Showing posts sorted by relevance for query rurouni-kenshin-kyoto-inferno-2014. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query rurouni-kenshin-kyoto-inferno-2014. Sort by date Show all posts

Tuesday, January 8, 2019

Ini Lho Rurouni Kenshin: Kyoto Inferno (2014)

Kyoto Arc jelas merupakan bab terbaik dari seluruh kisah Rurouni Kenshin. Kisah ini menyajikan begitu banyak huruf memorable, jalan dongeng yang menarik, serta tentunya banyak sekali pertarungan epic. Tentu saja arc terakhir yaitu yang paling emosional dan menyempurnakan kisah Kenshin Himira, tapi semoga bagaimanapun, Kyoto yaitu klimaksnya. Maka bukan suatu keputusan mengejutkan dikala pembiasaan live action-nya bakal memakai kisah ini sebagai puncak. Film pertamanya sendiri cukup memuaskan. Meski ada beberapa karakterisasi yang terasa berbeda dan agak mengganggu (seperti Sanosuke), film itu tetaplah pembiasaan yang setia dengan sumbernya. Tapi mengadaptasi kisah Kyoto bukanlah hal yang mudah, malah bisa dibilang sangat sulit. Banyaknya huruf dan skalanya yang besar merupakan halangan utama, jadi merupakan langkah yang masuk logika untuk memecah ceritanya kedalam dua film, dan Kyoto Inferno ini yaitu bab pertama.

Makoto Shishio (Tatsuya Fujiwara) merupakan "penerus" Kenshin (Takeru Sato) sebagai seorang pembantai sehabis ia menanggalkan gelar Battousai. Tapi berbeda dengan Kenshin yang membunuh demi perdamaian dan orang lemah, Shishio melaksanakan itu demi kepuasan langsung dan kejayaan, sesuatu yang mendorong pihak pemerintah memutuskan membunuh kemudian memperabukan mayatnya. Tapi diluar dugaan Shishio masih hidup dan bertransformasi menjadi "monster" haus darah yang sekarang berniat menggulingkan pemerintahan Meiji. Untuk itulah ia mulai menghimpun pasukan termasuk menciptakan Juppongatanya yang terdiri dari 10 pendekar pedang terbaik yang tidak segan membunuh siapa saja yang mengalangi mereka. Kenshin yang awalnya menolak undangan pemerintah untuk membunuh Shishio risikonya mulai tergerak sehabis melihat kekejamannya. Bersama pihak kepolisian yang dipimpin Saito (Yosuke Eguchi), Kenshin pun menuju Kyoto yang akan dijadikan lautan api oleh Shishio.
Asalkan Kyoto Inferno tidak "mengacau seenaknya" film ini setidaknya berpotensi menghadirkan tontonan yang menghibur, dan itulah yang berhasil dicapai oleh sutradara Keishi Ohtomo. Berbekal dasar dongeng yang kuat, film ini masih berusaha sebisa mungkin setia dengan sumbernya, sehingga walaupun ada beberapa penyesuaian, saya sebagai penggemar manga-nya masih bisa cukup memaafkan. Kesetiaan pada sumber itu tidak hanya mempunyai kegunaan untuk membangun kisah yang baik tapi juga membangkitkan memori indah dikala membaca Kyoto Arc dulu. Melihat huruf demi huruf serta momen-momen dalam komik berhasil diwujudkan menjadi konkret oleh Keishi Ohtomo yaitu kesenangan tersendiri bagi saya. Saya yakin dikala menonton film ini dalam benak lebih banyak didominasi penggemar Rurouni Kenshin akan sering terbersit "ah, huruf ini", atau "ah, saya ingat momen ini...". Tapi tentu saja Kyoto Inferno bukan pembiasaan yang sempurna, dan problem utama film ini memang hadir alasannya aspek yang telah saya sebut diatas, yakni banyaknya karakter, subplot, serta skala yang besar.
Karakter Kenshin terperinci tergali, begitu pula dengan Shishio yang tiap kemunculannya sudah bisa menghadirkan aura angker meski belum banyak mengatakan aksinya. Tapi lihat huruf menarik lainnya yang punya tugas besar dalam Kyoto Arc seperti Juppongatana misanya. Mereka yaitu para villain dengan kemampuan serta tampilan unik. Masing-masing pertarungan yang melibatkan mereka berdampak besar pada pengembangan huruf utama, menyerupai patahnya pedang Kenshin, Sanosuke yang menguasai jurus andalannya, Saito dengan prinsip keadilannya, resolusi konflik Kenshin-Aoshi, hingga Kaoru yang berkesempatan hadir sebagai heroine tangguh. Sayang lebih banyak didominasi dari aspek itu tidak dihadirkan disini. Saya tidak tahu apakah semua itu gres akan dimunculkan di film ketiganya, tapi bila tidak tentu saja itu yaitu penyia-nyiaan potensi cerita. Bahkan sosok Aoshi gres diperkenalkan dan dikembangkan di film ini, sesuatu yang seharusnya sudah dilakukan dari film pertama.
Aohsi punya tugas cukup besar di arc ini, khususnya di klimaks. Maka dari itu pengenalannya di tengah dongeng terasa dipaksakan dan kurang mendalam. Aneh memang, alasannya arc Aoshi sebenarnya digunakan untuk film pertama, tapi entah kenapa kiprahnya di film itu dihilangkan dan justru gres muncul disini. Meski masih ada satu film, saya ragu salah satu tokoh terbaik di Rurouni Kenshin ini pada risikonya bisa termaksimalkan. Sayang sekali, padahal Aoshi punya kepribadian dan latar belakang menarik dengan bencana kelam disana. Tapi bicara momen emosional, Keishi Ohtomo nampaknya memang sengaja melucuti hal itu dari triloginya ini dan lebih berfokus pada agresi dan bagaimana menyuguhkan tampilan huruf semirip mungkin dengan komiknya. Padahal Rurouni Kenshin sejatinya punya banyak momen emosional dalam komiknya. Patut disayangkan, tapi toh apa yang dijadikan fokus itu berhasil tergarap maksimal. Desain karakternya manis berkat production value yang memuaskan, dan adegan aksinya pun benar-benar menghibur.

Kyoto Inferno memang risikonya tida menampilkan titik puncak yang memuaskan, alasannya memang layaknya film pembiasaan novel Hollywood yang membagi kisah risikonya menjadi dua, film pertama lebih kepada penghantar untuk titik puncak sebenarnya di film kedua. Banyak kekecewaan hadir, tapi secara keseluruhan film ini yaitu hiburan yang menyenangkan. Durasinya yang mencapai 138 menit tidak terasa membosankan berkat keseruan dan kesan nostalgia yang hadir. Poin plus juga turut hadir berkat keberhasilan Keishi Ohtomo dalam usahanya menyebabkan hampir semua kemunculan Shishio terasa mengerikan, termasuk lewat opening yang mendekati suasana horror. Scoring yang terdengar tiap kemunculan Shishio pun begitu megah dan mengerikan disaat bersamaan. Sebagai bonus, menonton film yang menghadirkan Emi Takei terperinci merupakan hiburan menyenangkan bagi para penonton laki-laki (berani taruhan banyak yang susah mengatur fokus). Kyoto Inferno adalah pengantar yang menyenangkan menuju The Legend Ends.

Sunday, December 30, 2018

Ini Lho Rurouni Kenshin: The Legend Ends (2014)


Kyoto Inferno (review) merupakan sebuah "jembatan" menyenangkan sebelum titik puncak yang begitu ditunggu dalam The Legend Ends. Build-up yang baik membuat aku tidak sabar untuk segera menonton film epilog trilogi Rurouni Kenshin ini. Jika anda merupakan pembaca komiknya, tentu anda setuju bahwa salah satu momen paling ditunggu dalam Kyoto arc ialah pertarungan titik puncak yang melibatkan Shishio melawan empat main hero dalam serial ini. Kaprikornus cukup satu hal yang aku harapkan dari film ketiga ini, yakni pure epicness. Tapi sutradara Keishi Otomo nyatanya tidak eksklusif membuka filmnya dengan tempo cepat. Kita diajak terlebih dahulu melihat aneka macam drama dengan fokus utama pada bagaimana Kenshin (Takeru Satoh) kembali belajar pada, Seijuro Hiko (Masaharu Fukuyama) yang merupakan gurunya dulu. Jujur saja potongan ini terasa kurang menarik dan menjadi awal yang gagal mengangkat tensi film ini. Terlalu banyak obrolan filosofis yang tidak menawarkan dampak apapun bagi pondasi drama maupun eksplorasi karakternya.

Saya bergotong-royong suka pada selipan drama dalam film aksi, sebab berpotensi membuatnya tidak hanya berakhir sebagai sebuah tontonan tanpa hati. Tapi sebagai chapter penutup sekaligus klimaks, takaran drama yang diberikan dalam The Legend Ends terlalu banyak, bahkan melebihi porsi adegan aksinya. Seperti yang sudah aku sebutkan dalam review Kyoto Inferno, beberapa huruf bergotong-royong sudah dapat dieksplorasi dari film pertama, khususnya Aoshi. Dengan begitu dikala memasuki film kedua dan ketiga huruf itu sudah punya pondasi mantap, menawarkan celah lebih luas untuk mengeksplorasi hal lainnya. Kekhawatiran aku pun jadi kenyataan dikala Aoshi Shinomori (which is one of the best character in Rurouni Kenshin) tetap berakhir sebagai huruf yang kurang menggigit hingga film berakhir. Hal yang sama terjadi juga pada para Juppongatana. "Keharusan" untuk mengeksplorasi Aoshi membuat kelompok villain ikonik ini sama sekali tidak menarik. Padahal mereka bukan hanya sekelompok orang berpakaian asing tapi juga punya karakterisasi menarik. Bahkan nama-nama menyerupai Anji, Usui dan Kamatari menawarkan imbas besar pada pengembangan huruf utama macam Sanosuke, Saito hingga Kaoru.
Tapi untungnya adegan agresi yang dijanjikan masih memukau, sesuatu yang juga menjadi kelebihan dua film pertamanya selain desain karakter. Tercatat hanya ada dua pertarungan besar disini. Pertama ialah Kenshin melawan Aoshi yang meski dikemas dengan apik tetap kurang menggigit sebab lagi-lagi sosok Aoshi yang kurang dimaksimalkan. Disaat Kenshin dengan Hiten Mitsurugi-nya punya ciri khas menarik, atau Saito dengan gatotsu setidaknya punya kuda-kuda ikonik yang dipertahankan dalam film, Aoshi dengan kodachi plus teknik mematikan Kaiten Kenbu tidak dipertontonkan dengan sepantasnya. Well, lagi-lagi aku tetap beropini bahwa pertarungan Kenshin dan Aoshi akan lebih maksimal jikalau menjadi titik puncak film pertama. Sedangkan pertarungan kedua ialah rangkaian pertarungan panjang dari pantai yang berlanjut di kapal. Pertarungan di kapal inilah yang kesudahannya menjadi titik puncak mengesankan. Keishi Otomo sedikit merombak klimaksnya dengan mengganti "pertarungan bergilir" antara Kenshin, Sanosuke, Saito dan Aoshi melawan Shishio menjadi sebuah "keroyokan". Dan itu merupakan keputusan yang tepat.
Butuh perjuangan lebih, durasi lebih dan pengemasan tempo yang super cermat dalam beralih dari cepat ke lambat begitu pula sebaliknya untuk dapat menghadirkan kesan epic menyerupai panel demi panel komiknya. Karena itu menyatukan pertarungan itu dan mempercepat temponya merupakan keputusan cerdas. Dengan koreografi yang luar biasa dan tebasan demi tebasan yang ditangkap secara utuh (tanpa ada shaky cam atau cut super cepat) pertempuran empat lawan satu itu menebus segala penantian aku sedari Kyoto Inferno dan paruh pertama yang lambat dari The Legend Ends. Ditambah juga dengan scoring megah plus dramatis garapan Naoki Sato yang bersatu membuat keseruan sekaligus ketegangan, maka sempurnalah titik puncak epic film ini yang bahkan layak disebut sebagai salah satu adegan pertarungan pedang terbaik dalam film atau setidaknya salah satu titik puncak terbaik dalam film penyesuaian buku komik. Klimaks film ini menandakan bahwa sebagus apapun CGI mengemas film aksi, cara konvensional minim imbas (kecuali api Shishio yang memang dibutuhkan) tetaplah yang terbaik.

Jika ada kekurangan, itu ialah hal sama yang sudah aku tuliskan berkali-kali (baik dalam review ini maupun dua film sebelumnya) yaitu penokohan yang kurang pas bagi huruf macam Sanosuke, Saito dan Aoshi. Begitu pentingkah penokohan berdampak pada adegan aksi? Tengok adegan ini di manga-nya, dan anda akan tahu kenapa. Secara keseluruhan trilogi ini terang jauh dari kata sempurna, apalagi bagi aku yang merupakan penggemar komiknya. Tapi dibandingkan penyesuaian dari serial favorit aku lainnya, Rurouni Kenshin ialah yang terbaik. Setidaknya Keishi Otomo dan timnya telah sebisa mungkin menaati hukum pertama dalam mengadaptasi komik fenomenal, yaitu setia pada sumbernya entah itu dalam hal ceritanya, adegan, hingga desain huruf yang dibentuk semirip mungkin. Bukankah impian fanboy dalam penyesuaian film mustahil terpenuhi semuanya? Setidaknya Emi Takei masih sangat anggun walaupun porsinya sangat sedikit disini.



NB: Sebuah kebetulan yang amat sangat luar biasa, salah seorang senior aku amat menyerupai dengan Aoshi Shinomori (which is very very handsome!) Ini ia tampangnya:

Monday, January 7, 2019

Ini Lho Rurouni Kenshin: The Legend Ends (2014)


Kyoto Inferno (review) merupakan sebuah "jembatan" menyenangkan sebelum titik puncak yang begitu ditunggu dalam The Legend Ends. Build-up yang baik membuat aku tidak sabar untuk segera menonton film epilog trilogi Rurouni Kenshin ini. Jika anda merupakan pembaca komiknya, tentu anda setuju bahwa salah satu momen paling ditunggu dalam Kyoto arc ialah pertarungan titik puncak yang melibatkan Shishio melawan empat main hero dalam serial ini. Kaprikornus cukup satu hal yang aku harapkan dari film ketiga ini, yakni pure epicness. Tapi sutradara Keishi Otomo nyatanya tidak eksklusif membuka filmnya dengan tempo cepat. Kita diajak terlebih dahulu melihat aneka macam drama dengan fokus utama pada bagaimana Kenshin (Takeru Satoh) kembali belajar pada, Seijuro Hiko (Masaharu Fukuyama) yang merupakan gurunya dulu. Jujur saja potongan ini terasa kurang menarik dan menjadi awal yang gagal mengangkat tensi film ini. Terlalu banyak obrolan filosofis yang tidak menawarkan dampak apapun bagi pondasi drama maupun eksplorasi karakternya.

Saya bergotong-royong suka pada selipan drama dalam film aksi, sebab berpotensi membuatnya tidak hanya berakhir sebagai sebuah tontonan tanpa hati. Tapi sebagai chapter penutup sekaligus klimaks, takaran drama yang diberikan dalam The Legend Ends terlalu banyak, bahkan melebihi porsi adegan aksinya. Seperti yang sudah aku sebutkan dalam review Kyoto Inferno, beberapa huruf bergotong-royong sudah dapat dieksplorasi dari film pertama, khususnya Aoshi. Dengan begitu dikala memasuki film kedua dan ketiga huruf itu sudah punya pondasi mantap, menawarkan celah lebih luas untuk mengeksplorasi hal lainnya. Kekhawatiran aku pun jadi kenyataan dikala Aoshi Shinomori (which is one of the best character in Rurouni Kenshin) tetap berakhir sebagai huruf yang kurang menggigit hingga film berakhir. Hal yang sama terjadi juga pada para Juppongatana. "Keharusan" untuk mengeksplorasi Aoshi membuat kelompok villain ikonik ini sama sekali tidak menarik. Padahal mereka bukan hanya sekelompok orang berpakaian asing tapi juga punya karakterisasi menarik. Bahkan nama-nama menyerupai Anji, Usui dan Kamatari menawarkan imbas besar pada pengembangan huruf utama macam Sanosuke, Saito hingga Kaoru.
Tapi untungnya adegan agresi yang dijanjikan masih memukau, sesuatu yang juga menjadi kelebihan dua film pertamanya selain desain karakter. Tercatat hanya ada dua pertarungan besar disini. Pertama ialah Kenshin melawan Aoshi yang meski dikemas dengan apik tetap kurang menggigit sebab lagi-lagi sosok Aoshi yang kurang dimaksimalkan. Disaat Kenshin dengan Hiten Mitsurugi-nya punya ciri khas menarik, atau Saito dengan gatotsu setidaknya punya kuda-kuda ikonik yang dipertahankan dalam film, Aoshi dengan kodachi plus teknik mematikan Kaiten Kenbu tidak dipertontonkan dengan sepantasnya. Well, lagi-lagi aku tetap beropini bahwa pertarungan Kenshin dan Aoshi akan lebih maksimal jikalau menjadi titik puncak film pertama. Sedangkan pertarungan kedua ialah rangkaian pertarungan panjang dari pantai yang berlanjut di kapal. Pertarungan di kapal inilah yang kesudahannya menjadi titik puncak mengesankan. Keishi Otomo sedikit merombak klimaksnya dengan mengganti "pertarungan bergilir" antara Kenshin, Sanosuke, Saito dan Aoshi melawan Shishio menjadi sebuah "keroyokan". Dan itu merupakan keputusan yang tepat.
Butuh perjuangan lebih, durasi lebih dan pengemasan tempo yang super cermat dalam beralih dari cepat ke lambat begitu pula sebaliknya untuk dapat menghadirkan kesan epic menyerupai panel demi panel komiknya. Karena itu menyatukan pertarungan itu dan mempercepat temponya merupakan keputusan cerdas. Dengan koreografi yang luar biasa dan tebasan demi tebasan yang ditangkap secara utuh (tanpa ada shaky cam atau cut super cepat) pertempuran empat lawan satu itu menebus segala penantian aku sedari Kyoto Inferno dan paruh pertama yang lambat dari The Legend Ends. Ditambah juga dengan scoring megah plus dramatis garapan Naoki Sato yang bersatu membuat keseruan sekaligus ketegangan, maka sempurnalah titik puncak epic film ini yang bahkan layak disebut sebagai salah satu adegan pertarungan pedang terbaik dalam film atau setidaknya salah satu titik puncak terbaik dalam film penyesuaian buku komik. Klimaks film ini menandakan bahwa sebagus apapun CGI mengemas film aksi, cara konvensional minim imbas (kecuali api Shishio yang memang dibutuhkan) tetaplah yang terbaik.

Jika ada kekurangan, itu ialah hal sama yang sudah aku tuliskan berkali-kali (baik dalam review ini maupun dua film sebelumnya) yaitu penokohan yang kurang pas bagi huruf macam Sanosuke, Saito dan Aoshi. Begitu pentingkah penokohan berdampak pada adegan aksi? Tengok adegan ini di manga-nya, dan anda akan tahu kenapa. Secara keseluruhan trilogi ini terang jauh dari kata sempurna, apalagi bagi aku yang merupakan penggemar komiknya. Tapi dibandingkan penyesuaian dari serial favorit aku lainnya, Rurouni Kenshin ialah yang terbaik. Setidaknya Keishi Otomo dan timnya telah sebisa mungkin menaati hukum pertama dalam mengadaptasi komik fenomenal, yaitu setia pada sumbernya entah itu dalam hal ceritanya, adegan, hingga desain huruf yang dibentuk semirip mungkin. Bukankah impian fanboy dalam penyesuaian film mustahil terpenuhi semuanya? Setidaknya Emi Takei masih sangat anggun walaupun porsinya sangat sedikit disini.



NB: Sebuah kebetulan yang amat sangat luar biasa, salah seorang senior aku amat menyerupai dengan Aoshi Shinomori (which is very very handsome!) Ini ia tampangnya: