Showing posts with label War. Show all posts
Showing posts with label War. Show all posts

Wednesday, February 13, 2019

Ini Lho Atonement (2007)

Film ini disesuaikan dari novel berjudul sama karangan Ian McEwan yang rilis tahun 2001. Film ini disutradarai oleh Joe Wright. Saya sendiri kurang familiar dengan namanya. Satu-satunya filmnya yang udah saya tonton yakni The Soloist. Dan film yang juga pembiasaan buku itu juga cukup baik dimata saya. Tapi itu dikarenakan castnya yang mumpuni macam Downey Jr dan Jamie Foxx. Di film ini, pemerannya emang gak seyahud The Soloist, tapi cukup tidak mengecewakan juga. Ada Keira Knightley yang tenar lewat trilogi Pirates of the Caribbean. James McAvoy yang mencuri perhatian lewat Narnia, Wanted dan The Last Station. Sampe bintang muda Saoirse Ronan yang gres aja membintangi The Lovely Bones.

Briony Tallis (Saoirse Ronan) yakni gadis berusia 13 tahun yang punya talenta besar dalam menulis, khususnya novel. Dia sendiri punya abang wanita berjulukan Cecilia (Keira Knightley). Keduanya menyukai laki-laki yang sama, Robbie Turner (James McAvoy) anak dari pembantu keluarga mereka. Robbie sendiri yakni anak yang cerdas dan sudah dianggap keluarga oleh keluarga Tallis. Disuatu program kumpul keluarga, Briony secara gak sengaja melihat Robbie dan Cecilia sedang bercinta. Jelas aja ia cemburu berat. Disaat bersamaan salah satu sepupu Briony mengalami pemerkosaan. Dilatar belakangi rasa cemburu, Briony mengaku melihat Robbie yang memperkosa sepupunya. Padahal ia tidak melihat dengan niscaya siapa yang melakukan. Beberapa tahun lalu ketiganya bertemu kembali dalam kondisi yang berbeda. Dalam keadaan sedang terjadi perang. Dan ketika itu Briony yang telah menyadari kesalahanny mencoba menebus kesalahannya. Apa yang dilakukan Briony guna menebus kesalahannya? Bisakah Cecilia dan Robbie bersatu lagi?
Kredit khusus saya berikan buat Saoirse Ronan. Setelah saya dibentuk cukup kagum dengan aktingnya di the Lovely Bones, kali ini ia kembali tampil baik dengan image yang beda. Kalo di Lovely Bones image ia yakni gadis anggun yang mengundang simpati, disini saya merasa ia yakni salah satu gadis cilik paling "jahat" yang pernah saya lihat di film. Keira Knightley juga menawarkan performa yang prima. Salah satu akting terbaiknya. Proses perubahan tokoh Briony dari menyebalkan menjadi mengakui dosa dan mencoba menebusnya disaat remaja menarik disimak. Setelah remaja sosok Briony berubah jadi sosok yang patut dikasihani. Dari segi dongeng juga cukup Istimewa dimana plot yang dipakai cukup unik. Endingnya juga diluar dugaan saya. Tapi yang paling luarbiasa yakni scoring film ini. Pantes aja dapet oscar. Dengar bagaimana kehebatan sang komposer meracik musik. Sering terjadi dimana sebuah bunyi diawali dari aktivitas tokohnya (mengetik, memukul) berubah secara gak kita sadari menjadi musik yang hebat.


Tuesday, February 12, 2019

Ini Lho Letters From Iwo Jima (2006)

Saya sebenernya kurang suka film perang. Apalagi yang cuma mengumbar ledakan heboh macam Pearl Harbour. Tuh film cuma ngumbar pengaruh ledakan gak terang disertai bumbu drama yang sangat cheesy. Tapi gimana kalo sebuah film perang dibikin sama Clint Eastwood? Film si abah renta ini selalu punya kualitas yang keren macam Gran Toino, Invictus, Mystic River, sampe Changeling. Semuanya berkualitas Oscar. Dan kalo film berkualitas begitu digabung dengan pengaruh ledakan seru alhasil niscaya keren bukan? Setidaknya itu yang saya harapkan sebelum nonton film ini. Film ini juga didukung oleh bintang film kawakan Jepang yang udah malang melintang di Hollywood, Ken Watanabe.

Saigo ialah seorang penjual roti yang terpaksa turun ke medan perang dan dikirim ke sebuah daerah berjulukan Iwo Jima dimana ia bergabung dengan pasukan Jepang untuk mempertahankan daerah itu dari serangan prajurit Amerika. Tapi kehidupan prajurit kelas bawah menyerupai ia disana tidaklah menyenangkan. Mereka diperlakukan menyerupai budak. Sampe datanglah Letnan Jenderal Kuribayashi yang menganggap kekerasan fisik terhadap bawahan tidaklah tepat. Kebaikan hati Kuribayashi ngebikin Saigo kagum padanya, walopun banyak yang gak suka sama Kuribayashi yang dianggap sebagai simpatisan Amerika dikarenakan ia pernah tinggal disana.
Tapi sebenernya Kuribayashi juga punya strateginya sendiri. Dibalik ketegangan ketika perang, Kuribayashi dan Saigo punya persamaan. Yaitu mereka rutin mengirim surat untuk istri dan anaknya dirumah wacana keadaan mereka.

Film ini tidak hanya menampilkan keseruan dan kebrutalan ketika perang. Tapi yang utama ditonjolkan ialah sisi kemanusiaan seorang prajurit. Ada kalanya mereka lebih mengutamakan keselamatan nyawa daripada menuntaskan misi. Dan saya rasa itu sangat manusiawi. Ada kalanya mereka brutal di perang, tapi ada karanya mereka menjadi melankolis ketika mengingat keluarga dirumah. Ada kalanya mereka sangat berani, tapi ada kalanya mereka terkencing-kencing ketika simpulan hidup sudah ada didepan mata. Dan itu digambarkan dengan sangat baik dan membumi oleh Clint Eastwood. Dia juga tidak lupa menampilkan adegan perang dan ledakan khas film perang. Untungnya itu tidak disajikan berlebihan dan dengan kadar yang cukup sehingga keseruannya sangat terjaga. Bahkan tidak jarang film ini juga menampilkan adegan yang bikin saya tertawa (Saat ada prajurit yang niat meledakkan diri bersama tank Amerika tapi tank yang dinantikan tidak segera lewat). Nuansa kelam juga berhasil ditampilkan lewat pewarnaan yang buram.

OVERALL: Film perang terbaik versi saya. Sisi kemanusiaan para prajurit yang ditampilkan disini sangat baik dan gak melulu mengumbar keseruan perang.

RATING:
 

Ini Lho The Pianist (2002)


Roman Polanski itu jenius. Lihat bagaimana ia sanggup menuntaskan film The Ghost Writer walopun sedang mendekam didalam penjara. Dan ia juga pernah memenangkan kategori Best Director Oscar. Dan itu diraihnya melalui The Pianist ini. Bahkan di Cannes Film Festival nih film berhasil meraih Palme d'Or. Film ini juga melahirkan pemenang Oscar termuda untuk kategori Best Actor atas nama Adrien Brody. Filmnya sendiri diangkat dari pembiasaan autobiografi seorang pianis yahudi berjulukan Wladyslaw Szpilman. Dia juga merupakan kebangsaan Polandia yang hidup dimasa Polandia dijajah Jerman ketika masa perang.

Pada ketika itu orang yahudi di Polandia menerima perlakuan yang sangat semena-mena dari para nazi. Uang mereka dibatasi. Bahkan mereka diharuskan menggunakan ikatan di lengan berlambang bintang david. Pembunuhan terhadap orang yahudi secara brutal sering terjadi. Mayat orang yahudi bergelimpangan dijalan. Bersama keluarganya, Szpilman harus pindah ke camp khusus orang yahudi. Disana mereka walopun dapet kerja tetep diperlakukan tidak adil.
Kemudian berkat sumbangan seorang polisi Polandia yang merupakan kerabatnya, Szpilman berhasil melarikan diri dari camp walopun harus terpisah dari keluarganya. Biarpun begitu hidupnya masihlah sulit di persembunyian barunya dimana ia sering kekurangan makanan dan menghindari pasukan Jerman.

Performa Adrien Brody sebagai seorang pianis yang sanggup bertahan hidup ditengah perang sangat baik. Bagaimana ia terlihat begitu dibawah tekanan dan stress sangat meyakinkan. Saya sendiri merasa peduli dengan nasib Szpilman dan merasa gregetan ketika ia sedang dalam bahaya. Kemirisan bukan hanya terasa ketika menyaksikan Szpilman bertahan hidup tapi juga melihat perlakuan tentara Jerman yang begitu kejam. Dimana adegan sanksi diperlihatkan dengan cukup terbuka (melempar seorang dikursi roda dari lantai atas?). Sedikitnya tokoh yang lebih banyak didominasi disini juga ebrakibat setiap tokoh menerima daerah tersendiri. Seperti pada tokoh Wilm Hosenfeld yang muncul diakhir cerita. Tingkahnya mengundak simpati dan kekaguman yang besar dari saya menandakan diantara kumpulan orang jahatpun tidak semuanya jahat. Scene Szpilman bermain piano emang gak banyak namun sangat efektif tiap kali ditampilkan.

RATING: 

Ini Lho Pan's Labyrinth (2006)


Sutradara Guillermo Del Toro itu hebat. Dengan dana yang minim ia sanggup menciptakan film yang manis sesuai dengan visinya tanpa harus terlihat murah. Liat aja Hellboy yang jadi sebuah kejutan bagi saya mengingat tokoh superhero yang satu ini bukanlah superhero major, tapi filmnya merupakan salahs atu film superhero terbaik. Dan ditahun 2006 ia ngebikin sebuah film berbahasa Spanyol ini. Dengan budget cuma $19 juta dan tanpa pemain tenar (cuma Doug Jones yang agak dikenal) ternyata ia sanggup menciptakan film yang bagus. Buktinya film ini sanggup beberapa penghargaan Oscar dan amsuk nominasi Best Foreign Language film walopun kalah dari Letters From Iwo Jima. Beberapa kritikus juga menempatkan film ini sebagai film terbaik tahun 2006.

Seorang putri dari kerajaan bawah tanah berjulukan Moanna ingin tahu mengenai dunia atas. Dia nekat pergi keatas. Tragisnya sinar matahari membutakan matanya dan membuatnya hilang ingatan. Diapun menjadi lemah dan meninggal dalam kesendirian. Biarpun begitu sang ayah alias raja dunia bawah yakin suatu hari nanti entah kapan dan dimana sang putri akan reinkarnasi dan kembali berkumpul bersamanya. Setting kemudian berpindah kepada seorang bocah cilik berjulukan Ofelia yang sedang melaksanakan perjalanan bersama sang ibu yang lagi hamil renta mengunjungi sang ayah tiri yang merupakan kapten pasukan tentara Spanyol. Padahal Kapten Vidal dikala itu sedang menghadapi serangan para gerilyawan di tengah hutan. Ayah tiri Ofelia emang termasuk keras dan kejam. Dia tidak peduli akan keselamatan istri dan putrinya. Yang ia peduli ialah anak kandungnya harus lahir disisinya supaya sanggup menjadi penerusnya kelak.


Dihutan itulah Ofelia bertemu dengan sesosok makhluk yang diyakininya sebagai jelmaan peri yang membawanya bertemu makhluk gila berjulukan Faun. Dia menyampaikan bahwa Ofelia gotong royong ialah reinkarnasi Putri Moanna. Dan supaya ia sanggup kembali menjadi sang putri dan hidup abadi, Ofelia harus melaksanakan 3 kiprah yang tidak ringan. Apa saja yang harus ia lakukan untuk mendapat kehidupannya sebagai putri lagi?

Penggambaran makhluk gila di film ini ialah hal paling luar biasa. Aneh, serem, tapi sangat menarik. Mulai dari faun sampe monster bermata ditangan (gak tau namanya) semuanya punya detil yang menarik dan selalu ada kengerian tersendiri. Film ini juga dihiasi dengan beberapa adegan yang cukup bikin miris sekaligus ngilu. Sebenernya frekuensinya gak pernah usang tiap adegan. Tapi penyajiannya yang cukup terang bikin tuh adegan ngena banget. Yang makin menciptakan film ini menarik ialah penggabungan dunia faktual dan dunia fantasi yang tidak menggiring filmnya ngebosenin. Biasanya film fantasi macam gini bakal jadi ngebosenin pas settingannya ganti kedunia nyata. Tapi sisipan drama dan peperangan disini bikin dunia nyatanya jadi gak garing, yang sayangnya menciptakan pesona dunia fantasi film ini agak tertutup. Kaprikornus berasa kurang aja, mengingat scene fantasi film ini terasa terlalu sedikit. Akting Segi Lopez sebagai Captain Vidal juga terlihat jahat, agak ngingetin sama tokoh Hans Landa walopun masih dibawahnya dari segi akting.

RATING:
 

Ini Lho Osama (2003)


Biasanya film perihal seorang perempuan yang menyamar menjadi laki-laki itu bercerita perihal perempuan yang berkeinginan melaksanakan pekerjaan atau hal yang dirasa hanya pantas dilakukan laki-laki makanya ia menyamar. Mulan misalnya, demi ikut perang ia menjadi laki-laki. Tapi untuk film ini kasusnya beda. Dalam film ini tokoh perempuannya menyamar menjadi laki-laki alasannya ialah kondisi yang terpaksa. Film Afghanistan yang disutradarai Siddiq Barmak ini ialah film yang memenangkan Golden Globe tahun 2004 untuk kategori "Best Foreign Language Film". Film ini juga cukup berjaya di Cannes Film Festival dengan menyabet 3 penghargaan.

Dari judulnya mungkin orang (termasuk saya) banyak yang mengira ini film perihal Osama bin Laden. Tapi bukan. Disini memang terdapat tentara Taliban, tapi Osama yang dimaksud disini bukanlah sang pimpinan taliban, melainkan seorang bocah perempuan yang demi menghidupi kebutuhan ibu dan neneknya harus menyamar menjadi laki-laki untuk bekerja alasannya ialah disana perempuan tidak diperbolehkan bekerja. Dia harus sembunyi-sembunyi dari Taliban dalam bekerja alasannya ialah bila tertangkap tangan nyawanya sanggup terancam. Selain bekerja ia juga harus ikut bersekolah di sekolah yang isinya semua ialah anak laki-laki milik Taliban.
Masalah-masalah dan ancaman tiba menghampirinya disana.

Film ini dimainkan oleh bintang film dan aktris yang saya sendiri tidak tahu apakah bahu-membahu mereka bintang film atau hanya warga setempat. Dari segi kualitas sering saya jumpai akting kaku dari mereka khususnya dari beberapa bintang film dewasa. Yang menarik ialah sang pemeran utama Osama, Marina Golbahari yang bagi saya bermain bagus. Emosi yang ia rasakan, ketakutan, dan kesedihan sanggup tersampaikan dengan tepat. Melalui film ini saya juga cukup banyak berguru kultur keIslaman di Afghanistan yang berbeda dari yang saya tahu, ibarat tata cara mengaji disana. Tapi yang paling disorot tentu perlakuan terhadap perempuan yang terlihat tidak adil dan ibarat hanya menjadi alat bagi para pria.


OVERALL: Film yang menarik untuk disimak, bukan yang terbaik dari daftar Foreign Language Film yang pernah saya tonton emang, tapi menarik & mengena untuk diikuti.

RATING:

Monday, February 11, 2019

Ini Lho Casablanca (1942)


Sebelum memulai review fim ini saya akan menyampaikan sebuah akreditasi yang cukup memalukan bahwasanya bagi orang yang mengaku "gila film". Bahwa "Casablanca" yakni film hitam putih pertama yang saya tonton. Film ini juga yakni filme tertua yang saya tonton. Dengan kata lain saya masih belum menonton film klasik macam Gone With the Wind (1939) atau Citizen Kane (1941). Film ini sering dikategorikan sebagai salah satu film terbaik sepanjang masa. Bahkan di daftar 100 film terbaik versi American Film Institute, film ini berada di posisi kedua dibawah "Citizen Kane" dan diatas "The Godfather". "The Godfather" yang merupakan sebuah film yang saya anggap sebagai yang terbaik yang pernah saya tonton berhaasil dikalahkan di daftar ini. Tentunya menciptakan ingin tau saya terhadap film yang memenangkan film terbaik di Oscar 1944 ini meninggi. Tapi saya juga ingat bahwa ini yakni film jaman kuno dimana efek yang ditampilkan tentunya masih sangat sederhana. Begitu juga aspek-aspek lain.

Pada masa Perang Dunia II dimana Jerman berkuasa termasuk di Prancis, banyak warganya yang mencoba pergi keluar dari sana. Dan tujuan yang paling banyak dituju yakni Lisbon. Tapi untuk mencapai Lisbon tidak sanggup dengan mudah. Rute yang dilalui harus memutar cukup jauh dan nantinya akan hingga di sebuah kota di Maroko, yaitu Casablanca. Dari sana untuk terbang menuju Lisbon harus memiliki surat jalan yang mahal harganya dan harus ditandatangani oleh Captain Louis Renault (Claude Rains) dari pihak kepolisian Prancis. Di Casablanca ada laki-laki yang cukup kuat dan bahkan disegani oleh Captain Renault, yaitu Richard Blaine (Humphrey Bogart) atau yang bersahabat disapa "Rick". Dia yakni pemilik cafe terbesar dan terlaris di Casablanca.


Rick sendiri yakni orang yang hambar dan tidak peduli pada hal apapun kecuali dirinya sendiri. Sampai suatu hari seorang laki-laki menitipkan surat transit miliknya pada Rick sejumlah 2 lembar. Ternyata laki-laki itu yakni salah satu anggota gerakan pembrontakan Prancis terhadap Nazi Jerman. Pada malam itu sang laki-laki gagal melarikan diri dari kejaran tentara Jerman. Di malam yang sama datanglah Victor Laszlo (Paul Henreid) yang merupakan salah satu pemimpin perlawanan Prancis berjulukan istrinya Ilsa Lund (Ingrid Bergman) dimana mereka gres saja memasuki Casablanca dan berusaha pergi ke Lisbon. Tapi alasannya yakni sang orang kepercayaan telah dibunuh ia tidak sanggup menerima surat transit tersebut tanpa tahu surat itu sudah berpindah tangan pada Rick. Diluar dugaan ternyata Rick dan Ilsa memiliki sebuah hubungan masa lalu. Sebuah hal yang menciptakan Rick enggan menunjukkan surat itu pada Laszlo semoga Ilsa tetap tinggal di Casablanca. Tapi jikalau Rick tetap melaksanakan itu, perlawanan terhadap Nazi terancam tersendat alasannya yakni Laszlo merupakan buronan Jerman yang apabila terlalu usang di Casablanca akan segera ditangkap. Apakah yang kesudahannya akan dilakukan Rick?

Film ini bukanlah film yang mengumbar segala hal berlebihan untuk kesan dramatisasi. Film ini bahwasanya tipikal sebuah drama yang sanggup dipanjangkan hingga durasi diatas 2 jam. Tapi film ini menunjukkan pembagian terstruktur mengenai yang lebih padat dan pribadi sehingga hanya memakan durasi sekitar 100 menit. Dan hal itu menciptakan film ini berasa cepat dan padat memberikan isinya. Ada beberapa konsep dongeng yang ditawarkan "Casablanca". Yang pertama yakni cinta. Kisah cinta yang dijabarkan disini yakni kisah cinta segitiga antara Rick, Ilsa, dan Laszlo. Tapi tentunya bukan kisah cinta kacangan dalam memperebutkan perempuan yang ditampilkan. Kita akan digiring pada sebuah pertanyaan besar ihwal apa bahwasanya hubungan Rick dan Ilsa diawalnya. Lalu makin berjalan film makin terkuak bagaimana hubungan mereka. Dan disini akting Bogart dan Bergman yang "bermain".

Sosok Rick yang ditampilkan Bogart begitu cuek, dingin, tapi memang terlihat jauh didalam hatinya ada sisi sentimentil dan romantisme. Rasa hambar itu belakangan akan kita ketahui sebagai dampak sebuah sakit hati yang beliau alami. Dan sebagaimana layaknya seorang laki-laki yang merasa patah hati ditinggal orang yang bahwasanya masih beliau cintai dan kenangan akan perempuan tersebut masih tersimpan, Rick juga sama. Saat Ilsa kembali muncul, perlahan sosok orisinil Rick yang bahwasanya sentimentil mulai terlihat bertahap hingga di simpulan film akan hingga pada sebuah keputusan dari Rick yang bertolak belakang dengan sosok hambar yang beliau tampilkan diawal film. Sosok Ilsa yang ditampilkan Bergman juga sanggup dibilang abu-abu. Disatu sisi beliau memang meninggalkan Rick, tapi semata-mata alasannya yakni alasan yang memang logis dan jelas. Membuatnya tidak akan menjadi sosok perempuan yang dibenci penonton, tapi bahkan mungkin menerima simpati. Walaupun simpati terbesar terang ada pada Rick. Sebuah abjad yang dihidupkan dengan luar biasa oleh Bogart.

Cerita kedua yakni ihwal perang dan kepahlawanan. Dimana sangat terasa bahwa tentara Jerman dengan Nazi begitu berkuasa dan dihormati dan disegani oleh pihak lain. Tapi dibelakang itu, pihak tersebut bahwasanya juga membenci Nazi yang menyerang negaranya. Itu sanggup kita tangkap dari sosok Captain Renault yang sepanjang film mungkin akan terasa sebagai seorang penjilat, tapi kita akan menangkap hati kecilnya membenci Nazi. Sedangkan kisah ketiga yakni persahabatan. Persahabatan unik dari Captain Renault dan Rick. Rick menunjukkan Captain Renault "Bonus" dengan selalu membuatnya menang tiap kali bermain roullette di cafe miliknya. Pertemanan palsu? Bisa jadi. Tapi di simpulan film kita akan lihat bawa ada hal lebih dibalik itu. Sebuah simpulan film yang tidaklah menampilkan twist "heboh" tapi cukup mengena dan mengejutkan. Apalagi obrolan terakhir yang diucapkan Rick yang begitu memorable.


RATING:

Ini Lho Lebanon (2010)


Berapa banyak film perang yang pernah dibuat? Sangat banyak. Berapa banyak film perang yang mengusung tema anti perang? Banyak. Tapi berapa banyak film perang yang mengusung tema anti perang dan pesan tersebut bisa begitu hingga kepada penonton? Sedikit, dan "Lebanon" ialah salah satunya. Adalah hal yang mengejutkan mengetahui sebuah film bertemakan anti-war macam ini dibentuk oleh Israel yang notabene sangat pro terhadap peperangan. Film ini mengambil tema perang yang terjadi di Lebanon pada tahun 1982.

Diceritakan 4 orang prajurit Israel ditugaskan didalam sebuah tank bersama dengan prajurit lain dalam sebuah perang. Mereka berempat masing-masing punya kiprah sendiri dalam tank tersebut. Assi menjadi komandan dan pemimpin didalam tank tersebut. Hertzel bertugas mengisi ulang senjata. Yigal bertugas mengemudikan tank. Sedangkan  Shimulik yang masih orang gres bertugas menembakkan senjata. Mereka berempat juga mempunyai pimpinan yang turut serta dalam perjalanan diluar tank bersama prajurit lain berjulukan Jamil.

Tapi misi yang mereka emban tidak berjalan sesuai rencana sehabis masing-masing dari keempat prajurit tersebut mulai mencicipi tekanan yang begitu berat mengguncang sisi kemanusiaan mereka dalam peperangan kali ini. Mulai dari Shimulik yang tidak mampu menembakkan senjatanya, Yigal yang merindukan sang ibu dan kesulitan menyalakan tank, Hertzel yang selalu membangkang perintah Assi, dan Assi sendiri yang seharusnya memimpin rekan-rekannya malah jatuh dalam perasaan putus asa.

Film ini sangat-sangat berhasil memberikan pesan anti peperangan setidaknya bagi saya. Di paruh awal, saya sudah dibentuk miris melihat korban-korban berjatuhan mulai dari insan bahkan hingga hewan. Dan semuanya benar-benar menyadarkan saya akan keburukan perang. Bukan persoalan adegan sadis yang disajikan yang menciptakan hal itu. Saya sudah sering melihat yang lebih sadis di film, tapi gres kali ini saya merasa adegan yang memperlihatkan janjkematian dan orang sekarat bahkan binatang sekarat bisa menciptakan saya mencicipi kesedihan dalam film. Dan semua itu disuguhkan melalui sebuah teropong dari tank yang bisa zoom in dan zoom out menciptakan kita merasa menyaksikan semua itu secara langsung.

Kemudian di paruh tengah hingga akhir, pesan tersebut disampaikan melalui keadaan psikologis keempat prajurit didalam tank yang juga mulai mencicipi keengganan berperang, kesedihan, dan ketakutan yang luar biasa.Setting film yang dominan berada dalam tank yang gelap dan kotor makin menambah kesan dan aura depresif yang mereka alami. Kali ini akting dari 4 prajurit Israel inilah yang sangat berperan. Saya hingga dibentuk ngeri dengan kondisi psikologis yang mereka alami. Khusunya adegan Assi mencukur jenggotnya yang begitu menggambarkan kondisinya yang sangat tertekan.

Yang harus digaris bawahi ialah film ini bukanlah untuk semua orang, bahkan penggemar film perang sekalipun. Untuk penggemar film perang dengan hujan bom dan ledakan film ini mungkin akan terasa membosankan.Beberapa adegan yang menciptakan miris juga tampaknya bukanlah konsumsi semua orang.

OVERALL: Bukan tipikal film perang yang mengumbar ledakan sebab "Lebanon" lebih memfokuskan pada eksplorasi psikologis karakternya dan pesan anti-war yang coba disampaikan, dan pesan itu berhasil hingga dengan baik pada penonton.

RATING: