Showing posts sorted by relevance for query i-saw-devil-2010. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query i-saw-devil-2010. Sort by date Show all posts

Thursday, January 31, 2019

Ini Lho I Saw The Devil (2010)

Bayangkan tunangan kita yang sedang memiliki korelasi yang sangat baik dengan kita tiba-tiba saja menghilang dan ditemukan telah tewas dalam kondisi badan yang termutilasi. Saya jamin diatas 90% orang pada ketika itu akan pribadi dirasuki amarah serta dendam yang akan menciptakan mereka benar-benar mengutuk perbuatan sang pembunuh dan pribadi berkata bahwa ia akan membalas dendam sang tunangan kemudian pergi menyiksa si pembunuh. Tapi apa ada yang hingga benar-benar merealisasikan hal tersebut? Tentu sangat jarang di kehidupan nyata. Tapi di dunia film hal itu sudah sering terjadi ibarat juga dalam "I Saw the Devil" ini. Bedanya, huruf utama yang melaksanakan balas dendam di film ini punya cara lain untuk membalas perbuatan sang pembunuh.

Seorang kepetangan kepolisian berjulukan Soo-hyun (Lee Byung-hun) sedang diselimuti kesedihan dan hasrat balas dendam yang sangat besar setelah mendapati tunangannya, Joo-yun (Oh San-ha) ditemukan tewas dalam kondisi yang mengenaskan dimana tubuhnya dimutilasi oleh sang pembunuh. Hasrat membalaskan penderitaan sang tunangan telah membutakan mata Soo-hyun. Dia memutuskan menyelidiki sendiri kasus ini. Akhirnya ia mendapat 4 tersangka yang diduga sebagai pelaku pembunuhan tersebut. 2 tersangka awal ternyata bukan orang yang dicari dan berakhir dalam kondisi sekarat setelah dihajar habis oleh Soo-hyun. Akhirnya Soo-hyun hingga pada tersangka ketiga, seorang laki-laki berjulukan Kyung-chul (Choi Min-sik). Kyung-chul memang ialah pembunuh Joo-yun yang sebenarnya. Tidak hanya Joo-yun tapi Kyung-chul juga sudah membunuh, memutilasi dan memperkosa banyak gadis bagus lain. Setelah melaksanakan penyelidikan dirumah Kyung-chul, Soo-hyun yakin dialah pembunuh tunangannya dan mulai melaksanakan perburuan. Setelah pertemuan pertama mereka yang berakhir dengan perkelahian brutal yang ia menangkan, Soo-hyun meminumkan sebuah kapsul yang berisi alat pelacak sehingga alat itu tertanan dalam badan kyung-chul. Hal itu menciptakan segala gerak-geriknya terus diawasi dan didengar Soo-hyun. Maka dimulailah agresi balas dendam lanjutan dari Soo-hyun yang berusaha memperlihatkan rasa sakit dan teror bertahap terhadap sang pembunuh sadis.

Luar Biasa! Itulah kata yang terus terucap dalam benak saya selama dan setelah menonton film ini. Semua aspek yang ada dalam "I Saw the Devil" digarap dengan begitu baik dan tidak biasa. Dari segi tema memang terdengar klise, tapi begitu kita tahu bagaimana agresi balas dendam yang dilakukan disini maka kita akan segera sadar bahwa film ini bukanlah film balas dendam biasa. Film ini juga dibalut dengan tingkat kesadisan yang cukup untuk menciptakan beberapa orang merasa agak mual dan ngilu melihatnya. Kesadisan yang diberikan dalam film ini hebatnya terasa sekali tidak asal sadis dan banjir darah tapi memang pas dengan momen film dan untuk makin membangun suasana.
"I Saw the Devil" memiliki berbagai momen yang menciptakan saya terpana alasannya ialah disajikan dengan begitu menegangkan tapi tidak melupakan keindahan dalam pengambilan gambarnya. Adegan opening yang ber-setting ditengah salju pada tengah malam ialah sebuah pembukaan yang benar-benar pas bagi film ini. Kemudian salah satu adegan favorit saya tentunya ialah pertemuan pertama antara Soo-hyun dan Kyung-chul yang bagaikan sebuah pertarungan satu lawan satu antara monster dengan monster. Saya bagaikan melihat Michael Myers v.s. Jason Voorhees tanpa topeng dan atribut mereka. Sebuah pertarungan seru dan menegangkan yang akan menjadi awal perburuan dan kejar-kejaran yang ternata masih manyimpan banyak momen menegangkan dan luar biasa lainnya.

Selain menyajikan intensitas ketegangan yang tidak mengendeur, sutradara Kim Ji-woon juga menyinggung mengenai ambiguitas moral dalam balas dendam itu sendiri. Perlukah balas dendam dilakukan? Awalnya kita memang mungkin akan menganggap bahwa Soo-hyun melaksanakan hal yang sempurna alasannya ialah perbuatan Kyung-chul memang sudah kelewatan. Soo-hyun bagaikan ksatria yang sedang memburu monster pembunuh. Tapi begitu si ksatria mulai mengayunkan pedangnya dengan gampang tanpa memikirkan hal lain selain membunuh, menikmati menyiksa dan membunuh yang ia lakukan, serta  pada balasannya bermandikan darah iblis sang monster kemudian apa bedanya sang ksatria dengan monstrer itu? Begitu juga yang terjadi pada Soo-hyun yang lambat laun menimbulkan kisahnya seakan tidak lagi agresi pengejaran balas dendam tapi menjadi pertarungan antar sesama psikopat.

Dan tentunya kredit lebih pantas diberikan kepada duo Lee Byung-hun dan Choi Min-sik. Dua pemain film yang namanya sudah cukup populer diseluruh dunia ini bisa menghidupkan huruf masing-masing dengan sangat luar biasa. Choi Min-sik dengan huruf Kyung-chul sukses membuatnya menjadi salah satu psycho killer terbaik dalam film yang pernah saya tonton. Tanpa topeng apapun, Kyung-chul terlihat sangat mengerikan dengan mulut dinginnya ketika membunuh.Orang ini menimbulkan "membunuh" seakan semudah memotong sayuran didapur. Sedangkan Lee Byung-hun sebagai Soo-hyun terlihat keren berdasarkan saya. Keren dalam artian segala sepak terjangnya, kemampuan bela diri, dan pada balasannya disaat ia menjadi sosok "psikopat baru" ia bisa memperlihatkan wajah masbodoh disaat membunuh orang walaupun yang ia bantai memang orang jahat.

Thursday, December 13, 2018

Ini Lho My 20 Favorite Horror Films For Your Halloween Movie Night Consideration

Ini bukan daftar film horor terbaik sepanjang masa. Terlalu banyak klasik yang belum saya tonton macam Living Dead Franchise-nya George Romero, banyak sekali body horror David Cronenberg, karya-karya Dario Argento (DVD Suspiria dan Night of the Living Dead saya berhenti di tengah jalan dan belum sempat melanjutkan), dan masih banyak lagi. Kedua puluh judul di bawah ialah film horor favorit saya sejauh ini, yang saya rangkum sebagai rekomendasi tontonan untuk Halloween yang sekitar seminggu lagi akan tiba. Daftar ini saya susun menurut urut alfabet.

1. A SERBIAN FILM (2010)
Mungkin  A Serbian Film bukan film paling sinting yang pernah ada, tapi cukup untuk menghadirkan shock value. Tak usah memikirkan apa benar kisahnya merupakan kritikan terhadap para pemegang kekuasaan. Nikmati saja parade kegilaan yang dikemas dengan aspek teknis mumpuni.

2. ERASERHEAD (1977)
Debut David Lynch ini ialah definisi tepat dari "mimpi buruk". Dipenuhi surreal imagery yang entah sanggup dipahami maknanya atau tidak namun tetap meninggalkan kesan disturbing. Kebingungan niscaya akan hadir, tapi begitu pula kengerian.

3. EVIL DEAD II (1987)
Kenapa bukan film pertama? Praktis saja, alasannya ialah disinilah Ash Williams menjadi badass antihero yang dicintai semua orang. Mengandalkan gore dan zombie dengan make-up murah namun mengerikan sebagai kesenangan utama. 

4. GROTESQUE (2009)
Lupakan Saw dan Hostel, karena film karya Koji Shiraishi ini ialah torture porn yang jauh lebih sinting di semua lini. Kesadisan jauh lebih tinggi, darah dan bagian badan berhamburan pun jauh lebih banyak. Mementingkan sadisme over-the-top daripada cerita, Grotesque akan menciptakan malam Halloween anda memuaskan penuh teriakan.....bahkan muntahan.

5. HALLOWEEN (1978)
Tidak lengkap menciptakan list film untuk Halloween tanpa film ini. Tapi bukan itu semata-mata alasan saya memasukkan karya John Carpenter ini. Jauh sebelum Michael Myers hanya menusukkan pisau tiap kemunculannya, dia ialah boogeyman yang rahasia menebar rasa takut secara pelan tapi pasti. It's more psychological horror than pure slasher, but definitely scary.


6. I SAW THE DEVIL (2010)
Elemen gore masih mendominasi, tapi ketegangan tidak lupa dibangun oleh Kim Ji-woon. Bahkan drama emosional pun turut mengiringi film bertemakan balas dendam ini. Saat kedua monster kesannya saling bertarung ialah puncaknya. 

7. KERAMAT (2009)
Masih menjadi film horor Indonesia favorit saya, bahkan melebihi Jelangkung sekalipun. Pembangunan atmosfernya sempurna, begitu pula penampakan hantu yang tidak asal. Kemunculan pocong itu masih jadi momen yang tidak berani saya lihat lagi sendirian. Tidak usah mempermasalahkan plot yang kadang tak masuk akal. Kepuasan horor ada di rasa takutnya.

8. MARTYRS (2008)
Film asal Prancis ini telah di-remake oleh Hollywood dan bakal tayang tahun ini. Berpadu dengan dongeng mengenai para cult, film ini akan meninggalkan kesan tidak nyaman apalagi dari ending sequence-nya.

9. MEN BEHIND THE SUN (1988)
Seperti A Serbian Film, ini ialah film yang dibentuk hanya untuk eksploitasi kekerasan namun bersembunyi dibalik kedok kritik sosial. Filmnya hanya berisikan eksperimen abnormal tidak manusiawi terhadap insan yang akan mengaduk-aduk isi perut penonton.

10. THE CURSE (2005)
Satu lagi karya Koji Shiraishi. Disaat banyak found footage masa sekarang tidak mempedulikan dongeng sehingga momen awal sebelum teror dimulai terasa membosankan ("Paranormal Activity" for perfect example) The Curse punya misteri yang kompleks dan menarik. Belum lagi pemaksimalan teknik found footage untuk teror yang terasa nyata.

11. PSYCHO (1960)
Hampir semua orang sudah tahu twist film ini bahkan sebelum menonton filmnya. Tapi itu bukan hal terpenting, alasannya ialah Hitchcock sang master of suspense memperlihatkan cara membangun ketegangan tingkat tinggi meski hanya melalui momen sederhana menyerupai ditilang oleh polisi.

12. REC (2007)
Atmosfer dengan memanfaatkan setting gelap dan scare jump yang ditawarkan sempurna. Bukan sekedar "asal lempar" namun memperhatikan timing secara tepat. Film ini punya salah satu scare jump terbaik yang pernah saya tonton.

13. RING (1998)
Versi remake dari Gore Verbinski tidaklah buruk, tapi versi original tetap jauh lebih baik. Inilah film disaat Sadako masih jadi hantu menakutkan dan bukan sumber olok-olok banyak sekali meme. Penampakan mata di final itu menciptakan saya berteriak kencang.

14. SHAUN OF THE DEAD (2004)
Bukti bahwa horor dan komedi sanggup disatukan. Edgar Wright sukses menawarkan kengerian zombie apocalypse yang brutal dengan komedi lucu yang saling bergantian mengisi. Bahkan disaat kedua hal ini hadir bersamaan pun efeknya sama-sama maksimal.

15. THE CABIN IN THE WOODS (2012)
Menyulap premis lama wacana kabin di tengah hutan menjadi surat cinta bagi genre horor. Cukup mengerikan, tapi kepuasan terbesar ada pada unsur meta terlebih ketika puluhan sosok ikonik dunia horor menyebar kegilaan berdarah. Mencari siapa saja monster yang muncul disini akan menjadi kesenangan tiada akhir.

16. THE FOG (1980)
John Carpenter di masa jayanya selalu menghadirkan horor atmosferik mengerikan lengkap dengan scoring ikonik, tidak terkecuali film ini. Kengerian dibangun perlahan tapi merambat secara niscaya layaknya kabut yang mendekat di filmnya. Antisipasi kita pun diubah menjadi ketegangan.

17. THE CONJURING (2013)
Instant classic dan karya terbaik James Wan. Lupakan Insidious, karena The Conjuring adalah bentuk tepat bagaimana menyajikan scare jump yang tidak murahan. Lihat saja adegan "tepuk tangan" itu. Bukti kejeniusan James Wan yang begitu bangsat!

18. THE EXORCIST (1973)
The best horror movie of all time? Boleh jadi. Bukan saja kengerian yang lebih banyak didominasi dibangun oleh akting (plus make-up) Linda Blair, tapi kalau anda ingin menyaksikan horor dengan penceritaan mumpuni, cobalah film ini. Drama wacana agama dijadikan pondasi besar lengan berkuasa oleh naskahnya.

19. TRICK 'R TREAT (2007)
Inilah antologi horor terbaik yang pernah saya tonton. Tiap segmen punya daya teror yang sama mengerikannya, dengan konsep kreatif plus twist efektif. Setting malam Halloween makin menciptakan film ini tepat berada dalam daftar.

20. UNFRIENDED (2014)
Rilisan terbaru di daftar ini yang dengan cepat menciptakan saya jatuh cinta dan pastinya ketakutan. Saya sanggup saja merekomendasikan klasik macam Nosferatu atau Frankenstein, tapi untuk penonton modern, tidak ada teror yang lebih sesuai dibandingkan Unfriended

Tuesday, January 15, 2019

Ini Lho Nameless Gangster (2012)

Nameless Gangster ialah sebuah film yang cukup fenomenal di Korea Selatan, dimana film ini ditonton oleh sekitar empat juta penonton hanya dalam jangka waktu 26 hari pemutarannya. Sempat menempati posisi puncak Box Office Korea Selatan selama tiga minggu, film ini pada akibatnya berhasil meraup pendapatan diatas $30 Juta. Selain tema gangster, Nameless Gangster juga menjual nama pemain-pemain utamanya yang termasuk pemeran papan atas. Disini ada Ha Jung-woo (The Chaser, The Yellow Sea) dan pemeran senior Korea Choi Min-sik. Film ini sendiri bisa dibilang merupakan kembalinya Choi Min-sik sehabis terakhir kali muncul di tahun 2010 kemudian dikala menjadi seorang pembunuh sadis dalam I Saw the Devil (dalam film animasi Leafie, A Hen into the Wild ia hanya menjadi pengisi suara). Tidak hanya sukses secara komersial, dari segi kualitas, film yang disutradarai oleh Yun Jong-bin ini juga banjir pujian. Salah satu kebanggaan tiba dari majalah Time yang menyebut Nameless Gangster sebagai sebuah film yang akan menciptakan Martin Scorsese bangga.

Choi Ik-hyun (Choi Min-sik) awalanya hanyalah seorang petugas pabean di sebuah pelabuhan yang sering mendapatkan suap bersama dengan teman-temannya sesama petugas. Sampai suatu hari dikala bertugas malam ia memergoki dua orang yang tengah membongkar muatan yang ternyata berisi 10 kilogram heroin. Choi tetapkan untuk menjual heroin tersebut kepada Choi Hyung-bae (Ha Jung-woo) yang merupakan seorang bos gangster yang disegani di Korea. Dimulai dari situlah kehidupan Choi Ik-hyun berubah. Memanfaatkan kemampuannya berbicara (atau lebih mungkin disebut "menjilat"), Choi mulai berubah dari sekedar seorang tak dikenal yang sok gansgter menjadi salah satu sosok berandal paling dikenal di Korea. Selain itu kita juga akan diajak melompat beberapa tahun kedepan disaat Presiden Korea menyatakan perang terhadap ulah gangster yang mengagungkan kekerasan, dimana pada dikala itu Choi telah ditangkap oleh pihak kepolisian.

Dalam 133 menit saya dibawa untuk menyaksikan sebuah bravura performance dari para pemeran dalam film ini. Choi Min-sik ialah pola tepat dari seorang pemeran yang bisa menjadi abjad yang dimainkan dibanding hanya sekedar memerankan orang lain. Seperti dalam Oldboy ataupun I Saw the Devil, Choi Min-sik mengatakan kapasitas sebuah akting yang sampai mencapai ke detil-detil karakternya. Choi Min-sik berhasil menampilkan sosok Choi Ik-hyun yang akil bicara dan lebih mementingkan otak daripada otot disaat menjalankan bisnisnya sebagai seorang gansgter. Dia ialah seorang yang licik dan licin dalam menjalankan aksinya. Dia tidak ragu menghancurkan dan mengkhianati pihak lain yang menghalangi jalannya. Tapi apakah sosoknya hanyalah abjad licik dan jahat ibarat itu? Nyatanya tidak alasannya Choi Ik-hyun punya alasan yang jauh lebih dalam disaat tetapkan terjun kedalam dunia gansgter dibanding hanya ingin meraih uang sebanyak mungkin. Choi Ik-hyun ialah seseorang yang bisa dibilang terbuang beberapa kali, mulai dari tempatnya bekerja, sampai dikala ia sudah terjun dalam dunia gangster pun ia masih sering dipandang sebelah mata. 
Dari situlah saya mencicipi bahwa dibanding hanya sekedar uang ia ingin menjadi sosok yang dipandang dan dihormati. Muak dengan segala kondisi yang merendahkan dirinya, Choi Ik-hyum ingin menjadi sosok yang dipandang bagaimanapun caranya. Tapi disisi lain tentunya ia juga mengincar uang dan harta sebanyak mungkin, dan itu tidak hanya untuk kepuasan pribadinya alasannya ia ialah sosok yang bisa dibilang family man. Ia sangat peduli dan mengasihi keluarganya, dan ia memanfaatkan kecerdasan dan posisi yang ia miliki untuk kepentingan pribadinya dan keluarganya sendiri. Selain Choi Min-sik, Ha Jung-woo juga tidak kalah memikat. Sosoknya terlihat lebih kalem namun juga menyimpan banyak hal termasuk rasa murung akhir aneka macam pengkhianatan yang pernah ia rasakan. Hubungan kedua abjad ini sendiri bergotong-royong mempunyai keindahan tersendiri. Menjelang simpulan film dikala Choi Ik-hyum melihat foto-fotonya bersama Hyung-bae, saya pribadi teringat bahwa mereka pernah menjadi sebuah kesatuan solid sebagai ganster dan keluarga yang hangat pula. Sebuah keindahan yang mungkin akan terlewat dibalik segala kekelaman dunia gangster. Ha Jung-woo sendiri terlihat bisa menjalin chemistry kuat dengan Choi Min-sik. Menarik melihatnya sama sekali tidak kalah walaupun harus beradu akting dengan pemeran senior ini.

Durainya yang 133 menit sama sekali tidak melelahkan, alasannya Nameless Gangster benar-benar bisa menggabungkan unsur otot yang mengatakan beberapa kekerasan (meski tidak terlalu brutal) dengan otak yang menciptakan film ini menjadi sebuah menu gansgter yang cerdas. Nameless Gangster tidak pernah mengagungkan kekerasan (baca: otot) ataupun otak. Film ini mengatakan kedua hal tersebut ialah hal yang saling mengisi dan diperlukan. Kisahnya bisa tampil begitu menghipnotis, sehingga menciptakan saya terus terpaku dan tidak mengalihkan perhatian sedikitpun dari layar. Saya benar-benar diajak mengikuti sebuah rangkuman perjalanan seorang gangster dan yang paling penting kisahnya mempunyai hati. Tentunya dalam sebuah dongeng wacana seorang biasa yang menjadi gangster akan ada sebuah momen penting dimana sang tokoh utama berubah luar dalam dari seorang biasa menjadi gangster. Jika dalam The Godfather momen itu ialah penembakan di restoran yang dilakukan Michael Corleone, maka dalam film ini momen tersebut muncul dalam adegan dimana Choi Ik-hyun terlibat dalam sebuah perkelahian didalam bar. Dari situlah saya merasa bahwa Ik-hyun telah menjadi sosok yang baru, benar-benar momen yang luar biasa.

Dengan kelebihan-kelebihan diatas, Nameless Gansgter terasa begitu manusiawi. Namun aneka macam detail lain makin menciptakan nuansa realistis tersebut makin terasa. Jika ini ialah sebuah film Hollywood maka saya yakin akan ada lebih banyak adegan agresi yang digarap dengan begitu stylish, namun dalam Nameless Gansgter, adegan-adegan tersebut digarap dengan begitu realistis. Orang berkelahi disini mungkin tidak digarap dengan koreografer ciamik dan keren layaknya The Raid,tapi justru disitulah poin pentingnya. Apakah didunia kasatmata anda pernah melihat sebuah perkelahian yang tertata begitu keren? Tapi bicara syle film ini juga bisa terlihat keren tanpa harus berlebihan. Berbagai triumphant moment yang seringkali dibalut slow motion selalu terasa keren. Komentar bahwa film ini akan menciptakan Scorsese gembira tampaknya muncul alasannya nuansanya yang cukup ibarat dengan film-film awal Scorsese. Bahkan ada sebuah adegan yang bagaikan (atau memang) sebuah penghormatan bagi adegan ikonik dalam Taxi Driver dimana abjad Choi Ik-hyun memegang pistol dan berbicara sendiri didepan cermin. Nameless Gangster ialah sebuah dongeng wacana kontrol dan power yang pada presentasinya juga begitu kuat. Saya tidak tahu apakah Scorsese akan gembira melihat film ini tapi niscaya ini ialah sebuah film gangster yang sangat bagus, salah satu yang terbaik dalam beberapa tahun terakhir.


Ini Lho The Yellow Sea (2010)

Setelah mengawali debut dengan The Chaser yang brutal dan menegangkan, sutradara Na Hong-jin kembali lewat film keduanya, The Yellow Sea yang rilis dua tahun kemudian. Lewat The Chaser Na Hong-jin memang bisa membuat sebuah crime-thriller yang begitu menegangkan dan terasa begitu emosional. Layaknya thriller Korea yang sedang terkenal kini ini, The Chaser juga punya banyak momen brutal dan berdarah meski masih dalam taraf yang normal. Dalam film keduanya ini, Na Hong-jin kembali mengajak dua pemeran yang menjadi tokoh utama dalam The Chaser yaitu Ha Jung-woo dan Kim Yoon-seok, bedanya di The Yellow Sea keduanya bertukar kiprah dimana Ha Jung-woo menjadi protagonist dan Kim Yoon-seok yaitu tokoh antagonist. Judul film ini sendiri diambil dari sebuah nama maritim yang memisahkan Cina dan Korea dimana maritim tersebut nantinya juga akan menjadi turning point dalam kehidupan tokoh utama film ini, Gu-nam (Ha Jung-woo, seorang supir taksi yang tengah menjalani kesulitan hidup. 

Gu-nam sebetulnya yaitu orang Korea yang kemudian menentukan menjadi imigran ke Cina. Disana ia bekerja sebagai seorang supir taksi. Tapi pekerjaannya tersebut tidak cukup untuk membiayai kehidupannya dan istrinya. Karena itulah sang istri kemudian menentukan pergi ke Korea untuk mencari pekerjaan, sedangkan Gu-nam menentukan tetap di Cina dan melanjutkan kehidupannya sebagai supir taksi. Waktu terus berjalan hingga enam bulan berlalu, tapi tidak ada kabar dari sang istri. Gu-nam sendiri makin mengalami kesulitan finansial dan terjebak hutang besar. Hobinya bermain mahjong juga turut membuat keuangannya makin buruk. Dalam kondisi itulah tiba-tiba ia mendapatkan sebuah usulan pekerjaan dari seorang bos kriminal berjulukan Myun-ga (Kim Yoon-seok). Myun-ga menjanjikan sejumlah uang yang bisa melunasi semua hutang Gu-nam. Tapi tentunya pekerjaan tersebut bukanlah pekerjaan biasa. Myun-ga meminta Gu-nam untuk membunuh seseorang di Seoul. Meskipun awalnya menolak, alhasil Gu-nam mendapatkan pekerjaan tersebut. DI Seoul Gu-nam alhasil tidak hanya menjalankan pekerjaannya tapi juga mencoba mencari sang istri. Tapi ternyata semuanya tidak berjalan sesuai rencana.

The Yellow Sea dimulai dengan cukup lambat. Sampai sekitar 45 menit pertama filmnya berjalan dengan tempo yang lambat, minim obrolan dan terasa kelam. Bagi penonton yang kurang sabar berpotensi "menyerah" pada momen ini alasannya yaitu bosan. Tapi sehabis itu, diawali dari sebuah kejutan yang dibalut dengan brutal, filmnya mulai bergerak cepat dan menegangkan. Sama ibarat nasib Gu-nam yang berubah sehabis kejutan tersebut, begitu juga filmnya berjalan. Pada bab ini, konflik yang dimunculkan semakin meluas. Ya, kalau dibandingkan dengan The Chaser yang "hanya" seputar germo yang mencari seorang pembunuh PSK, konflik dalam The Yellow Sea jauh lebih luas dan bercabang. Awalnya memang kita hanya disuguhi konflik perihal kiprah Gu-nam untuk membunuh sambil sesekali diselingi pencarian yang ia lakukan terhadap sang istri. Tapi sehabis turning point tersebut, kisahnya bertambah luas dan makin rumit. Tidak hanya melibatkan Gu-nam, tapi juga termasuk polisi, dan masuknya dua kubu gangster Cina dan Korea dalam ceritanya. Mudah selain memperluas lingkup cerita, kemunculan banyak sekali pihak tersebut turut membuat kisahnya bertambah rumit. Memang pada paruh kedua ini temponya makin cepat. Kita akan disuguhi adegan kejar-kejaran yang cukup seru, belum lagi banyak sekali momen brutal penuh darah yang disajikan dalam jumlah yang tidak sedikit. Yang membuat adegan perkelahiannya makin brutal yaitu alasannya yaitu pemakaian senjata tajam mulai dari pisau hingga kapak yang sangat dominan. Setelah paruh pertama yang lambat, paruh kedua berjalan cepat, intens dan penuh darah.
Namun seiring dengan temponya yang makin cepat, misteri dan kisahnya juga semakin rumit. Hal itulah yang membuat The Yellow Sea tetap tidak gampang diikuti meskipun temponya sudah semakin cepat. Daripada "berbaik hati" menunjukkan tanggapan misterinya secara gamblang, Na Hong-jin lebih menentukan membuat penontonnya memeras otak. Kita dituntut untuk berpikir cukup keras dan teliti dalam menonton film ini semoga bisa mengungkap fakta sebetulnya dari misteri yang ada. Bahkan hingga pada ending-nya pun kita dituntut untuk bisa menarik kesimpulan sendiri. Oya film ini juga punya sebuah credit-scene yang cukup misterius, dan kalau interpretasi saya betul, maka adegan di credit tersebut yaitu sebuah momen yang amat ironis khususnya bagi Gu-nam sehabis apa yang dialaminya sepanjang 140 menit durasi filmnya. Ya, tidak tanggung-tanggung, The Yellow Sea berjalan nyaris dua setengah jam dimana hal itu sekali lagi menambah faktor yang membuat film ini bukanlah film yang gampang diikuti khususnya bagi penonton yang kurang sabar dan tidak menyukai film dengan jalan dongeng yang rumit, berdurasi panjang dan diawali dengan lambat. Saya sendiri beranggapan bahwa konfliknya yang luas justru mengurangi keseruan film ini. Berbeda dengan The Chaser yang lebih sempit, lebih terfokus dan lebih personal, The Yellow Sea begitu ambisius dalam menghadirkan konfliknya dengan luas dan rumit. Sayangnya hal itu membuat ketegangan berkurang dan saya tidak terlalu mencicipi ikatan emosional yang berpengaruh dengan karakternya ibarat apa yang saya temui di The Chaser. 

Diluar segala konflik dan misterinya, The Yellow Sea yaitu sebuah citra tepat perihal kebusukan insan yang bersedia saling bunuh demi kepentingan pribadi. Manusia seringkali lebih buas daripada binatang buas itu sendiri. Disaat rasa sakit hati dan kerakusan akan harta menguasai maka menghabisi nyawa orang lain bukan lagi menjadi hal yang sulit untuk dilakukan. Sedangkan sosok Gu-nam menggambarkan seseorang yang mengalami kesulitan finansial dan bersedia melaksanakan apapun untuk menyambung hidup. Mungkin yang terasa agak kurang yaitu persoalan dan keraguan yang (seharusnya) dirasakan oleh Gu-nam ketika melaksanakan kiprah membunuhnya. Kenapa hal tersebut tidak disoroti? Sepertinya alasannya yaitu film ini terlalu berusaha menyoroti konflik yang jauh lebih besar dan luas sehingga hal yang lingkupnya lebih personal ibarat itu terlewatkan. Untuk urusan akting, saya paling suka Kim Yoon-seok yang berperan sebagai Myun-ga. Sosok Myun-ga tak ubahnya binatang buas yang telah kehilangan perasaan dan berdarah dingin. Myun-ga bisa dibilang telah bertransformasi dengan tepat sebagai binatang buas. Penampilan Kim Yoon-seok mengingatkan saya akan Choi Min-sik di I Saw the Devil yang sama brutal dan sadisnya. Secara keseluruhan The Yellow Sea masih dibawah The Chaser meski menyajikan konflik yang lebih besar dan rumit. Meski begitu film ini tetaplah tergarap dengan sangat baik dengan penggarapan adegan agresi yang maksimal dan seru.


Wednesday, January 16, 2019

Ini Lho Bedevilled (2010)

Kim Ki-duk tidak hanya seorang sutradara handal yang jago menciptakan film-film arthouse, namun juga andal dalam menelurkan sineas-sineas muda berbakat. Beberapa orang yang pernah menajdi astrada dalam film-film Kim Ki-duk juga telah berhasil menciptakan film mereka sendiri, sebut saja Juhn Jai-hong (Beautiful, Poongsan), Jang Hun (Rough Cut) hingga Jang Chul-soo yang menyutradarai Bedevilled ini. Tapi berbeda dengan kedua rekannya tersebut, Jang Chul-soo tidak menciptakan filmnya menurut naskah yang ditulis oleh Kim Ki-duk. Kaprikornus bisa dibilang Jang Chul-soo benar-benar telah lepas dari Ki-duk dalam debut penyutradaraan yang naskahnya ditulis oleh Choi Kwang-young ini. Bedevilled sendiri memiliki tema yang sudah berulang kali digunakan dalam film horror/thriller Korea, yakni mengenai balas dendam. Balas dendam memang menjadi sebuah tema yang sangat terkenal akhir-akhir ini dalam dunia perfilman Korea. Membahas tema balas dendam di film Korea akan ibarat dengan membahas tema hantu di perfilman Indonesia. bedanya meski punya jumlah yang banyak dengan tema balas dendam, namun dalam eksekusinya film-film tersebut selalu punya perbedaan yang menimbulkan masing-masingnya punya keunikan tersendiri dan digarap dengan maksimal.

Jika lebih banyak didominasi film bertema balas dendam ala Korea akan lebih mengetengahkan kisahnya dalam dunia kriminal atau investigasi, maka Bedevilled menggunakan pendekatan yang berbeda. Kisahnya berawal dari perkenalan kita dengan Hae-won (Ji Seong-won) seorang perempuan yang bekerja di sebuah bank di kota Seoul. Hae-won tampaknya yaitu penggambaran dari sosok yang sering kita sebut sebagai "wanita karir". Wajah cantik, tinggal di kota besar, punya pekerjaan yang menghasilkan uang lebih dari cukup, seakan sebuah kehidupan tepat untuk dibayangkan. Tapi banyak sekali kesibukan dan kepenatan yang ia alami ternyata cukup kuat baginya. Hae-won menjadi tipe orang yang tidak peduli dengan nasib orang lain. Yang ia pentingkan hanya mengurusi kepentingannya sendiri. Bahkan suatu hari di kantor ia pernah hingga membentak seorang perempuan bau tanah yang tengah mengalami kesulitan. Merasa perlu mengambil jeda dari banyak sekali kesibukkan tersebut, Hae-won menentukan berlibur ke sebuah desa yang terletak di pulau terpencil. Tempat tersebut tidak absurd baginya alasannya yaitu ketika kecil dulu Hae-won sering kesana untuk mengunjungi rumah sang kakek. Tapi yang ia temui disana bukanlah ketenangan alasannya yaitu ia harus menyaksikan kehidupan sobat kecilnya, Bok-nam (Seo Yeong-hie) yang selalu menerima perlakuan kejam dan tidak adil dari penduduk desa tersebut termasuk suaminya sendiri. Tentu saja Hae-won menentukan untuk tidak ikut campur dalam problem tersebut. Tapi tanpa ia duga akan terjadi sebuah hal mengerikan disana.

Bedevilled yaitu kisah wacana keegoisan. Bagaimana seorang insan bisa menjadi begitu kejam dan menutup mata terhadap kebenaran hanya alasannya yaitu kepentingan sendiri. Bagaimana seorang insan menentukan membisu daripada menyampaikan kebenaran jikalau kebenaran yang ia katakan bisa membahayakan dirinya. Padahal dengan menyampaikan kebenaran itu, ia bisa menyelamatkan orang lain. Hal tersebut sangat terlihat dari sosok Hae-won yang dari awal beberapa kali melaksanakan hal tersebut. Ia menentukan tidak menyampaikan identitas penjahat yang sebetulnya ketika ia berada di kantor polisi alasannya yaitu tidak mau terlibat lebih jauh dalam kasus tersebut. Ia tidak mau sedikit berusaha untuk membantu sang perempuan bau tanah di kantor. Ia menentukan berkata bahwa "orang yang sudah sampaumur harus bisa menjalani hidupnya sendiri" kepada Bok-nam yang telah begitu baik padanya selama ini ketika Bok-nam meminta santunan Hae-won untuk diajak ke Seoul. Kemudian kebiasaannya tersebut akan membawanya sendiri kepada sebuah insiden yang mengancam dirinya.
Hal tersebut juga berlaku pada para penduduk desa yang begitu kejam pada Bok-nam. Mereka begitu kompak untuk memihak suami Bok-nam yang telah bertindak begitu kejam pada sang istri. Mereka benar-benar telah menutup hati mereka akan kebenaran, alasannya yaitu yang mereka pedulikan yaitu kenyamanan diri sendiri. Hal tersebut menggambarkan kondisi dimana sebuah kebobrokan yang berkuasa dalam sebuah kelompok masyarakat. Namun kebobrokan itu sendiri nyatanya punya sebuah kekuatan yang menciptakan kelompok masyarakat tersebut bergantung padanya. Kebobrokan tersebut bisa menciptakan masyarakat menutup rasa kemanusiaan mereka demi kenikmatan diri sendiri. Hal tersebut tergambar ketika seluruh warga kampung yang terdiri dari perempuan bau tanah begitu membela suami Bok-nam walau jelas-jelas mereka tahu bahwa dialah yang bersalah. Namun disini ketergantungan mereka akan sosok pria yang jumlahnya sudah sangat sedikit di desa tersebut menciptakan mereka tidak rela apabila harus kehilangan sosok pria yang mereka pandang sebagai figur yang bisa diandalkan dalam menghidupi desa tersebut. Mereka merasa tanpa beberapa cowok bejat tersebut mereka tidak bisa menjalani hidup dengan lancar. Ironisnya jikalau diperhatikan justru wanita-wanita bau tanah itulah yang terus bekerja demi kelangsungan mereka dan desa tersebut. Sementara orang yang mereka bela dan lindungi hanya hidup seenak mereka.

Bedevilled akan membawa kita menelusuri segala bentuk kekejaman dan ketidak adilan tersebut selama satu jam lebih di paruh awal filmnya. Kita masih belum akan tahu arah niscaya film ini sebelum Hae-won menginjakkan kakinya di desa terpencil tersebut. Setelah itupun kita belum akan melihat horror sadisnya, namun kita akan dibawa untuk melihat lebih jauh kehidupan Bok-nam yang benar-benar menyedihkan. Kita diajak terlebih dahulu untuk bersimpati pada Bok-nam hingga pada titik tertinggi ketika ia harus mengalami hal terparah dan kesedihan paling menyedihkan yang bisa ia alami. Kita akan dibawa melihat banyak sekali kekejaman mulai dari yang sekedar omongan pedas nan menyebalkan hingga kekejaman yang benar-benar kejam dan tidak bisa ditoleransi yang akan menciptakan segala sumpah serapah keluar dari ekspresi kita. Lalu ketika segala kebejatan itu sudah hingga pada puncaknya barulah kita akan disuguhi agresi balas dendam yang disini benar-benar terasa memuaskan. Memuaskan bisa dalam arti eksekusinya yang sadis akan memuaskan para pecinta darah dan kekerasan dalam film. Memuaskan disini juga bisa dalam arti puas alasannya yaitu segala bentuk kekejaman yang kita saksikan tersebut karenanya akan dibalas dengan benar-benar setimpal.

Balas dendam selalu menyisakan sebuah ambiguitas moral khususnya jikalau itu berkaitan dengan hilangnya nyawa seseorang. Tapi dalam Bedevilled seolah ambiguitas tersebut coba dihapuskan ketika filmnya mengajak penonton secara tidak sadar untuk membenarkan agresi balas dendam yang dilakukan. Pada karenanya ketika agresi tersebut dilakukan dengan cara yang sadis dan menyakitkan, penonton terpuaskan. Tapi apakah hal itu yaitu hal yang benar dilakukan? Jika lebih banyak didominasi film macam I Saw the Devil akan berusaha menghadirkan hal tersebut sebagai hal yang ambigu, maka dalam Bedevilled kita akan diajak untuk meyakini bahwa dalam beberapa kasus balas dendam memang yaitu jalan yang tidak bisa dipersalahkan dan patut dilakukan. Balas dendam yang layak mungkin yaitu sebutan yang tepat bagi apa yang disajikan dalam film ini. Kemudian sehabis rentetan momen penuh darah tersebut kita akan dibawa pada sebuah simpulan dongeng yang saya rasa agak kepanjangan. Bedevilled akan beberapa kali menciptakan kita seolah sudah mencapai simpulan film padahal belum. Untungnya momen yang terjadi sehabis itu selalu sebuah momen yang memang layak untuk ditampilkan, dan ketika kita hingga pada simpulan yang sesungguhnya itu yaitu sebuah simpulan yang cukup manis sekaligus tragis. Inilah Bedevilled, sebuah film hebat wacana balas dendam yang tidak hanya seputar pembalasan dendam seorang tokoh namun lebih umum lagi ini yaitu wacana pembalasan kepada sebuah kebiasan jelek dari masyarakat ataupun individu yang sudah begitu mengakar dalam hidup mereka.

RATING:

Thursday, January 17, 2019

Ini Lho Top 10 Movies Of 2011

Setelah lewat setengah bulan dari 2011, karenanya saya putuskan untuk merilis daftar film 2011 FAVORIT saya. Ya, saya lebih suka menyebutnya favorit daripada terbaik alasannya yaitu penyusunan list ini juga sangatlah subjektif. Belum tentu film yang lebih berkualitas akan menerima urutan yang lebih tinggi. Beberapa film diluar list yang saya buat ini banyak yang berdasarkan saya lebih berkualitas menyerupai Contagion, Marta Marcy May Marlene, The Kid WIth A Bike dan masih banyak lagi. Tapi favorit memang bagi saya tidak harus lebih baik. Pada tahun ini juga saya untuk pertama kalinya mulai menonton film Indonesia di bioskop, tentunya dengan penyeleksian terlebih dahulu. Alhasil saya sangat terpuaskan dimana ada 3 film yang sempat masuk kedalam daftar saya, yaitu Catatan Harian Si Boy, ? (Tanda Tanya) dan The Mirror Never Lies. Sedang untuk film luar, masih banyak film yang belum saya tonton. Film calon nominasi Oscar macam The Artist, War Horse, Hugo hingga remake The Girl With the Dragon Tattoo dari David Fincher harus saya lewatkan. Oya, saya sendiri cukup murung dengan kualitas film animasi tahun ini yang menurun dimana tidak ada film yang masuk 10 besar untuk tahun ini, padahal tahun kemudian ada How to Train Your Dragon, bahkan Toy Story 3 jadi film terfavorit saya tahun 2010. Dan inilah 10 film terfavorit saya untuk tahun 2011 plus 10 honorable mentions:

HONORABLE MENTIONS:

SANG PENARI jadi salah satu catatan paling membanggakan dalam industri film Indonesia beberapa tahun terakhir. Meski saya termasuk dari sedikit orang yang tidak terlalu memuja film ini, harus diakui film dari Ifa Isfansyah ini bisa menyuguhkan adonan banyak sekali aspek yang luar biasa. Cerita perihal penebusan dosa dan usaha memperbaiki hidup dalam ANOTHER EARTH sukses menghipnotis saya dengan balutan sci-fi yang tidak berlebihan dan tentunya kemunculan Brit Marling yang punya masa depan cerah. Tidak terlalu spesial, tapi nyaman dan menyenangkan diikuti, begitulah MIDNIGHT IN PARIS garapan Woody Allen. Lars von Trier sukses mengajak saya bergalau menghadapi simpulan dunia dalam MELANCHOLIA disertai sinematografi indah dan akting menawan seorang Nasrani Dunst. BIUTIFUL yaitu suguhan depresif yang mempunyai keindahan tersendiri. Keindahan perihal kehidupan dan perjuangannya yang terpancar terperinci dari mata Javier Bardem yang aktingnya keren.

CRAZY, STUPID, LOVE bisa menyajikan tawa yang paling besar bagi saya di tahun 2011 dalam sebuah romcom yang berisi ensemble castI yang tampil luar biasa khususnya Ryan Gosling. Sajian dokumenter dalam TABLOID sangat menarik dengan pengemasan yang kreatif atas sebuah masalah paling gila dan asing yang pernah terjadi. THE RAID memang tidak disertai kisah yang kuat, tapi kebrutalan dalam adegan aksinya sudah cukup menciptakan saya tersenyum lebar selama filmnya berlangsung. Salah satu kebanggan terbesar bagi Indonesia mempunyai film ini. CONFESSIONS telah mampu menghipnotis saya dengan banyak sekali kisah balas dendamnya yang dibalut dengan tata visual yang indah serta twist yang menyenangkan. THE BORROWER ARRIETTY dengan melempemnya Pixar, maka inilah film animasi terbaik tahun ini. Sederhana menyerupai biasa khas Ghibli tapi tetap menyentuh khususnya pada ending yang menciptakan saya menitikkan air mata.

Berikut yaitu top 10, untuk membaca review silahkan klik pada gambarnya (untuk The Help review tidak ditulis)

10. MEEK'S CUTOFF

Tidak hanya sebuah film perihal survival, tapi juga sebuah sajian menghanyutkan perihal feminisme. Alurnya yang lambat dibalut dengan sinematografi indah yang bisa menciptakan pemandangan gurun yang gersang jadi nyaman ditonton dan begitu indah menciptakan saya sangat betah menikmati kisah perjalanan berat yang dialami tokoh-tokohnya. Akting luar biasa dari Michelle Williams yang (sayangnya) tidak akan dilirik Oscar.

9. THE HELP
Temanya memang perihal rasialisme yang sangat kental, tapi film ini tidaklah tampil gelap dan depresif ataupun memuakkan. Justru sebaliknya The Help sangatlah ringan dan menyenangkan untuk ditonton. Memang menharukan tapi tidaklah menyedihkan. Ensemble cast-nya tampil maksimal mulai dari Jessica Chastain yang kiprahnya jauh beda dari kiprahnya di The Tree of Life, lalu Olivia Spencer, Emma Stone, Bryce Dallas Howard dan tentunya Viola Davis yang sangat berpotensi merebut Best Actress untuk Oscar 2012. Mungkin hanya kebintangan Meryl Streep atau gaya eksentrik Roney Mara yang bisa menggagalkan hal tersebut.

8. A SEPARATION
Sajian dari Iran ini memang benar-benar mengangkat ambiguitas moral. Tidak ada seorangpun tokoh dalam film ini yang bisa serta merta disalahkan. Benar-benar memperlihatkan bahwa tiap orang itu punya point of view sendiri-sendiri dalam hal apapun itu. Tidak hanya itu, film dari sutradara Asghar Farhadi ini juga begitu piawai dalam menyimpan diam-diam yang secara perlahan akan dibuka satu persatu dan menciptakan penontonnya terperangah mengetahui fakta yang gotong royong terjadi. Isu sosial di Iran juga tidak luput diangkat dalam film ini. Berjalan dengan cepat dengan konflik yang menarik.


7. SENNA
Sebelum film ini saya tidak tahu siapa itu Ayrton Senna dan saya bukanlah penggemar Formula 1. Tapi film ini bisa dengan mudahnya menciptakan saya menyukai sosok pembalap tersebut. Jika dokumenter atau sebuah biopic itu dimaksudkan untuk memberi penghormatan pada yang bersangkutan, maka film ini juga sangat berhasil alasannya yaitu sosok Senna benar-benar digambarkan sebagai orang rendah hati tapi tidak berlebihan dan tidak sempurna. Berbagai footage bagus berhasil dikumpulkan dan menjadi dokumenter terbaik di 2011 yang ketegangannya bahkan melebihi banyak sekali film thriller yang sudah saya tonton dan lebih mengharukan dari banyak drama melankolis.

6. THE IDES OF MARCH
Film terbaru garapan George Clooney ini terperinci jauh dari kata sempurna. Tapi Clooney tahu betul bagaimana thriller politik yang bisa dinikmati semua orang harus dibuat. Film ini memang penuh intrik yang rumit, tapi jalannya film sangatlah ringan dan yummy diikuti. Cerminan pemilu yang gotong royong tidak hanya terjadi di Amerika tapi bahkan mungkin di tiap negara. Selain itu ada juga penggambaran perubahan seorang insan yang polos dan naif menjadi lebih berpengaruh dengan perjalanan yang berat dan tidak manis. Semua bintang film dan aktrisnya tampil dengan luar biasa termasuk idola saya, Ryan Gosling.

5. DRIVE
Kembali film seorang Ryan Gosling. Mendengar banyak yang menyebut film ini overrated saja sudah menciptakan saya mengernyitkan dahi, apalagi ada yang bilang film ini menipu alasannya yaitu tidak menampilkan agresi balap ataupun action yang memacu adrenaline. Sungguh jujur saja itu pernyataan yang asing bagi saya. Bukan sok nyeni atau apa, tapi Drive memang pantas memamerkan style-nya dengan alur yang lambat dan sunyi. Lebih sulit berakting dengan tatapan mata menyerupai yang dilakukan Ryan Gosling dan Carrey Mulligan di film ini dibanding berakting romansa dengan komunikasi verbal. Minim dialog, sangat 80an dan tentunya abjad yang luar biasa keren dari Ryan Gosling.

4. 50/50
Menertawakan penderitaan dan pengalaman "bergaul" dengan penyakit mematikan berjulukan kanker? Yak, film ini memang tidak mau bercengeng ria menanggapi penyakit kanker yang diderita oleh tokoh utamanya. Diangkat dari kisah konkret Will Reiser yang juga menjadi penulis naskah, 50/50 dengan hebatnya bisa menyelipkan unsur komedi dalam kisah usaha hidup ini. Tapi meski tidak melankolis dan cengeng, film ini juga bisa memperlihatkan suguhan mengharukan yang bisa menciptakan air mata mengalir tapi dengan cara yang tidak berlebihan. Bisa menciptakan penonton tertawa dan terharu dalam satu film dengan porsi yang sama artinya film itu yaitu film yang hebat.

3. I SAW THE DEVIL
Sungguh sebuah kejutan melihat hasil simpulan film ini. Sangat menyenangkan dan menegangkan. Kejar-kejaran antara dua "monster" yang coba saling bunuh dan saling siksa satu sama lain ditampilkan dengan begitu intens dan cerdas. Darah dimana-mana, bagian badan tidak luput untuk dihamburkan, tokoh yang sadis dan berdarah cuek bahkan ada juga yang kanibal, tentu saja sudah jadi bukti bagaimana gila dan menyenangkannya film ini. Adegan kontak pertama antara kedua tokoh utamanya terperinci jadi salah satu adegan paling keren yang pernah saya tonton. Film ini juga memperlihatkan bahwa nafsu balas dendam pada setan dan kebencian luar biasa akan menciptakan orang itu juga akan menjadi setan juga. Keseluruhan film ini yaitu brutal, cerdas, menegangkan, menegangkan, keren!

2. BLUE VALENTINE
Kisah perenungan mengenai rumah tangga dan cinta. Semenjak dwilogi Before Sunrise-Sunset belum pernah saya menemukan film drama yang memperlihatkan perenungan lagi. Lalu datanglah film ini yang seolah memberi peringatan pada muda-mudi dimabuk asmara yang ingin segera menikah bahwa ijab kabul itu tidak gampang dan penuh akan tanggung jawab berat. Hal itulah yang menciptakan film ini ditampilkan dengan plot yang maju mundur menggambarkan bagaimana perbedaan kondisi dikala pacaran dan sehabis menikah dan mempunyai anak. Lagi-lagi Ryan Gosling yang bermain disini dan menunjukan bahwa 2011 yaitu tahunnya meski rasanya Oscar masih belum akrab dengannya. Tapi jangan lupakan juga Michelle Williams yang performanya juga luar biasa. Keduanya sukses memperlihatkan transformasi abjad yang signifikan antara pascar dan pra pernikahan.

1. THE TREE OF LIFE
Puisi dalam media film mungkin yaitu istilah yang tidak berlebihan untuk menggambarkan apa yang sudah disuguhkan Terrence Mallick dalam film yang jadi film terfavorit saya di 2011 ini. Membicarakan film ini memang tidak pernah lepas dari visualnya yang begitu indah dan luar biasa serta adegan penciptaan alam semestanya yang dibalut musik orkestra dan sukses menciptakan saya merinding. Tapi The Tree of Life lebih dari itu. Film ini memperlihatkan perenungan baik itu dari hal yang biasa terjadi di kehidupan sehari-hari menyerupai drama dan konflik dalam keluarga hingga hal yang sifatnya lebih kearah privat dan spiritual yang kesemuanya akan bermuara pada hal yang dinamakan "hidup". Apa, bagaimana, mengapa dan darimana kita berasal dan hidup kita dimulai? Masih banyak juga hal lain yang coba disampaikan Mallick baik yang berhasil hingga ataupun yang tidak. Ada juga yang tidak hingga itu alasannya yaitu Mallick yang terasa terlampau ambisius mempresentasikan film ini. Tapi hal itu tidaklah mengurangi kehebatan film ini. Para pemainnya tampi andal baik itu Brad Pitt hingga pendatang gres menyerupai Hunter McCracken dan tentunya Jessica Chastain yang mengakibatkan 2011 sebagai tahun miliknya. Benar-benar pengalaman menonton yang luar biasa. Saya sangat menunggu 3 film Terrence Mallick yang akan rilisdalam 2 tahun kedepan dimana salah satunya yang berjudul Lawless akan menampilkan Ryan Gosling!

Ini Lho Top 10 Movies Of 2011

Setelah lewat setengah bulan dari 2011, karenanya saya putuskan untuk merilis daftar film 2011 FAVORIT saya. Ya, saya lebih suka menyebutnya favorit daripada terbaik alasannya yaitu penyusunan list ini juga sangatlah subjektif. Belum tentu film yang lebih berkualitas akan menerima urutan yang lebih tinggi. Beberapa film diluar list yang saya buat ini banyak yang berdasarkan saya lebih berkualitas menyerupai Contagion, Marta Marcy May Marlene, The Kid WIth A Bike dan masih banyak lagi. Tapi favorit memang bagi saya tidak harus lebih baik. Pada tahun ini juga saya untuk pertama kalinya mulai menonton film Indonesia di bioskop, tentunya dengan penyeleksian terlebih dahulu. Alhasil saya sangat terpuaskan dimana ada 3 film yang sempat masuk kedalam daftar saya, yaitu Catatan Harian Si Boy, ? (Tanda Tanya) dan The Mirror Never Lies. Sedang untuk film luar, masih banyak film yang belum saya tonton. Film calon nominasi Oscar macam The Artist, War Horse, Hugo hingga remake The Girl With the Dragon Tattoo dari David Fincher harus saya lewatkan. Oya, saya sendiri cukup murung dengan kualitas film animasi tahun ini yang menurun dimana tidak ada film yang masuk 10 besar untuk tahun ini, padahal tahun kemudian ada How to Train Your Dragon, bahkan Toy Story 3 jadi film terfavorit saya tahun 2010. Dan inilah 10 film terfavorit saya untuk tahun 2011 plus 10 honorable mentions:

HONORABLE MENTIONS:

SANG PENARI jadi salah satu catatan paling membanggakan dalam industri film Indonesia beberapa tahun terakhir. Meski saya termasuk dari sedikit orang yang tidak terlalu memuja film ini, harus diakui film dari Ifa Isfansyah ini bisa menyuguhkan adonan banyak sekali aspek yang luar biasa. Cerita perihal penebusan dosa dan usaha memperbaiki hidup dalam ANOTHER EARTH sukses menghipnotis saya dengan balutan sci-fi yang tidak berlebihan dan tentunya kemunculan Brit Marling yang punya masa depan cerah. Tidak terlalu spesial, tapi nyaman dan menyenangkan diikuti, begitulah MIDNIGHT IN PARIS garapan Woody Allen. Lars von Trier sukses mengajak saya bergalau menghadapi simpulan dunia dalam MELANCHOLIA disertai sinematografi indah dan akting menawan seorang Nasrani Dunst. BIUTIFUL yaitu suguhan depresif yang mempunyai keindahan tersendiri. Keindahan perihal kehidupan dan perjuangannya yang terpancar terperinci dari mata Javier Bardem yang aktingnya keren.

CRAZY, STUPID, LOVE bisa menyajikan tawa yang paling besar bagi saya di tahun 2011 dalam sebuah romcom yang berisi ensemble castI yang tampil luar biasa khususnya Ryan Gosling. Sajian dokumenter dalam TABLOID sangat menarik dengan pengemasan yang kreatif atas sebuah masalah paling gila dan asing yang pernah terjadi. THE RAID memang tidak disertai kisah yang kuat, tapi kebrutalan dalam adegan aksinya sudah cukup menciptakan saya tersenyum lebar selama filmnya berlangsung. Salah satu kebanggan terbesar bagi Indonesia mempunyai film ini. CONFESSIONS telah mampu menghipnotis saya dengan banyak sekali kisah balas dendamnya yang dibalut dengan tata visual yang indah serta twist yang menyenangkan. THE BORROWER ARRIETTY dengan melempemnya Pixar, maka inilah film animasi terbaik tahun ini. Sederhana menyerupai biasa khas Ghibli tapi tetap menyentuh khususnya pada ending yang menciptakan saya menitikkan air mata.

Berikut yaitu top 10, untuk membaca review silahkan klik pada gambarnya (untuk The Help review tidak ditulis)

10. MEEK'S CUTOFF

Tidak hanya sebuah film perihal survival, tapi juga sebuah sajian menghanyutkan perihal feminisme. Alurnya yang lambat dibalut dengan sinematografi indah yang bisa menciptakan pemandangan gurun yang gersang jadi nyaman ditonton dan begitu indah menciptakan saya sangat betah menikmati kisah perjalanan berat yang dialami tokoh-tokohnya. Akting luar biasa dari Michelle Williams yang (sayangnya) tidak akan dilirik Oscar.

9. THE HELP
Temanya memang perihal rasialisme yang sangat kental, tapi film ini tidaklah tampil gelap dan depresif ataupun memuakkan. Justru sebaliknya The Help sangatlah ringan dan menyenangkan untuk ditonton. Memang menharukan tapi tidaklah menyedihkan. Ensemble cast-nya tampil maksimal mulai dari Jessica Chastain yang kiprahnya jauh beda dari kiprahnya di The Tree of Life, lalu Olivia Spencer, Emma Stone, Bryce Dallas Howard dan tentunya Viola Davis yang sangat berpotensi merebut Best Actress untuk Oscar 2012. Mungkin hanya kebintangan Meryl Streep atau gaya eksentrik Roney Mara yang bisa menggagalkan hal tersebut.

8. A SEPARATION
Sajian dari Iran ini memang benar-benar mengangkat ambiguitas moral. Tidak ada seorangpun tokoh dalam film ini yang bisa serta merta disalahkan. Benar-benar memperlihatkan bahwa tiap orang itu punya point of view sendiri-sendiri dalam hal apapun itu. Tidak hanya itu, film dari sutradara Asghar Farhadi ini juga begitu piawai dalam menyimpan diam-diam yang secara perlahan akan dibuka satu persatu dan menciptakan penontonnya terperangah mengetahui fakta yang gotong royong terjadi. Isu sosial di Iran juga tidak luput diangkat dalam film ini. Berjalan dengan cepat dengan konflik yang menarik.


7. SENNA
Sebelum film ini saya tidak tahu siapa itu Ayrton Senna dan saya bukanlah penggemar Formula 1. Tapi film ini bisa dengan mudahnya menciptakan saya menyukai sosok pembalap tersebut. Jika dokumenter atau sebuah biopic itu dimaksudkan untuk memberi penghormatan pada yang bersangkutan, maka film ini juga sangat berhasil alasannya yaitu sosok Senna benar-benar digambarkan sebagai orang rendah hati tapi tidak berlebihan dan tidak sempurna. Berbagai footage bagus berhasil dikumpulkan dan menjadi dokumenter terbaik di 2011 yang ketegangannya bahkan melebihi banyak sekali film thriller yang sudah saya tonton dan lebih mengharukan dari banyak drama melankolis.

6. THE IDES OF MARCH
Film terbaru garapan George Clooney ini terperinci jauh dari kata sempurna. Tapi Clooney tahu betul bagaimana thriller politik yang bisa dinikmati semua orang harus dibuat. Film ini memang penuh intrik yang rumit, tapi jalannya film sangatlah ringan dan yummy diikuti. Cerminan pemilu yang gotong royong tidak hanya terjadi di Amerika tapi bahkan mungkin di tiap negara. Selain itu ada juga penggambaran perubahan seorang insan yang polos dan naif menjadi lebih berpengaruh dengan perjalanan yang berat dan tidak manis. Semua bintang film dan aktrisnya tampil dengan luar biasa termasuk idola saya, Ryan Gosling.

5. DRIVE
Kembali film seorang Ryan Gosling. Mendengar banyak yang menyebut film ini overrated saja sudah menciptakan saya mengernyitkan dahi, apalagi ada yang bilang film ini menipu alasannya yaitu tidak menampilkan agresi balap ataupun action yang memacu adrenaline. Sungguh jujur saja itu pernyataan yang asing bagi saya. Bukan sok nyeni atau apa, tapi Drive memang pantas memamerkan style-nya dengan alur yang lambat dan sunyi. Lebih sulit berakting dengan tatapan mata menyerupai yang dilakukan Ryan Gosling dan Carrey Mulligan di film ini dibanding berakting romansa dengan komunikasi verbal. Minim dialog, sangat 80an dan tentunya abjad yang luar biasa keren dari Ryan Gosling.

4. 50/50
Menertawakan penderitaan dan pengalaman "bergaul" dengan penyakit mematikan berjulukan kanker? Yak, film ini memang tidak mau bercengeng ria menanggapi penyakit kanker yang diderita oleh tokoh utamanya. Diangkat dari kisah konkret Will Reiser yang juga menjadi penulis naskah, 50/50 dengan hebatnya bisa menyelipkan unsur komedi dalam kisah usaha hidup ini. Tapi meski tidak melankolis dan cengeng, film ini juga bisa memperlihatkan suguhan mengharukan yang bisa menciptakan air mata mengalir tapi dengan cara yang tidak berlebihan. Bisa menciptakan penonton tertawa dan terharu dalam satu film dengan porsi yang sama artinya film itu yaitu film yang hebat.

3. I SAW THE DEVIL
Sungguh sebuah kejutan melihat hasil simpulan film ini. Sangat menyenangkan dan menegangkan. Kejar-kejaran antara dua "monster" yang coba saling bunuh dan saling siksa satu sama lain ditampilkan dengan begitu intens dan cerdas. Darah dimana-mana, bagian badan tidak luput untuk dihamburkan, tokoh yang sadis dan berdarah cuek bahkan ada juga yang kanibal, tentu saja sudah jadi bukti bagaimana gila dan menyenangkannya film ini. Adegan kontak pertama antara kedua tokoh utamanya terperinci jadi salah satu adegan paling keren yang pernah saya tonton. Film ini juga memperlihatkan bahwa nafsu balas dendam pada setan dan kebencian luar biasa akan menciptakan orang itu juga akan menjadi setan juga. Keseluruhan film ini yaitu brutal, cerdas, menegangkan, menegangkan, keren!

2. BLUE VALENTINE
Kisah perenungan mengenai rumah tangga dan cinta. Semenjak dwilogi Before Sunrise-Sunset belum pernah saya menemukan film drama yang memperlihatkan perenungan lagi. Lalu datanglah film ini yang seolah memberi peringatan pada muda-mudi dimabuk asmara yang ingin segera menikah bahwa ijab kabul itu tidak gampang dan penuh akan tanggung jawab berat. Hal itulah yang menciptakan film ini ditampilkan dengan plot yang maju mundur menggambarkan bagaimana perbedaan kondisi dikala pacaran dan sehabis menikah dan mempunyai anak. Lagi-lagi Ryan Gosling yang bermain disini dan menunjukan bahwa 2011 yaitu tahunnya meski rasanya Oscar masih belum akrab dengannya. Tapi jangan lupakan juga Michelle Williams yang performanya juga luar biasa. Keduanya sukses memperlihatkan transformasi abjad yang signifikan antara pascar dan pra pernikahan.

1. THE TREE OF LIFE
Puisi dalam media film mungkin yaitu istilah yang tidak berlebihan untuk menggambarkan apa yang sudah disuguhkan Terrence Mallick dalam film yang jadi film terfavorit saya di 2011 ini. Membicarakan film ini memang tidak pernah lepas dari visualnya yang begitu indah dan luar biasa serta adegan penciptaan alam semestanya yang dibalut musik orkestra dan sukses menciptakan saya merinding. Tapi The Tree of Life lebih dari itu. Film ini memperlihatkan perenungan baik itu dari hal yang biasa terjadi di kehidupan sehari-hari menyerupai drama dan konflik dalam keluarga hingga hal yang sifatnya lebih kearah privat dan spiritual yang kesemuanya akan bermuara pada hal yang dinamakan "hidup". Apa, bagaimana, mengapa dan darimana kita berasal dan hidup kita dimulai? Masih banyak juga hal lain yang coba disampaikan Mallick baik yang berhasil hingga ataupun yang tidak. Ada juga yang tidak hingga itu alasannya yaitu Mallick yang terasa terlampau ambisius mempresentasikan film ini. Tapi hal itu tidaklah mengurangi kehebatan film ini. Para pemainnya tampi andal baik itu Brad Pitt hingga pendatang gres menyerupai Hunter McCracken dan tentunya Jessica Chastain yang mengakibatkan 2011 sebagai tahun miliknya. Benar-benar pengalaman menonton yang luar biasa. Saya sangat menunggu 3 film Terrence Mallick yang akan rilisdalam 2 tahun kedepan dimana salah satunya yang berjudul Lawless akan menampilkan Ryan Gosling!