumpai dalam karya romansa populer. Seperti gaya bahasa metaforik multitafsir Sapardi, skenario karya Titien Wattimena mengakibatkan puisi media penyusun analogi guna merangkum setumpuk aliran serta problematika kompleks. Ada duduk perkara perbedaan suku pula keyakinan yang menyeret keluarga Pingkan (Sarwono ialah Jawa-Islam, Pingkan Manado-Kristen), keresahan terkait kesetiaan, hingga gagasan-gagasan Sarwono terkait cinta. Betapa sulit menuturkan bermacam-macam hal tersebut melalui paparan narasi tersurat. 
Ketersiratan membantu menyingkat penyampaian sembari menjangkau makna terdalam. Tentu butuh kesediaan penonton menguraikan benang berbentuk kalimat bersayap maupun simbolisme. Sebutlah perjalanan ke Manado yang notabene rumah Pingkan. Di sana pikiran Sarwono diganggu dua pria. Benny (Baim Wong) jadi perwakilan masa kemudian Pingkan, dan Katsuo yang segera mengisi rutinitas Pingkan di masa depan. Sementara Pingkan mesti bergulat dengan jati dirinya sebagai keturunan Manado. Proses tersebut makin berarti lantaran hadir di rumah atau kampung halaman selaku daerah segalanya bermula, layaknya menyusuri ruang paling dalam sekaligus paling konkret karakternya.

Pun pemakaian sajak Sapardi memberi kenikmatan tersendiri. Mendengarkan lantunan bait demi bait senantiasa mengundang decak kagum atas pengolahan kata sang penulis. Demikian indahnya, tanpa perlu memikirkan interpretasi niscaya pun hati ini sanggup kembang-kempis dibuatnya. Mendukung perjuangan Hujan Bulan Juni memvisualkan puisi, sinematografi Faozan Rizal memproduksi jalinan gambar yang menyimpan tuturan di balik keindahan. Kelopak bunga sakura, debur ombak, nyala neon berbentuk salib, masing-masing bagai punya kisah untuk diceritakan. Kisah yang mewakili rasa dua tokoh utama.
Penyutradaraan Hestu Saputra (Cinta Tapi Beda, Air Mata Surga) juga mencapai titik terbaik, menuangkan sensitivitas dalam keintiman Sarwono dan Pingkan lewat kedekatan batin ketimbang fisik. Bentuk olah rasa serupa dilakukan oleh Adipati Dolken dan Velove Vexia. Adipati dengan kelembutan natural yang menyimpan kerapuhan guna menjauhkan Sarwono dari kesempurnaan, Velove dengan energi ditambah keanggunan sehingga Pingkan layak dipuja. Mereka mulus bicara lewat hati, bercinta memakai kata. Sedangkan Baim Wong bersama Surya Saputra berjasa menyuntikkan humor segar yang menambah dinamika kunjungan ke Manado.

Sayangnya transformasi bahasa sajak ke sinema belum sepenuhnya lancar. Terdapat dua kelemahan di dua poin vital. Pertama monotonitas alur. Media novel tak menghadapi duduk perkara ini lantaran membiarkan imaji pembaca bebas bermain. Tapi di film, puisi serta gambar indah tidak sanggup menyembunyikan repetisi momen "tukar puisi" Sarwono dan Pingkan. Kedua, menerjemahkan ambiguitas ending novelnya yang berupa sajak bukan perkara gampang. Kembali, film butuh visualisasi, memaksa ambiguitas tadi dilucuti. Hasilnya ialah epilog yang terburu-buru, dipaksakan, bahkan ibarat kebingungan menentukan arah.