Friday, February 1, 2019

Ini Lho The Dilemma (2011)

Ada jenis film dimana tokoh yang ada didalamnya berperan sebagai orang yang lebih tahu fakta sesungguhnya didalam dongeng film tersebut dibanding penonton, ada juga jenis film dimana penonton menjadi pihak serba tahu dan lebih tahu dibanding huruf dalam film tersebut. "The Dilemma" termasuk jenis yang kedua dimana penonton yaitu orang yang lebih tahu dibanding lebih banyak didominasi huruf yang ada mengenai fakta sesungguhnya yang terjadi. Saya sendiri tidak membenci film sejenis itu. Tapi disaat "The Dilemma" juga turut menggabungkan elemen salah paham yang agak berlebihan dimana saya sebagai penonton sudah tahu fakta sesungguhnya, maka hal itu menjadi tidak menyenangkan diikuti.

Ronny (Vince Vaughn) dan Nick (Kevin James) yaitu sahabat yang sangat bersahabat sudah semenjak lama. Bahkan kekasih Ronny, Beth (Jennifer Connelly) dan istri Nick, Geneva (Wynona Ryder) juga berteman dekat. Mereka seringkali melaksanakan double date. Ronny dan Nick juga yaitu partner bisnis yang saling melengkapi. Ronny hebat bicara, sedangkan Nick yaitu si jenius yang menjadi otak bisnis mereka. Saat itu keduanya tengah mengejar deadline sebuah proyek yang akan menghasilkan banyak uang. Deadline itu menciptakan keduanya cukup tertekan. Khususnya bagi Nick yang ketika itu tengah berniat melamar kekasihnya tapi masih galau bagaimana melakukannya.
 
Disaat sedang mencari daerah yang sempurna untuk melamar Beth, secara tidak sengaja Ronny melihat Geneva ada ditempat yang sama. Alangkah kagetnya Ronny mendapati istri sahabatnya sedang berciuman dengan laki-laki lain, yang belakangan diketahui berjulukan Zip (Channing Tatum). Ronny yang ragu memberitahukan ini pada Nick menentukan terus membututi Geneva dan Zip. Hal ini tentu saja menjadi problem tersendiri alasannya yaitu apabila beliau memberitahu Nick tentu sahabatnya itu akan sangat terluka. Apalagi Nick sedang mengalami tekanan dikejar deadline proyek mereka.

Lihat banyak sekali nama besar yang ada. Selain yang sudah saya sebutkan dalam sinopsis masih ada Queen Latifah di jajaran cast "The Dilemma". Sutradaranya juga tidak main-main, yakni Ron Howard yang menyajikan pada kita film-film menyerupai "A Beautiful Mind", "Frost/Nixon" hingga "The Da Vinci Code". Tapi sayangnya segala potensi tersebut terbuang sia-sia, khususnya alasannya yaitu naskah yang ditulis Allan Loeb menyerupai yang saya katakan diatas terlalu banyak menawarkan porsi kepada "kesalahpahaman" sebagai faktor utama pemicu konflik di film ini. Awalnya memang masih menghibur dan cukup menciptakan penasaran. Tapi usang kelamaan disaat kita sudah tahu fakta sebenarnya, terasa menyebalkan dan melelahkan mengikuti jalan dongeng film ini. Toh saya sudah tahu simpulan dongeng film ber-genre macam ini akan menyerupai apa. "The Dilemma" coba menyajikan pesan mengenai kejujuran dan keterbukaan terhadap orang terdekat. Pesan itu gotong royong tersampaikan tapi jalan dongeng yang tidak nyaman diikuti menjadi mengaburkann hal tersebut.

Jajaran pemainnya juga menawarkan akting yang tidak Istimewa walaupun masih masuk kategori luamayan untuk ukuran film komedi. Vinca Vaughn sudah mulai terjebak dengan huruf yang begini-begini saja. Kevin James memainkan tugas yang lebih serius dibanding di "Paul Blart" dan beliau cukup cantik disini. Wynono Ryder juga bisa dibilang bagus. Yang cukup menarik justru Channing Tatum dimana beliau memainkan huruf yang cukup konyol, berbeda dengan kebanyakan karakternya yang berada di seputaran perjaka cool.

OVERALL: Premis menarik dan jajaran pemain serta sutradara besar tidak bisa menyelamatkan "The Dilemma" dari lemahnya naskah yang ada dan menjadi film yang kurang menyenangkan.

RATING:

Ini Lho Plan 9 From Outer Space (1959)

Menulis review untuk film ini yaitu salah satu yang "tersulit" buat saya. Dikatakan sulit alasannya yaitu apabila melihat segala aspek yang ada, film ini bisa dibilang hancur-hancuran. Yak, film garapan sutradara Ed Wood yang sering disebut sebagai sutradara terburuk yang pernah ada ini juga sering disebut sebagai "worst film ever made" alias film terburuk yang pernah dibuat. Tapi meskipun begitu aku langsung merasa cukup terhibur dikala menontonnya. Bukan alasannya yaitu isi filmnya memang menghibur tapi saking hancurnya film ini hingga menyenangkan melihat aneka macam bloopers bertebaran sepanjang 78 menit durasinya.

Film ini dibuka dengan adegan pemakaman seorang wanita. Suami perempuan tersebut yang dikenal dengan sebutan Old Man (Bela Lugosi) merasa begitu kehilangan sang istri. Hal itu membuatnya luntang lantung dan ditengah kegundahan hatinya ia tewas tertabrak kendaraan beroda empat dikala sedang berjalan. Pada dikala pemakaman sang laki-laki tua, muncul hal abnormal yaitu inovasi jenazah 2 orang tukang gali kubur. Yang mengagetkan ternyata laki-laki renta dan istrinya yang sudah tewas itu kembali hidup, bahkan membunuh Inspektur Clay (Tor Johnson) dimana Clay alhasil juga bangun kembali dari kematiannya. Sementara itu seorang pilot berjulukan Jeff Trent (Gregory Wallcott) melihat penampakan UFO disaat sedang menerbangkan pesawat. Ternyata UFO tersebut juga nampak di aneka macam daerah lain. ApakahDan tampaknya UFO itu ada hubungannya dengan fenomena bangun kembalinya orang-orang yang sudah mati tersebut.
Membahas kekurangan film ini akan sama panjangnya dengan membahas penghargaan apa saja yang didapat trilogi "The Lord of the Ring". Mulai dari segi akting yang begitu buruk, dimana lisan yang ditampilkan selalu saja datar atau kurang pas. Lalu dari dampak super murahan yang begitu konyol khususnya penggmabaran UFO beserta isinya. Jangan  lupakan penggunaan aneka macam macam footage sisa yang penggunaannya seringkali dipaksakan menyerupai dikala adegan perang. Tapi yang paling konyol tentunya penggunaan sisa footage dari Bela Lugosi yang sudah meninggal 3 tahun sebelum film ini rilis. Adegan yang menampilkan Bela yaitu adegan yang diambil dari film "Tomb of the Vampire" karya Ed Wood yang batal rilis. Sepertinya Ed Wood yaitu penganut setia kata-kata "dibuang sayang" sehingga ia menentukan memaksakan scene tersebut menjadi adegan di film ini. Tidak sinkron? Jelas. Banyak juga adegan sama yang diputar berulang-ulang guna mengakali keterbatasan dana.

Masih banyak kekurangan lain yang tidak akan habis jikalau aku tuliskan disini menyerupai bayangan yang bocor dan masih banyak. Makara lebih baik tonton saja film ini. Masuk kepada kelebihannya, apakah "Plan 9 From Outer Space" punya kelebihan? Jujur dari premis bekerjsama film ini cukup kreatif. Makhluk luar angkasa yang tiba ke Bumi kemudian sakit hati karen eksistensinya tidak dianggap sehingga mencoba menghancurkan Bumi dengan cara membangkitkan kembali orang yang sudah mati. Premis khas B-Movie yang dihukum dengan cara yang lebih murahan dari B-Movie itu sendiri. Tapi sekali lagi segala kekonyolan itulah yang menciptakan film ini menyenangkan ditonton. Saya sendiri tidak bosan 2x menontonnya dan masih tertawa alasannya yaitu terus saja menemukan blooper-blooper baru.

Saya tidak akan menyalahkan Ed Wood dan mengatainya sebagai sutradara jelek yang tidak sepantasnya menciptakan film. Dari film ini dan beberapa kisah yang aku baca, aku rasa Ed Wood yaitu pecinta film sejati dan menyukai menciptakan film. Hanya saja ia tidak memiliki 2 hal terpenting dalam menciptakan film, yaitu kemampuan dan uang. Tapi setidaknya ia memiliki kemauan dalam berkarya. Salut untuk Edward D. Wood, Jr.

RATING:

Ini Lho Lawrence Of Arabia (1962)

Film ini berbasis kehidupan dari T.E. Lawrence, seorang tentara Inggris yang memiliki peranan sangat besar dalam "Arab Revolt", yaitu peperangan pasukan Arab menghadapi Turki yang berlangsung antara 1916-1918. Tokoh T.E. Lawrence sendiri diperankan oleh Peter O'Toole yang merupakan bintang film peraih nominasi Oscar terbanyak sebagai "Best Actor" tanpa sekalipun menang yaitu 8 kali termasuk dalam film ini dimana beliau kalah oleh Gregory Peck (To Kill a Mockingbird). Selain "Best Actor", film ini juga menerima 9 nominasi lain dimana 6 diantaranya berhasil dimenangkan termasuk "Best Picture" dan "Best Director" untuk sutradara David Lean.

Film dibuka dengan adegan ajal T.E. Lawrence (Peter O'Toole) yang meninggal dalam kecelakaan motor pada 1935. Dia dimakamkan di St Paul's Cathedral dimana itu dilakukan untuk menghargai segala macam jasa yang telah beliau berikan. Film kemudian kembali ke masa dimana Lawrence sedang bertugas dalam Perang Dunia I. Dia kemudian ditugaskan untuk menuju Arab guna memantau pasukan Arab yang dipimpin Prince Faisal (Alec Guinness) dalam pergerakan mereka melawan Turki. Disana Lawrence juga bertemu dengan Sherif Ali (Omar Sharif) yang awalnya berselisih paham dengan Lawrence dan tidak menyukainya.
 
Tapi diluar dugaan Lawrence bisa menerima kepercayaan Prince Faisal dan mulai menciptakan rencana dalam peperangan dan memimpin pasukan Arab bersama Sherif Ali. Lawrence yang awalnya diremehkan lambat laun mulai diakui bahkan oleh Ali sendiri sehabis memperlihatkan agresi heroiknya. Bahkan Lawrence mulai diakui sebagai salah satu rakyat Arab. Tapi masih banyak rintangan yang menanti tidak hanya dari pihak musuh tapi dari pihak Arab sendiri yang masih belum bisa bersatu dalam bendera Arab tapi masih berpihak pada suku masing-masing.

Durasi film yang mencapai 206 menit atau hampir 3 setengah jam ternyata tidak melelahkan sehabis saya simpulan menonton film ini. Cara David Lean dalam menyajikan film yang dikenal sebagai salah satu film epic terbaik sepanjang masa ini memang menarik. segala konflik mulai dari konflik politik, konflik batin dalam diri Lawrence sampai tentunya serunya peperangan semua dihadirkan bergantian dengan porsi yang seimbang dan sama menariknya. Walaupun tidak sekuat film perang modern macam "Platoon" ta dalernyata film yang menghadirkan peperangan jaman dulu ini masih bisa memperlihatkan kesan "neraka dunia" dalam peperangan dan itu terlihat positif dalam diri T.E. Lawrence yang sangat sering mengalami tekanan dalam perang itu yang lebih banyak didominasi muncul bila bekerjasama dengan hilangnya nyawa seseorang. Sayangnya film ini masih kurang dalam menyajikan hal itu sehingga masih belum bisa menciptakan saya tersentuh dengan segala kehilangan atau tekanan yang dialami oleh Lawrence. Untuk film berdurasi lebih dari 3 jam terang itu kekurangan yang besar,

Hal lain yang menciptakan "Lawrence of Arabia" tidak membosankan dengan durasinya yang super usang itu ialah faktor art direction, sound, dan cinematography yang nyaris tepat dimana 3 hal tersebut juga diganjar Oscar. Tata kostum dan lokasi yang begitu detil dan memanjakan amta digabung dengan pengambilan gambar khususnya di setting outdoor yang lebih banyak didominasi menampilkan gurun pasir ditampilkan dengan "keindahan" tersendiri dan menambah kesan penderitaan perang yang terjadi. Iringan musik yang khas timur tengah juga sangat tepat penggunaannya. Lalu, menyerupai yang saya bilang tadi bahwa pengembangan kejiwaan T.E. Lawrence ialah hal yang sangat menarik. Hal itu tidak akan terjadi tanpa akting luar biasa dari Peter O'Toole. Ekspresinya memancarkan penderitaan, kebimbangan, pujian dan aneka macam perasaan lain dengan begitu sempurna.

RATING:

Ini Lho A Little Thing Called Love (2010)

Film yang punya 2 judul lain (First Love & Crazy Little Thing Called Love) ini memang menjadi salah satu film sleeper hit Asia terbesar tahun ini. Bagi aku sendiri hasil yang disuguhkan oleh duo sutradara Putthiphong Promsakha na Sakon Nakhon dan Wasin Pokpong ini cukup melebihi ekspektasi. Thailand yang biasanya dikenal dengan film horror kembali mengejutkan saya. Setelah "Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives" yang menang Palme d'Or tahun lalu, giliran film ini yang berhasil menyuguhkan  kejutan manis berupa sebuah komedi romantis yang ringan, down to earth, sekaligus menyentuh.

Nam (Baifern Pimchanok Luevisadpaibul) ialah gadis cilik yang sedang mencicipi cinta pertamanya kepada abang kelasnya yang berselisih 3 angkatan berjulukan Shone (Mario Maurer). Yang jadi masalah, Shone merupakan idola di kalangan gaids-gadis di sekolah tersebut mulai dari yang seangkatan hingga adik angkatannya termasuk Nam. Nam sendiri bagaikan bumi dan langit dengan Shone. Nam ialah gadis yang jelek, hitam dan punya selera fashion buruk. Nam juga bukan anak yang pintar. Untungnya Nam punya sahabat-sahabat yang baik hati. Mereka membantu Nam guna meraih impiannya mendapat cinta Shone mulai dari merubah penampilan Nam hingga melaksanakan hal-hal konyol menyerupai yang tertulis dalam buku "resep cinta" yang mereka baca.

Plot yang disajikan memang sangat sederhana dan super predictable. Tapi untungnya penyajian yang diberikan tidak sesederhana jalan ceritanya. Paruh awal film ialah bab yang sangat menyenangkan. Bagian dimana Nam dan kawan-kawannya melaksanakan usaha-usaha konyol yang guna menciptakan Nam mendapat Shone sangat berhasil memancing tawa saya. Apalagi adanya tokoh Guru Inn yang diperankan Sudarat Budtporm juga turut menjadi "badut" yang begitu lucu dimana ia mendapat subplot yang kurang lebih sama dengan Nam, yaitu perempuan buruk rupa mengejar laki-laki tampan yang menjadi idola.
Sayangnya, memasuki pertengahan film ini makin terjerumus pada segala hal klise yang membosankan sekaligus bertele-tele. Plot standar yang di paruh awal tertolong dengan segala kelucuan yang ada di paruh kedua ini makin menjadi tanpa ada satu faktorpun yang bisa menolong, kecuali paras manis gadis-gadis Thailand di film ini. Selebihnya, plot disaat Nam sudah bermetamorfosis gadis manis yang menjadi rebutan sangat membosankan. Dan ditambah konflik perpecahan antara Nam dan sahabatnya yang sudah aku prediksi dari awal akan terjadi. Transformasi Nam menjadi manis juga terasa terlalu cepat. Tiba-tiba saja Nam yang buruk rupa itu menjadi manis sehabis ia didandani untuk pertama kali ketika pementasan drama? Kisah cinta segitiga di pertengahan film juga masih kurang bisa membantu. Singkat kata paruh kedua film nyaris menciptakan aku terpengaruhi untuk mempercepat durasi.

Untunglah paruh simpulan film ini kembali menaikkan minat saya. Jika paruh awal suguhan komedi yang lucu jadi andalan, paruh simpulan menghadirkan kisah dramatis yang cukup mengharu biru. Akhir film ini menyerupai apa memang predictable, tapi bagaimana kisah bergulir hingga simpulan itulah yang agak tidak terduga sekaligus menyentuh. Kesederhanaan yang ada justru menciptakan aku hampir menangis menonton paruh simpulan film ini. Jujur hampir tidak ada romcom yang bisa menciptakan aku terharu selain (500) Days of Summer. Dan ternyata film dari Thailand ini bisa menyuguhkan hal tersebut.


Ini Lho Sucker Punch (2011)

Sekitar 3 bulan yang kemudian saya sempat menulis perihal 10 film yang paling saya tunggu di tahun 2011. Dari 10 film itu 5 diantaranya sudah dirilis (Pirates of the Caribbean 4, Scre4m, The Hangover: Part II, Your Highness dan Sucker Punch). Tapi ibarat yang kita tahu kini film Box Office sulit masuk ke Indonesia, sehingga dari 5 film tersebut gres 2 yang saya tonton yaitu "Scream 4" dan "Sucker Punch" ini (Saya putuskan melewatkan Your Highness). Setelah "Scream 4" bisa memenuhi ekspektasi saya, tentunya cita-cita kepada film garapan sutradara Zack Snyder ini untuk bisa menawarkan hal yang sama cukup tinggi. Saya tidak peduli film ini mendapat kritikan jelek, toh saya masih bisa menikmati film macam "Season of the Witch" yang hanya mendapat skor 6% di Rotten Tomatoes.

Seorang gadis (Emily Browning) yang gres saja kehilangan sang ibu yang meninggal dunia terpaksa masuk ke Rumah Sakit Jiwa jawaban difitnah ayah tirinya. Disana sang ayah tiri meminta kepada salah seorang petugas berjulukan Blue Jones (Oscar Isaac) untuk melaksanakan lobotomi kepada gadis itu semoga beliau tidak ingat segala hal yang dilakukan si ayah tiri kepadanya dan keluarganya. Disaat proses lobotomi tersebut dilakukan, dongeng berpindah ke alam fantasi gadis tersebut dimana disana ia mendapat nama Babydoll. Tidak hanya nama, tapi setting kawasan juga berubah dari RSJ menjadi sebuah rumah bordil. Blue yang sebelumnya ialah pegawai disana bermetamorfosis penguasa rumah bordil tersebut. Pasien rumah sakit juga bermetamorfosis gadis yang tinggal dirumah tersebut.

Disana Babydoll bertemu dengan gadis lainnya ibarat Sweet Pea (Arby Cornish) dan adiknya, Rocket (Jena Malone), Blondie (Vanessa Hudgens) dan Amber (Jamie Chung). Mereka berlima kemudian makin bersahabat satu sama lain dan kesudahannya merencanakan diri untuk melarikan diri dari kawasan tersebut. Untuk menjalankan planning itu, mereka berusaha mengumpulkan 5 benda, yaitu Peta kawasan tersebut, Api, Pisau, Kunci dan satu hal lagi yang masih misterius dan belum diketahui. Dan uniknya, tiap kali mereka menjalankan planning untuk mengambil salah satu barang tersebut, muncul adegan di alam fantasi lain (fantasi tingkat 2) dimana Babydoll dan keempat rekannya bertarung melawan sepasukan monster-monster dan robot untuk mendapat sebuah benda yang merefleksikan benda yang coba mereka ambil di alam fantasi tingkat pertama.
Premis film ini terdengar sangat menarik, kreatif dan mengingatkan pada plot "Inception" yang menggambarkan tingkatan mimpi. Bedanya, di "Sucker Punch" yang ditampilkan ialah tingkatan alam fantasi/khayalan. Satu lagi perbedaan antara keduanya ialah apabila "Inception" bisa menampilkan plot dan storyline yang begitu rapi dan menarik, "Sucker Punch" terlihat galau untuk menampilkan sebuah kisah mengenai tingkatan-tingkatan alam fantasi yang berbeda. Saya paham Snyder bermaksud menampilkan kisah usaha gadis-gadis merebut kebebasan mereka di alam fantasi tingkat pertama dan mengajak penontonnya untuk bersimpati pada mereka. Kemudian di alam fantasi tingkat dua Snyder gres menawarkan ciri khasnya yaitu rentetan adegan action yang menampilkan keseruan, visualisasi mengagumkan dan tentunya slow motion andalan sang sutradara.

Tapi yang terjadi malahan kegagalan. Di tingkatan pertama saya sama sekali tidak mencicipi ikatan yang bisa menciptakan saya simpatik pada mereka. (SPOILER Adegan terbunuhnya Amber dan Blondie agak membekas bukan alasannya saya peduli pada mereka tapi lebih alasannya tidak tega melihat gadis manis dan seksi terbunuh.) Sedangkan adegan agresi yang muncul di tingkat kedua hanya menang di visualnya saja. Penggambaran dunia khayal dan makhluk-makhluk absurd disana memang harus diakui sangat luar biasa dan yummy dipandang. Tapi sayangnya lagi, plot yang ditampilkan disana membosankan. Hanya menampilkan 5 gadis yang diberi perintah oleh seorang laki-laki untuk mengalahkan lawan dan menganbil barang yang entah apa, kemudian terjadi tembak-tempakan, ledakan dan selesai. Andai tidak ada visualisasi menawan, adegan action film inibahkan bisa kalah menarik dibanding "The Expendables" yang super klise itu.

Bagaimana dengan akting para pemainnya? Saya bahkan kesulitan membedakan lisan yang mereka tampilkan dengan lisan datar Babydoll sesudah beliau menjalani lobotomi. Dengan kata lain mereka berakting begitu datar. Emily Browning ialah yang paling terasa datarnya alasannya selain yang paling sering muncul beliau juga sering kebagian scene close up yang parahnya scene itu hanya menampilkan wajah datarnya saja. Tapi memang saya akui mereka cukup menawarkan hiburan alasannya manis dan seksi. Tapi apalah artinya tanpa akting yang memadahi?

RATING:

Ini Lho Biutiful (2010)

Setelah menampilkan konflik mengenai konflik akhir perbedaan bahasa dan budaya dalam "Babel", sutradara Alejandro Gonzales Inarritu kembali menyuguhkan kepada kita sebuah film yang bercerita mengenaikonflik yang terjadi dalam hidup manusia. "Biutiful" yakni sebuah film yang menceritakan mengenai usaha insan dalam hidupnya. Sesulit apapun hidup itu nyatanya usaha memang tidak pernah berhenti dilakukan oleh manusia. Kurang lebih itulah yang menjadi garis besar film ini walaupun masih ada beberapa hal lain yang bisa diambil dari "Biutiful" menyerupai kondisi keluarga yang kurang harmonis, rasa sepi, ambiguitas moral, hingga janjkematian yang bukanlah selesai melainkan awal yang gres dengan kata lain menyinggung kehidupan sehabis kematian.

Uxbal (Javier Bardem) sendirian mengasuh kedua anaknya, Ana (Hanaa Bouchaib) dan Mateo (Guillermo Estrella) dengan segala kesederhanaan ekonomi yang beliau miliki. Sedangkan istrinya, Maramba (Maricel Alvarez) yang yakni pengidap bipolar disorder walaupun masih menyayangi suami dan anak-anaknya terlihat tidak siap menanggung beban sebagai istri dan ibu sebab beliau masih gemar bersenang-senang di kehidupan malam. Uxbal sendiri kesehariannya bekerja sebagai penyalur barang ilegal yang milik Hai (Cheng Taishen) yang merupakan pengusaha asal Cina untuk kemudian dijual kepada para imigran Afrika. Selain itu Uxbal juga menerima embel-embel penghasilan berkat "bakat" yang dimilikinya yaitu bisa berkomunikasi dengan arwah ingin tau dan membimbing mereka untuk menuju ke alam baka. Sampai suatu hari Uxbal dikejutkan dengan hasil investigasi dokter yang menyatakan beliau menderita kanker dan hidupnya hanya tinggal beberapa bulan lagi.
"Biutiful" yakni sebuah suguhan yang cukup depresif. Sebenarnya jikalau Inarritu mau beliau bisa saja menciptakan film ini menjadi lebih mellow untuk mengajak penontonnya bersedih dan menangis menyesali nasib Uxbal dan karakter-karakter lain di film ini. Tapi pendekatan yang dilakukan Inarritu menciptakan film ini lebih berasa depresif dan suram daripada mellow. Saya sendiri lebih mencicipi sesak melihat segala kesuraman di film ini dibandingkan merasa duka walaupun tetap ada beberapa kepingan yang terasa menyedihkan. Tapi hebatnya "Biutiful" bisa membungkus segala kesuraman tersebut dengan indah. Rodrigo prieto sang cinematographer bisa membungkus "Biutiful" menjadi sajian yang indah ditengah "sepinya" film ini dalam berjalan dan bertutur.

Disaat pengumuman nominasi Oscar kemudian saya sempat terkejut dengan masuknya nama Javier Bardem. Saya sendiri ketika itu belum terlalu mengikuti Cannes Film Festival dimana Bardem berhasil meraih "Best Actor". Saya sempat sangsi apakah memang beliau pantas. Karena bagi saya ketika itu Ryan Gosling (Blue Valentine) dan Ryan Reynolds (Buried) seharusnya masuk nominasi. Tapi selepas menyaksikan aktingnya di film ini segala evaluasi saya berubah. Jika sebelumnya saya menentukan James Franco (127 Hours) sebagai kontender Colin Firth, kini saya meralatnya. Javier Bardem bahkan berakting dengan kelas yang tidak kalah dengan apa yang ditampilkan Firth di TKS. Hanya melalui tatapan matanya Bardem sudah bisa berbicara kepada penonton ditambah begitu banyak shot close up yang makin mengumbar tatapan mata huruf Uxbal. Tatapan mata seorang ayah yang meannggung beban hidup begitu berat. Dan semua itu beliau tunjukkan dengan begitu alami.

RATING:

Ini Lho Mary Poppins (1964)

Walaupun selalu bisa menikmati, kalau disuruh menentukan aku masih lebih menyukai film musikal modern ibarat "Chicago" dan "Nine" daripada yang banyak dianggap klasik ibarat "Gigi". Walaupun feel dari film-film musikal jaman dahulu lebih terasa ceria, tapi aku masih terasa kurang cocok dengan mereka. Hal yang tidak jauh beda bersama-sama bisa terjadi pada ketika aku menonton "Mary Poppins" yang mengantarkan aktris legendaris Julie Andrews meraih Oscar untuk "Best Actress" dimana film ini yaitu debutnya bermain di layar lebar. Tapi untungnya "Mary Poppins" menghadirkan lebih dari sekedar gugusan lagu ceria nan catchy khas film-film musikal pada jaman itu.

George Banks (David Tomlinson) merasa kebingungan dengan tingkah kedua anaknya, Jane (Karen Dotrice) dan Michael (Matthew Garber) yang bandel dan menciptakan nanny mereka tidak pernah bertahan lama. Sebenarnya hal itu terjadi lebih alasannya yaitu mereka kurang menerima perhatian dari kedua orang renta khususnya sang ayah yang terlalu mempentingkan pekerjaannya sebagai karyawan sebuah bank. Disaat Bank mencari pengasuh gres untuk kedua anaknya datanglah Mary Poppins (Julie Andrews) yang melamar untuk pekerjaan tersebut. Ternyata Mary Poppins berbeda dari pengasuh lain. Dengan segala hal magis yang beliau miliki perlahan beliau mulai menciptakan Jane dan Michael menjadi anak penurut sekaligus mencoba memperbaiki relasi ayah-anak itu menjadi harmonis.


Menyaksikan film ini aku menjadi teringat dengan film "Nanny McPhee" yang sama-sama menceritakan seorang Nanny dengan kemampuan sihir yang bisa menciptakan bawah umur bandel menjadi penurut lewat segala hukum yang beliau terapkan. Hal itulah yang menciptakan "Mary Poppins" lebih baik dibanding film musikal lain di jamannya. Cerita yang disuguhkan memang sangat ringan khas film keluarga. Plot yang ada juga bisa dibilang predictable. Tapi segala sihir yang dibawa oleh Mary Poppins nyatanya cukup berhasil menyihir saya. Visual Effect film ini yaitu salah satu keunggulannya. Memang terlihat murahan bila dilihat sekarang, tapi aku tetap merasakannya sebagai sajian yang renyah dan menyenangkan. Menggabungkan live action dengan kartun pada sebuah film musikal untuk menambah kesan aneh yaitu inspirasi cemerlang yang memang bisa menambah keajaiban film ini.
Tapi sekali lagi plot film ini sangat biasa dan memang ditujukan untuk film keluarga. Kalau tidak ada keajaiban-keajaibna dari pengaruh visualnya, film ini akan jadi membosankan bagi aku alasannya yaitu ceritanya memang dibentuk seringan mungkin dan cocok untuk bawah umur tapi kurang menghibur bagi saya. Bagaimana perubahan perilaku yang terjadi pada abjad film ini yang diakibatkan "keajaiban" yang menimpa mereka buat aku sudahlah bau dan kurang menarik lagi. Lain memang kalu dilihat dari sudut pandang bawah umur yang akan menganggap itu sebagai hal yang menarik bagi mereka.

Untuk gugusan lagu terang tidak perlu diragukan lagi. Meski kalah dari "My Fair Lady" yang sesama film musikal untuk nominasi "Best Picture", "Mary Poppins" malah berhasil memenangkan "Best Original Score" dan "Best Original Song" untuk lagu"Chim Cim Cher-ee". Dan keseluruhan lagu yang ada di film ini memang ceria, catchy dan punya lirik yang unik. khas film-film musikal pada masa itu. Penyajian masing-masing lagu juga selalu menarik, entah dari setting lokasi yang sangat unik, hingga pembawaan dari para pemainnya yang selalu prima.

Bicara persoalan pemain, duo Julie Andrews dan Dick Van Dyke terang bintang yang paling bersinar di film ini. Memang hanya Julie Andrews yang menerima nominasi Oscar dan memenangkannya, tetapi penampilan komikal Van Dyke tetaplah memorable dan sangat menarik. Bahkan berdasarkan aku dialah yang terbaik di film ini. Entah itu dari akting biasa, hingga tiba waktunya beliau bernyanyi sekaligus menari dengan segala gestur unik yang bisa beliau tunjukkan. Sama juga dengan Julie Andrews yang dengan bunyi 4 oktafnya bisa menghadirkan performa klasik yang tidak akan terlupakan. Selain itu kecantikannya juga ikut mendukung abjad Mary Poppins yang bisa dibilang yaitu orang yang sempurna.

OVERALL: "Mary Poppins" bisa menghadirkan imajinasi yang aneh dari sebuah film musikal yang memang berdasarkan aku yaitu bab terpenting dari film musikal itu sendiri didukung dengan visual pengaruh yang menarik, lagu catchy dan penampilan luar biasa dari jajaran pemainnya, yang sayangnya dari segi kisah terasa bau untuk saya.

RATING: