Showing posts sorted by relevance for query the-babadook-2014. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query the-babadook-2014. Sort by date Show all posts

Tuesday, January 8, 2019

Ini Lho The Babadook (2014)

Bagi anak-anak, sebuah bedtime stories seperti apapun ceritanya akan terasa benar-benar nyata. Mereka akan merasa banyak sekali fantasi yang ada di dalamnya sebagai sebuah kenyataan dalam hidup. Hal yang sama juga terjadi berkaitan dengan kisah-kisah legenda horror sebelum tidur menyerupai boogeyman yang bersembunyi dalam kamar atau monster-monster lainnya. Sedangkan bagi orang berakal balig cukup akal yakni hal yang kadangkala menyebalkan ketika harus meyakinkan pada bawah umur bahwa monster itu tidak kasatmata biar mereka tidak selalu merasa ketakutan. Tapi bagaimana jikalau kisah menakutkan itu memang benar adanya? Konsep itulah yang coba diangkat oleh Jennifer Kent dalam film yang pada awalnya berasal dari film pendek berjudul MONSTER buatannya tahun 2005. Menarik meski bekerjsama bukanlah suatu konsep yang benar-benar baru. Tapi perbedaan The Babadook dengan horor terkenal garapan Hollywood yakni keputusan Jennifer Kent untuk tidak mengandalkan jump scare dalam meningkatkan tensi dan menghadirkan keseraman. Filmnya dibuka dengan sebuah opening slow motion menarik, menampilkan adegan mimpi yang dialami oleh Amelia (Essie Davis). Amelia kini merupakan orang renta tunggal sesudah sang suami, Oskar (Benjamin Winspear) meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan ketika mengantar Amelia menuju rumah sakit untuk melahirkan. 

Kecelakaan itu merenggut nyawa Oskar, tapi Amelia selamat begitu pula kandungannya. Putera Amelia berjulukan Samuel (Noah Wiseman) merupakan seorang anak yang jikalau dilihat sekilas tidak jauh beda dengan bawah umur kebanyakan. Tapi Samuel punya tingkah laris yang bakal dengan gampang dicap "aneh" dan "menyebalkan" oleh orang-orang di sekitarnya. Dia begitu percaya dengan cerita-cerita monster dan sering menakut-nakuti anak lain, suka menciptakan senjata yang katanya akan dipakai untuk mengalahkan sang monster, bahkan emosinya sering meledak-ledak. Hal itu jugalah yang menciptakan kesulitan Amelie semakin besar. Disatu sisi, tentu saja kehidupan sudah merupakan suatu hal yang berat sebagai orang renta tunggal, ditambah lagi stress berat atas meninggalnya Oskar masih ia rasakan hingga sekarang. Kelakuan Samuel pun semakin menambah beban dan tekanan yang dirasakan Amelia. Sampai suatu hari Samuel menemukan sebuah buku dongeng misterius berjudul Mister Babadook. Tidak menyerupai buku bawah umur lainnya, buku itu penuh dengan gambar dan narasi menyeramkan perihal Mister Babadook, sosok monster yang mencari mangsa dan tidak akan sanggup diusir. Dari situlah awal teror yang dialami Amelia berawal.
Seperti yang saya sebutkan diatas, perbedaan The Babadook dengan horor milik Hollywood kebanyakan yakni tidak bergantungnya film ini terhadap jump scare. Dibuat kaget memang merupakan salah satu keasyikan dalam menonton film horor, tapi banyak yang lupa atau sengaja melupakan bahwa kengerian bukan hanya bersumber dari rasa kaget. Bahkan rasa takut yang sesungguhnya sama sekali berbeda dari sekedar kaget. Rasa takut bersumber dari ketidak nyamanan dan perasaan was-was. Hal itulah yang coba dibangun oleh Jennifer Kent disini dengan lebih berfokus pada bagaimana membangun atmosfer creepy dan membuatkan banyak sekali misteri menarik biar antisipasi penonton berhasil ditingkatkan. Hal ini menciptakan filmnya berjalan dengan baik. Jika film horor yang mengandalkan jump scare biasanya akan kehilangan daya tarik ketika tidak sedang mengageti penontonnya, tidak demikian dengan film ini. Misteri baik perihal sosok Mister Babadook maupun karakter-karakter yang ada menciptakan alurnya berjalan baik tanpa pernah kehilangan daya tarik. Sosok Mister Babadook sendiri memang tidak terlalu sering muncul, selain alasannya yakni fokusnya yang lebih pada membangun atmosfer juga nampaknya alasannya yakni kesadaran Jennifer bahwa sang monster akan terlihat menggelikan jikalau terlalu sering dan dimunculkan secara jelas.
Berkaitan dengan misteri, memang ada beberapa yang tidak terjawab khususnya perihal siapa bekerjsama sosok Mister Babadook itu. Tapi hal itu sangat sanggup dimaklumi alasannya yakni pendekatan yang cukup realistis pada film ini. Secara logika, bukankah seseorang yang tengah menerima teror akan lebih dulu berfokus pada menyelamatkan dirinya daripada mencoba mencari tahu perihal sosok monster itu? Selain itu, tidak dieksporasinya sosok Babadook juga merupakan bentuk pemusatan fokus biar tidak melebar dari eksplorasi abjad Amelia dan Samuel. The Babadook memang banyak berfokus pada eksplorasi karakternya. Coba lucuti segala aspek horor dan monster di dalamnya, maka jadilah film ini sebagai sebuah drama psikogis kelam perihal disfungsi keluarga yang dipicu oleh stress berat (Amelia yang perlahan kehilangan kewarasan alasannya yakni maut sang suami dan tekanan yang hadir alasannya yakni sang anak?). Karakternya sendiri tidak hanya berhasil dieksplorasi tapi juga terasa unik. Biasanya, film menyerupai ini akan menciptakan saya sebal pada orang-orang skeptikal dimana mereka intinya tidak disengaja untuk jadi menyebalkan. Tapi film ini tidak. 

Samuel pada awalnya sanggup terasa menyebalkan dengan sifatnya, tapi simpati muncul alasannya yakni rasa sayang terhadap sang ibu dan fakta bahwa omongannya perihal sosok Babadook memang benar adanya. Amelia sanggup saja menjadi sosok yang terlalu putih, tapi imbas stress berat yang ia alami membuatnya tidak menyerupai itu. Akhirnya kedua abjad utama film ini terasa abu-abu dan jauh lebih menarik. Kemudian bicara soal aspek teknis, saya amat menyukai efek-efek bunyi disturbing termasuk bunyi kemunculan Babadook yang begitu menyeramkan dan menyayat telinga. Hal itu semakin memperkuat kesan creepy yang coba dibangun oleh film ini. Pada akhirnya, The Babadook mungkin tidak hingga terasa luar biasa menyerupai yang saya baca di banyak sekali macam review, tapi terperinci film ini merupakan sajian yang langka dan menarik alasannya yakni lebih banyak berfokus pada drama psikologis, karakter, misteri dan atmosfer daripada sekedar jump scare murahan yang melelahkan itu.

Ini Lho Housebound (2014)

Disaat tahun ini Hollywood kering film horror berkualitas, siapa sangka dua negara yang saling bertetangga yaitu Australia dan Selandia Baru mengisi kekeringan itu dengan mengirimkan "perwakilan" berupa film horror anggun dengan konsep yang unik. Australia dengan The Babadook (review) mungkin lebih banyak mencuri perhatian dengan buzz begitu gencar, tapi bukan berarti Housebound yang merupakan film Selandia Baru buatan sutradara debutan Gerartd Johnstone ini kalah memikat. Sebelum menonton saya tidak tahu bercerita wacana apa pastinya film ini kecuali wacana rumah hantu (dilihat dari judulnya) dan mengkombinasikan tema haunted house tersebut dengan sentuhan komedi. Memang film ini unik, alasannya yaitu adegan pembukanya pun tidak menyerupai kebanyakan film-film rumah hantu lain yang selalu dibuka dengan perkenalan terhadap rumahnya. Film dibuka dengan adegan perjuangan perampokan ATM (yang konyol) oleh Kylie (Morgana O'Reilly) dan seorang temannya yang berujung kegagalan. Atas perbuatannya itu Kylie diharuskan menjadi tahanan rumah selama delapan bulan.

Bagi Kylie, rumah daerah ia harus menghabiskan hukumannya itu bukanlah rumah, alasannya yaitu disana ia harus kembali tinggal bersama sang ibu, Miriam (Rima Te Wiata) dan ayah tirinya, Graeme (Ross Harper) yang tidak beliau sukai. Bagi Kylie, ibunya yaitu seseorang menyebalkan dan cerewet. Tidak hanya itu, Kylie yakin bahwa sang ibu menderita dementia alasannya yaitu selalu menyampaikan bahwa rumah daerah mereka tinggal yaitu rumah berhantu yang sering mengeluarkan suara-suara aneh dan banyak barang yang tiba-tiba menghilang. Tentu saja Kylie tidak percaya dengan kisah-kisah supranatural dari sang ibu hingga pada suatu malam mengalami banyak sekali insiden misterius secara langsung, mulai dari suara-suara misterius hingga boneka beruang yang bisa berbicara sendiri. Kondisi jadi semakin mengerikan bagi Kylie ketika ia pada alhasil berhasil mengungkap sebuah diam-diam kelam yang pernah terjadi dalam rumah itu beberapa tahun sebelum ia dan keluarganya tinggal disana. Dari situlah Housebound mulai melemparkan kejutan demi kejutan tak terduga dalam plotnya.
Ada sebuah perbedaan fundamental antara Housebound dengan kebanyakan film horror bertemakan rumah berhantu lainnya. Bukan komedi, bukan twist, tapi fokus. Fokusnya bukan kepada rumah hantu itu sendiri tapi lebih kepada karakter-karakter di dalamnya. Hal itu sudah tergambar dari opening-nya itu, yang lebih menentukan untuk menampilkan "siapa karakternya" dulu daripada "ada apa di dalam rumah berhantunya". Pemilihan fokus itu terus konsisten sehingga menciptakan film ini tidak kosong dalam pergerakan alurnya. Tidak hanya menjual ketegangan dari rangkaian scare jump maupun kisah hantu-hantuan saja tapi karakternya pun ikut bergerak. Berbekal sosok Kylie yang berbeda dengan heroine film horror pada umumnya dimana beliau kuat, penuh kesinisan, seenaknya sendiri dan menyerupai yang dikatakan ibunya "always antagonizing everyone" makin menimbulkan film ini menarik. Bicara soal karakter, amat masuk akal bahwa dalam sebuah film horror apalagi yang mengandung unsur supranatural kita dipertemukan dengan abjad skeptikal. Housebound mampu memutar balikkan karakterisasi itu. 
Hal itu dilakukan dengan beberapa cara, menyerupai dengan menempatkan sosok Amos (Glen-Paul Waru) hingga merubah definisi skeptikal yang biasanya hadir. Bicara soal sosok skeptikal dalam horror, pastinya dengan gampang kita akan menebak bahwa mereka yaitu yang tidak percaya akan kisah-kisah hantu yang dilontarkan abjad utamanya. Ya, pada awalnya itulah yang terjadi, tapi seiring dengan berjalannya plot, bukan hanya itu definisi skeptikal yang dihadirkan film ini. Ketidak percayaan yang hadir bukan alasannya yaitu ceritanya, tapi kepada "siapa" yang menceritakan kisah itu, satu lagi bukti bahwa Housebound memberikan fokus besar pada karakter. "Sasaran" dari rasa tidak percaya itu bukannya kisah supranatural, tapi Kylie yang dianggap bermaslah. Makara intinya apapun yang diceritakan Kylie, maka orang-orang akan lebih percaya sebaliknya, bahkan ketika apa yang ia ceritakan amat rasional. Lewat filmnya ini Gerard Johnstone memasukkan aspek sosial wacana penghakiman dan stereotip, dimana banyak dari kita cenderung menilai kisah bukan dari kisah itu sendiri tapi lebih kepada siapa yang menceritakannya.

Housebound adalah percampuran banyak sekali macam genre yang menyenangkan, mulai dari horror, komedi, thriller, hingga misteri. Hebatnyam Gerard Johnstone bisa mencampur aduk semua itu dengan cukup baik. Memang pada alhasil yang paling menonjol yaitu unsur thriller dan misterinya yang menciptakan saya terus antusias untuk ikut mengungkap misteri dibalik rumah Kylie, hingga alhasil hadir balasan demi balasan mengejutkan yang begitu memuaskan. Komedinya yang lebih banyak didominasi yaitu slapstick dan komedi hitam juga cukup efektif. Tidak hanya rasa ingin tau dan ketegangan yang hadir tapi juga tawa di beberapa momen. Ironisnya justru aspek horornya yang terasa kurang menggigit, tapi toh dengan keberhasilan aspek-aspek lainnya saya tetap menikmati film ini. Seperti The Babadook pula, jikalau kalian "telanjangi" aspek supranatural film ini, maka hasil alhasil yaitu sebuah kisah psikologis yang menarik dengan kisah berbobot, suatu hal yang cukup umur ini amat jarang dimiliki film horror mainstream. Oh, and Morgana O'Reilly is really gorgeous

Friday, December 28, 2018

Ini Lho It Follows (2014)

Seorang gadis berlari ketakutan keluar dari rumahnya. Dia menyerupai sedang dikejar oleh sesuatu/seseorang, tapi kita tidak pernah melihat sosok tersebut. Keesokan paginya, sang gadis telah tewas di pantai dalam kondisi mengenaskan. Adegan pembuka itu mengesankan bahwa "it" dalam judul film yakni sosok misterius yang tidak akan nampak dan diketahui sosoknya. Narasi kemudian berpindah, berfokus pada gadis lain berjulukan Jay (Maika Monroe) yang hendak berkencan dengan laki-laki berjulukan Hugh (Jake Weary). Pada awalnya kencan terlihat lancar dimana keduanya saling berinteraksi dengan nyaman. Namun situasi berubah sedikit absurd ketika Hugh melihat seorang perempuan berbaju kuning sedangkan Jay tidak. Pada kencan berikutnya, Hugh membius Jay sesaat sehabis keduanya berafiliasi seks. Di sebuah bangunan kosong, Hugh bercerita bahwa alasannya melaksanakan itu yakni untuk memindahkan teror yang ia alami. Sebuah teror yang hanya sanggup dipindahkan (ditularkan) lewat relasi seks dan sang korban akan terus diikuti secara perlahan oleh sosok misterius sebelum alhasil dibunuh olehnya.

Seperti yang dikatakan oleh sutradara sekaigus penulis naskah David Robert Mitchell, dongeng film ini akan terdengar begitu bodoh. Sebuah teror/kutukan dari makhluk supranatural (?) yang berpindah lewat relasi seks memang terkesan udik dan murahan menyerupai kebanyakan horor kelas B diluar sana. Tapi sebaliknya, sehabis diterjemahkan oleh Robert Mitchell ke layar, It Follows justru menjadi sajian stylish yang begitu elegan. Mulai dari setting, properti, sampai score garapan Disasterpeace, semuanya memiliki rasa retro. Memang gaya 80-an menyerupai ini tengah menjadi cara yang digemari para sineas indie untuk membuat filmnya lebih keren. Salah satu pola terbaru sanggup dilihat pada The Guest (review) milik Adam Wingard. Tapi It Follows bukan sekedar pamer gaya tanpa tujuan. Dari banyak sekali aspek di atas, yang paling mayoritas tentu saja musik, dan itu dimanfaatkan oleh Robert Mitchell untuk membangun atmosfer tidak nyaman disini. Scoring-nya bersinkronisasi tepat dengan gaya sang sutradara yang menuturkan alurnya secara lambat. Suatu komposisi yang terbukti efektif mewakili kecemasan yang melanda karakternya, kemudian menularkan itu pada penonton.
Cara mengundang rasa takut lewat pembangunan atmosfer ini juga yang sebetulnya membuat saya sedikit dikecewakan ketika Robert Mitchell menentukan untuk memperlihatkan perwujudan sosok "it". Pada alhasil penonton memang tidak pernah tahu siapa atau apa sebetulnya makhluk tersebut, tapi tetap ada penurunan rasa misterius yang hadir oleh unseen terror lewat kemunculan tersebut. Tapi hal tersebut sangat sanggup dimaafkan mengingat kelihaian Robert Mitchell dalam mengemas setiap penampakan yang ada. Desain "it" sebetulnya sederhana dan tidaklah original. Kita sudah sering melihat sosok menyerupai ini dalam film-film bertemakan cult organization. Tapi semuanya kembali lagi pada cara penyajian, dan Robert Mitchell tahu cara menyajikan sosok tersebut dengan begitu mengerikan. Secara timing sesungguhnya tidak terlalu spesial, tapi yang membedakan formula film ini dengan horor modern kebanyakan yakni ketiadaan kesan jump scare yang mengandalkan musik menghentak. Sebaliknya, mayoritas penampakan sama sekali tidak diiringi musik, dan justru dari situlah kesan creepy hadir. Sayang, sehabis konsistensi baik dalam atmosfernya, titik puncak film ini begitu datar. Saya yakin minimnya ketegangan di titik puncak banyak dipengaruhi oleh sosok "it" yang ditampakkan.
Kekurangan lain film ini terletak pada karakter. Disaat pemaparan horornya berusaha menjauh dari formula klise, karakternya justru menerima perlakuan sebaliknya. Tipikal abjad film horor yakni tindakan udik yang diambil ketika tengah menerima teror. Daripada mengambil langkah paling aman, seringkali mereka justru membahayakan diri sendiri semisal pergi sendirian ke daerah sunyi daripada tetap di tengah keramaian. Hal tersebut begitu nampak pada abjad Jay. Pada sebuah momen ketika untuk pertama kalinya teman-teman Jay menyadari bahwa sosok misterius itu benar-benar ada, Jay justru menentukan untuk kabur sendirian. Bukankah lebih kondusif jikalau bersama teman-temannya? Bukankah Jay sanggup memberi tahu posisi dari makhluk itu pada mereka sambil tetap berusaha kabur bersama? Oh, ternyata semua itu disimpan sebagai klimaks. Selain itu banyak lagi kebodohan abjad yang hanya punya satu tujuan: memfasilitasi sosok "it" untuk sanggup menebar teror. Patut disayangkan alasannya Jay dengan segala kecemasan yang dialami sanggup menjadi abjad perempuan kompleks, menyerupai yang dipertontonkan The Babadook (review).

Diluar kebodohannya, bagaimana Jay dihadirkan sebagai sosok yang dihantui kecemasan terasa selaras dengan tema yang diangkat oleh film ini. Untuk lebih mendalami temanya, mari tengok dua literatur yang sempat dinarasikan disini, yaitu novel The Idiot dan puisi The Love Song of J. Alfred Prufrock. Keduanya punya beberapa kesamaan, dimana salah satunya menyoroti tema kematian, atau lebih tepatnya insan sebagai makhluk yang tidak hidup selamanya. Fakta itu membuat kecemasan bahwa suatu ketika insan akan mati, sama menyerupai yang dialami oleh Jay. Kedua literatur itu juga membahas informasi sosial yang salah satunya tercipta oleh hasrat seksualitas. Seks dalam film ini menjadi cara untuk memindahkan teror (baca: menularkan kematian). Sosok "it" disebarkan lewat seks, dan jikalau dikaitkan dengan informasi sosial sanggup jadi "it" yakni perlambang dari penyakit menular seksual. Atau jikalau tidak sedetail itu, setidaknya ia yakni citra bagaimana aktifitas seksual yang pada masyarakat modern ketika ini justru seringkali berujung pada kehancuran bahkan janjkematian mereka. Terakhir, saya begitu menyukai ending-nya yang multi-interpretasi namun bukanlah sebuah bentuk kebingungan sang sutradara dalam mengakhiri filmnya. Sebaliknya, kesan ambigu tersebut makin memperkuat misteri yang menyelimuti sepanjang cerita.

Verdict: Tidak sempurna, tapi pengemasan David Robert Mitchell membuat It Follows yang punya bujet murah ini jadi terasa jauh lebih mahal dari horor penuh jump scares belakangan. Semakin berkelas pula ketika ceritanya menyajikan kritik terhadap modern society dan sikap seks mereka, meski tanpa interpretasi itu pun filmnya sudah cukup kuat.

Saturday, January 5, 2019

Ini Lho It Follows (2014)

Seorang gadis berlari ketakutan keluar dari rumahnya. Dia menyerupai sedang dikejar oleh sesuatu/seseorang, tapi kita tidak pernah melihat sosok tersebut. Keesokan paginya, sang gadis telah tewas di pantai dalam kondisi mengenaskan. Adegan pembuka itu mengesankan bahwa "it" dalam judul film yakni sosok misterius yang tidak akan nampak dan diketahui sosoknya. Narasi kemudian berpindah, berfokus pada gadis lain berjulukan Jay (Maika Monroe) yang hendak berkencan dengan laki-laki berjulukan Hugh (Jake Weary). Pada awalnya kencan terlihat lancar dimana keduanya saling berinteraksi dengan nyaman. Namun situasi berubah sedikit absurd ketika Hugh melihat seorang perempuan berbaju kuning sedangkan Jay tidak. Pada kencan berikutnya, Hugh membius Jay sesaat sehabis keduanya berafiliasi seks. Di sebuah bangunan kosong, Hugh bercerita bahwa alasannya melaksanakan itu yakni untuk memindahkan teror yang ia alami. Sebuah teror yang hanya sanggup dipindahkan (ditularkan) lewat relasi seks dan sang korban akan terus diikuti secara perlahan oleh sosok misterius sebelum alhasil dibunuh olehnya.

Seperti yang dikatakan oleh sutradara sekaigus penulis naskah David Robert Mitchell, dongeng film ini akan terdengar begitu bodoh. Sebuah teror/kutukan dari makhluk supranatural (?) yang berpindah lewat relasi seks memang terkesan udik dan murahan menyerupai kebanyakan horor kelas B diluar sana. Tapi sebaliknya, sehabis diterjemahkan oleh Robert Mitchell ke layar, It Follows justru menjadi sajian stylish yang begitu elegan. Mulai dari setting, properti, sampai score garapan Disasterpeace, semuanya memiliki rasa retro. Memang gaya 80-an menyerupai ini tengah menjadi cara yang digemari para sineas indie untuk membuat filmnya lebih keren. Salah satu pola terbaru sanggup dilihat pada The Guest (review) milik Adam Wingard. Tapi It Follows bukan sekedar pamer gaya tanpa tujuan. Dari banyak sekali aspek di atas, yang paling mayoritas tentu saja musik, dan itu dimanfaatkan oleh Robert Mitchell untuk membangun atmosfer tidak nyaman disini. Scoring-nya bersinkronisasi tepat dengan gaya sang sutradara yang menuturkan alurnya secara lambat. Suatu komposisi yang terbukti efektif mewakili kecemasan yang melanda karakternya, kemudian menularkan itu pada penonton.
Cara mengundang rasa takut lewat pembangunan atmosfer ini juga yang sebetulnya membuat saya sedikit dikecewakan ketika Robert Mitchell menentukan untuk memperlihatkan perwujudan sosok "it". Pada alhasil penonton memang tidak pernah tahu siapa atau apa sebetulnya makhluk tersebut, tapi tetap ada penurunan rasa misterius yang hadir oleh unseen terror lewat kemunculan tersebut. Tapi hal tersebut sangat sanggup dimaafkan mengingat kelihaian Robert Mitchell dalam mengemas setiap penampakan yang ada. Desain "it" sebetulnya sederhana dan tidaklah original. Kita sudah sering melihat sosok menyerupai ini dalam film-film bertemakan cult organization. Tapi semuanya kembali lagi pada cara penyajian, dan Robert Mitchell tahu cara menyajikan sosok tersebut dengan begitu mengerikan. Secara timing sesungguhnya tidak terlalu spesial, tapi yang membedakan formula film ini dengan horor modern kebanyakan yakni ketiadaan kesan jump scare yang mengandalkan musik menghentak. Sebaliknya, mayoritas penampakan sama sekali tidak diiringi musik, dan justru dari situlah kesan creepy hadir. Sayang, sehabis konsistensi baik dalam atmosfernya, titik puncak film ini begitu datar. Saya yakin minimnya ketegangan di titik puncak banyak dipengaruhi oleh sosok "it" yang ditampakkan.
Kekurangan lain film ini terletak pada karakter. Disaat pemaparan horornya berusaha menjauh dari formula klise, karakternya justru menerima perlakuan sebaliknya. Tipikal abjad film horor yakni tindakan udik yang diambil ketika tengah menerima teror. Daripada mengambil langkah paling aman, seringkali mereka justru membahayakan diri sendiri semisal pergi sendirian ke daerah sunyi daripada tetap di tengah keramaian. Hal tersebut begitu nampak pada abjad Jay. Pada sebuah momen ketika untuk pertama kalinya teman-teman Jay menyadari bahwa sosok misterius itu benar-benar ada, Jay justru menentukan untuk kabur sendirian. Bukankah lebih kondusif jikalau bersama teman-temannya? Bukankah Jay sanggup memberi tahu posisi dari makhluk itu pada mereka sambil tetap berusaha kabur bersama? Oh, ternyata semua itu disimpan sebagai klimaks. Selain itu banyak lagi kebodohan abjad yang hanya punya satu tujuan: memfasilitasi sosok "it" untuk sanggup menebar teror. Patut disayangkan alasannya Jay dengan segala kecemasan yang dialami sanggup menjadi abjad perempuan kompleks, menyerupai yang dipertontonkan The Babadook (review).

Diluar kebodohannya, bagaimana Jay dihadirkan sebagai sosok yang dihantui kecemasan terasa selaras dengan tema yang diangkat oleh film ini. Untuk lebih mendalami temanya, mari tengok dua literatur yang sempat dinarasikan disini, yaitu novel The Idiot dan puisi The Love Song of J. Alfred Prufrock. Keduanya punya beberapa kesamaan, dimana salah satunya menyoroti tema kematian, atau lebih tepatnya insan sebagai makhluk yang tidak hidup selamanya. Fakta itu membuat kecemasan bahwa suatu ketika insan akan mati, sama menyerupai yang dialami oleh Jay. Kedua literatur itu juga membahas informasi sosial yang salah satunya tercipta oleh hasrat seksualitas. Seks dalam film ini menjadi cara untuk memindahkan teror (baca: menularkan kematian). Sosok "it" disebarkan lewat seks, dan jikalau dikaitkan dengan informasi sosial sanggup jadi "it" yakni perlambang dari penyakit menular seksual. Atau jikalau tidak sedetail itu, setidaknya ia yakni citra bagaimana aktifitas seksual yang pada masyarakat modern ketika ini justru seringkali berujung pada kehancuran bahkan janjkematian mereka. Terakhir, saya begitu menyukai ending-nya yang multi-interpretasi namun bukanlah sebuah bentuk kebingungan sang sutradara dalam mengakhiri filmnya. Sebaliknya, kesan ambigu tersebut makin memperkuat misteri yang menyelimuti sepanjang cerita.

Verdict: Tidak sempurna, tapi pengemasan David Robert Mitchell membuat It Follows yang punya bujet murah ini jadi terasa jauh lebih mahal dari horor penuh jump scares belakangan. Semakin berkelas pula ketika ceritanya menyajikan kritik terhadap modern society dan sikap seks mereka, meski tanpa interpretasi itu pun filmnya sudah cukup kuat.

Friday, December 7, 2018

Ini Lho Last Shift (2014)

Jump scare dan kebodohan laris aksara merupakan teladan dua hal yang telah begitu identik dengan suguhan horror. Begitu lekatnya, penonton telah hingga taraf memaklumi, menganggap masuk akal apabila musik menghentak atau seorang tokoh justru berlari mendekati sumber bahaya. "Namanya juga horror", begitu bentuk pemaklumannya. Sehingga menjadi terasa segar tatkala Last Shift karya Anthony DiBlasi coba meminimalisir keduanya. Sekilas tak ada hal istimewa dari premis perihal teror yang dialami seorang polisi tatkala menjalani kiprah jaga malam di kantornya. Konsep satu lokasi bukan lagi dobrakan, apalagi kantor polisi tidak terdengar menyerupai daerah dengan potensi kengerian maksimal. 

Jessica Loren (Julianna Harkavy) tengah bersiap menjalani hari pertamanya sebagai seorang polisi, mengikuti jejak sang ayah yang dulu tewas dikala bertugas. Sesungguhnya kiprah pertama Jessica amat mudah, yakni menjaga kantor polisi usang yang akan segera ditutup sembari menunggu anggota HAZMAT tiba guna mengumpulkan sisa barang bukti di sana. Namun tidak berapa usang kemudian kejadian-kejadian asing segera dialami Jessica, menyerupai bunyi misterius, kemunculan gelandangan, hingga distress call dari seorang gadis yang mengaku hendak dibunuh oleh sekumpulan orang. 
Las Shift jelas belum selevel The Babadook dalam hal eksplorasi psikis karakter, tapi Jessica juga bukan seorang "gadis bodoh" dalam film horror kebanyakan. Setidaknya saya dapat memahami motivasinya tetap bertahan di kantor meski telah menjumpai sejumlah teror. Jessica ingin menandakan bahwa ia ialah capable police officer yang tak gentar oleh rasa takut dan mewarisi kehebatan sang ayah. Hadirnya rentetan kengerian tidak asal diumbar demi menakuti penonton, melainkan turut membuka jalan bagi proses terlucutinya keberanian Jessica. Perlahan tapi niscaya ia semakin rapuh, dikalahkan oleh rasa takut hingga hasilnya membawa penonton pada ending yang ambigu sekaligus "jahat". 
Metode Anthony DiBlasi untuk menakut-nakuti penonton juga tidak murahan. DiBlasi tidak asal mengeksploitasi penampakan hantu beriringkan scoring berisik secara berulang. Walau tetap ada jump scare, DiBlasi memaksimalkan kemasan visual lewat kehadiran gambar-gambar disturbing, seperti desain hantu yang cukup menciptakan penonton berteriak sambil menutup mata kala kamera menyoroti wajah mereka secara close-up atau kemasan ala pengaruh glitch pada video. Alhasil produk hasilnya bukan saja kekagetan sambil lalu. Bagai pesan subliminal, banyak sekali image menyeramkan itu bakal terus tertanam di otak penonton bahkan ketika film telah usai sekalipun.

Sedangkan untuk tata suara, Anthony DiBlasi lebih menentukan mengeksplorasi ambience daripada hentakan "musik pengiris gendang telinga". Kombinasi tata visual dengan bunyi itu menguatkan kesan disturbing pada film ini. Sama menyerupai Jessica, saya pun ikut dibentuk tidak tahan, ingin menutup mata dan indera pendengaran akhir gempuran audiovisual tersebut. Walau beberapa menit awal terkesan monoton alasannya ialah teror yang tergolong bau (lampu mendadak redup, pintu loker terbuka sendiri), penantian anda akan terbayar lunas dikala DiBlasi mulai total mengeluarkan seluruh senjatanya. Filled with disturbing imageries, evilish story and enough character motivation, 'Last Shift' is one of the most satisfying supernatural horror movie in years.