Showing posts with label Bagus Bramanti. Show all posts
Showing posts with label Bagus Bramanti. Show all posts

Tuesday, December 4, 2018

Ini Lho Dear Nathan (2017)

Dilihat dari sampul luarnya, gampang menghakimi "Dear Nathan" sebagai kisah cinta cukup umur dangkal yang sekedar mengandalkan paras rupawan para pemain drama dan baris kalimat sok puitis. Tapi siapa sangka, penyesuaian adaptasi novel berjudul sama karya Erisca Febriani ini merupakan salah satu romansa putih abu-abu paling manis dalam beberapa tahun terakhir. Tidak perlu setting luar negeri megah, wardrobe serba mahal, atau kemewahan-kemewahan lain yang belakangan kerap digunakan film cinta dalam negeri guna membuai penonton biar melupakan setumpuk kelemahannya. "Dear Nathan" sanggup membuai alasannya dua sejoli tokoh utamanya likeable serta believable.

Salma (Amanda Rawles) dan Nathan (Jefri Nichol) pertama bertemu ketika mereka terlambat mengikuti upacara bendera di sekolah. Nathan membantu Salma masuk lewat jalan rahasia, kemudian menghilang. Rupanya Nathan dikenal bandel, hampir tiap hari laga walau satu-satunya yang ia jadikan sasaran pukulan ialah para bully atau preman. Rupanya pertemuan pertama itu eksklusif menciptakan Nathan jatuh hati, dan dibantu oleh Rahma (Diandra Agatha), ia mulai mendekati Salma, yang meski menyimpan perasaan sama, ragu untuk eksklusif mendapatkan cinta Nathan. Tanpa diketahui banyak orang, Nathan sendiri menyimpan duduk kasus terkait masa kemudian tragis keluarganya.
Mengambil setting SMA, "Dear Nathan" menghadirkan pernak-pernik dunia tersebut. Bagus Bramanti dan Gea Rexy paham benar ibarat apa asmara yang pernah dialami secara umum dikuasai orang ketika SMA, kemudian menuangkannya ke naskah dalam dosis tepat. Curi-curi pandang ketika pelajaran olahraga, duduk berdua di sudut belakang sekolah, hingga jadi sentra perhatian sewaktu kali pertama berangkat berboncengan berdua. Memori saya dilemparkan ke masa itu dan dibentuk tersenyum mengingatnya. Sekolah Menengan Atas ialah kawasan cinta monyet penuh romantisme gombal mulai bersemi. "Dear Nathan" sanggup merangkum poin itu sembari menyelipkan keping lain ibarat sobat egois yang gemar mengatur, tata tertib menyebalkan, hingga selintas ukiran siswa akademisi (nan sok suci) dengan mereka yang dianggap nakal.

Nathan mewakili korban prejudice yang dipandang jelek bahkan sampah alasannya menolak mengikuti jalur lurus yang dianggap sesuai kaidah moralitas. Namun di balik tingkah kasar, ada kebaikan yang enggan diperhatikan orang-orang di sekitarnya. Nathan bukan insan penghasil quote "ajaib" macam Dimas Anggara di film-film produksi Screenplay. Daripada berkata-kata mesra, ia eksklusif bertindak untuk hal kecil sekalipun macam membelikan Salma cilok di jam istirahat. Jefri Nichol punya pesona yang bakal memancing jeritan penonton perempuan (dan beberapa pria) tanpa perlu kaku bertutur akhir berusaha tampak keren. Nichol tak coba mendramatisir penuturan kalimatnya. Terdengar manis berkat pelafalan natural, asyik, gampang menggaet simpati penonton bagi Nathan. Bagi para laki-laki emosional, Nathan akan terasa relatable
Cinta pada Salma ditambah perjuangan mengambil kembali kasih sayang ibu (Ayu Dyah Pasha) mendorong perubahan Nathan. Konsisten dengan perlawanannya terhadap prejudice, film ini tak berniat mengubah Nathan menjadi sosok lain yang oleh konsensus publik dianggap lebih baik ibarat Aldo (Rayn Wijaya) si ketua OSIS berprestasi misal. Serupa yang diungkapkan Salma, Nathan mesti menjadi versi lebih baik dari dirinya sendiri. Tetap easy going namun lebih teratur, pula bersedia memulai babak gres hidup khususnya bersama sang ayah (Surya Saputra). Patut disayangkan, mencapai titik ini penceritaan kurang mulus. Proses perubahan Nathan terkesan mendadak, tidak bertahap. Lubang pun sempat hadir terkait timeline membingungkan suatu adegan. Saya tidak sanggup menuliskan adegan apa, tapi melibatkan momen penting salah satu tokoh.

Daripada orkestra menggelegar, sutradara Indra Gunawan ("Hijrah Cinta") menentukan lagu-lagu pop ringan guna menemani perjalanan cinta Nathan dan Salma. Pilihan tepat, alasannya momen-momen mereka berdua terasa manis tanpa harus didramatisasi berlebihan (penyakit banyak romansa Indonesia). Balutan komedi segar hasil interaksi malu-malu kucing dua cukup umur sukses pula hidupkan suasana. Amanda Rawles berjasa di sini, dengan baik menangani kecanggungan dan salah tingkahnya Salma yang efektif memancing senyum. Ditutup oleh kebahagiaan manis di bawah guyuran hujan, lengkaplah "Dear Nathan", romantika cukup umur dengan pemfokusan pada penokohan, suatu hal yang sekarang semakin jarang ditemui tatkala puisi-puisi hampa nihil rasa jadi andalan.

Ini Lho Seteru (2017)

Dari sekian banyak "gejolak kawula muda" khususnya siswa SMA, tawuran termasuk tindakan paling bodoh. Kalau ditelusuri, fenomena tersebut bakal memancing studi menarik, sebutlah tumbuh kembang remaja, tendensi kekerasan, budaya konformitas, bullying, bahkan sanggup ditarik hingga ke lingkup keluarga. Banyak poin sanggup diamati, tapi jangan harap Seteru menghasilkan observasi hingga sedalam itu, lantaran karya teranyar Hanung Bramantyo bersama co-director Seno Aji (dirilis seminggu pasca Kartini mungkin demi tertular momentumnya) sekaligus produk kampanye kebhinekaan dan anti tawuran dari Kementrian Pertahanan (Kemhan) ini hanya berniat menyerukan "tawuran itu keliru".

Bukan masalah. Sejak dulu film telah sering digunakan untuk media propaganda, promosi, atau iklan layanan masyarakat versi panjang. Lagipula pesan yang diusung baik. Terpenting, pesan itu tersampaikan, bahkan jika sanggup memberi dampak. Pelaku tawuran dalam Seteru adalah pelajar dua Sekolah Menengan Atas di Yogyakarta, yakni Kesatuan Bangsa (berisi siswa kaya) dan Budi Pekerti (berisi siswa miskin). Permusuhan dipicu maut siswa Budi Pekerti yang konon disebabkan oleh Kesatuan Bangsa. Sulitnya upaya perdamaian memaksa kedua sekolah menyerahkan pentolan tawuran masing-masing pada Letkol Rahmat (Mathias Muchus), Komandan Kodim setempat yang kemudian menyerahkan training pada Letnan Satu Makbul (Alfie Alfandy). 
"Sasaran tembak" Seteru tentu para pelajar Sekolah Menengan Atas yang terbagi jadi dua golongan: pelaku tawuran dan bukan pelaku tawuran. Golongan kedua akan simpel mengamini tuturan filmnya, tapi lain dongeng dengan golongan pertama yang notabene sasaran utama filmnya. Masalahnya, naskah karya Bagus Bramanti sekedar bertindak selaku pemberi hikmah eksternal, bagai orang renta atau guru tengah berpetuah tanpa coba memposisikan diri di frekuensi serupa lawan bicaranya. Terkesan dangkal pula menggampangkan resolusi, sehingga simpel membayangkan bila seorang siswa "berandalan" penyuka tawuran disuguhi film ini, beliau seketika menjawab "tidak semudah itu, bro". 

Bukan berarti sama sekali nihil perjuangan mengetuk hati mereka. Konflik internal keluarga Martin (Bio One) dan Ridwan (Yusuf Mahardika) dibutuhkan mewakili perkara personal remaja. Namun presentasi soal keinginan membanggakan orang renta berhenti di tatanan permukaan, lantaran lagi-lagi mengubah contoh pikir individu tak sesederhana itu. Sebelum ditawari citra ideal, seseorang perlu direnggut dahulu hatinya semoga lapang dada mendapatkan arahan. Upaya menggoda dilakukan melalui pemakaian futsal, yang mana acara favorit dominan remaja, sebagai pemersatu. 
Hanung (selaku penggemar sepakbola) cukup piawai merangkai pertandingan menghibur. Tapi turnamen futsal justru memantik dilema gres dikala Seteru jadi condong ke arah film olahraga hiburan. Mudah paruh kedua menenggelamkan usungan pesan akhir sequence futsal menekankan hiburan berupa gol demi gol ketimbang suguhan kolaborasi tim. Ditambah lagi cuma Bio One dan Yusuf Mahardika yang tampak meyakinkan di atas lapangan, merenggangkan jarak keduanya dengan kawan-kawannya yang minim ciri pembeda. Paling hanya Dito (Dhemi Purwanto) lewat sisi komikalnya yang menonjol. Kalau ditelusuri lebih jauh pun, sulit menjabarkan detail penokohan keenam protagonis. Unsur perbedaan etnis siswa Budi Pekerti dan Kesatuan Bangsa pun berujung tempelan tak substansial. 

Seteru memang tidak subtil bertutur. Segala wejangan disampaikan gamblang, namun sanggup diterima berkat penempatan tepat. Setting militernya memfasilitasi cara bertutur tersebut. Adalah masuk akal tatkala seorang Letkol berceramah panjang lebar seputar moral dan nilai persatuan bangsa. Awalnya saya pesimis akan pemilihan tempaan berat militer sebagai jalan pembentuk disiplin, sebelum filmnya mengatakan jika hal terpenting bukan fisik atau bentakan yang selalu diteriakkan Letnan Satu Makbul semata, pula hati dan rasa. Alfie Alfandy sendiri meyakinkan sebagai sosok tentara keras meski kala tokohnya melunak, transformasinya berjalan kurang mulus, sebagaimana transformasi terlalu instan dua kubu protagonis dari lawan menjadi kawan. Setidaknya kematangan Hanung berhasil menjaga jalannya alur tetap nyaman diikuti. 


Ticket Sponsored by: Bookmyshow ID & Indonesian Film Critics

Friday, November 30, 2018

Ini Lho Love Reborn: Komik, Musik & Dongeng Kala Kemudian (2018)

Banyak film percintaan dewasa kita menyamakan romantisme dengan kalimat puitis, momen manis nan dramatis, maupun adonan keduanya. Sebagaimana celetukan tokoh utama film ini, “kayak film-film Michelle Ziudith”. Semua soal momen dan buaian verbal maha dahsyat, tapi jarang yang mempedulikan satu unsur penting, yakni “kebersamaan”. Dalam Love Reborn: Komik, Musik & Kisah Masa Lalu, dua tokoh utama kerap, bahkan nyaris selalu menghabiskan waktu bersama, di mana tercipta interaksi yang awalnya terjadi di tatanan pikir (adu ideologi, pertukaran pendapat), gres kemudian lanjut ke hati. Pun supaya peduli akan percintaannya, penonton mesti sering dibawa menyaksikan dinamika tersebut. Love Reborn, meski penuh kelemahan, mempunyai elemen vital itu.

Mengingat menghidupkan lagi film (dan sinetron) lawas dengan tambahan “Reborn” di judul sedang tren, masuk akal jikalau anda sempat mengira film ini merupakan lanjutan atau remake dari Love (2008), yang juga remake film berjudul sama asal Malaysia. Tapi bukan. Kata “Reborn” di sini mewakili proses karakternya menemukan lagi rasa cinta, yang menyerupai tampak pada sub-judul, erait kaitannya dengan kisah masa lalu. Namanya Kirei (Nadya Arina), komikus muda bertalenta yang apatis terhadap cinta sesudah mendapati ayahnya meninggalkan sang ibu (Ira Wibowo). Bagi Kirei, cinta sebatas soal “siapa yang meninggalkan dan ditinggalkan”. Bahkan ketika laki-laki misterius berjulukan Wijaya (Donny Damara) mulai rutin datang, Kirei merasa takut andai sang ibu jatuh cinta lagi. Sebegitu jelek rupa cinta di matanya.
Wijaya rupanya ialah ayah Bagus (Ardit Erwanda), vokalis “Keras Kepala Band” yang memusuhi Kirei serta komunitas komiknya (atau cosplay?) di kampus. Selain Bagus, grup band ini terdiri dari Rindu (Rani Ramadhany), Jefry (Indra jegel), dan Sobirin (Jui Purwoto). Mereka membawakan lagu rock asyik berjudul “Freak” yang menyindir kegemaran Kira dan kawan-kawan kepada kultur terkenal Jepang dan mengesampingkan budaya lokal. Aneh sebenarnya, mengingat rock ‘n roll yang mereka anut pun bukan orisinil Indonesia, namun setidaknya personel “Keras Kepala Band” berjasa menghadirkan tawa. Jefry si playboy bertampang pas-pasan, Sobirin si anak mama, dan Rindu yang kolam preman. Jika biasanya laki-laki berebut untuk berduaan dengan perempuan cantik, di sini sebaliknya, alasannya ialah mereka semua takut pada Rindu. Situasi yang lucu.
Kirei dan Bagus setuju mengesampingkan perbedaan mereka, kemudian bantu-membantu menyidik ada korelasi apa antara orang renta keduanya. Berbagai tempat, bahkan hingga tempat pinggiran Bogor didatangi berdua, kemudian menyerupai sanggup diduga, perlahan timbul asmara. Cinta itu terlahir kembali. Walau segala aral melintang sanggup dihindari apabila mereka eksklusif menemui Wijaya di hotel yang selalu ia kunjungi, saya menikmati cara naskah garapan Bagus Bramanti (Mencari Hilal, Kartini) dan Gea Rexy (Dear Nathan, Yowis Ben) menyusun perjalanan berbasis napak tilas romansa masa kemudian yang diisi oleh bermacam-macam landmark. Ya, semua romansa indah memang harus mempunyai banyak sekali landmark.
Dari elemen estetika, sayangnya komik tak digunakan mempercantik tata visual sebagaimana musik kurang dimanfaatkan guna membangun emosi. Akad milik Payung Teduh menciptakan konklusinya manis, tapi itu lebih alasannya ialah kekuatannya sebagai lagu yang berdiri sendiri ketimbang kejelian sutradara Jay Sukmo (Catatan Akhir Kuliah, The Chocolate Chance) mengawinkan bahasa visual dengan audio. Tambahan kreativitas—yang lebih dari sekedar mengumpulkan para cosplayer dalam pengadeganan canggung—bakal amat mempunyai kegunaan bagi Love Reborn. Komik, musik, dan kisah masa lalu. Ada perjuangan mengakibatkan ketiganya terikat, walau kesannya ikatan itu cuma berakhir di permukaan, alih-alih satu kesatuan yang saling mengisi tanpa sanggup dipisahkan.
Setidaknya alasan Kirei dan Bagus jatuh cinta sanggup diterima budi dan hati. Kita menghabiskan cukup waktu bersama mereka, biarpun (lagi-lagi) pengadeganan canggung Jay Sukmo kerap melucuti romantisme. Ardit Erwanda masih kewalahan ketika melakoni momen emosional. Belum lagi adonan artikulasi awut-awutan plus sound mixing jelek menciptakan kalimat-kalimat dari mulutnya sulit didengar. Ditunjang penokohan yang juga lemah, huruf Bagus yang sering meletup-letup jadi kurang menarik simpati. Lain kisah dengan Nadya Arina pertengahan tahun nanti juga bakal tampil di Kafir. Cantik, ahli mengolah emosi di dosis yang tepat, juga tak mati gaya ketika dituntut bicara tanpa kata, pemilihan arah karir yang sesuai berpotensi mengakibatkan gadis 20 tahun ini bintang di industri perfilman kita kelak.

Tuesday, November 6, 2018

Ini Lho Naura & Genk Juara The Movie (2017)

Adyla Rafa Naura Ayu. Baru berusia 12 tahun, puteri Nola Be3 ini telah merilis dua album sekaligus menjadi idola yang sempurna di kalangan anak. Dikatakan sempurna sebab lagu-lagu Naura bukan bicara cinta, melainkan dunia masa kecil dari mimpi, persahabatan, hingga pesan penting soal anti-bullying. Makara sempurna pula ketika debut layar lebarnya ini dibutuhkan bisa mengobati kerinduan akan film musikal anak yang belum tentu setahun sekali menghiasi bioskop tanah air. Ditangani oleh Eugene Panji (Cita-citaku Setinggi Tanah), Naura & Genk Juara The Movie mengikuti pakem Petualangan Sherina, menghadapkan karakternya pada konflik pertemanan, langgar kepintaran, juga bahaya para penjahat konyol.

Naura (Adyla Rafa Naura Ayu), Bimo (Vickram Abdul Faqih Priyono) dan Okky (Joshua Yorie Rundengan) terpilih mewakili sekolahnya mengikuti kompetisi sains pada program Kemah Kreatif di Situ Gunung. Perselisihan timbul sebab Bimo merasa modifikasi drone miliknya ialah yang terbaik sehingga lebih pantas memimpin tim daripada Naura. Tapi persoalan lebih besar hadir dalam bentuk Trio Licik (Panjul Williams, Alfian, Dedy Ilyas) yang berniat mencuri hewan-hewan di penangkaran Situ Gunung. Bersama Kipli (Andryan Sulaiman Bima) si ranger cilik, Naura, Bimo, dan Okky mesti mengesampingkan perpecahan guna menggagalkan agresi Trio Licik.
Naura & Genk Juara The Movie bergerak sederhana sesuai formula, tapi serupa dinamika dunia anak, kompleksitas bukan penggalan dari kebutuhan. Rasa riang besar hati dibumbui beberapa nilai kehidupan mendasar. Skenario buatan Bagus Bramanti, Dendie Archenius Hutauruk, dan Asaf Antariksa memang menyisakan lubang problematika, semisal ketika empat protagonis menentukan menyerang Trio Licik alih-alih melapor pada ranger, yang dipaksa ada, semata demi peningkatan konflik utama sembari menyelesaikan konflik interpersonal. Di luar itu, naskahnya cerdik merangkum pesan-pesan guna membantu orang bau tanah memberikan banyak sekali nilai bagi anak. 

Jika Naura-Bimo-Okky mewakili unsur persahabatan yang mengesampingkan ego hingga kecerdikan, maka Kipli, satu-satunya bocah di antara ranger mengajarkan perlunya kepedulian terhadap hewan. Rangkaian pembelajaran tersebut cukup terperinci untuk diserap penonton anak, namun lembut tanpa kesan menggurui. Naura & Genk Juara The Movie ialah ihwal proses berguru dari pengalaman faktual di dunia luar yang bersifat praktikal, menjadikannya penting mengingat kesempatan anak berinteraksi dengan alam menipis kala sistem pendidikan teoritis kurang aplikatif makin gencar dijejalkan. Klimaks berisi perlawanan bocah-bocah atas Trio Licik memakai karya mereka pun bisa digunakan memancing minat anak bekreasi dalam acara berguru sambil bermain.
Di departemen musik, kerja sama Andi Rianto bersama duo kakak-beradik, Mhala dan Tantra Numata berhasil mengkreasi deretan lagu yang takkan gampang hilang dari ingatan penonton seusai menonton. Dari keceriaan dalam Juara dan Mendengarkan Alam, Jangan Jangan yang bersemangat, hingga Bawakan Cerita Untukku yang hangat selaku ungkapan kasih seorang ibu berkat performa penuh rasa dari Nola Be3, semuanya catchy nan memorable. Walau sanksi momen musikal tidak sepenuhnya mulus akhir kurang luasnya eksplorasi pengadeganan Eugene Panji. Karena semua nomor tarian didominasi anak kecil, patut dimaklumi ketika tatanan koreografi tersaji belum begitu rapi, dan di sinilah kejelian sang sutradara mestinya lebih berperan, menyerupai ketika menyelipkan satu sekuen animasi.

Harus menyebarkan porsi dengan para "Genk Juara" urung menghambat sinar Naura. Khususnya ketika melakoni nomor musikal, dia mengerahkan semua daya upaya, total baik dalam gerak maupun ekspresi. Bahkan kelemahan mixing suara yang tidak melebur natural, yang mana merupakan kekurangan terbesar film kita dalam mengemas adegan musik, tak kuasa menahan hentakan berenergi Naura. Bukanlah kejutan apabila suatu hari nanti, bocah ini bertransformasi dari bintang cilik menuju mega bintang, entah di industri musik, perfilman, atau keduanya. Naura & Genk Juara The Movie mungkin tidak akan menjadi fenomena layaknya Petualangan Sherina dulu, namun terperinci salah satu musikal anak terbaik di masanya.

Monday, November 5, 2018

Ini Lho Yowis Ben (2018)


Saya—dan mungkin banyak dari kalian—pernah merasa jadi insan paling kreatif saat mencetuskan nama-nama nyeleneh seperti “Tambal Band”, “Elek Yo Band”, “KepriBand”, dan sebagainya untuk nama band, tanpa menyadari ribuan orang lain di seluruh penjuru Indonesia menyimpan wangsit serupa. Dalam prosesnya, dengan tujuan utama: a) Mengejar mimpi bermusik, dan b) Memikat hati wanita, studio-studio pun dijajah, panggung demi panggung dijamah. Sampai tujuan kedua terpenuhi dan salah seorang anggota membawa pacar barunya ke latihan selaku ajang pamer, di situ awal perpecahan bermula.

Yowis Ben, yang merupakan debut penyutradaraan Bayu Skak di mana ia berduet dengan Fajar Nugros (Cinta Selamanya, Moammar Emka’s Jakarta Undercover), berpotensi jadi citra akurat nan menggelitik soal lika-liku perjalanan grup band anak Sekolah Menengan Atas jikalau bukan alasannya yaitu fokus dongeng yang melucuti spesifikasi tersebut. Naskah buatan Bagus Bramanti dan Gea Rexy menentukan jalur formulaik from zero to hero. Yowis Ben lebih menyoroti banyak sekali implikasi dari terciptanya grup band ketimbang seluk-beluk internal grup band tersebut, yang mana lebih menarik, unik, dan menggelitik.
Bayu (Bayu Skak) yang dijuluki “Pecel Boy” alasannya yaitu tiap hari membantu ibunya berjualan pecel di sekolah jengah dianggap remeh serta ingin memikat hati Susan (Cut Meyriska). Doni (Joshua Suherman) tidak jauh berbeda, coba pertanda pada orang tuanya bahwa ia bisa meraih kesuksesan. Akhirnya tercetus wangsit menciptakan grup band guna memenuhi mimpi keduanya. Yayan (Tutus Thomson) si penabuh beduk dan Nando (Brandon Salim) sang keyboardist yang berharap dikenal lewat karya daripada wajah ganteng belaka pun direkrut. Terciptalah Yowis Ben.

Panggung pertama Yowis Ben berujung kegagalan tatkala banyak film menentukan eksklusif menonjolkan para tokoh utama sebagai rising star yang talentanya eksklusif mencuri perhatian publik di percobaan perdana. Pilihan realistis yang sayangnya ditinggalkan pada fase-fase berikutnya. Yowis Ben tiba-tiba sukses lewat YouTube berkat video klip ratusan ribu penonton yang menampilkan Yowis Ben bernyanyi di hadapan puluhan orang. Bagaimana grup band Sekolah Menengan Atas gulung tikar bisa merekrut bakat sebanyak itu? Bagaimana lagu-lagunya tercipta? Bagaimana latihan di studio yang tentunya penuh intrik sekaligus kejenakaan berlangsung? Film ini tak mempedulikan proses-proses itu, sehingga sulit pula mempedulikan usaha serta merayakan kesuskesan karakternya.
Hambar pula romantika Bayu dan Susan, meski pembawaan membumi, seringai naif, ditambah bakat alam Bayu Skak melucu, memudahkan kita tersenyum. Berstatus penulis cerita, entah seberapa banyak masukan yang Bayu berikan terkait penulisan naskah khususnya bumbu komedi, tapi memang humornya paling efektif tatkala Bahasa Jawa memainkan peranan besar khususnya sewaktu umpatan-umpatan dan selorohan menyeruak masuk. Ganti dengan Bahasa Indonesia, kelucuannya dipastikan menurun drastis. Unsur Jawa jadinya lebih berperan menguatkan komedi ketimbang alur yang minim kekhasan dan bisa dipindah ke balahan dunia manapun tanpa menimbulkan perbedaan signifikan.

Yowis Ben menyasar banyak hal, mulai pembuktian orang-orang yang dipandang sebelah mata—termasuk Bahasa Jawa yang disebut kampungan oleh netizen—percintaan, persahabatan, relasi anak dan orang tua, sampai grup band SMA, tanpa ada yang benar-benar tampil solid. Setidaknya keempat tokoh utamanya amat menghibur berkat ciri masing-masing, terlebih Yayan dengan kebiasaannya meminum kuah pop mie menggunakan sedotan. Ya, menghibur. Jangan berharap lebih dari itu bagi sebuah film perihal grup band beraliran musik pop-punk “towat-towet” yang gemar melafalkan “t” sebagai “c”.