Showing posts with label Western. Show all posts
Showing posts with label Western. Show all posts

Wednesday, February 13, 2019

Ini Lho Brokeback Mountain (2005)


Kalo mendengar kata "Cowboy" apa yang kita pikirkan? Pastinya sosok lelaki bertopi yang hebat berkuda, menembak, rodeo, atau hebat lasso. Dan yang terang sosok cowboy pastinya yakni sosok yang macho, jantan dan liar. Tapi bagaimana kalo abjad cowboy justru digambarkan sebagai gay alias homoseksual? Disinilah keunikan film yang diangkat dari sebuah kisah pendek ini berada. Disutradarai oleh Ang Lee, seorang sutradara asal Cina yang udah jadi langganan Oscar dan Golden Globe, pastinya film ini gak menjadi sebuah film gay biasa saja. Didukung juga oleh cast yang mumpuni. Duo pemeran utamanya yakni Heath Ledger dan Jake Gyllenhaal. Dan ada Anne Hathaway sebagai aktris di film ini.

Film ini berkisah ihwal dua orang cowboy, Ennis del Mar (Heath Ledger) dan Jack Twist (Jake Gyllenhaal) yang bekerja bersama menggembala domba. Keduanya otomatis harus hidup bersama selama trend panas itu untuk bekerja. Ternyata usang kelamaan timbul perasaan lain dalam hati mereka. Hingga suatu malam mereka bercinta dan mulai dikala itu mereka menjadi sepasang kekasih gay. Hubungan itu menciptakan kerjaan mereka gak beres. Banyak domba yang mati, sehingga mereka harus berpisah dan kembali pada kehidupan lamanya. Ennis menikahi tunangannya, Alma Beers. Dan Jack kembali menjadi seorang rodeo dan menikah dengan Lureen Newsome (Anne Hathaway).


Ennis memiliki 2 anak perempuan, dan Jack memiliki satu anak laki-laki. Sampe mereka kembali bertemu suatu hari dan menjalin kekerabatan lagi. Apakah keduanya akan kembali pada istri masing-masing ato malah menentukan melanjutkan kekerabatan terlarang itu?

Akting duo Heath dan Jake emang brilian. Keduanya dapet nominasi pemeran utama (Heath) dan pemeran pendukung (Jake) terbaik di academy awards 2006. Keduanya sukses memperlihatkan kekerabatan sepasang gay yang saling mencintai. Bayangkan kalo The Joker dan Pangeran Persia saling berpacaran. Sutradara Ang Lee sendiri berhasil memenangkan Best Director di Academy Awards & Golden Globe.
Saya sendiri intinya sering merasa jijik melihat film yang bertema gay. Tapi biasanya film macam itu memiliki drama yang berpengaruh . Film ini sebenernya punya drama yang cukup bagus, tapi berdasarkan aku kadang agak terasa bosan. Mungkin dikarenakan gak ada bumbu lain di konfliknya selain kekerabatan sesama jenis. Beda dengan Milk yang selain memperlihatkan konflik gay juga memasukkan unsur konspirasi politik didalamnya.

RATING:

Tuesday, February 12, 2019

Ini Lho Jonah Hex (2010)


Jonah Hex ini punya banyak hal yang bisa bikin film ini sukses di pasaran sekaligus punya kualitas yang tidak mengecewakan bahkan berpotensi bagus. Yang pertama terang alasannya yakni film ini yakni pembiasaan komik terbitan DC. Walopun bukan termasuk komik kelas A tapi setidaknya film yang disesuaikan dari komik sudah punya fan base. Lalu dari jajaran cast yang ada juga menjanjikan. Josh Brolin sebagai Jonah Hex terang jadi sebuah jaminan akting bermutu. Ada juga pemain drama veteran John Malkovich, Michael Fassbender, Michael Shannon dan gak ketinggalan Megan Fox sebagai penyedap mata. Tapi entah kenapa dengan aneka macam faktor diatas film ini malah flop. Dengan budget $47 juta, film ini cuma bisa dapet pemasukan sekitar $10 juta alias rugi besar! Parahnya lagi film ini sanggup jawaban negatif dari aneka macam pihak. Apa emang seburuk itu?

Jonah Hex (Brolin) yakni anak buah dari Quentin Turnbull (Malkovich) disaat terjadinya perang sipil. Tapi alasannya yakni berlawanan pendapat, Hex membelot bahkan membunuh anak Turnbull yang juga sahabatnya. Tidak terima, Turnbull dan anak buahnya menyerbu rumah Jonah dan menangkapnya beserta anak dan istrinya. Jonah dipaksa melihat orang-orang yang disayanginya mati terbakar. Bahkan, Turnbull sempat meninggalkan "jejak" luka bakar diwajah Jonah.

Beruntung Jonah tidak tewas dan diselamatkan suku Indian. Pengalaman mendekati simpulan hidup malah menciptakan Jonah tambah andal dan punya kemampuan menghidupkan orang mati. Berbekal kemampuan barunya itu beliau mencari Turnbull untuk membalas dendam. Diperjalanan beliau juga dibantu seorang pelacur yang menjadi love interestnya, Lilah (Fox).

Well, film ini emang ancur. Dari yang pertama yakni plot hole yang bertebaran. Dan plot hole yang paling ancur yakni opening yang menceritakan masa kemudian Jonah. Niatnya mempersingkat+dibikin menarik dengan balutan animasi komik malahan jadi gak jelas. Oya, dan aku kurang bisa mendapatkan wangsit ceritanya. Bagaimana mungkin seorang laki-laki yang berusaha balas dendam atas simpulan hidup keluarga yang beliau cintai dengan sangat ditengah perjalanan malah menjalin asmara dengan seorang pelacur? Terlalu dipaksain. Hal pengganggu yang lain yakni adegan "bayangan" perkelahian Jonah dan Turnbull yang menyelingi adegan didunia nyata. Entah mau dibikin nyeni atau abstrak tapi yang terang itu wangsit yang jelek dengan sanksi yang lebih buruk. Cast yang menjanjikan juga kurang optimal. Josh Brolin jadi yang tampil dengan kelasnya, beliau oke, dan keren sebagai Jonah Hex. Malkovich? Gak jelek tapi kurang berkesan jahat. Michael Fassbender juga cukup sepakat jadi penjahat semi psikopat. Dan Megan Fox? Seperti biasa seorang penyedap mata yang entah darimana tiba-tiba diakhir film jadi andal pegang senjata.

OVERALL: Kalo gak tertolong jajaran cast yang lumayan, lengkaplah film ini jadi calon berpengaruh akseptor Razzie 2011, dan emang buat aku ini termasuk salah satu film terburuk tahun ini.

RATING:

Ini Lho The Magnificent Seven (1960)


Setelah menonton film-film baru, saya mencoba "break" buat nonton film usang yang termasuk kategori bagus, atau berdasar review yang ada dianggap film yang bagus. Pilihan saya jatuh pada film rilisan tahun 1960 berjudul "The Magnificent Seven". Film ini yaitu remake dari film Jepang rilisan 1956 karya sutradara legendaris Akira Kurosawa yang berjudul "Seven Samurai". Bedanya, samurai diganti dengan koboi di film remake ini. Sekarang The Magnificent Seven diakui sebagai salah satu remake terbaik yang pernah dilakukan Hollywood. Sebuah prestasi mengingat biasanya Holly malah merusak kualitas film yang mereka buat ulang. Prestasi ini makin membanggakan mengingat Seven Samurai sendiri yaitu sebuah film yang masuk kategori "Best Movie Ever Made" alias salah satu film terbaik yang pernah dibentuk yang secara tidak eksklusif menasbihkan The Magnificent Seven sebagai kategori itu juga.

Sebuah perkampungan di Mexico sedang dilanda duduk kasus akhir kampung tersebut seringkali dijarah oleh seorang berandal berjulukan Calvera. Calvera dan anak buahnya menjarah hasil pertanian dan harta warga kampung. Calvera sendiri berjanji akan segera kembali. Warga desa yang tidak tahan menderita hasilnya mengirim 3 perwakilannya ke perbatasan untuk membeli senjata. Tetapi sesampainya disana mereka malah bertemu seorang jago tembak berjulukan Chris yang menyarankan untuk menyewa orang alasannya hal itu lebih murah daripada membeli senjata.


Akhirnya malah Chris setuju membantu warga desa itu dan mencari orang tambahan. Hingga lewat pencarian dan sedikit keberuntungan Chris menemukan 6 orang lain. Harry Luck, mitra usang Chris yang meyakini didesa tersebut terdapat harta karun. Vin, jago tembak yang ditemui Chris secara tidak sengaja dan sedang butuh uang. Bernardo O'Reilly, jago tembak yang punya kekuatan otot diatas rata-rata dan juga sedang kekurangan uang. Britt, selain jago tembak juga pelempar pisau handal dan mematikan. Lee, seorang penembak cepat yang sedang dalam pelarian dan sedang mengalami krisis kepercayaan diri. Dan yang terakhir yaitu Chico yang paling muda dan menggebu gebu. Terkumpul 7 koboi jago tembak untuk melawan sekitar 40an bandit.

Kalo melihat film ini dari kacamata jaman kini terang berbagai lubang khususnya dibidang special effect dimana efek baku tembak dan bekas tembakan terlihat tidak nyata. Cinematography film ini juga terasa kurang rapih. Tapi kalo kita lihat fakta bahwa film ini yaitu rilisan tahun 1960, terang The Magnificent Seven memperlihatkan hal yang luarbiasa. Sutradara John Struges berhasil mengadaptasi jalan kisah Seven Samurai yang aslinya berdurasi 207 menit atau hampir 3 setengah jam menjadi 128 menit alias 2 jam lebih sedikit. Jalan ceritanya asyik diikuti. Mulai dari pengenalan tokoh, rekrutmen koboi, perencanaan taktik, samapi pertempuran titik puncak semuanya bagus.

Tapi yang paling saya suka yaitu abjad 7 koboi disini yang punya ciri dan kekuatan masing-masing jadi tidak terasa ketimpangan yang terlalu besar walaupun abjad Chris menjadi leader. Pengenalan masing-masing abjad ketika terjadi rekrutmen buat saya berasa keren, khususnya abjad Britt. Pembangunan abjad itu menciptakan saya jadi peduli dengan nasib 7 koboi pendekar kita ini dan berharap kesemuanya bertahan hidup dan tetap menjadi Magnificent Seven. (SPOILER: Walaupun bagi yang udah pernah nonton Seven Samurai niscaya tahu jika tidak semuanya sanggup bertahan hidup) Jangan lupakan juga score film ini yang luarbiasa dan hasilnya disesuaikan untuk score iklan rokok marlboro.

OVERALL: Salah satu remake terbaik yang pernah dibuat, dan salahs atu film western terbaik juga.

NOTE: Film ini juga menjadi posting terakhir blog ini di 2010. Tahun yang luar biasa ditutup dengan film luar biasa.  HAPPY NEW YEAR!!!

RATING:

Ini Lho True Grit (2010)

Coen Brothers yang populer dengan film yang punya plot unik dan huruf menarik tahun ini merilis sebuah film ber-genre western yang disesuaikan dari novel berjudul sama (True Grit) yang pada tahun 1969 juga pernah dibentuk filmnya. Lagi-lagi Coen Brothers berhasil menyatukan cast yang menarik dalam film ini. 2 bintang film yang sebelumnya pernah sekali bekerja sama dengan mereka, Jeff Bridges dan Josh Brolin ada disini. Selain mereka berdua, ada juga Matt Damon yang makin menambah daftar bintang di film ini. Seorang aktris muda pendatang baru, Hailee Steinfeld juga turut ambil bagian. Saya menonton True Grit terang dengan ekspektasi tinggi ihwal sebuah film western yang dibentuk oleh Coen Brothers yang berarti akan ada banyak keunikan disana, dan kalimat yang terbayang sebelum menonton film ini tentunya "Film kualitas oscar."
Mattie Ross (Hailee Steinfeld) menyimpan dendan terhadap Tom Chaney (Josh Brolin) seorang laki-laki yang telah membunuh sang ayah. Hal itu menciptakan gadis yang gres berusia 14 tahun tersebut berniat untuk mencari sang pembunuh, hidup atau mati. Mattie kemudian mencari orang yang sanggup menolongnya mencari Chaney. Pilihan jatuh kepada seorang U.S. Marshall  berjulukan Rooster Cogburn (Jeff Bridges). Rooster yang merupakan Marshall yang unik (tua, doyan tidur, dan pemabuk) karenanya mendapatkan pekerjaan ini dan mereka berdua mulai melaksanakan perjalanan mencari Tom Chaney. Ditengah jalan emreka bertemu dengan seorang Texas Ranger, LaBoeuf (Matt Damon) yang ternyata juga mencari Chaney yang terlibat kasus pembunuhan di Texas. Walaupun sering berbeda argumen, karenanya mereka bertiga justru berjalan bersama untuk mencari Chaney.
Satu ciri khas Coen Brothers tetap ada dan 1 ciri khas lainnya agak menghilang di film ini. Ciri khas yang tetap ada yaitu huruf yang unik dan menarik. Dan itu terlihat pada diri Rooster Cogburn yang diperankan Jeff Bridges. Pemabuk, semaunya sendiri, tapi sanggup dibilang memang punya skill. Sekilas mengingatkan pada kiprahnya di "The Big Lebowsky" sebagai The Dude tapi tokoh Rooster masih "lebih berguna" daripada The Dude yang memang cuma malas-malasan dan menghisap ganja. Menurut aku Rooster yakni adonan dari The Dude dan Bad Blake (tokoh yang dimainkan Bridges di Crazy Heart dimana beliau menang Oscar tahun lalu). Tokoh yang lain walaupun tidak semenarik Rooster tetap bagus. Khususnya Mattie yang diperankan Hailee Steinfeld yang pada debutnya bermain film berhasil tampil bagus. Matt Damon dan Josh Brolin juga tetap pada kapasitasnya walaupun tertutup oleh keunikan huruf Rooster Cogburn.

Sedangkan ciri khas yang agak hilang yakni Black Comedy ala Coen. Tidak sepenuhnya hilang, tetapi tidak sebanyak film-film mereka yang lain. Lebih seolah-olah kearah "No Country For Old Men" tapi bedanya efek kejut di "True Grit" tidak sebanyak di film yang membawa Coen Brothers meraih Oscar mereka itu. Tapi begitu black comedy itu muncul, aku berhasil dibentuk terhibur dan tertawa. Memang tidak hingga menciptakan film ini buruk, hanya saja kurang kentalnya unsur black comedy disini menciptakan ekspektasi aku terhadap jenis film yang disajikan tidak terlalu terpenuhi.

Thursday, January 31, 2019

Ini Lho Rango (2011)

Setelah tiga kali berkolaborasi dengan sutradara Gore Verbinski melalui trilogi "Pirates of the Caribbean" (dimana film keempatnya tidak disutradarai Verbinski), Johnny Depp kembali diarahkan oleh sutradara yang sukses membawa Sadako ke Hollywood tersebut. Bedanya kali ini mereka berkolaborasi dalam sebuah film animasi dimana Depp menjadi pengisi bunyi aksara utamanya. Karakter utama film ini yaitu Rango, seekor bunglon yang berambisi menjadi "sesuatu" yang lebih berarti, tetapi ambisi itu terhalang dikarenakan dirinya hanyalah bunglon peliharaan yang terkurung. Sampai disebuah perjalanan kandangnya terjatuh dan pecah sehingga Rango tersesat di padang pasir Mojave.

Perjalanan Rango akibatnya berujung disebuah kota yang kekurangan air berjulukan "Dirt". Tidak butuh waktu usang dari Rango untuk menjadi seorang yang disegani dan menajdi sheriff kota tersebut. Tapi hal itu bukan alasannya yaitu kehebatannya namun akhir cerita-cerita bohong mengenai kehebatan dan kepahlwanannya yang ia ceritakan kepada para penduduk kota. Kini Rango menjadi impian gres bagi para penduduk kota. Tapi sekali lagi permasalahannya Rango bukanlah ibarat apa yang ia ceritakan namun hanya seekor bunglon peliharaan biasa yang belum pernah mencicipi kerasnya kehidupan liar.
Animasi dalam film ini yaitu salah satu yang terbaik untuk film animasi. Segala detail tekstur hewan-hewan, keadaan gurun pasir serta hal-hal lainnya diperlihatkan dengan begitu detail dan mendekati kenyataan. Jelas sekali walaupun tidak semua orang sanggup menyukai dongeng dalam film ini, tapi "Rango" hampir sanggup dipastikan jadi kenikmatan dari segi visual yang luar biasa bagi hampir semua penonton. Yak, dongeng dalam "Rango" sanggup dibilang bukan semua orang atau lebih tepatnya bukan untuk semua umur alasannya yaitu banyak konten yang bukan untuk menu anak-anak. Beberapa humor yang ada juga bukan humor bagi anak-anak. Tapi itulah kelebihan "Rango" bagi saya yang intinya kurang menyukai humor belum dewasa yang sering muncul dalam film animasi lainnya. Kemunculan sosok "Man with no name" yang mengacu pada tokoh yang diperankan Clint Eastwood juga yaitu salah satu momen lucu yang hanya berhasil bagi para penikmat film khususnya genre western.

Proses pembuatan "Rango" juga tidak kalah unik dimana para pemeran dan aktris yang terlibat didalamnya berakting dan bergestur sesuai dengan yang aksara mereka lakukan dalam film untuk lebih sanggup menghasilkan bunyi yang pas. Saya menyaksikan proses "behind the scene" film ini yang ternyata tidak kalah lucu dengan filmnya sendiri, dimana Johnny Depp terlihat begitu mengkhayati kiprahnya sehingga sanggup dilihat tokoh Rango juga punya gestur yang cukup "nyentrik" layaknya karakter-karakter Depp sebelumnya. Tidak hanya gestru, bunyi yang ia sumbangkan juga berkarakter dan berbeda dengan karakternya yang sudah-sudah.

Dengan buruknya kritik yang diterima film "Cars 2" hampir sanggup dipastikan tahun 2012 nanti Oscar untuk "Best Animated Feature" bukan lagi milik Pixar, dan "Rango" yaitu salah satu kandidat terkuat selain film macam "Rio" atau "Kung Fu Panda 2". Menurut saya eksklusif "Rango" jauh lebih superior dibanding kedua film itu. Mungkin tentangan terberat ada di final tahun, apalagi jika bukan "The Adventures of TinTin" milik Spielberg. Tapi sebelum itu hingga ketika ini "Rango" masih film animasi terbaik bahkan salah satu film terbaik tahun ini yang punya visualisasi luar biasa dan humor yang tidak kekanak-kanakan.

RATING:

Friday, January 18, 2019

Ini Lho Cowboys & Aliens (2011)

"Cowboys & Aliens" punya semua yang diharapkan oleh summer movie. Cerita penyesuaian komik. Sutradara Jon Favreau yang sukses menciptakan dwilogi "Iron Man" yang juga penyesuaian komik. 2 pemeran utama yang menjadi ikon film action, Daniel Craig (James Bond) dan Harrison Ford (Indiana Jones) disokong oleh Olivia Wilde sebagai embel-embel dan emmm Noah Ringer si Avatar. Bujet yang digelontorkan juga tergolong besar, diatas $160 juta. Dan tentunya keberadaan Steven Spielberg selaku direktur produser turut menjamin film ini punya unsur science fiction yang kental serta CGI yang mumpuni.

Kita akan diperkenalkan pada Jake Lonergan (Daniel Craig) yang terbangun dan tidak ingat siapa dirinya dan apa yang terjadi hingga ia bisa ada disana. Kebingungannya masih ditambah dengan terpasangnya sebuah gelang dari logam berbentuk aneh ditangannya. Jake kemudian hingga di kota berjulukan Absolution dimana ia harus berurusan dengan Sheriff setempat (Keith Carradine) yang menangkapnya alasannya yaitu ternyata Jake yaitu seorang buronan. Sebelum itu Jake juga sempat "menghajar" Percy (Paul Dano) seorang perjaka sok jago yang merupakan anak dari Colonel Dolarhyde (Harrison Ford) yang merupakan orang terpandang dan ditakuti disana.

Malam harinya ketika Dolarhyde tiba dan ternyata mengenal Jake sebagai pencuri emasnya, mereka dan warga setempat dikagetkan oleh munculnya kilatan cahaya dari langit yang ternyata yaitu pesawat alien yang kemudian menyerang desa tersebut bahkan menculik beberapa orang. Pistol dan senapan koboi tidak bisa menghentikan serangan tersebut. Yang mengejutkan yaitu gelang besi yang terpasang di lengan Jake ternyata yaitu sebuah senjata yang bisa menghancurkan alien tersebut. Buronan itu risikonya berubah jadi keinginan terakhir untuk bisa mengehntikan invasi alien. Jake beserta Dolarhyde dan seorang perempuan misterius berjulukan Ella (Olivia Wilde) dibantu warga desa mulai mencari sarang alien untuk menghancurkan dan menyelamatkan warga yang diculik.
Banyak yang bilang inspirasi mempertemukan koboi yang bersenjatakan psitol dan senapan jadul dengan alien yang berteknologi tinggi dan bersenjatakan laser canggih yaitu inspirasi konyol. Tapi bagi saya itu yaitu inspirasi yang menarik dengan catatan penggarapannya maksimal dan penngabungan unsur western dan sci-fi bisa diseimbangkan dengan tepat porsinya. Jika itu dilihat dari peleburan di layar "Cowboys & Aliens" memang berhasil, dalam artian setting padang gurun sebagai lokasi film ini memang sangat tepat untuk penggambaran dalam film western. Dan hal itu berhasil digabungkan dengan efek CGI untuk pesawat canggih dan para alien-aliennya. Penggabungan 2 hal tersebut berjalan mulus dan baik. Yang kurang justru dalam penempatan unsur dongeng dan nuansanya. Jika kita kesampingkan setting lokasi yang tepat dan wardrobe para koboi, film ini tidak ubahnya film agresi para insan melawan alien biasa. Nuansa koboi menyerupai adegan berkuda dan baku tembak "jantan" porsinya sangat kurang.
Para alien juga sama saja. Meskipun efek CGI untuk mereka bagus, tapi keberadaan mereka terasa kurang menjadi ancaman. Porsi kemunculan mereka termasuk sedikit untuk durasi film yang nyaris 2 jam ini. Bahkan saya merasa para alien ini tidaklah mengancam kelangsungan hidup umat insan meskipun menculik banyak orang. Faktor kurang intimidatifnya para alien ini disaat kemunculan mereka yaitu faktor utama penyebab hal tersebut. Perjuangan koboi dengan senjata sederhana mereka melawan alien yang canggih kurang terasa. Boleh dikatakan film ini minim letupan emosi. Seharusnya pertarungan 2 kubu itu bisa terasa sangat heroik. Tidak hanya terasa berat sebelah biasa saja tapi benar-benar harus  terasa menyerupai semut lawan gajah. Ingat bagaimana "Avatar" milik James Cameron pernah memperlihatkan hal serupa? Memang ceritanya biasa saja tapi setidaknya unsur heroik dan sedikit epik masih terasa dalam film tersebut.

Untungnya film ini punya jajaran pemain yang tampil bagus. Daniel Craig memang sangat pantas menjadi seorang Jake yang terlihat sebagai jagoan yang keras. Saya sulit membayangkan jikalau Robert Downey Jr. jadi memerankan tugas ini. Downye Jr memang sempat mengisi posisi Craig dimana ketika itu "Cowboys & Aliens" akan mempunyai unsur komedi juga, tapi "untungnya" Downey Jr mundur dan fokus menjadi Sherlock alasannya yaitu meski ia yaitu pemain drama yang mahir saya rasa Craig lebih pantas untuk posisi ini. Sementara Harrison Ford juga memperlihatkan akting yang juga hebat. Kekurangan justru tiba dari karakterisasi Dolarhyde yang sebelum kemunculannya digambarkan sebagai sosok kejam tapi ternyata tidak sejahat itu. Olivia Wilde? Dia berhasil menampilkan porsi yang seimbang antara akting bagus dan sebagai pemanis.

Satu lagi kekurangan yaitu dalam faktor bromance. Menurut saya akan lebih baik jikalau kombinasi Jake dan Dolarhyde lebih diperdalam lagi. Pasti akan lebih baik dan keren menyaksikan dua orang ini berkombinasi dengan lebih "layak". Gabungan antara jagoan tough dalam sosok Jake dan anti pahlawan yang harusnya lebih kejam dalam Dolarhyde. Tambahan si bagus Olivia Wilde juga akan menyempurnakan hal tersebut. Tapi sayangnya hal itu tidak terjadi dan penggabunngan unik 2 genre yang amat berbeda (western & sci-fi) ini tidak berjalan lancar dan agak mengecewakan.

Thursday, January 17, 2019

Ini Lho Meek's Cutoff (2011)

Saya yakin tidak banyak orang yang menonton atau bahkan mendengar judul film ini. Padahal ada nama Michelle Williams dan Paul Dano disini. Tapi memang film isyarat sutradara Kelly Reichardt ini kurang menerima buzz sehingga kurang terdengar khususnya bagi kalangan penonton film mainstream. Meek's Cutoff juga tidak terlalu digubris dalam award season kali ini. Jikapun ada itu dikarenakan Michelle Williams yang menerima nominasi untuk Best Actress dan itupun lebih condong kearah performanya di My Week with Marylin sebagai Marylin Monroe. Hal tersebut mengakibatkan film ini jadi terasa sangat underrated padahal dari segi kualitas boleh diaktakan film ini patut jadi salah satu yang terbaik tahun ini meskipun akan sulit diikuti oleh banyak orang alasannya yaitu temponya yang lambat dan minim dialog.

Kisah dalam film ini diangkat dari sebuah bencana konkret mengenai perjalanan sekelompok orang melintasi Oregon Trail yang terjadi pada 1845. Kelompok itu terdiri dari 3 pasang suami istri termasuk Solomon Tetherow (Will Patton) sang pimpinan dan istrinya Emily Tetherow (Michelle Williams). Dalam perjalanan tersebut mereka menyewa jasa Stephen Meek (Bruce Greenwood) sebagai penunjuk jalan. Tapi perjalanan itu mulai makin berat sesudah memasuki ahad kelima dimana persediaan air mulai menipis. Padahal Meek berjanji akan sanggup membawa mereka ke kawasan tujuan dalam 2 minggu. Hal itu menciptakan mereka menjadi kurang percaya pada Meek bahkan sempat muncul rencana untuk membunuhnya meski balasannya urung dilakukan.
Sleeping Beauty. Yang kedua yaitu film sunyi yang punya dongeng menarik dan justru sanggup menyeret saya untuk terpaku pada kisahnya yang lambat menyerupai Meek's Cutoff ini. Didukung sinematografi yang indah dan jalinan dongeng serta konflik yang menarik, film ini jauh dari kata membosankan bagi saya. Konflik seputar rasa tidak percaya dan kecemasan jadi suguhan utama disini. Konflik itu sudah muncul semenjak awal ketika kelompok dalam film ini mulai merasa tidak percaya pada Meek dan yakin bahwa mereka ketika ini tersesat walaupun Meek sendiri berdalih dan yakin mereka ada dijalan yang tepat. Konflik mengenai rasa tidak percaya itu makin berpengaruh ketika tokoh Indian muncul. Perbedaan bahasa antara kedua belah pihak, menjadi dasar rasa tidak percaya itu. Menarik dilihat bahwa ternyata rasa tidak percaya seringkali muncul bukan melalui anutan yang mendalam akan tetapi sering alasannya yaitu kita tidak tahu menahu mengenai orang yang kita curigai.

Tokoh Indian tersebut sangat menarik juga untuk disimak. Kesan yang ia munculkan sangat misterius sehingga kita sebagai penonton sendiri ikut curiga dengan segala tindak tanduk Indian itu. Memang beberapa bahasa non-verbal yang ia tunjukkan cukup sanggup dimengerti tapi hal itu tetaplah bukan jaminan bahwa ia yaitu sosok yang sanggup dipercaya. Interaksi Indian dengan Stephen Meek juga mengakibatkan perasaan ironis dalam diri saya. Meek terlihat tidak percaya pada Indian itu alasannya yaitu menurutnya ia tidak kunjung membawa mereka ke mata air yang dimaksudkan. Bahkan Meek sempat akan membunuh sang Indian. Terasa ironis meningat bergotong-royong Meek juga melaksanakan hal yang sama ketika tidak kunjung berhasil membawa kelompok yang menyewanya ke kawasan tujuang sesuai waktu yang dijanjikan. Simbol sebuah egoisme yang sangat terasa. Selain mereka berdua, tokoh yang dimainkan Michelle Williams juga termasuk unik untuk ukuran sosok istri dalam film western. Tentunya karakterisasi unik itu juga diduking oleh akting yang berpengaruh dari Michelle Williams. 

Secara keseluruhan terang film ini akan berat disaksikan untuk banyak orang. Tapi bagi anda yang mencari alternatif tontonan diluar film-film blockbuster yang berdasarkan saya kualitasnya tahun ini sedikit menurun dibanding 2010 lalu, maka Meek's Cutoff yaitu tontonan yang sangat tepat. Sangat disayangkan film ini terlalu underrateddan gaungnya kurang sehingga banyak orang yang melewatkannya bahkan ajang penghargaan juga melewatkan film ini.

RATING: