Showing posts sorted by relevance for query argo-2012. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query argo-2012. Sort by date Show all posts

Monday, January 14, 2019

Ini Lho Argo (2012)

Argo bisa saja menjadi puncak pencapaian seorang Ben Affleck tidak hanya sebagai sutradara namun juga bintang film dan lebih luasnya dalam karirnya di dunia perfilman. Pada risikonya memang pada pengumuman nominasi Oscar kemarin Ben Affleck (secara sangat mengejutkan) tidak menerima nominasi best director, namun secara total Argo berhasil mengumpulkan tujuh nominasi termasuk Best Picture dan Best Supporting Actor untuk Alan Arkin. Setelah dua film manis yang sayangnya tidak dilirik Oscar (Gone Baby Gone dan The Town), Affleck kembali dalam film ketiganya sebagai sutradara yang berbasis dari kisah faktual perihal penyanderaan oleh rakyat Iran terhadap 52 warga Amerika yang tengah berada di Teheran selama 444 hari. Kejadian itu terjadi sesudah kemarahan rakyat Iran khususnya para pejuang militan tersulut disaat Amerika bersedia menampung Mohammad Reza Pahlavi, raja Iran yang digulingkan sebab berkuasa secara semena-mena. Akhirnya pada 4 November 1979, para militan menyerbu kantor kedutaan Amerika di Teheran yang berujung pada penyanderaan para staff yang bekerja disana. Tapi tanpa mereka ketahui ada enam orang yang berhasil lolos dari penyergapan tersebut dan bersembunyi di kediaman duta besar Kanada. Dengan kondisi tersebut pihak Amerika berusaha mengeluarkan keenam orang itu secara belakang layar sebelum para militan mengetahui keberadaan mereka.

Tony Mendez (Ben Affleck) ialah seorang anggota CIA yang diminta menjadi konsultan kasus tersebut. Beberapa usulan misi rahasia diajukan, namun semuanya dianggap tidak memungkinkan. Sampai risikonya Mendez tiba mengajukan anjuran untuk misi pembebasan dengan modus membuat sebuah film palsu. Sempat diragukan, namun anjuran itu risikonya disetujui akhir tidak adanya pilihan lain yang lebih baik dalam waktu yang singkat tersebut. Mendez pun memulai misi tersebut dengan meminta santunan dari orang-orang dunia perfilman yang bisa dipercaya, mulai dari spesialis make-up John Chambers (John Goodman) yang berhasil meraih Oscar lewat Planet of the Apes dan seorang produser senior berjulukan Lester Siegel (Alan Arkin). Ketiganya pun mulai menjalankan proyek film palsu ini yang dihukum secara faktual mulai pencarian dana, pemilihan naskah sampai publikasi media. Setelah seleksi naskah, risikonya dipilih naskah sebuah film sci-fi dengan dongeng ibarat Star Wars dengan setting Timur Tengah berjudul Argo. Nantinya keenam orang tersebut akan disamarkan sebagai kru film mulai dari sutradara, penulis naskah sampai kameraman.

Argo memang diangkat dari sebuah insiden faktual yang mana kalau anda sudah mengetahui detail insiden tersebut makan anda sudah akan tahu bagaimana misi evakuasi ini berakhir. Namun Argo bukan sekedar bagaimana hasil final sebuah misi, namun perihal bagaimana proses perencanaan misi sampai disaat misi tersebut dijalankan. Yang menarik ialah konflik dijabarkan mulai dari konflik penyekapan, kemudian konflik yang terjadi disaat perencanaan misi yang mengalami begitu banyak kendala dan perdebatan, sampai risikonya ketika misi berjalan pun semuanya tidak mulus. Rangkaian adegan di bandara ialah sebuah titik puncak yang amat menegangkan, mengingatkan pada ketegangan pada adegan subway di film Bourne. Argo adalah bukti bahwa sebuah thriller penuh ketegangan tidak harus dibangun lewat adegan kejar-kejaran kendaraan beroda empat berkecepatan tinggi ataupun hujan peluru. Cukup dengan kehebatan Ben Affleck dalam merangkai adegan  demi adegan dengan tepat sampai meski gotong royong final filmnya sudah bisa ditebak tapi penonton tetap dibentuk betah menikmati ketegangan demi ketegangan yang dihadirkan.
Nuansa dalam Argo diluar dugaan tidaklah terlalu gelap. Beberapa selipan humor bisa memancing tawa. Mayoritas momen lucu tiba dari Lester Siegel yang diperankan oleh Alan Arkin dengan begitu baik. Bukan membuat abjad konyol, Siegel milik Arkin ialah tokoh yang bisa membuat suasana lucu dengan naik turunnya emosi ataupun baris obrolan yang mampu dihantarkan dengan baik. Adegan-adegan lain juga masih mampu menghadirkan senyuman termasuk adegan ketika Ben Affleck memperlihatkan gambar konsep filmnya kepada para tentara militan di bandara. Seolah para tentara itu sedang melihat suatu hal yang luar biasa, padahal hanya sebuah konsep grafis film yang sederhana. Apakah Argo adalah sebuah film yang berusaha memperlihatkan kehebatan dan kebaikan Amerika Serikat? Tentu saja ada kesan ibarat itu, tapi dalam film ini tidak ada perjuangan berlebihan untuk menempatkan Amerika sebagai pihak yang paling baik dan Iran sebagai musuh. Amerika digambarkan sebagai pihak yang berusaha menyelamatkan warga mereka dengan cara terbaik, hanya itu dan tidak terasa terlalu dilebihkan. Bahkan meski hanya sekilas tetap diperlihatkan bagaimana beberapa warga Amerika melaksanakan pemukulan terhadap warga Iran akhir konflik yang tengah terjadi. Memang film ini bersudut pandang Amerika dan mereka menjadi pihak protagonis, namun tidak ada dramatisasi nasionalisme yang berlebihan dalam Argo. 

Argo mungkin bukan sebuah film yang tepat dan masih cukup subjektif dalam memperlihatkan sudut pandangnya terhadap suatu insiden sejarah (kabarnya sutradara Iran juga sedang membuatkan film dengan dongeng yang sama hanya dari sudut pandang Iran). Namun sangat terlihat bahwa Ben Affleck dan timnya berusaha senetral mungkin dalam menyikapi kisah yang ada. Pada risikonya daripada sebuah propaganda, aku lebih memandang Argo sebagai sebuah thriller penuh ketegangan bernaskah cerdas sekaligus bisa dengan jeli menyelipkan beberapa humor segar sebagai penambah rasa. Sayang abjad Tony Mendez kurang digali lebih jauh kisahnya, tapi toh ini memang bukan film perihal dia, tapi perihal sebuah konflik dalam perencanaan dan pelaksanaan sebuah misi. Pada risikonya ketika misi berhasil aku turut dibentuk besar hati dan terharu.

Ini Lho Top 20 Movies Of 2012

Akhirnya blog ini sempat juga merilis daftar film terbaik 2012 meskipun tahun 2013 sudah berlalu lebih dari seminggu. Sayangnya untuk tahun 2012 ini jumlah film yang aku tonton jauh lebih sedikit dari tahun 2011. Tercatat beberapa film yang dianggap terbaik menyerupai Lincoln, Django Unchained, Zero Dark Thirty dan masih banyak lagi belum aku tonton. Saya juga kurang banyak menonton film lokal dimana beberapoa film yang katanya elok macam Mata Tertutup dan Rayya, Cahaya Di Atas Cahaya aku lewatkan jawaban masa tayangnya yang sangat pendek. Tapi menyerupai rutinitas tiap tahunnya dimana blog ini merilis daftar film terbaik bertepatan dengan hari dimana Oscar merilis daftar nominasi, maka aku putuskan untuk tetap mengikuti rutinitas tersebut. Yang berbeda yakni tahun ini aku memasukkan tidak hanya 10 film, tapi 20 film dikarenakan cukup banyak film berkualitas yang sayang untuk dikesampingkan dari daftar, jadi mulai tahun ini akan ada 20 film yang menghiasi daftar terbaik blog ini. Jad ini beliau 20 film terbaik (baca: terfavorit) versi Movfreak blog. (klik gambar untuk membaca review)

HONORABLE MENTION
Awalnya aku berniat tidak menciptakan honorable mention, tapi berhubung ada satu film yang sangat sayang untuk dikesampingkan namun akan terasa terlalu subjektif jikalau masuk dalam daftar jadinya aku menawarkan satu film di honorable mention. Film itu yakni COLDPLAY LIVE 2012. Daftar ini memang daftar yang subjektif, tapi khusus untuk dokumenter yang satu ini, aku sadar bahwa evaluasi elok disebabkan lantaran aku yakni fans berat dari grup band british satu ini. Sebuah hidangan konser dengan set-list yang sempurna, visual yang sangat memukau dan energi konser yang ditangkap dengan tepat yakni kepuasan luar biasa dalam menonton film ini. Semoga gosip konser mereka di bulan April mendatang bukan isapan jempol belaka.

20. THE HUNGER GAMES
Akhirnya sebuah franchise film penyesuaian novel yang bisa mendekati kehebatan Harry Potter. Sempat mencurigai kualtasnya, ternyata film garapan Gary Ross ini diluar dugaan bisa menampilkan ketegangan dari kisah remaja saling bunuh tanpa harus kehilangan hati. Seru, menegangkan sekaligus menyentuh dan masih ditambah cast yang gemilang khususnya Jennifer Lawrence menciptakan film ini menjadi sebuah hiburan yang berkualitas.

19. THE AVENGERS
Film terlaris di 2012 dan terlaris ketiga sepanjang masa. Joss Whedon sukses menggabungkan aneka macam superhero kelas satu Marvel dengan begitu seimbang antara satu huruf dan yang lain. Adegan agresi yang begitu epic, momen menggetarkan dan tidak lupa selipan humor yang sangat efektif. Sebuah penyesuaian komik yang tidak hanya menciptakan para fanboy mencicipi moviegasm tapi juga menawarkan kepuasan bagi penonton yang bukan penikmat komiknya.

18. CLOUD ATLAS
Salah satu film paling ambisius tidak hanya di 2012 tapi juga sepanjang masa. Mengadaptasi dongeng dalam novel yang sempat dianggap tidak mungkin untuk diangkat dalam media film. Namun pada jadinya meski makna yang coba dihadirkan kurang terasa maksimal, aku tetap bisa dibentuk terikat mengikuti jalan ceritanya meski memakan durasi sekitar dua setengah jam. Efek make-up dan visualnya tidak hanya asal megah tapi juga turut menjadi belahan penting yang membangun ceritanya.

17. PROMETHEUS
Sama menyerupai Cloud Atlas, film terbaru dari Ridley Scott ini akan memecah penontonnya menjadi dua kubu, yaitu yang mencintainya dan yang membencinya. Saya sendiri termasuk yang menyayangi film ini. Punya dongeng yang diluar dugaan mengangkat tema religius dan spiritual wacana Tuhan dan ciptaannya. Mungkin banyak misteri yang tidak terjawab, tapi bukankah tidak semua misteri khususnya di alam ini yang berkaitan dengan sang pencipta bisa kita jawab? Disitulah perenungan bekerjsama dari Prometheus

16. ARGO
Sebuah karya yang memantapkan nama Ben Affleck sebagai sutradara kelas satu di Hollywood. Keberhasilan Gone Baby Gone dan The Town memang bukan hanya kebetulan. Sebagai sutradara, Ben mampu merangkai kisahnya dengan begitu menarik dan menegangkan. Sebagai pemain film utama beliau mampu menawarkan salah satu penampilan terbaik dalam karirnya. Tentu saja adegan titik puncak di bandara yakni adegan yang begitu intens dan menegangkan. Pada jadinya ketika pembebasan itu berhasil, aku juga mencicipi kebahagiaan dan rasa haru yang sama dengan para tokohnya.

15. SHAME
Sebuah studi huruf luar biasa dari Steve McQueen. Michael Fassbender dan Carey Mulligan begitu gemilang dalam akting mereka sebagai huruf yang menyimpan kesedihan begitu mendalam. Banyak adegan yang bersinggungan dengan seksual, namun bukan seks penuh kebahagiaan melainkan seks yang penuh dengan rasa sakit dan kesedihan layaknya Last Tango in Paris. Masih menyisakan kekecewaan mengingat Oscar tidak melirik film jago ini.

14. 21 JUMP STREET
Entah sudah berapa usang aku tidak dibentuk tertawa terbahak-bahak di dalam bioskop, dan film yang sempat diragukan kualitasnya ini bisa menciptakan aku kembali tertawa bahagia. Penampilan dan chemistry kuat dari Channing Tatum dan Jonah Hill, komedi cerdas yang hampir tidak pernah miss, hingga cameo mengejutkan dari Johnny Depp. Sungguh menyenangkan bisa kembali tertawa dan memasang senyum lebar sehabis keluar dari bioskop.

13. THE GIRL WITH THE DRAGON TATTOO
Sebuah remake yang tidak perlu dibuat, sama menyerupai Let Me In. Namun layaknya film vampir tersebut, film ini mampu mengahdirkan kualitas yang jauh dari kata memalukan. Bahkan bagi aku pribadi, film garapan David Fincher ini lebih unggul dari versi Swedia-nya. Sinemtografi indah yang mampu menghadirkan nuansa masbodoh nan kelam, misteri yang masih tetap menarik dan dihadrikan dengan rapih sekaligus gampang diikuti. Sekali lagi bukan remake yang perlu memang, tapi sebuah remake yang berhasil.

12. NAMELESS GANGSTER
Bagaikan sebuah versi Korea dari film Martin Scorsese dan memang ada beberapa homage disini diberikan pada film-film sang sutradara menyerupai Taxi Driver. Sebuah hidangan dimana otot dan otak saling mengisi dan tidak bisa dipisahkan. Sebuah zero-to-hero yang tidak klise lengkap dengan penampilan luar biasa (seperti biasa) dari seorang Choi Min-sik.

11. POLISSE
Kesederhanaan yang menciptakan film ini menjadi begitu realistis dan emosional. Disajikan dengan nuansa menyerupai semi-dokumenter, Polisse berhasil merangkum dengan tepat kisah para polisi ini baik ketika bertugas ataupun di kehidupan langsung mereka. Tentu saja ending yang kelam dan mengejutkan itu masih terngiang di pikiran aku hingga ketika ini.

10. END OF WATCH
Kembali sebuah film polisi yang dihadirkan dengan teknik semi-mockumentary. Ceritanya memang klise dan gampang ditebak, tapi kebijaksanaan naskahnya yang diawal ringan dan menciptakan kita bersimpati pada karakternya menciptakan titik puncak film ini begitu menegangkan dan punya selesai yang emosional. Kuatnya chemistry Jake Gyllenhaal dan Michael Pena menjadi salah satu kekuatan.

9. LIFE OF PI
Seperti Cloud Atlas, film garapan Ang Lee ini juga berasal dari novel yang dianggap tidak mungkin untuk difilmkan. Namun cara penuturan dari Ang Lee mampu menciptakan Life of Pi menjadi sebuah tontonan yang memuaskan baik dari segi dongeng (walaupun tema sensitif wacana Tuhan tidak sekuat yang aku harapkan) maupun dari segi visual yang begitu luar biasa. Efek 3D yang ada menciptakan alam yang ada bagai nirwana dunia.

8. SAFETY NOT GUARANTEED
Kejutan, itulah film ini. Sebuah film kecil yang muncul entah darimana namun ternyata punya kualitas luar biasa. Dialog cerdas, kisahnya yang sederhana namun unik, pemain yang berakting bagus, serta ceritanya yang begitu mendalam mengakibatkan Safety Not Guaranteed sebuah drama yang dibalut unsur sci-fi dengan kualitas hebat. Saya sangat suka Aubrey Plaza dan jadi tertarik menyaksikan agresi komedi-komedinya di YouTube.

7. THE PERKS OF BEING WALLFLOWER
Salah satu film paling favorit para penonton. Sebuah drama yang mampu membawa kita kembali ke masa-masa indah di Sekolah Menengan Atas dulu lengkap dengan segala suka dukanya. Mau menyerupai apapun kisah kita di SMA, film ini mampu mengembalikan memori tersebut yang mengambarkan begitu lengkapnya kisah yang ada. Tiga huruf utamanya berakting begitu baik.

6. MOONRISE KINGDOM
Wes Anderson kembali dengan karyanya yang unik dan aneh. Indahnya dunia bawah umur yang begitu polos namun terasa begitu dewasa, beradu dengan rumitnya duniaorang bau tanah yang kompleks namun uniknya terasa kekanak-kanakan. Sebuah dunia indah yang diciptakan oleh Wes Anderson dan aku tidak keberatan kembali lagi ke Moonrise Kingdom.

5. HUGO
Seperti Life of Pi, berikan imbas 3D kepada sutradara dengan passion yang tepat, maka terciptalah sebuah dunia yang indah dalam film. Penghormatan seorang Martin Scorsese terhadap dunia film yang begitu ia cintai ini juga akan menciptakan penonton jatuh cinta dengan salah satu film terbaik sang sutradara. Scorsese dengan 3D? Scorsese menyutradarai film bawah umur yang ringan? Ternyata terciptalah keindahan yang menyentuh.

4. TYRANNOSAUR
Sebuah drama Inggris yang sangat besar lengan berkuasa dari segala aspek. Sebuah studi wacana seorang huruf yang kesepian dan penuh amarah. Bagaimana insan yang bagaikan monster sekalipun tetap mempunyai hati. Sayangnya film luar biasa ini banyak terlewat oleh penikmat film.

3. THE DARK KNIGHT RISES
Oke, mungkin film ini tidak sebaik TDK. Banyak juga plot hole dan adegan klise. Namun diluar itu aku rasa berlebihan jikalau banyak yang mencela film ini. Saya masih merasa TDKR yakni epilog trilogi yang lebih dari sekedar pantas. Ini yakni sebuah hidangan epic yang mampu menciptakan aku menahan nafas dalam tiap adegan menegangkan yang mampu dirangkai dengan indah. Balutan musik Hans Zimmer begitu luar biasa disini. Ini bukan sekedar film superhero, tapi sebuah dongeng kepahlawanan.

2. THE ARTIST
Hal dari masa kemudian yang dianggap kuno dan ketinggalan jaman belum tentu jelek. Michel Hazanavicius mampu merangkum surat cintanya pada film bisu dengan begitu indah dan menghibur. Kisah sederhana namun dirangkum dengan maksimal dan unik, begitulah film ini. Penampilan luarbiasa dari Jean Dujardin serta Berenice Bejo menjadi salah satu keunggulan utama film ini. Jangan lupakan adegan tap dance di selesai yang bisa menciptakan aku tersenyum lebar.

1. HOLY MOTORS
Sungguh gila Leos Carax dan Denis Lavant disini. Carax gila dengan segala dongeng sinting nan surealis-nya. Lavant gila dengan aneka macam huruf asing yang ia perankan dengan begitu hebat. Mungkin Oscar tidak akan melirik film ini, tapi bagi aku Holoy Motors yakni film paling berkesan di 2012 lalu. Bukan saja sekedar tribute bagi pemain film dan film sendiri dari seorang Leos Carax, namun juga menampilkan studi mengenai seseorang yang lebih sering hidup dalam sosok orang lain daripada dirinya sendiri. Masih ingatkah beliau dengan sosoknya dan kehidupannya yang asli? Ataukah semua itu justru sudah menjadi kehidupan sesungguhnya? Tapi dibalik segala kegilaan itu masih ada drama sederhana yang begitu manis yang mengambarkan siapapun seseorang, apapun yang ia kerjakan, beliau tetaplah insan dengan hati, perasaan dan cinta.

Saturday, January 12, 2019

Ini Lho The Wolf Of Wall Street (2013)

Jadi ini beliau kerja sama kelima antara Martin Scorsese dan Leonardo DiCaprio yang terakhir kali berduet di tahun 2010 kemudian dalam Shutter Island. Kali ini mereka kembali dalam pembiasaan memoir milik Jordan Belfort yang berjudul sama. Jordan Belfort sendiri yaitu mantan pialang saham sukses yang dijuluki The Wolf of Wall Street dan sekarang dikenal sebagai seorang motivator. DiCaprio yang memerankan Belfort memang bakal menjadi sorotan utama, namun film ini tidak hanya mempunyai DiCaprio. Ada Matthew McConaughey yang sekarang tengah berada di puncak karirnya dan digadang-gadang menjadi calon berpengaruh pemenang Oscar tahun ini bersaing dengan DiCaprio sendiri, ada Jonah Hill yang perlahan mulai menandakan bahwa beliau tidak hanya bisa bermain dalam komedi-komedi jorok, ada Jean Dujardin sang pemain drama terbaik Oscar tahun 2012 lalu, hingga Kyle Chandler yang tengah kebanjiran tugas dalam film-film anggun macam Argo, Zero Dark Thirty hingga The Spectacular Now. Filmnya sendiri sempat mengundang kontroversi ketika dirilis akhir banyaknya adegan seks, penggunaan kokain, obrolan penuh sumpah serapah, bahkan penggunaan binatang dalam filmnya sempat mengundang kontroversi dari banyak organisasi pecinta hewan. Dengan durasi hampir tiga jam (179 menit) nampaknya The Wolf of Wall Street akan jadi kerja sama tergila Scorsese-DiCaprio.

Jordan Belfort (Leonardo DiCaprio) mengawali karirnya di Wall Street dengan bekerja untuk firma milik Mark Hanna (Matthew McConaughey). Lewat bimbingan Mark, Jordan mulai berguru menjadi pialang saham yang "baik" lengkap dengan gaya hidup hedonism penuh kokain dan seks menyerupai yang diajarkan sang mentor. Setelah insiden Black Monday yang mengejutkan dunia saham termasuk menciptakan gulung tikar tempatnya bekerja, Jordan pindah ke sebuah perusahaan bisnis penny stocks di sebuah kota kecil di Long Island. Berkat bekal dan bakatnya merayu dengan tipuan licik pada para klien, perlahan Jordan pun meraup sukses disana. Tidak lama, bersama dengan sahabat barunya Donnie Azoff (Jonah Hill) Jordan membuka perusahaan kecil-kecilan yang dinamai Stratton Oakmont. Dengan mempekerjakan beberapa sahabat Jordan yang lebih banyak berurusan dengan marijuana daripada saham, mereka pun memulai perjuangan mereka dari nol. Tidak butuh waktu usang hingga karenanya Stratton Oakmont menjadi perusahaan besar yang mempunyai banyak karyawan. Tentunya semua itu berasal dari kelihaian mereka untuk merayu dan karenanya "membuang" para klien yang sudah berinvestasi. Keserakahan Jordan membuatnya tidak tahu bagaimana mengontrol diri. Kehidupannya semakin liar dengan kokain dan seks tidak terkontrol, bahkan ia berselingkuh dan karenanya menikah dengan Naomi Lapaglia (Margot Robbie). Semuanya lancar hingga seorang biro FBI Patrick Denham (Kyle Chandler) mulai curiga dan menyidik perusahaan tersebut.

Kisahnya memang berada di seputaran wall street, bisnis saham, serta tipu menipu dalam hal perekonomian, namun jangan khawatir anda akan tersesat dalam banyak sekali istilah ekonomi yang menciptakan pusing orang awam. Naskah yang ditulis oleh Terence Winter berbaik hati untuk tidak banyak bermain dengan istilah abnormal tersebut dan jikapun ada semuanya akan dijelaskan sejelas mungkin. Scorsese dan Winter tahu benar hal tersebut, bahkan di sebuah adegan Leonardo DiCaprio berbicara pada penonton (breaking the fourth wall) dan berkata bahwa ia memahami bahwa percuma membawa banyak sekali istilah cerdas tersebut alasannya toh penonton akan menjadi pusing dan malah kesulitan menikmati filmnya. Lagipula The Wolf of Wall Street memang bukanlah berfokus pada intrik sahamnya, melainkan kepada segala keliaran dan gaya hidup gila yang dijalani oleh para karakternya. Akan ada banyak kokain yang dihisap, pelacur yang diajak berafiliasi seks kapan pun dimana pun, akan banyak orang teler yang perilakunya tidak terkendali disini. Ini yaitu satir penuh komedi hitam dari Scorsese wacana mereka yang menganut pola hidup hedonisme dan punya uang berlebih dan (literally) membuang-buang uang yang mereka punya. 
Rasanya sah-sah saja kalau menyebut film ini gila dilihat dari konten yang ada termasuk kuantitas konten tersebut. Kekacauan terjadi dimana-mana hingga pesta pora yang bising dan gila terjadi di dalam ruang kerja yaitu pola kekacauan dalam film ini. Filmnya memang kacau, ceritanya kacau, karakternya pun kacau tapi semua kekacauan itu dalam konteks kualitas film yang positif. Meski menciptakan film penuh kekacauan dan aksara yang hidupnya kacau balau, Scorsese bisa mengemas film ini dengan begitu baik lewat penceritaan yang lezat diikuti dan sama sekali tidak membosankan meski mendekati durasi tiga jam. Anda akan dibentuk terkejut bahkan tertawa melihat bagaimana kegilaan setiap karakternya. Perilaku gila dan tidak terkontrol yang semuanya dipicu oleh keserakahan, kelicikan dan kepuasan akan uang serta kemewahan yang tidak pernah terpenuhi. Cara Scorsese menggambarkan semua itu sekilas memang terlihat berlebihan namun memang film ini berkisah wacana segala sesuatu yang berlebihan. Temponya berjalan cepat, secepat kesuksesan yang diraih oleh Jordan dan teman-temannya. Sama cepatnya juga dengan bagaimana mereka menghancurkan diri mereka lewat segala kegilaan dan keserakahan tersebut. Ini juga yaitu studi wacana bagaimana seseorang menghancurkan hidup mereka alasannya tidak bisa mengontrol diri.

Akting dari para pemainnya memuaskan. Leonardo DiCaprio sudah terbiasa menjadi orang gila, namun aktingnya disini yaitu yang paling gila. Disini beliau teler, bertingkah liar, berteriak sepanjang waktu, punya adiksi akan narkoba, seks dan tentunya uang. Namun totalitasnya menciptakan apa yang beliau tampilkan tidak hanya berakhir sebagai sebuah performa konyol yang asal gila. Kedalaman yang beliau berikan pada sosok Jordan Belfort menjadi sebuah studi yang tepat akan kegilaan yang muncul akhir keserakahan dan kontrol diri yang jelek pada seseorang. Jonah Hill pun mengulangi penampilan bagusnya dengan memperlihatkan kegilaan yang sering beliau berikan dalam komedi-komedi joroknya. Namun saya rasa nominasi Oscar yang ia dapatkan kali ini agak berlebihan dan tidak sepantas yang ia dapatkan ketika berakting di Moneyball. Bagi DiCaprio mungkin ini kesempatan besarnya meraih Oscar pertama meski harus bersaing ketat dengan McConaughey yang dalam film ini mendapat tugas kecil namun berhasil ia maksimalkan. Hal yang sama juga berlaku pada Jean Dujardin. Saya sangat menyukai The Wolf of Wall Street yang begitu gila ini. Mungkin akhir kontroversi yang ada film ini akan kesulitan berjaya di Oscar melawan film-film yang lebih "lovable" macam American Hustle, Gravity maupun 12 Years A Slave. Namun bagi saya ini merupakan salah satu kerja sama terbaik dari Scorsese dan DiCaprio dan terang salah satu akting terbaik yang pernah ditunjukkan oleh sang aktor.

Tuesday, December 4, 2018

Ini Lho Musik Untuk Cinta (2017)

"Musik untuk Cinta" tergabung bersama judul-judul ibarat "Terjebak Nostalgia" dan "Multiverse: The 13th Step" sebagai film Indonesia yang perilisannya mundur tahun lalu. Tapi pencapaian film karya Enison Sianaro ("Long Road to Heaven") ini jauh lebih dahsyat. Telah menyelesaikan pengambilan gambar di tahun 2011 dan siap tayang pada 2012, alasannya yaitu "satu dan lain hal" (demikian ungkap Ian Kasela sang pemeran utama) mundur empat tahun menjadi 14 Januari 2016 sebelum kesannya benar-benar tayang di Maret 2017. Luar biasa! Jangka waktu penundaannya hampir setara album "Chinese Democracy" milik Guns N' Roses. Tapi sebagaimana kita tahu, album tersebut berakhir busuk. Demikian pula film ini. 

Sejatinya saya sempat optimis kala menyaksikan adegan pembuka berisi Kirab Budaya Cirebon digarap menarik khususnya dari tata visual. Departemen sinematografi yang dipegang Rudy Kurwet (kenapa nama-nama kru film macam ini selalu ajaib?) sejatinya lumayan. Beberapa sudut pengambilan gambar sepanjang film layak disebut menarik. Namun siapa sangka, gelaran dongeng filmnya jauh lebih menarik, unik, sekaligus mengherankan. Sambutlah abjad utama kita, Cecep (Ian Kasela), seorang perjaka dari keluarga miskin dengan keseharian menggarap sawah dan berjualan singkong. Cecep digambarkan sebagai sosok lugu, jujur, baik hati, pokoknya calon menantu idaman. Tapi ada lubang dalam hidup protagonis tercinta kita ini. Dia jomblo. 
Cecep pun memutuskan berkeliling Cirebon untuk mencari wanita. Sungguh. Saya tidak mengada-ada. Menunggangi delman, Cecep mulai mendatangi banyak sekali tempat, mencari perempuan yang bersedia ia goda. Sampai kesannya Cecep yang baik hati nan tampan rupawan ini hingga di sanggar latihan tari di mana ia bertemu Dewi (Arumi Bachsin), puteri keluarga Keraton Kasepuhan. Lalu apa yang Cecep lakukan sesudah terpukau oleh kecantikan sang puteri? Dari kejauhan ia memanggil, "neng, neng, neng". Ya, Cecep, protagonis tercinta kita beranggapan bahwa perempuan elok puteri Keraton bisa terpengaruhi oleh laki-laki asing tak sopan yang mendadak memanggilnya kolam preman pinggir jalan menarik hati orang lewat. 

Tapi anda tahu? Dewi tergoda! Dewi lebih menentukan Cecep ketimbang Surya (Ferry Ardiansyah) anak pengusaha besi bau tanah kaya raya dan AA Jimmy (Argo AA Jimmy) sang ulama yang jauh-jauh tiba dari Bandung untuk mengajarinya mengaji (baca: PDKT). "Musik untuk Cinta" memperlihatkan pada penonton bahwa merupakan kewajaran kalau seorang laki-laki ingin mendapat pacar, ia berkeliling kota mencari perempuan yang mau digoda, kemudian tanpa basa-basi memanggil "neng, neng, neng", kemudian voila! Puteri Keraton pun didapat. Dewi berkata ia menentukan Cecep alasannya yaitu kepribadiannya. Maaf, tapi kepribadian yang mana? 
Singkatnya, alasannya yaitu selalu diremehkan oleh orang bau tanah Dewi, Cecep merantau ke Jakarta. Tanpa uang, tanpa modal kemampuan, tanpa pendidikan. Koreksi kalau saya keliru, tapi bukankah ini salah satu penyebab duduk kasus kependudukan ibukota? Cecep pun harus berjuang keras, menjadi tukang parkir, pramusaji, hingga kesannya sukses sebagai production management sebuah perusahaan rekaman. WOW! Apakah Cecep ternyata punya kemampuan tersembunyi? Oh, ternyata pekerjaan itu ia sanggup dari mitra lamanya, Abun (Philip Jusuf). "Musik untuk Cinta" konon berpesan perihal kegigihan, tapi penggalan mana yang menyimbolkan kegigihan dari kenekatan merantau tanpa bekal kemudian berhasil alasannya yaitu donasi teman? Tidak hanya Cecep, seluruh tokoh luar biasa menyebalkan. Entah bodoh, sombong, pemaksa, dan lain sebagainya. 

(Spoiler alert) Cecep kesannya terlena oleh kesuksesan donasi sahabat itu, menjadi konsumtif, sombong, pemabuk kemudian dipecat dan kembali melarat. Anehnya, bukannya simpati saya justru puas melihatnya. Cecep dengan segala keluhannya layak mendapat itu. Sudah bisa ditebak, nasib kesannya kembali berpihak pada protagonis tercinta kita, tapi bagaimana caranya? Oh, ternyata Abun berbaik hati memaafkan si mitra lama, memperlihatkan lagi pekerjaannya. Baiklah. Secara keseluruhan "Musik untuk Cinta" punya tokoh utama yang sukses bukan alasannya yaitu perjuangan tetapi sepenuhnya belas kasih orang lain. Naskah garapan Kadjat Adra'i dan Iman Taufik terlalu menggampangkan resolusi konflik termasuk bagaimana Cecep menengahi permasalahan antara Abun dengan Titiek Puspa. Tunggu, ada Titiek Puspa? Ya, begitu pula Andra & the Backbone yang mendadak menampilkan "Musnah" di penghujung film.
"Musik untuk Cinta" tentu punya musical sequence. Tidak perlu bertanya apakah hasilnya bagus. Sound mixing-nya kacau. Suara bisa mendadak naik, turun, bahkan menghilang secara kasar. Pemilihan lagunya pun absurd. Ketika lagu film musikal umumnya mempunyai benang merah satu sama lain, bermodalkan semangat "semau gue" film ini asal memasang lagu. Ada tradisional, tembang kenangan, religi, dan pop soal cinta. Bahkan sekuen musikal hanya muncul dua kali yang semuanya menggelikan. Saya berkesimpulan, maksud kata "musik" pada judulnya bukan merujuk pada genre musikal atau eksplorasi budaya musik, melainkan diputarnya lagu sebanyak mungkin sepanjang durasi. Untuk apa pula Cecep diceritakan pandai menyanyi kalau ujung-ujungnya bekerja menjadi manajer produksi ketimbang talent?

Hiburan terbesar film ini yaitu menyaksikan Ian Kasela tanpa kacamata yang konsisten memasang tatapan nanar kolam memohon belas kasihan. Saya curiga poin utama "Musik untuk Cinta" yaitu perjalanan seorang Ian Kasela untuk menemukan kacamata hitam yang merupakan ciri khasnya. Terbukti, menjelang selesai mendadak ia menggunakan kacamata, memainkan lagu "Jujur" bersama Radja di tengah keramaian jalan raya yang dengan praktis mengalahkan surealisme opening "La La Land". Selain Ian tanpa kacamata, hiburan sanggup diperoleh pula lewat rentetan kalimat menggelikan, semisal "dikasih hati malah nginjek kepala" yang dilontarkan oleh aktornya secara serius. Demikianlah, kalau ingin menikmati suguhan romansa berbalut unsur musik memikat ada film Indonesia rilisan ahad ini yang bakal memuaskan anda. Judulnya "Galih & Ratna".


Ticket Sponsored by: Bookmyshow ID & Indonesian Film Critics

Monday, January 14, 2019

Ini Lho Lincoln (2012)

Tahun 2012 nampaknya jadi tahun bagi para Presiden Amerika Serikat, dimana setidaknya ada total tiga film yang menimbulkan sosok orang nomor satu Amerika menjadi tokoh utamanya. Yang pertama ialah Abraham Lincoln: Vampire Hunter yang mengangkat kisah fiksi dari novel wacana Abe Lincoln yang menjadi pemburu vampir. Lalu ada sosok Franklin D. Roosevelt yang diperankan oleh Bill Murray dalam dramedi Hyde Park on Hudson. Tapi diantara film-film tersebut yang paling digarap dengan serius dan paling akurat dengan sejarah tentunya ialah Lincoln karya Steven Spielberg ini. Diangkat dari sebuah buku berjudul Team of Rivals: The Political Genius of Abraham Lincoln karya sejarawan Doris Kearns Goodwin, film ini menceritakan empat bulan terakhir dari hidup Abraham Lincoln. Sosok Presiden ke-16 Amerika Serikat ini diperankan oleh Daniel Day-Lewis yang sebelum filmnya tayang sudah digadang-gadang meraih nominasi Best Actor Oscar bahkan dijagokan menang. Pesona akting Day-Lewis yang dalam 10 tahun hanya bermain di lima film termasuk Lincoln (mendapat tiga nominasi Oscar dan empat Golden Globe) memang luar biasa. Lincoln sendiri menerima 12 nominasi Oscar tahun ini termasuk Best Picture, terbanyak diantara film-film lainnya.

Pada Januari 1865 Abraham Lincoln resmi menjabat untuk kedua kalinya sebagai Presiden Amerika Serikat. Pada masa jabatan yang kedua ini Lincoln memiliki dua problema yang harus ia pecahkan. Yang pertama ialah perang sipil yang sudah berlangsung selama empat tahun, meski diprediksi perang tersebut akan berakhir dalam hitungan bulan namun sudah ratusan ribu nyawa melayang. Yang kedua ialah usahanya untuk meloloskan Amandemen 13 yang berisi pembatalan dan larangan terhadap perbudakan. Lincoln berusaha keras untuk mengesahkan amandemen tersebut sebelum perang berakhir. Namun hal itu tidak mudah, alasannya lawan politiknya dari partai demokrat yang sedang panas akhir kekalahan di pemilu tentunya tidak akan menyetujui begitu saja hukum tersebut. Untuk itulah Abe Lincoln mulai mengatur taktik untuk bisa mendapatkan bunyi dari beberapa anggota partai demokrat semoga bisa meloloskan amandemen tersebut. Tentu saja kisah wacana Abraham Lincoln yang mampu menunjukkan kemerdekaan bagi para budak sudah dikenal luas, tapi tidak semua orang tahu bagaimana jalan terjal yang harus ia lewati dan taktik macam apa yang ia lakukan.

Lincoln akan banyak memperkenalkan pada penontonnya sisi lain Abraham Lincoln yang belum banyak diketahui orang. Jika orang awam biasanya hanya mengenal Lincoln sebagai sosok pemimpin yang baik hati dan menjunjung kemerdekaan, maka disini sosoknya yang berakal dan andal taktik cukup disorot. Menyenangkan bagi saya yang sangat dangkal pengetahuan sejarahnya melihat Abraham Lincoln yang begitu berakal Seperti yang dikatakan Thaddeus Stevens (Tommy Lee Jones), ini ialah sebuah kisah wacana bagaimana orang-orang paling higienis di pemerintahan Amerika memainkan beberapa cara "kotor" untuk mencapai sebah tujuan mulia. Lincoln memang tidak membeli bunyi dengan menunjukkan uang pelicin bagi para anggota partai demokrat, tapi ia menjanjikan posisi dan pekerjaan bagi mereka yang mau menunjukkan bunyi untuk meloloskan peraturan tersebut. Lincoln begitu berakal disini dalam mengatur taktik semoga mereka mau berada di pihaknya. Beberapa cara persuasi dipakai dan terbukti efektif. Kehebatan Lincoln juga terlihat pada bagaimana ia bisa dengan begitu baik memanfaatkan sumber daya yang ia miliki.
Film ini berjalan dengan alur yang termasuk lambat. Awal film dimulai dengan banyak sekali obrolan panjang dan tempo penceritaan yang pelan. Saya sendiri sempat merasa bosan dan mengantuk di awal film. Durasinya yang mendekati dua setengah jam menciptakan Lincoln ialah sebuah tontonan yang tidak akan gampang diikuti semua orang. Film ini memang ber-setting di masa perang, tapi hampir tidak ada adegan peperangan yang terlihat. Hanya sekali adegan di pecahan pembuka. Sisanya lebih banyak menampilkan perjuangan Lincoln dan bawahannya dalam mengatur taktik dan melaksanakan persuasi terhadap anggota demokrat. Tensi yang lambat di awal menciptakan penonton mungkin akan kesulitan mengikuti kisahnya yang penuh obrolan panjang alasannya sudah merasa bosan di awal film. Saya sendiri sempat keteteran, sampai kesudahannya mulai terbiasa dengan ritme penceritaan yang ada. Namun adegan yang menampilkan perdebatan antara pro dan kontra amandemen 13 selalu seru dan menarik diikuti. Kemudian klimaksnya ialah disaat pemungutan bunyi yang begitu menegangkan dan berhasil diakhiri dengan mengharukan. Perasaan yang kurang lebih sama dengan yang saya rasakan ketika menonton titik puncak dan ending Argo.  
Sayangnya Lincoln terasa dipanjang-panjangkan di akhir. Saya tidak menjumpai alasan yang menciptakan momen terbunuhnya Abraham Lincoln perlu dimunculkan. Tanpa itupun film ini bisa diakhiri dengan cukup emosional dan semua penonton juga niscaya tahu bahwa Abe tewas ditembak ketika menonton teater. Disinlah kebiasaan Spielberg yang terlalu mendramatisir filmnya terasa lagi, padahal Lincoln sedari awal punya rasa yang cukup berbeda dibanding beberapa film Spielberg yang seringkali berlebihan dalam mendramatisir. Lincoln terasa membumi, sederhana tapi bisa dengan maksimal menunjukkan sosok Abraham Lincoln. Namun kesederhanaan dan minim dramatisasi itu juga menciptakan Lincoln terasa agak membosankan, apalagi ditambah durasinya yang panjang dan temponya yang lambat serta banyaknya dialog. Untuk urusan ending saya justru lebih suka bagaimana Abraham Lincoln: Vampire Hunter yang notabene ialah film buruk itu diakhiri. Lebih menunjukkan kesan tragis namun tidak secara gamblang dan tetap emosional. 

Bicara soal Lincoln tidak akan terlepas dari membicarakan penampilan hebat para pemainnya, dimana tiga pemainnya mendapatkan nominasi Oscar. Daniel Day-Lewis untuk Best Actor, Tommy Lee Jones di Best Supporting Actor serta Sally Field untuk kategori Best Supporting Actress. Day-Lewis secara tepat menghidupkan sosok Lincoln secara kasatmata dan berhasil menunjukkan Abraham Lincoln yang berwibawa, tenang, cerdas namun juga memiliki banyak hal yang menciptakan pikirannya kacau mulai dari perang, amandemen sampai kondisi keluarganya dimana sang putera sulung, Robert (Joseph Gordon-Levitt) sangat ingin terjun ke medan perang. Tentu Lincoln dan sang istri Mary (Salli Field) tidak semudah itu oke sesudah anak ketiga mereka William meninggal di usia 11 tahun alasannya sakit dan mereka tidak ingin kehilangan anak lagi. Sally Field juga hebat sebagai Mary Todd Lincoln yang menyimpan begitu banyak kekhawatiran. Jika Day-Lewis mencuri perhatian di momen penyusunan strategi, maka Tommy Lee-Jones menjadi scene stealer di perdebatan yang terjadi antara republik dan demokrat. Sebagai tokoh yang punya emosi yang cukup tinggi ia bermain begitu baik.

Lincoln secara keseluruhan ialah sebuah biopic yang memuaskan dan mampu menunjukkan edukasi bagi mereka yang masih kurang mengetahui secara mendalam sosok Abraham Lincoln. Segala aspek teknisnya anggun dan para aktornya berakting dengan maksimal khsususnya Day-Lewis yang kemungkinan besar akan meraih piala Best Actor untuk ketiga kalinya dan menjadikannya peraih kemenangan terbanyak sepanjang sejarah di kategori tersebut. Namun Lincoln bukanlah film yang gampang diikuti alasannya alurnya yang lambat dan durasinya yang panjang serta minimnya dramatisasi berlebihan ala Spielberg yang ironisnya juga menjadi salah satu kelebihan film ini. Nyaris diakhiri dengan menyentuh, sayangnya Spielberg menentukan untuk lebih memanjangkan ending-nya dan menciptakan film ini berakhir dengan ending yang biasa saja. Film anggun tapi bukan salah satu yang paling saya sukai, dan jujur jikalau dibandingkan dengan Argo saya masih lebih menentukan film Ben Affleck tersebut untuk meraih Oscar.