Showing posts sorted by relevance for query blue-is-warmest-color-2013. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query blue-is-warmest-color-2013. Sort by date Show all posts

Saturday, January 12, 2019

Ini Lho Blue Is The Warmest Color (2013)

Diadaptasi dari novel grafis berjudul sama karangan Julie Maroh, Blue is the Warmest Color ialah film yang tidak hanya berhasil meraih Palme d'Or pada ajang Cannes Film Festival tahun kemudian namun juga berhasil mengguncang dengan kontroversi yang muncul alasannya ialah konten seksualnya yang sangat vulgar. Selain alasannya ialah kemenangannya di Cannes film ini memang banyak dibicarakan alasannya ialah adegan seks lesbian yang dilakoni oleh dua aktrisnya dimana adegan tersebut disajikan dengan vulgar dan berlangsung selama lebih dari tujuh menit. Beberapa dongeng miring wacana perlakuan tidak mengenakkan sutradara Abdellatif Kechiche kepada para kru dan pemainnya juga turut mengiringi perilisan film ini. Namun diluar segala kontroversi tersebut, Blue is the Warmest Color memang sebuah film yang begitu berpengaruh dalam bertutur selama durasinya yang mendekati tiga jam. Menggabungkan kisah coming-of-age wacana pencarian jati diri dengan kisah romansa erotis sesama jenis, film ini menandakan bahwa segala momen vulgar dan ketelanjangan yang hadir bukan sekedar cari sensasi belaka namun merupakan sebuah aspek substansial yang tidak bisa dipisahkan sebagai salah satu pondasi emosi filmnya. Jika dalam novel grafisnya ada sosok Clementine, maka versi filmnya mempunyai Adele (Adele Exarchopoulos), seorang dewasa Sekolah Menengan Atas berusia 17 tahun.

Bersama teman-temannya Adele sering bergosip wacana para laki-laki di lingkungan sekolah mereka. Adele sendiri tengah memulai sebuah korelasi dengan Thomas (Jérémie Laheurte), namun anehnya Adele tidak mencicipi adanya gejolak ibarat cinta dan hasrat dalam korelasi tersebut. Suatu hari ia dan sahabatnya yang gay, Valentin (Sandor Funtek) pergi ke sebuah gay bar. Disanalah Adele bertemu dengan Emma (Lea Seydoux), seorang gadis tomboy berambut biru yang dulu pernah berpapasan dengannya di jalan. Keduanya pun mulai saling mengobrol dan rutin bertemu sekedar untuk menghabiskan waktu bersama mengobrol di taman. Perlahan keduanya pun mulai berpacaran dan tinggal bersama. Hari-hari mereka diisi dengan kebahagiaan dan hasrat memuncak yang selalu tersalurkan lewat korelasi seks yang penuh gairah. Namun memasuki paruh kedua dalam kisah kehidupan Adele semuanya perlahan mulai berubah dimana segala kebahagiaan dan cinta mereka mulai menerima cobaan. Termasuk dilema yang terjadi berkaitan dengan pencarian jati diri dan orientasi seksual dari Adele.

Jika dalam novel grafisnya warna biru terasa mencolok alasannya ialah selain rambut Emma gambar lainnya diberi warna hitam putih. Dalam versi filmnya, sutradara Abdellatif Kechiche melaksanakan hal yang ibarat dengan apa yang dilakukan oleh Krzysztof Kieślowski dalam trilogi tiga warna miliknya, yakni sebanyak dan sedetail mungkin memasukkan sebuah warna dalam hal ini biru pada tiap-tiap set dan properti dalam film. Mulai dari hal besar yang nampak terang ibarat layar LCD, kostum pemain, air maritim bahkan hingga hal-hal terkecil ibarat ornamen yang terdapat pada piring dan gelas didominasi oleh warna biru. Tentunya yang paling mencolok ialah warna biru dari rambut Emma. Tapi ini bukan hanya style tanpa substansi, alasannya ialah tanpa sadar dengan mendominasinya warna biru penonton pun dibentuk selalu teringat pada sosok Emma dan secara tidak sadar pula mulai terikat dan tertarik pada sosoknya. Bagaikan sebuah subliminal message film ini bisa menciptakan bawah sadar penontonnya terikat dengan sosok Emma si gadis berambut biru. Kita sebagai penonton seolah diajak mencicipi adiksi dan ketertarikan yang sama ibarat yang dirasakan oleh Adele terhadap Emma. Karena itu pada paruh kedua disaat Adele tidak lagi berambut biru, kita juga mencicipi rasa kehilangan yang sama ibarat Adele. Kita merasa bahwa Emma sudah berubah dan kita pun rindu akan sosoknya yang lama. Inilah kenapa filmnya berjudul Blue is the Warmest Color alasannya ialah selama menonton kita akan mengasosiasikan warna biru dengan segala kehangatan, romantisme dan kebahagiaan.
Durasinya mendekati tiga jam. Alurnya berjalan dengan tempo medium namun beberapa kali muncul adegan berulang. Pergerakan dari satu momen ke momen lain pun memakan waktu yang tidak sebentar. Berbagai hal tersebut memang berpotensi menciptakan filmnya terasa melelahkan. Tapi semua itu dilakukan dengan tujuan untuk menghadirkan segala aspek dalam kehidupan Adele dengan sejelas dan sedetail mungkin. Paruh pertamanya bertutur wacana Adele yang tengah kebingungan mencari jati diri berkaitan dengan orintasi seksual miliknya. Kita diperlihatkan bahwa Adele benar-benar melaksanakan pencarian dan bukan hanya dirundung kebingungan belaka. Dia mencoba berafiliasi dengan laki-laki tapi pada karenanya segala hasrat yang ia cari lebih bisa terpuaskan dengan wanita. Kemudian bagaikan takdir akan jodoh kita diperlihatkan bahwa Adele secara tidak sadar melaksanakan pencarian terhadap Emma dan mereka pun karenanya dipertemukan. Paruh keduanya pun berjalan dengan serupa, bagaimana korelasi Emma dan Adele mulai bermasalah dan perlahan tergerus semuanya dihadirkan setahap demi setahap dimana tiap tahap dipaparkan dengan begitu mendetail hingga penonton bisa benar-benar memahami isi hati dan pikiran karakternya. Film ini tidak pernah terburu-buru berjalan, bahkan dialog pertama Adele dan Emma gres terjadi ketika filmnya sudah berjalan lebih dari 40 menit.

Kemudian kita hingga pada adegan seksnya yang kontroversial itu. Berjalan lebih dari tujuh menit (kabarnya versi yang diputar di Cannes berjalan lebih dari 10 menit), adegan tersebut benar-benar disajikan dengan vulgar, gamblang dan begitu liar. Adegan seksual yang terasa begitu faktual bahkan disaat saya sudah tahu bahwa kedua aktrisnya menggunakan vagina buatan yang ditempelkan diatas yang orisinil saya tetap "terbuai" akan begitu nyatanya adegan tersebut. Tanpa ada iringan musik sedikitpun, hanya erangan dan rintihan dua aktrisnya yang menemani tujuh menit penuh gairah ini dan itu menciptakan adegannya terasa begitu jujur. Segala hasrat, gairah dan cinta yang ada pada kedua karakternya terpancar begitu berpengaruh dari seks yang terjadi. Tentu saja totalitas serta chemistry yang terjalin antara Adele Exarchopoulos dan Lea Seydoux turut berperan besar pada keberhasilan itu. Namun apakah adegan seks yang panjang dan vulgar ini hanya sekedar penambah bumbu erotisme? Tentu saja tidak, alasannya ialah berkat momen inilah saya dibentuk mencicipi bagaiaman besarnya hasrat dan rasa cinta yang terjalin diantara Adele dan Emma. Pada karenanya adegan seks tersebut tidak hanya menjadi sekedar tempelan dan perhiasan belaka ibarat yang banyak terjadi dalam film-film mainstream kebanyakan dimana pemain yang berafiliasi seks pun nampak tidak menikmati adegan seksnya.

Blue is the Warmest Color tidak hanya sebuah film LGBT saja alasannya ialah secara keseluruhan kontennya bisa terasa universal. Ini ialah kisah coming-of-age wacana pencarian jati diri, kisah cinta berbalut seksual yang tentu saja dibumbui kecemburuan sebagai konfliknya. Krisis identitas yang dialami Adele terasa begitu berpengaruh mengiringi film ini, bahkan hingga filmnya berakhir pun konflik wacana krisis identitas tersebut masih terus menghantuinya. Namun kalau bicara wacana LGBT, film ini juga memperlihatkan bahwa tidak semua LGBT berasal dari keluarga yang tidak harmonis. Lihatlah Adele dan Emma yang berasal dari keluarga hangat, ramah dan penuh tawa. Bahkan kedua orang bau tanah Emma menegtahui bahwa sang puteri ialah lesbian dan tidak mempermasalahkan itu. Karena pada karenanya mereka tahu bahwa Emma menjalani hidupnya sebagai lesbian dengan tetap berlandaskan rasa cinta. Blue is the Warmest Color ialah film yang begitu berpengaruh baik dari dongeng maupun dari sisi akting dan chemistry dua aktrisnya. Lihat bagaimana keduanya terasa ebgitu jatuh cinta ketika dialog diawal korelasi mereka,lihat bagaimana adegan seks yang penuh gairah itu, lihat juga bagaimana momen putus yang berisikan pertengkaran yang mengaduk-aduk emosi itu. Bukan hal gampang menciptakan adegan seks lesbian yang penuh gairah dan erotisme menjadi sebuah adegan penuh kedalaman emosional, dan Blue is the Warmest Color berhasil melakukannya.

Friday, January 11, 2019

Ini Lho Stranger By The Lake (2013)

Jika Blue is the Warmest Color yang berkisah perihal pasangan lesbian berhasil memenangkan Palme d'Or, maka Stranger by the Lake yang berceritan perihal sepasang gay berjaya di Un Certain Regard sesudah Alain Guiraudie menjadi Best Director. Kedua film ini memang terasa punya kemiripan dari segi tema namun sebenarnya berbeda. Keduanya sama-sama mengangkat korelasi sesama jenis yang dibumbui banyak sekali adegan seks yang vulgar, namun Blue is the Warmest Color merupakan sebuah drama coming-of-age panjang penuh letupan emosi berdurasi hampir tiga jam sedangkan Stranger by the Lake adalah drama sunyi dengan bumbu thriller pembunuhan yang berdurasi hanya 92 menit. Stranger by the Lake juga berhasil memenangkan Queer Palm di ajang Cannes tahun lalu, yakni sebuah penghargaan bagi film-film yang mengangkat tema LGBT (Lesbian-Gay-Bisexual-Transexual). Berlokasi di danau Sainte-Croix yang terletak di Prancis pada suatu isu terkini panas, awalnya film ini akan membawa kita berkeliling pantai bersama Franck (Pierre de Ladonchamps) seorang gay yang rutin tiba ke danau tersebut entah sekedar untuk berenang, berjemur atau mencari laki-laki lain untuk diajak berafiliasi seks. Di kawasan tersebut memang merupakan hal yang masuk akal ketika dua orang laki-laki yang tidak saling kenal menghabiskan hari bersama dengan berafiliasi seks. Bahkan dominan laki-laki disana telanjang bulat.

Disana juga Franck berkenalan dengan Henri (Patric d'Assumcao) seorang laki-laki straight yang gres saja berpisah dengan istrinya. Keduanya pun mulai sering ngobrol meski hanya sebentar. Namun sebenarnya perhatian Franck tertuju pada seorang laki-laki berjulukan Michel (Christophe Paou) yang begitu ia sukai dan telah usang ia perhatikan. Namun ternyata Michel sudah mempunyai pasangan lain, hal yang menciptakan Franck sangat kecewa. Namun di suatu senja ia tidak sengaja melihat pemandangan mengerikan ketika Michel menenggelamkan pacarnya di tengah danau. Ironisnya sejak kejadian itu Franck dan Michel malah menjadi erat dan rutin bersama di danau tersebut. Stranger by the Lake akan mengajak kita mengamati hari demi hari yang berlalu secara perlahan dimana setiap hari gres diawali dengan adegan Franck memarkir mobilnya di erat mobil-mobil pengunjung danau lainnya. Bagi banyak orang film ini akan terasa repetitif alasannya yang hadir selalu hampir sama, diawali dengan Franck memarkir mobil, berbicara dengan Henri, bertemu dengan Michel, berafiliasi seks, ngobrol sebentar hingga gelap kemudian kembali lagi, begitu seterusnya. Sebuah hal yang repetitif saja mungkin sudah menciptakan filmnya susah dinikmati, apalagi ditambah dengan temponya yang lambat, suasana yang sunyi dan sepi, hingga adegan gay seks yang vulgar. Saat saya bilang vulgar disini artinya benar-benar faktual dimana hampir setiap momen disajikan secara vulgar entah itu handjob, blowjob sampai ejakulasi yang menunjukkan sperma berceceran.

Anda yang tidak terbiasa mungkin akan merasa tidak nyaman apalagi filmnya setia menunjukkan para laki-laki berjemur dan berjalan di danau tanpa pakaian dengan penis yang terpampang jelas. Filmnya juga berjalan dengan tempo yang lambat. Lambat bukan hanya alasannya banyaknya momen repetitif tapi alasannya alurnya memang bergerak dengan begitu lambat. Kesunyian setia menghiasi film ini dimana obrolan tidak terlalu banyak, letupan emosi hampir tidak ada, obrolan antar huruf yang bagaikan tanpa hook meski esensial, banyaknya long take yang menampilkan gambar-gambar statis, sampai fakta bahwa filmnya sama sekali tidak mempunyai scoring semakin menambah kesunyian yang ada. Memang Stranger by the Lake adalah film yang sepi tapi bukanlah film yang hampa. Kesunyian dan atmosfer kelam (di samping banyaknya adegan yang literally gelap secara pencahayaan) terasa begitu mencengkeram. Cara Alain Guiraudie memaparkan kisahnya menciptakan saya sulit mengalihkan padangan dari tiap adegannya, tidak peduli sesulit apapun untuk dinikmati berkaitan dengan konten vulgar dan temponya yang begitu lambat. Kita diajak untuk melaksanakan observasi terhadap apa yang terjadi di danau tersebut lengkap dengan segala interaksi yang terjadi antara tiap-tiap karakternya. Belum lagi perasaan ngeri yang selalu menghiasi filmnya sesudah momen pembunuhan yang terjadi.
Ya, diluar dugaan meski dengan segala kesunyiannya Stranger by the Lake sanggup menawarkan kengerian dan ketegangan yang tidak main-main. Beberapa kali muncul adegan yang berfokus pada situasi danau yang sepi dibandingkan karakternya, dan hal tersebut sukses menciptakan saya seolah ikut berada di danau yang sunyi dan gelap tersebut. Perasaan yang muncul ialah saya bagaikan berada sendirian di danau tersebut, lengkap dengan suasana sepi dan hambar yang begitu menyayat. Belum lagi ketika adegan pembunuhan terjadi dimana saya merasa menjadi saksi mata pribadi di lokasi kejadian. Lewat sebuah adegan long take selama beberapa menit yang diambil dari jarak jauh, bersama Franck saya merasa ikut mengintip terjadinya pembunuhan. Tidak ada darah, tidak ada teriakan, tidak terlihat pula lisan korban, hanya sebuah pemandangan mengerikan ketika sesuatu yang awalnya terlihat menyerupai main-main menjadi horor faktual yang pribadi mencengkeram. Belum lagi klimaksnya yang begitu menegangkan. Kejar-kejaran di titik puncak memang masih hadir dengan tempo yang lambat, sunyi dan banyak menghadirkan gambar-gambar gelap, tapi lagi-lagi ketegangannya terasa begitu faktual alasannya saya seolah diajak ikut berada disana. Saya diajak ikut bersembunyi dalam gelap diantara rumput-rumput ilalang sambil sesekali mengintip dan mencuri dengar untuk mencari tahu kondisi sekeliling. 

Tapi diluar konten seksual dan kisah pembunuhannya, Stranger by the Lake juga berkisah perihal banyak hal. Ada sebuah studi huruf disaat seseorang dihadapkan pada situasi yang dilematis. Begitu dilematis alasannya situasi tersebut berkaitan dengan sesuatu yang telah usang ia dambakan dan tentus saja tidak gampang bagi Franck untuk menuturkan kebenaran alasannya itu artinya ia harus rela kehilangan kesempatan bersama Michel, laki-laki yang sudah usang ia kagumi. Seperti judulnya, film ini juga bertutur perihal keasingan dimana semua karakternya ialah orang gila satu sama lain, bahkan bagi penonton mereka pun ialah orang gila yang latar belakangnya tidak kita ketahui. Yang kita tahu hanyalah mereka dipersatukan di danau tersebut. Stranger by the Lake memang mengingatkan pada ketegangan yang tersaji dalam film-film Alfred Hitchcock disaat penonton diposisikan tidak hanya sebagai orang yang mengamati dari "dunia lain" yang terpisah dari filmnya tapi seolah diajak turut berada di dalam filmnya. Pada jadinya Stranger by the Lake bukanlah menjadi sebuah porno meski punya banyak konten seksual yang vulgar, semuanya terasa seksi, mencengkeram, menegangkan bahkan mengerikan. Bonus juga untuk poster filmnya yang begitu keren dengan menampilkan tabrakan penuh warna yang unik.

Thursday, January 10, 2019

Ini Lho Top 20 Movies Of The First Half Of 2014

Tanpa terasa tahun 2014 sudah berjalan setengahnya. Selama enam bulan ini, ada lebih dari 110 film yang saya tonton dimana sekitar 80% diantaranya merupakan film yang dirilis pada tahun ini. Ada yang sesuai ekspektasi, ada yang diluar dugaan mengecewakan hingga yang diluar dugaan berada jauh diatas ekspektasi saya. Pada postingan kali ini saya akan menuliskan 20 film yang berdasarkan saya ialah yang terbaik dalam separuh jalan tahun 2014. Tapi bersama-sama menyampaikan bahwa kedua puluhnya ialah film terbaik rasanya kurang tepat sebab ini ialah pilihan yang sangat subjektif dan sangat sulit. Yang pasti, daftar ini akan banyak berubah di awal tahun depan ketika saya merilis daftar film terbaik 2014...dan ya ada film-film Indonesia dalam daftar ini. Berikut ini ialah daftarnya yang saya susun berdasarkan alfabet.


AUGUST: OSAGE COUNTY
Kumpulkan pemeran dan aktris tabiat berbakat, masukkan mereka dalam satu film wacana disfungsi keluarga dimana naskahnya merupakan pembiasaan naskah teater yang penuh dengan saling lempar dialog, maka anda akan mendapat sebuah film yang begitu intens dan mampu menciptakan penontonnya mencicipi banyak sekali macam emosi. (review)

BIG BAD WOLVES
Saya sangat menyukai karya Tarantino, dan tentunya sebuah film yang disebut olehnya sebagai film favorit pastinya merupakan film yang akan memuaskan saya. Benar saja, ini ialah thriller asal Israel yang begitu jago dalam menggabungkan aspek kekerasan dan komedi hitam dalam kisah wacana pencarian pembunuh sekaigus pemerkosa gadis cilik ini. (review)

BLUE IS THE WARMEST COLOR
Pemenang Palme d'Or tahun 2013 kemudian ini memang menyajikan sebuah lesbian sex scene yang berjalan lebih dari delapan menit, tapi ini bukan sekedar dongeng wacana seks maupun lesbian. Ini ialah kisah coming-of-age berbalut romansa yang begitu emosional. (review)

DALLAS BUYERS CLUB
Drama berpengaruh penuh usaha yang pada kesudahannya merubah jalan hidup seorang manusia, sama kuatnya dengan usaha dan perubahan yang dilakukan Matthew McConaughey dan Jared Leto untuk mendalami tugas mereka yang berujung pada penampilan luar biasa keduanya..dan tentunya piala Oscar. (review)

EDGE OF TOMORROW
Salah satu kejutan paling menyenangkan tahun ini. Saya tidak menyangka film terbaru dari Tom Cruise ini akan terasa seru, manis, emosional dan lebih diluar dugaan lagi sangat lucu. Menyenangkan melihat sebuah film brainless macam ini tidak berusaha sok serius. (review)

INSIDE LLEWYN DAVIS
Saya tidak tahu menyerupai apa tepatnya musik folk itu apalagi menyukainya. Coen Brothers tidak hanya berhasil memberi "ilmu" itu pada saya tapi juga menciptakan saya menyukainya. Atmosfernya dingin, depresif, tapi begitu sentimentil dan indah berkat gambar dan musiknya yang menghanyutkan. Tentunya masih sedikit abstrak ala Coen Brothers. (review)

JALANAN
Saya tidak menyangka berkesempatan menonton dokumenter luar biasa ini sebab minimnya layar yang diberikan. Dokumenter yang bagus menciptakan penontonnya tahu akan hal yang diangkat. Tapi dokumenter yang Istimewa dapat menciptakan penonton "terpengaruh" bahkan berubah pola pikirnya. Saya merasa film ini sukses melaksanakan yang kedua kepada saya. (review)

JOURNEY TO THE WEST: CONQUERING THE DEMONS
Kecuali CJ7 yang kekanak-kanakan Stephen Chow selalu jago dalam menggabungkan komedi dengan sebuah genre lain yang jauh berbeda. Dalam film ini beliau berhasil menciptakan saya tertawa, terharu, bahkan tegang sebab ada juga momen yang terasa cukup sadis disini. (review)

NOBODY'S DAUGHTER HAEWON
Perkenalan saya dengan sutradara arthouse asal Korea Selatan Hong Sang-soo ternyata berakhir dengan manis. Sebuah sajian sederhana baik dari segi dongeng maupun teknisnya yang punya kedalaman luar biasa. Eksplorasi wacana kesendirian, perempuan dan obsesi laki-laki Korea Selatan pada para perempuan cantik, tema-tema yang selalu muncul dalam film-film Hong. (review)

NYMPHOMANIAC
Mungkin film yang paling saya nantikan tahun ini. Epic sex tale dari Lars Von Trier yang total mencapai empat jam ini memang dibagi kedalam dua film, tapi saya lebih menentukan melihatnya sebagai satu film sebab memang keduanya ialah satu kesatuan utuh yang tidak terpisahkan. Eksplorasi lengka wacana adiksi seksual, saking lengkapnya ini bagaikan sebuah pembiasaan film dari sebuah jurnal. (review)

OMAR
Film dari Palestina ini ialah pola tepat bagaimana sebuah film menggabungkan banyak sekali macam genre dan berhasil memaksimalkan tiap-tiap genrenya tanpa terasa berat sebelah tapi tetap terperinci fokusnya. Sebuah peristiwa yang berhasil menciptakan saya amat sangat bersimpati pada abjad utamanya. (review)

PHILOMENA
Premis wacana pecarian seorang ibu pada anaknya yang sudah terpisah 50 tahun saja sudah terasa dramatis dan menyentuh, apalagi ketika disesuaikan menjadi sebuah drama yang berpengaruh dalam semua lini mulai dari naskah hingga akting para pemainnya. Belum lagi twist memilukan di penghujung filmnya. (review)

THE GRAND BUDAPEST HOTEL
Saya percaya kalau Wes Anderson itu gila dibalik semua warna warni cerah yang selalu ia munculkan dalam filmnya. Film terbarunya ini aneh, seru, manis sekaligus tragis. Tapi tentu saja yang paling memukau ialah sisi visualnya bagaimana tiap detail properti dan set-nya benar-benar disajikan dengan begitu indah. (review)

THE LEGO MOVIE
Absennya Pixar dalam merilis film tahun ini tidak terasa berkat animasi yang satu ini. Jelas lucu, terperinci seru dan begitu banyak abjad tenar yang muncul entah sebagai tokoh utama maupun cameo. Tapi yang paling memukau ialah bagaimana naskahnya yang begitu cerdas dalam menyajikan humor cerdas maupun referensi-referensi yang jikalau anda tidak teliti akan terlewat. Sequel please. (review)

THE LUNCHBOX
Saya jarang menonton film India, tapi yang satu ini begitu hebat. Menyulap kisah cinta sederhana lewat surat menyurat dalam kotak makanan menjadi sajian kisah cinta yang sampaumur tapi tetap amat sangat romantis. Entah berapa kali saya bersorak dan tertawa mendukung kisah cinta kedua abjad utamanya. (review)

THE PAST
Seperti judulnya ini ialah eksplorasi wacana bagaimana tokoh-tokohnya menghadapi masa kemudian yang "menghantui" mereka dan menghalangi mereka untuk melangkah maju dalam hidupnya. Penuh emosi dalam pertengkaran demi pertengkaran yang disajikan dengan intensitas tinggi. (review)

THE RAID 2 : BERANDAL
Film Indonesia paling saya nanti tahun ini dan tidak mengecewakan. Layaknya sebuah sekuel, film kedua ini jauh lebih besar, lebih luas dan lebih gila. Bukan hanya di dalam sebuah gedung tapi mengambil daerah di penjuru kota Jakarta. Masih brutal, masih intens bahkan lebih indah. (review)

THE SPECTACULAR NOW
Satu lagi pola bagaimana merubah hal sederhana menjadi sesuatu yang spektakuler. Coming-of-age berbalut kisah cinta yang hangat dan manis ini diluar dugaan tidak berakhir klise. Maksud saya tidak klise ialah pengemasannya. Adegan paling selesai film ini yang ambigu tetap menciptakan saya mencicipi patah hati. (review)

THE WOLF OF WALL STREET
Film paling gila dan kacau (dalam artian positif) dari Scorsese dengan salah satu akting terbaik dan tergila juga dari Leonardo Di Caprio. Saya tidak duduk masalah duduk tiga jam menonton kisah epic nan gila dari para orang-orang gila yang dihadirkan disini. Gila. (review)

X-MEN: DAYS OF FUTURE PAST
Sejauh ini merupakan blockbuster terbaik tahun 2014. Punya adegan agresi yang spektakuler dan menegangkan, terasa kelam, punya sisi emosional yang cukup baik dan dipenuhi karakter-karakter gres yang lovable mulai dari Quicksilver hingga Blink. Adalah cerdas bagaimana film ini memanfaatkan time travel untuk memperbaiki segala keburukan yang dimiliki The Last Stand. (review)