Thursday, January 31, 2019

Ini Lho Battle: Los Angeles (2011)

Satu lagi film perihal invasi alien yang dibuat. Tapi sepertinya sineas Hollywood masih belum terlalu berani mengambil pendekatan layaknya "District 9" yang mengatakan sudut pandang yang berbeda dari sebuah film mengenai kunjungan alien ke Bumi. Kali ini sutradara Jonathan Liebesman menciptakan film invasi alien yang sekali lagi mengisahkan usaha umat insan dalam menghadapi serangan alien. Film ini sendiri terinspirasi dari sebuah tragedi konkret yang terjadi pada tahun 1942 dimana ketika itu langit Los Angeles dikejutkan oleh kemunculan benda angkasa tidak dikenal dan menimbulkan false alarm dimana tragedi itu kemudian dikenal dengan sebutan "Battle of Los Angeles"

Film ini berpusat pada seorang veteran marinir berpangkat Staff Sergeant, berjulukan Michael Nantz (Aaron Eckhart). Nantz berniat untuk pensiun dari kehidupan militer yang sudah 20 tahun beliau jalani. Beberapa waktu sebelumnya team yang dipimpin oleh Nantz di Irak tewas dan hanya menyisakan dirinya seorang. Hal itulah yang menciptakan Nantz menyimpan perasaan bersalah dan sering menjadi materi perbincangan rekan dan bawahannya. Disaat dirinya sudah tetapkan pensiun, tiba-tiba ia menerima panggilan kiprah yang menyatakan kesatuannya membutuhkan sumbangan Nantz. Ternyata ketika itu dunia sedang digemparkan dengan jatuhnya meteor-meteor raksasa yang kemudian diketahui bersamaan dengan meteor tersebut turut pula alien-alien yang melaksanakan serangan kepada manusia. Saat itulah Nantz dan pasukannya harus mempertahankan kota Los Angeles dari invasi alien-alien tersebut.

Spesial dampak film ini memang cukuplah dibilang manis walaupun dengan bujet yang lebih dari 2x bujet "Distrcit 9" film ini masih terkesan kurang alami dalam penggambaran alien dan pesawat-pesawatnya, tapi untuk urusan penggambaran kemunculan alien dalam situasi perang film ini termasuk cukup bagus. Penggunaan teknik "kamera goyang" juga cukup mendukung penggmabaran adegan yang ada. Mencari ledakan dan baku tembak? Saya rasa penggemar adegan begitu dan penggila action akan cukup terhibur dengan film ini yang menggabungkan peperangan dan invasi alien dengan cukup baik, walaupun memang segala hal klise dalam film action dan perang banyak tergambar disini termasuk nasib dan karakterisasi tokoh yang ada khususnya Michael Nantz yang walaupun standar berhasil dibawakan dengan baik oleh Aaron Eckhart.

Dibalik segala adegan agresi dan baku tembaknya, "Battle: Los Angeles" kekurangan satu elemen yang sangat penting dalam sebuahfilm khususnya untuk film perang atau usaha menghadapi invasi alien. Bayangkan pertarungan sepasukan tentara terlatih menghadapi alien maka yang diperlukan pastilah agresi heroik nan epik dari jagoannya. Tapi sayangnya hal itu tidak terlihat disini. Daripada mengatakan agresi heroik, tentara di film ini lebih menentukan meragukan atasan mereka dan bertahan hidup secara individual. Hal itu memang wajar, tapi bukankah yang diperlukan penonton film perang macam ini ialah kepahlawanan jagoannya yang agak dilebihkan?

OVERALL: Standar film perihal invasi alien yang menampilkan cukup ledakan dan tidak mengecewakan menghibur tapi kurang unsur epik dan kepahlawanan yang menggugah.

RATING:

Ini Lho Akira (1988)

Film instruksi sutradara Katsuihro Otomo yang diangkat dari manga berjudul sama. Sebagai film animasi, "Akira" dinilai punya impact yang cukup besar baik itu ditinjau dari perkembangan film animasi bahkan hingga keseluruhan dunia perfilman dunia. Bahkan akhir-akhir ini ramai diberitakan Hollywood berniat me-remake film ini dalam versi live action. Mungkin sudah banyak juga yang tahu kalau "The Matrix" juga cukup banyak terinspirasi akan film ini. Saya sendiri sempat salah menebak jalan dongeng dari "Akira" alasannya dimana-mana film ini memperlihatkan sosok laki-laki dengan motor besarnya, saya menerka film ini bercerita ihwal balapan liar. Ternyata "Akira" lebih mengarah kepada tema science fiction + post apocalypse + tema agama.

Film ini ber-setting pada tahun 2019 di sebuah kota berjulukan Neo Tokyo. Kota itu yakni citra Tokyo 31 tahun sesudah meletusnya perang dunia III. Kondisi Neo Tokyo sudah menjadi awut-awutan baik dari tampilan kota hingga isi penduduknya. Banyak pejabat korupsi hingga peperangan antar geng, khususnya geng motor. Kaneda dan Tetsuo juga yakni 2 orang sobat yang terlibat dalam pertikaian antar geng motor. Dalam sebuah balapan antar geng, Tetsuo mengalami kecelakaan disaat beliau melihat sesosok anak kecil berpenampilan aneh di tengah jalan. Tetsuo yang terluka parah dibawa pergi oleh sepasukan misterius untuk dilakukan eksperiman pada dirinya. Eksperimen untuk membangkitkan sebuah kekuatan besar yang konon dimiliki sosok berjulukan Akira yang berperan dalam ledakan nuklir yang menghancurkan Tokyo 31 tahun yang lalu. Kaneda dibantu beberapa kelompok anti pemerintah bekerja sama untuk menyelamatkan Tetsuo dan menghentikan kekuatan mengerikan yang disebut "kekuatan Tuhan" tersebut.
"Akira" yakni sebuah animasi yang punya pendekatan yang memang berbeda dalam artian film ini tidak segan memperlihatkan kekerasan dan kesadisan yang lebih brutal daripada film animasi lainnya. Jelas sekali dilihat dari grafis dan juga tema, film ini bukan untuk dikonsumsi bawah umur walaupun bentuknya animasi. Penggambaran adegan sadis tersebut juga terlihat begitu cantik dengan efek animasi yang cukup memanjakan mata dan unik kalau dilihat film ini dirilis tahun 80an.  Dengan taburan kekerasan itu juga "Akira" menjadi unik dan beda dimata saya. Istilahnya lebih gelap dan keras mungkin.

Dasar ide dongeng film ini cukup kreatif dalam menggabungkan unsur science fiction dan memperlihatkan sedikit unsur kemunculan messiah yang mungkin bisa diartikan sebagai Dajjal. Obsesi insan untuk menyamai kekuatan Tuhan juga disinggung. Sudah bukan belakang layar lagi kalau hingga kini insan masih berusaha membuat kekuatan besar alasannya obsesi mereka menjadi yang nomor satu menyamai Tuhan. Segala tema itu cukup baik digabungkan tanpa terasa tumpang tindih dan maksa. Gambaran post apocalyptic dalam film ini juga tampaknya menjadi ide banyak film lain yang mengangkat tema serupa.Tapi menyampaikan film ini luar biasa juga buat saya agak terasa berlebihan. Walaupun saya katakan film ini berhasil dalam menggabungkan banyak sekali tema diatas, bukan berarti "Akira" terhindar dari banyak sekali macam plot hole. Beberapa klarifikasi mengenai kejadian disini terasa banyak sekali kejanggalan.

OVERALL: Secara keseluruhan, "Akira" cukup layak diberikan label cantik dan bisa menginspirasi film-film lainnya. Tapi berdasarkan saya menyampaikan film ini luar biasa agak berlebihan walaupun kini menerima status cult.

RATING:

Ini Lho The Adjustment Bureau (2011)

Penggila science fiction baik itu dalam bentuk novel ataupun film niscaya sudah tidak absurd dengan nama Philip K. Dick. Berbagai karyanya baik dari novel ataupun short story sudah banyak dikenal dan disesuaikan ke layar lebar. Banyak film science fiction yang masuk kategori legendaris disesuaikan dari goresan pena Dick, ibarat "Blade Runner", "Total Recall", hingga "Minority Report". Dan ditahun 2011 ini satu lagi film yang disesuaikan dari short story karyanya yang berjudul "Adjustment Team" dan disesuaikan menjadi film berjudul "The Adjustment Bureau" yang disutradarai oleh George Nolfi dan dibintangi Matt Damon & Emily Blunt.

Film ini menceritakan perjalanan karir seorang David Norris (Matt Damon) yang merupakan politisi muda yang punya reputasi sangat baik dan karir yang cerah dimana beliau sedang mencalonkan diri sebagai senat di New York. Tapi kemenangan David yang sudah didepan mata mendadak sirna disaat sebuah kesalahn yang pernah beliau lakukan dulu kembali diekspose oleh media.

Dimalam sehabis pemilhan ketika David sedang mempersiapkan pidato untuk menyikapi kekalahannya, beliau secara tidak sengaja bertemu seorang perempuan berjulukan Elise (Emily Blunt). Keduanya pribadi saling tertarik dalam pertemuan pertama tersebut. Tapi David tidak tahu bahwa hubungannya dengan Elise bukanlah takdir yang seharusnya terjadi. Untuk itulah ada sekumpulan orang misterius yang berusaha memisahkan keduanya semoga David tetap hidup pada jalur yang telah dituliskan.
Bagaimana Nolfi membawakan film ini pada penonton harus diakui menarik. Saya berhasil dibentuk ingin tau akan perjalanan seorang David Norris menghindari takdir yang sudah tertulis, bagaimana caranya, dan siapa bergotong-royong orang-orang berpakaian hitam tersebut. Semua itu berhasil dibalut dengan thriller yang cukup untuk menciptakan penonton terpaku apalagi menjelang final film. Bumbu romansa antra David dan Elise juga cukup menarik dan romantis. Bagaimana tidak? Melihat seorang laki-laki bersedia mempertaruhkan semuanya hanya untuk bisa bertemu dan bersama gadis yang beliau cintai dalam jangka waktu yang tidak sebentar terperinci hal yang romantis.

Tapi ada hal-hal yang masih mengganjal dan saya merasa kurang sreg. Salah satunya ialah kemampuan yang dimiliki sosok laki-laki hitam yang tergabung dalam "The Adjustment". Mereka terlihat bisa mengontrol sebuah benda atau seseorang dari jarak jauh, tapi mengapa mereka susah payah dalam menciptakan David tetap pada "jalur yang benar"? Bukankah mereka tinggal menggerakan tubuh David saja jikalau begitu? Tidak dilakukannya hal itu menciptakan sosok mereka terasa "kurang sakti" dimata saya. Bagaimana mungkin mereka bisa mengontrol hidup banyak orang dengan kemampuan yang nanggung ibarat itu?

"The Adjustment Bureau" bukanlah mengajak kita untuk tidak percaya bahwa takdir itu tidak tertulis. Sebaliknya, film ini mengajak kita untuk terus berjuang walaupun takdir kita sudah tertulis sedari dulu. Karena bukan mustahil dengan kemauan yang berpengaruh dan perjuangan keras, seseorang bisa memperbaiki jalan hidupnya sendiri.

OVERALL: "The Adjustment Bureau" lebih dari sekedar menghibur tapi juga sebuah kisah yang bagus, berbobot dan kreatif walaupun tetap tidak terhindar dari beberapa plot hole yang sedikit mengganggu.


RATING:

Ini Lho Green Lantern (2011)

Bicara wacana pembiasaan komik DC ke film tidak banyak yang dapat dibanggakan dalam artian sedikit yang sukses. Diluar Superman dan Batman simpel tidak ada yang sukses alasannya ialah memang jumlah superhero yang diubahsuaikan masih sangat sedikit. Sebuah hal yang gila mengingat superhero yang bukan masuk golongan kelas A macam Supergirl, Steel, Watchmen, Catwoman hingga Jonah Hex sudah dibuatkan film tapi superhero macam Flash, Green Lantern, Aquaman bahkan Wonder Woman belum juga punya film. Disaat tentangan DC, yaitu Marvel sudah punya universe dunia perfilman yang dapat dibilang unik dan kreatif dan akan berujung pada "The Avengers" tahun depan, DC masih tidak jelas, jangankan untuk mengangkat Justice League ke layar lebar, Superman yang notabene ialah superhero utama dari DC saja gres akan di-reboot tahun depan.

Untungnya di 2011 ini DC memunculkan film yang mengangkat salah satu superhero andalan mereka, yaitu "Green Lantern". Proyek ini cukup menjanjikan melihat bujet $200 juta yang dikeluarkan sebagai biaya produksi. Belum lagi sosok-sosok yang terlibat macam sutradara Martin Campbell (Casino Royale) hingga pemain film kelas atas macam Ryan Reynolds dan Mark Strong. Jelas film ini salah satu yang paling dinantikan tahun ini. Film ini mengisahkan wacana Hal Jordan (Ryan Reynolds) yang merupakan pilot yang nekat dan suka bertindang diluar batas. Saat itu ia gres saja menjatuhkan salah satu pesawat jet yang ia tumpangi yang nyaris merenggut nyawanya juga.

Diluar Bumi, salah seorang Green Lantern berjulukan Abin Sur diserang oleh Parallax, alien raksasa yang mengerikan dan bertenaga luar biasa. Parallax yang dulu dipenjara oleh Abin Sur sekarang berhasil bebas dan balik menyerang Abin Sur. Serangan itu membuat Abin Sur sekarat dan terjatuh di Bumi. Menyadari ajalnya hampir datang Abin Sur memutuskan mengirim cincin yang ia miliki untuk mencari Green Lantern gres yang akan menjadi penggantinya. Saat itulah pilihan jatuh pada Hal. Sejak itu Hal harus bergabung dengan Green Lantern Corps yang melindungi alam semesta dan berusaha menghentikan serangan Parallax yang sedang menuju Bumi.
Bujet $200 juta memang terlihat dominan untuk mendanai CGI yang digunakan di film ini guna membuat tampilan para Green Lantern dan Planet Oa yang menjadi markas Green Lantern Corps. Hasilnya memang cukup memuaskan dan menarik dilihat. Tapi untuk masuk kategori realistis, Istimewa imbas di film ini masih kurang berhasil alasannya ialah ada beberapa adegan yang terasa kurang real. Walaupun begitu bagaimana tampilan para Green Lantern, dan tampilan sinar hijau yang keluar dari cincin dan membentuk aneka macam macam benda cukup menarik. Hal itulah yang membuat adegan perkelahian di film ini cukup menghibur khususnya ketika adegan Hal melawan Sinestro, walaupun aku sendiri mengharapkan imajinasi yang lebih kreatif dari para Green Lantern dalam menghasilkan benda dari cincin mereka.

Beda visual efek, beda lagi dengan dongeng yang cukup mengecewakan. Kita sebagai penonton diperlihatkan bahwa Green Lantern Corps berjumlah ribuan, tapi yang ada malahan mereka hanya menjadi tempelan semata. Selain Hal tidak ada Green Lantern lain yang mencolok. Sinestro? Memang kiprahnya lebih besar dari yang lain menyerupai Abin Sur ataupun Kilowog, tapi kalau aku tidak salah bukankah Sinestro itu ialah mentor Hal Jordan yang nantinya akan menjadi salah satu musuh terbesarnya? yang ada aku tidak mencicipi kekerabatan mentor dan murid yang nantinya akan berkembang secara emosional ketika Sinestro telah menjadi musuh. Andaikata film ini jadi dibentuk sekuelnya dan akan memakai Sinestro sebagai musuh aku merasa hal itu tidak akan mempunyai kedalaman emosional dan rasanya akan gagal (lagi) menyerupai film pertamanya yang gagal secara komersial (belum balik modal) dan dicerca kritikus.

RATING:

Ini Lho Fast Five (2011)

Tepat 10 tahun semenjak franchise "The Fast and the Furious" mulai berpacu, film kelimanya resmi dirilis dengan masih menampilkan Vin Diesel dan Paul Walker sebagai bintang utama serta disutradarai oleh Justin Lin yang dengan film ini sudah mengarahkan 3 film terakhir franchise ini. Kali ini Dwayne Johnson juga ikut bermain di film ini. Bukan hanya itu, "Fast Five" juga menampilkan tokoh-tokoh yang di installment sebelumnya sudah muncul dan memegang peranan penting. Bisa dibilang ini yaitu super team.

Film ini mengambil setting lokasi di Rio de Janeiro dimana Dom (Vin Diesel) bersama sahabat dan adiknya, O'Conner (Paul Walker) dan Mia (Jordana Brewster) berusaha untuk membangun kehidupan mereka kembali pasca pelarian Dom dari penjara. Disana mereka menerima tunjangan dari sobat usang Dom, Vince (Matt Schulze) dalam sebuah pekerjaan mencuri kendaraan beroda empat yang dijanjikan akan menjadi pekerjaan yang gampang dan mendatangkan banyak uang. Tapi ternyata pekerjaan itu tidak selancar yang diperkirakan sehabis Herman Reyes (Joaquim de Almeida) yang merupakan drug dealer besar dan penguasa dunia hitam di Rio menjebak mereka.

Merasa dijebak dan belakangan mengetahui fakta bahwa Mia sedang mengandung anak O'Conner, Dom tetapkan melaksanakan sebuah misi yang bisa dibilang tidak mungkin yaitu mengeruk semua uang milik Reyes. Untuk itulah Dom dan Conner mengumpulkan teman-teman mereka dari penjuru dunia yang masing-masing memiliki keahlian berbeda untuk bersatu menuntaskan misi ini. Yak, mereka itu yaitu tokoh-tokoh yang pernah muncul di film-film sebelumnya. Tapi walaupun mereka sudah bersatu, misi ini tetaplah tidak gampang alasannya yaitu seorang biro berjulukan Hobbs (Dwayne Johnson) yang merupakan biro kelas atas sedang mengejar mereka.
Yang paling terasa dalam film kelima ini yaitu transisi dongeng dari yang tadinya didominasi adegan balap di empat film sebelumnya kali ini menjadi lebih condong kearah genre heist. Sekilas film ini mengingatkan aku pada "Ocean's Eleven", hanya bedanya film itu lebih elegan sedangkan "Fast Five" menampilkan agresi pencurian yang lebih 'keras' dan kearah action dan tentunya tetap memunculkan adegan kejar-kejaran mobil. Untuk porsi heist jangan harapkan trik-trik cerdas ala "Ocean Trilogi" alasannya yaitu "Fast Five" menyerupai yang aku bilang tadi lebih mengandalkan fisik meskipun tetap ada trik otaknya. Adegan action di film ini juga cukup seru, entah itu disaat kejar-kejaran kendaraan beroda empat (khusunya beberapa menit terakhir), langgar tembak, hingga langgar jotos antara Vin Diesel dan Dwayne Johnson.

Buat aku salah satu kepuasan terbesar film ini yaitu saling berhadapannya Vin dan Dwayne. Dua sosok berotot besar ini memang sangat layak dijadikan rival. Kalau biasanya Vin Diesel menyerupai tidak ada lawan, kali ini Dwayne Johnson muncul sebagai lawan yang sepadan. Dari segi performa akting Dwayne Johnson memang bintang yang paling bersinar disini. Saya bukan menyampaikan aktingnya meningkat, tapi Dwayne memang terlihat cocok memerankan tokoh anti-hero menyerupai ini dibandingkan tokoh seorang jagoan. Apalagi ditambah tampilan fisiknya yang berbalut jenggot yang membuatnya tambah sangar. Vin Diesel masih tetap terlihat keren sebagai sosok yang nyaris unbeatable.

Selain mereka berdua memang banyak tokoh lain yang hebatnya bisa diberikan porsi yang seimbang oleh sutradara Justin Lin. Hal yang sulit memperlihatkan banyak tokoh dalam sebuah film porsi yang seimbang dengan tetap memperlihatkan satu atau dua tokoh utama tugas yang lebih menonjol, dan Justin Lin berhasil melaksanakan hal itu dengan cukup baik. Oya, jangan lupakan 'post credits scene' yang muncul di final film dimana akan ada sebuah fakta mengejutkan yang akan menjadi pengantar menuju installment keenam. Sebuah cliffhanger yang cukup mengejutkan yang menciptakan aku cukup menantikan film keenamnya.

OVERALL: Berkurangnya porsi balap bukanlah hal yang terlalu kuat alasannya yaitu "Fast Five" tetap menjadi film action yang seru bahkan yang paling memuaskan dari franchise balap kendaraan beroda empat ini.

RATING:

Ini Lho Madame X (2010)

Perfilman kita beberapa tahun terakhir bukan hanya kering film berkualitas tapi juga kering dalam penemuan genre film yang diangkat. Jika tidak drama pastilah horror atau komedi sex. Mungkin beberapa film berkualitas sudah berusaha menjamah area lain tapi intinya masih ber-genre drama atau romance. Untungnya orang-orang menyerupai Lucky Kuswandi dan produser Nia Dinata masih bersedia untuk bereksplorasi dalam kreasi film terbaru mereka ini. Mereka mengangkat tema superhero yang memang sudah mati suri di perfilman Indonesia. Bahkan superhero yang mereka angkat bukan superhero biasa tapi bisa dibilang "transgender superhero" alasannya yaitu jagoannya yaitu seorang banci.

Adam (Amink) yaitu bencong yang bekerja di sebuah salon bersama dua sahabatnya, Cun Cun (Fitri Tropica) dan seorang bencong juga berjulukan Aline (Joko Anwar). Di hari ulang tahunnya yang dirayakan kecil-kecilan, Adam menerima seorang pelanggan berjulukan Bunda Lilis (Sarah Sechan). Saat itulah Bunda Lilis yang punya kemampuan meramal melarang Adam untuk mempelajari sebuah tarian misterius yang nantinya akan membahayakan nyawanya sendiri. Mesikpun begitu Adam tidak terlalu memikirkan ramalan tersebut. Malam harinya, mereka bertiga menentukan dugem di sebuah club khusus waria.

Disanalah terjadi peristiwa yang tidak diduga. Club tersebut digerebek oleh Ormas Bogem pimpinan Kanjeng Badai (Marcell) yang memang populer sering melaksanakan pemberantasan pada kaum waria memakai kekerasan. Amink, Aline dan waria-waria lainnya diangkut ke sebuah truk dan dibawa pergi. Berawal dari situlah peristiwa-peristiwa yang tidak diduga oleh Adam baik yang menyedihkan maupun menyenangkan segera terjadi, yang mana akan membawa Adam kepada kehidupan gres sebagai seorang pahlawan super!

Film ini yaitu salah satu film terlucu yang pernah saya tonton. Hampir segala aspek yang ditampilkan bisa memancing tawa, baik itu akting pemain, dialog, hingga banyak sekali Istimewa imbas "murahan" yang disajikan semuanya bisa tampil begitu lucu dan menghibur. Untuk urusan akting, Amink yang sudah terbiasa menjadi bencong terlihat tidak kesulitan mendalami karakternya bahkan sempat muncul celetukan ataupun dagelan yang terlihat begitu alami dan menyerupai sebuah improvisasi. Hal yang bisa muncul kalau seorang pemain drama benar-benar sudah meyatu dengan perannya.
Tentu saja saya tidak terkejut Amink bisa melakukannya. Tapi lain halnya dengan Joko Anwar dan Vincent yang tampil sama baiknya. Joko Anwar bahkan hingga kemunculan terakhirnya masih tetap bisa menawarkan gelak tawa saya yang terkeras. Sedangkan Vincent meskipun tanpa obrolan sedikitpun ia tetap bisa bermain baik. Jangan lupakan pula akting Shanty yang diganjar piala "Best Supporting Actress" di 'Asian Film Awards'

Komedi yang ada juga tidak ketinggalan menyindir segala aspek di negeri kita ini. Memang film ini ber-setting disebuah negeri antah berantah, tapi segala hal yang terjadi disana terasa bagaikan sindirian bagi negeri ini. Mulai dari kehidupan waria yang terasa dipandang sebelah mata, sindiran kepada infotainment, hingga penggunaan kekerasan atas nama kebenaran dan Agama yang jujur sudah membuat saya muak. Semua itu dirangkum dalam rangkaian komedi cerdas dan sangat lucu tapi pesan yang ada berhasil diterima penonton dengan mudah.

Bicara film superhero tentu tidak bisa dilepaskan dari faktor special effect. "Madame X" memperlihatkan apa arti dari kata "special effect" itu sendiri. Efek visual di film ini memang Istimewa tapi bukan dalam artian megah dan bertaburan CGI melainkan sangat cheesy dan terlihat murahan. Tapi hal itu sama sekali tidak membuat film ini terlihat jelek dan murahan alasannya yaitu pengemasannya yang memang spesial. Segala ke-cheesyan itu memang berbanding lurus dengan kekonyolan film ini dan terlihat memang disengaja tampil menyerupai itu. Selain efek, film ini juga bisa memunculkan sebuah scoring yang menjadi ciri khas dan musik tema dengan sangat yummy didengar. Sebuah keberhasilan bagi departemen musik alasannya yaitu membuat musik tema yang usang tinggal di benak penonton bukan hal mudah.

"Madame X" tetaplah bukan sebuah film tepat walaupun punya begitu banyak kelebihan. Yang paling terasa yaitu di bab obrolan yang sering memakai kosakata banci. Jujur saya hanya menangkap sekitar 70-80% dari obrolan yang diucapkan. Alangkah baiknya kalau film ini dibentuk sekuel atau film lain yang dibentuk dengan memakai lebih banyak didominasi obrolan serupa, ditambahkan subtitle untuk mempermudah penonton awam menyerupai saya mengikuti obrolan yang ada. Padahal mungkin dalam obrolan tersebut tersisip juga pesan-pesan lain. Sayang kan kalau cuma alasannya yaitu penonton tidak paham bahasa yang diucapkan pesan tersebut jadi tidak sampai.

OVERALL: Sebuah film berkualitas yang unik dan amat sangat lucu, tapi sayangnya tetap tidak terlalu dilirik pasar lokal terbukti dalam ajang award pun film ini masih tidak berbicara banyak, padahal di ajang penghargaan tingkat Asia film ini sudah dilirik. Serendah itukah selera kita?

RATING:

Ini Lho Sense And Sensibility (1995)

Film yang disesuaikan dari novel berjudul sama karangan Jane Austen ini punya beberapa poin yang patut dicatat dan diingat dalam dunia perfilman. Yang pertama terang film ini yaitu perkenalan dunia terhadap sosok seorang Kate Winslet yang hingga kini dikenal sebagai salah satu aktris terbaik yang dimiliki Hollywood dimana melalui film ini Winslet meraih nominasi Oscar pertamanya sebagai "Best Supporting Actress". Kemudian sebuah catatan tersendiri juga didapat oleh Emma Thompson yang selain menerima nominasi "Best Actress" ia berhasil membawa pulang piala untuk kategori "Best Adapted Screenplay" Hal itu menimbulkan Thompson sebagai satu-satunya orang yang pernah memenangi Oscar dalam kategori akting dan penulisan naskah. Yang terakhir yaitu wacana Ang Lee sang sutradara yang memulai karirnya di Hollywood lewat film ini dan pribadi menerima nominasi "Best Director" sesudah 2 tahun berturut-turut filmnya selalu menerima nominasi untuk "Best Foreign Language Film". Film ini sendiri menerima nominasi "Best Picture".

Film ini bercerita wacana kehidupan Elinor (Emma Thompson) yang harus hidup sederhana bersama 2 orang adiknya, Marianne (Kate Winslet) dan Margaret (Emilie Francois) juga bersama sang ibu, Mrs. Dashwood (Gemma Jones) sesudah ayahnya meninggal dunia dan mereka tidak menerima uang sumbangan yang cukup. Bahkan rumah mereka kini menjadi milik John (James Fleet) dan istrinya yang kikir dan sombong, Fanny (Harriet Walter). John yaitu anak Mr. Dashwood hasil dari pernikahannya yang pertama.

Tapi diluar dugaan, adik Fanny yang gres saja datang, Edward (Hugh Grant) yaitu laki-laki yang baik, hangatdan beda jauh dengan kakaknya. Dalam waktu singkat Edward sanggup erat dengan ketiga bersaudara tersebut bahkan antara ia dengan Elinor mulai tumbuh rasa cinta. Dirumah yang gres di pedesaan, mereka mulai menjalin kehidupan yang mereka harapkan lebih tentram. Tapi ternyata duduk kasus tetap tiba , khususnya dari cinta segitiga yang muncul antara Marianne dengan Colonel Brandon (Alan Rickman) dan John Willoughby (Greg Wise). Selain itu, Elinor yang sudah usang tidak berjumpa dengan Edward disana juga bertemu dengan seseorang yang sangat tidak ia duga keberadaannya.

Sesuai dengan judulnya, film ini memang berkisar pada rasa yang dialami oleh tokoh-tokohnya. Rasa murung ditinggal keluarga dalam hal ini ayah yang menciptakan mereka harus mencicipi khidupan yang lebih sederhana walaupun penderitaan itu terlihat kurang digali lebih dalam dan hanya ditunjukkan dengan penampilan mereka yang agak "ngampung" dibanding orang London. Tapi yang paling kentara tentunya rasa cinta yang memang menghiasi film ini dan menjadi pokok utama permasalahan.

Elinor yaitu sosok orang yang lebih menentukan menyembunyikan perasaan yang ia miliki dalam artian disaat ia berbungan-bunga sebab Edward ia tidak menunjukannya secara gamblang, begitu juga ketika ia murung sebab tidak lagi bersama Edward. Marianne yaitu sosok yang lain lagi. Dia yaitu tipikal orang yang meluapkan semua perasaan yang ia rasakan tanpa menyembunyikannya sedikitpun. Eksplorasi perasaan keduanya ditampilkan dengan begitu baik oleh Emma Thompson dan Kate Winslet walaupun aku tetap lebih menyukai Kate Winslet. Sayangnya aku masih merasa tidak puas dan kurang akan eksplorasi perasaan yang lebih dalam yang sanggup menciptakan film ini terasa lebih dari sekadar kisah cinta segitiga atau penantian cinta biasa.


OVERALL: Sebuah film yang menyenangkan dari awal hingga final dan sanggup dibilang cukup indah walaupun aku merasa masih kurang sedikit lagi dalam hal dalamnya dongeng yang ada untuk menyentuh aku pribadi sebagai penonton.

RATING: