Friday, February 1, 2019

Ini Lho Ahad Pagi Di Victoria Park (2010)


Film yang disutradarai oleh Lola Amaria ini yakni salah satu bukti bahwa penonton Indonesia masih kurang bisa menghargai film bermutu. Hal itu terlihat dari kurang berhasilnya film ini dari segi pendapatan yang terlihat dimana film ini tidak bertahan lebih dari 2 ahad di bioskop. "Minggu Pagi di Victoria Park" menampilkan sebuah drama yang tidak hanya menggambarkan kehidupan para TKW tapi juga menyinggung hubungan keluarga yang sering diisi ketidak harmonisan didalamnya.


Virgo (Lola Amaria) yakni gadis desa yang bekerja sebagai TKW di Hong Kong. Virgo tidak hanya bertujuan untuk bekerja disana, tapi beliau juga diperintahkan oleh ayahnya untuk mencari Sekar (Titi Sjuman), adiknya yang juga bekerja disana dan sudah usang tidak terdengar kabarnya. Virgo sendiri bergotong-royong tidak terlalu menyukai sang adik yang selalu dibangga-banggakan oleh ayahnya sedangkan Virgo memang diperlalukan kurang adil oleh ayahnya. Virgo termasuk TKW yang beruntung alasannya majikan daerah beliau bekerja sangat baik dan perhatian pada Mayang. Beberapa usang di Hong Kong Virgo mulai berhasil menyesuaikan diri dan berteman baik dengan TKW lainnya.
Setelah sekian usang mencari, Virgo bertemu dengan Gandi (Donny Damara) yang rupanya sudah sangat akrab dan dianggap sebagai bapak dari para TKW di Hong Kong. Gandi ternyata juga sedang berusaha mencari Sekar yang kabarnya terjerat banyak hutang dan tidak bisa kembali ke Indonesia. Ada juga Vincent (Doni Alamsyah), seorang Indonesia keturunan China yang merupakan mitra Gandi yang juga bersedia membantu mencari Sekar. Nampaknya Vincent menaruh rasa yang lebih terhadap Mayang. Selain menceritakan pencarian Virgo kedapa Sekar, film ini juga mengisahkan aneka macam kehidupan para TKW di Hong Kong sana.
Segala drama dan konflik yang disajikan disini sangatlah menarik dan disusun dengan begitu rapi sehingga lezat untuk diikuti. Berbagai pesan sosial juga tetap disisipkan secara efektif dan gampang dicerna. Hal-hal itu sangatlah penting alasannya apabila film ini disajikan terlampau berat karenanya akan menjadi kurang mengena mengingat film ini intinya ingin menyinggung duduk kasus TKW yang harusnya bisa diserap semua orang dan aneka macam kalangan penonton. Mulai dari konflik abang beradik yang bisa dengan gampang dipahami semua orang alasannya hal tersebut sudah acapkali terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Banyak juga konflik yang disajikan mengenai kehidupan para TKW yang mungkin sudah diketahui orang banyak yaitu mengenai permasalahan keuangan yang mereka alami dimana itu terjadi oleh aneka macam macam hal yang diceritakan dengan ringan tapi menarik. Lola Amaria juga bisa memperlihatkan sisi persatuan dan persaudaraan antar TKW yang bisa menciptakan penonton bersimpati. Tidak lupa juga terdapat sindirian mengenai pandangan masyarakat khususnya petinggi negara mengenai TKW sebagai "Pahlawan Devisa" dimana walaupun mereka disebut satria tapi tidak ada tindak lanjut konkret terhadap sebutan tersebut walaupun hanya memperlihatkan donasi bagi mereka.

Untuk urusan akting, keseluruhan pemain berakting lumayan bahkan tergolong baik. Yang terbaik dimata aku yakni seorang Titi Sjuman. Memerankan tokoh TKW kesulitan uang yang mau melaksanakan apapun demi mendapat uang, Titi mampu secara total menghidupkan abjad tersebut baik dari logat Jawa yang kental sampai segala umpatan yang beberapa kali beliau lontarkan. Untuk abjad lain juga tidak kalah. Apalagi mereka mampu melafalkan aneka macam macam bahasa dengan logat khas masing-masing dengan baik tanpa canggung.


OVERALL: Salah satu film Indonesia terbaik tidak hanya untuk tahun 2010 kemudian tapi juga dari semua yang pernah aku tonton.

RATING:

Ini Lho Hobo With A Shotgun (2011)


Tahun kemudian "Machete" karya Robert Rodriguez jadi film pertama yang diangkat menurut salah satu dari 5 trailer palsu yang ditampilkan pada film Grindhouse-nya Tarantino dan Rodriguez. Dan setahun berselang film kedua berbasis dari trailer tersebut kembali dirilis. Kali ini yang dibentuk ialah "Hobo With a Shotgun" yang disutradarai oleh sutradara asal Kanada, Jason Eisener. Berbeda dengan "Machete" yang mempertahankan Dany Trejo sebagai pemeran utama sama dengan trailernya, kali ini Rutger Hauer menggantikan Dave Brunt untuk berperan sebagai sang gelandangan bersenjatakan shotgun. Apakah gelandangan dengan shotgun ini dapat menyaingi kegilaan dan kualitas dari laki-laki Mexico gondrong dengan goloknya?

Seorang gelandangan/Hobo bau tanah tanpa nama (Rutger Hauer) sedang melaksanakan perjalanan di suatu kota. Hidupnya sehari-hari memang tidak pernah tentu dan tinggal dijalan dengan membawa kereta belanjaan sebagai kawasan menyimpan semua barang-barangnya. Hobo itu memasuki kota "Hope Town" dengan membawa keinginan untuk hidup gres yang lebih baik. Tapi keinginan itu musnah sehabis menyaksikan bahwa kota tersebut ternyata ialah kota yang sudah dikuasai oleh The Drake (Brian Downey) yang abnormal dan kejam. The Drake bersama kedua anaknya Slick (Gregory Smith) dan Ivan (Nick Bateman) tidak segan membunuh dan membantai orang yang tidak mereka sukai hanya untuk kesenangan dan tidak ada seorangpun yang berani melawan.
 
Awalnya Hobo tersebut menentukan tidak cari duduk kasus dengan melawan The Drake. Tapi itu semua berubah ketika ia melihat seorang pelacur yang diperlakukan semena-mena oleh Slick. Hobo kemudian menolong pelacur berjulukan Abby (Molly Dunsworth) tersebut. Bahkan Abby mempersilahkan gelandangan itu tidur dirumahnya. Lama kelamaan kesabaran Hobo habis. Apalagi pihak kepolisian disana juga sudah dikuasai oleh The Drake dan tidak dapat diandalkan. Rasa keadilan yang beliau miliki membuatnya nekat. Dengan bersenjatakan sepucuk senjata laras panjang beliau mulai memburu setiap penjahat yang ada dikota tersebut. Targetnya tentu saja menghabisi The Drake dan semua anak buahnya.

Film ini pada karenanya memang tidak menunjukkan plot yang spesial, akting yang sekelas Oscar, ataupun Istimewa efek megah layaknya summer movie. Tapi film ini memiliki semua hal yang diperlukan oleh pecinta film grindhouse. Kesadisan yang dihadirkan secara murahan memang jadi ciri khas sekaligus kelebihan film macam ini dimana poin itu malah jadi faktor kesenangan terbesar. "Hobo With a Shotgun" memiliki hal tersebut. Bahkan film ini tidak hanya asal sadis dan berdarah, tapi kesadisan itu juga tidak pandang bulu. Jika film lain menyerupai "Machete" mungkin masih sungkan untuk membantai wanita, ibu-ibu ataupun anak-anak, film ini tidak. Adegan aben bus berisi bocah-bocah kecil ialah pola kesadisannya. Hal itu lebih disturbing dari adegan berdarah manapun di film ini.

Untuk abjad dan akting para pemainnya tidak usah diragukan lagi. Tidak usah diragukan dalam artian mereka niscaya akan menghadirkan akting yang berlebihan, cenderung terbelakang dan konyol. Tapi itulah asyiknya film grindhouse. Tanpa menghadrikan akting memukau, film tersebut sudah dapat menghibur penonton. Kalau ada yang kurang mungkin tidak ada gadis yang ditampilkan sexy berlebihan dan vulgar disini.

OVERALL: Film eksploitasi yang mampu menghibur dari banyak sekali aspek. Keren dan konyol sekaligus sadis.

RATING:

Ini Lho 13 Assassins (2010)

Dari judulnya saya sudah sanggup menebak bagaimana jalan dongeng film ini. 13 orang yang direkrut untuk menjalankan misi pembunuhan terhadap seseorang atau beberapa orang. Dalam misi tersebut sudah tentu 13 orang tersebut tidak akan semuanya bertahan hidup. Dan yang sanggup dipastikan bertahan hidup yakni orang yang menjadi pemimpin sekaligus orang yang merekrut 12 orang lain untuk membantunya menjalankan misi tersebut. Memang plot menyerupai itu sudah bukan lagi hal baru. Beberapa film baik yang gres menyerupai "Bodyguard & Assassins) hingga yang masuk kategori klasik macam "Seven Samurai" dan remake Holly-nya (Magnificent Seven" kesemuanya memakai rujukan dongeng menyerupai itu. Walaupun ceritanya kurang frsh, kelebihan film macam ini yakni pada penggalan ketika misi itu dijalankan. Bagaimana adegan agresi yang ada ditampilkan apakah seru atau tidak.

Film ini ber-setting pada masa pemerintahan Shogun Tokugawa Ieyoshi yang merupakan Shogun Jepang yang terakhir. Pada ketika itu, Jepang sedang berada dalam masa tenang dimana para samurai tidak lagi mengangkat pedang mereka untuk bertempur mengorbankan hidup mereka. Tapi dibalik kedamaian tersebut ternyata ada pihak yang menyebabkan keresahan dan berpotensi membangkitkan kurun peperangan. Dia yakni Naritsugu (Goro Inagaki) yang merupakan adik tiri dari Shogun Tokugawa Ieyoshi. Merasa dirinya kebal hukum, Naritsugu dengan seenaknya membantai banyak orang. Kemudian tersiar kabar bahwa Naritsugu akan dilantik sebagai petinggi. Hal itu tentunya menyebabkan keresahan. Tidak sanggup menindak Naritsugu secara hukum, salah seorang penasehat Shogun, Doi Toshitsura meminta proteksi seorang samurai senior berjulukan Shimada Shinzaemon (Koji Yakusho) untuk membunuh Naritsugu.

Maka Shinzaemon mulai mengumpulkan anggota untuk sanggup menjalankan misi yang terlihat tidak mungkin tersebut sebab Naritsugu tidak hanya sadis dan andal pedang tapi juga memiliki banyak pasukan yang mencapai ratusan orang. Shinzaemon hasilnya berhasil mengumpulkan 11 orang lain yang terdiri dari beberapa samurai dan pembunuh berpengalaman hingga yang masih muda dan belum punya pengalaman membunuh orang. Keponakan Shinzaemon, Shimada Shinrokuro (Takayuki Yamada) juga turut serta. Ditengah jalan mereka juga bertemu dengan pemburu yang berkepribadian unik, Kiga Koyata (Yusuke Iseya) yang hasilnya melengkapi pasukan Shinzaemon menjadi 13 orang. Dengan segala taktik dan taktik yang berbau gambling, 13 orang pembunuh ini mencoba menghabisi Naritsugu yang dilindungi oleh 200 orang pasukannya.
Dari segi plot tebakan saya hampir sepenuhnya benar. Inti dari film ini sama dengan film-film lain yang sudah saya sebutkan diatas. Bahkan film ini punya sedikit kekurangan pada penggalan perekrutan anggota yang berjalan sangat cepat dan berlalu begitu saja nyaris tanpa greget. Hal itulah yang menciptakan tidak semua anggota pembunuh tersebut menerima porsi yang sama. Tapi untungnya, dari beberapa samurai yang menerima porsi lebih, dominan menarim diikuti. Tokoh Hirayama dan Kiga yakni favorit saya. Hirayama dengan skill pedang yang tak tertandingi terlihat sangat keren disini. Sedangkan Kiga yang memang asing dan sedikit gila membuatnya tidak sulit menjadi abjad yang disukai dan menarik.

Dari porsi action juga termasuk seru dan menegangkan. Peperangan 13 orang melawan 200 orang dihadirkan dengan sangat mengasyikkan dan didukung dengan dampak yang cantik dan setting perkampungan kawasan peperangan yang realistis. Sayangnya atas nama "membuat film jadi seru", budi sedikit dikesampingkan menyerupai yang sering muncul dalam film serupa. Jika 13 lawan 200 berarti setidaknya 1 orang harus menghabisi 16 musuh, Dan sejauh yang saya lihat, yang mereka habisi lebih dari sejumlah itu. Tapi tak apalah mengingat peperangannya dihadirkan dengan seru dan menarik. Film yang benar-benar mengandalkan segi action yang memang seru dan penuh darah sebagai hiasan.

Ini Lho Under The Tree (2008)

Setelah "Opera Jawa" yang penuh dengan segala metafora sekaligus keindahan budaya Jawa, pada 2008 kemudian Garin Nugroho kembali menciptakan film yang bisa dibilang mirip-mirip dengan "Opera Jawa". Kemiripan itu terletak pada gaya penceritaan yang masih setia dengan konsep metafora yang sarat dengan pesan tersirat dan bagaimana kedua film tersebut mengeksplorasi budaya-budaya tradisional Indonesia dimana dalam "Under the Tree" giliran Bali yang ditonjolkan. Kisah di film ini berputar pada 3 sosok perempuan yang memiliki permasalahan hidup yang berbeda-beda dan secara kebetulan sama-sama berada di Bali.

Maharani (Marcella Zalianty) menuju Bali disaat dirinya sedang menghadapi permasalahan dengan sang Ibu dan mencoba mencari pemecahan secara spiritual disana. Ada juga Tian (Nadia Saphira) yang merupakan selebriti sekaligus anak orang kaya yang disana selalu mengikuti seorang seniman bau tanah Bali, Ikranagara (Ikranagara), Yang ketiga ialah Dewi (Ayu Laksmi) seorang penyiar radio yang tengah berada dalam dilema untuk memperahankan atau menggugurkan kandungannya dikarenakan sang janin mengalami kelainan pada otaknya dan apabila dilahirkan hanya bisa hidup beberapa saat. Tiga plot utama itulah yang nantinya akan membawa kita pada perjalanan penuh simbolis, kesan mistis dan pesan tersirat dari seorang Garin Nugroho.
Jangan berharap konflik 3 perempuan tadi akan menciptakan mereka saling terhubung dan bertemu untuk hasilnya hal tersebut menciptakan mereka bisa menuntaskan problem mereka masing-masing. Karena hingga final 3 problema tersebut terus berkembang masing-masing tanpa bersinggungan satu sama lain. Tapi ketiganya tetap memiliki benang merah untuk urusan tema. Seperti judulnya yang menyebut kata pohon, "pohon" jugalah yang menghubungkan 3 kisah ini. Pohon disini saya artikan sebagai keluarga dan bisa juga sebagai sosok ibu yang menjadi peneduh dan memayungi keluarga khususnya sang anak yang merupakan "benih" dari pohon tersebut.  Film ini memang tidak lepas dari korelasi antar keluarga khususnya anak dan ibunya.
Ketiga plot tersebut juga memiliki adegan metafor-nya masing-masing yang kesemuanya sama-sama menarik dan unik. Kisah Maharani memiliki 2 adegan yang menarik bagi saya. Satu adegan dimana ia berada di kamar dan tiba-tiba ada penari laki-laki yang menarikan sebuah tarian Bali dan Maharani hanya meringkuk di sudut kamar. Adegan itu sendiri hingga film berakhir gagal saya temukan tafsirannya. Sedangkan yang kedua ialah disaat abjad yang diperankan Dwi Sasono memakaikan pakaian tradisional Bali kepada Maharani dimana saya menangkap adegan itu penuh dengan nuansa seksualitas. Apakah itu berarti digambarkan pada dikala itu keduanya bekerjasama seks atau ada tafsiran lain menigngat sebelum itu sang laki-laki menyampaikan bahwa Maharani membuatnya teringat akan ibunya.

Pada dongeng mengenai Tian, gadis muda ini terlihat mengejar-ngejar seorang seniman tua. Apakah ia jatuh cinta pada orang bau tanah itu dimana ia terlihat menciptakan kata-kata indah untuk semua hal yang dilakukan sang laki-laki bau tanah tersebut termasuk menyebarkan tatto dan memungut bunga dijalan. Tapi kemudian diketahui bahwa ayah Tian ialah tersangka kasus korupsi. Apakah Tian menganggap Ikranagara sebagai sosok ayah ideal yang ia cari? Terdapat sebuah adegan dimana Tian menggunakan kardus untuk menutupi kepalanya sebagai citra bahwa ia merasa sangat aib akan perbuatan sang ayah. Terdapat juga adegan pementasan calon arang yang diperankan Ikranagara yang penuh nuansa mistis.

Yang ketiga ialah kisah Dewi. Dilema mengenai apa yang harus ia lakukan pada janinnya menghiasi sepanjang cerita. Mungkin Dewi terlihat membenci sang janin dimana ia terlihat memainkan gunting dengan garang didekat perutnya, bahkan memukul perutnya kemudian terlihat menyerupai melampiaskan amarahnya pada kelapa. Kemudian Dewi juga memakan mengupas kemudian memakan telur dengan "brutal" dimana telur juga bisa diartikan sebagai benih dan sama artinya dengan janin yang ia kandung. Tapi apabila ia membenci sang janin mengapa ia mengalami dilema? Apakah bahwasanya yang ia benci bukan sang janin tapi kondisi janin yang tidak normal tersebut? Cukup susah menyimpulkan dan mencerna film ini secara keseluruhan dan dalam satu tafsir niscaya sebab Garin memang sengaja menciptakan film ini multi tafsir. Tapi disitulah keindahan utama film ini.

RATING:

Ini Lho Mtv Movie Awards 2011 (Winners List)

Ajang penghargaan paling pop. Itulah kesan aku bagi MTV Movie Awards yang memang lebih sering memenangkan film yang sedang terkenal di kalangan dewasa daripada yang berkualitas. Contoh konkret yaitu kemenangan Twilight Saga dan para pemainnya dalam 2 tahun terakhir mengalahkan film-film macam "The Dark Knight" dan "The Social Network". Dan tahun ini lanjutan dari saga Twilight yakni "Twilight Saga: Eclipse" kembali mendominasi dengan memenangkan 5 dari 12 nominasi yang ada. Berikut ini daftar pemenang "MTV Movie Awards 2011" beserta daftar pilihan saya.

BEST MOVIE
Winner           : The Twilight Saga: Eclipse
My Choice     : The Social Network

BEST MALE PERFORMANCE
Winner           : Robert Pattinson - The Twilight Saga: Eclipse
My Choice     : Jesse Eisenberg - The Social Network


BEST FEMALE PERFORMANCE
Winner           : Nasrani Stewart - The Twilight Saga: Eclipse
My Choice    : Natalie Portman - Black Swan


BEST BREAKOUT STAR
Winner          : Chloe Grace Moretz - Kick Ass
My Choice    : Chloe Grace Moretz - Kick Ass

BEST VILLAIN
Winner          : Tom Felton - Harry Potter and the Deathly Hallows
My Choice    : Mickey Rourke - Iron Man 2


BEST COMEDIC PERFORMANCE
Winner          : Emma Stone - Easy A
My Choice   : Emma Stone - Easy A


BEST SCARED-AS**T PERFORMANCE
Winner         : Ellen Page - Inception
My Choice  : Ryan Reynolds - Buried

BEST KISS
Winner        : Nasrani Stewart & Robert Pattinson - The Twilight Saga: Eclipse
My Choice : Natalie Portman & Mila Kunis - Black Swan

BEST FIGHT
Winner       : Robert Pattinson v.s. Bryce Dallas Howard & Xavier Samuel
My Choice : Joseph Gordon-Levitt v.s. Hallway Attacker


BEST JAW DROPING MOMENT
Winner       : Who Knew Getting a Bieber Lap Dance Would Only Cost as Much as a Movie Ticket? - Justin Bieber (from Justin Bieber: Never Say Never)
My Choice : Steve-O Flies Through the Air with the Greatest of Ease: In a Porta-Potty Filled with Feces - Steve O (from Jackass 3D)

BIGGEST BADASS STAR
Winner       : Chloe Grace Moretz
My Choice : Robert Downey Jr.


BEST LINE FROM A MOVIE
Winner       : "I want to get Chocolate Wasted!" — Alexys Nycole Sanchez (from Grown Ups)
My Choice : "You mustn't be afraid to dream a little bigger, Darling" - Tom Hardy (from Inception)


MTV GENERATION AWARD
Reese Witherspoon

Ini Lho Batas (2011)

Sineas lokal kita tampaknya sedang latah baik itu dalam hal baik dan buruk. Dalam hal buruk, banyak sineas yang latah dengan terus menerus menciptakan film horror-seks kacrut yang sayangnya justru terus mendulang uang. Sedangkan untuk para sineas yang niat menciptakan film sebagai karya seni dan bukan hanya pengeruk uang tampaknya juga sedang terjadi latah walaupun latah yang dimaksud disini tidak sepenuhnya dalam konteks yang jelek bahkan bisa dibilang cukup baik. Akhir-akhir ini film yang mengangkat tema suku - suku pedalaman lokal cukup banyak bermunculan. Film-film tersebut biasanya mengeksplorasi keindahan alam serta banyak sekali macam kebudayaan lokal yang ada di masing-masing daerah. Sepertinya "wabah" ini diawali oleh kesuksesan "Laskar Pelangi" 3 tahun yang lalu. Setelah "Lost in Papua" dan "The Mirror Never Lies" kali ini giliran "Batas" karya sutradara Rudi Soedjarwo yang muncul.

"Batas" menceritakan kedatangan Jaleswari (Marcella Zalianty) ke tempat Borneo di Kalimantan yang juga merupakan perbatasan antara Indonesia dengan Malaysia. Tujuan kedatangan Jaleswari yaitu untuk memeriksa kenapa proyek pendidikan yang diberikan oleh perusahaan tempatnya bekerja tidak pernah berjalan lancar disana dimana guru-guru yang dikirim selalu tidak pernah bertahan lama. Disana Jaleswari dibantu oleh Adeus (Marcell Domits) yang juga seorang guru. Disana Jaleswari juga disambut oleh sang kepala suku, Panglima Adayak (Piet Pagau). Tapi selain menyambut Jales, Panglima juga seakan mengisyaratkan bahwa ada sesuatu misteri di tempat tersebut yang menanti Jaleswari. Apa bersama-sama penyebab kegagalan proyek tersebut? Apa ada hubungannya dengan seorang gadis tidak dikenal yang sedang dalam kondisi shock dan termangu berjulukan Ubuh (Ardina Rasti) yang berada dirumah Nawara (Jajan C. Noer)? Misteri juga muncul dari laki-laki berjulukan Otik (Otiq Pakis) yang awalnya ramah tapi dibalik itu menyerupai terpendam maksud lain.

Maraknya film berjenis ini punya sisi negatif dan positif. Sisi positifnya yaitu banyak budaya dan tempat yang mungkin masih jarang diketahui orang menjadi lebih dikenal lagi. Pemandangan alam indonesia yang kaya itu juga akan lebih terksplorasi. "The Mirror Never Lies" yaitu bukti keberhasilan eksplorasi pemandangan alam yang luar biasa indah. "Batas" juga memperlihatkan hal yang kurang lebih sama walaupun alam yang diperlihatkan tidak se "wah" di "The Mirror Never Lies", tapi banyak sekali pemandangan hutan khususnya di sepanjang sungai dan setting kampung lokal sudah cukup buat saya. Tapi sisi negatif hal itu juga ada. Bukan mustahil plot yang ada menjadi sangat predictable dan klise. Dan "Batas" terasa mencoba menyajikan hal yang lain untuk mencegah hal itu.

Selain gosip pendidikan dan kebudayaan lokal serta mimpi untuk hidup yang lebih baik (standar film sejenis) "Batas" juga mencoba mengangkat tema lain menyerupai jual beli TKI ilegal yang dipekerjaklan paksa ke Malaysia hingga konflik perbatasan negara yang sedikit disinggung. Bahkan film ini bersama-sama sudah mencoba tampil secara filosofis dilihat dari kekerabatan antara judul dan jalan cerita. Kata "Batas" disini bisa dikaitkan dengan bagaimana setiap aksara yang ada dalam film ini mencoba mendobrak segala batas dalam kehidupan mereka. Seperti misalnya bagaimana Jales mencoba mendobrak batas disaat beliau memutuskan untuk terus mengatakan sumbangsih ilmunya walaupun menerima banyak sekali ancaman dan bahaya. Untuk hal-hal tersebut film ini layak menerima acungan jempol.

Tapi rasanya "Batas" terlalu jauh dalam perjuangan mereka mendobrak batas dalam bercerita sehingga malah kehilangan batasan-batasan yang seharusnya ada dalam perjuangan mereka mengatakan suguhan konflik ddan kisah pada penonton. Usaha tersebut tidak diikuti dengan sanksi yang maksimal. Konflik yang cukup banyak ditampilkan dan bercabang gagal dimaksimalkan penceritaan serta penyelesaiannya. Padahal durasi diatas 110 menit seharusnya tidaklah kurang. Berbagai kisah yang ada terasa tidak menerima klarifikasi yang memuaskan di akhirnya. Apalagi penyelesaian serta ending yang diberikan terlalu menggampangkan dan malah mengulur-ulur hal yang tidak perlu daripada memaksimalkan durasi yang ada untuk lebih mengatakan klarifikasi dan pendalaman terhadap banyak sekali kisah yang ada. Beberapa narasi (maunya) puitis dari tokoh Jaleswari juga sangat mengganggu buat saya.

Dibandingkan eksplorasi keindahan alam dan kebudayaan serta kisah dan konflik yang ada, keunggulan film ini yang paling berhasil malah ada di departemen akting. Aktris dan pemeran yang ada hampir semuanya mengatakan performa terbaik mereka. Piet Pagau dan Ardina Rasti yaitu dua orang terbaik dalam film ini. Piet Pagau benar-benar bisa memperlihatkan sosok kepala suku yang dihormati, ditakuti tapi juga memiliki permasalahan dan "batas" tersendiri dalam kehidupannya. Tatapan dan gesturnya entah itu disaat menjadi orang bijak ataupun sedang murka sangat efektif dan berhasil membangun emosi karakternya dengan baik. Sedangkan Ardina Rasti tampil tanpa obrolan disini. Hanya berbekal mulut wajah, beliau berhasil dengan sangat luar biasa menghidupkan seorang Ubuh yang kondisinya masih rapuh. Jenis tugas yang jarang muncul di perfilman lokal.

Aktor cilik Alifyandra bisa dibilang cukup manis dalam debut aktingnya ini. Memang masih terasa kaku dan kurang di beberapa pecahan tapi cukuplah untuk dikategorikan bagus. Marcella Zalianty yang menjadi sorotan utama juga tidaklah jelek walaupun tertutupi oleh penampilan Piet Pagau dan Ardina Rasti yang lebih baik. Yang kurang mungkin yaitu dari Arifin Putra, Jajang C. Noer dan Marcell Domits. Tapi khusus untuk Arifin dan Jajang bukan sebab akting jelek tapi lebih sebab tokoh mereka tidak diberikan porsi yang lebih. Sedangkan Marcell Domits yang juga seorang debutan masih naik turun performanya walaupun tidak jelek juga.


OVERALL: "Batas" mungkin bukan jajaran film terbaik. Masih sangat banyak kekurangan khususnya pada teknik bercerita. Tapi "Batas" masih merupakan karya yang pantas sanggup apresiasi lebih khususnya untuk beberapa pemainnya.

RATING:

Ini Lho Platoon (1986)

Film ini ialah bab pertama dari trilogi "Vietnam's War" karya Oliver Stone sebelum "Born on the Fourth of July" dan "Heaven & Earth". Hal yang masuk akal Stone menciptakan banyak film mengenai perang Vietnam karena dirinya pernah menjadi bab dalam perang tersebut dan mengetahui secara niscaya apa yang sesungguhnya terjadi disana sehingga bisa dipastikan film-film perang Vietnam karya Stone memiliki cerita dan unsur-unsur yang kurang lebih sama dengan kenyataan yang ada. Di film inio Oliver Stone menggaet beberapa pemain drama yang kalau kita lihat kini ialah sebuah ensemble cast yaitu Charlie Sheen, Tom Berenger, Willem Dafoe, Forest Whitaker, Tony Todd, hingga Johnny Depp yang masih gres merintis karir 2 tahun sebelumnya. "Platoon" juga berhasil meraih "Best Picture" untuk Oscart tahun 1987 sekaligus membawa sang sutradara Oliver Stone meraih "Best Director".

Chris Taylor (Charlie Sheen) gres saja bergabung dengan pasukan yang sedang bertugas di pedalaman Vietnam. Chris sesungguhnya ialah anak dari keluarga kaya, tapi beliau menentukan meninggalkan dingklik kuliah alasannya ialah mencicipi ketidak adilan dimana orang kaya selalu menerima hidup lezat dan selamat dari perang, sedangkan orang miskin selalu menderita dan menjadi yang pertama terbunuh dalam perang. Tapi penderitaan yang dialami baik dari mental maupun fisik dalam peperangan itu ternyata jauh lebih berat dari yang ia bayangkan.
Rutinitas yang diisi dengan jalan keluar masuk hutan ditambah baku tembak dengan NVA (North Vietnamese Army) menciptakan kejiwaan prajurit termasuk Chris menjadi mulai goyah. Bisa jadi mereka akan mati setiap harinya. Ditengah rasa stres tgersebut, beberapa prajurit itu malah melaksanakan kekerasan dan pembunuhan terhadap warga sipil yang tidak bersalah. Orang dibalik tindak kekerasan itu ialah Sersan Barnes (Tom Berenger). Disisi lain Sersan Elias (Willem Dafoe) tidak oke terhadapa tindak kekerasan tersebut dimana keduanya malah menjadi bermusuhan satu sama lain. Hal itu tidak pelak menciptakan pasukan tersebut yang harusnya bersatu malah terbagi dua antara yang memihak Barnes dan yang memihak Elias.
Kelebihan utama film ini tentu pada penggambaran kondisi perang yang ada. Film bertema perang biasanya dibagi dalam 2 jenis. Yang pertama ialah yang menentukan pendekatan action dimana film tersebut lebih menitikberatkan pada "serunya" sebuah peperangan. Film macam ini akan lebih disukai penikmat film hiburan yang mencari ledakan dari awal hingga tamat film. Yang kedua ialah film perang yang lebih mengeksplorasi sisi kejiwaan insan yang terlibat dalam perang tersebut. Biasanya film macam itu mengandalkan penggambaran perang yang layaknya neraka dunia dengan lebih menyorot pada detail masalah. "Platoon" sesungguhnya lebih condong ke jenis kedua. Tapi hebatnya film ini tidak lantas melupakan sisi keseruan perang begitu saja. Saya kagum dengan tata bunyi film ini yang begitu berhasil embangun situasi mulai dari bunyi ledakan hingga bunyi kecil macam bunyi burung, serangga dan lainnya. Tidak heran departemen sound film ini berhasil menang Oscar.


Akting para pemainnya juga masuk kategori bagus. Tom Berenger menciptakan tokoh Barnes menjadi terlihat jahat dan menyerupai "unbeatable". Sebuah karakterisasi antagonis yang tidak Istimewa dalam film action memang, tapi beliau berhasil menghidupkannya dengan sangat baik dimana beliau diganjar Golden Globe untuk "Best Supporting Actor" dan menerima nominasi Oscar juga di kategori tersebut. Willem Dafoe juga tidak kalah baik. Karakter Elias yang beliau mainkan dan Barnes ialah 2 sosok yang mewakili hitam putih dalam perang sekaligus penggambaran ambiguitas moral. Barnes memang melaksanakan kekerasan pada rakyat sipil sedangkn Ellias membenci hal tersebut. Tapi disisi lain Elias ialah seorang pecandu yang coba mengalihkan pikirannya dari perang dengan barang tersebut sedangkan Barnes justru sosok prajurit "bersih". Sebuah ambiguitas yang ditampilkan dengan sangat baik dalam film ini.

Charlie Sheen yang menjadi sosok utama film ini juga tampil baik hanya saja karakternya kalah menarik dibandingkan Elias dan Barnes. Aktor favorit saya, Johnny Depp kiprahnya tidak besar disini. Tapi menarik juga melihatnya menjadi sosok yang berperan sebagai penerjemah alasannya ialah kemampuan abjad Lerner yang beliau mainkan dalam berbahasa Vietnam. Siapa yang menduga dirinya dan Forest Whitaker akan menjadi nominator Oscar juga sekitar hampir 20 tahun sejak film ini.

OVERALL: Salah satu film perang terbaik dengan menyinggung sisi kejiwaan prajurit tanpa melupakan sisi hiburan yang menampilkan adegan perang yang menghibur.


RATING: