Showing posts with label Chinese Movie. Show all posts
Showing posts with label Chinese Movie. Show all posts

Sunday, January 13, 2019

Ini Lho The Grandmaster (2013)

Apakah kita masih belum cukup diberikan suguhan film-film wacana Yip Man atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ip Man? Semenjak tahun 2008 yang diawali oleh film Ip Man yang dibintangi oleh Donnie Yen, sudah ada sekitar lima film termasuk The Grandmaster versi Wong Kar-wai ini. Selain dua film yang dibintangi Donnie Yen mudah film-film lainnya tidak saling berafiliasi sehingga seperti para filmmaker sedang berlomba untuk menciptakan film Ip Man versi mereka masing-masing. Saya menyukai dua film yang dibintangi Donnie Yen dimana keduanya sukses menggabungkan unsur drama dengan segala adegan agresi berbalut martial arts yang luar biasa. Kemudian tiba Wong Kar-wai, sutradara yang selama ini lebih dikenal lewat film-film drama arthouse. Saya sendiri gres menyaksikan satu filmnya, yakni In the Mood For Love, dan dari situ saya cukup kaget bahwa Wong akan menciptakan film bertemakan martial arts. Satu hal yang menciptakan saya tertarik pada The Grandmaster tentu saja ialah rasa ingin tau saya akan visi seorang Wong Kar-wai jikalau diaplikasikan pada sebuah film kung-fu. Apakah ada balutan sinematografi indah menyerupai dalam film-filmnya yang lain?

Berperan sebagai sosok Yip Man ada Tony Leung yang juga termasuk pemain drama langganan Wong Kar-wai (bermain juga di In the Mood for Love dan memenangkan Best Actor di ajang Cannes Film Festival). Selain itu ada nama Zhang Ziyi serta Song Hye-kyo melengkapi nama tenar di jajaran cast-nya. The Grandmaster membuka kisahnya pada tahun 1930-an ketika Yip Man bertempat tinggal di Foshan, sebuah tempat di Selatan Cina. Yip Man beserta keluarganya hidup senang dengan harta berlimpah dan statusnya sebagai seorang master kung-fu Wing-chun. Suatu hari datanglah Gong Yutian (Wang Qingxiang) seorang master kung-fu dari Utara yang menantang para hebat kung-fu dari Selatan untuk bertarung dengan anak didiknya, Ma San (Zhang Jin). Berhasil memenangkan tantangan tersebut, Yip Man ternyata masih harus berurusan dengan Gong Er (Zhang Ziyi) dimana tantangan tersebut berakhir dengan sebuah pertarungan yang pada hasilnya justru menyatukan mereka sebagai sobat baik. Waktu berlalu dan pasukan Jepang mulai menjajah Cina. Yip Man dan keluarganya terkena dampak, dan tidak hanya itu alasannya ialah masih ada begitu banyak konflik lain dalam film ini...begitu banyak, bahkan terlampau banyak sekaligus acak.

The Grandmaster terperinci sebuah sajian yang jauh berbeda dari Ip Man khususnya jikalau dilihat dari fokus utama film ini. Daripada mengutamakan wacana kisah hidup Yip Man sebagai sorotan utama dengan adegan agresi sebagai senjata andalan, The Grandmaster lebih menitik beratkan pada hal-hal berbau filosofis menyerupai kaitan antara kung-fu dengan kehidupan hingga banyak sekali konflik dalam hidup insan mulai dari cinta, persahabatan, keluarga hingga pengkhianatan. Hal-hal filosofis tersebut ditunjukkan oleh Wong mulai dari sinematografi dan pengambilan gambar hingga dialog-dialog puitis. Bicara sinematografinya, aspek tersebut ialah salah satu keunggulan utama dari The Grandmaster. Berbagai macam momen bisa dirangkum dengan begitu indah mulai dari adegan pertarungannya yang artistik hingga banyak sekali gambar-gambar penuh makna metafora. Seperti yang sudah saya duga juga ada begitu banyak momen slow motion yang digunakan oleh Wong Kar-wai disini. Namun bagi saya penggunaan slo-mo disini terasa berlebihan dan seringkali tidak sempurna momennya. Seharusnya sebuah slow motion digunakan untuk menangkap momen-momen tertentu yang dirasa perlu, sama menyerupai yang dilakukan oleh Wong dalam In the Mood for Love yang seksi tersebut. Sedangkan dalam The Grandmaster penggunaan teknik slo-mo yang ada terkesan dipaksakan dan terlampau banyak.
Yang berharap film ini akan menyerupai Ip Man milik Donnie Yen siap-siap saja kecewa alasannya ialah adegan pertarungan kung-fu di film ini memang bisa dihitung dengan jari. Tapi toh saya memaklumi pemilihan tersebut alasannya ialah memang begitulah konsep yang coba ditekankan oleh Wong Kar-wai, dan tentunya hal ini tidak akan memenuhi ekspektasi banyak penonton. Sayangnya bagaimana plot kisah yang harusnya jadi pondasi utama di film ini terkesan cukup berantakan. Pertama saya terganggu dengan bagaimana plot yang ada seolah tidak diedit dengan rapih dan melompat kesana kemari tanpa penghubung yang terperinci hingga terasa membingungkan. Bahkan ada beberapa kemunculan abjad yang tidak terperinci maksudnya, semisal sosok The Razor (Chang Chen) yang mendadak muncul tanpa memberi efek yang terperinci bagi ceritanya. Padahal bekerjsama sosok The Razor ialah abjad yang cukup menarik. Banyak yang mengkritisi bahwa film ini kurang berfokus pada Yip Man, namun saya kurang sependapat dengan hal tersebut. Yip Man sekali lagi memang jadi sosok protagonis utama disini, tapi bagi saya The Grandmaster memang bukan mengenai hal tersebut. The Grandmaster ialah kisah wacana bagaimana para master kung-fu yang ada mendalami intisari dalam aliran mereka masing-masing dan menerapkannya dalam segala aspek kehidupan mereka.

Tapi entah mengapa saya mengira bahwa bekerjsama diawal produksi Wong Kar-wai lebih memfokuskan filmnya pada kisah hidup Yip Man dan berfokus pada penggarapan cerita. Namun pada ketika memasuki proses editing ia berubah pikiran untuk mengubah haluan filmnya menjadi lebih filosofis dan luas cakupannya serta lebih berfokus pada menangkap mood menyerupai yang kerap dilakukan Terrence Malick dalam film-filmnya. Namun pada hasilnya The Grandmaster jatuh menjadi film tanggung yang kurang terperinci arahnya mau dibawa kemana. Tapi semua itu hanya dugaan saya, apakah memang Wong melaksanakan perubahan pilihan pada proses editing atau ia memang sudah sedari awal merencanakan akan menciptakan film ini menyerupai ini saya kurang tahu. Namun jikalau pilihan kedua yang tepat, maka Wong bisa dibilang kurang berhasil dalam memilih arah karyanya ini. Pada hasilnya dengan plot yang kurang rapih, beberapa momen terasa kehilangan greget. Padahal ada beberapa momen yang berpotensi terasa menyentuh dengan segala bumbu filosofinya, namun sekali lagi kisah yang tidak mengalir dengan rapih menciptakan momen tersebut kehilangan gregetnya.

Secara keseluruhan The Grandmaster terperinci tidak memenuhi ekspektasi saya. Sebuah film yang jauh dari kata jelek mengingat saya cukup menyukai makna yang coba disajikan oleh Wong dalam ceritanya, hanya saya tidak suka bagaimana plotnya mengalir dengan acak dan tidak rapih. Koreografi adegan aksinya sendiri cukup memuaskan, apalagi dibalut dengan sinematografi yang begitu indah. Lewat adegan pertarungannya saya bisa cukup memahami bagaimana kekerabatan antara sosok-sosok yang saling bertarung entah itu kawan, sahabat, musuh hingga sepasang insan yang menyimpan rasa cinta sekalipun. Sayang pada hasilnya film ini juga harus diakhiri tanpa greget dan terburu-buru seolah kembali kehilangan arahnya.

Friday, January 11, 2019

Ini Lho Journey To The West: Conquering The Demons (2013)

Siapa yang tidak tahu dongeng Journey to the West? Cerita perihal perjalanan mengambil kitab suci ke Barat ini sudah begitu banyak disesuaikan ke dalam banyak sekali bentuk media termasuk film dan serial televisi. Di Indonesia sendiri pembiasaan yang paling populer tentu saja yakni serial televisi Journey to the West yang tayang pada masa 90-an. Cerita perihal bisku Tang Sanzang (kita lebih mengenalnya dengan nama Tong Sam Chong) yang melaksanakan perjalanan mencari kitab suci ke barat dengan derma ketiga murid silumannya termasuk Sun Wukong (Sun Gokong) begitu tenar pada ketika itu dan disukai berbakai kalangan mulai dari bawah umur hingga dewasa. Saya ingat sekali pada ketika SD dulu sering melaksanakan role play bersama teman-teman aku dan memeprebutkan tugas sebagai Gokong, dan yang paling sial tentunya kalau menjadi Chu Patkai sang siluman babi. Kali ini giliran Stephen Chow yang melaksanakan adaptasinya terhadap kisah tersebut. Tentu saja ini merupakan hal yang menarik sebab kita mengenal Stephen Chow sebagai pembuat film-film instant classic macam Shaolin Soccer dan Kung Fu Hustle. Namun film terakhir yang ia sutradarai yaitu CJ7 menunjukkan kekecewaan. Bagi aku Chow paling jago dalam menghadirkan film aneh yang terasa seru sekaligus lucu. Maka ketika ia berusaha lebih sentimentil dalam CJ7 bagi aku itu tidaklah berhasil. Tentu saja bahan dalam Journey to the West terasa cocok dengan kelebihan Chow tersebut yang menimbulkan proyek ini jadi benar-benar aku nantikan.

Journey to the West: Conquering the Demons mengambil waktu disaat Tang Sanzang (Wen Zhang) masih belum menjadi biksu suci melainkan seorang pemburu siluman amatiran yang mengandalkan buku lagu bawah umur pemberian sang guru sebagai "senjata". Tapi meskipun berhati higienis dan mempunyai niat mulia untuk menyadarkan siluman daripada membunuhnya seprerti kebanyakan pemburu siluman lain, kemampuan Tang Sanzang yang masih dangkal membuatnya kesulitan menghadapi para siluman yang sakti. Pada ketika sedang menghadapi siluman ikan di sungai ia bertemu dengan seorang perempuan pemburu siluman berjulukan Duan (Shu Qi). Duan sendiri yakni pemburu siluman yang sakti dengan bersenjatakan sebuah gelang emas. Pertemuan tersebut ternyata menciptakan Duan jatuh citna pada Tang dan membuatnya terus menarik hati dan mengikuti Tang kemanapun termasuk ketika ia mengejar siluman babi yang populer berpengaruh dan kejam. Tapi Tang sendiri tidak bisa mendapatkan cinta Duan sebab ia beranggapan cinta antara laki-laki dan perempuan yakni cinta yang dangkal dan tidak ibarat yang diajarkan oleh Buddha. Tang yang begitu ingin mengalahkan siluman babi akibatnya pergi atas petunjuk sang guru untuk mencari Sun Wukong (Huang Bo), siluman monyet yang dikenal paling sakti namun sudah 500 tahun dipenjara oleh Buddha di sebuah gunung. Tang berharap Sun Wukong bersedia membantunya mengalahkan siluman babi tersebut.


Stephen Chow yang kali ini berduet dengan Derek Kwok sebagai sutradara mengemas dongeng dalam film ini memang berbeda dengan apa yang selama ini kita tahu. Alih-alih menghadirkan kisah Tang mengambil ktiab suci, film ini lebih tepat disebut prekuel dari kisah tersebut. Film ini lebih berfokus menceritakan asal undangan mengapa Tang bisa menjadi seorang biksu suci dan kisah petualangan para pembasmi siluman untuk mengalahkan banyak sekali siluman sakti. Hal ini merupakan keputusan yang tepat, sebab pendekatan yang berbeda ibarat ini menciptakan penonton yang sudah "hafal" benar dengan kisah Journey to the West khususnya dari serial televisi tidak akan merasa bosan dengan ceritanya. Ini yakni refresh yang berhasil dari kisah tersebut. Saya pun sangat menyukai bagaimana Stephen Chow kembali ke teritorinya dengan menghasilkan sebuah film yang ceritanya serius tapi dirangkum dengan penuh bumbu kekonyolan. Journey to the West punya formula kesuksesan dari Film-film masterpiece Stephen Chow mulai dari karakter-karakter dengan ciri khas unik yang sering mengumbar tingkah absurd, serta komedi yang abstrak pula dengan timing yang sempurna. Sejak paruh awal aku sudah dibentuk tertawa terbahak-bahak melihat banyak sekali kekonyolan yang terjadi dalam film ini. Tapi tentu saja film Stephen Chow tidak hanya mengumbar komedi konyol belaka, sebab film ini juga seimbang dalam menghadirkan komedi, adegan keren, ketegangan, bahkan momen horor.
Menonton Journey to the West: Conquering the Demons membuat emosi aku naik turun. Kadang adegannya benar-benar lucu, tapi beberapa ketika kemudian eksklusif berkembang menjadi tegang bahkan menyeramkan. Bukan hal gampang untuk menggabungkan unsur thriller dan horor dengan komedi yang konyol, tapi Stephen Chow dan Derek Kwok bisa melaksanakan itu dengan porsi yang seimbang. Bahkan film ini tidak ragu untuk menyajikan adegan yang cukup sadis bahkan kelam dan tragis. Sebagai teladan lihat penyerangan siluman ikan yang menewaskan seorang gadis cilik berumur 5 tahun, atau lihat juga bagaimana penggambaran sarang dari siluman babi yang sesungguhnya. Semuanya memancarkan usnur kengerian yang tidak main-main dan tentu saja tidak terduga akan muncul dalam film yang punya tingkat kekonyolan ibarat ini. Saya juga suka aspek visual yang ditampilkan film ini baik untuk dekorasi setting maupun desain karakternya yang unik. Yang paling mencolok tentu saja bagaimana siluman-siluman yang ada ditampilkan lewat imbas CGI. Mungkin imbas yang digunakan terasa murahan apalagi kalau dibandingkan dengan film-film blockbuster Hollywood, tapi Chow dan Kwok tahu benar bagaimana menyulap bujet murah untuk CGI agar tetap lezat dilihat dan tidak nampak murahan meski murah. Saya suka penggambaran siluman ikan yang muncul diawal sebab meski terlihat murah tapi tetap lezat dilihat bahkan tetap terlihat mengerikan berkat pengemaan adegan yang bagus.

Tentu saja film ini menyelipkan beberapa anutan Buddha di dalamnya, tapi tidak ibarat serial televisinya yang begitu kental dengan banyak sekali anutan bahkan beberapa kali terasa sedikit menggurui, film ini menerapkan beberapa anutan ke zaman sekarang. Hal itu paling terlihat dari dimasukkannya unsur romansa antara Tang dan Duan. Saya suka kisah cinta mereka berdua yang tersaji dengan lucu tapi juga bisa menyentuh khususnya ketika mencapai pecahan akhir. Berkat penampilan Shu Qi yang mencuri perhatian lewat adonan sosok perempuan tangguh dan sosok konyol yang dimabuk cinta, ia sukses mencuri perhatian tiap kemunculannya. Wen Zhang sendiri menciptakan aku tidak merasa kehilangan Stephen Chow yang biasanya selalu menjadi tokoh utama dalam film yang ia sutradarai dengan berhasil menunjukkan sisi komedi yang pas. Ya, film ini memang tidak hanya menampilkan komedi dan adegan agresi yang keren tapi juga punya sisi emosional yang cukup manis dan sedikit tragis dalam kisah romansanya. Bahkan pada akibatnya film ini ditutup dengan cukup mengharukan ketika Tang melihat sebuah "pemandangan" di langit berwarna keemasan. Journey to the West: Conquering the Demons secara keseluruhan yakni tontonan yang sangat memuaskan. Belum mencapai kehebatan Shaolin Soccer ataupun Kung-Fu Hustle memang, tapi menyenangkan melihat Stephen Chow kembali ke film-film yang memang menjadi keahliannya setelah CJ7 yang mengecewakan dan menunjukkan Chow yang terlalu sentimentil dan lupa untuk bersenang-senang dalam filmnya.

Wednesday, January 9, 2019

Ini Lho A Touch Of Sin (2013)

Film garapan salah satu sutradara terbaik China, Jia Zhangke ini merupakan salah satu film yang meraih kesuksesan pada Cannes Film Festival tahun 2013 lalu. Tidak hanya mendapat nominasi Palme d'Or, naskah dari A Touch of Sin yang ditulis sendiri oleh Jia Zhangke bahkan berhasil memenangkan naskah terbaik pada pameran tersebut. Kaprikornus bekerjsama bercerita wacana apakah A Touch of Sin? Apa hubungannya kisah pada film ini dengan kata "dosa" yang terdapat di judulnya? Tentu saja menyerupai film-filmnya yang lain, disini Jia Zhangke masih akan menjadikan kehidupan yang otentik dan konkret di China sebagai unsur utama dalam ceritanya. Bedanya, dalam film ini tidak hanya satu tapi empat kisah yang diangkat oleh Jia. Ada empat kisah yang kesemuanya merupakan pembiasaan lepas dari empat kisah konkret yang terjadi dari tahun 2001 sampai 2013. Keempat kisah tersebut sempat menggemparkan tidak hanya publik China tapi juga dunia. Keempat kisah tersebut digabung menjadi satu kesatuan kisah yang meskipun hanya sedikit bersentuhan satu sama lain tapi mempunyai benang merah yang nampak begitu konkret dan berafiliasi besar lengan berkuasa satu sama lain. Lewat  A Touch of Sin Jia Zhangke akan mengajak kita menelusuri manusia-manusia yang harus bersentuhan dengan dosa.

Pertama ada kisah wacana Dahai (Jiang Wu), seorang penambang yang begitu membenci dan selalu melawan para pejabat serta pemerintahan korup di sekitarnya. Namun apa yang sanggup dilakukan oleh rakyat kecil menyerupai Dahai? Alih-alih berhasil memberikan tuntutan terhadap korups yang terjadi Dahai justru dipermalukan. Hal itulah yang membangkitkan monster dalam diri Dahai. Tidak jauh dari kawasan Dahai tinggal sempat terjadi penembakan yang menewaskan tiga orang pemuda. Pelakunya sendiri ialah Zhou San (Wang Baoqiang), seorang laki-laki yang berkeliling China untuk mencari uang bagi anak dan istrinya di kampung. Pekerjaan yang dialkukan Zhou San ialah merampok dan membunuh orang dengan pistolnya. Sesuatu yang dianggap Zhou sebagai satu-satunya hal yang tidak membosankan. Ada pula Xiao Yu (Zhao Tao), seorang perempuan yang tengah menghadapi dilema ketika kekasihnya masih galau akan meninggalkan istrinya dan menikah dengan Xiao Yu atau tidak. Yang terakhir ada Xiao Hui (Lanshan Luo), seorang cowok yang bekerja di pabrik milik kekasih Xiao Yu yang terpaksa harus menanggung hutang akhir kecelakaan yang menimpa temannya di kawasan kerja. Xiao Hui menentukan kabur dan bekerja sebagai waiters di rumah bordil. Disanalah ia bertemu dengan perempuan yang ia cintai.
A Touch of Sin memang terbagi menjadi empat kisah, tapi kesemuanya mempunyai tema atau rasa yang sama. Keempatnya punya protagonis yang merupakan korban dari keadaan. Keadaan macam apa? Banyak, tapi lebih banyak didominasi merupakan korban dari kesulitan ekonomi dan tertindas oleh kaum-kaum penguasa kapitalis. Masing-masing dari mereka sama-sama terhimpit problem dan disaat semuanya sudah tidak tertahankan dan karenanya meledak, terpaksalah keempatnya bersentuhan dengan apa yang disebut "dosa" itu. Masing-masing kisahnya punya struktur yang rapih dan berjalan perlahan namun efektif. Pada karenanya saya tidak hanya dibentuk tahu tapi juga memahami secara mendalam alasan masing-masing dari karakternya untuk melaksanakan perbuatan dosa tersebut. Bahkan selalu ada momen dimana saya karenanya bersimpati atas nasib yang menimpa mereka. Pada karenanya hal tersebut cukup menjadikan ambiguitas moral ketika saya mulai mendukung apa yang mereka lakukan khususnya pada segmen yang melibatkan Dahai. A Touch of Sin memang menjadi citra dari Jia Zhangke wacana ambiguitas moral, tekanan hidup, serta perbedaan kualitas hidup yang terjadi antara pihak penguasa dan rakyatnya. Ada banyak rasa frustrasi disini tapi filmnya tidak pernah terasa begitu depresif meski tetap saja menawarkan kesan tragis di akhir.
A Touch of Sin adalah drama yang berjalan dengan lambat. Dengan durasi menapai dua jam lebih, tempo yang lambat akan makin membuat film ini terasa segmented dan tidak sanggup dinikmati oleh banyak orang. Saya sendiri sanggup begitu menikmati alasannya walaupun berjalan dengan tempo lambat, selalu ada hal yang sanggup mengikat saya untuk terus tertarik. Dramanya sendiri tidaklah terasa terlalu mendalam, begitu pula dengan eksplorasi karakternya. Tapi film ini sanggup membuat sebuah eksplorasi situasi yang amat baik sehingga saya tetap tertarik pada karakter-karakternya meski sesungguhnya tidak ada eksplorasi huruf yang sangat cantik disini. Alur yang berjalan lambat dan sepi itu juga sanggup kapan saja dipecahkan oleh kekerasan mendadak penuh darah yang dijadikan oleh Jia sebagai peledakan rasa frustrasi tiap-tiap karakternya. Ya, sehabis drama yang berjalan pelan, sebuah gebrakan berupa adegan berdarah yang dikemas dengan stylish dan brutal memang menyegarkan bahkan punya tingkat kejutan yang tidak jauh beda dengan ketika saya mendapati sebuah film mempunyai twist pada ending-nya. Bagian kekerasannya memang tidak hanya brutal tapi juga begitu stylish layaknya film-film wuxia (film martial arts China). Judul A Touch of Sin sendiri berasal dari A Touch of Zen, film wuxia tahun 1971 yang merupakan film China pertama yang meraih kemenangan di Cannes Film Festival.

Pengemasan ala Wuxia ini memang sedikit menyimpang dari kesan realisme yang terus dibangun oleh Jia Zhangke sepanjang filmnya, tapi tetap saja sulit untuk menolak rasa puas yang hadir ketika melihat Dahai menembaki musuhnya dengan senapan tanpa ampun atau ketika Xiao Yu mengayunkan pisau buah layaknya spesialis pedang dalam film-film macam Crouching Tiger, Hidden Dragon. Kekerasannya sendiri mengekspresikan dengan baik rasa frustrasi yang dialami oleh tiap karakternya. Satu hal lagi yang membuat film ini tidak terasa membosankan meski berjalan panjang dan usang ialah fakta bahwa tiap-tiap huruf punya "dosa" dan kasus kehidupan yang berbeda-beda. Meski pada karenanya tidak terasa keterikatan yang besar lengan berkuasa khususnya dalam hal konklusinya, keempat kisah tadi berhasil menghantarkan perspektif yang berbeda-beda wacana tema yang diangkat sehingga tidak menjadikan kesan monoton dan repetitif. Tapi walaupun begitu tetap saja ada beberapa momen yang terasa lebih lemah dan membosankan. Yang paling melelahkan ialah segmen huruf Xiao Yu khususnya sebelum menginjak klimaks. Kita hanya akan melihat Xiao Yu melaksanakan perjalanan yang lama, lambat dan sepi sebelum kegilaan beruntun di kawasan kerjanya. Tapi toh momen karenanya tetap gila dan mengasyikkan. Yang terbaik tentu saja segmen pertama meski segmen terakhir juga cukup fresh berkat sentuhan romansanya. Agak terlalu panjang memang, tapi secara keseluruhan A Touch of Sin adalah eksplorasi memuaskan wacana sisi gelap insan yang tersaji dengan indah. Pada kenyataannya insan memang tak ubahnya hewan, binatang yang paling berbahaya.

Ini Lho Rigor Mortis (2013)

Saya yakin banyak dari anda yang pada ketika kecil dulu pernah bermain "vampir-vampiran" atau apapun sebutannnya. Saya ingat dulu ketika masih SD sering bermain permainan itu, dimana saya dan beberapa orang "berperan" sebagai insan yang dikejar oleh vampir. Yang menjadi vampir tentu saja sobat saya yang lain dimana beliau akan melompat-lompat dengan menjulurkan tangan ke depan. Untuk melarikan diri yang perlu dilakukan yaitu menahan nafas atau menempelkan kertas mantera yang terlebih dulu ditulisi abjad China asal-asalan dan ditulis dengan "darah" dari jempol yang telah kita gigit sendiri. Jujur itu salah satu permainan paling menyenangkan sekaligus menyeramkan dulu. Benar-benar menggambarkan film-film Jiangshi yang menginspirasi permainan tersebut. Film Jiangshi atau yang lebih sering disebut "Film Vampir China" itu pernah rutin menghiasi layar beling pada kala 90-an hingga awal 2000-an. Kalau tidak salah Jumat siang, jadi sambil menanti waktu Solat Jumat, film-film itulah yang jadi hiburan saya. Filmnya angker tapi juga penuh komedi yang lucu serta adegan agresi yang seru. Kini Juno Mak berusaha membangkitkan kembali Jiangshi yang telah redup dengan judul Rigor Mortis. "Rigor Mortis" sendiri merupakan sebutan untuk proses kekakuan secara sedikit demi sedikit pada mayat.


Dalam film ini, Chin Siu-ho memerankan dirinya sendiri, yaitu seorang mantan pemain film besar yang dulu identik dan meraih kesuksesan lewat film-film Jiangshi. Tapi kini kesuksesan tersebut telah berakhir dan Siu-ho hidup sebatang kara sehabis kehilangan anak dan istrinya. Siu-ho pun menentukan pindah ke sebuah apartemen yang kecil dan kumuh. Disanalah ia menentukan mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. Tapi sesaat sehabis ia melaksanakan itu, Siu-ho menerima banyak citra visual abnormal yang menyeramkan dan tidak usang kemudian datanglah Yau (Anthony Chan), seorang pemburu vampir yang tinggal di apartemen tersebut menghentikan agresi bunuh dirinya. Ternyata kamar yang ditempati oleh Siu-ho juga merupakan daerah bersemayamnya arwah ingin tau dari dua gadis kembar yang dulu mati bunuh diri secara mengenaskan disana. Alasan Yau menyelamatkan Siu-ho yaitu alasannya dua arwah ingin tau tersebut mencoba masuk ke dalam badan Siu-ho. Setelah insiden itulah Siu-ho mulai melaksanakan perenungan terhadap kehidupan masa lalunya yang telah membawanya ke momen depresi menyerupai sekarang. Yau sendiri yaitu seorang pemburu vampir yang kini bekerja sebagai koki di apartemen tersebut sehabis pekerjaan memburu vampir menjadi sepi alasannya secara misterius para vampir menghilang. Tapi tanpa mereka ketahui akan segera terjadi teror mengerikan sekaligus mematikan di apartemen tersebut sehabis sebuah ilmu hitam membangkitkan sesosok vampir.
Apa yang dihadirkan oleh Juno Mak dalam Rigor Mortis tidak hanya sebuah penghormatan terhadap franchise Jiangshi macam Mr. Vampire dan Encounters of the Spooky Kind tapi juga sebuah re-imagining, pengemasan gres yang lebih modern dan menyesuaikan jaman bagi film Jiangshi. Bagi anda yang sudah familiar dengan film-film macam ini niscaya eksklusif banyak menangkap aneka macam tribute yang dimasukan Juno Mak, mulai dari aneka macam cara menangkal vampir yang saya sebutkan di awal goresan pena (menahan nafas, menggigit jari untuk mengeluarkan darah yang dipakai menulis di kertas mantera), ciri khas vampir dan pemburu vampirnya, hingga beberapa foto lawas yang memperlihatkan para ikon Jiangshi termasuk sang "pendeta" Lam Ching-ying yang telah meninggal pada tahun 1997. Para pemain film utamanya pun yaitu mereka yang sudah malang melintang di franchise Jiangshi, termasuk Chin Siu-ho, Anthony Chan dan Richard Ng. Dengan segala aspek tersebut, Rigor Mortis sudah cukup memperlihatkan rasa nostalgia yang menyenangkan bagi saya. Walaupun begitu ada juga perubahan yang dilakukan Juno Mak guna memperlihatkan rasa tersendiri pada filmnya. Yang paling terasa yaitu dihilangkannya komedi yang sangat kental pada Jiangshi jaman dahulu. Tidak hanya menghilangkan komedinya, tone film ini pun terasa lebih gelap dan depresif dengan banyaknya intensi bunuh diri pada karakter hingga romansa tragis.
Kehadiran Takashi Shimizu (Ju-On) sebagai produser juga nampaknya kuat pada atmosfer kelam serta creepy pada film ini. Pemangkasan komedinya memang mengurangi kesenangan ala Jiangshi, tapi toh Juno Mak punya hal lain yang ditawarkan untuk menyuntikkan keasyikan pada film ini. Ada banyak momen gore penuh darah serta bab badan terpotong disini. Banyak tamat hidup sadis yang tidak saya bayangkan bakal muncul dlam film-film vampir muncul disini. Yang paling menyenangkan tentu saja ketika Rigor Mortis masih mempertahankan keseruan titik puncak pertarungan antara vampir dan manusia. Momen titik puncak ketika Chin Siu-ho bertarung habis-haibsan melawan vampir Richard Ng itu luar biasa seru dan tentunya keren. Keren berkat pengemasan aneka macam efek CGI stylish yang menghiasi sepanjang film. Sedikit terkesan berlebihan tapi saya tidak peduli alasannya Juno Mak mampu mengemasnya dengan baik dan sekali lagi: keren! Rigor Mortis pun masih memiliki keseraman yang cukup baik. Vampir Richard Ng punya make-up mengerikan dengan muka hancurnya. Sedangkan arwah gadis kembar yang sempat muncul di sebuah adegan yang terinspirasi dari The Shining-nya Staney Kubrick juga turut menambah bahaya mengerikan disini. Klimaks seru nan stylish itu pada jadinya berujung pada sebuah ending yang cukup membingungkan tapi sesungguhnya yaitu momen yang amat kelam dan tragis.

Rigor Mortis sendiri mulai dari awal, pertengahan hingga ending-nya itu merupakan citra nasib dari film Jiangshi saat ini. Dialog Yau yang menyampaikan bahwa "vampir secara misterius menghilang" menggambarkan bahwa kini film Jiangshi tidak hanya tak lagi dikagumi tapi memang menghilang. Tidak ada lagi film-film menghadirkan vampir Hong Kong melompat kini ini, kalau pun ada hanya akan berakhir sebagai sebuah film yang terlupakan dengan sedikit orang yang menonton. Hal itu jugalah yang menjadi alasan kenapa Chin Siu-ho memerankan dirinya sendiri, alasannya ini juga merupakan citra karirnya dan para ikon Jiangshi lain kecuali Sammo Hung yang tidak lagi menerima proposal film. Ending-nya terasa tragis dan deprsif alasannya segala insiden yang hadir sepanjang film sesungguhnya tidak lebih dari "visual" yang terbersit di memori dan ingatan Siu-ho disaat tubuhnya perlahan menjadi kaku dan jadinya meregang nyawa dalam kesendirian, kesepian, dan terlupakan. Yang ia harapkan yaitu seorang pemburu vampir tiba-tiba tiba menyelamatkan dirinya dan "mengabarkan" padanya, "Hei, ada vampir lagi yang muncul untuk kita lawan". Tidakkah diluar segala horror dan keseruannya Rigor Mortis adalah cerita yang tragis dan menyedihkan? Tribute yang pantas dari Juno Mak, meski minus komedi dan terdapat kekurangan pada caranya bertutur yang terkadang membingungkan.

Ini Lho The Monkey King (2014)

Kisah Journey to the West yang menampilkan sosok Sun Wukong sang raja simpanse sebagai sosok sentralnya memang tidak pernah kehilangan daya tarik meski sudah berulang kali diangkat ke dalam medium apapun. Untuk film sendiri, salah satu yang paling gres yakni Journey to the West: Conquering the Demons (review) milik Stephen Chow yang bagi saya merupakan salah satu film paling menghibur tahun ini. Tapi ada satu lagi proyek yang mengangkat Sun Wukong sebagai abjad sentralnya, dan proyek ini sanggup dibilang yakni proyek besar yang sudah cukup usang dinantikan. Disutradarai oleh Cheang Pou-soi, The Monkey King adalah film besar dengan bujet mencapai $82 juta dan dibintangi oleh nama-nama tenar menyerupai Donnie Yen, Chow Yun-fat, Aaron Kwok, Joe Chen, Peter Ho hingga Gigi Leung. Film ini pun sukses besar dengan meraih pendapatan lebih dari $175 juta. Nama Donnie Yen sebagai Sun Wukong memang sudah menarik banyak perhatian penonton bahkan jauh sebelum filmnya dirilis. Kaprikornus apakah film yang lebih besar ini juga lebih baik dari milik Stephen Chow?

Sama menyerupai film Stephen Chow, The Monkey King juga tidak akan mengisahkan perjalanan Sun Wukong dan bikso Tong mengambil kitab suci ke Barat, melainkan menyoroti kejadian yang terjadi jauh sebelum itu, tepatnya semenjak sebelum sang raja simpanse lahir ke dunia. Pada ketika itu, peperangan besar antara yang kuasa yang dipimpin Jade Emperor (Chow Yun-fat) dengan para siluman yang dipimpin oleh Raja Siluman Kerbau (Aaron Kwok) sedang terjadi. Dalam peperangan besar itu, pihak siluman berhasil dikalahkan dan kerajaan langit pun disegel biar para siluman tidak lagi sanggup masuk. Namun disaat yang bersamaan, kristal dari kerajaan langit jatuh ke Bumi, dan di dalamnya terdapat seekor simpanse yang tak lain yakni Sun Wukong. Terlahir dari kristal surga, Wukong pun mempunyai kekuatan yang jauh diatas rata-rata siluman simpanse lainnya. Meski punya kepribadian yang pembangkang dan seenaknya sendiri, bahwasanya Wukong yakni sosok yang terlahir baik dan penuh kepedulian. Hal itulah yang disadari oleh para yang kuasa yang kesudahannya tetapkan melatih Wukong. Tapi disisi lain Raja Siluman Kerbau yang mengetahui keberadaan Wukong mulai menyusun rencana untuk memanfaatkan kekuatannya guna mengambil alih kerajaan langit.
Tentu saja melihat bujet sebesar itu dan kehadiran Donnie Yen yang saya harapkan yakni sebuah tontonan penuh adegan agresi yang menghibur serta dibumbui banyak imbas CGI yang baik. Usaha untuk melaksanakan itu sudah terlihat semenjak opening yang dibuka dengan pertempuran besar antara yang kuasa dan siluman. Tapi justru pada adegan pembuka itu jugalah saya pribadi dibentuk kecewa oleh film ini. Adegan peperangan di awal itu sudha dipenuhi oleh polesan CGI dimana-mana yang ternyata luar biasa buruk. Untuk ukuran film dengan bujet mendekati $100 juta, imbas CGI dalam film ini hanyalah sekelas serial televisi kolosal. Jika anda sering menonton serial-serial kolosal di televisi entah itu produksi India ataupun Cina, maka The Monkey King punya kualitas CGI yang tidak jauh beda. Tentunya lebih baik tapi tidak terasa jauh, apalagi melihat bujet besar film ini. Semuanya terjadi alasannya yakni penggunaannya yang terlalu banyak. Seolah kalap melihat tumpukan uang, para pembuat imbas visual film ini memoles hampir semua setting dan efeknya dengan komputer. Bandingkan dengan film Stephen Chow yang meski tidak punya bujet besar tapi menyadari keterbatasn itu sehingga penggunaan CGI dilakukan seperlunya dan efektif. Tidak hanya adegan pembuka, alasannya yakni hingga final imbas komputernya selalu berlebihan dan buruk. 
Efek CGI yang jelek itu makin diperparah dengan pengemasan Cheang Pou-soi terhadap adegan agresi yang begitu berantakan. Adegan aksinya seolah asal tabrak, asal hantam dan asal hancur-hancuran. Bukannya menghibur dan terasa seru, rentetan adegan aksinya justru melelahkan dan membuat sakit mata. Kehadiran Donnie Yen pun terasa sia-sia disaat sang pemain film tidak banyak menerima porsi untuk memamerkan keahliannya berkelahi. Memang Donnie Yen berakting cantik sebagai Sun Wukong lewat gesturnya yang meyakinkan sebagai seekor kera, tapi yang saya harapkan dari menonton film yang mempunyai Donnie Yen didalamnya yakni rentetan adegan agresi yang terkoreografi dengan rapih. Dengan hancurnya imbas CGI serta kemasan adegan aksi, mudah The Monkey King tidak punya banyak hal untuk dibanggakan. Pada dasarnya film menyerupai ini akan teraa style over substance dimana adegan agresi dan CGI-nya mengesankan disaat naskah dan ceritanya kurang bagus.Tapi yang terjadi justru kedua aspek tersebut sama-sama buruk. Disaat naskahnya dipinggirkan, aspek style-nya justru hancur-hancuran. 

Alur ceritanya sendiri berjalan menyerupai sebuah video game yang bergerak dari satu check point ke check point berikutnya tanpa ada eksplorasi berarti dalam setiap tahap. Masing-masing karakternya pun kurang digali, bahkan akting cantik Donnie Yen tidak sanggup membuat Sun Wukong menjadi abjad yang simpatik. Banyak abjad yang hadir jadi terasa tidak bermakna dan sekedar numpang lewat meski intinya punya potensi besar. Hal tersebut juga makin diperparah dengan subplot yang tidak berhasil meningkatkan tensi film. Padahal subplot yang ada cukup berpoteni juga membuat film ini punya dongeng yang lebih kuat. Kisah percintaan Sun Wukong apabila digarap dengan baik bia membuat titik puncak yang emosional dan sedikit sentuhan tragedi. Tapi pada kesudahannya setiap kisah hanya dituturkan sesaat, untuk kemudian dilupakan sesudah mencapai konklusi. Saya menunggu The Monkey King berharap film ini akan menjadi salah satu hiburan paling menyenangkan tahun ini. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, film ini merupakan tontonan paling mengecewakan tahun ini. Hampir tidak ada aspek positif yang sanggup dinikmati kecuali akting Donnie Yen. Desain para karakternya cukup cantik tapi juga tidak terasa spesial. The Monkey King membuktikan bahwa ambisi besar itu boleh saja asal kita tahu seberapa batasan kita dan tidak asal melaksanakan sesuatu diluar batasan yang ada. 

Sunday, January 6, 2019

Ini Lho Lust, Caution (2007)

Dua tahun sesudah Brokeback Mountain yang fenomenal itu, Ang Lee kembali mengeksplorasi kisah romansa penuh hasrat dalam Lust, Caution. Bedanya, dalam film yang merupakan pembiasaan novella (karya sastra yang lebih panjang dari dongeng pendek, tapi lebih pendek dari novel) berjudul sama karangan Eileen Chang ini, akan ada sentuhan espionage thriller berbau politik yang kental daripada sekedar kisah cinta penuh hasrat seksual. Kisahnya punya dua setting, yaitu Hong Kong tahun 1938 dan Shanghai tahun 1942. Pada masa itu, Cina masih dalam penjajahan Jepang dan negara bonekanya. Wong Chia-chi (Tang Wei) ialah mahasiswi gres yang amat pendiam dan pemalu. Tapi alasannya ialah undangan seorang mahasiswa tampan dan patriotik berjulukan Kuang (Wang Leehom), ia mau saja untuk ikut dalam sebuah pementasan teater untuk penggalangan dana, membantu perlawanan terhadap Jepang. Hal itu pada balasannya bermetamorfosis sesuatu yang lebih serius ketika Kuang mengungkapkan rencananya untuk membunuh Mr. Yee (Tony Leung), seorang pengkhianat yang bekerja bagi pemerintahan Jepang.

Rencananya ialah Wong Chia-chi harus menyamar sebagai seorang istri pengusaha kaya dan masuk dalam dunia sosial istri Mr. Yee (Joan Chen) yang sering bermain mahjong bersama beberapa perempuan lain. Dari situ diperlukan Wong Chia-chi sanggup menarik hati Mr. Yee, dan menariknya kedalam perangkap. Mulailah ketika itu Wong Chia-chi yang pemalu bertransofmrasi menjadi Mrs. Mak yang cantik, elegan dan begitu menggoda. Karakter Mrs. Mak sendiri khususnya dari tampilan fisik mengingatkan aku pada sosok Mrs. Chan dalam In the Mood for Love-nya Wong Kar-wai. Kesan itu semakin berpengaruh dengan kisah perselingkuhan dan romansa penuh hasrat yang ada dalam dua film ini. Tentu saja kehadiran Tony Leung yang sama-sama menjadi pemain film utama makin memperkuat kesan tersebut. Bedanya, film Wong Kar-wai itu menghadirkan semua hasrat bahkan kesan sensual hanya dari tatapan mata pemain film dan aktrisnya, sedangkan Lust, Caution punya banyak adegan seks frontal. Tony Leung masih memerankan aksara laki-laki charming, tapi disini ia menghadirkan keliaran lebih. Film ini terasa sebagai versi liar dari In the Mood for Love plus selipan thriller epsionage.
Adegan seksnya memang eksplisit, "panas" dan punya durasi yang tidak sebentar, menciptakan film ini menerima sensor habis-habisan di berbaga negara termasuk Cina (di Amerika film ini menerima rating NC-17). Adegan-adegan seks yang kabarnya menghabiskan waktu 100 jam take itu memang amat esensial sebagai transfer rasa kepada penonton sekaligus pengembangan karakter. Adegan seks pertama antara Wong Chia-chi dengan temannya, Liang Junsheng (Lawrence Ko) berkhasiat menunjukkan transformasi sang gadis pemalu ini menjadi seorang intel yang dingin, serta hidup dalam kesedihan. Sedangkan yang paling "menonjol" tentu saja seks antara Wong Chia-chi/Mrs. Mak dengan Mr. Yee yang penuh hasrat dan ada sentuhan sado masochism disitu. Adegan ini bahu-membahu merupakan kunci dari apa yang coba disampaikan Lust, Caution. Seseorang, siapapun dia, meski membawa tujuan berlawanan sekalipun tetaplah sama, alasannya ialah faktor utama pencetus seorang insan ialah hasrat seksual. Layaknya sebuah studi yang memuja Sigmund Freud, film ini mengajak penonton masuk ke dalam suatu pendalaman mengenai nafsu, serta bagaimana semua insan sama saja ketika ada di hadapan suatu hal berjulukan "seks".
Tentu saja Ang Lee begitu kukuh bahwa segala adegan seks itu esensial, alasannya ialah memang dari situlah penonton sanggup mencicipi passion kuat yang dibawa oleh kedua aksara utamanya. Baik Wong Chia-chi maupun Mr. Yee ialah sosok yang hidup dalam kesedihan atau kesendirian. Dalam situasi Cina yang depresif, masuk akal kalau mereka (khususnya Mr. Yee) berakhir sebagai seorang yang dingin. Bahkan ketika keduanya berinteraksi pun, tidak banyak percikan yang muncul. Tapi beda dongeng ketika mereka dipersatukan oleh seks. Saat itu ialah satu-satunya momen dimana keduanya mencicipi senang, dan kebahagiaan yang faktual meski bagi Wong Chia-chi juga ada kegetiran disana. Dibalik kesan passionate kuat yang hadir lewat seks-nya, Lust, Caution juga merupakan romansa bencana yang pada bab selesai (khususnya) amat berhasil menciptakan aku mencicipi kesan tragis itu. Tragedi muncul disaat dua kisah cinta tidak sanggup bersatu. Sebuah kisah romansa klise yang dibawa oleh Ang Lee kedalam situasi yang jauh lebih kompleks. Alhasil, begitu film diakhiri dengan sebuah shot yang menghadirkan keindahan, kesunyian dan kesedihan disaat bersamaan (siluet Mr. Yee diatas kasur Mrs. Mak yang sepreinya berantakan) kesedihan yang mencekik eksklusif aku rasakan.

Lust, Caution merupakan salah satu film yang mengangkat tema espionage paling humanis yang pernah aku tonton. Tapi itu juga tergantung pada definisi humanis macam apa yang anda anut. Jika anda freudian seperti aku yang percaya bahwa hampir semua tindakan insan didasari oleh hasrat seksual maka kesan humanis itu akan begitu terasa. Akting Tony Leung dan Tang Wei semakin menguatkan rasa itu. Tatapan mata mereka menunjukkan kesedihan terpendam. Segala tindak-tanduk mereka nampak terkendali secara natural, tapi semua itu hanyalah topeng, hanya akting yang balasannya dilepaskan ketika ada di atas ranjan. Itulah kenapa film ini banyak berisikan penyamaran (akting). Bahkan aksara Wong Chia-chi pun ialah perempuan yang amat menyukai film. Wong Chia-chi sering menghabiskan waktunya menonton romansa klasik Hollywood yang sering membawa kisah cinta sejati, seolah menggambarkan sesuatu yang amat ia inginkan tapi hingga selesai tidak sanggup ia dapatkan. Berdurasi 160 menit Lust, Caution tidak pernah membosankan berkat tensi tinggi yang hadir bukan dari tempo cepat alur, tapi dari begitu tingginya hasrat/nafsu yang dihadirkan Ang Lee.

Ini Lho Black Coal, Thin Ice (2014)

Saat menonton film misteri, saya termasuk jenis yang lebih suka jikalau tidak "disuapi". Usaha keras menyusun pecahan puzzle seperti yang hadir dalam Zodiac-nya Fincher atau film-film David Lynch selalu memusingkan sekaligus menyenangkan. Tidak berusaha "menyuapi" penonton yaitu hal yang dilakukan oleh Diao Yinan dalam Black Coal, Thin Ice yang memenangkan Golden Bear pada Berlin Film Festival tahun 2014 lalu. Ada dua setting waktu disini, pertama yaitu 1999 disaat seorang detektif berjulukan Zhang Zili (Liao Fan) yang gres saja bercerai tengah menangani sebuah kasus pembunuhan. Sang pelaku memutilasi badan korban dan membuatkan masing-masing bab badan ke aneka macam pabrik kerikil bara. Tapi sebuah kejadian tragis menjadikan penyelidikan berhenti. Lima tahun kemudian, Zhang Zili yaitu detektif pemabuk yang tidak lagi punya semangat untuk bekerja. Tapi dikala partner lamanya memperlihatan sebuah kasus yang tampak serupa dengan pembunuhan lima tahun lalu, Zhang kembali bersemangat. 

Sekali lagi saya lebih suka dibentuk memeras otak alasannya yaitu misteri, dan Diao Yinan terang tidak menyuapi saya dalam film ini. Tapi bukan berarti filmnya bagus. Sebagai teladan mari sedikit membahas Zodiac milik Fincher. Film itu punya kompleksitas misteri yang tinggi sebagai pondasi dasar. Karena itu walaupun David Fincher tidak berusaha berambigu ria, filmnya tetap kompleks. Semua keping untuk menyusun puzzle sudah ada disana, hanya Fincher tidak pernah menunjukkannya secara langsung. Berbeda dengan Black Coal, Thin Ice. Naskahnya yang juga ditulis oleh Diao Yinan amatlah sederhana. Fokus utamanya misteri pembunuhan dengan beberapa twist mengejutkan tapi bergotong-royong punya tanggapan sederhana. Sebagai pemanis untuk memperkuat karakter, ditambahkanlah cerita romansa antara Zhang Zili dan perempuan misterius berjulukan Wu Zhizhen (Gwei Lun-Mei). Sangat sederhana, sangat mendasar. Seolah tidak ingin misteri sederhana itu terlalu mudah, Yinan mengemasnya jadi penuh ambiguitas dan fakta tersembunyi.
Masalahnya, apa yang ia lakukan terasa menyerupai mempersulit sesuatu yang mudah. Sesungguhnya film ini sudah punya kesan realis cukup kuat. Bandingkan dengan film-film Asia lain bertemakan noir, maka Black Coal, Thin Ice termasuk yang paling realistis. Alih-alih berfokus pada kesederhanaan yang berpengaruh dan karakter, Diao Yinan begitu berambisi menciptakan filmnya terasa kompleks. Bukannya membeberkan semua fakta tanpa perlu memperlihatkan "garis bawah" biar penonton merangkai sendiri, Yinan justru seolah sengaja menyembunyikan beberapa pecahan untuk melengkapi struktur misterinya. Anggaplah anda sedang menyusun puzzle bergambar hewan tapi hanya diberikan pecahan bergambar kakinya saja. Pada hasilnya mungkin anda dapat tahu gambar apa yang ada disana, tapi butuh anutan lebih yang sesungguhnya tidalah perlu. dilakukan andai kepingannya lengkap. Film ini sering memperlihatkan beberapa momen episodik perihal penyelidikan Zhang, tapi disaat kita akan masuk momen konklusi atau jawaban, adegan itu langung diakhiri, melompat ke bab selanjutnya. Bagi saya ini merupakan bentuk lain dari style over substance saat Yinan terlalu berambisi menciptakan crime-nya "senyeni" mungkin.
Tapi diluar itu, saya tidak menyangkal bahwa tone serta sinematografinya memukau. Atmosfernya kelam, sangat terasa dari aneka macam faktor mulai dari lokasi penuh salju yang dingin, pengemasan hampir tanpa isian scoring, hingga abjad yang tampak tidak pernah bahagia. Zhang Zili yaitu detektif yang karir serta kehidupannya hancur. Lima tahun kemudian ia menemukan jalan untuk memperbaiki dua hal itu, yang ironisnya menciptakan ia harus terjebak dalam sebuah romansa rumit antara detektif dan seorang tersangka. Sebuah formula klasik film noir. Disis lain, Zhizhen yaitu perempuan yang misterius, suram, dan tak berdaya menghadapi hal-hal jelek di sekitarnya. Wanita ini seolah tidak mempunyai hasrat melanjutkan hidupnya, tapi ia sendiri menolak untuk mati begitu saja. Disaat dua jiwa ini makin menyatu, dapat ditebak bukan kebahagiaan utuh yang akan terasa oleh penonton. Resikonya, romansa itu hasilnya terasa sedingin tone filmnya. Terkesan absurd dan begitu jauh untuk dapat ikut saya rasakan.

Aspek terkuat tanpa cela yaitu sinematografi garapan Jingsong Dong. Tidak hanya memperkuat tone, aneka macam rangkaian gambar terasa magis dan dreamlike. Ada tiga momen terbaik: flash forward lima tahun yang dihadirkan dalam one shot memukau dan mengesankan bahwa waktu bergerak cepat tanpa kita sadari, momen ice skating saat Zhang berusah payah mengejar Zhizhen disaat sang perempuan meluncur dengan begitu indahnya, serta bab ending hujan kembang api yang menutup film sempurna sebelum kita diperlihatkan siapa yang menyalakannya. Ketiganya yaitu momen kunci dari bagaimana sinematografi menguatkan suasana sekaligus cukup menyelamatkan film ini. Black Coal, Thine Ice atau yang punya judul orisinil Bai Ri Yan Huo (Daylight Fireworks) gagal menampilkan potensi terbaiknya alasannya yaitu perjuangan berlebihan Diao Yinan untuk menjadi stylish. Nyatanya style over substance dalam film bukan selalu identik dengan imbas CGI berlebih atau sinematografi indah tak bermakna, tapi juga pengemasan alur yang terlalu dibentuk rumit meski sesungguhya itu tidak perlu.