Showing posts with label Documentary. Show all posts
Showing posts with label Documentary. Show all posts

Monday, February 11, 2019

Ini Lho Exit Through The Gift Shop (2010)


Ini ialah film dokumenter pertama yang dengan sengaja saya tonton dan saya review di blog ini. Selama ini saya selalu kurang tertarik dengan yang namanya film dokumenter. Di bayangan saya dan dari beberapa dokumenter yang sudah saya lihat di televisi, film bergenre ini terasa kurang menarik lantaran memang didasarkan pada kenyataan. Tapi hasilnya saya memutuskan menonton "Exit Through the Gift Shop" lantaran ingin mencoba siapa tahu saya berhasil terpuaskan. Apalagi film ini cukup menerima berita, kontroversi, sekaligus pujian.

Film ini berkisah ihwal kehidupan seorang imigran Prancis yang tinggal di L.A. Thierry Guetta. Dia tinggal bersama istri dan 3 anaknya. Thierry sendiri menerima penghasilan dari membuka sebuah clothing store. Tapi ada satu kebiasaan Thierry yang cukup unik, yaitu selalu membawa kamera kemanapun ia pergi. Hal itu awalnya disebabkan sehabis ajal ibunya ia sadar kenangan yang terekama akan sang ibu terlalu sedikit. Sehingga semenjak itu ia memutuskan membawa kamera kemanapun ia pergi biar tidak ada momen yang terlewat untuk direkam dan dikenang.


Kebiasaan Thierry merekam membawanya untuk mengikuti kehidupan sepupunya yang merupakan seorang street artist yang cukup punya nama di Prancis, Invader. Tiap malam ia mengikuti kemanapun Invader "berkarya" di jalanan. Kebiasaannya itu membuatnya mengenal beberapa seniman lain termasuk Shepard Fairey yang di kemudian hari memperkenalkan Thierry dengan seorang street artist yang namanya populer diseluruh dunia tapi sosoknya masih misterius berjulukan Banksy. Selama beberapa ketika mengikuti Banksy, Thierry memutuskan untuk ikut terjun ke dunia street art. Thierry kemudian menjadi Mr Brainwash (M.B.W) Mr. Brainwash mulai berkarya dan hasilnya malah mengadakan pamerannya sendiri yang sukses besar.

Diatas tadi saya sempat menyebut film ini menuai kontroversi. Kontroversi yang dimaksud ialah lantaran film ini dianggap sebagai hoax belaka dan bukan orisinil doukumenter. Sosok Banksy yang menciptakan film ini dianggap hanya sosok fiktif belaka yang aslinya ialah karangan Thierry atau Mr. Brainwash. Sosok Banksy sendiri diperlihatkan msiterius dengan muka dan bunyi yang disamarkan. Dibalik segala info itu saya hasilnya harus mengakui bahwa film dokumenter khususnya film ini ternyata tidaklah identik dengan kata "membosankan". Film ini dikemas dengan sangat menarik sekaligus lucu. Menarik ketika kita melihat bagaimana para street artist berkarya dan menghindari kejaran polisi.

Karya-karya yang diperlihatkan di film ini memang karya yang indah dan unik. Kelucuan juga ditampilkan seputar kehidupan mereka. Nah, lantaran tingkat menarik dan kelucuan itulah banyak yang menerka film dokumenter ini palsu. Saya sendiri tidak yakin film ini 100% orisinil dokumenter, tapi yang saya tahu film ini mengasyikkan. Film ini juga dibalut dengan musik yang sangat pas dan menarik karya Richard Hawley dengan lagunya "Tonight the Street are Ours".

OVERALL: Kata mengasyikkan dan menghibur memang menjadi sajian utama film ini. Menjadikan film dokumenter pertama yang saya tonton ini malah menjadi salah satu yang terbaik di 2010

RATING:

Ini Lho Jackass 3D (2010)


Film ini menyisakan kekecewaan besar bagi saya. Bukan, bukan sebab film ini buruk. Tapi saya kecewa sebab tidak berkesempatan menyaksikan film ini dalam format 3D. Sudah dipastikan memang film macam ini tidak akan pernah masuk ke Indonesia sebab kandungan kekerasan, vulgar dan banyak hal menjijikkan didalamnya. Dan hal itu yang menciptakan saya hanya bisa menonton agresi abnormal Johnny Knoxville dkk melalui layar laptop. Memperingati 10 tahun franchise Jackass yang mulai disiarkan di MTV tahun 2000 lalu, dibuatlah sekuel dari "Jackass: Number Two" yang rilis tahun 2006 lalu. Dan mengikuti tren, film ketiga dari Jackass ini juga dirilis dalam format 3D. Tapi bukan hasil konversi melainkan murni memakai kamera 3D.

Film dibuka dengan kemunculan Beavis dan Butt-Head yang memperkenalkan format 3D yang digunakan film ini. Opening itu saja sudah menawarkan kelucuan bagi saya. Bahkan saya merasa secara tidak eksklusif opening tersebut menyindir film-film 3D hasil konversi yang menawarkan dampak 3D palsu yang tidak terlihat. Setelah itu film dibuka dengan opening yang menampilkan para "orang gila" yang bermain di film "gila" ini. Mereka tidak lain adalah  Johnny Knoxville, Bam Margera, Steve-O. Ryan Dunn, Chris Pontius, Preston Lacy, Danger Ehren, Dave England dan Wee Man. Di opening mereka menampilkan "aksi pembuka" yang di-shoot dengan kamera phantom yang bisa menangkap 1000 frame/detik. Dan scene itu ditampilkan dengan slow motion. Nah, dari adegan pembuka ini saja saya sudah menyesal tidak menonton lewat format 3D, sebab niscaya akan keren banget kesudahannya kalau ditonton dengan dampak 3D.


Setelah adegan pembuka spektakuler nan menyakitkan itu, dimulailah aksi-aksi abnormal tanpa plot dan script niscaya yang tentunya diisi dengan aneka macam rangkaian gambar menjijikkan, menyakitkan dan konyol. Awalnya kita akan diberi sebuah adegan "pemanasan". Sebuah stunt berjudul "Highfive" dimana Johnny Knoxville memukulkan telapak tangan raksasa kearah teman-temannya yang sedang lewat. Nah, sesudah dirasa cukup kita akan mulai dibawa kepada aksi-aksi lain yang jauh lebih ekstrim. Mulai dari yang superlucu macam agresi seorang kakek gila. Lalu agresi menyakitkan dan menciptakan meringis menyerupai mencabut gigi dengan tarikan kendaraan beroda empat Lamborghini. Sampai yang super menjijikkan menyerupai "portable toilet" yang menampilkan bungee jumping + Steve O + Toilet + Kotoran manusia! Dan terakhir ditutup dengan adegan yang pengambilan gambarnya sama dengan opening tapi kali ini lebih "epic" dan makin menciptakan saya menyesal tidak menonton dengan dampak 3D.


Kapanlagi bisa menyaksikan dildo terbang dalam format 3D? Melihat kotoran insan muncrat dalam dampak 3D? Atau muntahan dan air kencing yang menyembur dalam dampak 3D? Hoeeeek!!! Semua agresi yang ditampilkan benar-benar menggambarkan kalau para sinting dibalik film ini memang benar-benar gila, tidak tahu malu, dan tidak kenal rasa takut. Entah mereka itu berani atau idiot. Batasannya tipis. Tapi yang terang mereka jenius dalam merancang stunt yang menghibur penonton dengan menyiksa diri mereka sendiri. Walaupun ada juga beberapa stunt yang terkesan hanya numpang lewat dan digunakan untuk mengisi slot waktu dan tidak terasa menghibur. Tapi tetap ada stunt singkat yang ditampilkan berkali-kali tapi tetap lucu, apalagi kalau bukan "Rocky" yang ditampilkan hingga 4 kali atau bahkan lebih.


Secara keseluruhan "Jackass 3D" bisa menjadi tontonan yang dicintai, tapi bisa juga dibenci. Anehnya saya termasuk dalam kedua kategori tersebut. Jadi, ada stunt yang saya benar-benar menikmati dan sangat terhibur, tapi ada juga stunt yang begitu saya benci sebab kadar menjijikkan yang agak kelewat batas dan hingga menciptakan saya mual sungguhan. Walaupun begitu secara keseluruhan jumlah stunt yang menghibur saya jauh lebih banyak dari yang saya benci.


OVERALL: Tontonan tanpa plot yang murni untuk hiburan walaupun bukan untuk semua orang. Dan saya menyukainya dan merasa 94 menit sangatlah kurang dan terasa singkat.

RATING:

Friday, February 1, 2019

Ini Lho Inside Job (2010)


Bukan hal yang gampang untuk mencerna film yang memenangkan "Best Documentary Feature" di Oscar 2011 kemudian ini. Saya yang sama sekali tidak mempunya background ekonomi dan termasuk orang yang kruang mengikuti secara mendalam mengenai krisis ekonomi global yang terjadi pada 2008 kemudian harus berusaha ekstra keras untuk bisa mengerti apa yang ditawarkan film ini secara keseluruhan. Bahkan akhir kemampuan berbahasa Inggris saya yang pas pasan saya hingga harus menunggu subtitle Bahasa Indonesia dari film ini keluar sebelum saya menontonnya.

Premis film ini yaitu mengenai bagaimana sebuah krisis ekonomi global tersebut sanggup terjadi. Secara keseluruhan film ini dibagi menjadi 4 serpihan besar yang kalau dijabarkan ialah proses awal yang menjadi penyebab krisis teresbut terjadi hingga bagaimana kondisi pasca krisis. Cukup banyak narasumber yang dihadirkan oleh sutradara Charles Ferguson disini. Sejauh yang saya tangkap narasumber tersebut tiba dari banyak sekali macam pihak yang menciptakan penonton bisa memahami krisis ini dari banyak sekali macam sudut pandang. Tapi untuk bisa memaknain hal itu sekali lagi saya membutuhkan perjuangan keras. Karena lebih banyak didominasi narasumber berbicara dengan memakai istilah-istilah ekonomi yang saya tidak mengerti. Beruntung Charles Ferguson masih "berbaik hati" menjelaskan bebera hal yang orang awam tidak akan paham.

Yang paling saya sukai dari "Inside Job" ialah pemilihan gambar yang sangat anggun dan lezat dilihat. Selain itu, gambar-gambar tersebut juga beberapa kali membantu saya mengerti mengenai topik yang sedang dibicarakan. Pujian juga patut disematkan pada Matt Damon yang menjadi narator film ini. Dia bisa menarasikan film ini dengan intonasi yang sempurna sehingga selain visual yang bagus, narasi Matt Damon juga menambah kenyamanan menonton. Selain itu beliau terlihat begitu menguasai bahan yang diberikan film ini sehingga beliau tidak terdenganr hanya membacakan narasi tetapi terdengar ibarat seorang pakar yang sedang menjelaskan pada penonton.

Kebingungan saya mulai cukup banyak menghilan sesudah film ini mencapai part 3 dimana serpihan itu menceritakan dikala krisis terjadi. Dimana saya benar-benar memahami kalau korupsi yang melanda Amerika Serikat selaku negara superpower itu ternyata sudah masuk kategori yang tidak mengecewakan parah. Dan diakhir film kita benar-benar akan ditunjukkan bahwa sebetulnya walaupun kondisi terlihat sudah membaik tetapi dibalik itu semua orang - orang yang bertanggung jawab diabalik krisis yang terjadi masih banyak yang hidup bebas. Dan mereka akan melaksanakan apa saja dan membayar berapapun untuk mencegah reformasi terjadi dimana apabila itu terjadi mereka tidak akan leluasa lagi dalam meraup uang haram sebanyak yang mereka mau. Namun setidaknya masih ada impian bagi masyarakat dunia untuk berjuang dalam hidup mereka ditengah kemisikinan sekalipun ibarat yang diaktakan Matt Damon diakhir film,  "Somethings are worth fighting for"

OVERALL: "Inisde Job" memperlihatkan beberapa pengetahuan gres yang bisa lebih banyak lagi andaikan film inidibuat lebih "bersahabat" bagi orang-orang awam.


RATING:

Thursday, January 31, 2019

Ini Lho Justin Bieber: Never Say Never (2011)

Justin Bieber dan Twilight punya kesamaan, yaitu keduanya sama-sama menerima kesuksesan global yang luar biasa, tapi disisi lain mereka juga menerima cemoohan yang tidak sedikit dari orang-orang khususnya kaum pria. Well, saya sendiri bukan golongan Twi-haters ataupun Bieber-haters. Untuk Justin Bieber saya malah menyukai lagu-lagunya yang saya akui asyik untuk didengar. Untuk kepribadian sang bintang sendiri saya tidak terlalu suka sesudah mendengar pemberitaan dari media massa yang memperlihatkan ia mulai melupakan asal-usulnya. Tapi toh itu pemberitaan media yang mungkin dilebih-lebihkan dan saya tetap tidak terejrumus menjadi pembenci Bieber.

Walaupun begitu saya tetap agak memandang sebelah mata film biopic-dokumenter dari Bieber ini. Okelah Bieber meraih popularitas yang fenomenal dalam waktu tidak hingga 2 tahun dan menggelar konser di 'Madison Square Garden' dan hebatnya tiket konser tersebut ludes hanya dalam 22 menit! Tapi untuk menciptakan sebuah biopic saya merasa ini menyerupai langkah aji mumpung biar filmnya laris. Apalagi film ini berformat 3D yang tentunya menciptakan tiketnya lebih mahal dan sudah dipastikan laku manis alasannya gadis-gadis fans Bieber apsti rela merogoh kocek dalam-dalam guna menyaksikan bintang kesayangan mereka di layar lebar. Tapi sekali lagi apakah pantas film biopic untuk Bieber mengingat musisi legendaris saja banyak yang belum punya biopic.
Film yang disutradarai oleh Jon Chu (Step Up 3D) ini menyuguhkan adonan antara wawancara dengan orang-orang terdekat Bieber, beberapa footagge masa kemudian Bieber, kehidupan Bieber disaat senggang tour, dan tentunya klip-klip konsernya yang digelar di MSG. Oya, film ini juga menampilkan histeria yang ditunjukkan fans-fans Bieber yang begitu antusias menyaksikan konser idolanya. Mudahnya, film ini menampilkan video-video dari semasa Bieber kecil dan mulai merekam video youtube-nya yang fenomenal itu hingga perlahan ia meniti karir menjadi megabintang dan puncaknya mengadakan konser di MSG. Terdengar biasa saja, tapi Jon Chu berhasil menggabungkan semua itu menjadi sebuah tontonan yang menarik.

Kita akan diajak untuk melihat bahwa sosok Bieber memang bukan hanya dewasa sok bintang yang menyebalkan tapi dasarnya ia memang punya talenta musik yang tidak main-main. Nampaknya film ini juga mengusung misi untuk menciptakan orang yang antipati terhadap Bieber lebih menghargainya dengan melihat bahwa ia memang pantas menjadi popstar alasannya bakatnya, dan saya akui itu berhasil pada saya. Saya cukup terkesan dan mengakui bocah itu memang berbakat. Sebenarnya film ini punya satu misi lagi yaitu menciptakan penontonnya terinspirasi untuk terus mengejar mimpinya tapi saya rasa misi itu tidak tersampaikan sedikitpun dan tertutup oleh kegemerlapan seorang Bieber yang menelan habis kesederhanaan yang harusnya muncul dalam sebuah biopic yang menegaskan bahwa sang bintang ialah "zero to hero". Untungnya dari segi pengetahuan film ini cukup banyak memberi informasi bagi orang yang bukan penggemar Bieber menyerupai saya mengenai awal karirnya.

Untuk segi hiburan, klip konser Bieber yang menampilkan dirinya menyanyikan lagu-lagu hits-nya memang saya akui sangatlah menghibur. Tata panggung yang gemerlap dan musik yang catchy memanjakan mata dan telinag saya sehingga pecahan performance Bieber ialah sebuah penyegar disaat saya sudah mulai bosan dengan sesi persiapan Bieber menuju konser yang bahkan lebih membosankan dari wawancaranya. Banyaknya bintang tamu macam Usher, Ludacris, hingga Miley Cyrus juga jadi hiburan tersendiri. Bagian menarik lainnya ialah melihat reaksi-reaksi gadis-gadis fans Bieber yang begitu histeris dan mengakibatkan kelucuan tersendiri. Setidaknya saya tidak membnci mereka menyerupai lelaki pada umumnya alasannya saya sendiri mengerti perasaan orang yang balasannya bisa menonton konser idolanya. Sungguh perasaan menyerupai itu tidak seharusnya diejek ataupun dikatakan ababil dan sebagainya. Satu keberhasilan film ini selain menghibur ialah menciptakan saya tidak lagi memperlihatkan cap negatif pada Bieber ataupun fansnya.

OVERALL: Bukan sebuah biopic yang bisa menginspirasi tapi sebuah hiburan yang menghibur mata dan pendengaran sekaligus bisa menyadarkans aya bahwa kebintangan Bieber bukanlah hal instant dan tidak sepantasnya ia dan para fansnya menerima begitu banyak cemoohan.

RATING:

Ini Lho The Arbor (2011)

Sebelum ini saya sama sekali belum pernah mendengar nama Andrea Dunbar. Ternyata Andrea Dunbar yaitu seorang penulis naskah pementasan teater dan film yang diakui kejeniusannya. Tapi kenapa namanya terasa asing? Ternyata Andrea Dunbar telah meninggal 21 tahun yang kemudian diusia yang relatif masih sangat muda, 29 tahun. Nah, pertanyaannya pokok bahasan apa yang sanggup diangkat dari perjalanan hidup Andrea yang tergolong singkat tersebut?  Nyatanya sutradara Clio Barnard memang punya cara tersendiri untuk merangkum film dokumenter sekaligus biografi ini.

Film ini mengisahkan mengenai kehidupan keluarga Andrea Dunbar yang didalamnya terdapat aneka macam konflik. Berbagai macam konflik yang terjadi disekitar kehidupannya itulah yang balasannya menginspirasi Andrea untuk menulis dongeng menurut kehidupannya tersebut. Andrea juga diceritakan bukan gadis yang baik-baik juga dimana beliau memiliki 3 anak yang berasal dari ayah yang berbeda-beda. Kehiupannya yang awut-awutan juga menciptakan ketiga anaknya tidak mengalami masa kecil yang senang hingga sang ibu meninggal dunia. Tapi buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya. Salah satu anak Andrea hasil hubungannya dengan laki-laki Pakistan, Lorraine juga memiliki kehidupan yang tidak jauh awut-awutan dari sang ibu.

Yang jadi keunikan sekaligus kelebihan utama film ini yaitu cara penyajiannya yang tidak menyerupai film dokumenter lainnya. Film ini disajikan menyerupai sebuah film drama dibandingkan dokumenter. Aktor dan aktris yang memerankan tokoh-tokoh konkret di film ini diharuskan melakukan lyp sync terhadap obrolan yang diucapkan oleh para narasumber yang suaranya direkam ketika wawancara. Hebatnya pemeran dan aktris yang bermain seakan terlihat tidak melaksanakan lyp sync. Mereka terlihat seolah menjadi orang orisinil yang mengalami kejadian-kejadian yang diceritakan dan seolah yaitu narasumber orisinil yang diwawancarai.
Seperti yang saya bilang, film ini dicampur juga dengan adegan dramatisasi yang begitu unik sehingga kita sanggup kembali melihat kurang lebih bagaimana kejadian yang terjadi seseungguhnya. Diparuh awal film bahkan terdapat penyajian yang menarik dimana kita diperlihatkan bagaimana background keluarga Andrea dalam sebuah panggung rekaan yang berlokasi disebuah taman, halaman dan lingkungan sekitar. Sebuah penggmabran unik yang sayangnya menghilang ketika film melewati bab tengah. Dengan segala keunikannya tersebut, "The Arbor" seolah punya potensi untuk menjadi film dokumenter terbaik yang pernah saya lihat. Tapi beberapa kekurangan menciptakan film ini berakhir hanya sebatas film yang biasa saja bagi saya.

Diawal hingga tengah, film ini masih menjadi film yang sangat manis dimata saya. Tapi semua itu pribadi berubah disaat fokus dongeng mulai bergeser dari kehidupan Andrea menjadi fokus pada putrinya, Lorraine yang punya permasalahan hidup yang tidak kalah pelik. Melencengnya fokus dongeng terang menjadi bukti bahwa film ini kesulitan dalam mengangkat kisah hidup Andrea Dunbar yang singkat sehingga ketika Andrea diceritakan telah meninggal mereka memaksakan merubah fokus cerita. Toh yang jadi fokus masih putrinya kan? begitu pikir mereka. Sayangnya saya justru kehilangan sisi menarik film ini. Apalagi adegan reka panggung yang jadi keunggulan utama film ini menghilang disaat film muali berfokus pada kehidupan Lorraine.

Saya akui kisah permasalahan Lorraine yang diangkat yaitu kisah pelik yang apabila diangkat dalam bentuk sinetron Indonesia niscaya akan hingga ribuan episode. Tapi dongeng yang pelik belum tentu menjadi menarik. Saya mencicipi dongeng yang diangkat makin membosankan saja seiring berjalannya durasi. Padahal film ini hanya berjalan 90 menit, tapi yang saya rasakan film ini berjalan 2 jam lebih akhir konflik kolam sinetron yang sangat membosankan. Apalagi huruf Lorraine sama sekali bukan huruf yang sanggup menarik simpati dan lebih condong untuk dibenci. Dengar saja bunyi yang beliau munculkan seolah tidak mengalami penyesalan atas segala hal yang beliau lakukan khususnya terhadap anaknya sendiri.

"The Arbor" tetaplah salah satu film dokumenter yang punya pengemasan paling baik, tapi ditinjau dari segi dongeng dan kisah yang ditampilkan bagi saya film ini kosong dan tidak penting. Sungguh, sebuah biopic yang mengangkat kisah hidup 2 perempuan yang hidupnya hancur dan tidak membaik sangatlah tidak menarik dan menyenangkan untuk diikuti. Jika film ini lebih fokus pada hidup Andrea (yang memang pendek dan sulit dikulik lebih jauh) niscaya hasilnya jauh lebih baik daripada kini yang hasilnya cenderung membosankan.

RATING:

Ini Lho Senna (2011)


Saya bukanlah penggemar olahraga Formula One atau F-1. Hal itu jugalah yang menciptakan saya tidak mengenal nama Ayrton Senna yang perjalanan hidup dan karirnya ditampilkan dalam film ini. Saya memang mengenal nama-nama pembalap generasi simpulan 2000an macam Michael Schumacher, Ruben Barichello, Lewis Hamilton, Fernando Alonso dan lain-lain. Tapi nama Ayrton Senna yang ngetop di simpulan 80an hingga awal 90an masih gila bagi saya. Saya sendiri sudah mendengar banyak review kasatmata terhadap film yang disutradarai oleh Asif Kapadia ini. Tapi sekali lagi alasannya ialah asingnya saya terhadap tema dan sosok yang diangkat serta genre film dokumenter yang terkadang susah dicerna menciptakan saya agak ragu film ini bisa memukau bagi saya.
Film ini terdiri dari banyak sekali macam footage yang mengatakan naik turunnya karir seorang Ayrton Senna. Mulai disaat beliau pertama meninggalkan Brazil menuju Eropa untuk berlomba Go-Kart ditahun 1984 hingga beliau berhasil menjadi salah satu pembalap F-1 terbaik sepanjang masa dengan berhasil menjadi 3 kali juara di ajang bergengsi tersebut. Film ini juga tidak lupa menyoroti persaingan Senna dengan Alain Prost yang merupakan rival abadinya dimana mereka dahulu sempat menjadi rekan setim sebelum bermusuhan dan saling membenci. Selain menyoroti kehidupan Senna, film ini juga tidak ketinggalan menyinggung tentang konspirasi yang sering terjadi dalam F-1 dimana unsur politik sering turut campur tangan dalam memilih hasil akhir. Senna sendiri sempat menjadi korban dari campur tangan tersebut.
Saya yang sama sekali belum mengenal Ayrton Senna pribadi mengakui kehebatannya sebagai pembalap sesudah menyaksikan film ini. Bagaimana Senna berulangkali memenangkan perlombaan dalam kondisi yang dramatis, tidak gampang dan bahkan pernah beliau menjadi juara dengan kontroversial. Senna diperlihatkan juga sebagai sosok yang dipuja-puja rakyat Brazil. Senna juga digambarkan sebagai pribadi yang baik, tapi film ini tidak menggambarkannya sebagai sosok yang sempurna. Adalah sebuah keberhasilan bagi sebuah dokumenter yang mengangkat kehidupan seseorang bila film tersebut bisa menciptakan penonton bersimpati dan mengakui orang itu memang mahir tanpa harus melebih-lebihkan dan menciptakan sosok yang diangkat bagaikan setengah tuhan yang sempurna.
Kelebihan lainnya yaitu bagaimana film ini bisa menyuguhkan kepada kita banyak sekali macam footage dari banyak sekali sudut pandang. Baik itu footage di diam-diam yang menampilkan meeting para pembalap sebelum pertandingan, banyak sekali macam wawancara yang dijawab tidak dengan “malu-malu” baik itu oleh Prost ataupun Senna, hingga footage dari dalam kokpit disaat Senna sedang melaju sangat cepat di lintasan. Film ini juga menyertakan sebuah rekaman dari dalam kokpit pada detik-detik terjadinya kecelakaan yang merenggut nyawa Ayrton Senna. Ending film ini sayangnya tidak terlalu emosional mengingat film ini memang tidak didramatisasi tapi cukuplah untuk dibilang menyentuh meningat saya sudah diajak mengelilingi kehidupan Senna selama lebih dari satu setengah jam dan menikmati berada disana.
Yang paling menciptakan film ini menarik bagi saya ialah alasannya ialah saya sama sekali tidak mengetahui banyak sekali hasil simpulan perlombaan yang dihadapi Senna. Hal itu menciptakan beberapa kali saya cukup terkejut dengan apa yang terjadi dalam perlombaan tersebut. Rasanya menyerupai sedang menonton film non-dokumenter dan disuguhi sebuah twist yang tidak saya kira sebelumnya. Singkatnya film ini bagaikan sebuah drama yang tidak hanya menghibur tapi juga cukup menegangkan dan menyentuh. Sungguh sebuah kehidupan singkat tapi penuh warna dari seorang legenda Formula One, Ayrton Senna.
RATING: 

Friday, January 18, 2019

Ini Lho Life In A Day (2011)

Sebuah film dokumenter yang aslinya terdiri dari 4.500 jam footage yang dikirim oleh 80.000 orang dari 192 negara lewat YouTube. Semua video tersebut terdiri dari aktivitas yang dilakukan oleh para pengirim video tersebut pada tanggal 24 Juli 2010. Dalam film yang diproduseri oleh Ridley Scott ini kita akan sanggup melihat segala aktivitas yang dilakukan oleh para pengirim video tersebut selama sehari pada tanggal tersebut mulai dari aktivitas biasa ibarat berdiri tidur, bekerja, berinteraksi dengan orang-orang lain dan sebagainya. Sebuah ilham yang saya ingat pernah diungkapkan oleh tokoh yang dimainkan Ethan Hawke di film "Before Sunrise". Tapi bukankah aktivitas sehari-hari insan akan membosankan untuk ditonton jikalau dibandingkan dengan keseharian hewan-hewan? Tapi ternyata tidak.

Berkat kode dari sutradara Kevin Macdonald dan editing yang dilakukan dengan begitu rapi dan jeli oleh Joe Walker, aktivitas keseharian yang tampil dalam film ini jadi begitu menarik bahkan menyentuh. Ada pernyataan dan rasa cinta, ada juga rasa takut, rindu, duka dan hal-hal lain yang dari kita sendiri sebagai penonton niscaya sudah pernah mengalaminya tiap hari. Yang menciptakan dokumenter ini begitu bersahabat dengan penonton yakni alasannya yakni semua emosi dan perasaan yang ada muncul alasannya yakni banyak sekali insiden yang sudah biasa terjadi dalam keseharian manusia. Rasa cinta yang muncul disaat berinteraksi dengan orang-orang terdekat, rasa duka alasannya yakni tidak sanggup bertemu dengan mereka yang berharga dan lain-lain.
Untuk menggambarkan keseluruhan "Life in a Day" dalam sebuah review ini jelaslah sangat mustahil alasannya yakni begitu banyaknya hal yang disuguhkan. Hal ini seolah makin menegaskan bahwa hidup itu penuh warna walaupun hanya sehari saja. Bahkan aktivitas sederhana ibarat mencukur kumis untuk pertama kali saja sanggup jadi sebuah tontonan menarik disini. Karena intinya hidup juga sudah merupakan hal yang luar biasa sesederhana apapun hidup yang kita jalani, begitu kira-kira yang saya rasakan sehabis menonton film ini. Selain banyak sekali dongeng yang menarik, film ini juga mempunyai editing yang luar biasa, bayangkan saja ribuan video dengan durasi ribuan jam penuh dirangkum hanya menjadi 95 menit yang terdiri dari banyak sekali gambar-gaSelain itu musiknya juga sangat membantu membangun suasana dari banyak sekali emosi entah itu musik dari score ataupun yang muncul secara alamiah dari video-video tersebut.
Tapi disisi lain saya juga berpikir apakah segala rangkaian insiden dalam keseharian kita ini yakni kepingan-kepingan puzzle yang harus dikumpulkan menjadi satu kesatuan dalam hidup kita ataukah hanya sebuah potongan yang akan terlewatkan dan kemduain terlupakan begitu saja berganti dengan hari-hari lainnya yang akan kita hadapi?  Pada karenanya saya sendiri lebih suka menganggap bahwa hari-hari yang kita jalani dalam hidup yakni bab yang selalu Istimewa dan punya keunikan tersendiri meskipun kita sendiri merasa hidup kita biasa saja, tapi bahwasanya sekali lagi kehidupan dan menjalani hari yakni sudah menajdi hal yang luar biasa apapun yang terjadi.

Saya pernah membaca goresan pena yang menyampaikan film ini tidak mempunyai poin dan tidak mempunyai goal ataupun konklusi. Saya sendiri tidak oke dengan pendapat tersebut alasannya yakni poin dari film ini bagi saya justru sangat dalam yakin bagaimana berwarnanya hidup yang dijalani oleh insan meskipun kita sendiri yang menjalaninya seringkali tidak menyadari bahwa hidup kita ini tiap harinya penuh warna dan campur aduk emosi yang amat spesial. Lalu apakah konklusi dari film ini? Tergantung sudut pandang tiap orang yang menontonnya tapi bagi saya konklusi dari film ini bahwa hidup kita itu indah bersama siapapun kita menjalaninya, apapun yang kita lakukan dalam hidup, jikalau kita rasakan sungguh-sungguh mempunyai keindahan tersendiri. Yang kita saksikan dalam film ini hanya potongan sehari saja dari total puluhan ribu hari dalam hidup tiap insan dan sudah terasa indah. Hidup memang indah.

RATING: