Showing posts with label France Film. Show all posts
Showing posts with label France Film. Show all posts

Saturday, January 12, 2019

Ini Lho The Family (2013)

Film garapan Luc Besson ini dibintangi Robert De Niro dan diangkat dari novel karya Tonino Benacquista berjudul Malavita yang artinya Badfellas menciptakan film ini seolah menjadi versi tidak serius dari Goodfellas karya Martin Scorsese. Tapi meskipun ceritanya memang seputar dunia cecunguk dan Scorsese menjadi administrator produser bahkan ada adegan yang menampilkan pemutaran film Goodfellas, The Family sama sekali bukanlah parodi dari film tersebut. Selain De Niro, ada nama-nama besar lain ibarat Michelle Pfeiffer, Tommy Lee Jones hingga Dianna Agron di jajaran pemainnya. Saya sendiri tidak mengharapkan kisah yang berbobot dari The Family yang memang cukup mengedepankan unsur komedi, apalagi melihat jajaran film Luc Besson akhir-akhir ini yang kualitasnya biasa saja bahkan beberapa diantaranya termasuk film yang buruk. Namun sebagai hiburan yang menyenangkan The Family cukup punya potensi memuaskan saya apalagi melihat jajaran cast yang meyakinkan tersebut. Ceritanya berada seputaran keluarga Giovanni Manzoni (Robert De Niro) dan keluarganya yang sedang berada dalam aktivitas dukungan saksi di bawah pengawasan FBI.

Manzoni terpaksa meninggalkan hidupnya sebagai bos cecunguk sesudah terlibat problem dengan Don Luchese (Stan Carp) yang menciptakan sang Don harus mendekam dalam penjara. Atas perbuatannya tersebut, Manzoni dan keluarganya terpaksa hidup di bawah dukungan FBI yang dipimpin oleh Robert Stansfield (Tommy Lee Jones) dan tingga berpindah-pindah hingga kini balasannya mereka tinggal di kota kecil yang terelat di Normandy, Prancis. Disana masing-masing dari keluarga tersebut harus menghadapi permasalahan yang mereka alami. Giovanni yang hidup dengan identitas Fred Blake tidak bisa meninggalkan rumah sebab terus diawasi oleh FBI dan terpaksa menghabiskan waktunya dengan menulis riwayat hidupnya sebagai mafia. Permasalahan tiba ketika ia mengaku sebagai penulis novel sejarah ihwal Normandy landing pada tetangganya walaupun ia sama sekali tidak tahu menahu mengenai kejadian sejarah tersebut. Sang istri, Maggie (Michelle Pfeiffer) merasa harus menanggun semua perbuatan suaminya yang temperamental dan ia sendiri bermasalah dengan menyesuaikan diri disana. Puteri mereka, Belle (Dianna Agron) yang juga selalu main garang sedang jatuh cinta pada mahasiswa yang mengajar matematika di sekolahnya. Sedangkan sang putera, Warren (John D'Leo) banyak terlibat permasalahan kekerasan di sekolah. Tapi yang mereka tidak tahu ialah Don Luchese semakin akrab untuk mengetahui keberadaan mereka ketika ini dan berniat menghabisi satu keluarga tersebut.

Yang paling menarik dari The Family / Malavita bukanlah kualitas kisah tapi karakter-karakter yang ada di dalamnya. Giovanni a.k.a Fred Blake yang diperankan De Niro ialah sajian utamanya. Dari luar ia ibarat laki-laki bau tanah pengangguran biasa yang bahkan tidak bisa memperbaiki pipa ledeng dan hanya menghabiskan waktunya di depan mesin ketik, namun kalau ia sudah tersinggung, Fred tidak ragu-ragu menghajar habis orang yang membuatnya murka hingga mematahkan semua tulangnya. Sedangkan Maggie tidak ragu-ragu meledakkan supermarket disaat ia merasa tersinggung oleh komentar orang Prancis ihwal dirinya. Sedangkan kedua anak mereka tidak jauh beda dimana untuk menuntaskan problem mereka tidak ragu menggunakan kekerasan, bahkan Warren sang putera seolah benar-benar mewarisi darah cecunguk sang ayah dengan sanggup melaksanakan banyak sekali bisnis kotor dan perekrutan anak buah. Terkesan brutal? Memang The Family tampil brutal tapi dibalik kebrutalan keluarga gila tersebut selalu diselipkan unsur komedi yang menciptakan masing-masing karakternya tampil lebih menarik. Mungkin mereka terkesan sebagai keluarga disfungsional yang bertindak semau sendiri, tapi di balik itu mereka saling mengasihi dan melindungi satu sama lain dimana faktor itulah yang menciptakan interaksinya lebih menarik.

Seperti yang sudah saya duga tidak ada yang Istimewa dari ceritanya. Di samping karakternya yang asyik, ceritanya tergolong sangat sederhana. Tidak ada intrik rumit yang sering muncul dalam film-film bertemakan cecunguk dengan tone yang serius. Tapi The Family memang tidak berusaha untuk tampil serius. Ceritanya tidak berusaha cerdas dan memang terasa kurang bakir di beberapa penggalan namun juga tidak berusaha terlalu keras untuk menjadi kurang bakir dengan menjadi parodi film-film cecunguk ibarat Goodfellas. Ini ialah murni hiburan dengan selipan komedi yang cukup efektif. Terkadang komedinya memang berlalu begitu saja dalam artian tidak lucu, tapi saya lebih sering mendapati komedinya berhasil menciptakan saya tersenyum bahkan beberapa kali menciptakan tertawa. Bukan komedi cerdas namun tetap menarik untuk ditonton. Sebagai teladan ialah ketika Fred yang diperankan De Niro tiba ke aktivitas pemutaran sekaligus debat film yang menampilkan film Goodfellas dimana kita tahu bahwa De Niro ialah salah satu pemain film yang bermain dalam film garapan Martin Scorsese tersebut. De Niro sendiri tampil manis disini. Yah jangan harapkan kualitas nomor satu ibarat aktingnya di The Godfather II ataupun Goodfellas, namun kemampuannya membawakan sosok aksara yang dingin, brutal namun tetap terlihat lucu terperinci patut menerima kebanggaan disini.

Sampai balasannya kita dibawa pada sebuah titik puncak yang untungnya berhasil menjaga tensi film. Pembangunan konflik menuju final showdown yang memperlihatkan anak buah Don Luchese menginvasi Normandy dan menyerbu rumah Fred terasa sangat menegangkan. Apalagi ketika masing-masing anggota keluarga itu berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan keluarga mereka dari maut. Momen menuju final tersebut memang begitu intens dan menegangkan. Namun sayangnya ketika sanksi di pertempuran balasannya malah terasa anti-klimaks dan berakhir begitu saja seakan-akan Luc Besson kebingungan bagaimana harus mengakhiri pertempuran yang (maunya) epic tersebut. Bahkan adegan agresi "mini" ketika masing-masing keluarga Blake menghajar orang-orang di sekitarnya masih lebih menghibur daripada klimkas tersebut. Pada balasannya The Family terperinci tidak setara dengan karya-karya terbaik Luc Besson macam Nikita ataupun Leon: The Professional. Kisahnya juga dangkal dan tidak menyinggung hal-hal ibarat ambiguitas yang muncul dalam istilah "keluarga" dalam dunia gangster meski punya potensi besar untuk itu. Tapi setidaknya bukan juga karyanya yang masuk daftar terburuk dan masih jadi hiburan yang cukup menghibur khususnya berkat komedinya yang cukup berhasil dan penampilan maksimal para pemainnya dalam membawakan tokoh-tokoh dengan karakterisasi yang asyik. 

Tuesday, December 4, 2018

Ini Lho R.A.I.D. Special Unit (2017)

Saya bisa saja melihat film berjudul orisinil Raid Dingue ini semata-mata sebagai komedi ringan berbasis lelucon-lelucon ndeso dari tingkah konyol karakternya saja yang mana berhasil dibentuk oleh sutradara/penulis naskah/aktor Danny Boon. Tapi menengok fokus alur seputar usaha seorang perempuan menepis stigma miring tentangnya serta seringnya naskah buatan Boon bersama Sarah Kaminsky melontarkan obrolan berisi sindiran bagi seksisme, R.A.I.D. Special Unit ingin dipandang lebih dari itu. Sebuah niatan yang meski baik namun justru menurunkan kualitas akhir lemahnya tuturan naskah. 

Johanna Pasquali (Alice Pol) yaitu puteri Perdana Menteri Prancis, Jacques Pasquali (Michel Blanc) juga calon istri pebisnis kaya berjulukan Viktor (Yvan Attal). Biar demikian, ia menolak hanya berdiam diri hidup nyaman di rumah, alasannya yaitu impiannya semenjak kecil yaitu bergabung di RAID, sebuah kesatuan polisi elit. Walau sudah berlatih amat keras, Johanna tetap tak mampu memenuhi kriteria, hingga "intervensi" sang ayah mewujudkan mimpi itu. Di RAID, Johanna dihadapkan pada bermacam kesulitan, mulai latihan super keras hingga penolakan anggota senior, Eugene Froissard (Danny Boon) yang membenci perempuan sehabis ditinggalkan istrinya. 
R.A.I.D. Special Unit is about Johanna against all odds. Begitu diterima, Johanna berusaha menandakan kepantasannya, berjuang melewati segala rintangan termasuk upaya Eugene dan pimpinan RAID, Patrick (François Levantal) membuatnya kapok kemudian menentukan keluar. Tapi Johanna pantang menyerah. Kisah standar yang menjadi modal solid memberikan women empowerment, bahwa perempuan sejatinya bisa apabila diberi kesempatan. Masalahnya, kesempatan yang didapat tokoh utama bukan ia raih, melainkan diberikan cuma-cuma melalui "jalur belakang" pula. 

Johana pun selalu gagal diterima murni akhir tidak memenuhi syarat, bukan dipicu dikstriminasi gender. Bahkan Patrick sempat menyatakan nilai Johanna merupakan hasil terburuk yang pernah ia lihat. Bagaimana bisa mendukung usaha seseorang jikalau orang itu sendiri tak capableJohanna berhati baik. Terlihat saat berusaha menunjukkan Eugene bukanlah sosok pembawa sial. Dia juga tahan banting, pribadi bangun lagi tiap kali terjatuh. Tapi ia bukan biro yang baik. Beberapa misi ibarat menjaga Presiden atau mengintai teroris berakhir kacau akhir kecerobohannya. 
Kecerobohan Johanna melemahkan bobot abjad namun menguatkan komedi. Ketepatan timing Boon memaksimalkan humor slapstick-nya, menciptakan situasi "murahan" macam Johanna jatuh dari sepeda atau kepala Presiden terbentur pintu kendaraan beroda empat jadi efektif memancing tawa alasannya yaitu hadir di waktu sempurna bahkan kadangkala tak terduga. Totalitas Alice Pol memunculkan hiburan berbentuk kebodohan luar biasa perempuan berparas rupawan. Praktis menyukai Johanna. Bukan berkat usaha yang memancing simpati tapi lebih disebabkan ia bodoh, sebagaimana mestinya karakter komikal menarik hati penonton. 

R.A.I.D. Special Unit sempat pula mengekspresikan penghormatan bagi abdnegara keamanan. Sebuah adegan sewaktu para trainee memberi tepuk tangan pada pasukan yang gres melakoni misi berbahaya cukup menyentuh perasaan. Namun serupa paparan soal usaha perempuan dan sindiran bagi misogynist (shoot 'em right on their dick), poin ini pun lenyap seiring dominasi kekonyolan filmnya. Bukan duduk kasus saat tujuannya sekedar berkomedi, tapi R.A.I.D. Special Unit hendak tampil lebih, sehingga meski menghibur, banyak tertinggal rasa hambar. 

Ini Lho It's Only The End Of The World (2016)

Serahkan pada Xavier Dolan untuk menghasilkan karya unik yang bersedia membaurkan visual vibrant dan musik pop dalam tuturan arthouse yang walau tidak wajib tapi identik dengan kesunyian atau kemasan sederhana. Tengok Mommy yang bersama aspek rasio 1:1 miliknya ikut memasukkan lagu-lagu familiar macam Wonderwall, Born to Die, Counting Stars hingga White Flag. It's Only the End of the World selaku pembiasaan pertunjukan teater berjudul sama karya Jean-Luc Lagarce pun serupa, bahkan tak jarang di antara monolog-monolog panjang kental teriakan karakter, filmnya menyerupai extended music video. Sedap dipandang, dinamis, meski soal substansi patut dipertanyakan.

Louis (Gaspard Ulliel), laki-laki gay 34 tahun dengan profesi sebagai penulis naskah teater memutuskan pulang ke rumah, menemui keluarganya sesudah 12 tahun. Bukan semata-mata rindu, Louis punya intensi lain, mengabarkan umurnya yang tak lagi panjang akhir penyakit (detailnya tidak dijabarkan). Sang ibu (Nathalie Baye) antusias menyambut kepulangan puteranya, pun Suzanne (Lea Seydoux), si adik yang mengenal Louis hanya dari dongeng atau artikel koran. Terjadi pula pertemuan perdana Louis dengan Catherine (Marion Cotillard), istri kakaknya, Antoine (Vincent Cassel) yang selalu mengantagonisasi semua orang lewat komentar pedas.
Pasca adegan pembuka berhiaskan quick cuts, gambar kontras didominasi warna biru juga iringan Home is Where It Hurts-nya Camille yang bertempo upbeat, keliaran Dolan enggan meluntur, eksklusif menyambungnya dengan berondongan kalimat cepat nan acak yang terasa melelahkan ketimbang rancak. Penonton seketika dihadang oleh sambutan keempat keluarga tokoh utama yang terasa abnormal lantaran mereka begitu cerewet, kolam tak bisa stop bicara, berteriak, mengomeli satu sama lain. Mungkin anda bakal menanggapinya menyerupai Louis yang lebih banyak membisu dan bicara seperlunya serupa dua hingga tiga patah kalimat dalam kartu pos yang ia kirim tiap ada anggota keluarga berulang tahun. 

Dolan mempertahankan penggambaran Lagarce atas keluarga disfungsional melalui pertukaran kata luar biasa canggung di mana para tokoh sering mengkoreksi grammar sendiri, seolah resah bagaimana bersikap di depan Louis, sang "stranger in the family". Catherine selalu ragu dan meminta maaf, juga Suzanne yang rahasia mengagumi Louis, sementara bagi Antoine apapun konteks pembicaraan niscaya salah di matanya. Timpal-menimpalinya terdengar aneh, menjadikan pertanyaan, "Mengapa tiap kalimat direspon negatif oleh lawan bicara? Kenapa tiap situasi berujung bentak-membentak?" Wajar, lantaran paruh kedua dari sumber adaptasinya abstrak, terdiri atas monolog demi monolog tanpa lawan bicara jelas. 
Dari situ kekacauan keluarga bisa dijelaskan, ketidaknyamanan Louis  yang mungkin memicu kepergiannya dulu  tersiratkan. Louis memang terlihat berbeda. Ketika keluarganya seolah terbiasa akan kondisi tersebut, sanggup seketika berubah dari saling hardik jadi mengobrol santai sembari tersenyum. Rasanya semua ialah bab keseharian. It's Only the End of the World pun bergerak dari nostalgia menuju masa kemudian (asal muasal hidup) karakternya sebelum final hidup (akhir hidup) menjemput menjadi drama kegagalan seseorang menemukan kawasan dalam keluarga. 

Kembali ke pernyataan di paragraf awal, Xavier Dolan sekali lagi memastikan sampul filmnya akrab bagi penonton awam meski kontennya tidak demikian. Di sela-sela riuh rendah saling serang tanpa ujung, unik mendapati I Miss You-nya Blink 182 sayup-sayup diputar dan Dragostea Din Tei milik O-Zone mengiringi gerak aerobik asal Martine dan Suzanne. Adakah signifikansi? Selain nostalgia yang mana dilakukan protagonis, terang tidak. Serupa pula sempilan flashback-nya. Pemakaian slow-motion dan sinematografi garapan Andre Turpin memastikannya terlihat artistik tapi dari sisi kontekstual, fungsinya sekedar memberi informasi tambahan, bukan penguat penokohan. Kita tahu niscaya siapa mantan pacar Louis hingga aktivitas keluarganya tiap Minggu pagi, namun tidak wacana detail hubungan atau motivasi niscaya kepergian Louis yang sejatinya sanggup memancing emosi penonton.
Mengesampingkan sederet penyesuaian ke layar lebar, Dolan setia pada naskah Lagarce. Bahkan pengadeganan film ini tak ubahnya pertunjukkan teater di mana festival utamanya ialah akting bersenjatakan kata-kata, serta abjad yang bergerak keluar-masuk frame (panggung). Kesetiaan itu berujung pisau bermata dua tatkala arah tidak menentu. Sebagai paparan realis filmnya terlampau aneh, terlebih titik puncak yang bagai final dunia (musik mencekam, warna jingga menyala seolah matahari mendekati Bumi) disusul simbolisme burung di ending. Tetapi sebagai presentasi absurd, pembiasaan Dolan amat menyederhanakan surealisme naskah Jean-Luc Lagarce kemudian mengedepankan melodrama. 

Salah satu keputusan terbaik Dolan terkait memindahkan media panggung ke film yaitu pemanfaatan close-up, dengan begitu akting memukau  terlebih ekspresi  ensemble cast-nya sanggup tertangkap sempurna. Gaspard Ulliel memperagakan gejolak dalam hati yang berusaha ditekan, ditutupi dengan senyum simpul dan kediaman. Lea Seydoux meragu, bagai burung dalam kandang terbuka yang berhasrat terbang tapi malu-malu. Marion Cotillard terbata-bata, berulang kali minta maaf, memancarkan kegamangan dari tatapan mata. Nathalie Baye penuh energi tanpa kehilangan kasih sayang hangat seorang ibu yang ia tumpahkan kala dibutuhkan. Vincent Cassel sekilas merupakan sosok terkuat, meluap-luap, gemar "memangsa" lawan bicara dan menyudutkan mereka, namun kerapuhan sosok laki-laki yang disalahartikan dan  tidak tahu cara membenarkannya amat kentara.

Ini Lho Personal Shopper (2016)

Judul dari kerja sama kedua antara sutradara Olivier Assayas dengan Katolik Stewart sesudah Clouds of Sils Maria yang membawa sang aktris menjadi orang Amerika pertama yang memenangkan Cesar Awards ini merujuk pada profesi tokoh utamanya, Maureen Cartwright (Kristen Stewart). Sepanjang film, kita mendapati Maureen mengendarai motor berkeliling Paris, mengambil gaun dan aksesoris mahal untuk ia berikan pada bosnya, Kyra (Nora von Waldstätten), seorang selebritis. Sementara Kyra mendatangi pemotretan maupun program bertabur bintang satu ke lainnya, Maureen hanya bisa diam, memendam berhasrat lantaran tak diperkenankan mencoba gaun-gaun mahal tersebut. 

Tapi "kekangan" yang Maureen alami bukan itu saja, dan poin berikutnya menggiring Personal Shopper menuju alam lain penuh keganjilan misterius. Pada adegan pembuka, Maureen bermalam di rumah kosong milik Lewis, saudara kembarnya yang meninggal akhir serangan jantung (Maureen pun mempunyai kondisi serupa). Sebagaimana saudaranya pula, Maureen punya kemampuan berkomunikasi dengan hal gaib. Di rumah itu, Maureen menunggu arwah Lewis mengirimkan sebuah tanda, sesuatu yang dahulu sempat ia janjikan ketika masih hidup. Proses menantikan pesan spiritual itu menahan Maureen di Paris meski ia membenci pekerjaannya bersama Kyra, dan sang kekasih, Gary (Ty Olwin) tengah berada di Oman.
Personal Shopper adalah bibit unggul studi abjad yang mencari makna kehidupan di tengah kekangan dari sosok hidup dan mati, Hitchcockian thriller, hingga horor supranatural yang jauh lebih mengerikan dibanding suguhan horor arus utama. Menyelami dunia spiritualisme penuh ketidakpastian memberi Assayas kebebasan menuangkan segala keganjilan tak terduga, membuat misteri yang mempermainkan perkiraan penonton. Atensi kita bakal direnggut dan ketegangan tersulut, lantaran kita takkan pernah tahu apa yang disiapkan Assayas di balik dinding-dinding gelap rumah Lewis atau di ujung percakapan pesan singkat antara Maureen dengan stalker misterius yang bahkan tidak ia ketahui masih hidup atau sudah mati.

Guna mewujudkan ketakutan yang dialami Maureen (juga penonton), Assayas enggan menggunakan formula klise horor. Musik dan bunyi-bunyian lain diminimalisir, false alarm pun ditiadakan, di mana hal yang kita lihat maupun dengar sungguh-sungguh terjadi juga sama dengan yang dilihat dan didengar sang protagonis (kecuali satu momen creepy ketika jauh di belakang Maureen kurang jelas nampak sesosok pria). Kamera bergerak perlahan, seolah Assayas sedang mencekik penonton menggunakan penantian ditemani ketidaktahuan serta ambiguitas. Terkait ambiguitas dan kesubtilan, hantu dalam film ini pun tak muncul dalam tampilan segamblang horor mainstream, namun efektif memancing kengerian, terlebih Assayas cendekia menentukan timing sewaktu penonton tidak berekspektasi bakal dijejali teror.
Kepiawaian Assayas mengolah tensi tergambar dalam pertukaran chat Maureen dan sang stalker yang menandakan bahwa pembicaraan melalui pesan telepon genggam pun sanggup berujung cinematic thriller kelas satu. Menegangkan sekaligus memunculkan penasaran, momen tersebut turut menyiratkan sensualitas. Merasa terganggu di awal, Maureen pelan-pelan membuka diri, menceritakan rahasianya pada si sosok misterius, bahkan kemudian seolah tersulut hasratnya, kemudian sadar tidak sadar menikmati "obrolan" kental voyeuristic manner. Pun dalam diri Maureen menyerupai timbul fetishism terhadap barang-barang milik Kyra yang kelak mendorongnya bermasturbasi di atas kasur sang bos sembari mengenakan baju miliknya. 

Kristen Stewart memantapkan posisinya selaku salah satu aktris Hollywood paling "berbahaya" ketika ini lewat satu lagi performa magnetik, mengandalkan karisma dari kecanggungan kala berinteraksi ditambah pilihan detail-detail gestur menarik sehingga kegiatan sederhana macam mengambil kopi sekalipun menyenangkan disaksikan. Penekanan sinema Eropa termasuk Prancis akan realisme dongeng membentuk para aktornya memperagakan penampilan serupa, dan Stewart pun demikian. Tanpa ledakan emosi, performanya pasca Twilight Saga mencerminkan bentuk modifikasi artistik dari gerak laris realita. Membumi namun indah kala diamati lebih lanjut. 

Ini Lho Raw (2016)

Ada bermacam-macam cara menggolongkan film horor, dan kali ini saya akan membaginya ke dalam tiga bentuk. Pertama nasty horror. Sesuai namanya, jenis ini mengedepankan momen menjijikkan, sering eksploitatif, menempatkan cerita, akting, dan segala tetek bengek sinematik lain di urutan ke sekian. Kritikus cenderung membabat habis film model begini. Kedua yakni mainstream horror yang dirilis luas, dibentuk mengikuti contoh demi memuaskan penonton sebanyak mungkin. Ketiga, artsy horror yang gemar bermain alegori, banjir penghargaan dari bermacam festival, namun bagi penonton awam tak selalu memuaskan entah disebabkan tempo lambat atau "pelit" mengumbar teror.

Raw yang disutradarai dan ditulis naskahnya oleh Julia Ducournau termasuk golongan terakhir, menceritakan hari-hari pertama Justine (Garance Marillier) berkuliah menempuh pendidikan kedokteran hewan. Justine merupakan gadis "lurus" yang cerdas, pendiam, masih perawan, sekaligus seorang vegetarian. Di sana ia bersama sang kakak, Alexia (Ella Rumpf). Berlawanan dengan Justine, Alexia lebih "liar" dan gemar berpesta. Seiring waktu, Justine menyadari ada keganjilan pada dirinya ketika mulai timbul hasrat memakan daging mentah yang bahkan sanggup menyeruak hadir kala melihat seekor sapi hidup di depan kelas. Hingga ketika terjadi sebuah kecelakaan, hasrat Justine berubah ke tingkatan ekstrim.
Kisah coming-of-age memang mangsa empuk bagi sineas horor menyelipkan simbolisme-simbolisme, mengingat pada kenyataannya, fase hidup insan khususnya cukup umur dipenuhi aneka macam perubahan yang dirasa aneh, entah pengalaman seksual pertama, fisik pula kepribadian juga berubah. Karena itu takkan sulit memberi twist pada perubahan tersebut, misal si abjad menyadari ia yakni monster, kanibal, atau semacamnya. Ducournau pun memanfaatkan itu, menumpahkan setumpuk alegori perihal bangkitnya naluri dasar manusia, seksualitas, kehidupan kampus, hingga perdebatan soal perlakuan terhadap hewan, entah untuk dikonsumsi atau eksperimen akademik.

Tapi keberadaan simbol di atas tidak serta merta mengakibatkan filmnya suguhan cerdas, alasannya sekarang ketika coming-of-age sudah jamak dijadikan metafora termasuk dalam horor, apa yang Ducournau berikan terlampau familiar. Praktis ditebak ke mana perkembangan karakternya bergerak, walau di beberapa titik terdapat kejutan selaku pemberi shock value. Pula pada pengadeganan, di mana tempo lambat sebagai niat membangun atmosfer ditambah gambar artistik bagus garapan sinematografer Ruben Impens yang sesekali dibalut slow motion mendominasi. Gaya demikian yang dulu termasuk "hipster" telah menjadi klise, membentuk template tersendiri bagi arthouse horror, dan Ducournau sekedar menerapkan, mengulangi template itu.
Eksplorasi dramatik cenderung mengesampingkan porsi horor, yang mana bukan dilema jikalau terdapat pendalaman paten. Sayangnya, untuk film yang berupaya mengangkat perihal tumbuh kembang insan secara serius, bukan gimmick semata, presentasinya dangkal. Perubahan demi perubahan Justine tak nampak sebagai proses berkelanjutan yang natural, melainkan hanya alat biar film sanggup bergerak dari satu twisted moment ke twisted moment berikutnya. Andai saja fokus banyak terletak pada horor, alasannya meski Raw memperlihatkan bahwa Ducournau bukan pencerita solid, ia piawai menebar teror menyakitkan.

Tanpa perlu sadisme berlebihan, sang sutradara sanggup menyulap insiden remeh menyerupai menggaruk luka alergi jadi adegan yang sanggup memaksa penonton berpaling dari layar berkat perpaduan visual eksplisit dengan tata bunyi meyakinkan. Atau bagaimana "menarik rambut dari dalam mulut" yang telah ratusan kali kita lihat tampak begitu menyakitkan. Ducournau punya kejelian tinggi terkait membuat pemandangan disturbing tanpa perlu terkesan over-the-top. Selalu mencekam dan mencekat tatkala momen berdarah mengambil alih, Raw sayangnya turut mengatakan betapa hipster artistic horror makin repetitif, predictable, mencapai kekliseannya sendiri.

Wednesday, November 7, 2018

Ini Lho Valerian And The City Of A Thousand Planets (2017)

Sewaktu kecil saya gemar memainkan setumpuk action figure karakter fiksi favorit. Berbekal barang  seadanya macam bantal, guling, atau kaleng biskuit bekas, dunia daerah aksara itu hidup jadi kenyataan. Setidaknya dalam imajinasi saya selaku satu-satunya batasan realisasi. Melalui film ini, Luc Besson melaksanakan hal serupa, menghidupkan komik kesukaannya dikala kecil, Valerian and Laureline. Bedanya ia punya modal $210 juta (film Eropa dan independen termahal) guna mengganti mainan dan perabot sehari-hari dengan formasi pemain film kenamaan sekaligus imbas CGI. Tapi ada sebuah persamaan. Keduanya tak peduli kedalaman aksara atau dongeng solid. Terpenting imajinasi terwujud. Valerian and the City of a Thousand Planets memang membawa Besson kembali menjadi bocah.

Dibarengi lagu Space Oddity-nya David Bowie yang tepat membangun mood, filmnya dibuka oleh montage perkembangan acara luar angkasa insan dari masa ke masa, berujung pada era 28 ketika stasiun Alpha tempat jutaan makhluk dari planet berlainan hidup bersama membuatkan kultur pula pengetahuan, dilepas dari orbit Bumi, melayang bebas di angkasa tanpa batas. Valerian (Dane DeHaan) dan sang partner, Laureline (Cara Delevigne) yakni anggota kepolisian insan yang tengah menjalankan misi mengamankan spesies binatang langka di suatu planet. Misi yang membawa keduanya mengarungi banyak sekali daerah di galaksi, bertemu alien bermacam-macam bentuk, juga menyelidiki bencana masa kemudian yang disembunyikan rapat-rapat.
Sederhana saja rangkaian dongeng dalam naskah Besson. Penyebab durasinya melebihi dua jam (137 menit) dikarenakan alurnya kerap berputar-putar dahulu sebelum hingga titik destinasi. Ibarat perjalanan, penonton sebagai penumpang sering diajak singgah di daerah lain, menetap di sana menikmati suasana, gres lanjut ke tujuan. Juga terasa bagai menyaksikan video game dari stage ke stage berikutnya. Bahkan adegan tatkala Valerian menembus satu per satu lokasi Alpha dikemas oleh Besson laksana tipe permainan endless running yang biasa kita mainkan di smartphone. An exciting one

Meski berakibat pacing yang kurang dinamis, Besson punya alasan berpengaruh di balik pilihan tersebut, yaitu mengajak penonton mengamati keindahan beraneka ragam dunia asing beserta makhluk dan budaya di sana. Karena sejatinya, ketimbang suguhan tipikal "kebaikan melawan kejahatan", Valerian and the City of a Thousand Planets lebih menitikberatkan pada eksplorasi soal diversity dengan cakupan luas: alam semesta. Kalau diperhatikan, dominan konflik berujung sekuen agresi tidak didorong perjuangan tokoh utama menumpas kejahatan, melainkan sebuah keterpaksaan dipicu insting bertahan hidup dikala terancam ancaman jawaban terjebak di situasi maupun kultur asing. Pun musuh utama yang mesti dihadapi bukan sosok megalomania dengan hasrat menguasai dunia, sekedar insan dan keburukan alami mereka (kita). 
Walau acap berlama-lama mampir kebosanan urung hadir, alasannya bersenjatakan kreatifitas tanpa batasnya, Besson yang makin sahih disebut sutradara visioner bisa membuat sederet lingkungan, teknologi, hingga kegiatan tak terbayangkan. Tentu semua didasari komik buatan Pierre Christin dan Jean-Claude Mézières, tetapi menghidupkan gambar membisu di panel komik butuh daya kreasi luar biasa. Inilah esensi film selaku motion picture. Gambar bergerak yang mewadahi imajinasi liar pembuatnya. Sinematografi Thierry Arbogast juga musik Alexandre Desplat yang mencerminkan lisan kekaguman, menambah daya pukau petualangan jagat raya yang eksklusif menghentak semenjak menit-menit awal di Planet Mül. Sayang, fokus terhadap visual seolah sepenuhnya menyedot energi Besson, sehingga ia gagal maksimal soal sanksi aksi. Tidak buruk, hanya saja medioker, nihil cool aspect ciri khasnya.

Saat Dane DeHaan kekurangan pesona sebagai pendekar sci-fi yang bertingkah semaunya (charm-nya lebih cocok untuk tokoh gloomy), Cara Delevigne sukses menghapus memori jelek Enchantress si iblis penari perut berkat deadpan sarcasm yang juga didukung struktur wajah naturalnya. Sebagai Laureline, Cara bisa pula menangkap sisi sensual tanpa kehilangan kekuatan khas tokoh perempuan idola ala suguhan sci-fi klasik. Walau demikian, gelar penampil paling mencuri perhatian justru disandang dua nama yang hanya muncul singkat, Ethan Hawke dan Rihanna. Gaya koboi Texas bawel milik Hawke menghembuskan nuansa berbeda di tengah kesan monoton kebanyakan aksara (bertampang) manusia. Sementara Rihanna dengan kehebatan olah badan di sebuah adegan pole dance memikat nyatanya paling mencerminkan aura inti filmnya: unik, aneh, imajinatif, magical, out of this world.


Ulasan untuk film ini sanggup dibaca juga di: http://tz.ucweb.com/8_dMLE