Showing posts sorted by relevance for query melancholia-2011. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query melancholia-2011. Sort by date Show all posts

Wednesday, January 30, 2019

Ini Lho Melancholia (2011)

Kata "melancholia" yang jadi judul film ini sanggup dilihat menjadi 2 makna. Yang pertama yaitu sebagai nama sebuah planet berwarna biru yang mulai mendekati Bumi dan berpotensi besar akan menabrak sekaligus menghancurkan Bumi (dan jadinya memang terjadi, dan ini bukan spoiler). Yang kedua yaitu sebagai sebuah penyakit depresi yang menciptakan penderitanya menjadi frustasi dan mencicipi tidak ada impian lagi dalam kehidupannya bahkan menjauh dari masyarakat. Penyakit kejiwaan itu yaitu penyakit yang dialami oleh Justine, tokoh yang di film ini diperankan oleh Kirsten Dunst (yang memberinya Best Actress di Cannes). Lars von Trier sendiri lebih menekankan "Melancholia" sebagai dongeng insan melawan depresi dan peristiwa yang dialami dibandingkan fokus pada planet yang akan menghancurkan Bumi.

Film ini dibagi menjadi 2 bagian. Bagian pertama yang berjudul "Justine" mengisahkan Justine (Kirsten Dunst) dan Michael (Alexander Skarsgard) yang akan menjalani resepsi janji nikah mereka yang mewah. Pernikahan itu sendiri dirancang dan didanai oleh adik Justine, Claire (Charlotte Gainsbourg) dan suaminya, John (Kiefer Sutherland). Pesta tersebut sayangnya tidak berjalan lancar bahkan cukup awut-awutan akhir banyak sekali hal mulai dari keterlambatan Justine dan Michael, keributan kecil yang dibentuk oleh ayah dan ibu Justine dan menciptakan suasana kurang menyenangkan, hadirnya bos Justine yang rakus, serta beberapa hal lain yang menciptakan Justine sendiri menjadi takut, cemas dan mewaspadai pernikahannya. Saat itu juga Justine melihat sebuah bintang yang jauh lebih terperinci daripada bintang lainnya.

Sedangkan pada kepingan kedua berjudul "Claire" terjadi beberapa ahad sesudah resepsi. Saat itu Justine telah memasuki tahap depresi yang makin parah (melancholia) dan tinggal bersama dengan Claire sekeluarga. Saat itulah Claire mulai dihantui ketakutan dikala Planet Melancholia makin mendekati Bumi dan diprediksi akan menabrak dalam jangka waktu 5 hari atau sanggup juga hanya lewat. Begitulah karya terbaru Von Trier berkisah. Sedari awal kita sudah diperlihatkan bahwa Bumi akan hancur dan tertabrak oleh Melancholia menyerupai sama menyerupai Justine yang juga "tertabrak" oleh depresi dan kepasrahan. Hal itu dilakukan semoga penonton lebih fokus pada aspek kejiwaan dibandingkan fokus pada kehancuran Bumi. Karena film ini memang bukan sebuah film final zaman tapi film ihwal depresi dan kepasrahan.
"Melancholia" yaitu film ketiga Lars Von Trier yang saya tonton sesudah "Dancer in the Dark" dan "Antichrist". Dibanding kedua film tersebut "Melancholia" terasa lebih ringan dan sopan. Memang film ini juga sama dengan keduanya dalam menghadirkan perasaan depresi, tapi saya rasa film ini lebih "ringan". Persamaan lain yaitu bagaimana Von Trier menimbulkan tokoh perempuan sebagai sentral. Bjork (Dancer in the Dark) dan Charlotte Gainsbourg (Antichrist) memang harus melalui proses syuting yang tidak ringan, tapi pada jadinya mereka berhasil mengatakan akting luar biasa dan menerima Best Actress di Cannes yang mana kali ini berhasil diulang oleh Kirsten Dunst. Kirsten Dunst juga menerima sebuah adegan yang menyerupai tapi lebih "halus" dari yang didapat Charlotte di "Antichrist" yaitu sebuah adegan telanjang ditengah hutan.

"Melancholia" juga terlihat bagaikan lawan serta kebalikan dari "Tree of Life" karya Malick. Sama-sama menampilkan adegan tata surya yang indah walaupun "Melancholia" jauh lebih singkat dan sederhana tapi tetap terasa puitis dan indah, khususnya adegan opening yang dibalut slow motion itu. Bedanya kalau karya Malick menggambarkan penciptaan dunia, karya Von Trier ini melukiskan final dari kehidupan. Makara tidak salah juga kalau film ini dikatakan sebagai "The Tree of Death". Meskipun tidak berfokus pada kehancuran dunia, tapi momen tersebut tidak dinomor duakan, bahkan tampil dengan baik dan juga menegangkan. Bahkan film-film final zaman lain tidak pernah semenegangkan ini.

Tapi film ini tetap gagal tampil tepat akhir beberapa kekurangan minor yang buat saya jadi berdampak cukup besar. SPOILER: Yang pertama yaitu mengenai perilaku Michael menanggapi depresi yang mulai dialami oleh Justine. Memang beliau sudah cukup mengacau dan menciptakan pesat janji nikah mereka tidak berjalan lancar, tapi rasanya terlalu ekstrim kalau malam itu juga Michael pribadi meninggalkan Justine. Andai digambarkan Michael meninggalkan istrinya sesudah beberapa waktu alasannya yaitu depresi berkepanjangan yang dialami mungkin masih sanggup ditolerir. Yang kedua yaitu bagaimana Justine tiba-tiba sanggup seolah mengetahui apa yang akan terjadi menyerupai Bumi yang akan hancur dan jumlah kacang yang dijadikan kuis. Melancholia yaitu sebuah gangguan jiwa mengenai kepasrahan dan putus asa. Makara kepingan Justine frustasi akan nasib Bumi sanggup dipahami, tapi dikala itu beliau malah bukan terlihat pasrah tapi malah terlihat lebih kearah tenang. Saya rasa bukan pasrah menyerupai itu yang terjadi pada penderita Melancholia. Tapi untungnya kekurangan-kekurangan itu tidak hingga menciptakan film ini lepas dari kategori manis dimata saya. "Melancholia" tetap salah satu yang terbaik tahun ini.


Friday, January 18, 2019

Ini Lho Melancholia (2011)

Kata "melancholia" yang jadi judul film ini sanggup dilihat menjadi 2 makna. Yang pertama yaitu sebagai nama sebuah planet berwarna biru yang mulai mendekati Bumi dan berpotensi besar akan menabrak sekaligus menghancurkan Bumi (dan jadinya memang terjadi, dan ini bukan spoiler). Yang kedua yaitu sebagai sebuah penyakit depresi yang menciptakan penderitanya menjadi frustasi dan mencicipi tidak ada impian lagi dalam kehidupannya bahkan menjauh dari masyarakat. Penyakit kejiwaan itu yaitu penyakit yang dialami oleh Justine, tokoh yang di film ini diperankan oleh Kirsten Dunst (yang memberinya Best Actress di Cannes). Lars von Trier sendiri lebih menekankan "Melancholia" sebagai dongeng insan melawan depresi dan peristiwa yang dialami dibandingkan fokus pada planet yang akan menghancurkan Bumi.

Film ini dibagi menjadi 2 bagian. Bagian pertama yang berjudul "Justine" mengisahkan Justine (Kirsten Dunst) dan Michael (Alexander Skarsgard) yang akan menjalani resepsi janji nikah mereka yang mewah. Pernikahan itu sendiri dirancang dan didanai oleh adik Justine, Claire (Charlotte Gainsbourg) dan suaminya, John (Kiefer Sutherland). Pesta tersebut sayangnya tidak berjalan lancar bahkan cukup awut-awutan akhir banyak sekali hal mulai dari keterlambatan Justine dan Michael, keributan kecil yang dibentuk oleh ayah dan ibu Justine dan menciptakan suasana kurang menyenangkan, hadirnya bos Justine yang rakus, serta beberapa hal lain yang menciptakan Justine sendiri menjadi takut, cemas dan mewaspadai pernikahannya. Saat itu juga Justine melihat sebuah bintang yang jauh lebih terperinci daripada bintang lainnya.

Sedangkan pada kepingan kedua berjudul "Claire" terjadi beberapa ahad sesudah resepsi. Saat itu Justine telah memasuki tahap depresi yang makin parah (melancholia) dan tinggal bersama dengan Claire sekeluarga. Saat itulah Claire mulai dihantui ketakutan dikala Planet Melancholia makin mendekati Bumi dan diprediksi akan menabrak dalam jangka waktu 5 hari atau sanggup juga hanya lewat. Begitulah karya terbaru Von Trier berkisah. Sedari awal kita sudah diperlihatkan bahwa Bumi akan hancur dan tertabrak oleh Melancholia menyerupai sama menyerupai Justine yang juga "tertabrak" oleh depresi dan kepasrahan. Hal itu dilakukan semoga penonton lebih fokus pada aspek kejiwaan dibandingkan fokus pada kehancuran Bumi. Karena film ini memang bukan sebuah film final zaman tapi film ihwal depresi dan kepasrahan.
"Melancholia" yaitu film ketiga Lars Von Trier yang saya tonton sesudah "Dancer in the Dark" dan "Antichrist". Dibanding kedua film tersebut "Melancholia" terasa lebih ringan dan sopan. Memang film ini juga sama dengan keduanya dalam menghadirkan perasaan depresi, tapi saya rasa film ini lebih "ringan". Persamaan lain yaitu bagaimana Von Trier menimbulkan tokoh perempuan sebagai sentral. Bjork (Dancer in the Dark) dan Charlotte Gainsbourg (Antichrist) memang harus melalui proses syuting yang tidak ringan, tapi pada jadinya mereka berhasil mengatakan akting luar biasa dan menerima Best Actress di Cannes yang mana kali ini berhasil diulang oleh Kirsten Dunst. Kirsten Dunst juga menerima sebuah adegan yang menyerupai tapi lebih "halus" dari yang didapat Charlotte di "Antichrist" yaitu sebuah adegan telanjang ditengah hutan.

"Melancholia" juga terlihat bagaikan lawan serta kebalikan dari "Tree of Life" karya Malick. Sama-sama menampilkan adegan tata surya yang indah walaupun "Melancholia" jauh lebih singkat dan sederhana tapi tetap terasa puitis dan indah, khususnya adegan opening yang dibalut slow motion itu. Bedanya kalau karya Malick menggambarkan penciptaan dunia, karya Von Trier ini melukiskan final dari kehidupan. Makara tidak salah juga kalau film ini dikatakan sebagai "The Tree of Death". Meskipun tidak berfokus pada kehancuran dunia, tapi momen tersebut tidak dinomor duakan, bahkan tampil dengan baik dan juga menegangkan. Bahkan film-film final zaman lain tidak pernah semenegangkan ini.

Tapi film ini tetap gagal tampil tepat akhir beberapa kekurangan minor yang buat saya jadi berdampak cukup besar. SPOILER: Yang pertama yaitu mengenai perilaku Michael menanggapi depresi yang mulai dialami oleh Justine. Memang beliau sudah cukup mengacau dan menciptakan pesat janji nikah mereka tidak berjalan lancar, tapi rasanya terlalu ekstrim kalau malam itu juga Michael pribadi meninggalkan Justine. Andai digambarkan Michael meninggalkan istrinya sesudah beberapa waktu alasannya yaitu depresi berkepanjangan yang dialami mungkin masih sanggup ditolerir. Yang kedua yaitu bagaimana Justine tiba-tiba sanggup seolah mengetahui apa yang akan terjadi menyerupai Bumi yang akan hancur dan jumlah kacang yang dijadikan kuis. Melancholia yaitu sebuah gangguan jiwa mengenai kepasrahan dan putus asa. Makara kepingan Justine frustasi akan nasib Bumi sanggup dipahami, tapi dikala itu beliau malah bukan terlihat pasrah tapi malah terlihat lebih kearah tenang. Saya rasa bukan pasrah menyerupai itu yang terjadi pada penderita Melancholia. Tapi untungnya kekurangan-kekurangan itu tidak hingga menciptakan film ini lepas dari kategori manis dimata saya. "Melancholia" tetap salah satu yang terbaik tahun ini.


Thursday, January 17, 2019

Ini Lho Top 10 Movies Of 2011

Setelah lewat setengah bulan dari 2011, karenanya saya putuskan untuk merilis daftar film 2011 FAVORIT saya. Ya, saya lebih suka menyebutnya favorit daripada terbaik alasannya yaitu penyusunan list ini juga sangatlah subjektif. Belum tentu film yang lebih berkualitas akan menerima urutan yang lebih tinggi. Beberapa film diluar list yang saya buat ini banyak yang berdasarkan saya lebih berkualitas menyerupai Contagion, Marta Marcy May Marlene, The Kid WIth A Bike dan masih banyak lagi. Tapi favorit memang bagi saya tidak harus lebih baik. Pada tahun ini juga saya untuk pertama kalinya mulai menonton film Indonesia di bioskop, tentunya dengan penyeleksian terlebih dahulu. Alhasil saya sangat terpuaskan dimana ada 3 film yang sempat masuk kedalam daftar saya, yaitu Catatan Harian Si Boy, ? (Tanda Tanya) dan The Mirror Never Lies. Sedang untuk film luar, masih banyak film yang belum saya tonton. Film calon nominasi Oscar macam The Artist, War Horse, Hugo hingga remake The Girl With the Dragon Tattoo dari David Fincher harus saya lewatkan. Oya, saya sendiri cukup murung dengan kualitas film animasi tahun ini yang menurun dimana tidak ada film yang masuk 10 besar untuk tahun ini, padahal tahun kemudian ada How to Train Your Dragon, bahkan Toy Story 3 jadi film terfavorit saya tahun 2010. Dan inilah 10 film terfavorit saya untuk tahun 2011 plus 10 honorable mentions:

HONORABLE MENTIONS:

SANG PENARI jadi salah satu catatan paling membanggakan dalam industri film Indonesia beberapa tahun terakhir. Meski saya termasuk dari sedikit orang yang tidak terlalu memuja film ini, harus diakui film dari Ifa Isfansyah ini bisa menyuguhkan adonan banyak sekali aspek yang luar biasa. Cerita perihal penebusan dosa dan usaha memperbaiki hidup dalam ANOTHER EARTH sukses menghipnotis saya dengan balutan sci-fi yang tidak berlebihan dan tentunya kemunculan Brit Marling yang punya masa depan cerah. Tidak terlalu spesial, tapi nyaman dan menyenangkan diikuti, begitulah MIDNIGHT IN PARIS garapan Woody Allen. Lars von Trier sukses mengajak saya bergalau menghadapi simpulan dunia dalam MELANCHOLIA disertai sinematografi indah dan akting menawan seorang Nasrani Dunst. BIUTIFUL yaitu suguhan depresif yang mempunyai keindahan tersendiri. Keindahan perihal kehidupan dan perjuangannya yang terpancar terperinci dari mata Javier Bardem yang aktingnya keren.

CRAZY, STUPID, LOVE bisa menyajikan tawa yang paling besar bagi saya di tahun 2011 dalam sebuah romcom yang berisi ensemble castI yang tampil luar biasa khususnya Ryan Gosling. Sajian dokumenter dalam TABLOID sangat menarik dengan pengemasan yang kreatif atas sebuah masalah paling gila dan asing yang pernah terjadi. THE RAID memang tidak disertai kisah yang kuat, tapi kebrutalan dalam adegan aksinya sudah cukup menciptakan saya tersenyum lebar selama filmnya berlangsung. Salah satu kebanggan terbesar bagi Indonesia mempunyai film ini. CONFESSIONS telah mampu menghipnotis saya dengan banyak sekali kisah balas dendamnya yang dibalut dengan tata visual yang indah serta twist yang menyenangkan. THE BORROWER ARRIETTY dengan melempemnya Pixar, maka inilah film animasi terbaik tahun ini. Sederhana menyerupai biasa khas Ghibli tapi tetap menyentuh khususnya pada ending yang menciptakan saya menitikkan air mata.

Berikut yaitu top 10, untuk membaca review silahkan klik pada gambarnya (untuk The Help review tidak ditulis)

10. MEEK'S CUTOFF

Tidak hanya sebuah film perihal survival, tapi juga sebuah sajian menghanyutkan perihal feminisme. Alurnya yang lambat dibalut dengan sinematografi indah yang bisa menciptakan pemandangan gurun yang gersang jadi nyaman ditonton dan begitu indah menciptakan saya sangat betah menikmati kisah perjalanan berat yang dialami tokoh-tokohnya. Akting luar biasa dari Michelle Williams yang (sayangnya) tidak akan dilirik Oscar.

9. THE HELP
Temanya memang perihal rasialisme yang sangat kental, tapi film ini tidaklah tampil gelap dan depresif ataupun memuakkan. Justru sebaliknya The Help sangatlah ringan dan menyenangkan untuk ditonton. Memang menharukan tapi tidaklah menyedihkan. Ensemble cast-nya tampil maksimal mulai dari Jessica Chastain yang kiprahnya jauh beda dari kiprahnya di The Tree of Life, lalu Olivia Spencer, Emma Stone, Bryce Dallas Howard dan tentunya Viola Davis yang sangat berpotensi merebut Best Actress untuk Oscar 2012. Mungkin hanya kebintangan Meryl Streep atau gaya eksentrik Roney Mara yang bisa menggagalkan hal tersebut.

8. A SEPARATION
Sajian dari Iran ini memang benar-benar mengangkat ambiguitas moral. Tidak ada seorangpun tokoh dalam film ini yang bisa serta merta disalahkan. Benar-benar memperlihatkan bahwa tiap orang itu punya point of view sendiri-sendiri dalam hal apapun itu. Tidak hanya itu, film dari sutradara Asghar Farhadi ini juga begitu piawai dalam menyimpan diam-diam yang secara perlahan akan dibuka satu persatu dan menciptakan penontonnya terperangah mengetahui fakta yang gotong royong terjadi. Isu sosial di Iran juga tidak luput diangkat dalam film ini. Berjalan dengan cepat dengan konflik yang menarik.


7. SENNA
Sebelum film ini saya tidak tahu siapa itu Ayrton Senna dan saya bukanlah penggemar Formula 1. Tapi film ini bisa dengan mudahnya menciptakan saya menyukai sosok pembalap tersebut. Jika dokumenter atau sebuah biopic itu dimaksudkan untuk memberi penghormatan pada yang bersangkutan, maka film ini juga sangat berhasil alasannya yaitu sosok Senna benar-benar digambarkan sebagai orang rendah hati tapi tidak berlebihan dan tidak sempurna. Berbagai footage bagus berhasil dikumpulkan dan menjadi dokumenter terbaik di 2011 yang ketegangannya bahkan melebihi banyak sekali film thriller yang sudah saya tonton dan lebih mengharukan dari banyak drama melankolis.

6. THE IDES OF MARCH
Film terbaru garapan George Clooney ini terperinci jauh dari kata sempurna. Tapi Clooney tahu betul bagaimana thriller politik yang bisa dinikmati semua orang harus dibuat. Film ini memang penuh intrik yang rumit, tapi jalannya film sangatlah ringan dan yummy diikuti. Cerminan pemilu yang gotong royong tidak hanya terjadi di Amerika tapi bahkan mungkin di tiap negara. Selain itu ada juga penggambaran perubahan seorang insan yang polos dan naif menjadi lebih berpengaruh dengan perjalanan yang berat dan tidak manis. Semua bintang film dan aktrisnya tampil dengan luar biasa termasuk idola saya, Ryan Gosling.

5. DRIVE
Kembali film seorang Ryan Gosling. Mendengar banyak yang menyebut film ini overrated saja sudah menciptakan saya mengernyitkan dahi, apalagi ada yang bilang film ini menipu alasannya yaitu tidak menampilkan agresi balap ataupun action yang memacu adrenaline. Sungguh jujur saja itu pernyataan yang asing bagi saya. Bukan sok nyeni atau apa, tapi Drive memang pantas memamerkan style-nya dengan alur yang lambat dan sunyi. Lebih sulit berakting dengan tatapan mata menyerupai yang dilakukan Ryan Gosling dan Carrey Mulligan di film ini dibanding berakting romansa dengan komunikasi verbal. Minim dialog, sangat 80an dan tentunya abjad yang luar biasa keren dari Ryan Gosling.

4. 50/50
Menertawakan penderitaan dan pengalaman "bergaul" dengan penyakit mematikan berjulukan kanker? Yak, film ini memang tidak mau bercengeng ria menanggapi penyakit kanker yang diderita oleh tokoh utamanya. Diangkat dari kisah konkret Will Reiser yang juga menjadi penulis naskah, 50/50 dengan hebatnya bisa menyelipkan unsur komedi dalam kisah usaha hidup ini. Tapi meski tidak melankolis dan cengeng, film ini juga bisa memperlihatkan suguhan mengharukan yang bisa menciptakan air mata mengalir tapi dengan cara yang tidak berlebihan. Bisa menciptakan penonton tertawa dan terharu dalam satu film dengan porsi yang sama artinya film itu yaitu film yang hebat.

3. I SAW THE DEVIL
Sungguh sebuah kejutan melihat hasil simpulan film ini. Sangat menyenangkan dan menegangkan. Kejar-kejaran antara dua "monster" yang coba saling bunuh dan saling siksa satu sama lain ditampilkan dengan begitu intens dan cerdas. Darah dimana-mana, bagian badan tidak luput untuk dihamburkan, tokoh yang sadis dan berdarah cuek bahkan ada juga yang kanibal, tentu saja sudah jadi bukti bagaimana gila dan menyenangkannya film ini. Adegan kontak pertama antara kedua tokoh utamanya terperinci jadi salah satu adegan paling keren yang pernah saya tonton. Film ini juga memperlihatkan bahwa nafsu balas dendam pada setan dan kebencian luar biasa akan menciptakan orang itu juga akan menjadi setan juga. Keseluruhan film ini yaitu brutal, cerdas, menegangkan, menegangkan, keren!

2. BLUE VALENTINE
Kisah perenungan mengenai rumah tangga dan cinta. Semenjak dwilogi Before Sunrise-Sunset belum pernah saya menemukan film drama yang memperlihatkan perenungan lagi. Lalu datanglah film ini yang seolah memberi peringatan pada muda-mudi dimabuk asmara yang ingin segera menikah bahwa ijab kabul itu tidak gampang dan penuh akan tanggung jawab berat. Hal itulah yang menciptakan film ini ditampilkan dengan plot yang maju mundur menggambarkan bagaimana perbedaan kondisi dikala pacaran dan sehabis menikah dan mempunyai anak. Lagi-lagi Ryan Gosling yang bermain disini dan menunjukan bahwa 2011 yaitu tahunnya meski rasanya Oscar masih belum akrab dengannya. Tapi jangan lupakan juga Michelle Williams yang performanya juga luar biasa. Keduanya sukses memperlihatkan transformasi abjad yang signifikan antara pascar dan pra pernikahan.

1. THE TREE OF LIFE
Puisi dalam media film mungkin yaitu istilah yang tidak berlebihan untuk menggambarkan apa yang sudah disuguhkan Terrence Mallick dalam film yang jadi film terfavorit saya di 2011 ini. Membicarakan film ini memang tidak pernah lepas dari visualnya yang begitu indah dan luar biasa serta adegan penciptaan alam semestanya yang dibalut musik orkestra dan sukses menciptakan saya merinding. Tapi The Tree of Life lebih dari itu. Film ini memperlihatkan perenungan baik itu dari hal yang biasa terjadi di kehidupan sehari-hari menyerupai drama dan konflik dalam keluarga hingga hal yang sifatnya lebih kearah privat dan spiritual yang kesemuanya akan bermuara pada hal yang dinamakan "hidup". Apa, bagaimana, mengapa dan darimana kita berasal dan hidup kita dimulai? Masih banyak juga hal lain yang coba disampaikan Mallick baik yang berhasil hingga ataupun yang tidak. Ada juga yang tidak hingga itu alasannya yaitu Mallick yang terasa terlampau ambisius mempresentasikan film ini. Tapi hal itu tidaklah mengurangi kehebatan film ini. Para pemainnya tampi andal baik itu Brad Pitt hingga pendatang gres menyerupai Hunter McCracken dan tentunya Jessica Chastain yang mengakibatkan 2011 sebagai tahun miliknya. Benar-benar pengalaman menonton yang luar biasa. Saya sangat menunggu 3 film Terrence Mallick yang akan rilisdalam 2 tahun kedepan dimana salah satunya yang berjudul Lawless akan menampilkan Ryan Gosling!

Ini Lho Top 10 Movies Of 2011

Setelah lewat setengah bulan dari 2011, karenanya saya putuskan untuk merilis daftar film 2011 FAVORIT saya. Ya, saya lebih suka menyebutnya favorit daripada terbaik alasannya yaitu penyusunan list ini juga sangatlah subjektif. Belum tentu film yang lebih berkualitas akan menerima urutan yang lebih tinggi. Beberapa film diluar list yang saya buat ini banyak yang berdasarkan saya lebih berkualitas menyerupai Contagion, Marta Marcy May Marlene, The Kid WIth A Bike dan masih banyak lagi. Tapi favorit memang bagi saya tidak harus lebih baik. Pada tahun ini juga saya untuk pertama kalinya mulai menonton film Indonesia di bioskop, tentunya dengan penyeleksian terlebih dahulu. Alhasil saya sangat terpuaskan dimana ada 3 film yang sempat masuk kedalam daftar saya, yaitu Catatan Harian Si Boy, ? (Tanda Tanya) dan The Mirror Never Lies. Sedang untuk film luar, masih banyak film yang belum saya tonton. Film calon nominasi Oscar macam The Artist, War Horse, Hugo hingga remake The Girl With the Dragon Tattoo dari David Fincher harus saya lewatkan. Oya, saya sendiri cukup murung dengan kualitas film animasi tahun ini yang menurun dimana tidak ada film yang masuk 10 besar untuk tahun ini, padahal tahun kemudian ada How to Train Your Dragon, bahkan Toy Story 3 jadi film terfavorit saya tahun 2010. Dan inilah 10 film terfavorit saya untuk tahun 2011 plus 10 honorable mentions:

HONORABLE MENTIONS:

SANG PENARI jadi salah satu catatan paling membanggakan dalam industri film Indonesia beberapa tahun terakhir. Meski saya termasuk dari sedikit orang yang tidak terlalu memuja film ini, harus diakui film dari Ifa Isfansyah ini bisa menyuguhkan adonan banyak sekali aspek yang luar biasa. Cerita perihal penebusan dosa dan usaha memperbaiki hidup dalam ANOTHER EARTH sukses menghipnotis saya dengan balutan sci-fi yang tidak berlebihan dan tentunya kemunculan Brit Marling yang punya masa depan cerah. Tidak terlalu spesial, tapi nyaman dan menyenangkan diikuti, begitulah MIDNIGHT IN PARIS garapan Woody Allen. Lars von Trier sukses mengajak saya bergalau menghadapi simpulan dunia dalam MELANCHOLIA disertai sinematografi indah dan akting menawan seorang Nasrani Dunst. BIUTIFUL yaitu suguhan depresif yang mempunyai keindahan tersendiri. Keindahan perihal kehidupan dan perjuangannya yang terpancar terperinci dari mata Javier Bardem yang aktingnya keren.

CRAZY, STUPID, LOVE bisa menyajikan tawa yang paling besar bagi saya di tahun 2011 dalam sebuah romcom yang berisi ensemble castI yang tampil luar biasa khususnya Ryan Gosling. Sajian dokumenter dalam TABLOID sangat menarik dengan pengemasan yang kreatif atas sebuah masalah paling gila dan asing yang pernah terjadi. THE RAID memang tidak disertai kisah yang kuat, tapi kebrutalan dalam adegan aksinya sudah cukup menciptakan saya tersenyum lebar selama filmnya berlangsung. Salah satu kebanggan terbesar bagi Indonesia mempunyai film ini. CONFESSIONS telah mampu menghipnotis saya dengan banyak sekali kisah balas dendamnya yang dibalut dengan tata visual yang indah serta twist yang menyenangkan. THE BORROWER ARRIETTY dengan melempemnya Pixar, maka inilah film animasi terbaik tahun ini. Sederhana menyerupai biasa khas Ghibli tapi tetap menyentuh khususnya pada ending yang menciptakan saya menitikkan air mata.

Berikut yaitu top 10, untuk membaca review silahkan klik pada gambarnya (untuk The Help review tidak ditulis)

10. MEEK'S CUTOFF

Tidak hanya sebuah film perihal survival, tapi juga sebuah sajian menghanyutkan perihal feminisme. Alurnya yang lambat dibalut dengan sinematografi indah yang bisa menciptakan pemandangan gurun yang gersang jadi nyaman ditonton dan begitu indah menciptakan saya sangat betah menikmati kisah perjalanan berat yang dialami tokoh-tokohnya. Akting luar biasa dari Michelle Williams yang (sayangnya) tidak akan dilirik Oscar.

9. THE HELP
Temanya memang perihal rasialisme yang sangat kental, tapi film ini tidaklah tampil gelap dan depresif ataupun memuakkan. Justru sebaliknya The Help sangatlah ringan dan menyenangkan untuk ditonton. Memang menharukan tapi tidaklah menyedihkan. Ensemble cast-nya tampil maksimal mulai dari Jessica Chastain yang kiprahnya jauh beda dari kiprahnya di The Tree of Life, lalu Olivia Spencer, Emma Stone, Bryce Dallas Howard dan tentunya Viola Davis yang sangat berpotensi merebut Best Actress untuk Oscar 2012. Mungkin hanya kebintangan Meryl Streep atau gaya eksentrik Roney Mara yang bisa menggagalkan hal tersebut.

8. A SEPARATION
Sajian dari Iran ini memang benar-benar mengangkat ambiguitas moral. Tidak ada seorangpun tokoh dalam film ini yang bisa serta merta disalahkan. Benar-benar memperlihatkan bahwa tiap orang itu punya point of view sendiri-sendiri dalam hal apapun itu. Tidak hanya itu, film dari sutradara Asghar Farhadi ini juga begitu piawai dalam menyimpan diam-diam yang secara perlahan akan dibuka satu persatu dan menciptakan penontonnya terperangah mengetahui fakta yang gotong royong terjadi. Isu sosial di Iran juga tidak luput diangkat dalam film ini. Berjalan dengan cepat dengan konflik yang menarik.


7. SENNA
Sebelum film ini saya tidak tahu siapa itu Ayrton Senna dan saya bukanlah penggemar Formula 1. Tapi film ini bisa dengan mudahnya menciptakan saya menyukai sosok pembalap tersebut. Jika dokumenter atau sebuah biopic itu dimaksudkan untuk memberi penghormatan pada yang bersangkutan, maka film ini juga sangat berhasil alasannya yaitu sosok Senna benar-benar digambarkan sebagai orang rendah hati tapi tidak berlebihan dan tidak sempurna. Berbagai footage bagus berhasil dikumpulkan dan menjadi dokumenter terbaik di 2011 yang ketegangannya bahkan melebihi banyak sekali film thriller yang sudah saya tonton dan lebih mengharukan dari banyak drama melankolis.

6. THE IDES OF MARCH
Film terbaru garapan George Clooney ini terperinci jauh dari kata sempurna. Tapi Clooney tahu betul bagaimana thriller politik yang bisa dinikmati semua orang harus dibuat. Film ini memang penuh intrik yang rumit, tapi jalannya film sangatlah ringan dan yummy diikuti. Cerminan pemilu yang gotong royong tidak hanya terjadi di Amerika tapi bahkan mungkin di tiap negara. Selain itu ada juga penggambaran perubahan seorang insan yang polos dan naif menjadi lebih berpengaruh dengan perjalanan yang berat dan tidak manis. Semua bintang film dan aktrisnya tampil dengan luar biasa termasuk idola saya, Ryan Gosling.

5. DRIVE
Kembali film seorang Ryan Gosling. Mendengar banyak yang menyebut film ini overrated saja sudah menciptakan saya mengernyitkan dahi, apalagi ada yang bilang film ini menipu alasannya yaitu tidak menampilkan agresi balap ataupun action yang memacu adrenaline. Sungguh jujur saja itu pernyataan yang asing bagi saya. Bukan sok nyeni atau apa, tapi Drive memang pantas memamerkan style-nya dengan alur yang lambat dan sunyi. Lebih sulit berakting dengan tatapan mata menyerupai yang dilakukan Ryan Gosling dan Carrey Mulligan di film ini dibanding berakting romansa dengan komunikasi verbal. Minim dialog, sangat 80an dan tentunya abjad yang luar biasa keren dari Ryan Gosling.

4. 50/50
Menertawakan penderitaan dan pengalaman "bergaul" dengan penyakit mematikan berjulukan kanker? Yak, film ini memang tidak mau bercengeng ria menanggapi penyakit kanker yang diderita oleh tokoh utamanya. Diangkat dari kisah konkret Will Reiser yang juga menjadi penulis naskah, 50/50 dengan hebatnya bisa menyelipkan unsur komedi dalam kisah usaha hidup ini. Tapi meski tidak melankolis dan cengeng, film ini juga bisa memperlihatkan suguhan mengharukan yang bisa menciptakan air mata mengalir tapi dengan cara yang tidak berlebihan. Bisa menciptakan penonton tertawa dan terharu dalam satu film dengan porsi yang sama artinya film itu yaitu film yang hebat.

3. I SAW THE DEVIL
Sungguh sebuah kejutan melihat hasil simpulan film ini. Sangat menyenangkan dan menegangkan. Kejar-kejaran antara dua "monster" yang coba saling bunuh dan saling siksa satu sama lain ditampilkan dengan begitu intens dan cerdas. Darah dimana-mana, bagian badan tidak luput untuk dihamburkan, tokoh yang sadis dan berdarah cuek bahkan ada juga yang kanibal, tentu saja sudah jadi bukti bagaimana gila dan menyenangkannya film ini. Adegan kontak pertama antara kedua tokoh utamanya terperinci jadi salah satu adegan paling keren yang pernah saya tonton. Film ini juga memperlihatkan bahwa nafsu balas dendam pada setan dan kebencian luar biasa akan menciptakan orang itu juga akan menjadi setan juga. Keseluruhan film ini yaitu brutal, cerdas, menegangkan, menegangkan, keren!

2. BLUE VALENTINE
Kisah perenungan mengenai rumah tangga dan cinta. Semenjak dwilogi Before Sunrise-Sunset belum pernah saya menemukan film drama yang memperlihatkan perenungan lagi. Lalu datanglah film ini yang seolah memberi peringatan pada muda-mudi dimabuk asmara yang ingin segera menikah bahwa ijab kabul itu tidak gampang dan penuh akan tanggung jawab berat. Hal itulah yang menciptakan film ini ditampilkan dengan plot yang maju mundur menggambarkan bagaimana perbedaan kondisi dikala pacaran dan sehabis menikah dan mempunyai anak. Lagi-lagi Ryan Gosling yang bermain disini dan menunjukan bahwa 2011 yaitu tahunnya meski rasanya Oscar masih belum akrab dengannya. Tapi jangan lupakan juga Michelle Williams yang performanya juga luar biasa. Keduanya sukses memperlihatkan transformasi abjad yang signifikan antara pascar dan pra pernikahan.

1. THE TREE OF LIFE
Puisi dalam media film mungkin yaitu istilah yang tidak berlebihan untuk menggambarkan apa yang sudah disuguhkan Terrence Mallick dalam film yang jadi film terfavorit saya di 2011 ini. Membicarakan film ini memang tidak pernah lepas dari visualnya yang begitu indah dan luar biasa serta adegan penciptaan alam semestanya yang dibalut musik orkestra dan sukses menciptakan saya merinding. Tapi The Tree of Life lebih dari itu. Film ini memperlihatkan perenungan baik itu dari hal yang biasa terjadi di kehidupan sehari-hari menyerupai drama dan konflik dalam keluarga hingga hal yang sifatnya lebih kearah privat dan spiritual yang kesemuanya akan bermuara pada hal yang dinamakan "hidup". Apa, bagaimana, mengapa dan darimana kita berasal dan hidup kita dimulai? Masih banyak juga hal lain yang coba disampaikan Mallick baik yang berhasil hingga ataupun yang tidak. Ada juga yang tidak hingga itu alasannya yaitu Mallick yang terasa terlampau ambisius mempresentasikan film ini. Tapi hal itu tidaklah mengurangi kehebatan film ini. Para pemainnya tampi andal baik itu Brad Pitt hingga pendatang gres menyerupai Hunter McCracken dan tentunya Jessica Chastain yang mengakibatkan 2011 sebagai tahun miliknya. Benar-benar pengalaman menonton yang luar biasa. Saya sangat menunggu 3 film Terrence Mallick yang akan rilisdalam 2 tahun kedepan dimana salah satunya yang berjudul Lawless akan menampilkan Ryan Gosling!

Ini Lho Another Earth (2011)

Jangan tertipu dengan judul ataupun bahan promosi yang diberikan film ini, alasannya yakni debut penyuteradaraan Mike Cahill ini tidaklah berfokus pada eksplorasi dan penelusuran mengenai "Bumi yang lain" tapi lebih condong kearah drama daripada science fiction. Memang film ini menampilkan kembaran Bumi, tapi sama ibarat Melancholia yang lebih terfokus pada psikologis karakternya dibandingkan mengenai simpulan dunia, Another Earth juga lebih berfokus pada penebusan dosa dan penerimaan diri serta aneka macam hal lain yang menyangkut dramanya dibandingkan fokus pada keberadaan kembaran Bumi yang apabil diterapkan untuk film Roland Emerich sanggup menghasilkan sebuah plot mengenai kesalah pahaman antara 2 dunia (baca: 2 Amerika) yang risikonya menyebabkan perang besar antara kedua planet.

Rhoda Williams (Brit Marling) yakni seorang siswi SMU yang cerdas. Hal itu beliau buktikan ketika berhasil diterima di MIT. Sepulang dari pesta untuk merayakan keberhasilannya tersebut, Rhoda yang menyetir sendirian dalam keadaan mabuk mendengarkan sebuah gosip di radio wacana kemunculan sebuah planet berwarna biru yang katanya sangat ibarat dengan Bumi. Rhoda yang ingin tau terus meperhatikan planet tersebut tanpa sadar bahwa mobilnya sedang melaju kencang sempurna kearah kendaraan beroda empat yang dinaiki seorang komposer, John Burroughs (William Mapother) bersama istri dan anaknya. Akhirnya ukiran tak sanggup dihindari dan merenggut nyawa istir dan anak John. John sendiri mengalami koma untuk beberapa waktu, sedangkan Rhoda harus mendekam dalam penjara selama 4 tahun. Kejadian itu risikonya menghancurkan hidup Rhoda dan John, sementara kembaran Bumi yang dijuluki "Earth Two" makin nampak jelas. Bagaimana keduanya sanggup menghadapi kehidupan masing-masing pasca peristiwa tersebut dan apa hubungannya dengan "Earth Two"?

Memang unsur sci-fi yang ditampilkan dalam film ini hanyalah sebagai kemasan saja sedangkan isinya yakni mengenai drama penebusan dosa, memperbaiki kehidupan, dan tentunya penerimaan diri atas hidup yang kita jalani. Meskipun begitu, balutan sci-fi dalam film ini tetap saja menarik bagi saya. Kalau dicermati bersama-sama banyak sekali lubang dalam teori-teori dan insiden mengenai science-fiction dalam film ini, tapi buat saya itu tidak masalah. Layaknya Midnight in Paris yang tidak fokus kepada time travel melainkan kepada aspek romantis yang manis, Another Earth juga tidak memfokuskan pada eksplorasi terhadap "Earth Two" tapi lebih bagaimana kemunculan planet itu mempengaruhi hidup Rhoda dan John, kemudian bagaimana planet itu juga cukup mempengaruhi bagaimana keduanya mencoba memperbaiki kehidupan masing-masing. Saya yakni termasuk penonton yang tidak keberatan juga akan porsi yang diberikan pada "Earth Two" dimana banyak yang mengkritisi tugas kembaran Bumi tersebut yang terlau minim dalam membangun dongeng film ini.

Tapi bersama-sama saya tidak oke dengan pendapat bahwa "Eart Two" kurang berperan, alasannya yakni jikalau dilihat lagi justru planet itulah penyebab awal semua konflik dalam film ini. Semuanya berasal dari first contact antara Rhoda dengan planet itu, dan diakhiri juga dengan sebuah keputusan yang diambil Rhoda berkaitan dengan perjalanan yang akan beliau lakukan menuju "Earth Two". Sementara itu di pertengahan, drama yang disajikan memang terasa terlalu lambat dan itulah kekurangan film ini bagi saya. Tapi dramanya sendiri menarik dan cukup sanggup menghasilkan beberapa perenungan bagi penontonnya. Penebusan dosa, perbaikan kehidupan, sampai pencarian akan kehidupan yang lebih baik yakni beberapa hal yang diangkat dalam film ini. Saya juga sanggup meliaht bahwa terkadang hal-hal ibarat kebahagiaan itu sanggup tiba dari hal yang paling tidak kita duga sekalipun.
Meski lebih fokus pada dramanya, Another Earth justru punya sebuah adegan sci-fi yang sanggup menciptakan saya merinding ngeri, yaitu ketika dilakukannya transmisi radio untuk pertama kalinya antara Bumi dan "kembarannya" dimana disitu makin terbukti bahwa kehidupan dalam kedua planet itu identik. Seolah saya gres secara eksklusif menyaksikan sebuah inovasi antariksa yang luar biasa. Selain itu dalam film ini juga banyak teori yang arif mengenai "Earth Two" dan sebagainya. Saya tidak bilang cerdas alasannya yakni harus diakui banyak lubang dalam sci-fi film ini, tapi saya lebih suka kata "cerdas" alasannya yakni bagaimana kaitan antara aspek teori yang satu dengan yang lain sangat menarik meski logikanya terasa kurang tepat.

Selain film yang bagus, Another Earth juga memunculkan sebuah benih gres dunia perfilman berjulukan Brit Marling. Tidak hanya berakting bagus dan berawajah cantik, beliau juga menulis naskah untuk film ini bersama dengan sang sutradara, Mike Cahill. Semoga saja namanya cepat melambung baik itu sebagai aktris ataupun penulis naskah. Hollywood butuh naskah yang berani ambil resiko ibarat yang beliau tulis untuk film ini. Mike Cahill sendiri juga cukup berperan sangat besar alasannya yakni selain menjadi sutradara dan penulis naskah bersama Brit Marling, beliau jugalah yang menjadi sinematografer film ini dan sukses menghadirkan gambar-gambar indah yang menghadirkan "Earth Two" mengorbit diluar Bumi kita ini. Sebuah kerja bagus dari kedua pendatang gres ini.