Thursday, January 31, 2019

Ini Lho Jermal (2009)

Film ini menceritakan wacana kehidupan yang terjadi di Jermal. Bagi yang belum tahu, Jermal yaitu sebuah kawasan untuk menjaring ikan yang dibentuk dari kayu-kayu dan berada di tengah laut. Di Jermal juga banyak terdapat anak-anak dibawah umur yang dipekerjakan. Film yang disutradarai oleh Ravi Bharwani, Rayya Makarim dan Utawa Tresno ini juga mengisahkan wacana kehidupan orang yang hidup dan sehari-harinya berada di Jermal. Tapi tidak hanya itu, film ini juga mengisahkan kekerabatan antara ayah dan anak yang terpisah usang dan kurang harmonis.

Jaya (Iqbal Manurung) yang ibunya gres saja meninggal pergi menuju jermal untuk menemui sang ayah, Johar (Didi Petet) yang sudah 12 tahun tidak pernah pulang sebab sedang bersembunyi atas tindakan kriminal yang dulu pernah ia lakukan. Tapi sesampainya disana Jaya malah mendapati hal-hal yang tidak menyenangkan. Sang ayah merasa tidak mau mengakuinya dan kekerabatan mereka sangatlah canggung bahkan cenderung kearah permusuhan. Selain itu Jaya juga menerima perlakuan yang tidak pantas alis di-bully oleh anak-anak yang tinggal di jermal. Tapi usang kelamaan Jaya mulai bisa mengikuti keadaan dan berusaha mengetahui masa kemudian apa yang disembunyikan sang ayah. Johar sendiri mulai mencoba mendapatkan keberadaan Jaya walaupun itu tidak gampang baginya dan Jaya.
Jermal terasa sebagai sebuah film yang spesial. Film yang masuk kategori manis di Indonesia sudah banyak, tapi film dengan gaya penceritaan yang unik dan berbeda layaknya film ini sangatlah jarang. Nuansa kesepian para huruf benar-benar tersampaikan lewat penyampaian film ini yang terasa begitu sunyi. iringan musik yang minimalis serta obrolan yang lebih minim lagi serta temponya yang memang lambat jadi faktor utamanya. Apalagi film ini hanya ber-setting di sebuah jermal yang berada di tengah lautan, dengan kata lain hanya satu lokasi sempit itu sajalah yang akan kita saksikan di film ini selain hamparan lautan.

Nuansa film-film eropa atau film-film bazar sangat saya rasakan disini dimana gestur-gestur kecil hingga besar dari tokoh-tokohnya hingga gambar-gambar tertentu yang berbicara dibandingkan obrolan dari para tokohnya. Keunikan yang nyata tersebut makin diperbagus dengan akting yang baik dari Didi Petet dan Iqbal Manurung. Untuk Iqbal sungguh mengejutkan bocah ini bisa menampilkan akting alami. Tidak ada kesan berlebihan atau kurang ekspresif, semuanya pas dan menjadikan kesan penderitaan tersendiri yang ia rasakan.

Untuk Didi Petet memang sudah tidak perlu diragukan dimana pemeran senior ini bisa menyatu dengan baik walaupun saya agak terganggu dengan bagaimana cara ia menghisap rokoknya yang agak terlihat maksa. Entah itu kebiasaan atau memang faktor ia bukan perokok saya tidak tahu. Selain mereka berdua barisan pemeran pendukung lain juga tampil tidak kalah baik. Satu hal lagi yang unik bahwa di film ini semua pemainnya yaitu laki-laki. Satu-satunya perempuan yang muncul yaitu sosok ibu Jaya yang itupun muncul hanya lewat fotonya saja.

OVERALL: Sebuah film lokal yang memiliki rasa layaknya film-film Eropa dan sekelas bazar internasional yang sunyi tapi sungguh menghanyutkan. Satu lagi film Indonesia yang sangat patut untuk dibanggakan!

RATING:

Ini Lho X-Men: First Class (2011)

Setelah sempat tersiar kabar bahwa proyek selanjutnya dari franchise X-Men yaitu "Origns: Magneto" atau "Origins: Deadpool", ternyata yang lebih dulu muncul malah "X-Men: First Class" yang bukan hanya menceritakan sejarah salah satu tokoh dalam X-Men tapi menceritakan asal muasal X-Men itu sendiri. Sebenarnya status film ini dalam franchise X-Men yang diangkat ke layar lebar tidak begitu jelas. Film ini tampaknya tidak mempunyai universe yang sama dengan film-film sebelumnya mengingat ada beberapa huruf yang muncul dengan penokohan dan background yang berbeda. Menganggap film ini reboot juga kurang sempurna alasannya yaitu pada kenyataannya film X4 dan X5 ada kemungkinan dibuat. Kaprikornus tampaknya lebih sempurna mengkategorikan film ini sebagai jalinan kisah gres dari penyesuaian X-Men yang terlepas dari film-film lainnya.

Film ini bersetting pada 1962 dimana ketika itu tengah terjadi perang dingin. Kemudian film berfokus pada masa muda 2 orang tokoh sentral yang membuat mutant terpecah menjadi 2 kubu, yakni Charles Xavier a.k.a Professor X (James McAvoy) dan Erik Lensherr a.k.a Magneto (Michael Fassbender). Keduanya punya background yang berbeda. Xavier yaitu calon professor yang dikenal sebagai andal mengenai mutasi gen manusia. Sedangkan Erik yang masa kecilnya menjadi korban hollocaust kini tengah mencari orang-orang yang bertanggung jawab atas hal itu termasuk maut ibunya untuk  melaksanakan balas dendam khususnya pada Sebastian Shaw (Kevin Bacon).

Shaw sendiri ternyata punya misi terselubung untuk memulai perang nuklir didunia. Shaw ternyata tidak sendiri. Dia dibantu oleh beberapa mutant yang kekuatannya tidak main-main menyerupai Emma Frost (kemampuan telepati dan membuat badan menjadi berlian), Azazel (Mutant berpenampilan menyerupai setan yang bisa teleportasi), Riptide (membuat angin kencang). Menyadari kemampuannya tidak cukup untuk bisa mengalahkan mereka semua, Erik memutuskan mendapatkan permintaan Xavier untuk bergabung dengannya membantu CIA menggagalkan rencana Shaw. Mereka berdua kemudian mulai melaksanakan pencarian terhadap mutant-mutant lain untuk membentuk sebuah team yang bisa mengalahkan Shaw dan mutant-mutant jahatnya.
Apa yang membuat "X-Men: First Class" jauh lebih baik dibanding "X-Men Origins: Wolverine" walaupun sama-sama mengangkat tema sejarah X-Men yaitu bagaimana film tersebut mempresentasikan segala latar belakang tokoh-tokohnya dan bagaimana kejadian-kejadian yang terjadi pada masa itu berdampak kepada kontinuitas kisah X-Men di masa sekarang. Saya tidak mencicipi kedalaman kisah ataupun kisah yang mengena dalam sejarah Wolverine. Yang aku rasakan hanya mutant bercakar yang brutal dan murka serta hilang ingatan dan ceritanya bergulir dengan datar. Memang sosok Wolverine tetap cool dan jadi favorit saya, tapi filmnya tetap hanya bersisi action packed yang kosong.

Tapi dalam "First Class", sutradara Matthew Vaughn berhasil megarahkan film ini menjadi sebuah kisah sejarah mengenai X-Men yang lebih humanis dan berhasil mengisahkan sebuah masa kemudian yang pada alhasil berdampak pada masa kini dengan sangat baik. Lihat bagaimana penggambaran hubungan Charles dan Erik sebagai sobat akrab di film ini. Hubungan mereka berdua digambarkan dengan sangat baik dimana terasa intinya mereka memang punya sifat dan ajaran yang bertolak belakang, tapi atas nama persamaan nasib (mutant) mereka bisa akrab sebagai teman sampai alhasil perbedaan prinsip itulah yang pada alhasil membuat mereka menjadi terpecah sebagai leader X-Men dan Brotherhood of Mutants.

Faktor akting dari Michael Fassbender dan James McAvoy juga sangat berpengaruh. Keduanya membawakan sosok Charles dan Erik dengan begitu baik, dan berhasil membuat chemistry yang sangat kuat. Hal itulah yang membuat walaupun final film ini sudah diketahui hasilnya aku tetap bisa tersentuh dengan ikatan yang terjadi pada mereka sampai alhasil mereke menjadi musuh besar di kemudian hari. Selain drama yang baik, film ini juga tidak lupa menghadirkan action yang tidka kalah menghibur. Walaupun tidak mempunyai imbas Istimewa yang memukau untuk ukuran summer movie berbujet cukup besar (dimana itu kelemahan terbesar film ini) tapi semua adegan action yang ada sangat menghibur apalagi ditambah kekuatan para mutant yang menarik dan gres bagi orang awam dunia komik X-Men menyerupai aku yang cukup bosan dengan sabetan cakar Wolverine alasannya yaitu bintang di film ini yaitu ERIK alias MAGNETO! Oya, si insan cakar juga muncul sebagai cameo dalam salah satu scene paling lucu berdasarkan aku di film ini. Sebuah awal gres yang sangat memuaskan bagi para mutant yang selain punya action menghibur (khususnya Magneto) film ini juga punya kedalaman dongeng yang bagus. Sepertinya trilogi gres X-Men tidak akan menunggu usang untuk terjadi.

Ini Lho Finding Neverland (2004)

Menyenangkan rasanya melihat film yang berisikan Johnny Depp memerankan tugas orang normal dengan sangat baik walau tetap agak nyentrik ditemani oleh Kate Winslet yang walaupun bukan penampilan terbaiknya tapi aktingnya disini masih tergolong bagus. Tidak lupa film ini memperlihatkan kesan "magical" tersendiri bagi penontonnya yang mau berimajinasi dan sejenak meninggalkan pikiran serius mereka sebagai orang cukup umur dan menjadi bocah kembali dengan imajinasi yang tanpa batas sehingga pada hasilnya mereka akan menemukan "Neverland" yang dalam film ini tersaji dalam sebuah drama yang menyentuh sekaligus indah.

J.M. Barrie (Johnny Depp) gres saja menemui kegagalan pada pertunjukkan teater yang beliau buat ceritanya dan beliau sutradarai dimana pertunjukkan itu menciptakan penonton mengantuk dan dikritik jelek oleh para pengamat. Tidak menerima pemberian moril yang cukup dari sang istri, Mary (Radha Mitchell), Barrie menentukan berjalan-jalan sendirian bersama anjingnya ditaman. Disana beliau bertemu dengan Sylvia (Kate Winslet) seorang janda yang mempunyai 4 putera.

Tidak butuh waktu usang bagi Barrie yang memang cukup unik untuk menarik perhatian Sylvia dan anaknya kecuali Peter (Freddie Highmore) yang memang menjadi pemurung sejak ayahnya meninggal. Tapi Barrie tidak mengalah dan berusaha menyenangkan Peter. Bahkan usang kelamaan Barrie lebih bersahabat dengan Sylvia dan anak-anaknya daripada sang istri dan menciptakan pernikahannya diujung tanduk. Tapi dibalik itu semua Barrie sedang meniti langkah untuk menciptakan salah satu kisah paling legendaris dan magical, yaitu "Peter Pan".
Seperti yang sudah saya singgung diatas, salah satu pilar utama film ini ialah duo Depp-Winslet yang memperlihatkan performa yang bagus. Untuk Depp aktingnya disini menjadi satu dari total 3 tugas dimana beliau menerima nominasi "Best Actor" Oscar (2 lainnya ialah sebagai Jack Sparrow & Sweeney Todd). Hebatnya ini ialah satu-satunya tugas dimana beliau menjadi orang normal walau tetap mempunyai keunikan. Johnny Depp ialah salah satu bintang film favorit saya dan ialah sebuah momen yang luar biasa menyenangkan melihat aktingnya di film ini. Bahkan akting para bocah khususnya Freddie Highmore cukuplah menerima acungan jempol.

Dari segi dongeng apabila anda pernah membaca biografi Barrie yang sebetulnya atau paling tidak membaca kisahnya dan anda menonton film ini dengan keinginan menerima isu komplemen yang akurat anda akan kecewa. Naskah yang ditulis di film ini memang didasarkan kehidupan J.M Barrie tapi sebetulnya tujuan utama film ini bukanlah untuk memperkenalkan sosok pencipta Peter Pan itu lebih jauh tapi memperkenalkan cara pikirnya yang penuh imajinasi dan seakan sanggup membawa kehangatan dan keceriaan.


OVERALL: Dalam menonton film ini sejenak lupakanlah cara pikir orang cukup umur dalam hal ini lupakanlah ketidakakuratan film ini dari sisi sejarah, dan tanamkan cara pikir bawah umur yang imajinatif dalam hal menikmati film ini dengan apa adanya dan mengikuti Barrie terjun ke alam khayalnya di Neverland, maka anda akan mencicipi sebuah film yang menyentuh khususnya dari bab pementasan Peter Pan berlangsung hingga selesai film. Tapi jikalau anda ngotot mempertahankan pikiran anda wacana keakuratan sejarah maka yang anda temui hanya biopic gagal yang berisi melodrama belaka.

RATING:

Ini Lho Pirates Of The Caribbean: On Stranger Tides (2011)

Franchise POTC dan huruf Captain Jack Sparrow bisa dibilang ialah sebuah comfort zone bagi pihak Walt Disney selaku biro dan Johnny Depp yang menjadi sang tokoh utama. Franchise ini ialah mesin pengeruk uang yang sangat menguntungkan. Tiga filmnya yang berhasil mengumpulkan pendapatan diatas $2 milyar dari peredarannya diseluruh dunia ialah bukti tak terbantahkan bahwa walaupun makin kesini filmnya makin dihajar kritik sebab penurunan kualitas, petualangan sang kapten eksentrik terbukti sangat menjual. Untuk Depp sendiri, huruf Jack Sparrow yang sudah ia perankan 3 kali dan mengahsilkan 1 nominasi Oscar dan 2 Golden Globe menyebabkan huruf itu sudah sangat lekat pada dirinya.

Karena itulah walaupun tanpa Orlando Bloom dan Keira Knightley serta sutradara Gore Verbinsky, film keempatnya ini tetap dibuat. Sebagai sutradara, Rob Marshall digaet. Sedangkan Penelope Cruz dijadikan "pendamping" bagi sang kapeten Jack. Cerita film ini masih melanjutkan simpulan film ketiganya dimana Jack Sparrow yang kembali kehilangan kapal dan krunya oleh Captain Barbossa (Geoffrey Rush) sedang melaksanakan perjalanan mencari Fountain of Youth. Ditengah perjalanan ia bertemu kembali dengan perempuan dari masa lalunya, Angelica (Penelope Cruz) yang juga mengarah ke tujuan yang sama dengannya. Pertemuan dengan Angelica membawa Jack keatas kapal seorang bajak maritim yang paling ditakuti, Edward Teach alias Blackbeard (Ian McShane) yang juga mengincari mata air tersebut. Selain mereka, Barbossa yang sekarang berada di pihak angkatan maritim Inggris juga mengarah ke kawasan yang sama tapi dengan tujuan yang tampaknya berbeda.

POTC terbukti bisa tetap hidup walaupun tanpa Bloom dan Kinghtley ataupun sutradara Gore Verbinski sebab nyawa utama film ini memang Johnny Depp. Dan untuk kiprahnya sebagai Jack Sparrow, Depp terlihat makin luwes dalam aktingnya sebab Jack Sparrow memang sebuah comfort zone bagi Depp. Dia sendiri yang menghidupkan huruf ini, maka tidak ada pola yang terlalu niscaya untuk menyampaikan aktingnya kurang. Paling yang bisa dilihat hanya karakterisasi Jack Sparrow yang sepanjang franchise film ini bila diperhatikan kadang sedikit berbeda.
Tapi sehebat apapun, Depp tetap tidak bisa mengangkat film ini sendirian. Karena itulah keputusan mempertahankan Barbossa ialah hal yang sempurna sebab relasi Sparrow-Barbossa sebagai 'kawan tapi lawan' ialah hal yang menarim disimak. Selain itu, masuknya Penelope Cruz memang membantu film ini tetap hidup dan bertenaga. Ian McShane sebagai Blackbeard juga cukup cantik walaupun sosok Blackbeard nyatanya tidak semengerikan dan sesadis ibarat apa yang diceritakan sebelum sosoknya muncul secara nyata.

Film ini juga merupakan film POTC yang durasinya paling pendek, yaitu "hanya" sekitar 130 menit tapi nyatanya film ini tidak terasa sesingkat itu. Memang plot film ini tidak selambat yang dikritik orang, tapi saya tetap tidak merasa bahwa installment keempat ini mempunyai sebuah kisah yang menarik diikuti apabila tidak diisi oleh tokoh-tokoh yang menarik. Jalan ceritanya terlalu biasa dan tidak semenarik atau mungkin serumit film-film sebelumnya. Boleh saja film ini mengalami penyederhanaan cerita, tapi seharusnya dibarengi dengan peningkatan adegan agresi yang seru. Tapi nyatanya adegan aksinya juga tidak ada yang spesial. Apa yang menciptakan saya cukup terhibur ialah sebab para pelaku adegan agresi biasa saja itu ialah akrakter yang tidak mengecewakan menarik dan unik, andaikan film ini hanya menghadirkan bajak maritim waras biasa saja, saya jamin filmnya hanya sebagai pengantar tidur.

OVERALL: Comeback yang kurang menggigit dari Jack Sparrow tapi masih bisa tidak mengecewakan menghibur dan masih mampu meraih penghasilan luar biasa (diatas $1 Milyar) yang tampaknya akan menjadi pembuga bagi trilogi gres franchise ini.

RATING:

Ini Lho In The Mood For Love (2000)

Film yang menyoroti kehidupan rumah tangga selalu punya sisi yang dalam untuk ditelusuri. Tahun 2010 kemudian memunculkan beberapa film bertema tersebut dan aku menonton "Rabbit Hole" dan "Blue Valentine". Keduanya sama-sama mengangkat info bahwa "Pernikahan itu tidak mudah" dalam perkara yang berbeda. "Rabbit Hole" mengenai krisis rumah tangga yang diakibatkan perasaan stress dan bersalah akhir kehilangan anak, sedangkan "Blue Valentine" mengisahkan krisis disaat sudah tidak ada lagi rasa cinta diantara dua sejoli yang menjalin pernikahan. Tepat 10 tahun sebelum kedua film itu rilis, sutradara kawakan Wong Kar-wai juga merilis film mengenai ijab kabul yang punya sudut pandang dan info yang berbeda. Yang beliau angkat yaitu mengenai perselingkuhan.

Film yang berlatar tahun 60an tepatnya dimulai tahun 1962 ini mengisahkan perihal 2 orang yang sama-sama sudah berkeluarga yaitu Mr. Chow (Tony Leung) dan Mrs. Chan (Maggie Cheung) yang sama-sama gres pindah ke sebuah apartemen atau lebih tepatnya menyerupai kamar dimana keduanya menjadi tetangga yang bersebelahan. Keduanya juga punya persamaan dalam ijab kabul mereka, yaitu sama-sama jarang berkumpul dengan pasangannya. Istri Mr.Chow sering kerja lembur bahkan tidak pulang. Sedangkan suami Mrs.Chan sering keluar negeri untuk urusan pekerjaan.

Sampai kesannya mereka menyadari bahwa pasangan mereka berselingkuh satu sama lain. Hal itu yang kesannya malah mendekatkan mereka dimana kedekatan itu awalnya tercipta alasannya yaitu mereka ingin mengetahui bagaimana perselingkuhan itu terjadi dan mulai berakting layaknya pasangan masing-masing yang sedang berselingkuh. Tapi nampaknya cinta kesannya mulai tumbuh secara faktual diantara mereka.
Yang dihadirkan Wong Kar-wai yaitu sebuah film romantis yang begitu unik. Kesan sepi dan misterius menyelimuti film ini. Salah satu penyebabnya yaitu penggambaran perihal huruf suami Mrs.Chan dan istri Mr.Chow yang keduanya tidak pernah diperlihatkan wajahnya dan hanya bunyi atau sosok belakangnya saja. Plot-nya juga lambat dan sering memakai teknik slow motion yang mungkin agak melelahkan dan membuat gemas bagi orang yang anti terhadap plot lambat. Keunikan lain yang ada yaitu kita akan dibentuk ingin tau akan kenyataan yang hadir, yaitu belahan manakah dari perbuatan dan perkataan Mr.Chow dan mrs.Chan yang merupakan kenyataan dan mana yang hanya akting. Inilah film yang menyuguhkan akting didalam akting. Yang terang semua aspek-aspek diatas menyeret kita kepada kesan sepi dan misterius dimana perasaan macam itulah yang dirasakan 2 tokoh utama film ini.

Lain lagi kalau kita mendengarkan iringan musiknya yang membuat kesan begitu elegan. Derettan musik tema yang dihadirkan memang begitu melengkapi suasana sehingga kita tidak akan diajak pada suasana sepi yang muram dan depresif tapi lebih kearah sepi yang elegan. Bagian musik favorit aku yaitu musik yang mengiringi adegan slow motion yang dengan sangat indah bisa mengiringi adegan-adegan yang tersaji. Oya, disini juga bisa didengar walaupun hanya beberapa detik lagu "Bengawan Solo" versi mandarin.

Bagaimana film ini menyajikan tema perselingkuhan juga istimewa.Berbeda dengan film Holly yang mengambil tema serupa, "In the Mood for Love" yaitu film yang berlokasi di Hong Kong yang notabene masih termasuk negara Asia yang mempunyai budaya ketimuran. Apalagi setting waktu film ini yaitu tahun 60an yang tentunya membuat perselingkuhan masih sangatlah tabu bahkan lebih tabu dan terlarang dari dikala ini ditinjau dari nilai akhlak dan sosial di masyarakat. Perselingkuhan memang salah satu tantangan terberat dalam pernikahan.

OVERALL: Sebuah dongeng cinta, ijab kabul dan perselingkuhan yang begitu misterius dan mempunya kesan yang mendalam meskipun berjalan dengan alur yang cukup lambat.


RATING: 

Ini Lho Pengabdi Setan (1980)

Tidak disangka 12 tahun sebelum saya lahir ternyata Indonesia pernah menciptakan film horror yang kualitasnya diakui tidak hanya didalam negeri bahkan diluar negeri hingga menyandang status cult diantara pecinta horror khususnya di Asia. Film yang diluar negeri dirilis dengan judul "Satan's Slave" ini memang sangat berpengaruh. Bahkan film ini sukses memperlihatkan tren gres bagi film horror lokal yang satu itu lebih condong bertema agama Katolik atau Buddha menjadi Islam dengan menghadirkan kiai cendekia sakti di pecahan titik puncak atau final film untuk mengusir setan.

Sebuah keluarga gres saja mengalami kehilangan disaat sosok istri sekaligus ibu dalam keluarga tersebut meninggal dunia. Yang paling mencicipi dampaknya yaitu Tomi, si anak bungsu yang sampai-sampai berguru ilmu hitam sebab kehilangan pegangan sesudah janjkematian sang ibu. Kakaknya, Rita juga menghabiskan malamnya untuk pergi disko dan ber-ajojing ria bersama pacarnya, Herman. Sedangkan sang ayah sibuk dengan pekerjaannya. Hal itu masih belum ditamah munculnya kejadian-kejadian absurd yang menimpa mereka menyerupai salah satunya kemunculan sosok perempuan menyeramkan yang menyerupai ibu mereka yang sudah meninggal. Untuk menciptakan rumah menjadi lebih kondusif, ayah mereka memakai jasa pembantu berjulukan Darminah. Tapi kedatangan Darminah yang misterius justru memperburuk suasana dimana insiden absurd makin banyak terjadi.
Opening film ini yaitu salah satu opening yang paling bikin saya merinding bahkan berhasil membatalkan niat saya untuk menonton film ini pada tengah malam. Oke, film ini memang dibuka dengan adegan pemakaman dengan tata cara Islam dilanjutkan dengan pembacaan Yasiin dan bukan berarti saya menganggap acara mengaji yaitu hal yang menyeramkan, tapi yang menciptakan saya menyeramkan yaitu suasana yang dibangun. Adegan ihwal janjkematian dalam film horror tingkat keseramannya buat saya tidak tergantung pada seberapa sadis tapi bagaimana suasana yang dibangun, dan adegan pemakaman ini yang notabene sangat bersahabat dengan kehidupan sehari-hari sukses menciptakan saya merinding ngeri.

Setelah itu yang disajikan pada kita yaitu sebuah sajian horror yang disajikan secara nrimo oleh pembuatnya murni untuk menciptakan film horror bermutu yang bertujuan untuk menakuti penontonnya dan bukan hanya mencari sisi komersialitas belaka. Oke, kalau dilihat kini alias 31 tahun sesudah filmnya dirilis memang sangat banyak kekurangan dari film ini mulai dari akting yang kaku dan tidak pas, imbas dan make up yang masih sederhana(tapi tetep ngeri), plot yang terlalu banyak lubang, hingga kekurangan dalam segi teknis. Salah satu kesalahan yang paling saya ingat yaitu adegan Herman naik motor yang tiba-tiba helmnya berubah jenis. Tapi itu sebab kita melihatnya dari jaman sekarang. Jika menjadi penonton dimasa itu saya yakin film ini sudah amat sangat menyeramkan. Lagipula beberapa plot hole dan kesederhanaan imbas dan banyak sekali kesalahan lainnya terasa bagaikan sebuah humor yang terselip diantara keseraman yang ditawarkan.

Ini Lho Seven Samurai (1954)

Akhirnya saya berkesempatan menonton film karya Akira Kurosawa, dan film pertama dari sineas legendearis Jepang tersebut yang saya tonton ialah "Seven Samurai". Tentunya semua penyuka film setidaknya pernah mendengar ihwal film ini. Saya sendiri malah sudah menonton remake-nya yang dibentuk Hollywood dengan judul "The Magnificent Seven" yang rilis 6 tahun sesudah film originalnya. FYI film ini dianggap sebagai salah satu film terbaik sepanjang masa sekaligus film yang punya efek cukup besar pada perkembangan perfilman tidak hanya di Jepang tapi juga di seluruh dunia.

Alkisah di sebuah desa yang penduduknya bekerja sebagai petani sering terjadi perampasan yang dilakukan oleh sekelompok durjana yang terdiri dari 40 orang. Tidak hanya harta benda sekaligus masakan yang dirampas, tapi juga gadis-gadis desa ikut dibawa pergi oleh bandit-bandit tersebut. Penduduk desa yang sudah tidak tahan ingin melawan tapi sadar bahwa mereka hanya petani dan tidak akan sanggup menandingi durjana kejam tersebut. Atas saran tetua desa, 4 orang penduduk desa pergi kekota untuk merekrut samurai yang mau melindungi mereka dengan bayaran kecil.

Bayaran yang kecil memang mepersulit pencarian mereka. Sampai disaat rasa putus asa sudah menghampiri mereka bertemu dengan Kambei Shimada (Takashi Shimura) seorang samurai dengan kemampuan tinggi yang mereka lihat mau menolong orang tanpa imbalan besar. Walaupun awalnya menolak, alasannya kasihan melihat penderitaan warga desa tersebut Kambei kesannya mendapatkan ajuan tersebut. Setelah menyusun seni administrasi dasar, diputuskan bahwa mereka akan merekrut 6 orang samurai lagi sehingga nantinya akan lengkap 7 samurai yang akan melindungi desa tersebut dari serbuan para bandit.
Selama nyaris 3,5 jam Akira Kurosawa menyuguhkan salah satu pengalaman menonton film paling mengesankan sepanjang hidup saya. Dalam melihat manis atau tidak sebuah film, yang pertama saya lihat ialah apakah saya bosan atau setidaknya ada momen yang menciptakan saya sejenak memalingkan mata untuk beristirahat. Tapi "Seven Samurai" dengan durasinya yang begitu panjang tidak mempunyai satupun momen menyerupai itu. Perasaan ini mengingatkan saya pada pengalaman menonton "The Godfather". Padahal selain durasinya lama, film ini masih merupakan film hitam putih, Bahkan dari segi sound, suaranya pun masih belum stereo. Tapi ditengah segala keterbatasan itu, rangkaian gambar yang disajikan Akira Kurosawa.

Dengan sangat luar biasa film ini menggabungkan secara seimbang antara drama dan adegan agresi super seru dan menegangkan. Padahal secara garis besar dongeng film ini sudah saya ketahui dari melihat remake-nya dan melihat film yang mempunyai plot yang cukup menyerupai yang dirilis tahun lalu, "13 Assassins". Tapi sekali lagi hal itu sama sekali tidak menciptakan saya bosan. Rasanya setiap adegan punya daya tariknya sendiri. Salahs atu faktor yang bisa menciptakan itu terjadi ialah karakterisasi yang menarik dari setiap tokohnya, khususnya 7 samurai yang menjadi pendekar utama khususnya tokoh Kikuchiyo yang diperankan Toshiro Mifune yang dengan omongan dan tingkah lakunya tidak hanya bisa menghibur warga desa tapi juga penonton.

Hal kasatmata lain yang menciptakan film ini begitu menarik bagi saya ialah alasannya kisahnya yang begitu membumi dalam artian cukup logis khususnya di bab peperangan. Berbeda dengan "13 Assassins" yang terlalu 'wah' dan canggih atau "The Magnificent Seven" yang lebih menonjolkan machoisme, "Seven Samurai" meskipun epic tapi lebih bisa diterima budi dan juga mempunyai hati. Apabila ada satu abjad terbunuh, setidaknya saya akan merasa bersimpatik. Saya juga sempat mengkritisi 2 film diatas yang berdasarkan saya kurang memperhatikan jumlah perbandingan antara pendekar dan musuhnya agar menciptakan filmnya terliaht lebih epic (keliahtannya musuh tidak habis-haibs). Tapi "Seven Samurai" menciptakan saya puas alasannya mereka memperhitungkan hal itu dengan cara menghitung jumlah pasukan musuh dan menyilangnya setiap ada 1 musuh yang berhasil dibunuh. Kalau dibandingkan remake-nya (yang termasuk bagus) film ini jauh lebih superior. Yak, "Seven Samurai" ialah salahs atu film terbaik yang pernah saya lihat. Sebuah 207 menit yang luar biasa!