Showing posts sorted by relevance for query 21-jump-street-2012. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query 21-jump-street-2012. Sort by date Show all posts

Wednesday, January 16, 2019

Ini Lho 21 Jump Street (2012)

21 Jump Street awalnya ialah sebuah serial televisi yang tayang pada 1987-1991. Serial tersebut jugalah yang menciptakan nama Johnny Depp dikenal publik. Berhubung dikala serial tersebut tayang sama belum lahir, maka dalam menonton film ini tidak ada sedikitpun perasaan nostalgia dan hanya ada cita-cita menerima tontonan komedi yang menghibur. Saya sendiri jarang dikecewakan oleh film-film yang berbasis serial televisi. Mulai dari Mission:Impossible hingga The A-Team yang meski menerima jawaban buruk dari para kritikus tapi saya amat menyukai banyak sekali kegilaan didalamnya. Jajaran cast dalam film ini gotong royong antara menjanjikan dan meragukan. Jonah Hill sedang dalam puncak karir sehabis menerima nominasi Oscar. Tapi saya sendiri kurang begitu suka dengan beberapa film komedinya. Sedangkan Channing Tatum meski tahun kemudian film-filmnya mengecewakan, tapi tugas komedinya di The Dilemma cukup menjanjikan. Selain itu, performanya di Haywire juga sedikit memperlihatkan potensinya.

Kita akan diperkenalkan dengan dua murid Sekolah Menengan Atas yang amat bertolak belakang. Morton Schmidt (Jonah Hill) ialah seorang pecundang dengan dandanan ibarat Eminem yang selalu diledek di sekolah dan menerima penolakan dikala mengajak seorang gadis tiba ke Prom. Sedangkan Greg Jenko (Channing Tatum) ialah siswa yang terkenal dan tentunya punya prestasi yang amat buruk, sehingga tidak diperbolehkan ikut Prom. Tujuh tahun kemudian keduanya kembali bertemu dikala sedang mengikuti tes masuk kepolisian. Saat itu keduanya justru saling membantu dimana Schmidt yang punya kekurangan untuk ujian fisik dibantu oleh Jenko, dan sebaliknya Jenko yang lemah dalam ujian teori menerima dukungan dari Schmidt. Bisa ditebak keduanya berhasil diterima dan sekarang menjadi teman dekat. Karir mereka di kepolisian biasa-biasa saja bahkan mengecewakan hingga tiba saatnya mereka dimasukkan dalam unit penyamaran berjulukan Jump Street dimana mereka harus menyamar sebagai siswa Sekolah Menengan Atas untuk mengungkap jalur penyebaran narkoba.
21 Jump Street dipenuhi kata-kata bergairah dan dagelan jorok yang keluar dari verbal tokoh-tokohnya. Biasanya saya tidak menyukai komedi macam itu. Bahkan saya sendiri ialah orang yang sulit dibentuk tertawa oleh film komedi kecuali komedi Warkop DKI, tapi ternyata berkat momen komedi yang tepat, 21 Jump Street berhasil menciptakan saya tertawa terbahak-bahak. 21 Jump Street ialah salah satu komedi paling lucu yang pernah saya tonton. Lontaran humor jorok yang ada hampir selalu sempurna sasaran. Lelucon yang mengarah ke rasis juga tidak berkesan melecehkan tapi terlihat sebagai sekedar guyonan yang selalu lucu. Masih ditambah dengan momen kelucuan yang ditimbulkan dikala duo Schmidt-Jenko terpaksa menggunakan narkoba berjulukan HFS yang menciptakan mereka teler dan melaksanakan banyak sekali kegilaan yang benar-benar maksimal lucunya. Momen komedi yang hampir selalu berhasil inilah yang menciptakan saya terlena dan pada hasilnya kehilangan sensitifitas dalam menebak jalan dongeng yang berujung pada saya dibentuk tidak mengecewakan terkejut pada twist di final film yang gotong royong biasa saja.
Duo Hill-Tatum juga menjadi salah satu kekuatan utama film ini. Dua sosok bertolak belakang itu bisa bersatu menjadi teman tanpa terasa dipaksakan. Unsur bromance yang berpengaruh benar-benar terasa dari keduanya. Keduanya begitu menyatu dalam saling melontarkan dagelan atau bahkan dikala harus memainkan adegan drama. Termasuk disaat terjadi momen ironis dalam masa penyamaran mereka dimana Jenko dan Schmidt seolah bertukar nasib dengan masa dikala mereka Sekolah Menengan Atas dulu. Tidak terlalu mengejutkan bagi seorang Jonah Hill yang disini tidak terlalu menonjolkan ekspresi datar andalannya tapi lebih kearah ekspresi konyol. Yang mengejutkan justru dari Channing Tatum. Saya memang mengakui beliau punya potensi, tapi saya tidak mengira beliau bisa jadi selucu dan segila di film ini. Saat adegan beliau dalam imbas HFS, Tatum saya rasa benar-benar asing dan hal itu diluar dugaan. Porsi dramanya juga bisa beliau lakukan dengan cukup baik. Ya, sekarang saya yakin bahwa Channing Tatum memang punya pesona dan potensi yang cukup besar. 

Sebelum menonton, saya sudah terlebih dahulu mengecek halaman wikipedia dan menemukan fakta bahwa akan ada cameo Johnny Depp sebagai Tom Hanson yang notabene ialah tokoh utama serial televisinya. Saya sudah mengantisipasi banyak sekali kemungkinan munculnya Depp, tapi ternyata beliau muncul dalam momen yang tidak terduga. Momen yang mengejutkan, lucu dengan balutan sedikit komedi hitam, dan mungkin akan mengharukan bagi para pecinta serial televisinya dulu. Pada hasilnya 21 Jump Street lebih dari sekedar memuaskan tapi salah satu film terbaik tahun ini. Penuh dagelan jorok dan cendekia balig cukup akal yang amat lucu, momen pemakaian narkoba yang mengundang tawa, dan salah satu dagelan favorit saya ialah mengenai "Korean Jesus". Channing Tatum dan Jonah Hill pada hasilnya bisa memperlihatkan suguhan yang luar biasa menyenangkan ini. Luar biasa!


Thursday, January 10, 2019

Ini Lho 22 Jump Street (2014)

Saya bahkan mungkin sebagian besar orang tidak akan mengira bahwa 21 Jump Street (review) akan berhasil meraih kesuksesan baik secara kualitas maupun komersil. Diluar dugaan film yang berasal dari sebuah serial televisi berjudul sama yang melambungkan nama Johnny Depp tersebut berhasil menunjukkan sajian komedi penuh kegilaan lengkap dengan unsur buddy cop yang kuar berkat duet Channing Tatum-Jonah Hill. Dengan bujet hanya $42 juta, film tersebut berhasil meraih kesuksesan besar dikala berhasil meraup pendapatan lebih dari $200 juta di seluruh dunia. Film itu juga termasuk dalam 20 film favorit saya pada tahun 2012 kemudian (list). Memang 21 Jump Street adalah kejutan yang menyenangkan, sama mengejutkan dan sama menyenangkannya dengan cameo dari Johnny Depp pada titik puncak filmnya. Tentu saja berkat kesuksesan tersebut sekuel yang memang sudah direncanakan bahkan sebelum film pertamanya rilis semakin mendapat lampu hijau untuk dikerjakan. 22 Jump Street dengan bujet yang lebih besar ($65 juta) masih diisi nama-nama yang jadi kunci sukses film pertamanya mulai dari sutradara, penulis naskah, hingga tentu saja dynamic duo Tatum-Hill, semuanya kembali lagi. Tidak hanya timnya saja yang sama, dongeng dan inti filmnya pun sama dengan film pertama, sesuatu yang disadari bahkan dijadikan materi banyolan oleh film ini.

Seperti yang terlihat dalam ending film pertamanya, kali ini Schmidt (Jonah Hill) dan Jenko (Channing Tatum) akan kembali melaksanakan misi penyamaran, bedanya sasaran sasaran mereka bukanlah lingkungan Sekolah Menengan Atas melainkan perkuliahan. Misi yang diemban keduanya pun sama, yaitu mencari pengedar sebuah narkoba berjulukan WHYPHY yang telah menewaskan seorang mahasiswi. Sama juga ibarat film pertamanya, Schmidt dan Jenko harus menghadapi banyak duduk kasus ibarat kebodohan mereka hingga perpecahan yang terjadi dalam persahabatan keduanya. Jenko merasa menemukan dunia yang beliau idam-idamkan dikala menjadi andalan dalam tim american football di kampusnya dan menemukan sobat gres berjulukan Zook (Wyatt Russell). Dia pun meninggalkan Schmidt yang dianggapnya terus menahan Jenko untuk mendapat hidup yang lebih baik. Disisi lain Schmidt yang kesepian mulai tertarik pada seorang perempuan berjulukan Maya (Amber Stevens). Terasa familiar? Tentu saja alasannya yaitu sebetulnya dongeng ini yaitu pengulangan dari film pertamanya dengan sedikit perombakan yang tidak siginifikan ibarat perubahan kecil judulnya hingga mengganti Korean Jesus dengan Vietnamese Jesus. Tapi 22 Jump Street bukanlah The Hangover Part II yang menutup mata akan persamaan dengan prekuelnya. Film ini menyadari betul hal tersebut dan malah menyebabkan semua itu materi lelucon.
Lelucon perihal hal itu bahkan sudah nampak sedari awal dikala terjadi pembicaraan antara Jenko dan Schmidt dengan Deputy Chief Hardy (Nick Offerman). Dalam adegan tersebut obrolan dari sang Deputy Chief banyak menyinggung soal kesuksesan reboot film pertamanya yang tidak terduga hingga kesulitan-kesulitan yang dihadapi untuk menciptakan sekuelnya mulai dari inspirasi dongeng yang gres atau pengulangan, hingga bujet lebih besar yang digelontorkan. Sepanjang film akan ada banyak lagi meta joke (lelucon yang mereferensikan perihal sesuatu tapi dikemas biar tidak terlihat terlalu menjurus akan hal itu) bermunculan. Lelucon-lelucon semacam itulah yang menciptakan saya bisa memaafkan aneka macam pengulangan-pengulangan yang ada, toh film ini sadar akan hal itu bahkan menjadikannya sebagai sebuah banyolan yang lucu. Tidak hanya perihal filmnya sendiri, akan banyak lagi meta joke lain yang mungkin akan anda lewatkan kalau kehilangan fokus sedikit saja terhadap dialog-dialog yang dilontarkan para karakternya. Memang ini berisiko, alasannya yaitu tidak semua penonton tentu saja menangkap banyolan tersembunyi tersebut dan bagi mereka yang tidak mengerit, maka obrolan yang hadir tidak lebih dari sekedar selingan belaka. Bagian credit-scene di simpulan film juga menjadi banyolan paling menarik yang menggambarkan bakal ibarat apa franchise ini kalau terus diberikan sekuel tanpa penah selesai.

22 Jump Street tentu saja masih akan menunjukkan banyak humor berangasan dan jorok. Kegilaan menjadi sesuatu yang jamak terjadi dalam momen komedinya. Layaknya orang yang sedang teler oleh obat-obatan, komedi dalam film ini tidak akan malu-malu apalagi setengah-setengah. Semuanya hadir dalam taraf kegilaan tingkat maksimum tapi masih memperhatikan timing, sesuatu yang kadang tidak diperhatikan oleh film-film komedi sinting lain yang terus menerus menggeber leluconnya. Tapi disinilah dampak negatif dari pengulangannya mulai terasa. Sebagus apapun timing sebuah banyolan kalau kita pernah mendengar atau melihat banyolan itu sebelumnya kadar kelucuan dan tawa yang dihasilkan tidak akan semaksimal dikala pertama kali. Masih terasa lucu tapi tidak semaksimal yang pertama. Saya ambil teladan adegan dikala Jenko dan Schmidt teler. Adegan tersebut yaitu pemancing tawa terbesar di film pertamanya yang mampu menciptakan tawa saya tidak kunjung berhenti selain banyolan perihal Korean Jesus. Dalam sekuelnya, mereka berdua kembali teler dalam sebuah sequence yang tidak kalah abnormal dan sureal. Masih terasa lucu apalagi melihat Tatum menggila dalam adegan tersebut, tapi tetap saja efek yang dihasilkan tidaklah sesegar film pertamanya. Tapi jangan khawatir alasannya yaitu secara keseluruhan leluconnya masih tetap lucu dan mampu menunjukkan efek lebih dari sekedar senyum simpul.
Chemistry yang hadir antara Jonah Hill dan Channing Tatum pun semakin besar lengan berkuasa disini. Keduanya mampu menghadirkan sebuah bromance yang menarik sambil sesekali dipelintir jadi menjurus kearah romance. Jonah Hill tentu saja masih lucu, tapi sama ibarat film pertamanya, bintang utama dalam sekuel ini tetaplah Channing Tatum. Selalu menyenangkan melihat pemain drama dengan fisik menjual dan mendefinisikan apa itu istilah "cool" ibarat Tatum bisa menggila dalam sebuah film komedi. Tapi tidak hanya itu, Tatum menghadirkan hampir semua potensi yang ia miliki disini. Dia terlihat ibarat orang sinting demi komedinya, tapi ia juga bisa menjadi tough guy ala film-film aksi. Porsi drama terang minim tapi ia menunjukkan performa yang cukup baik dikala filmnya sedikit menjurus kearah sana. Andai saja ada adegan yang menampilkan Tatum menari ibarat di Step-Up makin lengkaplah penampilan sang aktor. Konfik yang hadir diantara Jenko dan Schmidt memang sama dengan film pertamanya dan saya tidak bisa tidak mencicipi bahwa semua ini sudah pernah hadir sebelumnya, tapi toh penampilan hebat plus chemistry kuat Tatum-Hill menciptakan kisah bromance-nya tidak hingga terasa basi. 

Salah satu kekurangan lagi dari 22 Jump Street adalah klimaksnya. Cukup menghibur tapi bukanlah sebuah rentetan adegan agresi yang spektakuler. Dibandingkan film pertamanya tentu saja apa yang muncul disini masih kalah apalagi dalam titik puncak 21 Jump Street ada kejutan berupa kemunculan plus simpulan hidup mendadak Johnny Depp. Tensinya memang menurun dan ironisnya terjadi pada momen titik puncak Untungnya credit-scene yang hadir sukses memecah tawa lagi dan menutup film ini dengan begitu memuaskan. Tidak bisa dihindari, aneka macam pengulangannya memang sedikit mengurangi keasyikan, tapi ini yaitu cara paling kondusif untuk menghadirkan sekuel yang memuaskan, toh banyak kelebihan di film pertamanya berhasil dipertahankan disini. Daripada mengambil jalan berbeda tapi malah jadi tidak maksimal, memang terkadang lebih baik mengulangi apa yang dipunya prekuelnya tapi dengan tetap menyadari semua itu. Tapi tetap saja bagi saya lebih baik tidak ada 23 Jump Street kecuali para pembuatnya punya cara yang jenius untuk menciptakan sekuel tersebut tidak terasa basi. Karena meta jokes dan chemistry Tatum-Hill saya rasa tidak akan menyelamatkan film ini untuk kali kedua, apalagi kalau hingga benar-benar ada 2121 Jump Street yang menampilkan Schmidt dan Jenko keluar angkasa.

Tuesday, January 15, 2019

Ini Lho Best Of 2012 (So Far)

Tahun 2012 sudah melewati paruh pertama dan kali ini saya akan menampilkan 10 plus 5 film yang saya anggap yaitu yang terbaik versi saya dalam paruh pertama tahun ini. Kenapa saya katakan sebagai "10 plus 5" alasannya yaitu nantinya hanya akan ada 10 film yang masuk daftar best of 2012 dan lima film lainnya masuk sebagai honorable mentions. Untuk film-film yang masuk daftar ini tidak semuanya punya daftar rilis perdana di 2012. Ada beberapa film yang rilis pada 2011 namun hanya rilis secara terbatas dan gres dirilis luas pada 2012 atau gres masuk ke Indonesia pada tahun 2012. Yang perlu saya tegaskan yaitu daftar ini murni subjektif menurut opini dan selera saya, bukan disusun menurut aspek-aspek yang biasa digunakan kritikus profesional, jadi tentunya perbedaan selera akan jadi faktor penentu. Ini beliau 15 film terbaik versi saya untuk paruh pertama 2012 yang DISUSUN URUT ABJAD (klik gambar untuk membaca review :



21 JUMP STREET
Sebuah komedi yang jadi salah satu kejutan terbesar bagi saya di tahun ini. Menampilkan banyak humor-humor vulgar yang jorok yang biasanya bukan merupakan selera saya, film ini justru bisa tampil luar biasa lucu dan bagi saya yaitu salah satu komedi terlucu tidak hanya di tahun ini tapi sepanjang masa. Faktor timing yang selalu pas yaitu kekuatan utama humornya. Belum lagi ditambah duo Tatum-Hill yang begitu kompak dan cameo mengejutkan dari Johnny Depp. Menampilkan begitu banyak adegan yang menciptakan ngakak tapi adegan ketika karakternya menggunakan obat HFS yaitu yang terlucu meski sudah ditonton berulang-ulang.

 BRAVE
Akhirnya Pixar bisa membayar kegagalan Cars 2 dari segi kualitas lewat kisah fairy tale pertama yang menampilkan tokoh utama perempuan pertama yang dipunya film produksi Pixar. Dibuka dengan film pendek La Luna yang indah dan menyentuh, sajian utamanya ternyata juga tidak kalah indah dan menyentuh. Meski kisahnya tidak sehebat masterpiece Pixar lainnya tapi tetap saja korelasi ibu-anak di film ini begitu menyentuh. Belum lagi visualnya yang indah dan karakternya yang gampang disukai. Sedikit underrated saya rasa tapi ini yaitu bukti bahwa Pixar belum habis.

CARNAGE
Sebuah penyesuaian naskah teater yang dilakukan oleh Roman Polanski dan mempertemukan empat pemeran andal yaitu Jodie Foster, John C. Reilly, Kate Winslet dan Christoph Waltz ternyata yaitu sebuah film berbobot yang menghibur. Tidak kelam dan seram menyerupai karya khas Polanski, tapi Carnage punya kekuatan pada dialognya yang tajam dan akting para aktornya yang luar biasa. Sebuah komedi satir perihal dua pasang orang renta yang masing-masing menggunakan topeng kehidupannya yaitu sebuah sajian yang lucu namun berisi. Adegan Kate Winslet muntah yaitu yang paling memorable sekaligus paling lucu.

HUGO
Martin Scorsese menciptakan film 3D pertamanya dan memperlihatkan pada para sineas apa kegunaan format 3 Dimensi sejatinya selain hanya untuk mengumbar imbas visual dan menambah pendapatan film. Pemandanganpemandangan indah tersaji dalam film ini dibalut 3D yang mengesankan serta penampilan andal dari Sacha Baron Cohen. Tapi Scorsese juga tidak lupa akan jalinan ceritanya yang merupakan homage atas kecintaan sang sutradara pada media film itu sendiri. Sebuah perjalanan yang terasa magis dan indah.

 LOVELY MAN
Film Indonesia terbaik di 2012 sejauh ini. Formatnya mudah dengan hanya menampilkan dua tokoh utamanya saling mengobrol sepanjang film. Tapi dibalik kesederhanaan tersebut ada makna mendalam perihal aneka macam macam sisi kehidupan masing-masing tokohnya. Dialognya berbobot tapi tidak berat sehingga menarik dalam pemaparan konfliknya. Kemudian akting memikat Donny Damara dan Raihaanun yang juga bisa menjalin chemistry begitu baik yaitu salah satu senjata utamanya. Simpel, sederhana, indah dan menyentuh.

  MY WEEK WITH MARILYN
Plotnya tidak terlalu istimewa, hanya saja mengulik sisi lain Marilyn Monroe yang jatuh cinta dengan orang biasa dan menjalin affair yaitu hal yang menarik diikuti, apalagi saya belum pernah mendengar kisah tersebut. Bagi anda yang pernah membayangkan menjalin korelasi dengan idola anda niscaya begitu menyukai film ini alasannya yaitu korelasi yang dibangun memang menyenangkan. Tapi yang terbaik tetaplah akting Michelle Williams.

  PROMETHEUS
Jika film-film Alien lebih mengambil pendekatan dari sisi action ataupun horror untuk dipadukan dengan sci-fi, maka prekuel Alien ini justru mengambil tema yang lebih berat dan mendalam yaitu mengenai religius. Berbagai pertanyaan menyerupai "siapa pencipta manusia?" sampai "kenapa kita diciptakan?" terus muncul sampai filmnya berakhir. Tapi Ridley Scott tidak lupa menyajikan adegan yang menegangkan dan seru sehingga penonton tidak terus dipusingkan dengan aneka macam pertanyaan tersebut. Jangan tanyakan pula visual efeknya yang luar biasa indah. Meski menyisakan banyak pertanyaan saya tidak keberatan menantikan sekuelnya. 

  SHAME
Penampilan berani Michael Fassbender berhasil ditandingi juga dengan kecemerlangan oleh Carey Mulligan dalam drama perihal maniak seks yang begitu dalam menelusuri masalah dan kegundahan hati tokoh utamanya. Tampil dengan suasana yang suramdan cukup menciptakan miris. Saya selalu suka sebuah film yang bisa menelusuri hal-hal menyerupai kegelisahan dan perasaan serta emosi karakternya. Yang terang Fassbender pantas mendapat noninasi Oscar disini.

 THE ARTIST
Pemenang Best Picture Oscar tahun ini yaitu sebuah eksperimental yang berhasil dengan baik. Membawa kita kembali ke jaman film bisu, bekerjsama film ini punya plot yang tidak terlalu Istimewa tapi pengemasannya itulah yang bisa menciptakan film ini begitu berkesan. Meski menyoroti kisah turunnya pamor seorang bintang, tapi The Artist yaitu sebuah film yang bisa memperlihatkan kesan feel good luar biasa sehabis menontonnya. Apalagi adegan terakhir yang menyajikan sebuah tap dance indah nan menyenangkan dari Jean Dujardin dan Berenice Bejo. 

 THE AVENGERS
Penantian selama sekitar empat tahun yang terbayar lunas baik bagi pecinta komiknya ataupun yang bukan. Keraguan mengenai porsi tiap-tiap karakternya bisa ditepis dengan memperlihatkan masing-masing superhero porsi dan momen yang sama besar meski harus diakui Robert Downey Jr. dan Mark Rufallo yaitu pencuri perhatian terbesar di parade pahlawan Marvel ini. Adegan agresi yang memukai, komedi yang lucu dan penempatannya pas, visual yang memukau, akting yang pas menciptakan The Avengers menjadi formula film ekspresi dominan panas yang nyaris sempurna.

  THE DESCENDANTS
Keindahan Hawaii yang begitu maksimal baik dari lokasi maupun musiknya ditambah dengan kisahnya yang mengalir sederhana tapi mengena yaitu salah satu kekuatan utama film ini. Jangan lupakan juga penampilan Clooney dan Woodley yang begitu andal termasuk untuk mengambil simpati penonton. George Clooeny at his best?

 THE HUNGER GAMES
Salah satu kejutan juga di tahun ini. Berharap mendapat sebuah hiburan yang seru yang saya dapatkan justru lebih dari itu. Seru sudah pasti, tapi ternyata ketegangan juga begitu terasa dan kisahnya begitu intens. Tidak hanya agresi film ini juga punya sisi drama yang cukup mengena dimana kisah cinta segitinya tidak terlalu dilebih-lebihkan tapi sudah cukup untuk menciptakan penonton ingin tau akan bagaimana kisahnya berujung. Jennifer Lawrence mengambarkan bahwa beliau yaitu pilihan tepat sebagai Katniss disini.

  THE GIRL WITH THE DRAGON TATTOO
Sebuah remake yang bekerjsama tidak perlu namun bukan berarti tidak anggun juga. Polesan Fincher justru bisa menciptakan versi Hollywood ini bagi saya lebih baik daripada versi aslinya. Misterinya tetap menarik diikuti tapi disuguhkan dengan sedemikian rupa sampai lebih gampang dimengerti. Rooney Mara juga anggun sebagai Lisbeth dan tidak terlihat mencoba meng-copy Lisbeth versi Rapace. Seperti biasa karya Fincher ini juga didukung sinematografi juara dan membangun nuansa kelam dengan baik. Salah satu opening credit terbaik tahun inipun muncul disini.

  TYRANNOSAUR
Diluar dugaan justru film British ini yaitu salah satu drama terbaik tahun ini. Menelusuri sisi emosi, perasaan dan masalah tokoh-tokohnya dengan begitu menarik dan mendalam, Tyrannosaur juga sukses memperlihatkan kesan mendalam luar biasa bagi saya. Apalagi para pemainnya tampil begitu apik mendeskripsikan gejolak batin yang tengah dialami aksara mereka.

YOUNG ADULT  
Sebuah drama komedi yang begitu efektif menceritakan kisah didalamnya. Faktor realistisnya kisah dan aksara dalam film ini bekerjsama jadi faktor kuat. Jason Reitman sekali lagi bisa bertutur dengan sederhana namun tak terasa menciptakan penonton terbawa dalam ceritanya. Tentu saja Charlize Theron yang bermain andal disini jado faktor kunci.

Ini Lho Magic Mike (2012)

Bintang keberuntungan nampaknya sedang bersinar terperinci pada Channing Tatum. Semenjak Step Up yang dirilis tahun 2006 lalu, nama Tatum memang mulai menanjak sebagai pemain drama tampan yang digemari banyak wanita. Dia mulai muncul dalam film besar macam G.I. Joe: The Rise of Cobra hingga Dear John, sebuah drama tearjerker dari novel Nicholas Sparks yang bisa menggeser Avatar dari puncak Box Office. Tapi gres di tahun 2012 ini popularitas Tatum mencapai puncaknya. Membintangi total empat film, semuanya mendapat hasil yang memuaskan. The Vow berhasil mendapat pemasukkan hampir $200 Juta. Meskipun pendapat kritikus perihal film ini tidak terlalu baik, tapi kebanyakan memuji akting Tatum dan chemistry yang ia tampilkan bersama Rachel McAdams. Saya sendiri cukup menyukai drama romantis tersebut. 21 Jump Street malah lebih hebat lagi dengan meraih pendapatan diatas $200 Juta dan disebut sebagai salah satu komedi terbaik tahun ini. Kolaborasi pertama Tatum dengan Soderbergh lewat Haywire memang tidak terlalu sukses di pasaran, tapi kualitas film dan akting Tatum kembali mendapat pujian. Barulah pada kerja sama kedua mereka ini kesuksesan mencapai puncaknya. Pendapatan 20 kali lipat dari bujetnya yang hanya $7 Juta dan dan masuk beberapa daftar film terbaik 2012.

Magic Mike sendiri dibentuk menurut kisah hidup Tatum sebelum ia menjadi pemain drama Hollywood. Pada dikala usianya gres menginjak 18 tahun, Tatum pernah bekerja sebagai stripper di Tampa, Florida. Dalam film ini, Tatum berperan sebagai Mike yang merupakan stripper andalan di Xquisite Strip Club milik Dallas (Matthew McConaughey). Dalam kesehariannya, Mike tidak hanya bekerja sebagai stripper. Di siang hari ia bekerja disebuah daerah konstruksi dan punya mimpi untuk membuka perjuangan custom furniture. Suatu hari di daerah konstruksi, Mike bertemu dengan pemudian berusia 19 tahun, Adam (Alex Pettyfer). Tidak butuh usang bagi keduanya untuk bersahabat, dan pada kesannya Mike mengatakan sebagai stripper pada Adam. Awalnya Adam sama sekali tidak berkeinginan menjadi stripper, tapi alasannya yaitu hutang kecerdikan pada Mike dan impian untuk mendapat uang yang banyak, Adam kesannya bersedia. Tidak butuh waktu usang bagi Adam yang dikenal dengan sebutan The Kid untuk menjadi bintang gres dalam klub tersebut. Mike sendiri terus menjaga Adam, sebagai bentuk janjinya kepada Brooke (Cody Horn), abang dari Adam yang juga perlahan meninggalkan kesan lebih pada Mike.

Sebagai sebuah film yang menggambarkan kehidupan para stripper, Magic Mike termasuk berhasil dalam mengatakan citra perihal kehidupan dalam dunia klub stripper pada penontonnya. Kita akan melihat bagaimana para penari itu mendapat uang, dan bagi yang belum pernah berkunjung ke klub strip khususnya klub strip pria, maka Magic Mike juga akan menunjukkan bagaimana pertunjukkan yang berlangsung didalam. Layaknya sebuah film porno yang punya dongeng sebagai sampul sebelum hingga pada "babak utama", begitu juga dengan strip dance yang awalnya akan mengatakan sedikit dongeng dengan tema tertentu pada penontonnya semisal Tarzan dan lain-lain sebelum masuk pada pertunjukkan utama yang menunjukkan para laki-laki menarikan gerakan sensual dengan nyaris telanjang. Momen pertunjukannya sendiri dihukum dengan sangat baik. Campuran aneka macam konsep tarian yang menarik, kostum unik, koreografi tarian yang anggun dan selipan komedi menjadikan pertunjukkan tersebut bisa begitu menghibur bagi penonton filmnya. Khusus untuk para penonton wanita, tubuh seksi Channing Tatum, McConaughey dan Alex Pettyfer akan menjadi bonus yang luar biasa. Magic Mike yaitu sebuah paket yang memuaskan bagi penonton yang ingin tahu kehidupan para stripper diatas panggung.
Tapi lain dongeng kalau bicara soal kehidupan mereka diluar panggung. Saya tidak mencicipi sebuah kisah yang cukup berpengaruh untuk menciptakan penontonnya tersentuh akan kehidupan para penari ini diluar panggung. Kita masih akan disuguhi kisah Mike yang awalnya yaitu bintang namun mulai mencicipi ketidak bahagiaan dalam pekerjaannya. Ada juga Adam yang awalnya bukan siapa-siapa kemudian berubah menjadi menjadi bintang panggung dan terlena dalam kehidupan tersebut. Namun segala konflik itu masih belum cukup berpengaruh untuk mengikat para penontonnya.  Magic Mike sendiri berjalan dengan suasana yang ceria pada awalnya sebelum mulai bertambah gelap menjelang akhir, tapi tetap saja meski suasananya bertambah gelap kisah para penari diluar panggung masih kurang mendalam. Akan lebih menarik lagi kalau pergolakan perasaan para penari mengenai pekerjaannya tersebut lebih dieksplorasi lagi. Pada kesannya hal itu akan mengakibatkan pertanyaan apakah memang seorang stripper yaitu pekerjaan yang memang layak dan bisa diandalkan atau tidak? Saya ambil pola sebuah film yang mengangkat pekerjaan pelacur kemudian menyoroti secara mendalam seluk beluk sang aksara dengan pekerjaannya, sehingga menciptakan penonton bersimpati dan memaklumi bahkan tidak lagi memandang remeh pekerjaan melacur. Hal menyerupai itu yang tidak aku temukan di Magic Mike. Setidaknya film ini mengatakan sedikit statement bahwa laki-laki yang menari striptease bukan berarti beliau gay.

Bicara soal akting pemainnya, Magic Mike sangat ditunjang oleh penampilan baik aktor-aktornya. Alex Pettyfer tidaklah buruk. Jelas bukan sebuah performa yang sangat anggun namun lebih dari cukup untuk bisa dinikmati. Channing Tatum masih seorang leading man yang gampang disukai. Baik dikala menari atau dikala harus berakting drama ia selalu anggun meskipun bila harus menentukan aku tetap merasa penampilannya dikala menari masih jauh lebih bagus. Tapi yang paling anggun tentu saja Matthew McCounaghey yang untuk kesekian kalinya kembali tampil topless dalam film. Dallas yang ia mainkan yaitu sosok berkharisma, penuh ambisi, banyak bicara dan begitu ajaib dikala harus menghadapi audience. Dallas bisa dibilang yaitu seorang pebisnis tepat yang mengerti cara mengolah hal yang ia jual dan mengerti cara menyenangkan konsumen, dan McCounaghey bisa menampilkan semuanya dengan baik. Nominasi Oscar mungkin berat diraih tapi setidaknya performanya merupakan salah satu yang terbaik tahun ini dan salah satu yang terbaik sepanjang karir sang pemain drama sendiri. Untuk keseluruhan Magic Mike sendiri aku cukup terhibur meski tidak sebaik apa yang dikatakan para kritikus yang hingga memasukkan film ini ke daftar film terbaik mereka.


Monday, January 14, 2019

Ini Lho Top 20 Movies Of 2012

Akhirnya blog ini sempat juga merilis daftar film terbaik 2012 meskipun tahun 2013 sudah berlalu lebih dari seminggu. Sayangnya untuk tahun 2012 ini jumlah film yang aku tonton jauh lebih sedikit dari tahun 2011. Tercatat beberapa film yang dianggap terbaik menyerupai Lincoln, Django Unchained, Zero Dark Thirty dan masih banyak lagi belum aku tonton. Saya juga kurang banyak menonton film lokal dimana beberapoa film yang katanya elok macam Mata Tertutup dan Rayya, Cahaya Di Atas Cahaya aku lewatkan jawaban masa tayangnya yang sangat pendek. Tapi menyerupai rutinitas tiap tahunnya dimana blog ini merilis daftar film terbaik bertepatan dengan hari dimana Oscar merilis daftar nominasi, maka aku putuskan untuk tetap mengikuti rutinitas tersebut. Yang berbeda yakni tahun ini aku memasukkan tidak hanya 10 film, tapi 20 film dikarenakan cukup banyak film berkualitas yang sayang untuk dikesampingkan dari daftar, jadi mulai tahun ini akan ada 20 film yang menghiasi daftar terbaik blog ini. Jad ini beliau 20 film terbaik (baca: terfavorit) versi Movfreak blog. (klik gambar untuk membaca review)

HONORABLE MENTION
Awalnya aku berniat tidak menciptakan honorable mention, tapi berhubung ada satu film yang sangat sayang untuk dikesampingkan namun akan terasa terlalu subjektif jikalau masuk dalam daftar jadinya aku menawarkan satu film di honorable mention. Film itu yakni COLDPLAY LIVE 2012. Daftar ini memang daftar yang subjektif, tapi khusus untuk dokumenter yang satu ini, aku sadar bahwa evaluasi elok disebabkan lantaran aku yakni fans berat dari grup band british satu ini. Sebuah hidangan konser dengan set-list yang sempurna, visual yang sangat memukau dan energi konser yang ditangkap dengan tepat yakni kepuasan luar biasa dalam menonton film ini. Semoga gosip konser mereka di bulan April mendatang bukan isapan jempol belaka.

20. THE HUNGER GAMES
Akhirnya sebuah franchise film penyesuaian novel yang bisa mendekati kehebatan Harry Potter. Sempat mencurigai kualtasnya, ternyata film garapan Gary Ross ini diluar dugaan bisa menampilkan ketegangan dari kisah remaja saling bunuh tanpa harus kehilangan hati. Seru, menegangkan sekaligus menyentuh dan masih ditambah cast yang gemilang khususnya Jennifer Lawrence menciptakan film ini menjadi sebuah hiburan yang berkualitas.

19. THE AVENGERS
Film terlaris di 2012 dan terlaris ketiga sepanjang masa. Joss Whedon sukses menggabungkan aneka macam superhero kelas satu Marvel dengan begitu seimbang antara satu huruf dan yang lain. Adegan agresi yang begitu epic, momen menggetarkan dan tidak lupa selipan humor yang sangat efektif. Sebuah penyesuaian komik yang tidak hanya menciptakan para fanboy mencicipi moviegasm tapi juga menawarkan kepuasan bagi penonton yang bukan penikmat komiknya.

18. CLOUD ATLAS
Salah satu film paling ambisius tidak hanya di 2012 tapi juga sepanjang masa. Mengadaptasi dongeng dalam novel yang sempat dianggap tidak mungkin untuk diangkat dalam media film. Namun pada jadinya meski makna yang coba dihadirkan kurang terasa maksimal, aku tetap bisa dibentuk terikat mengikuti jalan ceritanya meski memakan durasi sekitar dua setengah jam. Efek make-up dan visualnya tidak hanya asal megah tapi juga turut menjadi belahan penting yang membangun ceritanya.

17. PROMETHEUS
Sama menyerupai Cloud Atlas, film terbaru dari Ridley Scott ini akan memecah penontonnya menjadi dua kubu, yaitu yang mencintainya dan yang membencinya. Saya sendiri termasuk yang menyayangi film ini. Punya dongeng yang diluar dugaan mengangkat tema religius dan spiritual wacana Tuhan dan ciptaannya. Mungkin banyak misteri yang tidak terjawab, tapi bukankah tidak semua misteri khususnya di alam ini yang berkaitan dengan sang pencipta bisa kita jawab? Disitulah perenungan bekerjsama dari Prometheus

16. ARGO
Sebuah karya yang memantapkan nama Ben Affleck sebagai sutradara kelas satu di Hollywood. Keberhasilan Gone Baby Gone dan The Town memang bukan hanya kebetulan. Sebagai sutradara, Ben mampu merangkai kisahnya dengan begitu menarik dan menegangkan. Sebagai pemain film utama beliau mampu menawarkan salah satu penampilan terbaik dalam karirnya. Tentu saja adegan titik puncak di bandara yakni adegan yang begitu intens dan menegangkan. Pada jadinya ketika pembebasan itu berhasil, aku juga mencicipi kebahagiaan dan rasa haru yang sama dengan para tokohnya.

15. SHAME
Sebuah studi huruf luar biasa dari Steve McQueen. Michael Fassbender dan Carey Mulligan begitu gemilang dalam akting mereka sebagai huruf yang menyimpan kesedihan begitu mendalam. Banyak adegan yang bersinggungan dengan seksual, namun bukan seks penuh kebahagiaan melainkan seks yang penuh dengan rasa sakit dan kesedihan layaknya Last Tango in Paris. Masih menyisakan kekecewaan mengingat Oscar tidak melirik film jago ini.

14. 21 JUMP STREET
Entah sudah berapa usang aku tidak dibentuk tertawa terbahak-bahak di dalam bioskop, dan film yang sempat diragukan kualitasnya ini bisa menciptakan aku kembali tertawa bahagia. Penampilan dan chemistry kuat dari Channing Tatum dan Jonah Hill, komedi cerdas yang hampir tidak pernah miss, hingga cameo mengejutkan dari Johnny Depp. Sungguh menyenangkan bisa kembali tertawa dan memasang senyum lebar sehabis keluar dari bioskop.

13. THE GIRL WITH THE DRAGON TATTOO
Sebuah remake yang tidak perlu dibuat, sama menyerupai Let Me In. Namun layaknya film vampir tersebut, film ini mampu mengahdirkan kualitas yang jauh dari kata memalukan. Bahkan bagi aku pribadi, film garapan David Fincher ini lebih unggul dari versi Swedia-nya. Sinemtografi indah yang mampu menghadirkan nuansa masbodoh nan kelam, misteri yang masih tetap menarik dan dihadrikan dengan rapih sekaligus gampang diikuti. Sekali lagi bukan remake yang perlu memang, tapi sebuah remake yang berhasil.

12. NAMELESS GANGSTER
Bagaikan sebuah versi Korea dari film Martin Scorsese dan memang ada beberapa homage disini diberikan pada film-film sang sutradara menyerupai Taxi Driver. Sebuah hidangan dimana otot dan otak saling mengisi dan tidak bisa dipisahkan. Sebuah zero-to-hero yang tidak klise lengkap dengan penampilan luar biasa (seperti biasa) dari seorang Choi Min-sik.

11. POLISSE
Kesederhanaan yang menciptakan film ini menjadi begitu realistis dan emosional. Disajikan dengan nuansa menyerupai semi-dokumenter, Polisse berhasil merangkum dengan tepat kisah para polisi ini baik ketika bertugas ataupun di kehidupan langsung mereka. Tentu saja ending yang kelam dan mengejutkan itu masih terngiang di pikiran aku hingga ketika ini.

10. END OF WATCH
Kembali sebuah film polisi yang dihadirkan dengan teknik semi-mockumentary. Ceritanya memang klise dan gampang ditebak, tapi kebijaksanaan naskahnya yang diawal ringan dan menciptakan kita bersimpati pada karakternya menciptakan titik puncak film ini begitu menegangkan dan punya selesai yang emosional. Kuatnya chemistry Jake Gyllenhaal dan Michael Pena menjadi salah satu kekuatan.

9. LIFE OF PI
Seperti Cloud Atlas, film garapan Ang Lee ini juga berasal dari novel yang dianggap tidak mungkin untuk difilmkan. Namun cara penuturan dari Ang Lee mampu menciptakan Life of Pi menjadi sebuah tontonan yang memuaskan baik dari segi dongeng (walaupun tema sensitif wacana Tuhan tidak sekuat yang aku harapkan) maupun dari segi visual yang begitu luar biasa. Efek 3D yang ada menciptakan alam yang ada bagai nirwana dunia.

8. SAFETY NOT GUARANTEED
Kejutan, itulah film ini. Sebuah film kecil yang muncul entah darimana namun ternyata punya kualitas luar biasa. Dialog cerdas, kisahnya yang sederhana namun unik, pemain yang berakting bagus, serta ceritanya yang begitu mendalam mengakibatkan Safety Not Guaranteed sebuah drama yang dibalut unsur sci-fi dengan kualitas hebat. Saya sangat suka Aubrey Plaza dan jadi tertarik menyaksikan agresi komedi-komedinya di YouTube.

7. THE PERKS OF BEING WALLFLOWER
Salah satu film paling favorit para penonton. Sebuah drama yang mampu membawa kita kembali ke masa-masa indah di Sekolah Menengan Atas dulu lengkap dengan segala suka dukanya. Mau menyerupai apapun kisah kita di SMA, film ini mampu mengembalikan memori tersebut yang mengambarkan begitu lengkapnya kisah yang ada. Tiga huruf utamanya berakting begitu baik.

6. MOONRISE KINGDOM
Wes Anderson kembali dengan karyanya yang unik dan aneh. Indahnya dunia bawah umur yang begitu polos namun terasa begitu dewasa, beradu dengan rumitnya duniaorang bau tanah yang kompleks namun uniknya terasa kekanak-kanakan. Sebuah dunia indah yang diciptakan oleh Wes Anderson dan aku tidak keberatan kembali lagi ke Moonrise Kingdom.

5. HUGO
Seperti Life of Pi, berikan imbas 3D kepada sutradara dengan passion yang tepat, maka terciptalah sebuah dunia yang indah dalam film. Penghormatan seorang Martin Scorsese terhadap dunia film yang begitu ia cintai ini juga akan menciptakan penonton jatuh cinta dengan salah satu film terbaik sang sutradara. Scorsese dengan 3D? Scorsese menyutradarai film bawah umur yang ringan? Ternyata terciptalah keindahan yang menyentuh.

4. TYRANNOSAUR
Sebuah drama Inggris yang sangat besar lengan berkuasa dari segala aspek. Sebuah studi wacana seorang huruf yang kesepian dan penuh amarah. Bagaimana insan yang bagaikan monster sekalipun tetap mempunyai hati. Sayangnya film luar biasa ini banyak terlewat oleh penikmat film.

3. THE DARK KNIGHT RISES
Oke, mungkin film ini tidak sebaik TDK. Banyak juga plot hole dan adegan klise. Namun diluar itu aku rasa berlebihan jikalau banyak yang mencela film ini. Saya masih merasa TDKR yakni epilog trilogi yang lebih dari sekedar pantas. Ini yakni sebuah hidangan epic yang mampu menciptakan aku menahan nafas dalam tiap adegan menegangkan yang mampu dirangkai dengan indah. Balutan musik Hans Zimmer begitu luar biasa disini. Ini bukan sekedar film superhero, tapi sebuah dongeng kepahlawanan.

2. THE ARTIST
Hal dari masa kemudian yang dianggap kuno dan ketinggalan jaman belum tentu jelek. Michel Hazanavicius mampu merangkum surat cintanya pada film bisu dengan begitu indah dan menghibur. Kisah sederhana namun dirangkum dengan maksimal dan unik, begitulah film ini. Penampilan luarbiasa dari Jean Dujardin serta Berenice Bejo menjadi salah satu keunggulan utama film ini. Jangan lupakan adegan tap dance di selesai yang bisa menciptakan aku tersenyum lebar.

1. HOLY MOTORS
Sungguh gila Leos Carax dan Denis Lavant disini. Carax gila dengan segala dongeng sinting nan surealis-nya. Lavant gila dengan aneka macam huruf asing yang ia perankan dengan begitu hebat. Mungkin Oscar tidak akan melirik film ini, tapi bagi aku Holoy Motors yakni film paling berkesan di 2012 lalu. Bukan saja sekedar tribute bagi pemain film dan film sendiri dari seorang Leos Carax, namun juga menampilkan studi mengenai seseorang yang lebih sering hidup dalam sosok orang lain daripada dirinya sendiri. Masih ingatkah beliau dengan sosoknya dan kehidupannya yang asli? Ataukah semua itu justru sudah menjadi kehidupan sesungguhnya? Tapi dibalik segala kegilaan itu masih ada drama sederhana yang begitu manis yang mengambarkan siapapun seseorang, apapun yang ia kerjakan, beliau tetaplah insan dengan hati, perasaan dan cinta.

Tuesday, January 15, 2019

Ini Lho The Campaign (2012)

Jay Roach terperinci bukan sutradara kemarin sore dalam dunia perfilman komedi kalau kita melihat dari filmography yang ia miliki. Dia yakni orang yang menyutradarai semua film dari franchise Austin Powers. Jay Roach juga pernah menyutradarai Meet the Parents dan sekuelnya, Meet the Fockers. Tidak semua karyanya yakni film komedi yang anggun memang, tapi kalau dibandingkan dengan sutradara komedi lain macam Dennis Dugan terperinci Jay Roach punya kualitas jauh diatasnya. Kali ini berhubung suasana kampanye dan pemilihan umum sedang cukup hangat termasuk di Amerika Serikat yang pada November kemudian gres saja menggelar pemilihan Presiden, Jay Roach menciptakan sebuah film yang mengangkat gosip dan intrik politik yang terjadi dalam kampanye. Tentunya ini bukan sebuah film politik yang rumit dan serius, melainkan sebuah komedi yang penuh dengan dagelan seks yang konyol. Duo Will Ferrell dan Zach Galifianakis menjadi pemain utama, sedangkan beberapa nama besar lain menyerupai Jason Sudeikis, Dylan McDermott, Brian Cox sampai Dan Aykroyd menjadi bintang film pendukung. Kaprikornus apakah The Campaign akan menjadi sebuah keberhasilan lain atau kegagalan berikutnya bagi Jay Roach....dan Will Ferrell?

Cam Brady (Will Ferrell) yakni anggota kongres dari partai Demokrat yang sudah menjabat selama empat kali berturut-turut sebagai wakil dari Distrik 14 North Carolina. Kali ini Cam kembali mencalonkan diri untuk kelima kalinya dan lagi-lagi menjadi calon tunggal yang berarti kemenangannya hanya tinggal menunggu waktu saja. Namun sebuah skandal seks menciptakan popularitasnya menurun di mata masyarakat. Hal inilah yang dimanfaatkan oleh dua bersaudara Glen (John Lithgow) dan Wade Motch (Dan Aykroyd) yang merupakan sepasang pengusaha kaya yang korup. Motch bersaudara berniat membangun sebuah pabrik boneka yang berisikan tenaga kerja dari Cina semoga mereka bisa meraup jauh lebih banyak keuntungan. Untuk itulah mereka mencoba memajukan calon lain yang akan mereka kontrol untuk bisa mengalahkan Cam Brady. Pilihan jatuh kepada wakil partar Republik berjulukan Marty Haggins (Zach Galifianakis). Investasi jutaan dollar pun digelontorkan oleh Motch bersaudara untuk memenangkan Marty, termasuk mempekerjakan Tim Wattley (Dylan McDermot) sebagai manajer kampanye Marty. Masalahnya adalah, Marty dikenal sebagai orang yang bodoh, lugu dan aneh. Tentu saja persaingan antara dua calon yang sama-sama "tidak beres" ini akan menjadi ajang kampanye yang konyol.

Meskipun kisah fiktif, terperinci The Campaign memperlihatkan beberapa sindiran dan tumpuan terhadap apa yang terjadi di dunia nyata. Kisah wacana bagaimana janji-janji palsu yang diumbar dalam kampanye, seni administrasi black campaign yang menciptakan antar pasangan saling menjatuhkan dengan cara kotor sekalipun, ikut campurnya pihak tertentu yang mengatur hasil pemilu, dan tentunya berkaitan dengan itu yakni kekuatan uang yang benar-benar berperan besar dalam proses kampanye sampai pemilihan. Pada masa kampanye media akan benar-benar menyoroti para calon yang sedang bersaing, dan pada hasilnya bukan mustahil para calon tersebut melaksanakan faking good untuk memperlihatkan kesan yang positif mengenai mereka dimata masyarakat. Namun dengan melaksanakan hal tersebut mungkin saja meski menerima jawaban positif masyarakat, sang calon tetap tidak mencicipi kebahagiaan akhir hidup tidak dengan jalan yang ia senangi. Tidak hanya konteks ceritanya, namun beberapa huruf juga berlandaskan dari kenyataan, dimana salah satu misalnya yakni Motch Brothers yang didasarkan dari Koch Brothers yang juga sepasang pengusaha kaya yang juga terjun ke dunia politik.
Seperti judulnya, The Campaign memang akan menyajikan konflik dan segala daya tariknya pada masa kampanye yang penuh intrik. Disitulah kita akan disuguhi aneka macam pertunjukkan dan sindiran terhadap hal-hal politik yang penuh kebusukan. Sekilas film ini penuh dengan intrik yang rumit dan konflik yang berat, namun pada hasilnya pendekatan komedi yang cukup kental dengan aroma seksnya menciptakan The Campaign tidak terasa sebagai sebuah tontonan yang sulit untuk dicerna. Disatu sisi hal ini menciptakan filmnya menghibur, tapi sayangnya nuansa satir dan sindiran politik menyerupai yang saya tuliskan di paragraf sebelumnya menajdi kurang terasa, karam oleh segala dagelan seks yang ada. Tapi untungnya sajian komedi yang disajikan tidak termasuk garing, bahkan bagi saya lumayan. Beberapa momen memang tidak mengesankan dan berlalu begitu saja, namun harus diakui ada beberapa momen yang bisa menciptakan saya tertawa. Momen-momen lucu tersebut secara umum dikuasai berasal dari momen yang cukup berani konten komedinya menyerupai adegan memukul bayi. Jika dibandingkan komedi terbaik tahun ini yaitu 21 Jump Street, memang The Campaign tidak mempunyai momen selucu film itu, tapi setidaknya bagi saya film ini masih jauh lebih lucu daripada aneka macam sajian komedi seks yang kurang pintar lainnya.

Sayangnya film ini punya beberapa momen membosankan di bab pertengahan, terutama ketika filmnya mulai dimasuki unsur drama keluarga. Jujur momen politiknya jauh lebih menyenangkan diikuti daripada drama keluarganya yang membosankan. Parahnya lagi, momen komedi yang muncul pada ketika bab drama keluarga tersebut tidak selucu komedi yang muncul di bab politik film ini. The Campaign beruntung punya Will Ferrell dan Zach Galifianakis yang tampil begitu berpengaruh dalam tugas masing-masing yang punya karakterisasi bertolak belakang satu sama lain. Will Ferrell memang tetap tampil kurang pintar di beberapa adegan, namun ketika dituntut sebagai politisi yang jago bicara didepan publik beliau mampu melakukannya dengan baik. Begitu pula dengan Galifianakis yang mampu menciptakan huruf Marty bertansformasi dari politisi gres yang bodoh, lugu dan absurd menjadi jauh lebih berkompeten dan menjadi lawan sepadan bagi Cam Brady. Pujian patut diberikan pada Jay Roach atas hal ini (akting dan sanksi komedi yang tidak mengecewakan bagus). Secara keseluruhan The Campaign tidak jelek dan masih bisa memperlihatkan hiburan bagi saya, namun tidak secara konsisten sepanjang 85 menit durasinya.