Showing posts sorted by relevance for query modus-anomali-2012. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query modus-anomali-2012. Sort by date Show all posts

Wednesday, January 16, 2019

Ini Lho Modus Anomali (2012)

Tentu saja karya terbaru Joko Anwar ini yakni film Indonesia yang paling saya tunggu tahun ini. Setelah Kala dan Pintu Terlarang yang punya naskah luar biasa dan juga dibalut dengan visualisasi yang keren, tidak ada alasan lain bagi saya untuk tidak memasukkan Modus Anomali kedalam daftar "most anticipated movies of the year" Apalagi begitu banyak kisah yang mengiringi proses film ini sebelum tayang. Tentu yang pertama yakni dikala Modus Anomali menang di Bucheon Awards. Lalu disusul dikala film ini menjadi official selection di ajang SXSW dan menerima jawaban yang termasuk tidak mengecewakan meski tidak sebaik Pintu Terlarang. Hal itu masih ditambah dengan begitu tertutupnya informasi mengenai film ini. Plot dan banyak sekali detail lainnya begitu dirahasiakan. Yang terlihat dari trailer juga hanya sebatas Rio Dewanto berlari ketakutan di tengah hutan sambil berteriak-teriak dan sepetinya sedang dikejar oleh seseorang yang misterius.

Namun sehabis saya menontonnya saya sadar bahwa makin sedikit yang kita tahu wacana Modus Anomali maka makin besar juga kepuasan yang kita rasakan dikala menonton. Kaprikornus saya sendiri tidak akan terlalu banyak menuliskan sinopsisnya disini dan hanya sebatas materi dasar yang sudah kita ketahui dengan sedikit tambahan. Kita akan diperlihatkan seorang laki-laki (Rio Dewanto) yang terbangun dalam kondisi dikubur hidup-hidup ditengah hutan. Dia sama sekali tidak ingat apa yang terjadi hingga beliau sanggup terkubur disitu. Yang ia ingat hanyalah ia sedang berlibur di sebuah pondok akrab hutan bersama istri dan anak-anaknya. Disaat beliau masih berusaha mengingat-ingat insiden sebenarnya, ternyata ada orang lain di hutan tersebut yang mengincar nyawanya. Seperti yang sudah saya sebutkan, makin sedikit yang anda tahu, makin menyenangkan film ini. Makin sedikit pula perjuangan yang anda keluarkan untuk menebak-nebak twist yang ada makin puas juga anda dikala film ini berakhir.
Salah satu kekurangan mengenai twist-nya yakni fakta bahwa kita sudah tahu akan ada twist disini, jadi tentunya saya juga sudah mencoba menebak-nebak hal tergila dan paling tak terduga yang sanggup ditampilkan oleh Joko Anwar disini. Hal itu jugalah yang menciptakan saya terlalu berkonsentrasi untuk coba memecahkan dan menebak kira-kira twist macam apa yang ada di selesai nanti. Pada hasilnya sedari pertengahan film ada beberapa detil-detil yang menciptakan saya sudah sanggup sedikit mengira-ira bagaimana fakta dan kejutan yang akan ditampilkan nanti. Dan sungguh kecewa saya dikala tebakan saya itu ternyata hampir sempurna seluruhnya, bahkan dasar twist-nya saya menebak denagn tepat. Tapi sungguh saya lebih menentukan berhasil tertipu oleh kejutan tersebut. Maka, sebaiknya dikala menonton Modus Anomali jangan terlalu berpikir jauh dan cukup nikmati saja ketegangan dan misteri yang ada, alasannya yakni intinya twist ending film ini termasuk baik meskipun bekerjsama merupakan sedikit pengembangan dan sentuhan penemuan bagi twist yang sudah pernah ditampilkan oleh film-film sejenis ini sebelumnya.
Film ini punya jalan kisah yang lebih sederhana jikalau dibandingkan dengan Kala ataupun Pintu Terlarang sehingga akan lebih gampang dinikmati. Yang menjadi kekuatan yakni misterinya. Tapi tidak menyerupai kedua film sebelumnya, Modus Anomali tidak perlu menciptakan penontonnya berpikir keras alasannya yakni pada hasilnya semua pertanyaan-pertanyaan yang ada akan dijawab dengan total lengkap oleh Joko Anwar di selesai film. Selain itu tata visual film ini juga lebih sederhana alasannya yakni setting yang ada memang hanya ditengah hutan. Tapi lebih sederhana bukan berarti mengalami penurunan, alasannya yakni Modus Anomali benar-benar menampilkan suasana dan tampilan hutannya dengan maksimal. Ada hal yang saya sangat suka dari film ini yaitu keberanian Joko Anwar dalam menampilkan banyak adegan tanpa obrolan yang juga diambil dengan long take. Sebuah hal yang jarang dilakukan sineas Indonesia alasannya yakni adegan tanpa obrolan yang panjang sanggup berpotensi menciptakan penonton kebosanan. Tapi untuk Modus Anomali saya hanya mencicipi kekaguman terhadap banyak sekali long take yang diambil. Ada sebuah adegan panjang menjelang selesai disaat Rio Dewanto menyetir kendaraan beroda empat dengan diiringi lagu dari Sore Band berjudul "Bogor Biru." Sungguh sebuah adegan sederhana namun menampilkan ketegangan luar biasa dan perasaan ingin tau yang makin memuncak.

Tapi tetap saja Modus Anomali mempunya beberapa kekurangan khususnya masih terdapat beberapa lubang yang saya rasakan dalam plot-nya yang tidak sanggup saya tuliskan alasannya yakni berpotensi spoiler. Mengenai duduk masalah itu saya juga menemuinya di film-film Joko sebelumnya yang saya rasa itu lebih dikarenakan ambisi seorang Joko Anwar untuk menyuguhkan ide-ide dalam otaknya yang kadang kelewat banyak untuk ditampilkan dalam satu film. Tapi untung Modus Anomali yakni film yang lebih sederhana sehingga lubang yang ada tidak terlalu mengganggu. Justru yang mengganggu yakni aspek teknis menyerupai adegan muntah yang terasa kurang pas detailnya dan ditampilkan hingga dua kali. Overall, Modus Anomali masih berada dibawah Pintu Terlarang dan Kala, tapi masih sebuah karya yang memuaskan. Tidak semengejutkan keinginan saya tapi segila yang saya bayangkan. Sekali lagi Joko Anwar menandakan bahwa perfilman Indonesia punya potensi yang begitu besar jikalau mau dikembangkan dan lebih berani dalam berkarya.

RATING:

Ini Lho Modus Anomali (2012)

Tentu saja karya terbaru Joko Anwar ini yakni film Indonesia yang paling saya tunggu tahun ini. Setelah Kala dan Pintu Terlarang yang punya naskah luar biasa dan juga dibalut dengan visualisasi yang keren, tidak ada alasan lain bagi saya untuk tidak memasukkan Modus Anomali kedalam daftar "most anticipated movies of the year" Apalagi begitu banyak kisah yang mengiringi proses film ini sebelum tayang. Tentu yang pertama yakni dikala Modus Anomali menang di Bucheon Awards. Lalu disusul dikala film ini menjadi official selection di ajang SXSW dan menerima jawaban yang termasuk tidak mengecewakan meski tidak sebaik Pintu Terlarang. Hal itu masih ditambah dengan begitu tertutupnya informasi mengenai film ini. Plot dan banyak sekali detail lainnya begitu dirahasiakan. Yang terlihat dari trailer juga hanya sebatas Rio Dewanto berlari ketakutan di tengah hutan sambil berteriak-teriak dan sepetinya sedang dikejar oleh seseorang yang misterius.

Namun sehabis saya menontonnya saya sadar bahwa makin sedikit yang kita tahu wacana Modus Anomali maka makin besar juga kepuasan yang kita rasakan dikala menonton. Kaprikornus saya sendiri tidak akan terlalu banyak menuliskan sinopsisnya disini dan hanya sebatas materi dasar yang sudah kita ketahui dengan sedikit tambahan. Kita akan diperlihatkan seorang laki-laki (Rio Dewanto) yang terbangun dalam kondisi dikubur hidup-hidup ditengah hutan. Dia sama sekali tidak ingat apa yang terjadi hingga beliau sanggup terkubur disitu. Yang ia ingat hanyalah ia sedang berlibur di sebuah pondok akrab hutan bersama istri dan anak-anaknya. Disaat beliau masih berusaha mengingat-ingat insiden sebenarnya, ternyata ada orang lain di hutan tersebut yang mengincar nyawanya. Seperti yang sudah saya sebutkan, makin sedikit yang anda tahu, makin menyenangkan film ini. Makin sedikit pula perjuangan yang anda keluarkan untuk menebak-nebak twist yang ada makin puas juga anda dikala film ini berakhir.
Salah satu kekurangan mengenai twist-nya yakni fakta bahwa kita sudah tahu akan ada twist disini, jadi tentunya saya juga sudah mencoba menebak-nebak hal tergila dan paling tak terduga yang sanggup ditampilkan oleh Joko Anwar disini. Hal itu jugalah yang menciptakan saya terlalu berkonsentrasi untuk coba memecahkan dan menebak kira-kira twist macam apa yang ada di selesai nanti. Pada hasilnya sedari pertengahan film ada beberapa detil-detil yang menciptakan saya sudah sanggup sedikit mengira-ira bagaimana fakta dan kejutan yang akan ditampilkan nanti. Dan sungguh kecewa saya dikala tebakan saya itu ternyata hampir sempurna seluruhnya, bahkan dasar twist-nya saya menebak denagn tepat. Tapi sungguh saya lebih menentukan berhasil tertipu oleh kejutan tersebut. Maka, sebaiknya dikala menonton Modus Anomali jangan terlalu berpikir jauh dan cukup nikmati saja ketegangan dan misteri yang ada, alasannya yakni intinya twist ending film ini termasuk baik meskipun bekerjsama merupakan sedikit pengembangan dan sentuhan penemuan bagi twist yang sudah pernah ditampilkan oleh film-film sejenis ini sebelumnya.
Film ini punya jalan kisah yang lebih sederhana jikalau dibandingkan dengan Kala ataupun Pintu Terlarang sehingga akan lebih gampang dinikmati. Yang menjadi kekuatan yakni misterinya. Tapi tidak menyerupai kedua film sebelumnya, Modus Anomali tidak perlu menciptakan penontonnya berpikir keras alasannya yakni pada hasilnya semua pertanyaan-pertanyaan yang ada akan dijawab dengan total lengkap oleh Joko Anwar di selesai film. Selain itu tata visual film ini juga lebih sederhana alasannya yakni setting yang ada memang hanya ditengah hutan. Tapi lebih sederhana bukan berarti mengalami penurunan, alasannya yakni Modus Anomali benar-benar menampilkan suasana dan tampilan hutannya dengan maksimal. Ada hal yang saya sangat suka dari film ini yaitu keberanian Joko Anwar dalam menampilkan banyak adegan tanpa obrolan yang juga diambil dengan long take. Sebuah hal yang jarang dilakukan sineas Indonesia alasannya yakni adegan tanpa obrolan yang panjang sanggup berpotensi menciptakan penonton kebosanan. Tapi untuk Modus Anomali saya hanya mencicipi kekaguman terhadap banyak sekali long take yang diambil. Ada sebuah adegan panjang menjelang selesai disaat Rio Dewanto menyetir kendaraan beroda empat dengan diiringi lagu dari Sore Band berjudul "Bogor Biru." Sungguh sebuah adegan sederhana namun menampilkan ketegangan luar biasa dan perasaan ingin tau yang makin memuncak.

Tapi tetap saja Modus Anomali mempunya beberapa kekurangan khususnya masih terdapat beberapa lubang yang saya rasakan dalam plot-nya yang tidak sanggup saya tuliskan alasannya yakni berpotensi spoiler. Mengenai duduk masalah itu saya juga menemuinya di film-film Joko sebelumnya yang saya rasa itu lebih dikarenakan ambisi seorang Joko Anwar untuk menyuguhkan ide-ide dalam otaknya yang kadang kelewat banyak untuk ditampilkan dalam satu film. Tapi untung Modus Anomali yakni film yang lebih sederhana sehingga lubang yang ada tidak terlalu mengganggu. Justru yang mengganggu yakni aspek teknis menyerupai adegan muntah yang terasa kurang pas detailnya dan ditampilkan hingga dua kali. Overall, Modus Anomali masih berada dibawah Pintu Terlarang dan Kala, tapi masih sebuah karya yang memuaskan. Tidak semengejutkan keinginan saya tapi segila yang saya bayangkan. Sekali lagi Joko Anwar menandakan bahwa perfilman Indonesia punya potensi yang begitu besar jikalau mau dikembangkan dan lebih berani dalam berkarya.

RATING:

Tuesday, January 15, 2019

Ini Lho Soegija (2012)

Tanggal 8 Juni 2012 kemudian untuk pertama kalinya saya mencicipi perasaan senang walaupun gagal mendapat tiket film yang akan saya tonton di bioskop. Pada hari itu tiket untuk film Soegija sudah habis terjual padahal jam abru mengatakan pukul 2 siang. Mungkin tidak akan mengagetkan untuk film Hollywood macam The Avengers, tapi untuk sebuah film Indonesia apalagi yang disutradarai oleh Garin Nugroho yang karya-karyanya selama ini sulit diterima penonton Indonesia, pemandangan itu cukup mengejutkan sekaligus juga menyenangkan. Senang rasanya penonton berbondong-bondong menonton film ini walaupun disaat bersamaan ada film-film kacrut macam Kakek Cangkul dan Mr. Bean Kesurupan Depe yang biasanya dan sayangnya selalu memenangkan persaingan melawan film-film berkualitas untuk ukuran penjualan tiket. Saya ingat terperinci bagaimana Modus Anomali kalah bersaing dengan Nenek Gayung atau ketika Lovely Man bertahan tidak hingga dua ahad di bioskop. Filmnya sendiri sempat menuai kontroversi alasannya ialah dituduh melaksanakan upaya Kristenisasi. Bah, saya tidak peduli dengan kontroversi tersebut. Meskipun benar Soegija ialah Kristenisasi kemudian kenapa? Saya sendiri ialah Muslim dan bagi saya problem keimanan tiap individu ialah problem mereka masing-masing. 

Jikalau ada yang hingga berubah keyakinan alasannya ialah sebuah film ya bukan salah filmnya, kecuali jikalau dalam film itu ada sebuah subliminal atau apalah yang bisa "menghipnotis" para penontonnya. Apa hanya alasannya ialah Indonesia diisi mayoritas Islam sehingga Agama lain dihentikan berdakwah juga? Ah sudahlah masa terbelakang dengan segala gosip tersebut. Saya lebih tertarik membahas Soegija yang merupakan film kedua Garin Nugroho di 2012 ini. Saya sangat menyesal tidak sempat menonton Mata Tertutup yang di Yogyakarta hanya bertahan tidak hingga seminggu. Padahal saya sangat tertarik dengan gosip yang diangkat. Tapi tentu saja proyek 12 Miliar dari Garin ini juga sangat menarik. Setelah sebelumnya biopic Ahmad Dahlan di Sang Pencerah sangat memuaskan, maka niscaya akan jadi warna gres jikalau muncul biopic yang mengisahkan wacana pemuka Agama lainnya dalam hal ini ialah Albertus Soegijapranata yang merupakan uskup pribumi pertama. Saya sendiri gres pertama kali mendengar nama Soegija sehabis bahan promosi film ini rilis. Filmnya sendiri berlokasi pada tahun 1940-1949. Saat itu ialah masa transisi yang berat bagi Indonesia dimana bangsa ini harus berganti masa dari penjajahan Belanda, kemudian Jepang, kemudian sehabis merdeka masih harus menghadapi pasukan Belanda yang masih belum rela melepas wilayah jajahannya ini.

Meski bertajuk biopic wacana Soegija, tapi film ini tidak melulu bicara soal Soegija. Justru subplot yang ada seringkali berjalan dengan lebih mayoritas dan mendalam ibarat kisah seorang gadis pribumi berjulukan Mariyem yang harus menghadapi kerasnya hidup di masa perang tersebut dimana ia menjadi seorang perawat dan disisi lain harus terlibat sebuah kisah cinta dengan seorang jurnalis asal Belanda yang tentunya menjadi dilema tersendiri. Masih banyak sub kisah lainnya yang dihadirkan disini. Yang terperinci sangat terlihat bahwa Soegija ialah sebuah film wacana kemanusiaan dan perbedaan-perbedaan yang terjadi di bangsa ini. Bagaimana seharusnya perbedaan itu tidaklah menjadi alasan untuk saling membenci dan menyakiti. Jika yang dijadikan sasaran utama ialah itu, maka film ini ialah film yang baik. Tapi patut diingat bahwa film ini mengatasnamakan dirinya sebagai sebuah kisah yang menceritakan wacana Albertus Soegijapranata, sebuah biopic bagi beliau. Apa yang penonton atau setidaknya saya dalam sebuah biopic ialah sebuah pengetahuan gres wacana seorang tokoh yang difilmkan tersebut. Sang Pencerah ialah biopic yang anggun alasannya ialah selain menghantarkan konfliknya dengan baik, penonton diajak menyelami banyak sekali sisi lain Ahmad Dahlan dan saya sendiri mendapat banyak pengetahuan baru.
Sedangkan disini, selain tahu bahwa Soegija ialah uskup orisinil Indonesia yang pertama, tidak banyak pengetahuan lain yang saya sanggup khususnya yang berafiliasi dengan usaha dia pada masa perang. Memang ada beberapa tapi itu bukanlah yang menarik dan tidak butuh sebuah fiilm berdurasi hampir dua jam untuk merangkumnya. Pendekatan Garin yang lebih menentukan menyoroti hanya pada rentang tidak hingga satu dekade itulah yang jadi penyebabnya. Andaikan film ini menyoroti lebih jauh wacana hidup Soegija misalkan dari masa dia kecil hingga menjadi uskup kemudian diselingi masa perang saya yakin akan jauh lebih baik. Saya rasa keengganan mengakibatkan film ini terasa nuansa Kristen yang sangat berpengaruh menjadi alasan pemilihan model penceritaan begini. Pilihan yang tidak keliru tapi bagi saya sangat mubadzir sekali hal ini dilakukan.Tapi tentu saja jikalau hal ini dilakukan kontroversi bisa saja membesar dan biaya 12 miliar itu bisa saja terbuang percuma alasannya ialah film ini berpotensi diancam untuk dicekal oleh you know who. Sayangnya lagi, meski melaksanakan pendekatan kisahnya lewat karakter-karakter lain, tetap saja saya merasa kisahnya kurang dalam meski tidak dangkal juga. Hanya saja untuk ukuran filmnya Garin, makna yang ada dalam kisahnya kurang mengena.
Tapi toh tidak adil juga jikalau menilai film ini jelek hanya alasannya ialah saya merasa Soegija kalah superior dibanding film Garin yang lain. Cara bertutur yang lebih sederhana dibanding dengan filmnya yang lain menciptakan film ini lebih gampang dinikmati. Pada dasarnya jalinan kisahnya meski sering terasa kurang dalam masih tetap termasuk yummy dan menarik diikuti. Meski begitu di beberapa cuilan masih ada suasana unik khas Garin Nugroho yang menciptakan film ini tetap khas miliknya. Tapi ada satu adegan dengan nuansa surealis yang sedikit mengganggu yaitu ketika momen perang yang mana ditampilkan sosok seorang laki-laki bersenandung wacana perang yang meletus. Saya rasa tidak perlulah adegan unik khas Garin tersebut muncul di film yang formatnya linear dan realis ibarat ini. Namun momen unik lain yang menarik dan bisa diterima toh juga ada ibarat kemunculan cameo dari Marwoto yang bisa mengundang tawa. Untuk urusan mengundang tawa, film ini juga cukup hebat menyelipkan unsur komedi khususnya dari tokoh Toegimin yang diperankan Butet Kertarejasa.

Meski dari kisahnya kurang maksimal, untuk segi visual film ini pertanda bujet raksasanya digunakan dengan maksimal. Lihatlah set yang luar biasa dalam menampilkan pemandangan serta suasana Indonesia pada masa itu. Begitu maksimal dan terasa sangat realistis. Adegan perang juga ditampilkan dengan baik meski tidak mayoritas muncul. Meski berlatar perang, film ini memang tidak "berisik" dalam menghadirkan adegan perangnya alasannya ialah memang bukan perangnya yang jadi sorotan utama tapi tema kemanusiaan dan persamaan ialah yang utama. Untuk urusan persamaan, saya sangat suka dengan karakterisasi beberapa tokoh non pribumi baik itu dari Jepang ataupun Belanda. Mereka ditampilkan memang kejam tapi tidak kehilangan unsur kemanusiaan masing-masing. Kita akan sadar bahwa mereka semua yang ada dalam film ini ialah insan biasa dengan pernak perniknya masing-masing.

Pada hasilnya saya tetap tidak tahu banyak dan detail mengenai siapa dan bagaimana bersama-sama sosok Soegija itu. Ideologi dan perjuangannya lewat diplomasi bisa sedikit terbaca tapi terperinci tidak ditampilkan dalam porsi yang memuaskan. Karakterisasinya juga tidak terlalu menarik untuk disaksikan, entah kenapa spirit yang harusnya muncul dari figur ini kurang terasa bagi saya. Meski begitu jikalau melupakan bahwa ini ialah biopic yang kurang bercerita banyak wacana tokoh utamanya, maka Soegija ialah sebuah film dengan latar usaha yang menarik untuk diikuti. Meski tidak bisa menyajikan kisahnya dengan lebih mendalam, tetap saja banyak sekali konfliknya yummy ditonton. Visualnya sangat memikat dan disajikan dengan maksimal. Nuansa Kristen terperinci akan terasa dan bagi saya itu ialah keunikan tersendiri alasannya ialah jarang film Indonesia yang mengambil pendekatan suasana semacam itu. Jika anda ialah orang yang berpegang teguh bahwa sebuah biopic harus total menceritakan pernak-pernik tokoh dalam judulnya maka film ini akan mengecewakan. Tapi jikalau anda tidak terlalu problem dengan hal tersebut, maka Soegija akan bisa menghibur anda. Satu hal yang niscaya menonton film ini tidak akan hingga menciptakan penontonnya berpindah kepercayaan. 

RATING:

Saturday, January 5, 2019

Ini Lho Top 20 Most Awaited Indonesian Films

Sudah bukan masanya bagi kita untuk skeptis terhadap perfilman Indonesia! Ibaratnya ketika ini kita tengah membuka jalan memasuki masa renaissance. Saya tidak berlebihan. Walau belum sepenuhnya hingga kesana, film-film lokal yang rilis dalam beberapa bulan terakhir semakin memantapkan optimisme saya. Tidak semuanya manis tapi kesan untuk menciptakan film manis yang tidak asal sudah begitu kuat. Maka dari itu saya akan membagikan daftar 20 film Indonesia yang akan, tengah atau telah selesai diproduksi dan bakal tayang di bioskop (kemungkinan) antara 2015- 2016. Berikut daftarnya yang disusun urut alfabet.

3 SRIKANDI
Disutradarai oleh Iman Brotoseno, film ini menuturkan kisah kasatmata usaha tiga pemanah perempuan asal Indonesia yang berhasil meraih medali perak pada Olimpiade 1988 di Seoul. Tema usaha bukan hal baru, tapi usaha di bidang panahan tentunya menarik termasuk bagaimana adegan pertandingannya dieksekusi. Di samping cerita, daya tarik ada pada daftar pemainnya: Dian Sastrowardoyo, Tara Basro, Chelsea Islan dan Reza Rahadian. Film ini rencananya rilis pada 24 Desember 2015.

A COPY OF MY MIND
Joko Anwar merupakan salah satu sutradara favorit saya, dan fakta bahwa kali ini ia merilis film dengan genre drama (setelah tiga film terakhir kental unsur thriller/horror) jadi daya tarik besar. Film ini bercerita wacana sepasang kekasih (Chico Jerikho dan Tara Basro) yang terseret intrik politik sesudah mereka menemukan sebuah DVD berisi rekaman korupsi. Kabarnya film ini merupakan bab trilogi wacana Jakarta(judul dua film lainnya ialah "A Copy of My Heart" dan "A Copy of My Soul"). Sempat direncanakan rilis bulan April, tapi hingga ketika ini belum ada tanggal niscaya meski tetap bakal rilis tahun 2015.

A JADE JOURNEY
A Jade Journey adalah film karya Teddy Soeriaatmadja yang memenangkan kategori "G2D Post-Production" pada Hong Kong Asian Financing Forum (HAF) simpulan Maret lalu. Belum ada sinopsis dan kegiatan rilis resmi untuk film ini.

ABOUT A WOMAN
Menjadi rangkaian film Teddy Soeriaatmadja yang membahas seksualitas dan kemunafikan sesudah Lovely Man dan Something in the Way, film ini bercerita wacana seorang janda renta yang merasa kesepian sesudah sang pembantu pergi. Merasa khawatir dengan sang ibu, anak dan menantunya mengirim pembantu baru, laki-laki berjulukan Abi. Ikatan antara sang janda dan Abi pun akibatnya semakin kuat. Dirilis lebih dulu di "Singapore International Film Festival 2014", mari berharap film ini menerima daerah di bioskop lokal. Karena sebelumnya Lovely Man hanya tayang empat hari. Bahkan Something in the Way tidak menerima jatah.

AN INNOCENT TRIP TO NEW YORK
Satu lagi karya Teddy Soeriaatmadja. Pada tahun 2012 kemudian proyek ini menerima "PanStar Cruise Award" di Asian Project Market dan menerima $9,000 untuk produksinya. Bercerita wacana pengelola rumah makan padang berjulukan Haji Bansar yang merasa terpukul sesudah puteranya yang bersekolah di New York, Alfi mengaku bahwa dirinya seorang gay. Suatu hari Haji Bansar mendapatkan ajakan komitmen nikah anaknya dan memutuskan pergi ke New York untuk menghentikan komitmen nikah tersebut. Belum ada tanggal rilis resmi film ini.

ANOTHER TRIP TO THE MOON
Film sureal karya Ismael Basbeth ini bercerita wacana gadis berjulukan Asa (Tara Basro) yang menentukan tinggal sendirian di tengah hutan hingga seorang insan anjing (Cornelio Sunny) kepercayaan ibunya tiba menjemput Asa biar sang gadis mau tinggal di kota. Lebih dulu tayang di "Rotterdam Film Festival 2015", daya tarik film ini tentu ada pada penggabungan dunia mitologi lokal dan fantasi dengan gaya surealisme. Belum ada tanggal rilis niscaya untuk film ini.

BATTLE OF SURABAYA
Animasi ialah genre yang jarang dijamah film Indonesia, alasannya itu film ini jadi begitu saya tunggu selain alasannya fakta bahwa sudah semenjak usang menerima buzz karena banyak sekali penghargaan dari pameran film internasional. Seperti judulnya film ini bercerita wacana bocah tukang semir sepatu yang harus mengirimkan paket bagi para pejuang ketika meletusnya peperangan di Surabaya pada 10 November 1945. Dari halaman IMDb-nya, film ini menerima tanggal rilis 20 Agustus 2015. 

DECEMBER
Belum ada informasi baik tangal rilis maupun sinopsis resmi film ini. Tapi alasannya ini ialah film karya Andri Cung yang menghadirkan pada kita The Sun, The Moon and The Hurricane, tidak ada alasan bagi saya untuk tidak antusias.

GUNDALA PUTRA PETIR
Tidak perlu banyak alasan untuk menunggu sebuah film superhero buatan Indonesia. Hanung Bramantyo membangkitkan kembali sang putera petir yang selama ini karam di tengah serbuan superhero Hollywood. Belum ada kepastian tanggal tapi film ini bakal rilis tahun 2016.

KARTINI
Film Hanung Bramantyo lagi, dan satu lagi biopic dari sang sutradara. Dian Sastrowardoyo berperan sebagai Kartini yang dalam film ini akan ditonjolkan sisinya sebagai perempuan muda dengan kelincahan dan kecerewetannya. Sudut pandang gres yang tidak diperlihatkan oleh film versi 1984-nya. Memulai syuting pada bulan Desember, film ini bakal dirilis pada April 2016.

NAY
Selalu suka karya Djenar Maesa Ayu yang mengangkat kisah perempuan dan mendobrak batas tabu suatu kisah. Nay. bercerita wacana gadis berjulukan Nay yang mengetahu dirinya telah mengandung 14 minggu. Tapi ketika memberikan kabar itu pada Ben sang kekasih, ia justru lebih mementingkan permasalahan dengan sang ibu. Disatu sisi Nay gres saja menerima tugas di sebuah film sebagai bintang film utama. Film ini mengambil dominan lokasi dalam sebuah kendaraan beroda empat dengan aksara Nay melaksanakan monolog (meningatkan pada Tom Hardy di Locke.) Rencananya film ini bakal tayang pertengahan tahun ini.

PANJI TENGKORAK
Disutradarai oleh Upi (Belenggu, Realita Cinta dan Rock 'n Roll, Radit dan Jani) film ini merupakan penyesuaian komik silat karya Hans Jaladara yang sempat populer pada tahun 60-an. Upi berniat membawa kisah tersebut ke setting modern yang lebih pop. Panji Tengkorak direncanakan rilis pada Desember 2015.

PERBURUAN
Disutradarai oleh Richard Oh yang menciptakan Melancholy is A Movement (salah satu film lokal terbaik tahun 2015 sejauh ini berdasarkan saya) film ini menjadi penyesuaian novel karya Pramoedya Ananta Toer yang terbit tahun 1949. Ber-setting pada simpulan masa penjajahan Jepang, Perburuan berkisah wacana seorang pejuang berjulukan Hardo yang tengah diburu oleh tentara Jepang. Film ini akan rilis 16 Agustus 2015.

SURAT DARI PRAHA
Setelah Cahaya Dari Timur: Beta Maluku dan Filosofi Kopi yang begitu mengesankan, film karya Angga Dwimas Sasongko tidak akan sanggup saya lewatkan. Dibintangi oleh Tio Pakusadewo dan Julie Estelle, film ini akan menjadi refleksi perjalanan karir Glenn Fredly (juga menjadi produser disini) selama 20 tahun ia berkarya. Film ini akan rilis pada Oktober 2015.

TERPANA
Satu lagi karya Richard Oh. Menampilkan Fachri Albar dan Raline Shah sebagai bintang film utama, saya menduga film ini bakal menjadi satu lagi karya aneh dari Richard Oh. Setelah Melanchoy is A Movement, aneh dari Richard niscaya saya nantikan. Belum ada tanggal rilis, tapi kemungkinan simpulan tahun 2015 atau awal 2016.

THE RETURNING
Witra Asliga yang menyutradarai segmen Insomnights dalam 3Sum adalah sutradara film ini. Belum ada keterangan resmi, tapi dari karya sebelumnya besar kemungkinan ini ialah twisted thriller/horror. Menarik.

TUYUL PART 2 & 3
Fim pertamanya mungkin tidak tergolong bagus, tapi terperinci ada usaha berpengaruh menjadi horror berkualitas disana lengkap dengan tata artistik mengesankan. Menarik untuk dinantikan bagaimana dua film ini mengeksplorasi secara lebih jauh mitologi tuyul yang sudah dikembangkan cukup menarik oleh film pertamanya.

VALENTINE
Satu lagi film superhero, tapi bedanya Valentine menampilkan jagoan perempuan dan tanpa kekuatan super. Berencana rilis tahun 2015 ini, tentu menarik disaat raksasa Hollywood macam Marvel dan DC gres akan mengeluarkan film superhero perempuan pada beberapa tahun kemudian Indonesia justru terlebih dahulu melaksanakan itu.

WIRO SABLENG
Akhirnya Wiro Sableng di layar lebar! Mengetahui bahwa film ini diproduksi oleh Lifelike Pictures-nya Lala Timothy yang banyak menelurkan film-film berkualitas (Modus Anomali, Pintu Terlarang, Tabula Rasa) terasa melegakan. Belum diketahui tanggal rilis, sinopsis, maupun siapa saja yang terlibat meski sanggup dipastikan ada keterlibatan Vino G. Bastian yang notabene putera Bastian Tito selaku pencipta Wiro Sableng.

Selain 20 film di atas masih banyak lagi film-film Indonesia berkuaitas yang akan segera tayang. AYO NONTON FILM INDONESIA BAGUS DI BIOSKOP.

(beberapa bab artikel bersumber dari web officialfilmindonesia.com)

Friday, December 28, 2018

Ini Lho Top 20 Most Awaited Indonesian Films

Sudah bukan masanya bagi kita untuk skeptis terhadap perfilman Indonesia! Ibaratnya ketika ini kita tengah membuka jalan memasuki masa renaissance. Saya tidak berlebihan. Walau belum sepenuhnya hingga kesana, film-film lokal yang rilis dalam beberapa bulan terakhir semakin memantapkan optimisme saya. Tidak semuanya manis tapi kesan untuk menciptakan film manis yang tidak asal sudah begitu kuat. Maka dari itu saya akan membagikan daftar 20 film Indonesia yang akan, tengah atau telah selesai diproduksi dan bakal tayang di bioskop (kemungkinan) antara 2015- 2016. Berikut daftarnya yang disusun urut alfabet.

3 SRIKANDI
Disutradarai oleh Iman Brotoseno, film ini menuturkan kisah kasatmata usaha tiga pemanah perempuan asal Indonesia yang berhasil meraih medali perak pada Olimpiade 1988 di Seoul. Tema usaha bukan hal baru, tapi usaha di bidang panahan tentunya menarik termasuk bagaimana adegan pertandingannya dieksekusi. Di samping cerita, daya tarik ada pada daftar pemainnya: Dian Sastrowardoyo, Tara Basro, Chelsea Islan dan Reza Rahadian. Film ini rencananya rilis pada 24 Desember 2015.

A COPY OF MY MIND
Joko Anwar merupakan salah satu sutradara favorit saya, dan fakta bahwa kali ini ia merilis film dengan genre drama (setelah tiga film terakhir kental unsur thriller/horror) jadi daya tarik besar. Film ini bercerita wacana sepasang kekasih (Chico Jerikho dan Tara Basro) yang terseret intrik politik sesudah mereka menemukan sebuah DVD berisi rekaman korupsi. Kabarnya film ini merupakan bab trilogi wacana Jakarta(judul dua film lainnya ialah "A Copy of My Heart" dan "A Copy of My Soul"). Sempat direncanakan rilis bulan April, tapi hingga ketika ini belum ada tanggal niscaya meski tetap bakal rilis tahun 2015.

A JADE JOURNEY
A Jade Journey adalah film karya Teddy Soeriaatmadja yang memenangkan kategori "G2D Post-Production" pada Hong Kong Asian Financing Forum (HAF) simpulan Maret lalu. Belum ada sinopsis dan kegiatan rilis resmi untuk film ini.

ABOUT A WOMAN
Menjadi rangkaian film Teddy Soeriaatmadja yang membahas seksualitas dan kemunafikan sesudah Lovely Man dan Something in the Way, film ini bercerita wacana seorang janda renta yang merasa kesepian sesudah sang pembantu pergi. Merasa khawatir dengan sang ibu, anak dan menantunya mengirim pembantu baru, laki-laki berjulukan Abi. Ikatan antara sang janda dan Abi pun akibatnya semakin kuat. Dirilis lebih dulu di "Singapore International Film Festival 2014", mari berharap film ini menerima daerah di bioskop lokal. Karena sebelumnya Lovely Man hanya tayang empat hari. Bahkan Something in the Way tidak menerima jatah.

AN INNOCENT TRIP TO NEW YORK
Satu lagi karya Teddy Soeriaatmadja. Pada tahun 2012 kemudian proyek ini menerima "PanStar Cruise Award" di Asian Project Market dan menerima $9,000 untuk produksinya. Bercerita wacana pengelola rumah makan padang berjulukan Haji Bansar yang merasa terpukul sesudah puteranya yang bersekolah di New York, Alfi mengaku bahwa dirinya seorang gay. Suatu hari Haji Bansar mendapatkan ajakan komitmen nikah anaknya dan memutuskan pergi ke New York untuk menghentikan komitmen nikah tersebut. Belum ada tanggal rilis resmi film ini.

ANOTHER TRIP TO THE MOON
Film sureal karya Ismael Basbeth ini bercerita wacana gadis berjulukan Asa (Tara Basro) yang menentukan tinggal sendirian di tengah hutan hingga seorang insan anjing (Cornelio Sunny) kepercayaan ibunya tiba menjemput Asa biar sang gadis mau tinggal di kota. Lebih dulu tayang di "Rotterdam Film Festival 2015", daya tarik film ini tentu ada pada penggabungan dunia mitologi lokal dan fantasi dengan gaya surealisme. Belum ada tanggal rilis niscaya untuk film ini.

BATTLE OF SURABAYA
Animasi ialah genre yang jarang dijamah film Indonesia, alasannya itu film ini jadi begitu saya tunggu selain alasannya fakta bahwa sudah semenjak usang menerima buzz karena banyak sekali penghargaan dari pameran film internasional. Seperti judulnya film ini bercerita wacana bocah tukang semir sepatu yang harus mengirimkan paket bagi para pejuang ketika meletusnya peperangan di Surabaya pada 10 November 1945. Dari halaman IMDb-nya, film ini menerima tanggal rilis 20 Agustus 2015. 

DECEMBER
Belum ada informasi baik tangal rilis maupun sinopsis resmi film ini. Tapi alasannya ini ialah film karya Andri Cung yang menghadirkan pada kita The Sun, The Moon and The Hurricane, tidak ada alasan bagi saya untuk tidak antusias.

GUNDALA PUTRA PETIR
Tidak perlu banyak alasan untuk menunggu sebuah film superhero buatan Indonesia. Hanung Bramantyo membangkitkan kembali sang putera petir yang selama ini karam di tengah serbuan superhero Hollywood. Belum ada kepastian tanggal tapi film ini bakal rilis tahun 2016.

KARTINI
Film Hanung Bramantyo lagi, dan satu lagi biopic dari sang sutradara. Dian Sastrowardoyo berperan sebagai Kartini yang dalam film ini akan ditonjolkan sisinya sebagai perempuan muda dengan kelincahan dan kecerewetannya. Sudut pandang gres yang tidak diperlihatkan oleh film versi 1984-nya. Memulai syuting pada bulan Desember, film ini bakal dirilis pada April 2016.

NAY
Selalu suka karya Djenar Maesa Ayu yang mengangkat kisah perempuan dan mendobrak batas tabu suatu kisah. Nay. bercerita wacana gadis berjulukan Nay yang mengetahu dirinya telah mengandung 14 minggu. Tapi ketika memberikan kabar itu pada Ben sang kekasih, ia justru lebih mementingkan permasalahan dengan sang ibu. Disatu sisi Nay gres saja menerima tugas di sebuah film sebagai bintang film utama. Film ini mengambil dominan lokasi dalam sebuah kendaraan beroda empat dengan aksara Nay melaksanakan monolog (meningatkan pada Tom Hardy di Locke.) Rencananya film ini bakal tayang pertengahan tahun ini.

PANJI TENGKORAK
Disutradarai oleh Upi (Belenggu, Realita Cinta dan Rock 'n Roll, Radit dan Jani) film ini merupakan penyesuaian komik silat karya Hans Jaladara yang sempat populer pada tahun 60-an. Upi berniat membawa kisah tersebut ke setting modern yang lebih pop. Panji Tengkorak direncanakan rilis pada Desember 2015.

PERBURUAN
Disutradarai oleh Richard Oh yang menciptakan Melancholy is A Movement (salah satu film lokal terbaik tahun 2015 sejauh ini berdasarkan saya) film ini menjadi penyesuaian novel karya Pramoedya Ananta Toer yang terbit tahun 1949. Ber-setting pada simpulan masa penjajahan Jepang, Perburuan berkisah wacana seorang pejuang berjulukan Hardo yang tengah diburu oleh tentara Jepang. Film ini akan rilis 16 Agustus 2015.

SURAT DARI PRAHA
Setelah Cahaya Dari Timur: Beta Maluku dan Filosofi Kopi yang begitu mengesankan, film karya Angga Dwimas Sasongko tidak akan sanggup saya lewatkan. Dibintangi oleh Tio Pakusadewo dan Julie Estelle, film ini akan menjadi refleksi perjalanan karir Glenn Fredly (juga menjadi produser disini) selama 20 tahun ia berkarya. Film ini akan rilis pada Oktober 2015.

TERPANA
Satu lagi karya Richard Oh. Menampilkan Fachri Albar dan Raline Shah sebagai bintang film utama, saya menduga film ini bakal menjadi satu lagi karya aneh dari Richard Oh. Setelah Melanchoy is A Movement, aneh dari Richard niscaya saya nantikan. Belum ada tanggal rilis, tapi kemungkinan simpulan tahun 2015 atau awal 2016.

THE RETURNING
Witra Asliga yang menyutradarai segmen Insomnights dalam 3Sum adalah sutradara film ini. Belum ada keterangan resmi, tapi dari karya sebelumnya besar kemungkinan ini ialah twisted thriller/horror. Menarik.

TUYUL PART 2 & 3
Fim pertamanya mungkin tidak tergolong bagus, tapi terperinci ada usaha berpengaruh menjadi horror berkualitas disana lengkap dengan tata artistik mengesankan. Menarik untuk dinantikan bagaimana dua film ini mengeksplorasi secara lebih jauh mitologi tuyul yang sudah dikembangkan cukup menarik oleh film pertamanya.

VALENTINE
Satu lagi film superhero, tapi bedanya Valentine menampilkan jagoan perempuan dan tanpa kekuatan super. Berencana rilis tahun 2015 ini, tentu menarik disaat raksasa Hollywood macam Marvel dan DC gres akan mengeluarkan film superhero perempuan pada beberapa tahun kemudian Indonesia justru terlebih dahulu melaksanakan itu.

WIRO SABLENG
Akhirnya Wiro Sableng di layar lebar! Mengetahui bahwa film ini diproduksi oleh Lifelike Pictures-nya Lala Timothy yang banyak menelurkan film-film berkualitas (Modus Anomali, Pintu Terlarang, Tabula Rasa) terasa melegakan. Belum diketahui tanggal rilis, sinopsis, maupun siapa saja yang terlibat meski sanggup dipastikan ada keterlibatan Vino G. Bastian yang notabene putera Bastian Tito selaku pencipta Wiro Sableng.

Selain 20 film di atas masih banyak lagi film-film Indonesia berkuaitas yang akan segera tayang. AYO NONTON FILM INDONESIA BAGUS DI BIOSKOP.

(beberapa bab artikel bersumber dari web officialfilmindonesia.com)