Showing posts with label TV Series. Show all posts
Showing posts with label TV Series. Show all posts

Friday, January 11, 2019

Ini Lho My Favorite Episodes From Lost

Saya bukanlah seseorang yang suka mengikuti sebuah serial televisi alasannya ialah dua alasan. Alasan pertama alasannya ialah aku bukanlah orang yang cukup sabar untuk mengikuti sebuah kisah dalam begitu banyak season yang tiap season-nya diisi oleh cukup banyak episode. Sedangkan alasan yang kedua ialah alasannya ialah jikalau aku sudah menyukai sebuah serial, maka akan begitu banyak waktu yang harus aku luangkan untuk meneruskan menonton episode demi episode. Beberapa kali aku menjadwal menonton sekian episode dalam sehari dan berakhir terus lanjut menonton alasannya ialah rasa ingin tau akan menyerupai apa kelanjutannya. Pada akibatnya dikala aku iseng-iseng ingin menonton sebuah serial, pilihan aku jatuh pada Lost karena premis yang menarik dan alasannya ialah serial ini sudah tamat.Akhirnya sesudah kurang lebih dua ahad aku selesai menonton keenam season yang ada dan menyatakan jatuh cinta akan serial ini. Menonton dan menulis sebuah artikel wacana Lost mungkin terasa ketinggalan zaman dikala ini alasannya ialah serial ini memang sudah selesai empat tahun lalu, tapi biarlah. Disini aku akan menciptakan dua bentuk list yang akan dipecah dalam dua artikel, yang pertama ialah episode favorit, dan yang kedua dan akan menyusul segera ialah aksara favorit. Bukan hal gampang menyusun 20 episode favorit dalam Lost dengan total episode yang mencapai 121. Kaprikornus berikut ini daftar 20 episode Lost yang paling aku sukai.  (A lot of SPOILERS ahead)

 20. THE LONG CON (Season 2, Episode 13)
Sawyer merupakan salah satu aksara paling menarik dalam serial ini, dan lewa episode ini kita akan diajak melihat dua sisi dalam dirinya secara cukup mendalam. Sisi pertama ialah Sawyer sang penipu ulung yang memiliki banyak sekali macam trik dan tipu tipu daya untuk mendapat uang dari korbannya. Tapi disisi lain kita juga akan melihat bahwa Sawyer bukanlah seseorang tanpa perasaan menyerupai yang selama ini banyak disebut orang. Episode inilah yang makin memantapkan kesukaan aku pada aksara yang satu ini.

19. ...IN TRANSLATION (Season 1, Episode 17)
Seperti yang sudah aku bilang, episode wacana Jin dan Sun selalu menarik, dan dalam episode inilah kita benar-benar diajak untuk pertama kalinya mengeksplorasi secara lebih jauh sosok Jin dan Sun serta ijab kabul mereka yang tidak berjalan mudah. Dari sinilah persepsi aku akan sosok Jin mulai berubah dari yang tadinya aku tidak menyukainya alasannya ialah ia ialah suami posesif yang menyebalkan menjadi rasa simpati sesudah tahu latar belakang Jin dan Sun. Satu yang pasti, dari sinilah aku mulai menyukai kisah cinta keduanya yang penuh romantisme dan cinta sejati.

18. TWO FOR THE ROAD (Season 2, Episode 20)
Kematian dalam Lost seringkali mengejutkan baik dilihat dari siapa yang mati dan timing yang tiba-tiba, menunjukan bahwa hampir tidak ada aksara yang kondusif disini. Ana Lucia yang awalnya aku kira akan menjadi aksara utama dalam waktu yang cukup usang tiba-tiba dibunuh oleh Michael yang ternyata mendapat perintah dari The Others. Ditambah lagi ia membebaskan Ben yang ternyata memang ialah pemimpin dari The Others. Tapi yang paling mengejutkan dan emosional tentu saja kematian Libby yang begitu tiba-tiba sesaat sesudah kematian Ana Lucia. Emosional alasannya ialah hubungannya dengan Hurley yang notabene merupakan salah satu aksara paling lovable gres saja hendak dimulai.

17. FLASHES BEFORE YOUR EYES (Season 3, Episode 8)
Lewat episode inilah kekuatan Istimewa dari Desmond benar-benar dieksplorasi untuk pertama kali. Momen flashback-nya terasa begitu sureal terutama pertemuan Desmond dengan Eloise Hawking yang begitu mengejutkan dan menegangkan. Episode ini juga yang memberi tahu pada kita bahwa Charlie akan menemui ajalnya di season ketiga ini. Jika episode Sun-Jin sentris berpengaruh dalam penghantaran drama romantisnya, maka episode Desmond-sentris begitu berpengaruh aspek sci-fi dengan sentuhan sureal di dalamnya.

16. EVERYBODY LOVES HUGO (Season 6, Episode 12)
 Episode ini merupakan "kontra" dari Everybody Hates Hugo yang merupakan episode 4 di animo kedua. Disini Hugo bukan lagi orang tersial di dunia melainkan seorang laki-laki kaya raya nan gemar memberi yang begitu beruntung dan dicintai semua orang. Menarik juga melihat pertemuan kembali antara Hugo dan Libby. Sedangkan di pulau kita akan diperlihatkan satu lagi kematian dengan timing paling mengejutkan disaat Ilana tewas jawaban ledakan dinamit dalam tasnya.

15. THE BRIG (Season 3, Episode 19)
Setelah episode sebelumnya aku dikejutkan dengan kemunculan Anthony Cooper yang tidak lain ialah ayah John Locke, disini muncul lagi kejutan yang lebih besar. Setelah cukup usang melaksanakan pencarian, James "Sawyer" Ford akibatnya menemukan laki-laki yang "membunuh" orang tuanya, yakni Sawyer yang sesungguhnya, dan laki-laki itu ternyata ialah ayah Locke. Puas rasanya melihat Sawyer akibatnya berhasil merampungkan dendamnya dan membunuh Cooper, sosok laki-laki yang begitu kejam dan menyebalkan itu.

14. 316 (Season 5, Episode 6)
Dibuka dengan Jack yang terbangun di tengah hutan menyerupai episode pertamanya, 316 punya momen yang begitu menarik dikala para Oceanic Six kembali berkumpul dalam satu pesawat ditambah Ben dan jenazah John Locke. Pada akibatnya episode ini pun ditutup dengan kejutan dikala melihat Jin mengenakan seragam Dharma Initiative.
  
13. EXODUS (Season 1, Episode 23 & 24)
Dua bab dari finale animo pertama ini menyajikan kisah yang sama menariknya baik dikala flashback maupun kisah di pulau. Dalam flashback-nya kita diajak melihat bagaimana masing-masing karakternya bertemu di satu kawasan termasuk di bandara entah itu berinteraksi eksklusif maupun hanya berpapasan. Sedangkan di pulau, momen emosional muncul dikala Sawyer, Jin, Michael dan Walt akibatnya meninggalkan pulau dengan rakit. Beberapa dikala kita diajak merasa bahwa mereka sudah kondusif hingga akibatnya ending mengejutkan muncul dikala The Others muncul di tengah laut, menculik Walt dan meledakkan rakit tersebut. Musim pertama pun ditutup dengan cliffhanger ganda dikala akibatnya hatch berhasil terbuka dan menciptakan aku bertanya-tanya ada apakah di dalamnya.

12. PILOT (Season 1, Episode 1 & 2)
Ini ia awal dari segalanya. Dibuka dengan kekacauan di tengah reruntuhan pesawat yang acak-acakan di pantai, dalam dua bab episode ini kita diajak untuk melihat banyak sekali macam misteri yang ada di pulau tersebut mulai dari sosok Chrsitian Sheppard, Monster asap yang belum terlihat wujudnya, kemunculan beruang kutub, hingga pesan milik Daniel yang telah diputar berulag-ulang selama 16 tahun. Pertanyaan yang muncul tentu saja "Sebenarnya di pulau macam apakah mereka terdampar?"

11. GREATEST HITS (Season 3, Episode 21)
Ini ialah pengantar yang menegangkan dan cukup emosional sebelum finale dari animo ketiga. Dari sini ada 2 hal yang aku rasakan, yang pertama ialah aku sadar bahwa akan ada sesuatu yang epic di episode berikutnya, dan yang kedua ialah aku sadar bahwa Charlie akan mati di finale tersebut. Menarik melihat Charlie menyusun daftar 5 hal paling membahagiakan dalam hidupnya, dan momen dikala ia menuliskan insiden di peringkat pertama yakni dikala ia pertama kali bertemu dengan Claire terasa begitu mengharukan.

10. THE SHAPE OF THINGS TO COME (Season 4, Episode 9)
Benjamin Linus ialah aksara yang digambarkan begitu cerdas, licik dan dingin. Dia memang penuh tipu daya dan terkesan tidak berperasaan, tapi disini muncul momen mengejutkan nan luar biasa dikala ia melaksanakan kesalahan yang menyebabkan tewasnya Alex. Disitulah aku sadar bahwa Ben hanyalah insan biasa apalagi dikala ia begitu emosional melihat kematian puterinya yang menciptakan Ben memanggil smoke monster. Menyenangkan juga melihat momen dikala Ben menghajar dua prajurit di gurun Sahara.

9. LA X (Season 6, Episode 1 & 2)
Pergantian timeline dalam Lost selalu mengejutkan. Setelah menggunakan flashback dan flash forward kali ini kita diajak untuk mengikuti alternate universe dimana Oceanic 815 tidak pernah terjatuh dan tentunya karakter-karakter yang ada jadi tidak saling mengenal satu sama lain. Sedangkan di pulau, terjadi momen emosional dikala Juliet mati di pelukan Sawyer. Salah satu adegan favorit aku di episode ini ialah dikala kamera bergerak dari dalam pesawat menuju dasar bahari yang memperlihatkan pulau dan segala isinya sudah karam dan hanya tinggal reruntuhan.

8. THE INCIDENT (Season 5, Episode 16 & 17)
Momen flashback dalam episode ini menarik dan mengejutkan dikala kita diperlihatkan bagaimana Jacob mengunjungi satu per satu surivvor bahkan sedari masa mereka masih kecil dan baik secara eksklusif maupun tidak eksklusif mengarahkan mereka untuk "sampai" di pulau. Kita juga untuk pertama kalinya melihat sosok Man in Black alias sang monster asap disini. Sedangkan pada timeline tahun 1977 terjadi pertempuran seru antara para survivor dan Dharma Initiative yang berujung pada kematian Juliet dan meledaknya bom nuklir. Adegan penutupnya emosional disaat Juliet yang terluka parah dengan frustrasi memukul bom tersebut hingga akibatnya meledak dan layar sepenuhnya berwarna putih.

7. WALKABOUT (Season 1, Episode 4)
Banyak fans dari Lost yang menyebutkan bahwa episode ini ialah momen dimana mereka akibatnya terikat dan jatuh cinta pada serial ini. Disinilah kita diajak mempelajari sosok John Locke yang misterius dan melihat bagaimana kelamnya masa kemudian John. Hingga akibatnya sebuah twist ending yang memperlihatkan bahwa John sebelum hingga di pulau ternyata lumpuh dan berada di dingklik roda muncul dengan begitu mengejutkan. Bukti bagaimana cerdasnya para penulis dari Lost khususnya dalam hal menampilkan misteri dan memperlihatkan jawaban yang mengejutkan atas misteri tersebut.

6. TRICIA TANAKA IS DEAD (Season 3, Episode 10)
Saya begitu menyukai episode ini alasannya ialah tone-nya yang begitu ceria dengan atmosfer optimistis dan humor-humor gelap yang lucu. Hurley memperlihatkan kenapa sosoknya begitu dicintai, alasannya ialah disaat orang-orang lain sibuk memikirkan hal yang berat dan serius, Hurley sebaliknya. Dia menyadari hal yang tidak orang lain sadari, yaitu bersenang-senang. Menyenagkan pula melihat interaksi Sawyer-Hurley-Charlie-Jin. Keempat orang ini memang begitu tepat dikala dipasangkan secara bersamaan.

5. THE 23rd PSALM (Season 2, Episode 10)
Episode ini muncul pada masa dimana Mr. Eko masih menjadi salah satu aksara favorit aku yang begitu badass. Misteri wacana pesawat pengangkut heroin tersebut diungkap disini. Pada episode inilah tema "takdir" dan "kebetulan" mulai benar-benar dieksplorasi dalam serial ini. Saya pun selalu menyukai momen flashback dari aksara Mr. Eko sebagai gangster Nigeria sebelum beralih menjadi seorang Pendeta.

4. THROUGH THE LOOKING GLASS (Season 3, Episode 22 & 23)
Mungkin inilah episode yang paling banyak menempati daftar puncak list episode terbaik Lost. Sangat menegangkan, seru dan mengharukan. Kematian Charlie yang sebenarnya sudah sanggup ditebak dari awal animo ternyata bisa tampil begitu mengharukan dan heroik. Gambar Charlie yang menempelkan telapak tangannya ke beling dengan goresan pena "Not Penny's Boat" mungkin salah satu yang paling memorable dalam serial ini. Jangan lupakan juga teriakan Jack bahwa mereka seharusnya kembali ke pulau itu lagi yang sekaligus membuka twist bahwa flashback dalam episode ini ternyata flash forward.

3. THE CANDIDATE (Season 6, Episode 14)
Hubungan antara Jack dan Locke di alternate universe makin diperdalam dengan begitu baik, termasuk twist wacana kecelakaan yang menciptakan kaki John lumpu di universe ini. Episode ini pun begitu emosinal dengan tewasnya tiga aksara utama yang juga termasuk favorit saya, yaitu Sayid, Jin dan Sun. Kematian Sayid cukup mendadak dan terasa heroik sekaligus penebusan yang sesuai sesudah selama seasoni keenam ini ia bagaikan "zombie" jahat yang tanpa emosi dan perasaan. Sedangkan kematian Jin dan Sun sukses menciptakan aku meneteskan air mata. Tragis sekaligus romantis disaat yang bersamaan, keduanya berpegangan tangan sebelum mati karam secara bersamaan, mengakhiri kisah cinta sejati keduanya.

2. THE CONSTANT (Season 4, Episode 5)
Satu lagi episode Desmond-sentris yang benar-benar kental unsur sci-fi lewat kisah perjalanan waktunya. Episode ini juga banyak mengisi posisi puncak dalam daftar episode terbaik Lost. Episode ini memperlihatkan bahwa kisah cinta antara Desmond dan Penny tidak kalah romantis dan menyentuh jikalau dibandingkan Jin dan Sun. Lagi-lagi aku dibentuk menangis dikala Penny mengangkat telepon dari Desmond sesudah delapan tahun lamanya.

1. THE END (Season 6, Episode 17 & 18)
Entah berapa kali aku menangis melihat episode dengan total durasi 104 menit ini. Momen-momen mengharukan muncul dikala masing-masing tokoh mulai saling bertemu dan menyadari siapa satu sama lain mulai dari Sayid-Shannon, Sawyer-Juliet dan tentu saja Jin-Sun yang disini masih belum menikah. Berjalan dengan tempo cepat episode ini juga menampilkan momen menegangkan dikala pertikaian di pulau memasuki klimaksnya. Kejutan besar muncul dikala ternyata alternate universe yang ada merupakan limbo, kawasan dimana mereka semua bergotong-royong sudah mati dan menunggu untuk siap melangkah lebih jauh. Ditutup dengan adegan "kebalikan" dari adegan pembuka episode pertama, The End ialah epilog yang epic dan emosional. Akhir yang bagi aku tepat bagi serial yang luar biasa ini.

Ini Lho My Favorite Characters From Lost

Seperti yang sudah saja janjikan dalam postingan 20 Episode Lost Favorit kali ini saya akan menuliskan 10 huruf yang paling saya sukai dalam serial Lost. Salah satu keunikan sekaligus keunggulan dari Lost adalah kisahnya yang berfokus tidak hanya pada misteri di pulau tapi juga terhadap masa kemudian hingga perkembangan karakter-karakter yang ada lewat flashback, flash-forward, maupun kisah di pulau. Jika ditotal selama 6 trend pemutarannya, jumlah huruf utama serial ini melebihi angka 20, yang tentu saja merupakan jumlah yang amat banyak. Berikut ini daftar 10 huruf yang paling saya sukai ditambah bonus 5 huruf yang paling saya benci.

10. MILES STRAUME
Awalnya ia muncul sebagai huruf yang menyebalkan di season 4, tapi seiring dengan berjalannya waktu sosoknya semakin menyenangkan berkat kemampuannya berkomunikasi dengan orang mati serta dialog-dialog sarkas yang membuatnya menggantikan kiprah komedik Sawyer di dua trend terakhir. Episode yang mengangkat masa lalunya, Some Like it Hoth (season 5, episode 13) sukses menciptakan saya menyukai Miles.

9. JOHN LOCKE
Dikenal sebagai huruf yang misterius dan terlihat masbodoh diawal, makin usang kita diajak makin mengenali sosoknya yang tidak berbeda dengan huruf lain di pulau, yaitu menyimpan rasa takut serta kenangan masa kemudian yang buruk. Daya tariknya sempat menurun di pertengahan season saat ia berbalik menjadi "musuh" tapi trend keenam berhasil "mengampuni" John dan kembali membuatnya menjadi salah satu favorit saya.

8. HUGO "HURLEY" REYES
Yang menciptakan saya menyukai Hurley yaitu contoh pikirnya yang berbeda dengan orang lain dimana ia lebih memikirkan bagaimana caranya bisa bersenang-senang di pulau menyerupai menciptakan lapangan golf, memperbaiki van, hingga menciptakan meja ping pong. Dia yaitu sosok baik hati yang mengundang simpati meski sempat tidak saya sukai dikala "kegilaan" mulai mengambil alih dirinya di pertengahan serial.

7. SAYID JARRAH
Sebagai mantan tentara Iraq yang bertugas menyiksa serta menginterogasi musuh, tentu saja Sayid yaitu sosok yang badass. Dia juga huruf yang punya banyak kemampuan mulai dari interogasi, bertarung, hingga menangani hal-hal berbau elektronik. Daya tariknya sempat berkurang di dua trend terakhir, tapi kematiannya yang heroik menebus semua itu.

6. JULIET BURKE
Banyak yang tidak menyukai huruf Juliet termasuk hubungannya dengan Sawyer, tapi saya justru menganggap ia jauh lebih pantas bersama Sawyer daripada seorang perempuan jalang ndeso dan menyebalkan berjulukan Kate Austen. Dibalik sosok luarnya yang terlihat jahat, ia menyimpan kebaikan...and she's super hot!

5. SUN-HWA KWON
Cantik, pintar, sabar dan begitu menyayangi suaminya. Wanita idaman bukan?

4. BENJAMIN "BEN" LINUS
Saya tidak tahu apakah saya sangat membenci Ben atau justru sangat menyukainya. Tapi yang terang setiap ia muncul selalu bisa memunculkan daya tarik tersendiri. Kejam, masbodoh serta penuh budi busuk berkat kejeniusannya, Ben bahwasanya sama menyerupai yang lain, insan biasa yang juga rapuh, lemah dan menyimpan kepedihan dalam dirinya.

3. JIN-SOO KWON
Di trend pertama sosoknya begitu menyebalkan akhir sisi posesif yang ia tunjukkan pada Sun. Tapi semakin saya mengenal Jin, semakin terang bahwa ia yaitu laki-laki jago yang baik dan bersedia berkorban apapun demi sang istri. Jin juga bisa memancing kelucuan lewat ketidak mampuannya berbahasa Inggris. Disaat banyak huruf di Lost yang daya tariknya naik-turun (termasuk Sun), Jin terus stabil. Kisah cintanya dengan Sun amat amat sangat romantis.

2. JAMES "SAWYER" FORD
Musim pertama hingga keempat karakternya begitu luar biasa. Sebut saja satu per satu kelebihannya: bad guy yang keren, jago melontarkan one-line lucu, punya segudang julukan unik bagi semua orang, penipu ulung yang jago bersilat lidah, tapi punya kebaikan yang tertutupi masa kemudian kelam. Sempat begitu menyebalkan di episode-episode awal, Sawyer berkembang menjadi sosok yang peduli dan dipedulikan orang. Sayang di dua trend terakhir ia menjadi huruf yang terlalu serius dan kehilangan daya tariknya. Tapi empat trend jadi yang terbaik memang sudah cukup.

1. DESMOND HUME
Saya tidak menyangkan Desmond akan punya kiprah yang begitu besar di Lost, bahkan melebihi huruf menyerupai Jack dan Sawyer. Sama menyerupai Jin, daya tarik Desmond tidak pernah menurun bahkan selalu meningkat. Episode-episode yang menempatkannya sebagai sentra selalu unik bahkan menyentuh. Kisah cintanya dengan Penny begitu romantis, bahkan pada episode terakhir dialah yang berjasa mengumpulkan karakter-karakter lainnya. Karakter yang benar-benar keren dan amat lovable.

Berikut ini lima huruf yang paling saya benci:

5. SHANNON RUTHERFORD
Kenapa Sayid bisa melupakan Nadia hanya sebab gadis ndeso dan menyebalkan ini???

4. WALT LLOYD
Bagaimana cara terburuk menampilkan huruf anak kecil? Buat ia sebagai sosok yang tidak bisa diatur, selalu merengek, berteriak-teriak dengan lisan menyebalkan. Lebih maksimal lagi, berikan ia sebuah kekuatan misterius yang tidak terang apa itu.

3. CLAIRE LITTLETON
Calon ibu yang labil berkembang menjadi ibu yang agak menyebalkan, berubah lagi menjadi ibu ajaib yang kehilangan anaknya sebab kesalahannya sendiri tapi menyalahkan orang lain. Bukti kecantikan tidak selalu menciptakan anda menjadi lovable.

2. MICHAEL DAWSON
Teriaakan "Waaaaaaalt!" yang ia keluarkan selama dua trend cukup untuk menciptakan saya membenci Michael.

1. KATE AUSTEN
Tidak mengakui kejahatan yang jelas-jelas ia lakukan, kabur dari polisi hingga menewaskan salah seorang sahabatnya, keras kepala dan selalu bertindak ndeso dengan tidak menurut, gegabah, tidak terang lebih menyayangi Jack atau Sawyer, dan masih banyak lagi keburukan dari Kate. I hate you, bitch!

Thursday, January 10, 2019

Ini Lho American Horror Story - Murder House (2011)

Nama Ryan Murphy dan Brad Falchuk paling dikenal sebagai kreator serial televisi Glee yang sempat menjadi fenomena tapi kini perlahan mulai dilupakan. Tapi apa jadinya kalau kedua orang ini menciptakan sebuah serial televisi yang jauh berbeda? Dalam serial yang satu ini, terang tidak ada nyanyian gembira, kisah cinta remaja, serta usaha bawah umur yang diremehkan untuk menjadi seseorang yang dipandang. Dalam American Horror Story yang ada hanya jeritan, tragedi, kematian, teror dan kesan sensual. AHS menyerupai yang terlihat pada judulnya mengambil konsep mengenai cerita-cerita horror yang terkenal di Amerika Serikat, dimana animo pertamanya berfokus pada teror di sebuah rumah berhantu. Kisah ruah hantu sudah sangat familiar diangkat dalam medium film, tapi sebagai sebuah serial televisi tentunya ini akan menjadi hal yang menarik. Musim pertamanya yang mempunyai subjudul Murder House ini ditayangkan pada tahun 2011 dan sukses menjadi serial tv kabel gres yang paling banyak ditonton pada tahun 2011 bersandingan dengan Falling Skies. Murder House akan mengajak kita melihat teror yang menanti di sebuah rumah renta yang terletak di Los Angeles dalam 12 episode-nya yang tidak hanya diisi kengerian tapi aneka macam misteri-misteri seputaran rumah berhantu tersebut. 
Pada awalnya kita akan diajak berkenalan dengan keluarga Harmon yang terdiri dari Ben (Dylan McDermott), Vivien (Connie Britton) dan Violet (Taissa Farmiga). Keluarga tersebut gres saja ditimpa permasalahan berat disaat Vivien yang gres saja mengalami keguguran memergoki suaminya sedang bekerjasama seks dengan Hayden (Kate Mara) yang tidak lain yakni murid dari Ben. Untuk memulai awal yang baru, mereka pindah dari Boston ke Los Angeles, tepatnya di sebuah rumah renta disana. Sejak awal mereka sudah mengetahui ada yang tidak beres dengan rumah tersebut alasannya yakni dijual dengan harga yang sangat murah. Mereka pun kesudahannya mengetahui bahwa pemilik sebelumnya meninggal di dalam rumah. Tapi alasannya yakni sudah terlanjur menyukai rumah tersebut dan dengan sedikit "paksaan" dari sang puteri, Violet, Ben dan Vivien pun memutuskan membelinya. Tapi tentu saja usaha mereka untuk memulai hidup gres disana tidak berjalan lancar alasannya yakni belum apa-apa sudah muncul beberapa peristiwa serta orang-orang absurd di sekitar mereka. Mulai dari Tate (Evan Peter) pasien dari Ben yang sering bermimpi melaksanakan pembantaian dan mulai menjalin kekerabatan dengan Violet, Constance (Jessica Lange) tetangga sebelah yang sekilas terlihat ramah tapi nampak menyembunyikan sesuatu dan mempunyai seorang puteri dengan down syndrome bernama Addie (Jamie Brewer) yang sering menerobos masuk ke dalam rumah, hingga seorang laki-laki dengan luka bakar berjulukan Larry (Denis O'Hare) yang selalu membuntuti Ben dan menceritakan banyak hal mengerikan perihal rumah tersebut.
American Horror Story adalah satu lagi bukti bahwa serial televisi kini telah menjadi ajang unjuk idealisme yang sebetulnya dibandingkan film-film Hollywood yang lebih mementingkan pundi-pundi uang daripada kualitas dan kisah yang bagus. Alih-alih memakai banyak  scare jump AHS animo pertama ini lebih banyak bermain-main dengan membangun konflik yang terjadi dalam diri karakternya dan memperlihatkan teror lewat aneka macam visual yang cukup disturbing. Disinilah yang saya suka dari AHS. Ada aneka macam macam momen yang menciptakan saya merinding atau bahkan mual menyerupai bayi yang dimutilasi untuk kemudian dijahit lagi untuk dihidupkan layaknya Frankenstein, adegan makan otak mentah-mentah, hingga korban-korban lain yang tewas dengan cara yang cukup mengenaskan. Tapi tidak semuanya dihadirkan secara gamblang. AHS sanggup memperlihatkan teror dengan cara mempermainkan imajinasi liar penontonnya. Selalu ada cara gres yang dipakai untuk membunuh korban dalam serial ini. Tentu saja hal ini menyegarkan daripada hanya berusaha mengageti penontonnya. Tapi harus diakui, tiap film sajian horror setidaknya membutuhkan satu atau dua scare jump. AHS melakukannya beberapa kali tapi sayangnya tidak banyak yang berhasil. Disaat serial ini anggun dalam menghantarkan teror utamanya lewat imajinasi penonton, scare jump yang pasaran itu malah gagal dihukum dengan baik. 
Salah satu misalnya yakni episode finale yang bertajuk Afterbirth. Episode tersebut punya rangkaian adegan dimana satu per satu hantu menampakkan wujudnya dan akan menjadi begitu menegangkan dan seru apabila dihukum dengan baik, tapi sayang scare jump yang muncul terasa datar entah alasannya yakni penempatan musik yang tidak tepat, pergerakan kamera yang kurang shocking, editing yang jelek atau alasannya yakni timing yang meleset. Memang kalau bicara teknis, animo pertama AHS ini banyak kekurangan khususnya epsiode-episode awal. Hanya adegan dikala Tate kecil dikejutkan oleh Thaddeus saja yang angker khususnya alasannya yakni sosok dari sang "bayi monster" ini memang mengerikan. Sedari Pilot, saya sudah dibentuk menyukai serial ini dan dalam dua hari terakhir menghabiskan waktu menuntaskan 12 epsiodenya. Meski tidaklah terlalu mengerikan atau menegangkan, AHS: Murder House punya kekuatan lain yakni pada misterinya. Sedari episode pertama selalu saja ada misteri yang begitu menarik untuk diikuti menyerupai perihal apa yang sebetulnya terjadi dalam rumah itu. Satu lagi misteri yang paling besar yakni mengenai identitas karakternya. Mudah pada paruh musim, selain keluarga Harmon abjad lainnya terasa misterius, yakni apakah mereka insan atau hantu? Tantangan utama dalam serial televisi yang menghadirkan misteri bukanlah pengenalan maupun penelusurannya, tapi proteksi jawabannya. Sebagai teladan yakni Lost. Sebesar apapun kecintaan saya akan serial tersebut, tetap saja ada beberapa misteri yang jawabannya mengecewakan bahkan tidak terjawab. AHS untungnya bisa memperlihatkan aneka macam balasan yang memuaskan lengkap dengan twist demi twist mengejutkan. Memang ada beberapa balasan yang mengecewakan menyerupai perihal "hukum" dan kemampuan para hantu yang terasa dipaksakan dan hal-hal ganjil menyerupai kenapa Moira bisa pergi menemui sang ibu kalau para hantu tidak bisa meninggalkan rumah tersebut, tapi overall semuanya tetap memuaskan.
Flashback juga jadi bab terpenting dalam AHS animo pertama ini. Tidak hanya diajak menikmati teror pada masa sekarang, kita juga diperlihatkan aneka macam peristiwa dan bencana yang selalu menimpa pemilik rumah sedari yang pertama kali menempatinya. Semua flashback-nya menarik, dengan konflik yang berbeda tapi tetap punya benang merah yaitu antara obsesi, cinta, luka, hingga bayi. Setiap kisahnya bisa memperlihatkan eksplorasi yang mendalam pada masing-masing abjad yang menciptakan hampir semua karakternya terasa berharga dan menarik. Bahkan bagi saya kisah masa lalunya lebih menarik daripada kisah di masa sekarang. Masing-masing karakternya dipenuhi dengan kegelapan bahkan kejahatan yang sekilas menciptakan mereka tidak jauh beda dengan monster. Tapi perlahan tapi niscaya kita diajak untuk mengerti bahwa semua itu mempunyai pangkal permasalahan yang menciptakan tiap-tiap karakternya terjatuh dalam lubang kegelapan. Bahkan abjad menyerupai Clarence, Ben hingga Tate sekalipun berhasil menarik saya untuk bersimpati pada mereka. Hampir tidak ada abjad yang annoying disini meski terkadang tokoh menyerupai Hayden dan Vivien terasa menyebalkan. Beberapa karakternya pun sukses menambahkan unsur sensual dalam serial ini, menyerupai kemunculan sosok rapist berpakaian lateks. hingga pembantu renta berjulukan Moira yang di hadapan laki-laki akan berubah wujud menjadi pembantu seksi berambut merah, berkulit putih yang wajah dan tingkah lakunya selalu bisa menciptakan libido laki-laki memuncak.
Sebuah serial yang twisted, misterius, penuh bencana dan sensual, begitulah kesan saya terhadap animo pertama American Horror Story ini. Mungkin banyak penonton yang tidak terlalu betah melihat beberapa kesadisan yang ada khususnya melihat fakta banyaknya anak kecil bahkan bayi yang mati mengenaskan disini. Saya juga menyayangkan kengerian yang begitu terasa kurang serta pemanfaatan scare jump yang buruk. Sekilse apapun scare jump, kisah horor dengan hantu tetap membutuhkan satu-dua momen kejut yang bagus, dan AHS animo pertama tidak mempunyai itu. Bahkan aneka macam teaser tiap episode dan opening-nya jauh lebih creepy dan menyeramkan. Ya, opening dengan foto-foto renta dan musik mengerikan garapan Kyle Cooper itu memang mengerikan dan sering saya skip bukan hanya untuk mempersingkat durasi tapi alasannya yakni ketidak beranian saya untuk melihatnya. Saya juga kurang suka dengan episode terakhirnya yang lebih extended epilogue daripada finale yang seharusnya memperlihatkan puncak dan konklusi memuaskan. Saya juga merasa episode itu bagaikan setup untuk animo selanjutnya. Hal yang masuk akal untuk sebuah serial televisi, tapi AHS yakni serial dengan kisah yang berbeda tiap musim, jadi hal menyerupai itu tidak perlu dilakukan. Tapi toh adegan terakhir yang memunculkan sang "antichrist" cukup memuaskan. Mungkin animo pertama ini tidak sebagus ekspektasi saya sehabis melihat rangkuman teaser-nya, tapi American Horror Story: Murder House masih sebuah tontonan yang menyenangkan dengan kedua belas epsiode yang selalu tampil konsisten. Dengan bahagia hati saya akan melanjutkan ke animo keduanya, Asylum.

Ini Lho American Horror Story - Asylum (2012)

Musim pertama dari American Horror Story (review) memang jauh dari kata sempurna, tapi tontonan bertajuk Murder House tersebut terperinci berhasil menawarkan suguhan horror dan misteri yang sangat menghibur. Maka dari itu saya tidak pikir panjang untuk segera menonton trend kedua yang berjudul Asylum. Meski banyak menghadirkan pemain dari trend pertamanya tapi trend kedua ini punya huruf dan dongeng yang sama sekali berbeda. Jika trend pertama mengakibatkan sebuah rumah penuh hantu dan konflik keluarga sebagai fokus utamanya, maka Asylum seperti yang terlihat dari judulnya akan membawa kita menyaksikan horror yang terjadi dalam sebuah rumah sakit jiwa. Dengan jumlah satu episode lebih banyak dari trend pertamanya (13 episode), Asylum akan membawa kita ke tahun 1964 di sebuah institusi mental berjulukan Briarcliff yang bertempat di Massachusetts. Briarcliff dipimpin oleh Monsignor Timothy Howard (Joseph Fiennes) dan dikelola oleh Suster Jude (Jessica Lange). Institusi tersebut pada awalnya didirikan untuk menangani pasien sakit jiwa biar mereka sembuh dan menjalani hidupnya sesuai dengan jalan yang diperintahkan Tuhan. Tapi pada kenyataannya, pasien-pasien disana tidaklah menerima perawatan yang layak.
Banyak pasien yang justru menerima banyak penyiksaan mulai dari sifat keras Suster Jude yang sering memukul pasien yang berulah dengan tongkat kayu, hingga menjadi korban "pengobatan" dari Dr. Arden (James Cromwell). Dr. Arden sendiri belakang layar melaksanakan eksperimen terhadap para pasien disana untuk membuat sebuah makhluk misterius dengan dibantu oleh Suster polos berjulukan Mary Eunice (Lily Rabe) yang juga menjadi materi "imajinasi" Dr. Arden. Suatu hari datanglah seorang reporter ambisius yang juga merupakan lesbian (pada periode itu lesbian belum dianggap sesuatu yang wajar) berjulukan Lana Winters (Sarah Paulson). Dia berambisi membongkar semua kebobrokan Briarcliff tapi malah akibatnya terjebak sebagai pasien disana akhir logika bulus Suster Jude. Ada juga Kit Walker (Evan Peters) yang gres saja menjadi tersangka masalah pembunuhan terhadap tiga orang perempuan termasuk istrinya sendiri. Ketiga korban itu tidak hanya dibunuh tapi juga dikuliti dan konon katanya kulit tersebut dijadikan topeng oleh sang pembunuh yang menggunakan nama "Bloody Face". Namun Kit menyangkal tuduhan tersebut dan berkata bahwa pada ketika insiden pembunuhan ia melihat cahaya terang dan diculik oleh alien. Ya, Asylum akan penuh dengan banyak sekali misteri ihwal tiap-tiap karakternya. Tidak hanya itu, trend kedua ini memang tidak menampilkan hantu, tapi sebagai gantinya akan ada serial killer, alien, dan iblis yang "bertugas" menawarkan teror pada penonton.
Sebenarnya episode pertama "Welcome to Briarcliff" dimulai dengan tidak terlalu meyakinkan meski kehadiran Adam Levine untuk dibantai cukup menghibur. Awal episode pertaama ini menunjukkan sosok alien dan bagi saya mengakibatkan makhluk luar angkasa bukanlah langkah yang menarik. Tapi seiring berjalannya durasi, episode pembuka ini terasa semakin solid ketika kengerian di Briarcliff mulai muncul dan satu per satu misteri mulai nampak. Bahkan penampakan pertama dari Briarcliff yang topengnya didesain dengan begitu mengerikan (sedikit ibarat Leatherface dari Texas Chainsaw Massacre) sanggup menawarkan imbas kejut luar biasa. Tapi sesungguhnya gres pada episode kedua lah Asylum benar-benar mulai menjadi sebuah tontonan yang amat sangat menarik. Jika berpikir bahwa ceritanya akan sempit alasannya lebih banyak didominasi mengambil lokasi di institusi mental, maka anda salah alasannya trend kedua ini justru punya cakupan dongeng yang lebih luas dan lebih rumit daripada trend pertamanya. Seperti yang sudah saya bilang, sumber horrornya tidak hanya satu tapi beragam. Masing-masing juga punya daya tarik sendiri. Para alien akan menawarkan misteri ihwal positif atau tidaknya sosok mereka atau hanya imajinasi Kit. Sosok Bloody Face akan menawarkan kenikmatan tebak-tebakan dan menu gore ala film-film slasher. Momen gore dan disturbing juga hadir dari sosok Dr. Arden sang mad scientist. Sedangkan sang iblis akan menawarkan kengerian lewat "sampul" manis dan lugu dari sosok Suster Mary Eunice.
Asylum sanggup mempertahankan bahkan meningkatkan aspek-aspek dalam Murder House. Ceritanya lebih twisted karena dipenuhi dengan pertanyaan moral dan para pelayan Tuhan yang justru mengalami krisis iman. Karakternya jauh lebih kompleks dan menarik, alasannya tidak ada yang benar-benar baik disini. Semuanya punya sisi gelap masing-masing yang membuatnya jadi menarik. Mungkin hanya Kit Walkers yang diperankan Evan Peters saja yang membosankan. Memang sudah banyak horror maupun thriller yang mengakibatkan krisis iman sosok religius sebagai fokusnya, tapi Asylum termasuk yang paling gila. Mulai dari Monsignor yang gila tahta, suster yang mantan pelacur, hingga seorang suster polos yang dirasuki iblis. Tiap huruf punya momen dimana mereka ialah sosok jahat yang membuat saya ingin memukul mereka, tapi di satu momen mereka juga sanggup menjadi begitu simpatik. Sosok yang awalnya terlihat begitu kejam dan paling dibenci sanggup menjelma sosok yang paling "baik" dan disukai. Transformasi karakternya itulah yang begitu menarik, dan hal ini terus bertahan hingga trend kedua berakhir. Ya, trend kedua ini tidak hanya punya banyak plot twist yang mengejutkan tapi juga twist terhadap karakter-karakternya.
Jika trend pertamanya punya kelemahan pada scare jump karena memang membutuhkan itu, maka Asylum mengatasi kelemahan AHS tersebut dengan menghadirkan kengerian yang tidak membutuhkan scare jump melainkan lewat teror psikologis dan banyak momen disturbing. Tapi sekalinya scare jump itu muncul, berhasil dihukum dengan cukup baik, setidaknya lebih baik dari trend pertamanya. Aspek teknis trend kedua ini juga jauh lebih baik bahkan beberapa kali begitu indah dan tidak membuat tontonan utamanya terasa timpang kalau dibandingkan dengan teaser maupun opening sequence-nya yang selalu creepy tingkat maksimum. Dengan berbekal sinematografi bagus, imbas make-up keren, penggunaan slo-mo yang efektif serta scoring yang juga manis mengakibatkan Asylum benar-benar terasa superior kalau bicara soal teknis dibandingkan Murder House. Bicara soa musik, lagu Dominique yang rutin diputar di Briarcliff tidak sanggup hilang dari otak saya. Sebagai "bonus", Asylum juga melipat gandakan unsur seksual menjadi lebih seksi tanpa terkesan murahan entah itu lewat sosok Suster Jude dengan lingerie merahnya atau Suster Mary Eunice yang semakin kerasukan terasa semakin sensual. Bicara soal dua huruf itu, akting dari Jessica Lange dan Lily Rabe memang luar biasa disini. Jessica Lange sanggup mengakibatkan Suster Jude tidak hanya huruf yang super menyebalkan tapi punya kedalaman dan konflik batin yang mendalam.
Tapi dengan segala kehebatan tersebut, AHS trend kedua ini masih tidak lepas dari kekurangan. Salah satu kekurangannya ialah konklusi yang terasa begitu terburu-buru pada banyak karakternya. Tercatat ada dua huruf "tamu" yang menjanjikan termasuk sosok gadis kecil psikopat yang sempat muncul di awal trend namun hanya tampil satu episode saja untuk kemudian menghilang. Sangat disayangkan alasannya tokohnya begitu menarik dan punya banyak potensi untuk digali lebih dalam. Beberapa huruf utamanya pun kisahnya banyak yang diakhiri dengan terburu-buru khususnya Mary Eunice. Akhir dongeng Mary Eunice memang dihukum dengan baik, tapi saya tidak sanggup tidak merasa bahwa kreator AHS kehabisan wangsit untuk menawarkan tamat yang lebih memuaskan. Asylum juga mengulangi kesalahan Murder House dengan menghadirkan tamat trend yang sedikit anti-klimaks. Tidak seburuk finale musim pertama, tapi tiga episode terakhir Asylum yang punya atmosfir berbeda dari episode-episode sebelumnya terasa terlalu drastis dalam berubah yang akibatnya malah sedikit kehilangan greget. Beberapa konklusi juga terasa bagaikan rangkuman belaka dalam tiga episode terakhir ini. Dari sekian banyak huruf banyak pula yang menerima tamat yang kurang memuaskan alasannya sanksi yang terburu-buru. Tapi untungnya momen paling tamat dari Asylum cukup memuaskan dan terasa tragis.
Secara keseluruhan, trend kedua ini terperinci merupakan peningkatan dari trend pertamanya. Masih banyak hal yang harus dibenahi tapi terperinci Asylum bukan sekedar hiburan menyenangkan ibarat Murder House tapi sebuah rangkaian banyak kisah dan misteri yang begitu kompleks, menarik dan twisted. Penuh dengan ambiguitas moral, huruf yang ambigu, atmosfer yang begitu kelam, tragis dan seringkali hopeless musim kedua ini memperihatkan apa yang sanggup dilakukan oleh serial American Horror Story terhadap banyak sekali cultural horror dan materi-materi yang bersama-sama sudah seringkali diangkat untuk dan menjadikannya sebagai sebuah tontonan 13 episode penuh kegilaan dimana-mana.Tentu saja saya akan segera melanjutkan perjalanan horror ini dengan menonton trend ketiganya yang punya sub-judul Coven.

Wednesday, January 9, 2019

Ini Lho American Horror Story - Coven (2013)


 
Serial American Horror Story memasuki animo ketiganya sesudah animo keduanya yang merupakan peningkatan drastis dari animo pertamanya itu. (Review season 1 dan season 2). Makara sesudah rumah hantu dan rumah sakit jiwa yang penuh kegilaan itu, serial buatan Ryan Murphy dan Brad Falchuk ini akan membawa kita ke sebuah dunia penuh penyihir dan ilmu hitam. Seperti judulnya, Coven ialah kisah ihwal sebuah "perkumpulan" perempuan yang berkedok sebuah sekolah tapi di sesungguhnya merupakan daerah untuk membimbing para penyihir muda yang masih berusaha mengendalikan potensi kekuatan mereka. Sekolah yang terletak di New Orleans ini dikepalai oleh Cordelia Foxx (Sarah Paulson). Cordelia sendiri ialah perempuan yang baik dan begitu mencintai murid-muridnya yang masih belum bisa mengendalikan kekuatan dan belum mengetahui bagaimana menyikapi jati diri mereka sebagai seorang penyihir. Meski Cordelia ialah kepala dari "sekolah" tersebut, hingga kini ia masih hidup di bawah bayang-bayang sang ibu, Fiona Goode (Jessica Lange) yang merupakan "Supreme" alias pemimpin dari Coven tersebut. "Supreme" ialah penyihir yang dianggap terkuat, dan menguasai tujuh kekuatan berbeda, dimana sebelum dipilih ia akan melalui tes yang berjulukan "The Seven Wonders". Meski bertugas melindungi kaumnya, Fiona ialah supreme yang egois dan hanya memikirkan kenikmatan hidup serta kekuasaannya sendiri.
The coven
Disaat sang supreme terlihat tidak mempedulikan para kaumnya, coven tersebut tengah terancam alasannya ialah jumlah mereka semakin usang semakin berkurang. Selain Cordelia dan Fiona, di daerah itu hanya ada empat gadis lainnya. Para gadis yang tinggal disana mempunyai banyak sekali macam kekuatan yang berbeda-beda. Zoe Benson (Taissa Farmiga) sang murid gres bisa membunuh semua orang yang bekerjasama seks dengannya, termasuk pacarnya yang tewas mengenaskan dikala bekerjasama seks dengan Zoe. Ada juga Madison Montgomery (Emma Roberts), mantan aktris Hollywood yang kecanduan drugs punya kemampuan memindahkan benda dengan pikirannya. Queenie (Gabourey Sidibe) ialah human voodoo doll yang bisa memindahkan luka serta rasa sakit pada tubuhnya ke orang lain. Terakhir ada nan (Jamie Brewer), seorang gadis dengan down syndrome yang bisa mendengar isi pikiran orang lain. Mereka berempat seharusnya saling melindungi satu sama lain dalam kondisi coven yang tengah diterpa krisis ibarat kini ini, tapi ego masing-masing dari mereka menghambat itu. Madison dengan segala keegoisan dan tingkah ala superstarnya selalu menciptakan duduk kasus termasuk dikala ia membunuh para berakal balig cukup akal laki-laki sesudah ia diperkosa oleh mereka. Salah satu yang tewas ialah Kyle (Evan Peters), laki-laki yang memendam perasaan pada Zoe, begitu juga sebaliknya. Konflik lain pun mulai muncul satu demi satu, mulai dari bahaya para witch hunter, pertempuran kekal dengan pengguna voodoo pimpinan Marie Laveau (Angela Bassett), bahkan bahaya dari dalam akhir ambisi Fiona untuk terus berkuasa sebagai supreme.
Super-crazy-bitch-witch

Seperti Asylum, bekerjsama Coven tidaklah dimulai dengan begitu meyakinkan. Bitchcraft yang merupakan episode pertamanya tidak berhasil memperlihatkan "gedoran' horor ibarat seharusnya. Bahkan episode pertama dari animo keduanya masih punya sentuhan horor yang tidak mengecewakan dengan kemunculan Bloody Face. Sedangkan animo ketiga ini dibuka dengan biasa saja. Ada para penyihir dengan kemampuan yang unik tapi tidak ada cengkeraman horor ibarat yang biasa dilakukan oleh episode-episode pembuka AHS sebelumnya. Barulah pada episode kedua Coven tancap gas. Setelah inovasi Madame Laurie beserta kisah masa lalunya yang penuh kesadisan, animo ketiga ini terus berjalan cepat bahkan terus melaju dengan banyak sekali kegilaan horornya yang menyenangkan. Pendapat penonton akan Coven memang terpecah. Ada yang menyebutnya sebagai animo terbaik, ada pula yang mencelanya sebagai sajian terburuk dari rangkaian kegemilangan AHS. Saya pun mengerti alasan perbedaan pendapat tersebut. Tidak ibarat Asylum yang meski penuh dengan kegilaan serta darah dimana-mana namun tetap punya jalinan kisah yang kompleks dan bisa dibilang cerdas, Coven lebih berkonsentrasi menyajikan hiburan. Paruh pertama musimnya lebih terasa sebagai sebuah film eksploitasi yang campy dengan darah bermuncratan, badan yang dimutilasi dan banyak sekali momen gore lainnya. Bicara soal tingkat gore, animo ketiga AHS ini memang tidak tertandingi. Menonton Coven bagaikan adonan dari torture porn macam Hostel dengan b-horor ibarat Evil Dead dan Braindead-nya Peter Jackson.
New Orleans zombie chainsaw massacre!
Bahkan kalau bicara ihwal Evil Dead, episode kelima yang berjudul Burn, Witch. Burn! merupakan sebuah tribute yang menyenangkan lengkap dengan zombie dan gergaji mesin. Tentu saja bergalon-galon darah. Dari awal hingga akhir, Coven berjalan dengan begitu cepat, penuh ketegangan dan eksploitasi yang membuatnya tidak pernah terasa membosankan dan menjadi sebuah sajian horor yang luar biasa menghibur. Memang semua itu menciptakan animo ketiganya ini terasa mengorbankan keseramannya, tapi toh bukannya tidak ada horor sama sekali. Daripada horor yang menciptakan penontonnya ketakutan atau terhentak, Coven lebih mengarah kepada horor eksploitas yang disturbing, gory dan menyakitkan. Mungkin inilah yang menciptakan banyak orang menyebut animo ketiga sebagai yang terburuk. Tapi saya tidak masalah, alasannya ialah toh semuanya masih sangat menyenangkan. Tapi kalau ada hal negatif dari Coven bekerjsama itu ialah kekurangan dari AHS yang terus terulang dari animo pertama hingga ketiga ini, yaitu penyuguhan banyak sekali konflik yang begitu cepat muncul dan begitu cepat selesai. Banyak konflik yang terlihat sebagai sebuah bahaya major tiba-tiba saja terselesaikan dan kemudian pribadi dipaksakan berlanjut ke konflik berikutnya yang mendapat perlakuan sama. Hal ini dimaksudkan untuk memperkaya kisah dalam AHS, dan penyelesaiannya yang cepat terasa disengaja semoga tidak terasa bertele-tele dan menjaga temponya semoga tidak melambat. Maksud yang manis tapi sayangnya tidak berhasil dengan manis pula.
The immortal racist bitch
Jika Murder House punya kisah yang cukup kompleks tapi tidak terlalu "sesak", beda halnya dengan Asylum dan Coven. Kisahnya nampak begitu kompleks dan rumit, begitu pula dengan korelasi antar karakternya. Saya yakin kalau anda terlewat satu episode saja, anda akan kesulitan memahami apa yang terjadi serta korelasi yang terjalin antar karakternya. Menjaga tempo memang baik, tapi lebih penting lagi menciptakan penonton terikat dengan konfliknya. Sebenarnya Coven berhasil menciptakan saya terikat dengan tiap-tiap konfliknya, hanya saja konklusi yang mendadak dan terkesan menggampangkan membuatnya terasa mengecewakan. Saya suka konflik ihwal Fiona, seorang huruf yang kompleks dan ibarat dengan huruf yang dimainkan oleh Jessica Lange di musim-musim sebelumnya. Wanita yang bitchy, egois, simpel dibenci, tapi ada hal lain dalam dirinya yang bisa saja setiap dikala mengambil simpati penonton. Saya selalu menyukai huruf yang ia perankan termasuk Fiona alasannya ialah hal itu. Saya bisa membencinya, tapi juga bisa menyukainya. Kisah menarik lainnya ialah ihwal Madame LaLaurie yang dimainkan oleh Kathy Bates yang fenomenal itu. Ada kisah redemption yang menarik, menyentuh sebelum hasilnya di-twist dengan "kejam' mendekati final musim. Bicara soal karakter, saya tentunya masih menyukai Lily Rabe yang kini berperan sebagai penyihir eksentrik berjulukan Misty yang bisa membangkitkan orang mati. Seperti animo sebelumnya, Lily Rabe menghadirkan huruf yang menarik hati (I love her!)
The super-hot witch
Ya, tentu saja akan ada banyak twist gila yang tidak terduga disini. Kebanyakan twist-nya mengandung kesan tragis yang kelam, termasuk banyak konklusi pada finale-nya. Untuk finale-nya bagi saya pribadi ialah yang terbaik dibandingkan dua animo sebelumnya. Masih ada penyelesaian yang terburu-buru memang, tapi hadirnya banyak momen shocking membuatnya terasa lebih menggigit. Saya sebelumnya berharap akan ada pertempuran epic antara penyihir melawan voodoo atau pemburu penyihir sebelum hasilnya kedua konflik itu diselesaikan dengan...yah terburu-buru. Tapi ada kisah setimpal ihwal The Seven Wonders yang sanggup menciptakan saya bisa tersenyum lebar. 
The Seven Wonders
Untuk teknisnya sendiri, Coven masih dihiasi scoring indah mulai dari La La La milik James Levine hingga Sarabande milik Handel. Masih ada juga opening sequence yang semakin gila dan kali ini mengambil setting outdoor. Secara keseluruhan Coven masih melanjutkan perjalanan brilian dari serial American Horror Story. Penuh dengan kisah serta huruf yang sinting dan twisted, jalinan kisah kompleks, dan kali ini tersaji dengan lebih cepat dan lebih campy. Tapi siapa peduli AHS menjadi campy selama masih ada kegilaan dan hiburan mengerikan yang asyik. Lagipula hal ini membuatnya terasa fresh.  I prefer Asylum, but Coven is better than Murder House, also the funniest one. Tidak sabar rasanya menantikan animo keempatnya yang bertajuk Freak Show.