Showing posts sorted by relevance for query galih-ratna-2017. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query galih-ratna-2017. Sort by date Show all posts

Tuesday, December 4, 2018

Ini Lho Galih & Ratna (2017)

Sebelumnya, Lucky Kuswandi ("Selamat Pagi, Malam", "Madame X", "The Fox Exploits The Tiger's Might") sempat terlibat dalam remake film Indonesia klasik lain, yaitu menulis naskah bagi "Ini Kisah Tiga Dara". Serupa karya Nia Dinata tersebut, "Galih & Ratna" merupakan perjuangan modernisasi bernuansa hipster bagi materi lama. Lihat saja, di era digital mirip sekarang, huruf utamanya justru mendengarkan musik memakai kaset dan walkman. Namun itu bukan semata-mata gimmick supaya nampak keren, melainkan selaras dengan inspirasi filmnya atas proses menyimpan kenangan, mengabadikan momen tatkala seseorang jatuh cinta. 

Ratna (Sheryl Sheinafia) terpaksa menghabiskan tahun terakhir Sekolah Menengan Atas di Bogor, tinggal bersama sang tante (Marissa Anita) kala ayahnya (Hengky Tornando) pindah ke Australia. Di sekolah barunya ini, Ratna bertemu Galih (Refal Hady) yang pendiam dan misterius. Ratna pun terpikat. Tapi Galih berbeda dengan Ratna. Dia berasal dari keluarga kurang bisa di mana ibunya (Ayu Dyah Pasha) mengemban beban menafkahi keluarga seorang diri pasca sang suami meninggal. Apalagi toko kaset "Nada Musik" milik mereka tidak lagi dilirik orang akhir perubahan jaman. Galih dan Ratna bertemu, menjalin cinta yang bersemi dari SMA, seraya bersama menyokong mimpi masing-masing.
Mayoritas publik lebih mengenal lagu "Galih & Ratna" ketimbang sumber filmnya yakni "Gita Cinta dari SMA". Oleh alasannya itu keputusan Lucky Kuswandi dan Fathan Todjon selaku penulis naskah memberi peranan penting pada musik bisa dimengerti. Selain alunan lagu-lagu yang tepat menemani bahkan menguatkan rasa dari adegan, terdapat pula presentasi musik sebagai belahan kultural khususnya seputar media kaset. Kaset mixtape menunjukkan pemahaman si pembuat akan "target" dan musik. Terkesan romantis lantaran selain ungkapan rasa pembuatnya ada effort besar ketika mencari dan merekam. Bandingkan dengan kini ketika seseorang bisa begitu gampang memasukkan lagu dalam keping CD. Walau bagi penonton yang kurang familiar atas kultur tersebut, paparan itu takkan terlalu relatable

Awal timbulnya benih cinta Galih dan Ratna memang terlalu cepat di mana mereka telah saling suka sebelum penonton sempat jatuh cinta pada keduanya. Kekurangan itu untung ditebus oleh interaksi menarik ketika Galih dan Ratna makin intens berhubungan. Daripada buaian kalimat gombal, naskahnya memposisikan dongeng cinta tokoh utamanya selaku proses mengenal lebih dalam lewat aneka macam dialog santai. Sebab jatuh cinta tak melulu diekspresikan dengan bertukar puisi. Cukup duduk bersama membicarakan musik, mimpi, dan masa depan. Pada akibatnya meski diawali terburu-buru, gampang meyakini Galih dan Ratna saling cinta. Mereka saling mengenal, memahami dan menyukai "isi" masing-masing, bukan sekedar tampak luar.
Interaksi "renyah" juga tercipta alasannya naskahnya tidak berlebihan berusaha tampil romantis, sempat menyelipkan humor penyegar suasana yang tepat dibawakan oleh jajaran cast. Marissa Anita selalu penuh semangat, heboh, menyuntikkan energi di tiap kemunculannya sehingga kita tak kuasa menahan senyum. Joko Anwar sebagai guru galak penegak hukum pun kerap menggelitik berkat rangkaian celetukan pedas. Kemudian ada kemampuan Sheryl Sheinafia menyeimbangkan sisi manis Ratna dengan kebolehan berkomedi. Ekspresi konyol kala ia menanyakan arti kata "gita" pada sang tante yaitu pola terbaik. Sedangkan Refal Hady punya charm luar biasa, pertanda bahwa untuk terlihat keren tak perlu berakting kaku atau sok cool

Pemilihan judul "Galih & Ratna" alih-alih "Gita Cinta dari SMA" bukan saja didasari brand image, pula faktor narasi. Kehidupan Sekolah Menengan Atas masih disoroti tapi bukanlah panggung utama. Kisahnya mempunyai cakupan lebih luas, bukan pula semata-mata bicara cinta. Poin utamanya yaitu kebebasan. Kebebasan bermimpi, kebebasan bertindak, kebebasan menentukan masa depan. Galih dan Ratna merupakan perwujudan individu berjiwa bebas di tengah "kekangan". Cita-cita mereka terbentur alasan serupa dari orang tua: materi. Di sekolah, keduanya (dan siswa lain) dihadapkan pada tata tertib yang amat membatasi (larangan berjualan, hukum ketat berpenampilan). Sederet tabrakan tersebut hadir menggigit, memancing pergolakan emosi sekaligus pemikiran mengingat sejatinya tidak ada pihak yang salah. 
Ditinjau lebih jauh, sempat ada shot singkat menampilkan semboyan "Bogor Kota Beriman" menggambarkan soal keteguhan masyarakat memegang moral terutama agama. Shot itu dilanjutkan kepulangan Galih tatkala adiknya tengah mencar ilmu mengaji. Apa yang Galih lakukan? Dia menyalakan walkman sambil membantu pekerjaan ibunya. Rangkaian momen ini menguatkan penokohan. Bahwa meski hidup di satu lingkungan dalam kondisi tertentu, seseorang tetap bebas, tidak harus mengikuti arus utama yang mana selaras pula dengan pilihan anti-mainstream karakternya pada musik. Yep, sounds hipster indeed

Apabila diibaratkan lagu, pendekatan Lucky Kuswandi bagai balada dengan dominasi petikan gitar akustik. Sebuah romansa low key yang mengalun lembut dan konsisten, serta lirih minim gejolak namun tetap manis berkat komposisi tepat. Nampak bagus nan elegan pula visualnya berkat sinematografi Arifin Cuunk. Untuk penonton yang terbiasa akan suguhan menggelora, keputusan meminimalisir dramatisasi mungkin bakal menurunkan daya bunuh, apalagi meski bittersweet, konklusinya enggan berderai air mata. Tapi kalau anda mencari tontonan romantis tanpa perlu menjadi cengeng dan menekankan pada sisi manis kala dua sejoli menjalin kekerabatan ketimbang tearjerker manipulatif, maka "Galih & Ratna" yaitu tontonan tepat.

Wednesday, November 7, 2018

Ini Lho Nominasi Dan Sedikit Opini Pameran Film Indonesia 2017

Pada Kamis (06/10/2017) malam, Festival Film Indonesia 2017 akibatnya mengumumkan daftar nominasi. Dari tahun ke tahun, FFI memang kerap memancing polemik, tak terkecuali tahun ini. Pertama soal ketidakpastian jumlah nominasi, ada yang empat, lima, enam, bahkan tujuh. Seolah tanpa ketentuan. Hal ini paling terasa di kategori "Pemeran Utama Pria Terbaik", di mana hanya ada empat nama, dan Reza Rahadian lewat performa baik di Critical Eleven bukan termasuk di antaranya. Kedua terkait dimasukkannya Kartini ke "Skenario Adaptasi Terbaik" dengan alasan "didasarkan pada kisah hidup R.A. Kartini". Terakhir soal kelayakan Posesif sebagai nominasi. Sebab salah satu syarat penerima FFI yaitu sudah menerima STLS (Surat Tanda Lulus Sensor), dan bila melihat data di website LSF, film karya Edwin itu belum tercantum, meski beberapa pihak menyatakan surat tersebut telah didapat.

Namun tidak semua hal mengenai FFI 2017 bernuansa negatif. Senang melihat judul-judul di luar drama, memperoleh pengakuan. Pengabdi Setan mendapat 13 nominasi, terbanyak kedua sesudah Kartini dengan 14 nominasi. Sementara Night Bus membawa pulang 12 nominasi. Ini terang langkah positif dikala banyak ajang penghargaan atau pekan raya seolah gengsi menyertakan horor atau thriller. Berikut daftar nominasi lengkap beserta sedikit pembahasan.

Film Terbaik
  • Cek Toko Sebelah 
  • Kartini 
  • Night Bus 
  • Pengabdi Setan
  • Posesif
Belum menonton Posesif, tapi keempat nominasi lain terang layak. Meski berharap Sweet 20 turut disertakan. Kartini besar kemungkinan bakal jadi pemenang, meski akan menyenangkan bila Pengabdi Setan berjaya.


Sutradara Terbaik
  • Edwin - Posesif
  • Emil Heradi - Night Bus
  • Ernest Prakasa - Cek Toko Sebelah
  • Hanung Bramantyo - Kartini
  • Joko Anwar - Pengabdi Setan
  • Ody C. Harahap - Sweet 20
Menarik melihat ada enam nama, dan salah satunya ada Ody C. Harahap, menunjukan kelayakan Sweet 20 merangsek di kategori Film Terbaik. Pertarungan sengit antara Ernest dan Hanung, dengan Joko Anwar sebagai kuda hitam.


Penulis Skenario Asli Terbaik
  • Ernest Prakasa - Cek Toko Sebelah
  • Gina S. Noer - Posesif
  • Joko Anwar, Ernest Prakasa, Bene Dion Rajagukguk - Stip & Pensil
  • Nurman Hakim, Zaim Rofiqi, Ben Sohib - Bid'ah Cinta
  • Raditya Dika - Hangout
Hangout mendapat ratifikasi tampaknya berpijak pada keberanian eksperimen Dika, meski sejatinya tak berjalan mulus. Stip & Pensil, juga Bid'ah Cinta amat layak mengingat usungan tema yang begitu relevan. Semestinya kemenangan bagi Ernest, meski keputusan memasukkan Posesif seolah bukti kecintaan besar juri terhadapnya.


Penulis Skenario Adaptasi Terbaik 
  • Bagus Bramanti, Hanung Bramantyo - Kartini menurut kisah hidup R.A. Kartini
  • Fathan Todjon, Lucky Kuswandi - Galih Dan Ratna menurut novel "Gita Cinta dari SMA" karya Eddy D. Iskandar
  • Joko Anwar - Pengabdi Setan menurut film Pengabdi Setan (1980)
  • Rahabi Mandra, Teuku Rifnu Wikana - Night Bus menurut kisah pendek "Selamat" karya Teuku Rifnu Wikana
  • Upi - Sweet 20 pembiasaan skenario film Korea Selatan Miss Granny (2014) 
Sekali lagi, Kartini mestinya termasuk skenario asli. Keberadaannya di sini membesarkan kemungkinan kemenangan Hanung dan Bagus Bramanti.

Pengarah Sinematografi Terbaik
  • Amalia T.S - Galih Dan Ratna
  • Anggi Frisca - Night Bus
  • Batara Goempar - Posesif
  • Faozan Rizal - Kartini
  • Ical Tanjung - Pengabdi Setan
Faozan Rizal dengan kecerdikan permainan cahayanya akan menang sesudah bersaing ketat dengan parade teror memukau mata Ical Tanjung.

Pemeran Utama Pria Terbaik
  • Adipati Dolken - Posesif
  • Deddy Sutomo - Kartini
  • Ernest Prakasa - Cek Toko Sebelah
  • Teuku Rifnu Wikana - Night Bus
Reza Rahadian semestinya menjadi nominee kelima dengan kemungkinan menang terbesar. Ernest yaitu sutradara sekaligus penulis yang baik, tapi tidak demikian sebagai aktor. Sedangkan Deddy Sutomo nampaknya lebih sempurna di kategori pemeran pendukung.

Pemeran Utama Wanita Terbaik
  • Adinia Wirasti - Critical Eleven
  • Dian Sastrowardoyo - Kartini
  • Putri Marino - Posesif
  • Sheryl Sheinafia - Galih Dan Ratna
  • Tatjana Saphira - Sweet 20
Walau ingin melihat kemenangan Adinia, rasanya Dian Sastrowardoyo takkan terkalahkan.

Pemeran Pendukung Pria Terbaik
  • Alex Abbad - Night Bus
  • Dion Wiyoko - Cek Toko Sebelah
  • Slamet Rahardjo - Sweet 20
  • Tyo Pakusadewo - Night Bus
  • Yayu Unru - Posesif
Satu nama yang terlewat tak lain Ade Firman Hakim di Bid'ah Cinta. Persaingan ketat antara Dion Wiyoko dan Slamet Rahardjo. Dion akan menang andai FFI ingin mengutamakan pemeran muda.

Pemeran Pendukung Wanita Terbaik
  • Adinia Wirasti - Cek Toko Sebelah
  • Christine Hakim - Kartini
  • Cut Mini - Posesif
  • Djenar Maesa Ayu - Kartini
  • Marissa Anita - Galih Dan Ratna
  • Niniek L. Karim - Sweet 20
  • Widyawati Sophiaan - Sweet 20
Tujuh nama terang terlalu banyak. Adinia tampil baik, namun belum setingkat beberapa nama lain, khususnya Christine Hakim. Widyawati Sophiaan di Critical Eleven begitu luar biasa, tapi tampaknya FFI tak mempunyai cinta bagi film tersebut.

Pemeran Anak Terbaik
  • Aisha Nurra Datau - Iqro: Petualangan Meraih Bintang
  • Bima Azriel - Surat Kecil Untuk Tuhan
  • Muhammad Adhiyat - Pengabdi Setan
  • Muhammad Razi - Surau Dan Silek
  • Neysa Chandra Melisenda - Kartini
Kemenangan Muhammad Adhiyat si "bocah setan" akan menggembirakan banyak pihak termasuk saya. 

Film Pendek Terbaik
  • Amak - Ella Angel
  • Babaran - Meilani Dina Pangestika
  • Buang - Eugene Panji
  • Jendela - Randi Pratama
  • Kleang Kabur Kanginan - Riyanto Tan Ageraha
  • Lintah Darat - Putri Zakiyatun Ni'mah
  • Nyathil - Anggita Dwi Martiana
  • Pentas Terakhir - Triyanto "Genthong" Hapsoro
  • Ruah - Makbul Mubarak
  • Salam Dari Kepiting Selatan - Zhafran Solichin
Pengarah Artistik Terbaik
  • Allan Sebastian - Kartini
  • Allan Sebastian - Pengabdi Setan
  • Benny Lauda - Filosofi Kopi 2: Ben & Jody
  • Vida Sylvia - Sweet 20
Entah lewat Kartini atau Pengabdi Setan, Allan Sebastian akan membawa pulang piala, meski nuansa vintage warna-warni garapan Vida Sylvia tak kalah memikat.

Penata Efek Visual Terbaik
  • Amrin Nugraha - Night Bus
  • Epix Studio, Postima, Mag - Rafathar
  • Finalize Studios (Heri Kuntoro, Abby Eldipie) - Pengabdi Setan
  • Fixit Works (Dana Riza & Faranas Irmal) - Pasukan Garuda (I Leave My Heart in Libanon)
  • Orangeroom CS - Gerbang Neraka 
Gerbang Neraka punya pemanfaatan CGI terbaik dalam film Indonesia sejauh ini, jadi terang saya memberi pinjaman pada siapa.

Penyunting Gambar Terbaik
  • Aline Jusria - Sweet 20 
  • Arifin Cuunk - Pengabdi Setan
  • Cesa David Luckmansyah - Cek Toko Sebelah
  • Kelvin Nugroho dan Sentot Sahid - Night Bus
  • Ryan Purwoko - Critical Eleven
  • Wawan I. Wibowo - Kartini
  • W. Ichwandiardono - Posesif
Bicara koheresi, hasil karya Aline Jusria patut membawa pulang kemenangan.

Penata Suara Terbaik
  • Dwi Budi Priyanto, Khikmawan Santosa - Pasukan Garuda (I Leave My Heart in Libanon)
  • Khikmawan Santosa, Sutrisno - Kartini
  • Khikmawan Santosa, Anhar Moha - Pengabdi Setan
  • Khikmawan Santosa, Mohamad Ikhsan Sungkar, Madunazka - Cek Toko Sebelah
  • Khikmawan Santosa, Mohamad Ikhsan Sungkar Suhadi - Critical Eleven
  • Wahyu Tri Purnomo, Jantra Suryaman - Night Bus
Selain naskah, penataan bunyi film lokal termasuk kekurangan sumber daya mumpuni yang mana terlihat dari dominasi Khikmawan Santosa. Permainan tata bunyi pembangun atmosfer di Pengabdi Setan jadi unggulan.

Penata Musik Terbaik
  • Aghi Narottama, Tony Merle, Bemby Gusti - Pengabdi Setan
  • Ivan Gojaya - Galih Dan Ratna
  • McAnderson - Filosofi Kopi 2: Ben & Jody
  • Thoersi Argeswara - Pasukan Garuda (I Leave My Heart in Libanon)
  • Tya Subyakto - Mooncake Story
Duel sengit trio Pengabdi Setan melawan Ivan Gojaya. Siapapun pemenangnya di antara kedua pihak bukan masalah.

Pencipta Lagu Tema Terbaik
  • Isyana Sarasvati - "Sekali Lagi" - Critical Eleven
  • Melly Goeslaw -"Dalam Kenangan" - Surga Yang Tak Dirindukan 2
  • Mada The Overtunes -"Senyuman dan Harapan" - Cek Toko Sebelah
  • The Spouse -"Kelam Malam" - Pengabdi Setan
I Still Love You (Cek Toko Sebelah) dari The Overtune pantas masuk. Sekali Lagi adalah nomor yang amat menyentuh, tapi tak ada lagu tema seikonik Kelam Malam.

Penata Busana Terbaik
  • Anggia Kharisma - Filosofi Kopi 2: Ben & Jody
  • Dara Asvia - Sweet 20
  • Gemailla Dea Geriantiana - Night Bus
  • Isabelle Patrice - Pengabdi Setan
  • Retno Ratih Damayanti - Kartini
Don't bet against Retno Ratih Damayanti.

Penata Rias Terbaik
  • Cherry Wirawan - Night Bus
  • Cherry Wirawan, Dian Anggraini - Gerbang Neraka
  • Cika Rianda - Posesif
  • Darwyn Tse - Pengabdi Setan
  • Darto Unge - Kartini
Film kita kerap miskin kreativitas merias hantu, dan Darwyn Tse menyajikan kualitas di level yang berbeda.

Film Animasi Pendek Terbaik
  • Darmuji 86: Bhinneka di Persimpangan - Ahmad Hafidz Azro'i
  • Kaie And The Phantasus's Giants - Ahmad Hafidz Azro'i
  • Lukisan Nafas - Fajar Ramayel
  • Make A Wish - Salsabilla Aulia Rahma
  • Mudik - Calvin Chandra, Ardhira Anugrah Putra, Alfonsos Andre, Aditya Prabaswara
Film Dokumenter Panjang Terbaik
  • Balada Bala Sinema - Yuda Kurniawan
  • Banda: The Dark Forgotten Trail - Jay Subyakto
  • Bulu Mata - Tonny Trimarsanto
  • Ibu (En Extraordinary Mother) - Patar Simatupang
  • Negeri Dongeng - Anggi Frisca
  • Tarling is Darling - Ismail Fahmi Lubis
Film Dokumenter Pendek Terbaik
  • Anak Koin - Chrisila Wentiasri
  • Dluwang: The Past From The Trash - Agni Tirta
  • Living In Rob - Fuad Hilmi
  • Sepanjang Jalan Satu Arah - Bani Nasution
  • Solastalgia - Kurnia Yudha F.
  • Songbird: Burung Berkicau - Wisnu Surya Pratama
  • The Unseen Words - Wahyu Utami Wati

Monday, November 5, 2018

Ini Lho 15 Film Indonesia Terpilih 2017

Terinspirasi dari Piala Maya, saya menggunakan istilah "Terpilih" alasannya yaitu beberapa alasan. Pertama, tidak adil rasanya menyebut "Terbaik" apabila tidak semua film Indonesia yang rilis saya tonton, di mana total hanya 85 judul berhasil disantap tahun ini baik pada penayangan reguler maupun festival. Kedua, ini bukan ajang penghargaan yang melibatkan juri dari bermacam-macam latar keahlian. 15 judul di bawah yaitu pilihan eksklusif yang dipengaruhi selera, sudut pandang, sekaligus pengalaman hidup selama setahun terakhir. Bukan mustahil, kalau kelak diminta menyusun daftar serupa, urutannya bakal berubah. Untuk sekarang, inilah "15 Film Indonesia Terpilih 2017" versi Movfreak. (Beberapa film seperti Istirahatlah Kata-Kata, Turah, dan Salawaku sudah masuk di daftar tahun lalu).

15. GALIH & RATNA
Lucky Kuswandi sanggup menghidupkan lagi kisah cinta klasik sembari menyinggung bermacam-macam permasalahan yang relevan di masa kini, baik di dalam maupun luar lingkup dunia SMA. Sederhana, tanpa kehilangan sisi manis. Bila mixtape kembali terkenal sebagai alat lisan cinta, Galih & Ratna rasanya turut berjasa. (Review)

14. ZIARAH
Mengadopsi klenik Jawa sebagai motor pencetus kisah pemahaman hidup lewat pencarian seorang nenek terhadap makam suaminya. Walau masih jauh dari maksimal khususnya terkait penyaluran emosi kepada penonton, tema serupa takkan muncul lagi di perfilman kita dalam waktu dekat. (Review)

13. DEAR NATHAN
Film yang melambungkan nama Jefri Nichol sebagai idola gres remaja, dan sejauh ini masih film terbaik sang aktor. Jika anda mempertanyakan kenapa Jefri dan Amanda Rawles bagai satu paket, Dear Nathan jawabannya. Chemistry solid keduanya mencuatkan romantisme kuat. (Review)

12. BID'AH CINTA
Film religi terbaik Indonesia selama beberapa waktu terakhir sehabis Mencari Hilal. Nurman Hakim berani menyenggol praktik Islam yang kaku tanpa melaksanakan penghakiman berat sebelah. Beragama yaitu soal toleransi. Poin yang semestinya dimengerti masyarakat negeri ini. (Review)

11. KARTINI
Andai Hanung bersedia menekan sedikit lagi unsur dramatisasi penuh tangis, pasti Kartini bertengger di posisi lebih tinggi. Dituturkan dengan pace cermat selaku bukti pengalaman sang sutradara, dibungkus sinematografi indah, disokong akting luar biasa jajaran pemain. (Review)

10. NIGHT BUS
Benar sebenarnya masalah teknis menyelimuti film ini, tapi keunikan serta relevansi tema sekaligus intensitas yang terjaga rapi menyebabkan Night Bus thriller yang tak membosankan meski ditonton berulang kali. Kemenangan besar bagi seorang Teuku Rifnu Wikana baik sebagai bintang film dan penulis naskah (bersama Rahabi Mandra). (Review)

9. MOBIL BEKAS DAN KISAH-KISAH DALAM PUTARAN
Kesunyian pembungkus tempo lambatnya mungkin menjauhkan beberapa kalangan penonton, tapi Mobil Bekas membuktikan kapasitas Ismail Basbeth sebagai sineas serba bisa. Dirangkainya kondisi sosial-politik Indonesia dalam bingkai perjalanan misterius. (Review)

8. NYAI
Ketika Moon Cake Story membuat saya mewaspadai apakah Garin Nugroho masih sutradara papan atas Indonesia, Nyai (dan eksperimen lainnya, Setan Jawa) membantah keraguan tersebut. Membawa pertunjukan teater ke layar lebar dalam pengambilan gambar tanpa putus selama 90 menit yaitu prestasi luar biasa. (Review)

7. BANDA THE DARK FORGOTTEN TRAIL
Apakah dokumenter karya Jay Subiakto ini sekedar gaya minim substansi? Mungkin, tapi keberhasilan mengangkat sejarah jalur rempah yang di atas kertas kurang menarik jadi tontonan dinamis terang memikat. Jangan lupakan kemampuan narasumber menuturkan cerita-cerita informatif yang terkadang mencekam. (Review)

6. PENGABDI SETAN
Film Indonesia terlaris sekaligus paling ramai dibicarakan tahun ini. Horor yang kerap dipandang sebelah mata disulap oleh Joko Anwar jadi suguhan roller coaster dengan jump scare kreatif, dibarengi drama keluarga menyentuh plus alur cerdik yang mengundang diskusi panjang penonton. (Review)

5. BALADA BALA SINEMA
Mengungkap usaha komunitas film independen di Purbalingga, merupakan progres natural ketika alur Balada Bala Sinema turut bicara perihal perlawanan terhadap pembungkaman hak berekspresi sebagaimana diperlihatkan paruh final yang begitu menyulut emosi. (Review)

4. CRITICAL ELEVEN
Silahkan sebut film ini berlebihan atau karakternya menyebalkan. Saya melihat penyesuaian novel Ika Natassa ini amat peka dalam menghadirkan konflik dalam lingkup rumah tangga, pun korelasi anak-orang tua. Dua kali menonton, dua kali pula saya menangis mendengar petuah Widyawati dan Slamet Rahardjo. (Review)

3. POSESIF
Saya masih kukuh bersikap mengenai apakah Posesif pantas masuk nominasi FFI. Namun itu masalah legalitas, bukan kualitas. Karena bicara kualitas, tidak ada romansa dewasa sebaik Posesif tahun ini. Naskahnya jeli menggarap penokohan, sementara Putri Marino memperlihatkan star-making performance. (Review)

2. SWEET 20
Sebuah paket lengkap. Tawa sampai tangis tumpah dalam remake untuk Miss Granny ini. Apabila ada film lokal yang wajib diputar sebagai tontonan keluarga setiap liburan, Sweet 20 jawabannya. Seperti Putri Marino lewat Posesif, Tatjana Saphira mengukuhkan status bintangnya berkat Sweet 20. (Review)

1. MARLINA SI PEMBUNUH DALAM EMPAT BABAK
Adakah film Indonesia tahun ini secerdas Marlina perihal menyelipkan subteks?  Adakah film Indonesia tahun ini seunik Marlina di seluruh aspek teknis? Adakah film Indonesia tahun ini sejeli Marlina dalam mengawinkan beberapa genre?Adakah film Indonesia tahun ini serevolusioner MarlinaAdakah film Indonesia tahun ini yang sebaik Marlina? Jawaban seluruh pertanyaan di atas yaitu TIDAK. Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak merupakan salah satu film Indonesia terbaik beberapa tahun terakhir yang sudah sepantasnya mewakili negeri ini pada Oscar 2019. Setidaknya peluang mencapai December Shortlist (9 besar) cukup terbuka. (Review)

Tuesday, December 4, 2018

Ini Lho Musik Untuk Cinta (2017)

"Musik untuk Cinta" tergabung bersama judul-judul ibarat "Terjebak Nostalgia" dan "Multiverse: The 13th Step" sebagai film Indonesia yang perilisannya mundur tahun lalu. Tapi pencapaian film karya Enison Sianaro ("Long Road to Heaven") ini jauh lebih dahsyat. Telah menyelesaikan pengambilan gambar di tahun 2011 dan siap tayang pada 2012, alasannya yaitu "satu dan lain hal" (demikian ungkap Ian Kasela sang pemeran utama) mundur empat tahun menjadi 14 Januari 2016 sebelum kesannya benar-benar tayang di Maret 2017. Luar biasa! Jangka waktu penundaannya hampir setara album "Chinese Democracy" milik Guns N' Roses. Tapi sebagaimana kita tahu, album tersebut berakhir busuk. Demikian pula film ini. 

Sejatinya saya sempat optimis kala menyaksikan adegan pembuka berisi Kirab Budaya Cirebon digarap menarik khususnya dari tata visual. Departemen sinematografi yang dipegang Rudy Kurwet (kenapa nama-nama kru film macam ini selalu ajaib?) sejatinya lumayan. Beberapa sudut pengambilan gambar sepanjang film layak disebut menarik. Namun siapa sangka, gelaran dongeng filmnya jauh lebih menarik, unik, sekaligus mengherankan. Sambutlah abjad utama kita, Cecep (Ian Kasela), seorang perjaka dari keluarga miskin dengan keseharian menggarap sawah dan berjualan singkong. Cecep digambarkan sebagai sosok lugu, jujur, baik hati, pokoknya calon menantu idaman. Tapi ada lubang dalam hidup protagonis tercinta kita ini. Dia jomblo. 
Cecep pun memutuskan berkeliling Cirebon untuk mencari wanita. Sungguh. Saya tidak mengada-ada. Menunggangi delman, Cecep mulai mendatangi banyak sekali tempat, mencari perempuan yang bersedia ia goda. Sampai kesannya Cecep yang baik hati nan tampan rupawan ini hingga di sanggar latihan tari di mana ia bertemu Dewi (Arumi Bachsin), puteri keluarga Keraton Kasepuhan. Lalu apa yang Cecep lakukan sesudah terpukau oleh kecantikan sang puteri? Dari kejauhan ia memanggil, "neng, neng, neng". Ya, Cecep, protagonis tercinta kita beranggapan bahwa perempuan elok puteri Keraton bisa terpengaruhi oleh laki-laki asing tak sopan yang mendadak memanggilnya kolam preman pinggir jalan menarik hati orang lewat. 

Tapi anda tahu? Dewi tergoda! Dewi lebih menentukan Cecep ketimbang Surya (Ferry Ardiansyah) anak pengusaha besi bau tanah kaya raya dan AA Jimmy (Argo AA Jimmy) sang ulama yang jauh-jauh tiba dari Bandung untuk mengajarinya mengaji (baca: PDKT). "Musik untuk Cinta" memperlihatkan pada penonton bahwa merupakan kewajaran kalau seorang laki-laki ingin mendapat pacar, ia berkeliling kota mencari perempuan yang mau digoda, kemudian tanpa basa-basi memanggil "neng, neng, neng", kemudian voila! Puteri Keraton pun didapat. Dewi berkata ia menentukan Cecep alasannya yaitu kepribadiannya. Maaf, tapi kepribadian yang mana? 
Singkatnya, alasannya yaitu selalu diremehkan oleh orang bau tanah Dewi, Cecep merantau ke Jakarta. Tanpa uang, tanpa modal kemampuan, tanpa pendidikan. Koreksi kalau saya keliru, tapi bukankah ini salah satu penyebab duduk kasus kependudukan ibukota? Cecep pun harus berjuang keras, menjadi tukang parkir, pramusaji, hingga kesannya sukses sebagai production management sebuah perusahaan rekaman. WOW! Apakah Cecep ternyata punya kemampuan tersembunyi? Oh, ternyata pekerjaan itu ia sanggup dari mitra lamanya, Abun (Philip Jusuf). "Musik untuk Cinta" konon berpesan perihal kegigihan, tapi penggalan mana yang menyimbolkan kegigihan dari kenekatan merantau tanpa bekal kemudian berhasil alasannya yaitu donasi teman? Tidak hanya Cecep, seluruh tokoh luar biasa menyebalkan. Entah bodoh, sombong, pemaksa, dan lain sebagainya. 

(Spoiler alert) Cecep kesannya terlena oleh kesuksesan donasi sahabat itu, menjadi konsumtif, sombong, pemabuk kemudian dipecat dan kembali melarat. Anehnya, bukannya simpati saya justru puas melihatnya. Cecep dengan segala keluhannya layak mendapat itu. Sudah bisa ditebak, nasib kesannya kembali berpihak pada protagonis tercinta kita, tapi bagaimana caranya? Oh, ternyata Abun berbaik hati memaafkan si mitra lama, memperlihatkan lagi pekerjaannya. Baiklah. Secara keseluruhan "Musik untuk Cinta" punya tokoh utama yang sukses bukan alasannya yaitu perjuangan tetapi sepenuhnya belas kasih orang lain. Naskah garapan Kadjat Adra'i dan Iman Taufik terlalu menggampangkan resolusi konflik termasuk bagaimana Cecep menengahi permasalahan antara Abun dengan Titiek Puspa. Tunggu, ada Titiek Puspa? Ya, begitu pula Andra & the Backbone yang mendadak menampilkan "Musnah" di penghujung film.
"Musik untuk Cinta" tentu punya musical sequence. Tidak perlu bertanya apakah hasilnya bagus. Sound mixing-nya kacau. Suara bisa mendadak naik, turun, bahkan menghilang secara kasar. Pemilihan lagunya pun absurd. Ketika lagu film musikal umumnya mempunyai benang merah satu sama lain, bermodalkan semangat "semau gue" film ini asal memasang lagu. Ada tradisional, tembang kenangan, religi, dan pop soal cinta. Bahkan sekuen musikal hanya muncul dua kali yang semuanya menggelikan. Saya berkesimpulan, maksud kata "musik" pada judulnya bukan merujuk pada genre musikal atau eksplorasi budaya musik, melainkan diputarnya lagu sebanyak mungkin sepanjang durasi. Untuk apa pula Cecep diceritakan pandai menyanyi kalau ujung-ujungnya bekerja menjadi manajer produksi ketimbang talent?

Hiburan terbesar film ini yaitu menyaksikan Ian Kasela tanpa kacamata yang konsisten memasang tatapan nanar kolam memohon belas kasihan. Saya curiga poin utama "Musik untuk Cinta" yaitu perjalanan seorang Ian Kasela untuk menemukan kacamata hitam yang merupakan ciri khasnya. Terbukti, menjelang selesai mendadak ia menggunakan kacamata, memainkan lagu "Jujur" bersama Radja di tengah keramaian jalan raya yang dengan praktis mengalahkan surealisme opening "La La Land". Selain Ian tanpa kacamata, hiburan sanggup diperoleh pula lewat rentetan kalimat menggelikan, semisal "dikasih hati malah nginjek kepala" yang dilontarkan oleh aktornya secara serius. Demikianlah, kalau ingin menikmati suguhan romansa berbalut unsur musik memikat ada film Indonesia rilisan ahad ini yang bakal memuaskan anda. Judulnya "Galih & Ratna".


Ticket Sponsored by: Bookmyshow ID & Indonesian Film Critics