Showing posts with label Bollywood. Show all posts
Showing posts with label Bollywood. Show all posts

Friday, January 11, 2019

Ini Lho The Lunchbox (2013)

Apanya yang menarik dari sebuah film yang menghadirkan rantang dan surat menyurat sebagai sajian utamanya? Sutradara debutan Ritesh Batra menandakan bahwa kedua hal yang sederhana bahkan terkesan ketinggalan jaman tersebut bisa dikemas untuk menjadi sebuah tontonan yang sangat menarik. Semua berawal dari renana Batra untuk menciptakan sebuah dokumenter perihal Dabbawala, yaitu para pengantar makan siang yang konon katanya tergabung dalam sebuah organisasi dengan sistem pendataan yang benar-benar efisien sehingga memungkinkan mereka mengantar makan siang tepat waktu dengan memanfaatkan banyak sekali macam jenis transportasi. Bahkan di hari yang sama pun mereka sudah pribadi mengembalikan rantang yang dikirim ke rumah masing-masing. Begitu luar biasanya sistem yang dipakai, pihak Harvard pun hingga tertarik menelitinya. Awalnya Ritesh Batra ingin menciptakan dokumenter untuk merangkum kehebatan para dabbawala ini pada tahun 2007, hingga kemudian ia justru menemukan banyak dongeng personal yang amat menarik berhasil ia temukan dari para pengguna jasa dabbawala. Batra pun memutuskan menciptakan sebuah drama romantis dengan mengakibatkan dabbawala sebagai salah satu unsur penggeraknya, dan pada risikonya jadilah The Lunchbox ini.

Diawal kita akan diajak untuk melihat Ila (Nimrat Kaur), seorang ibu rumah tangga yang sedang sibuk menyiapkan makan siang untuk ia kirim menggunakan jasa dabbawala. Sekilas saja bisa ditebak bahwa Ila sedang menyiapkan kuliner untuk seorang pria, entah pacar atau suaminya. Makanan yang ia buat pun diantar melintasi banyak sekali keramaian dan kumuhnya Mumbai sebelum pada risikonya diterima oleh seorang laki-laki berjulukan Saajan Fernandez (Irrfan Khan). Makara siapakah Mr. Fernandez ini? Apakah ia suami Ila? Atau kekasihnya? Ternyata ia bukan siapa-siapa, sebab paket makan siang tersebut tidak hingga pada tujuan. Disaat Saajan mendapat rantang makan siang dari Ila, suami Ila, Rajiv (Nakul Vaid) justru mendapat kuliner dari restoran yang dipesan oleh Saajan, dengan kata lain makan siang keduanya tertukar. Berawal dari situlah keduanya memulai komunikasi mereka lewat surat yang dimasukkan dalam rantang makanan. Tanpa mereka sadari, kehadiran masing-masing telah menambal kesepian dalam hidup keduanya. Baik Ila yang tidak lagi mendapat kehangatan dari sang suami maupun Saajan yang sudah ditinggal mati sang istri. Bagi Saajan khususnya, surat-surat dari Ila perlahan mulai merubah dirinya yang tadinya masbodoh dan seolah tidak peduli dengan sekitarnya menjadi lebih ramah serta lebih sering mengumbar senyum.
The Lunchbox sudah terasa begitu menarik sedari adegan pembukanya yang dimulai dengan interaksi menarik antara Ila dan tetangganya yang ia panggil Auntie (sepanjang film Auntie tidak pernah menampakkan sosoknya, hanya suara), hingga dikala kita diajak untuk sekilas melihat bagaimana para dabbawala menjalankan tugasnya. Semuanya sederhana tapi menarik, apalagi dikala kita risikonya tahu bahwa kuliner rantang yang dikirim oleh Ila ternyata telah tertukar. Saya juga suka bagaimana pengemasan adegan yang mengungkap bahwa kedua rantangnya teertukar. Cara Ritesh Batra bertutur pada momen tersebut tidaklah terlalu gamblang tapi berhasil menjelaskan semuanya dengan terang lewat cara yang bagi saya relatif cerdas meski sederhana. Sederhana. Kata itu memang sangat tepat untuk menggambarkan banyak aspek dalam film ini, termasuk ceritanya. Sebuah kisah cinta tanpa banyak dramatisasi ditambah alur yang berjalan jauh dari kesan rumit. Yang menarik lagi yakni fakta bahwa film ini menggunakan media surat sebagai penyambung kisah romansanya di zaman kini yang bahkan e-mail pun sudah terasa sedikit kuno untuk berinteraksi. Dengan kisah perihal surat menyurat lengkap dengan segala percikan cinta yang menciptakan jantung berdebar kencang, The Lunchbox punya kisah yang berpotensi menjadi cheesy dan sangat ABG. Tapi naskah yang ditulis Ritesh Batra dan Rutvik Oza membuatnya jauh dari itu.
Film ini pun tetap terasa begitu remaja berkat selipan kisah berupa retrospeksi perihal kehidupan masing-masing karakternya yang tertuang dalam goresan pena surat mereka masing-masing (diluar huruf utamanya yang memang sudah dewasa). Tapi kekuatan utama dari The Lunchbox terletak pada bagaimana kisahnya mampu mengaduk-aduk emosi penonton. Saya berulang kali dibentuk tersenyum, tertawa bahkan bisa bersorak hingga terkadang keceplosan berkata "cieeeee.." Siapa sangka film perihal dua orang yang saling surat menyurat dan menuliskan perihal hidup mereka masing-masing tanpa ada sedikitpun kata gombal bisa terasa semanis, sehangat dan seromantis ini? The Lunchbox juga berhasil memunculkan kembali memori saya perihal bagaimana mendebarkannya menunggu kata-kata dari seseorang yang saya sukai. Setiap kali Saajan mendapat rantang makan siang dan mulai mencari surat dari Ila, saya pun ikut dibentuk berdebar-debar melihatnya, menantikan sambil harap-harap cemas apakah di dalamnya ada surat dari Ila, dan bila ada ibarat apakah isinya. Berkat atmosfer film yang terasa begitu hangat inilah saya turut dibentuk peduli akan kedua huruf utamanya, dan yang niscaya benar-benar berharap keduanya bisa bersatu atau paling tidak risikonya bertemu sekali saja dalam film ini.

Tidak hanya menjual kehangatan romantisme, The Lunchbox juga cukup baik dalam mengeksplorasi tiap-tiap karakternya Kita akan melihat bagaimana Saajan yang begitu masbodoh dan terlihat anti-sosial perlahan mulai berubah dan seolah mendapat harapan. Hal yang sama juga terjadi pada karakter-karakter lainnya, yang menyampaikan bahwa gotong royong ini yakni film perihal mereka yang tengah berada dalam fase berat hidupnya akhir kesendirian dan kesepian. Pada risikonya hal yang menciptakan mereka bisa bertahan yakni cinta. Terkesan klise memang, tapi berkat karakter-karakter yang menarik, film ini sama sekali tidak terasa klise. Saat saya menyampaikan karakternya menarik, saya tidak hanya merujuk pada Saajan dan Ila yang diperankan dengan baik oleh Irrfan Khan dan Nimrat Kaur tapi juga para pemain drama pendukungnya, mulai dari Shaikh yang begitu mencuri perhatian hingga sang Auntie yang selalu menarik bahkan memiliki backstory yang cukup mendalam meski sepanjang film hanya terdengar suaranya saja. The Lunchbox bisa saja menjadi film yang tepat bila bukan sebab ending-nya. Saya sama sekali tidak anti dengan ending yang memunculkan kesan ambigu, bahkan dalam kisah romantis saya begitu menyukainya ibarat Before Sunrise sebagai contoh. Saya sendiri tidak menyatakan bahwa ending film ini buruk, hanya saja sulit bagi saya menyukainya sebab sedikit "mengkhianati" pengharapan saya. Tapi itu tidak merusak The Lunchbox secara keseluruhan sebagai film Bollywood paling romantis yang pernah saya lihat...dan tanpa nyanyian atau tarian. Can you fall in love with someone you haven't met?

Thursday, December 13, 2018

Ini Lho Bajrangi Bhaijaan (2015)

Masa dimana perfilman Bollywood identik dengan adegan musikal yang meriah sekaligus random memang masih jauh dari kata usai. Tapi sekarang ada satu "keahlian" terbaru mereka yang terbukti banyak menghadirkan box office hit dalam beberapa tahun terakhir. Sajian drama-komedi penuh kisah inspiratif cenderung tearjerker yang tidak pernah peduli meski dihadirkan secara berlebihan. Tapi masyarakat umum memang suka dengan tontonan semacam itu. Buktinya kalau ada sebuah link atau video yang beredar di sosial media dengan kandungan judul "kisah inspiratif mengharukan", hitungan pengunjungnya dapat mencapai jutaan. Entah pada hasilnya mereka sungguh terinspirasi untuk melaksanakan tindakan faktual atau hanya menikmati tetesan air mata itu dilema belakangan. Karena itulah film-film menyerupai 3 Idiots dan PK bisa menuai kesuksesan besar. 

Bajrangi Bhaijaan adalah satu lagi film serupa yang meraih sukses. Hingga dikala ini, film besutan sutradara Kabir Khan ini menjadi film berpenghasilan terbanyak kedua sepanjang masa di India ($95 juta), hanya kalah dari PK ($110 juta). Cara Bajrangi Bhaijaan (Brother Bajrangi jika diartikan dalam Bahasa Inggris) untuk menyajikan kisah inspiratif yaitu dengan memperlihatkan sekat pemisah yang harus ditembus oleh karakter-karakternya untuk dapat mencapai tujuan. Mereka yang harus mendobrak batasan-batasan itu yaitu Pawan a.k.a Bajrangi (Saman Khan) dan Shahida (Harshaali Malhotra). Kita lebih dulu berkenalan dengan Shahida, seorang gadis berusia tujuh tahun asal Pakistan yang masih belum dapat bicara. Shahida yaitu tipikal gadis kecil cantik yang mampu meraih cinta penonton hanya dengan senyumnya. Karena itu dikala ia terpisah dari sang ibu dan tertinggal di India, saya pun mengharapkan hal serupa dengan keluarganya: "semoga ia bertemu dengan orang baik".
Harapan itu terkabul, dikala Shahida bertemu dengan laki-laki India berjulukan Pawan. Dia yaitu laki-laki baik yang bahkan tidak berlebihan kalau disebut "terlalu sempurna". Berwajah tampan, berbadan kekar, seorang Brahmana (kasta tertinggi dalam Hindu), dan yang paling penting, ia selalu berbuat jujur. Kejujurannya terlihat dari hal terkecil sekalipun, menyerupai dikala ia ngotot mengembalikan uang kembalian berjumlah sedikit kepada Rasika (Kareena Kapoor). Gambaran kebaikan huruf yang berlebihan? Tentu saja, tapi sekali lagi hal itu memang unsur wajib dalam menyuguhkan kisah inspiratif yang diminati orang banyak. Usaha Pawan untuk mengantar Shahida pulang tentu saja pribadi terbentur halangan komunikasi, sebab sang gadis tak dapat bicara. Tapi bukan itu saja "tembok" yang harus dilewati. Ada dua negara yang terpisahkan perbatasan yang dijaga ketat, serta fakta bahwa Shahida beragama Islam, sedangkan Pawan yaitu Hindu dengan kasta Brahmana. Bagi pemeluk Hindu taat menyerupai Pawan, perbedaan kasta apalagi agama yaitu dilema besar yang menciptakan interaksi mereka dibatasi, menyerupai urusan makan dan daerah tinggal.

Paruh pertama Bajrangi Bhaijaan diisi oleh drama menarik perihal aneka macam perbedaan di atas. Saya selalu menyukai film yang berani menghadirkan fatwa kritis berkaitan dengan agama atau adat. Bukan berarti kisahnya harus menyalahkan semua itu, tapi mengajak penonton untuk berpikir lebih dalam tentangnya. Pawan dihadapkan pada konflik dilematis dikala ketaatannya pada agama justru menghalangi beliau untuk berbuat baik. Pada hasilnya kisah perbedaan agama tidak dihadirkan hingga pada tingkata kontroversial. Tidak pula hingga menciptakan saya ikut berada dalam situasi dilematis. Tapi saya berhasil dibentuk memahami kegundahan hati Pawan. Terasa ringan apalagi dengan komedi menggelitik selaku kritik yang telah menjadi senjata ampuh dalam aneka macam sajian Bollywood bertema serupa. Ringan, tapi bukan sekedar latar hampa, khususnya dikala bersinggungan dengan konflik antara India dengan Pakistan. Semua konflik itu memang ada disana, dan Bajrangi Bhaijaan seolah menjadi nyanyian impian perihal perdamaian dari para pembuatnya.
Memasuki paruh kedua tepatnya seusai intermission, barulah filmnya menjadi total fairy tale. Drama sederhana bermetamorfosis perjalanan "besar" kala Pawan nekat menyeberangi perbatasan untuk mengantar Shahida. Kejujuran yang ditampilkan Pawan semakin berlebihan. Karakternya semakin "putih" seiring dengan aneka macam insiden overly dramatic yang makin banyak terjadi. Bajrangi Bhaijaan tidak lagi berusaha menutup-nutupi identitasnya sebagai film pengusung aneka macam pesan moral, menyerupai pesan perdamaian dan kejujuran. Kesan too-good-to-be-true begitu kental, menciptakan dunia serta karakternya bagai berasal dari negeri dongeng. Beberapa kali ada paksaan supaya penonton percaya bahwa "kejujuran yaitu harga mati yang akan membawa kebaikan". Sesekali terasa menggurui, tapi berhasil ditutupi oleh keberhasilan Kabir Khan membangun film ini sebagai feel good movie yang manis, hangat sekaligus menyenangkan.

Karena kesan feel good yang berhasil dibawa itu pula, meski penuh pesan etika saya tidak pernah merasa muak. Saya dapat mencicipi ketulusan Samir Khan untuk memanjatkan harapannya akan perdamaian serta dunia yang lebih baik lewat filmnya. Alhasil daripada sebagai ceramah, Bajringi Bhaijaan lebih besar lengan berkuasa kearah selebrasi terhadap kebahagiaan persatuan. Rasa "menggurui" hanya sebab naskah yang memang klise dan mengambil jalan gampang untuk menghantarkan poin-poinnya. Tentu saja ini yaitu tontonan corny penuh momen uplifting, adegan musikal dengan musik catchy plus setting meriah, hingga beberapa belahan abstrak kala sosok Pawan bermetamorfosis badass action hero. Jujur saja semua ke-corny-an itu menjadi suntikkan hiburan takaran tinggi yang menciptakan Bajringi Bhaijaan jadi hiburan menyenangkan (I love all the songs in this movie!) Drama emosional pun tidak dilupakan, sebab meski saya merasa dramanya berlebihan, adegan tamat di perbatasan hingga pada ending sanggup memunculkan haru. 

Ini Lho Baby (2015)

Badan kekar, rambut pendek, dan kumis tebal. Nampaknya ketiga hal itu jadi hal wajib untuk dimiliki para action hero Bollywood. Lihat saja tampilan Ajay Devgan, Salman Khan dan Akshay Kumar. Karakter mereka pun tidak jauh dari one-man army yang sanggup menghabisi puluhan musuh sendirian. Hukum fisika tidak lagi berlaku di hadapan para jagoan itu. Tapi Baby garapan sutradara Neeraj Pandey bukan sekedar hidangan agresi over-the-top dengan alur sederhana. Ini ialah espionage thriller yang memanfaatkan machoisme Akshay Kumar sebagai intel terbaik milik India. Judulnya sendiri mengacu pada proyek uji coba pembentukan tim berisi para distributor rahasia. Proyek uji coba ini direncanakan berjalan selama lima tahun sebelum akibatnya dievaluasi. Misi utama mereka ialah melumpuhkan para teroris yang berencana menyerang India sebagai bentuk responsi atas kejadian penyerangan di Mumbai tahun 2008.

Ajay (Akshay Kumar) merupakan satu dari empat distributor yang masih tersisa dalam tim tersebut (awalnya terdiri dari 12 orang). Mayoritas dari mereka ada yang terbunuh, bahkan ada pula yang membelot ke pihak musuh. Ajay ialah distributor terbaik dengan kemampuan fisik dan taktik nomor satu. Kenekatannya (ia sebut improvisasi) sering menjadi kunci keberhasilan suatu misi. Dia bergerak sesuai perintah atasannya, Feroz (Danny Denzongpa) tanpa bertanya apalagi membantah. Bahkan ia bersedia membunuh rekannya yang sekarat tanpa ada ragu. Ajay bagi saya tampak menyerupai robot. Dia bukan Ethan Hunt, bukan Jason Bourne, apalagi James Bond. Saya yakin Ajay tidak akan mengorbankan keberhasilan misi demi menolong rekannya. He's a steroid machine.
Nyatanya, Ajay mempunyai keluarga, dimana pada anak-anaknya ia merahasiakan profesinya. Walau begitu, sang istri (Madhurima Tuli) mengetahu segalanya, dan selalu mengkhawatirkan keselamatan sang suami. Begitu sering ia menelepon di tengah Ajay menjalankan misi, namun selalu dijawab "aku sedang di tengah konferensi". Jelas naskah yang juga ditulis Neeraj Pandey berusaha menciptakan penonton bersimpati pada Ajay. Tapi sekuat apapun perjuangan membangun image sang huruf sebagai family man, itu tidak pernah berhasil. Ajay yang lebih kental di layar ialah Ajay sang intel yang menomor satukan misi di atas segalanya. Bermaksud memberi sentuhan drama, Baby tetap berakhir sebagai suguhan tanpa emosi dengan tokoh utama jauh dari kesan "manusia".

Tapi sebagai sebuah espionage thriller, film ini sanggup menawarkan hiburan menyenangkan. Durasi 159 menit dimanfaatkan secara maksimal oleh Neeraj Pandey untuk menghadirkan rangkaian misi dalam perjuangan Ajay membasmi sekawanan teroris pimpinan Maulana (Rasheed Naz). Baby membawa kita dalam penelusuran terhadap satu per satu anak buah Maulana. Setiap keping misi jadi wahana Neeraj Pandey mengeksploitasi keperkasaan sosok Ajay dengan kesempurnaan Akshay Kumar memancarkan aura "pria perkasa". He's good at everything. Mulai dari menghajar musuh dengan tangan kosong, dengan senjata api, menyusup diam-diam, sampai menginterogasi. Dipadukan pace cepat namun rapih dari penyutradaraan Pandey, semua itu jadi santapan yang begitu nikmat.
Sebagai tontonan espionage, Baby sejatinya amatlah sederhana. Tidak banyak teknik penuh kebijaksanaan wangi dan eksplorasi kecerdasan dalam tiap misi. Kita lebih banyak melihat otot daripada otak. Untungnya, third act film ini lebih menonjolkan taktik daripada agresi bombastis. Bagian ini ialah momen terbaik Baby disaat unsur espionage semakin kental. Kemunculan huruf Shukla (Anupam Kher) sebagai otak dalam tim menawarkan warna gres bagi progresi film, serta dinamika antar-karakter yang lebih menarik. Patut disayangkan, huruf Hani Mohammad (Hasan Noman) yang digambarkan sebagai detektif jenius dari Arab Saudi cukup terlambat dalam porsi terbatas pula. Padahal ia bisa menjadi lawan sepadan bagi Ajay dan timnya.

Baby bukanlah film espionage yang cerdas. Seringkali nampak kebodohan demi kebodohan dalam naskah, khususnya berkaitan dengan keputusan karakter, menyerupai yang tampak ketika para teroris berusaha membebaskan Bilal Khan (Kay Kay Menon) dari tahanan polisi (dia beruntung mati dalam perjuangan pembebasan itu). Untuk film dengan plot berisikan banyak misi para distributor rahasia, film ini terlalu sederhana, terlalu lurus, tanpa banyak lapisan di dalamnya. Kurang dalam eksplorasi kecerdasan strategi, namun menyaksikan keperkasaan Akshay Kumar sudah cukup menyenangkan. For its technical aspect, "Baby" is one of the most well-made movie ever produced by Bollywood.

Ini Lho Piku (2015)

Hubungan anak dan orang renta bisa menjadi rumit seiring bertambahnya usia masing-masing. Sang anak beranjak remaja ingin menentukan jalan hidupnya sendiri, sedangkan orang renta mulai memasuki usia lanjut dengan keterbatasan fisik, membuatnya semakin butuh proteksi orang lain. Anak ingin bebas, tapi orang renta tentu memberi instruksi yang tak jarang berisi paksaan. Pertambahan usia orang renta menciptakan sang anak merasa terbebani pula, tapi tentu saja rasa sayang membuatnya tak tega untuk menelantarkan. Konflik itulah yang coba dieksplorasi oleh naskah "Piku" karya Juhi Chaturvedi. Tokoh utamanya ialah Piku (Deepika Padukone), seorang perempuan 30 tahun yang berprofesi sebagai arsitek. Dia ialah tipikal perempuan mandiri. Namun dengan sifatnya yang keras dan emosional, banyak orang tak menyukai Piku. Bahkan para supir taksi takut pada dirinya.
Dengan temperamen tinggi semacam itu, keberadaan sang ayah, Bhashkor Banerjee (Amitabh Bachchan) selalu menghadirkan pertengkaran tiap hari di rumah. Bhashkor juga bukan sosok menyenangkan. Pria 70 tahun ini menderita gangguan pencernaan (sembelit) dan mengalami kekhawatiran berlebih akan kondisi kesehatannya. Bhashkor selalu mengkritisi tiap hal yang bagi beliau berpotensi mengancam kesehatannya. Pertengkaran besar selalu terjadi di rumah hanya alasannya duduk kasus sepele ibarat sembelit. Meski amat mencintai sang ayah, terlebih sesudah ibunya tiada, Piku begitu terganggu dengan hal tersebut. Terlebih lagi sang ayah kerap menyampaikan sesuatu yang tidak pantas di depan orang lain, ibarat ketika ia menceritakan bahwa puterinya tak lagi perawan di depan laki-laki asing.

Pada awalnya menonton film ini bagaikan uji kesabaran. Bagaimana tidak? Lebih dari 30 menit awal, saya selalu disuguhi pertengkaran alasannya duduk kasus sepele berhiaskan teriakan tanpa henti antara aksara egois. Kadang saya merasa Piku ialah anak yang tak peduli pada ayahnya. Kadang sebaliknya, Bhashkor-lah yang tingkahnya berlebihan hingga masuk akal Piku merasa tidak tahan. Saya sempat hampir mengalah pada film ini alasannya perasaan kesal yang teramat sangat. Tapi kemudian saya menyadari bahwa kesan tak menyenangkan filmnya memang sengaja dihadirkan oleh sang sutradara, Shoojit Sircar. Berbagai pertengkaran mengesalkan mendominasi paruh pertama film dengan intensi menciptakan penonton mencicipi emosi yang sama dengan aksara utama. Serupa dengan Piku, saya merasa muak dan tidak tahan lagi dengan semua pertengkaran itu. 
Tujuan itu terbukti ketika memasuki paruh kedua, momen dimana film ini bergerak dari drama keluarga menjadi road movie. Bhashkor tetapkan pergi ke Kolkata mengunjungi rumah lamanya yang hendak dijual oleh Piku namun tidak ia setujui. Merasa tidak bisa naik pesawat maupun kereta api, ia menentukan memakai taksi. Mau tidak mau Piku pun turut serta alasannya perjalanan itu akan berlangsung lama, memakan waktu sekitar dua hari. Tapi alasannya sikapnya yang galak dan egois, tak ada satupun supir taksi bersedia mengantar Piku. Akhirnya, Rana (Irrfan Khan) sang pemilik perusahaan taksi yang juga telah beberapa usang mengenal Piku harus menyetir taksinya sendiri. Jadilah ia terjebak di perjalanan panjang bersama ayah dan anak yang terus berkelahi lisan itu. Layaknya aspek esensial dari road trip yakni eksplorasi aksara dan konflik, sepanjang perjalanan saya dibentuk mengenal sisi lain Piku dan Bhashkor. Keduanya pun mulai memahami satu sama lain.

Semakin mengenal karakternya, saya pun makin terbiasa dengan pertengkaran mereka. Adu lisan yang pada awalnya begitu menyebalkan mulai terasa menggelitik. Hal itu alasannya saya mulai terbiasa. Piku juga perlahan dibentuk menyadari bahwa pertengkaran itu bisa ia "nikmati" sebagai bentuk kedekatan dengan sang ayah. Kehadiran Rana juga turut menghembuskan angin segar. Meski berulang kali dibentuk kesal, Rana menjadi satu-satunya orang yang bisa meladeni sisi eksentrik Bhashkor. Disaat Piku selalu menanggapi keluhan sembelit ayahnya dengan amarah, Rana justru memberi saran-saran asing yang tak memenuhi standar medis, tapi bisa diterima oleh nalar. Karena itulah ia bisa menarik perhatian Bhashkor dan Piku, yang mana sulit terjadi. Saya pun memaklumi itu, alasannya penampilan Irrfan Khan juga mencuri perhatian saya. 
Irrfan bisa menyuntikkan sisi charming pada sosok Rana. Dia menciptakan saya percaya bahwa Rana ialah laki-laki capable, menjadikannya tepat sebagai "penengah" sekaligus "pahlawan" dalam konflik keluarga itu. Irrfan Khan berhasil mencolok bahkan meski harus beradu akting dengan Amitabh Bachchan dan Deepika Padukone yang menawarkan penampilan luar biasa. Bersama-sama, ketiganya menawarkan interaksi dinamis, menimbulkan dialog mereka sebagai momentum adiktif untuk diikuti oleh penonton. 

Naskah Jhudi Chaturvedi mempunyai kedalaman makna serta keberanian bertutur cerdas meski dari nampak luar penuh kesederhanaan. Selain mampu menyajikan scatological humour secara menggelitik tanpa harus terkesan murahan, naskahnya berani menghadirkan perspektif jujur wacana konflik anak-orang tua. Daripada berpatok pada moralitas wacana bagaimana seorang anak harus bersikap pada ayahnya, Jhudi Chaturvedi lebih berkonsetrasi pada kenyataan lewat tampilan perasaan jujur. Pada kenyataannya, anak dalam posisi ibarat Piku memang akan menganggap ayahnya sebagai beban. Seperti itulah realita yang tak berusaha ditutupi dengan menciptakan aksara anak penuh kesabaran misalnya. Tapi bukan berarti sang anak tidak mencintai ayahnya. Piku amat peduli pada sang ayah, begitu pula sebaliknya. Namun mereka punya cara masing-masing untuk mengeskpresikan itu yang didorong oleh egoisme dan harga diri tinggi. 

Resolusi kisahnya pun menentukan untuk tidak terlalu dramatis dan mengambil jalan yang berpijak pada realita. Piku dan ayahnya mulai bisa lebih saling memahami, tapi akan terlalu dipaksakan bila serta merta merubah kondisi interaksi diantara mereka, semisal dengan menciptakan Bhashkor mendapatkan segala keputusan anaknya atau membebaskan Piku. Kita tahu bahwa hanya ada satu jalan di dunia kasatmata biar anak ibarat Piku bisa bebas, dan jalan tunggal itu dipakai sebagai konklusi filmnya. "Piku" juga mempunyai selipan romansa yang turut disampaikan secara natural tanpa dipaksakan. Perasaan cinta tumbuh diantara dua aksara tanpa momen dramatis, melainkan murni lewat proses kebersamaan dan pemahaman berkelanjutan seiring perjalanan. "Piku" bukan komedi berisikan "laugh-out-loud jokes", bukan pula drama emosional. Namun kesederhanaan dalam kisah bittersweet ini memberi kehangatan serta senyuman. 

Wednesday, December 12, 2018

Ini Lho Court (2014)

Ada tiga hal yang menjadi pokok bahasan favorit aku dalam film; seksualitas, agama (bukan film religi) dan kebebasan berkarya/berpendapat. Jika sebuah film bisa mengeksekusi satu atau lebih tema di atas dengan baik, hampir bisa dipastikan menjadi tontonan favorit saya. "Court" yang memenangkan film terbaik pada jadwal Horizons di "Venice Film Festival 2014" serta merupakan perwakilan India untuk Oscar tahun depan ini punya salah satu tema tersebut, setidaknya sebagai penggerak menuju kisah utama. Seperti judulnya, film karya Chaitanya Tamhane ini yakni courtroom drama yang dibentuk untuk mengkritisi sistem peradilan aturan di India. Sebelumnya aku telah dibawa menelusuri rumitnya persidangan di Israel lewat "Gett: The Trial of Viviane Amsalem" (review), maka alangkah menariknya jikalau kali ini giliran India yang ditelisik. Dengan begitu akan tercipta konstruksi demi memahami lebih mendalam perihal cerminan sistem aturan dunia ketika ini.

Persidangan yang menjadi fokus film ini terjadi sehabis seorang penyanyi folk senior berjulukan Narayan Kamble (Vira Sathidar) mendadak ditangkap oleh polisi ketika berada di atas panggung. Kamble dianggap telah mendorong seorang laki-laki melaksanakan bunuh diri gara-gara lagu yang ia nyanyikan. Sepanjang film kita diajak mengikuti proses persidangan yang berlarut-larut bahkan hingga hitungan tahun. Dalam durasi 116 menit, Chaitanya Tamhane menghadirkan banyak warta mengenai legal system di India, menyerupai hakim yang lebih fokus untuk menuntaskan sebanyak mungkin kasus dalam sehari hingga penangkapan dengan tuduhan yang mengada-ada. Begitu banyak kritikan yang dibawakan dalam kemasan satir, tapi besarnya kuantitas tidak menciptakan alurnya terasa kepenuhan. Tamhane tahu persis cara untuk menyelipkan pemikirannya satu demi satu kedalam alur utama. Alhasil "Court" tidak pernah keluar jalur atau tidak fokus, sebab semua aspeknya masih terikat dalam satu jalinan cerita.
Meski kasusnya yakni sentral, tapi porsi kemunculan Narayan Kamble sangat minim. Tugas huruf ini memang hanya sebagai pemantik persoalan. Adegan ia bernyanyi di awal film bertujuan menginformasikan pada penonton bahwa lagu-lagunya banyak mengandung lirik mengenai kebebasan dan perilaku perlawanan. Sehingga ketika ia ditangkap, secara otomatis timbul perkiraan dalam benak penonton bahwa Narayan Kamble ditangkap sebab dianggap terlalu vokal menyuarakan kritik terhadap penguasa (baca: pemerintah). Setelah perkiraan itu muncul, gampang bagi film ini menciptakan penonton mencerna sekaligus menyetujui kritik yang dilontarkan Tamhane. Cara cerdik itu memang berhasil. Sepanjang film emosi aku dibentuk bergejolak mengikuti "komedi persidangan " yang tersaji. Tujuan lain dipinggirkannya Kamble yakni untuk menghindarkan kesan bahwa film ini berkisah perihal "seniman yang difitnah". Itu hanya latar, sedangkan poin utamanya yakni sistem peradilan beserta tiap sisinya secara menyeluruh. 

Kesan bahwa "Court" bukan film perihal Kamble semata nampak terperinci dari beberapa momen sempilan yang muncul. Beberapa adegan menawarkan persidangan lain secara singkat namun efektif sebagai penguat kritik. Salah satu adegan paling memorable sekaligus kocak yakni ketika persidangan suatu kasus dibatalkan (hanya) sebab seorang perempuan yang menjadi terdakwa tiba menggunakan pakaian tanpa lengan. Hakim merasa penampilan sang perempuan tidak sopan. Selain itu, kita turut dibawa dalam observasi terhadap keseharian Vinay Vora (Vivek Gomber) dan Nutan (Geetanjali Kulkarni). Vinay yakni pengacara dari Kamble, dimana ia digambarkan sebagai salah seorang tokoh yang peduli terhadap buruknya sistem aturan di India. Dia begitu peduli pada mereka yang tak menerima keadilan. Sebaliknya, Nutan yakni jaksa penuntut umum yang nampak begitu bersemangat ingin menjebloskan Kamble dalam kurungan penjara 20 tahun. Selama proses persidangan, Vinay yakni "si baik" sedangkan Nutan tentu "si jahat". Tapi benarkah?
Persepsi tersebut bergeser ketika penonton mulai memahami sisi lain mereka ketika tidak berperan sebagai "penegak hukum". Vinay berasa dari keluarga kaya. Sebuah adegan menawarkan ia sedang makan bersama orang tuanya dimana Vinay sering bersikap bergairah pada mereka dan tak sedikitpun nampak rasa hormat. Sebaliknya, Nutan yakni ibu yang amat perhatian pada anak-anaknya, dan meski sudah seharian bekerja masih bersedia menyebarkan makan malam di rumah untuk kemudian lanjut bekerja lagi. Chaitanya Tamhane tampak tidak mau penonton memberi cap "baik" dan "buruk" pada karakter. Karena kebaikan dan keburukan yang ingin ia sampaikan bukanlah terkait sosok personal, melainkan sistem itu sendiri. Dengan adanya sistem yang lebih baik, bisa jadi Nutan tidak akan tampak jahat, sedangkan Vinay tak memiliki hal apapun untuk dibela sebagai aktivis. Mereka hanya berperan dibalik topengnya masing-masing.

Sayangnya "Court" punya kekurangan pada caranya menutup kisah. Beberapa kali film terlihat akan berakhir dan memang sudah sempurna untuk diakhiri. Tepat, sebab dalam beberapa momen tersebut poin utama kisah sudah tersampaikan semua. Tapi Tamhane kurang bisa menahan diri untuk memberikan lebih dan lebih. Alhasil paruh final terasa agak dragging. Epilog ketika Hakim Sadavarte (Pradeep Joshi) menghabiskan liburan trend panas di taman rekreasi kemudian berakhir dengan "adegan tidur" itu memang kritik yang menggelitik, tapi bukan hal esensial. Cukup akhiri film ini ketika lampu persidangan mati seluruhnya, penonton telah memahami bagaimana kasus penuh ketidakadilan menyerupai yang dialami Narayan Kamble bakal terus berulang (bahkan menimpa orang yang sama) hinga para penuntut (baca: penguasa) menerima yang mereka mau. Apa yang mereka mau? Bungkamnya mereka yang vokal mengkritisi itu.

Ini Lho Dilwale (2015)

Bukan, film ini bukanlah sekuel dari "Dilwale Dulhania Le Jayenge" meski berjudul serupa dan sama-sama dibintangi "pasangan emas" perfilman Bollywood, Shah Rukh Khan dan Kajol. "Dilwale" yang disutradarai Rohit Shetty ini menandapi kerja sama kedelapan pasangan tersebut, sesudah terakhir kali bersama lima tahun kemudian dalam "My Name Is Khan". Meski kerja sama terbaru ini tidak akan menjadi klasik layaknya "Dilwale Dulhania Le Jayenge" maupun "Kuch Kuch Hota Hai" chemistry keduanya tetap menjadi salah satu kelebihan terbesar yang akan memuaskan seluruh penggemar. Bermodalkan nama besar pemain, adegan musikal meriah nan indah berisikan nomor-nomor catchy, romansa dramatis, ditambah over the top action sequence membuat film ini mengandung segala unsur yang penonton harapkan dimiliki oleh menu Bollywood blockbuster

Alurnya bertempat pada dua setting waktu dan lokasi. Pertama yaitu setting masa sekarang di India, bertutur wacana Raj (Shah Rukh Khan), seorang pemiliki bengkel kendaraan beroda empat yang ia kelola bersama adiknya, Veer (Varun Dhawan). Berbeda dengan sang abang yang dikenal santun pula baik hati, Veer kerap bertindak sesukanya dan tak jarang menimbulkan masalah. Pada awalnya, porsi penceritaan untuk alur masa sekarang lebih banyak diberikan pada Veer, termasuk hubungan cintanya bersama Ishita (Kriti Sanon) dan perselisihan dengan kelompok gangster milik King (Boman Irani). Namun kedua konflik ini hasilnya mulai mengungkap diam-diam milik Raj. Sebuah diam-diam yang membawa kita mundur ke masa 15 tahun kemudian di Bulgaria. Kala itu Raj dikenal dengan nama Kaali, putera seorang Don kenamaan yang jatuh cinta dengan Meera (Kajol) sesudah terjadinya suatu kecelakaan. 
Pertama pribadi saya saya tekankan kalau anda mencari tontonan dengan kisah cerdas penuh kompleksitas, "Dilwale" bukanlah film untuk anda. Ketika durasi 154 menit masih terasa overstuffed, bisa dipastikan kualitas penulisan naskahnya kacau. Terlampau banyak subplot dimasukkan oleh Yunus Sajawal kedalam naskah karyanya. Ada dua kisah cinta, perselisihan antar-keluarga gangster pula konflik dengan King, hingga sisipan kisah huruf Sidhu (Varun Sharma) yang sama sekali tidak penting. Beberapa adegan tanpa esensi berarti pun turut dimasukkan hanya sekedar untuk menyuplai sebanyak mungkin momen komedik. Bahkan seorang tokoh super annoying bernama Money (Johnny Lever) diperkenalkan demi menambah huruf komikal, yang mana tak perlu mengingat huruf bertipe itu sudah banyak dimiliki film ini. Kekacauan naskah semakin konkret menjelang akhir, ketika Yunus Sajawal berusaha mengakhiri banyaknya konflik secepat mungkin, menjadikannya bertumpuk asal masuk.

Tapi perlu diingat bahwa "Dilwale" dibentuk murni sebagai hiburan, and for that purpose only, this movie still damn entertaining. Meski tak jarang terasa luar biasa bodoh, beberapa unsur bisa menghadirkan kesenangan tingkat tinggi. Bicara kebodohan menyenangkan, sentuhan komedinya mampu menjadi itu. Setiap momentum (kecuali yang berpusat pada Money) menciptakan saya tertawa lepas, bahkan adegan tidak penting kala Veer dan Sidhu dibohongi oleh Shakti (Mukesh Tiwari) dan Anwar (Pankaj Tripathi) mengenai masa kemudian Raj. Timing-nya sempurna, begitu pula cara para pemain drama menghantarkan itu. Memang ketika melontarkan joke, siapapun tokohnya akan mendadak berubah jadi orang tolol, yang mana tidak masuk akal. Tapi pedulikah saya? Tentu tidak. Selama saya terhibur (tujuan utama film ini) kebodohan menyerupai apapun layak ditoleransi.
Kemudian hadirlah chemistry antara Shah Rukh Khan dan Kajol yang tak bisa dipungkiri merupakan aspek terbaik. Romansa mereka klise dan sappy, tapi bahkan sedari pertama keduanya saling (properly) bertegur sapa, saya sudah ikut dimabuk kepayang. Ketika Kaali dan Meera saling memandang atau bertukar kata sembari tersipu-sipu, yang hadir yaitu rasa asmara nyata, bukan dibuat-buat, dan itu cukup menciptakan siapapun jatuh cinta kepada hubungan yang terjalin. Begitu baiknya mereka, hingga obrolan cheesy atau adegan yang "seharusnya" cringe-worthy seperti kala Meera ketakutan melihat anjing untuk kemudian "dilindungi" oleh Kaali pun tetap menjadi tontonan enjoyable, bahkan manis. Pada hasilnya sewaktu muncul twist, hati saya pun seolah ikut hancur menyesali nasib percintaan tersebut. Untuk Khan sendiri, memuaskan ketika melihat huruf Kaali bagaikan sosok mythical yang bakal menciptakan semua orang ketakutan begitu mendengar namanya. Sang pemain drama legendaris layak menerima tugas menyerupai ini, dan gampang baginya untuk menghidupkan tokoh tersebut.

Tidak lengkap rasanya ketika film bertemakan cinta berisikan "pasangan emas" Bollywood tanpa nomor musikal memikat. Disaat Veer dan Ishita diberikan lagu dance modern macam "Manma Emotion Jaage" yang dikemas lewat adegan "meriah", maka Shah Rukh Khan dan Kajol saling bermesraan ketika "Gerua" dan "Janam Janam" berkumandang. Sebuah nomor cinta "tradisional" namun teramat addictiveBukan kemeriahan yang terasa, melainkan momen intim jalinan asmara. Rohit Shetty pun tidak setengah-setengah mengemas reuni pasangan tersebut. Sinematografi garapan Dudley yang dipenuhi breathtaking landscape seolah menciptakan Kaali dan Meera tengah menyanyi, menari, memadu kasih di suatu kawasan indah "outta this world". Yes, when they're in love, they're in heaven. Such a heavenly love indeed. Cobalah kesampingkan segala kekonyolan naskahnya, maka "Dilwale" akan berujung pada hiburan teramat menyenangkan sekaigus romantika bagus nan hangat berkat chemistry "abadi" Shah Rukh Khan dan Kajol.


Ticket Powered by: ID Film Critics

Friday, December 7, 2018

Ini Lho Dilwale (2015)

Bukan, film ini bukanlah sekuel dari "Dilwale Dulhania Le Jayenge" meski berjudul serupa dan sama-sama dibintangi "pasangan emas" perfilman Bollywood, Shah Rukh Khan dan Kajol. "Dilwale" yang disutradarai Rohit Shetty ini menandapi kerja sama kedelapan pasangan tersebut, sesudah terakhir kali bersama lima tahun kemudian dalam "My Name Is Khan". Meski kerja sama terbaru ini tidak akan menjadi klasik layaknya "Dilwale Dulhania Le Jayenge" maupun "Kuch Kuch Hota Hai" chemistry keduanya tetap menjadi salah satu kelebihan terbesar yang akan memuaskan seluruh penggemar. Bermodalkan nama besar pemain, adegan musikal meriah nan indah berisikan nomor-nomor catchy, romansa dramatis, ditambah over the top action sequence membuat film ini mengandung segala unsur yang penonton harapkan dimiliki oleh menu Bollywood blockbuster

Alurnya bertempat pada dua setting waktu dan lokasi. Pertama yaitu setting masa sekarang di India, bertutur wacana Raj (Shah Rukh Khan), seorang pemiliki bengkel kendaraan beroda empat yang ia kelola bersama adiknya, Veer (Varun Dhawan). Berbeda dengan sang abang yang dikenal santun pula baik hati, Veer kerap bertindak sesukanya dan tak jarang menimbulkan masalah. Pada awalnya, porsi penceritaan untuk alur masa sekarang lebih banyak diberikan pada Veer, termasuk hubungan cintanya bersama Ishita (Kriti Sanon) dan perselisihan dengan kelompok gangster milik King (Boman Irani). Namun kedua konflik ini hasilnya mulai mengungkap diam-diam milik Raj. Sebuah diam-diam yang membawa kita mundur ke masa 15 tahun kemudian di Bulgaria. Kala itu Raj dikenal dengan nama Kaali, putera seorang Don kenamaan yang jatuh cinta dengan Meera (Kajol) sesudah terjadinya suatu kecelakaan. 
Pertama pribadi saya saya tekankan kalau anda mencari tontonan dengan kisah cerdas penuh kompleksitas, "Dilwale" bukanlah film untuk anda. Ketika durasi 154 menit masih terasa overstuffed, bisa dipastikan kualitas penulisan naskahnya kacau. Terlampau banyak subplot dimasukkan oleh Yunus Sajawal kedalam naskah karyanya. Ada dua kisah cinta, perselisihan antar-keluarga gangster pula konflik dengan King, hingga sisipan kisah huruf Sidhu (Varun Sharma) yang sama sekali tidak penting. Beberapa adegan tanpa esensi berarti pun turut dimasukkan hanya sekedar untuk menyuplai sebanyak mungkin momen komedik. Bahkan seorang tokoh super annoying bernama Money (Johnny Lever) diperkenalkan demi menambah huruf komikal, yang mana tak perlu mengingat huruf bertipe itu sudah banyak dimiliki film ini. Kekacauan naskah semakin konkret menjelang akhir, ketika Yunus Sajawal berusaha mengakhiri banyaknya konflik secepat mungkin, menjadikannya bertumpuk asal masuk.

Tapi perlu diingat bahwa "Dilwale" dibentuk murni sebagai hiburan, and for that purpose only, this movie still damn entertaining. Meski tak jarang terasa luar biasa bodoh, beberapa unsur bisa menghadirkan kesenangan tingkat tinggi. Bicara kebodohan menyenangkan, sentuhan komedinya mampu menjadi itu. Setiap momentum (kecuali yang berpusat pada Money) menciptakan saya tertawa lepas, bahkan adegan tidak penting kala Veer dan Sidhu dibohongi oleh Shakti (Mukesh Tiwari) dan Anwar (Pankaj Tripathi) mengenai masa kemudian Raj. Timing-nya sempurna, begitu pula cara para pemain drama menghantarkan itu. Memang ketika melontarkan joke, siapapun tokohnya akan mendadak berubah jadi orang tolol, yang mana tidak masuk akal. Tapi pedulikah saya? Tentu tidak. Selama saya terhibur (tujuan utama film ini) kebodohan menyerupai apapun layak ditoleransi.
Kemudian hadirlah chemistry antara Shah Rukh Khan dan Kajol yang tak bisa dipungkiri merupakan aspek terbaik. Romansa mereka klise dan sappy, tapi bahkan sedari pertama keduanya saling (properly) bertegur sapa, saya sudah ikut dimabuk kepayang. Ketika Kaali dan Meera saling memandang atau bertukar kata sembari tersipu-sipu, yang hadir yaitu rasa asmara nyata, bukan dibuat-buat, dan itu cukup menciptakan siapapun jatuh cinta kepada hubungan yang terjalin. Begitu baiknya mereka, hingga obrolan cheesy atau adegan yang "seharusnya" cringe-worthy seperti kala Meera ketakutan melihat anjing untuk kemudian "dilindungi" oleh Kaali pun tetap menjadi tontonan enjoyable, bahkan manis. Pada hasilnya sewaktu muncul twist, hati saya pun seolah ikut hancur menyesali nasib percintaan tersebut. Untuk Khan sendiri, memuaskan ketika melihat huruf Kaali bagaikan sosok mythical yang bakal menciptakan semua orang ketakutan begitu mendengar namanya. Sang pemain drama legendaris layak menerima tugas menyerupai ini, dan gampang baginya untuk menghidupkan tokoh tersebut.

Tidak lengkap rasanya ketika film bertemakan cinta berisikan "pasangan emas" Bollywood tanpa nomor musikal memikat. Disaat Veer dan Ishita diberikan lagu dance modern macam "Manma Emotion Jaage" yang dikemas lewat adegan "meriah", maka Shah Rukh Khan dan Kajol saling bermesraan ketika "Gerua" dan "Janam Janam" berkumandang. Sebuah nomor cinta "tradisional" namun teramat addictiveBukan kemeriahan yang terasa, melainkan momen intim jalinan asmara. Rohit Shetty pun tidak setengah-setengah mengemas reuni pasangan tersebut. Sinematografi garapan Dudley yang dipenuhi breathtaking landscape seolah menciptakan Kaali dan Meera tengah menyanyi, menari, memadu kasih di suatu kawasan indah "outta this world". Yes, when they're in love, they're in heaven. Such a heavenly love indeed. Cobalah kesampingkan segala kekonyolan naskahnya, maka "Dilwale" akan berujung pada hiburan teramat menyenangkan sekaigus romantika bagus nan hangat berkat chemistry "abadi" Shah Rukh Khan dan Kajol.


Ticket Powered by: ID Film Critics