Showing posts sorted by relevance for query skyfall-2012. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query skyfall-2012. Sort by date Show all posts

Tuesday, January 15, 2019

Ini Lho Skyfall (2012)

Lima puluh tahun sudah berlalu semenjak Sean Conery memperkenalkan line ikonik "My name is Bond, James Bond" di layar lebar dan kini franchise sang intel 007 sudah hingga pada nomor 23. Setelah di-reboot lewat Casino Royale pada 2006 lalu, sosok James Bond memang sudah mengalami banyak perubahan. Tidak ada lagi Bond yang flamboyan menyerupai versi Brosnan, alasannya Bond versi Craig jauh lebih agresif dan lebih brutal. Dari segi fisik juga Craig berbeda dibanding para pendahulunya dimana ia menjadi Bond pertama yang berambut pirang. Tapi segala keraguan tersebut dibantahkan lewat Casino Royale yang bisa tampil luar biasa. Sekali lagi sutradara Martin Campbell berhasil menghidupkan franchise Bond yang sempat nyaris mati menyerupai yang pernah ia lakukan lewat GoldenEye bersama Pierce Brosnan dulu. Setelah sempat mengalami penurunan kualitas dalam Quantum of Solace kali ini bertepatan dengan perayaan 50 tahun rilisnya Dr. No (film pertama James Bond), Daniel Craig kembali memerankan sosok sang intel meskipun produksi film ke-23 ini sempat mengalami kendala disaat MGM mengalami kebangkrutan dan membuat Skyfall gres bisa rilis empat tahun sesudah film sebelumnya (biasanya film Bond rilis tiap dua tahun sekali).

Skyfall punya jajaran pemain dan sutradara yang kuat. Untuk bangku sutradara ada Sam Mendes yang bahwasanya lebih populer lewat drama-drama depresif macam American Beauty atau Revolutionary Road. Tapi semenjak pemilihan Daniel Craig sebagai Bond yang ternyata sempurna meski sempat diragukan saya sama sekali tidak mewaspadai pemilihan Sam Mendes, alasannya niscaya ada alasan tertentu dibalik keputusan tersebut. Sementara itu untuk sosok villain ada Javier Bardem yang akan menjadi lawan dari Craig. Untuk Bond Girl ada dua aktris yang bermain yaitu Berenice Marlohe dan Naomie Harris. Selain itu ada juga Ralph Fiennes dan tentu saja Judi Dench yang kembali melanjutkan kiprahnya sebagai M. Skyfall dibuka dengan sebuah adegan dimana Bond dan rekannya, Eve (Naomie Harris) sedang menjalankan misi di Turki untuk mendapat sebuah hard drive yang berisi data wacana agen-agen yang tengah melaksanakan misi penyamaran. Disaat sedang bertarung dengan lawannya, secara tidak sengaja Bond justru terkena tembakan yang dilepaskan oleh Eve. Bond yang terjatuh ke sungai dinyatakan hilang dan dianggap telah tewas. Menghilang beberapa lama, balasannya Bond kembali disaat ia mendengar kabar bahwa kantor MI6 mendapat serangan bom yang menewaskan beberapa agen, dan mengancam nyawa M.

Setelah adegan action sequence pembuka yang cukup menegangkan, Skyfall dilanjutkan dengan sebuah opening yang sangat keren dimana kita akan disuguhi banyak sekali adegan dengan sentuhan animasi keren dan diiringi oleh lagu Skyfall yang dinyanyikan oleh Adele. Rangkaian visual kelam nan keren makin terasa mensugesti berkat lantunan bunyi Adele pada balasannya mengakibatkan pembukaan ini begitu luar biasa layaknya film-film David Fincher. Adegan "kematian" Bond yang disusul oleh opening yang begitu terasa gelap tersebut nampaknya jadi sebuah mengambarkan bahwa Skyfall akan jauh lebih kelam daripada film-film Bond sebelumnya bahkan Casino Royale sekalipun. Pada balasannya memang hal tersebut terbukti, dimana pemilihan Sam Mendes sebagai sutradara memang ada maksudnya. Skyfall bukan hanya sebuah film Bond biasa. Ini ialah sebuah penghormatan bagi sejarah panjang franchise 007 dan sebuah eksplorasi lebih jauh dalam dunia yang telah terbangung selama 50 tahun tersebut. Sam Mendes berhasil membuat sebuah suasana yang gelap, lebih intim namun tidak pernah kehilangan sentuhan-sentuhan khas film Bond alasannya notabene Skyfall juga menjadi penghormatan terhadap film-film sebelumnya.
Pengalaman saya dalam menonton film Bond memang belum terlalu banyak, namun hingga ketika ini saya belum pernah menyaksikan film Bond dengan aura sekelam Skyfall. Konflik dan bahaya yang muncul dari sang villain terasa jauh lebih mengancam secara personal dan membuatnya lebih menegangkan. Satu hal lagi yang membedakan Skyfall dengan film-film Bond sebelumnya ialah eksplorasi wacana latar belakang tiap karakternya yang jauh lebih luas. Ambil teladan mudah, sebelum ini tidak ada film Bond yang menyoroti masa kemudian sang intel sedalam yang dilakukan Skyfall. Disini James Bond masih menyerupai yang kita kenal sebelumnya (versi Craig) hanya saja sosoknya jauh lebih mendalam mengingat kita akan diajak menengok ke masa kemudian Bond, jauh sebelum ia menjadi biro rahasia, disaat ia masih bocah dan pada balasannya membuatnya menjadi Bond yang sekarang. Selain itu sosok M yang dimainkan Judi Dench mendapat screen time yang jauh lebih banyak dari sebelumnya. Sosoknya pun turut mendapat eksplorasi lebih jauh wacana konflik batin yang ia rasakan sebagai pimpinan MI6.

Tapi intinya ini ialah film Bond yang tentunya tidak terlepas dari adegan aksi. Mau sebagus apapun eksplorasi karakternya kalau adegan aksinya melempem maka filmnya jadi mengecewakan. Tapi ternyata Sam Mendes tidak hanya berhasil dalam meramu porsi drama dalam film ini, alasannya banyak sekali adegan agresi yang ada bisa tampil spektakuler dan juga menegangkan. Lihat saja mulai dari adegan diawal, kejar-kejaran Bond dan Silva yang berujung spektakuler ketika sebuah kereta terjatuh dan nyaris menimpa Bond hingga tentunya adegan klimaksnya yang tidak hanya seru, menegangkan namun juga begitu kelam dan personal tersebut. Pengemasan klimaksnya ialah salah satu titik puncak terbaik dalam film Bond, dimana hal tersebut tidak terlepas dari lokasi daerah titik puncak tersebut berada. Sam Mendes bisa meramu bagaimana biar adegan aksinya bisa terasa mengena bagi penonton. Mungkin porsinya tidak begitu banyak dan ada dibawah Quantum of Solace dari segi kuantitas, namun dari segi kualitas adegan agresi di Skyfall tidaklah terasa kosong dan asal seru. Tentu saja itu semua masih dibalut dengan gambar-gambar indah mulai dari pemandangan Turki hingga Skotlandia di simpulan film yang makin menambah suasana hambar dan gelap.

Skyfall bukan hanya sebuah installment anggun dari James Bond, tapi juga penuh dengan penghormatan dan momen klasik. Sebut saja penggunaan kendaraan beroda empat Aston Martin DB5 yang dulu muncul di Goldfinger (1964) hingga acuan vodka-martini yang menyerupai biasa muncul hanya saja kini dengan line yang beda dari Bond. Beberapa tokoh ikonik yang sempat menghilang dalam dua film terakhir juga dimunculkan, menyerupai sosok Q yang kali ini menjadi lebih muda dan dimainkan oleh Ben Whishaw hingga Miss Moneypenny yang harus diakui kemunculannya cukup mengejutkan. Dalam kemunculan pertamanya juga sosok Q sudah melontarkan obrolan yang memiliki acuan terhadap sosok Q di film-film sebelumnya (pulpen sebagai bom?) Sementara itu sosok Gareth Mallory yang dimainkan Ralph Fiennes juga meninggalkan kesan berpengaruh dimana ia nantinya akan memiliki tugas penting dalam kelanjutkan franchise ini. Tapi tentunya penghormatan paling kentara diberikan pada Judi Dench sebagai M yang dengan film ini sudah tujuh kali memerankan abjad tersebut semenjak tahun 1995 lewat GoldenEye. Dengan waktu muncul yang jauh lebih banyak juga membuat Judi Dench bisa memunculkan akting terbaiknya. Craig juga makin menyatu dengan sosok Bond yang ia mainkan. Tapi tentunya screen stealer di film ini ialah Javier Bardem. Sejak pertama kali muncul sosoknya sudah menghipnotis. Seorang asing yang menyimpan dendam kesumat dan melampiaskannya lewat agresi asing namun jenius.

Kalau ada yang kurang dari Skyfall, itu ialah sosok Bond Girls yang punya porsi jauh lebih minim dibanding film-film sebelumnya. Mungkinkah akhir konflik yang jauh lebih kelam Bond sedang tidak punya waktu bermain-main terlalu banyak dengan perempuan di film ini? Durasi 143 menit juga membuat saya sedikit kebosanan di pertengahan film. Tapi pada balasannya Skyfall terang menjadi salah satu film Bond terbaik yang pernah saya tonton dan menjadi salah satu film agresi terbaik tahun ini. Disaat installment Bourne melempem tahun ini dan sekuel Taken ternyata jauh lebih jelek dari film pertamanya, sosok James Bond kembali menjadi action hero nomor satu. Tapi sesungguhnya Bond bukan sekedar action hero, setidaknya sesudah saya melihat film ini saya beranggapan menyerupai itu. Saya mengamini kalau Mendes menyampaikan bahwa Skyfall mendapat perlakuan sama menyerupai The Dark Knight melihat bagaimana sang tokoh utama diperlakukan dan melihat sosok antagonisnya. Jauh lebih mendalam, lebih kelam, lebih personal dan penuh dengan penghormatan terhadap installment sebelumnya, Skyfall sukses memuaskan saya dan menjadi film agresi terbaik tahun ini.

Monday, January 14, 2019

Ini Lho Wreck-It Ralph (2012)

Akhir-akhir ini nampaknya film yang menunjukkan tribute atau penghormatan terhadap suatu genre sedang sering dibuat, dan lebih banyak didominasi punya kualitas yang baik. Ada The Cabin in the Woods yang menunjukkan penghormatan pada film horror, The Artist pada film bisu, Frankenweenie pada film monster, bahkan Skyfall juga menunjukkan banyak sekali penghormatan pada film-film James Bond lama. Kali ini giliran Walt Disney lewat film animasi ke-52 mereka yang menunjukkan penghormatan, bedanya bukan penghormatan pada suatu genre film melainkan kepada video games atau lebih tepatnya arcade game yang sempat booming pada periode 90-an. Sambutlah Wreck-it Ralph, sebuah film yang sudah begitu ditunggu oleh para gamer. Jika Toy Story bercerita perihal mainan yang hidup dan punya perasaan, maka Wreck-it Ralph ialah kisah perihal bagaimana kalau para huruf dalam video game bekerjsama hidup dan berinteraksi satu sama lain. Dunia dalam film ini memang mengingatkan pada Toy Story, dimana para huruf dalam game akan hidup layaknya insan dan saling berinteraksi kalau game center sudah tutup dan tidak ada orang disana. Apa kesannya kalau para huruf villain dalam game bekerjsama bukanlah sosok yang sama sekali jahat? Apa kesannya kalau mereka menjadi jahat hanya alasannya ialah tugas mereka dalam dunia game tersebut? Lalu apa kesannya kalau mereka justru ingin menjadi baik?

Begitulah yang dialami oleh Ralph, sosok penjahat dalam game Fix-it Felix, Jr. Pekerjaan yang ia lakukan tiap hari ialah menghancurkan gedung yang kemudian akan diperbaiki oleh Felix Jr. ,sosok protagonis dalam game tersebut yang dikendalikan oleh para gamer. Tapi masalahnya, dengan menjadi sosok penjahat ia justru dijauhi dan ditakuti oleh penduduk dalam game tersebut. Disaat Felix Jr. mendapat puja puji, punya banyak teman, mendapat medali emas dan tinggal di rumah mewah, Ralph justru dijauhi dan tinggal di tumpukan sampah. Hal tersebut menciptakan Ralph jengah. Hal itulah yang mendorongnya melaksanakan perbuatan terlarang dalam dunia game, yaitu berpindah ke game lain untuk menjadi sosok pahlawan guna mendapat medali dan menandakan pada orang-orang bahwa ia juga sanggup menjadi baik. Dalam usahanya itu ia berpindah-pindah game, mulai dari game FPS berjudul Hero's Duty hingga game balapan bawah umur berjudul Sugar Rush. Disana ia juga bertemu dengan Vanellope, seorang huruf game yang juga dijauhi alasannya ialah mengalami kerusakan. Tapi tanpa disadari oleh Ralph, perbuatannya justru memunculkan ancaman yang sanggup menghancurkan dunia game tersebut.

Dasar dongeng yang digunakan dalam Wreck-it Ralph bekerjsama tidaklah spesial, dimana kisah perihal orang jahat yang berusaha menjadi baik bukanlah sesuatu yang benar-benar gres dalam film. Tapi bagaimana kisah tersebut dipadukan dengan dunia video game dengan begitu baik menimbulkan film ini terasa segar dan menyenangkan untuk ditonton. Para penggemar game tentu akan puas dengan banyak sekali rujukan yang muncul dalam film ini. Ada banyak sekali huruf game yang muncul sebagai cameo mulai dari para tokoh dalam Street Fighter, Sonic, Pacman dan masih banyak lagi muncul disini. Selain mengikuti ceritanya, tentu film ini menjadi sebuah pencarian trivia yang menyenangkan bagi para pecinta game. Wreck-it Ralph begitu baik dalam membangun sebuah dunia dalam film yang menurut dunia dalam video game. Masing-masing video game punya dunia mereka masing-masing yang tentunya punya ciri khas, mulai dari Fix-it Felix yang retro, Hero's Duty yang punya format 3D modern, Sugar Rush yang penuh warna dan masih banyak lagi. Setiap dunia punya keunikan masing-masing. Tiap huruf dalam game yang berbeda juga punya keunikan yang membedakan mereka satu sama lain, bahkan hingga cara mereka bergerak pun dibedakan sesuai game mereka.
Tapi Wreck-it Ralph tidak hanya ditujukan bagi para pecinta game, alasannya ialah bagi penonton yang bukan gamer, film ini masih tetap punya hal menarik untuk disajikan. Kisahnya memang disajikan dengan ringan, tapi tidak terlalu kekanak-kanakan. Humor-humor yang muncul baik dari adegan hingga dialognya terasa pas dan lucu tanpa harus terasa berlebihan layaknya film-film animasi yang ditujukan hanya bagi anak-anak. Selain itu, diluar kisahnya yang ringan dan ceria, film ini tetap punya hati, itulah yang membuatnya makin spesial. Saya dibentuk tersentuh mengikuti perjalanan tokoh-tokohnya yang punya karakterisasi cukup mendalam. Bahkan ada dua momen yang menciptakan saya nyaris meneteskan air mata. Kedua momen itu ialah disaat Ralph merusak kendaraan beroda empat milik Vanellope dan tentunya bab ending. Tidak hanya itu, Wreck-it Ralph juga masih punya twist yang meski tidak terlalu Istimewa tapi cukup mengejutkan dan efektif menciptakan tensi kisahnya makin menarik. Tiap-tiap karakternya juga tidak hanya sebagai perhiasan dan tetap punya karakterisasi masing-masing yang menciptakan mereka menarik, sebut saja Sersan Tamora yang punya latar belakang masa kemudian kelam. Hubungan yang terjalin antara beliau dan Felix Jr. terasa lucu sekaligus manis.

Wreck-it Ralph punya banyak pesan budbahasa yang sanggup diambil menyerupai lebih banyak didominasi film Disney, tapi presentasinya lebih terasa seeprti film Pixar dimana semua pesan moralnya disajikan secara lebih realistis dan tidak terasa menyerupai sebuah fairy tale. Ini ialah kisah perihal bagaimana tidak seharusnya kita menilai dengan gampang perihal baik atau buruknya seseorang, alasannya ialah yang terlihat dari luar belum tentu sama di dalam. Ini juga ialah kisah perihal bagaimana semua orang, seburuk apapun ia punya kesempatan untuk menjelma lebih baik, dan bagaimana di dunia ini supaya bagaimana pun akan selalu ada kebaikan dan kejahatan yang akan terus saling bertentangan. Wreck-it Ralph memang ialah sebuah film animasi, tapi baik bawah umur ataupun orang cukup umur akan sanggup terhibur olehnya. Wreck-it Ralph memang sebuah film perihal sekaligus tribute pada video game, tapi baik para pecinta game ataupun yang bukan tetap sanggup menyukai film ini. Tentunya hal itu sudah cukup menimbulkan film ini sebagai film yang Istimewa sekaligus animasi terbaik di tahun 2012 lalu, mengalahkan Pixar lewat Brave. Sayang keinginan saya untuk melihat para huruf game bersatu di titik puncak tidak terwujud, alasannya ialah itu akan luar biasa!


Ini Lho Wreck-It Ralph (2012)

Akhir-akhir ini nampaknya film yang menunjukkan tribute atau penghormatan terhadap suatu genre sedang sering dibuat, dan lebih banyak didominasi punya kualitas yang baik. Ada The Cabin in the Woods yang menunjukkan penghormatan pada film horror, The Artist pada film bisu, Frankenweenie pada film monster, bahkan Skyfall juga menunjukkan banyak sekali penghormatan pada film-film James Bond lama. Kali ini giliran Walt Disney lewat film animasi ke-52 mereka yang menunjukkan penghormatan, bedanya bukan penghormatan pada suatu genre film melainkan kepada video games atau lebih tepatnya arcade game yang sempat booming pada periode 90-an. Sambutlah Wreck-it Ralph, sebuah film yang sudah begitu ditunggu oleh para gamer. Jika Toy Story bercerita perihal mainan yang hidup dan punya perasaan, maka Wreck-it Ralph ialah kisah perihal bagaimana kalau para huruf dalam video game bekerjsama hidup dan berinteraksi satu sama lain. Dunia dalam film ini memang mengingatkan pada Toy Story, dimana para huruf dalam game akan hidup layaknya insan dan saling berinteraksi kalau game center sudah tutup dan tidak ada orang disana. Apa kesannya kalau para huruf villain dalam game bekerjsama bukanlah sosok yang sama sekali jahat? Apa kesannya kalau mereka menjadi jahat hanya alasannya ialah tugas mereka dalam dunia game tersebut? Lalu apa kesannya kalau mereka justru ingin menjadi baik?

Begitulah yang dialami oleh Ralph, sosok penjahat dalam game Fix-it Felix, Jr. Pekerjaan yang ia lakukan tiap hari ialah menghancurkan gedung yang kemudian akan diperbaiki oleh Felix Jr. ,sosok protagonis dalam game tersebut yang dikendalikan oleh para gamer. Tapi masalahnya, dengan menjadi sosok penjahat ia justru dijauhi dan ditakuti oleh penduduk dalam game tersebut. Disaat Felix Jr. mendapat puja puji, punya banyak teman, mendapat medali emas dan tinggal di rumah mewah, Ralph justru dijauhi dan tinggal di tumpukan sampah. Hal tersebut menciptakan Ralph jengah. Hal itulah yang mendorongnya melaksanakan perbuatan terlarang dalam dunia game, yaitu berpindah ke game lain untuk menjadi sosok pahlawan guna mendapat medali dan menandakan pada orang-orang bahwa ia juga sanggup menjadi baik. Dalam usahanya itu ia berpindah-pindah game, mulai dari game FPS berjudul Hero's Duty hingga game balapan bawah umur berjudul Sugar Rush. Disana ia juga bertemu dengan Vanellope, seorang huruf game yang juga dijauhi alasannya ialah mengalami kerusakan. Tapi tanpa disadari oleh Ralph, perbuatannya justru memunculkan ancaman yang sanggup menghancurkan dunia game tersebut.

Dasar dongeng yang digunakan dalam Wreck-it Ralph bekerjsama tidaklah spesial, dimana kisah perihal orang jahat yang berusaha menjadi baik bukanlah sesuatu yang benar-benar gres dalam film. Tapi bagaimana kisah tersebut dipadukan dengan dunia video game dengan begitu baik menimbulkan film ini terasa segar dan menyenangkan untuk ditonton. Para penggemar game tentu akan puas dengan banyak sekali rujukan yang muncul dalam film ini. Ada banyak sekali huruf game yang muncul sebagai cameo mulai dari para tokoh dalam Street Fighter, Sonic, Pacman dan masih banyak lagi muncul disini. Selain mengikuti ceritanya, tentu film ini menjadi sebuah pencarian trivia yang menyenangkan bagi para pecinta game. Wreck-it Ralph begitu baik dalam membangun sebuah dunia dalam film yang menurut dunia dalam video game. Masing-masing video game punya dunia mereka masing-masing yang tentunya punya ciri khas, mulai dari Fix-it Felix yang retro, Hero's Duty yang punya format 3D modern, Sugar Rush yang penuh warna dan masih banyak lagi. Setiap dunia punya keunikan masing-masing. Tiap huruf dalam game yang berbeda juga punya keunikan yang membedakan mereka satu sama lain, bahkan hingga cara mereka bergerak pun dibedakan sesuai game mereka.
Tapi Wreck-it Ralph tidak hanya ditujukan bagi para pecinta game, alasannya ialah bagi penonton yang bukan gamer, film ini masih tetap punya hal menarik untuk disajikan. Kisahnya memang disajikan dengan ringan, tapi tidak terlalu kekanak-kanakan. Humor-humor yang muncul baik dari adegan hingga dialognya terasa pas dan lucu tanpa harus terasa berlebihan layaknya film-film animasi yang ditujukan hanya bagi anak-anak. Selain itu, diluar kisahnya yang ringan dan ceria, film ini tetap punya hati, itulah yang membuatnya makin spesial. Saya dibentuk tersentuh mengikuti perjalanan tokoh-tokohnya yang punya karakterisasi cukup mendalam. Bahkan ada dua momen yang menciptakan saya nyaris meneteskan air mata. Kedua momen itu ialah disaat Ralph merusak kendaraan beroda empat milik Vanellope dan tentunya bab ending. Tidak hanya itu, Wreck-it Ralph juga masih punya twist yang meski tidak terlalu Istimewa tapi cukup mengejutkan dan efektif menciptakan tensi kisahnya makin menarik. Tiap-tiap karakternya juga tidak hanya sebagai perhiasan dan tetap punya karakterisasi masing-masing yang menciptakan mereka menarik, sebut saja Sersan Tamora yang punya latar belakang masa kemudian kelam. Hubungan yang terjalin antara beliau dan Felix Jr. terasa lucu sekaligus manis.

Wreck-it Ralph punya banyak pesan budbahasa yang sanggup diambil menyerupai lebih banyak didominasi film Disney, tapi presentasinya lebih terasa seeprti film Pixar dimana semua pesan moralnya disajikan secara lebih realistis dan tidak terasa menyerupai sebuah fairy tale. Ini ialah kisah perihal bagaimana tidak seharusnya kita menilai dengan gampang perihal baik atau buruknya seseorang, alasannya ialah yang terlihat dari luar belum tentu sama di dalam. Ini juga ialah kisah perihal bagaimana semua orang, seburuk apapun ia punya kesempatan untuk menjelma lebih baik, dan bagaimana di dunia ini supaya bagaimana pun akan selalu ada kebaikan dan kejahatan yang akan terus saling bertentangan. Wreck-it Ralph memang ialah sebuah film animasi, tapi baik bawah umur ataupun orang cukup umur akan sanggup terhibur olehnya. Wreck-it Ralph memang sebuah film perihal sekaligus tribute pada video game, tapi baik para pecinta game ataupun yang bukan tetap sanggup menyukai film ini. Tentunya hal itu sudah cukup menimbulkan film ini sebagai film yang Istimewa sekaligus animasi terbaik di tahun 2012 lalu, mengalahkan Pixar lewat Brave. Sayang keinginan saya untuk melihat para huruf game bersatu di titik puncak tidak terwujud, alasannya ialah itu akan luar biasa!


Tuesday, January 15, 2019

Ini Lho American Beauty (1999)


American Beauty ialah debut dari sutradara Sam Mendes yang nantinya akan menghasilkan beberapa film sukses termasuk sebuah drama keluara depresif yang mempertemukan kembali Leonardo DiCaprio dengan Kate Winslet dalam Revolutionary Road dan juga film Bond ke 23 yang akan rilis tahun 2012 ini, Skyfall. American Beauty tidak hanya merupakan debut Sam Mendes tapi juga filmnya yang paling sukses baik itu dari segi komersial maupun kualitas. Disamping pemasukan yang melewati angka $350 Juta, film ini juga berhasil meraih delapan nominasi Oscar dan memenangkan lima diantaranya termasuk Best Picture dan Best Director untuk Sam Mendes. Meskipun mengandung kata Beauty didalamnya, tapi film ini sama sekali tidak bercerita perihal keindahan, sebab yang disoroti sepanjang film ialah hal-hal yang menjurus kearah disfungsi dan depresif. Tapi bukan berarti walaupun kisahnya tidak indah menciptakan American Beauty juga tidak menjadi film yang indah dan cantik, sebab yang saya saksikan justru sebuah sisi gelap yang bisa dihadirkan dalam medium yang begitu indah.

Ceritanya ialah mengenai Lester Burnham (Kevin Spacey) seorang laki-laki paruh baya yang bekerja sebagai penulis di sebuah majalah yang kehidupannya tidak bahagia. Lester merasa dirinya ialah seorang pecundang yang tidak bisa menjadi seorang ayah dan suami yang baik. Pada kenyataannya kehiduoan lester memang terasa menyedihkan. Tindak tanduknya terlihat kikuk, terancam dipecat dari pekerjaannya dan juga sering masturbasi ketika sedang mandi walaupun ia sudah menikah. Disisi lain sang istri Carolyn Burnham (Annette Bening) ialah seorang pengusaha real-estate yang sangat ambisius dan begitu mementingkan pekerjaannya. Sepasang suami istri inipun pada balasannya sudah tidak lagi terlihat sebagai pasangan suami-istri. Pernikahan mereka sekarang sudah hanya sebatas status dan nyaris tidak ada lagi romansa diantara mereka. Hal itu juga yang balasannya menghipnotis pribadi puteri tunggal mereka, Jane (Thora Birch) yang sama sekali tidak bersahabat dengan kedua orang tuanya bahkan cenderung membenci mereka. Keluarga ini benar-benar merupakan citra sebuah disfungsi keluarga tingkat akut dimana sudah tidak ada lagi keintiman antara mereka. Sampai suatu ketika masing-masing dari mereka mulai menyadari apa yang kosong dalam kehidupan mereka dan mulai menemukan pengisi dari kekosongan tersebut.

Seperti yang saya tuliskan diatas, American Beauty ialah sebuah film yang gotong royong begitu kelam namun bisa terlihat indah. Keindahan pertama terpampang terperinci dari sinematografinya yang seringkali menampilkan warna merah menyala dan mawar merah bertebaran yang tentunya tidak hanya memperlihatkan keindahan visual namun juga sebagai simbol yang berkaitan dengan apa yang disampaikan oleh film ini menyerupai contohnya untuk menampilkan hasrat yang menggebu dari Lester ataupun simbolis dari sebuah kecantikan. Selain berasal dari visualnya, apa yang menciptakan film ini indah juga ialah kisahnya. Sam Mendes bisa menampilkan sebuah disfungsi keluarga dan problema kehidupan yang dialami oleh para tokohnya dengan begitu kelam namun juga penuh ironi. Apa yang menciptakan film ini tidak sepenuhnya terasa depresif ialah sebab adanya banyak sekali sentuhan humor didalamnya. Tentu saja humor tersebut tidak akan menciptakan penontonnya tertawa tapi dengan humor tersebut kita justru makin dibentuk mencicipi kemelut serta kepahitan yang ada dan ironi yang tersebar dalam setiap balutan kisahnya. Sepertinya memasukkan ironi kedalam sebuah kisah kelam justru akan membuatnya menjadi sebuah kegelapan yang menawan menyerupai film ini.
Lalu gotong royong apa yang coba dikemukakan oleh American Beauty? Pada dasarnya film ini berjalan dengan sederhana, namun ternyata ada banyak interpretasi terkait apa yang coba disampaikan oleh naskah yang ditulis Alan Ball ini. Semua itu dikarenakan kisah dalam film ini memang mengandung banyak sekali isu-isu yang semuanya bermuara kepada sebuah hal yang berjulukan disfungsi sosial dan keluarga pada khususnya. Lalu apa saja gotong royong yang terkandung dalam film ini? Pertama yang saya lihat ialah sebuah pencarian dalam kehidupan. Pencarian disini bisa berarti mencari jati diri, mencari makna hidup hingga mencari kebebasan. Mungkin semua itu terdapat pada diri Lester yang memang pada awalnya pasrah saja "terpenjara" dalam kehidupannya sebagai pecundang, namun ketika beliau mencoba memberontak dari hal itu banyak sekali pencarian mulai ia lakukan. Begitu juga dengan yang terjadi pada Jane sesudah beliau mulai bertemu dengan Ricky (Wes Bentley). Berbagai hal mengenai kehidupan seksual juga dikupas disini. Bagaimana pasangan Lester dan Carolyn yang sudah usang tidak berhubunan seksual, kemudian berujung pada pelampiasan seksual mereka masing-masing. Kemudian jikalau kita berpaling kepada aksara Jane, maka selain pencarian jati diri tema konformitas akan sangat terasa. Bagaimana ia awalnya terlihat sebagai orang yang sepaham dan setipe dengan Angela (Mena Suvari) tapi kemudian kita tahu bahwa itu bukanlah kata hati Jane. Selain itu masih banyak lagi yang terkandung dalam film ini dan akan terlalu banyak jikalau harus semuanya dituliskan disini.

Tapi tentunya film ini tidak akan terasa begitu berpengaruh tanpa penampilan gemilang dari para pemainnya. Semua yang bermain dalam American Beauty gotong royong tampil bagus, termasuk Annette Bening yang menerima noninasi Best Actress di Oscar meski balasannya kalah dari Hilary Swank tapi penampilannya sebagai seorang istri yang tengah menderita kegundahan menyangkut kondisi keluarga dan obsesinya terhadap pekerjaannya terllihat luar biasa. Tapi bagi saya bintang terbaik dari film ini ialah Kevin Spacey yang pada balasannya berhasil memenangkan Best Actor Oscar. Berbagai jenis momen bisa dilakoni Spacey dengan begitu baik, mulai dari momen dengan obrolan panjang hingga momen membisu yang hanya terlihat dari tatapan matanya saja. Saya eksklusif tahu bahwa Lester ialah orang dengan kondisi yang begitu ruwet ketika melihat emosinya meletup-letup, ketika melihatnya tersenyum, menyeringai pada Angela. Tentunya highlight bagi Spacey ialah momen makan malam (yang mana juga merupakan highlight bagi Annette Bening) dimana pada adegan itu ia melaksanakan sebuah improvisasi yang terkesan begitu natural dan tentu saja berdampak pada reaksi lawan mainnya yang juga natural. Begitulah pada balasannya dimana Kevin Spacey melengkapi penggalan puzzle yang menciptakan American Beauty menjadi sebuah drama yang powerful.

Wednesday, January 16, 2019

Ini Lho American Beauty (1999)


American Beauty ialah debut dari sutradara Sam Mendes yang nantinya akan menghasilkan beberapa film sukses termasuk sebuah drama keluara depresif yang mempertemukan kembali Leonardo DiCaprio dengan Kate Winslet dalam Revolutionary Road dan juga film Bond ke 23 yang akan rilis tahun 2012 ini, Skyfall. American Beauty tidak hanya merupakan debut Sam Mendes tapi juga filmnya yang paling sukses baik itu dari segi komersial maupun kualitas. Disamping pemasukan yang melewati angka $350 Juta, film ini juga berhasil meraih delapan nominasi Oscar dan memenangkan lima diantaranya termasuk Best Picture dan Best Director untuk Sam Mendes. Meskipun mengandung kata Beauty didalamnya, tapi film ini sama sekali tidak bercerita perihal keindahan, sebab yang disoroti sepanjang film ialah hal-hal yang menjurus kearah disfungsi dan depresif. Tapi bukan berarti walaupun kisahnya tidak indah menciptakan American Beauty juga tidak menjadi film yang indah dan cantik, sebab yang saya saksikan justru sebuah sisi gelap yang bisa dihadirkan dalam medium yang begitu indah.

Ceritanya ialah mengenai Lester Burnham (Kevin Spacey) seorang laki-laki paruh baya yang bekerja sebagai penulis di sebuah majalah yang kehidupannya tidak bahagia. Lester merasa dirinya ialah seorang pecundang yang tidak bisa menjadi seorang ayah dan suami yang baik. Pada kenyataannya kehiduoan lester memang terasa menyedihkan. Tindak tanduknya terlihat kikuk, terancam dipecat dari pekerjaannya dan juga sering masturbasi ketika sedang mandi walaupun ia sudah menikah. Disisi lain sang istri Carolyn Burnham (Annette Bening) ialah seorang pengusaha real-estate yang sangat ambisius dan begitu mementingkan pekerjaannya. Sepasang suami istri inipun pada balasannya sudah tidak lagi terlihat sebagai pasangan suami-istri. Pernikahan mereka sekarang sudah hanya sebatas status dan nyaris tidak ada lagi romansa diantara mereka. Hal itu juga yang balasannya menghipnotis pribadi puteri tunggal mereka, Jane (Thora Birch) yang sama sekali tidak bersahabat dengan kedua orang tuanya bahkan cenderung membenci mereka. Keluarga ini benar-benar merupakan citra sebuah disfungsi keluarga tingkat akut dimana sudah tidak ada lagi keintiman antara mereka. Sampai suatu ketika masing-masing dari mereka mulai menyadari apa yang kosong dalam kehidupan mereka dan mulai menemukan pengisi dari kekosongan tersebut.

Seperti yang saya tuliskan diatas, American Beauty ialah sebuah film yang gotong royong begitu kelam namun bisa terlihat indah. Keindahan pertama terpampang terperinci dari sinematografinya yang seringkali menampilkan warna merah menyala dan mawar merah bertebaran yang tentunya tidak hanya memperlihatkan keindahan visual namun juga sebagai simbol yang berkaitan dengan apa yang disampaikan oleh film ini menyerupai contohnya untuk menampilkan hasrat yang menggebu dari Lester ataupun simbolis dari sebuah kecantikan. Selain berasal dari visualnya, apa yang menciptakan film ini indah juga ialah kisahnya. Sam Mendes bisa menampilkan sebuah disfungsi keluarga dan problema kehidupan yang dialami oleh para tokohnya dengan begitu kelam namun juga penuh ironi. Apa yang menciptakan film ini tidak sepenuhnya terasa depresif ialah sebab adanya banyak sekali sentuhan humor didalamnya. Tentu saja humor tersebut tidak akan menciptakan penontonnya tertawa tapi dengan humor tersebut kita justru makin dibentuk mencicipi kemelut serta kepahitan yang ada dan ironi yang tersebar dalam setiap balutan kisahnya. Sepertinya memasukkan ironi kedalam sebuah kisah kelam justru akan membuatnya menjadi sebuah kegelapan yang menawan menyerupai film ini.
Lalu gotong royong apa yang coba dikemukakan oleh American Beauty? Pada dasarnya film ini berjalan dengan sederhana, namun ternyata ada banyak interpretasi terkait apa yang coba disampaikan oleh naskah yang ditulis Alan Ball ini. Semua itu dikarenakan kisah dalam film ini memang mengandung banyak sekali isu-isu yang semuanya bermuara kepada sebuah hal yang berjulukan disfungsi sosial dan keluarga pada khususnya. Lalu apa saja gotong royong yang terkandung dalam film ini? Pertama yang saya lihat ialah sebuah pencarian dalam kehidupan. Pencarian disini bisa berarti mencari jati diri, mencari makna hidup hingga mencari kebebasan. Mungkin semua itu terdapat pada diri Lester yang memang pada awalnya pasrah saja "terpenjara" dalam kehidupannya sebagai pecundang, namun ketika beliau mencoba memberontak dari hal itu banyak sekali pencarian mulai ia lakukan. Begitu juga dengan yang terjadi pada Jane sesudah beliau mulai bertemu dengan Ricky (Wes Bentley). Berbagai hal mengenai kehidupan seksual juga dikupas disini. Bagaimana pasangan Lester dan Carolyn yang sudah usang tidak berhubunan seksual, kemudian berujung pada pelampiasan seksual mereka masing-masing. Kemudian jikalau kita berpaling kepada aksara Jane, maka selain pencarian jati diri tema konformitas akan sangat terasa. Bagaimana ia awalnya terlihat sebagai orang yang sepaham dan setipe dengan Angela (Mena Suvari) tapi kemudian kita tahu bahwa itu bukanlah kata hati Jane. Selain itu masih banyak lagi yang terkandung dalam film ini dan akan terlalu banyak jikalau harus semuanya dituliskan disini.

Tapi tentunya film ini tidak akan terasa begitu berpengaruh tanpa penampilan gemilang dari para pemainnya. Semua yang bermain dalam American Beauty gotong royong tampil bagus, termasuk Annette Bening yang menerima noninasi Best Actress di Oscar meski balasannya kalah dari Hilary Swank tapi penampilannya sebagai seorang istri yang tengah menderita kegundahan menyangkut kondisi keluarga dan obsesinya terhadap pekerjaannya terllihat luar biasa. Tapi bagi saya bintang terbaik dari film ini ialah Kevin Spacey yang pada balasannya berhasil memenangkan Best Actor Oscar. Berbagai jenis momen bisa dilakoni Spacey dengan begitu baik, mulai dari momen dengan obrolan panjang hingga momen membisu yang hanya terlihat dari tatapan matanya saja. Saya eksklusif tahu bahwa Lester ialah orang dengan kondisi yang begitu ruwet ketika melihat emosinya meletup-letup, ketika melihatnya tersenyum, menyeringai pada Angela. Tentunya highlight bagi Spacey ialah momen makan malam (yang mana juga merupakan highlight bagi Annette Bening) dimana pada adegan itu ia melaksanakan sebuah improvisasi yang terkesan begitu natural dan tentu saja berdampak pada reaksi lawan mainnya yang juga natural. Begitulah pada balasannya dimana Kevin Spacey melengkapi penggalan puzzle yang menciptakan American Beauty menjadi sebuah drama yang powerful.