Showing posts with label Thriller. Show all posts
Showing posts with label Thriller. Show all posts

Thursday, February 14, 2019

Ini Lho Shutter Island (2010)

 Nih film disesuaikan dari novel berjudul sama Ini Lho SHUTTER ISLAND (2010)
Nih film disesuaikan dari novel berjudul sama. Disini diceritain biro US Marshall Tedy & patnernya Chuck dapet misi nemuin seorang hilang berjulukan Rachel Solando di sebua pulau berjulukan Shutter Island. Pulau ini isinya yaitu para pelaku kejahatan tapi mempunyai gangguan mental. Kayak RSJ khusus penjahat lah. Tapi ternyata misinya gak sesederhana itu. Di pulau itu juga banyak misteri2 lain. Teddy juga mulai curiga kalo disini jadi kawasan eksperimen terhadap otak manusia. Di pulau ini ia juga nyari seorang berjulukan Andrew Laddies yang jadi pembunuh istrinya dulu. Kabarnya Andrew dikirim ke pulau ini. Mulailah penyelidikan. 

Jangan kira seorang Leonardo di Caprio cuma modal tampang & cuma dapat meranin tugas melankolis kayak di film Titanic ato Romeo & Juliet. Di sini aktingnya manteb! Sebagai penyelidik dan pencari pembunuh istrinya, ia bener2 menjiwai lo. Dari segi cerita, ni film bener2 gak dapat ditebak alurnya. Kaprikornus kita juga secara gak pribadi diajak mikir apa yang terjadi di pulau ini. Film yang ringan, tapi agak berat juga. Overall film ini mungkin buat penonton yang cuma ingin dihibur dengan adegan2 kayak di film ringan macam tansformers bakal pusing & bosen lait film ini. Tapi kalo pngen liat film berkualitas, tonton film ini.

RATING : 

 

Ini Lho The Lovely Bones (2009)

 Kalo denger nama itu niscaya yang keinget Trilogy epic The Lord of the Ring Ini Lho THE LOVELY BONES (2009)
Peter Jackson. Kalo denger nama itu niscaya yang keinget Trilogy epic The Lord of the Ring, keberingasan King Kong ato film2 horor aneh jadul. Tapi gimana kalo Peter Jackson bikin film drama yang puitis macam Lovely Bones yang diangkat dari novel berjudul sama??? Ini yang patut ditunggu.

Susie Salmon ialah cewek 14 tahun yang tinggal di keluarga senang bersama kedua ortu & adik cewek & adik cowoknya. Sebuah keluarga ideal yang hidup rukun penuh kedamaian. Sampe suatu hari pas pulang sekolah, beliau lewat di sebuah ladang jagung. Disana beliau ketemu tetangganya yang berjulukan George Harvey. Setelah diajak mampir, Susie mulai curiga sama sikap asing George yang ternyata seorang pedofil. Susie yang nyoba lari gagal & tewas sehabis diperkosa. Kehidupan keluarganya jadi berantakan. Sang ayah depresi & nyoba nyari sang pembunuh. Sedangkan ibunya gak berpengaruh dengan kelakuan suami & milih pergi dari rumah.

Susie sendiri di alam sana sudah hampir masuk surga. Sampe hasilnya beliau milih tetep tinggal di alam antara duania & akhirat. Disana beliau memantau keadaan keluarganya serta keadaan pembunuhnya.  Kalo denger nama itu niscaya yang keinget Trilogy epic The Lord of the Ring Ini Lho THE LOVELY BONES (2009) Dia masih nyimpen dendam. Keluarga Susie juga masih depresi gara2 mayat Susie belum ketemu. Sampe suatu hari Susie tahu sang pembunuh juga ngincer nyawa adiknya. berhasilkah keluarga Susie nemuin identitas si pembunuh? Apa Susie dapat meninggalkan dunia dengan tenang?

 






Wow, kayak bukan tipe film Peter Jackson. narasi yang dibangun berasa puitis banget. begitu juga sama plotnya yang banyak mengandung maksud disetiap insiden yang terjadi. Intinya kita disuguhin sebuah adegan aneh buat menawarkan sebuah kejadian.Salah satu ekunggulan film ini ada di imbas dunia dimana Susie tinggal sebelum ke surga. Absurd, Unik , tapi indah. Walopun gak sereal Avatar & gak seunik Imaginarium of doctor parnassus, tapi tetep ini dunia indah yang berhasil dibangun PJ.

OVERALL : Film ini "katanya" terlalu sedrhana & gak seindah & sebagus novelnya. Makanya banyak pecinta novel Lovely Bones yang mencerca ni film. Tapi bagiku yang belum pernah baca, ni film bagus. Bagi yang belum pernah baca bakal nganggep ni film yang indah & puitis.

RATING : 

 

Ini Lho The Road (2009)

 Film ini biasanya bercerita wacana seorang tokoh utama yang berusaha survive disaat duni Ini Lho THE ROAD (2009)
Film post-apocalyptic emang udah makin banyak sekarang. Film ini biasanya bercerita wacana seorang tokoh utama yang berusaha survive disaat dunia udah mendekati final zaman & udah ancur-ancuran lantaran banyak sekali sebab. Film kayak gini misalnya I Am Legend, Terminator Salvation ato yang paling gres The Book of Eli. Semuanya int ceritanya sama. Satu kesamaannya adalah, tokoh utamanya selalu orang terlatih, ahli sabung & survive. Tapi gimana kalo tokoh utama di film genre begini ialah orang yang sama sekali gak punya kemampuan Istimewa ataupun sejnjata memadahi? The Road menceritakan hal itu.

Dunia sudah diambang kehancuran. Di kondisi kayak gitu, seorang ayah & anak berusaha terus survive berjalan untuk bertahan hidup. Mereka cuman berbekal masakan seadanya & pistol yang isinya cuma 2 butir peluru. Celakanya, mereka gak cuma harus bertahan dari kelaparan & kondisi alam, tapi juga dari serangan insan lain. Yap, masih ada beberapa insan hidup, tapi kebanyakn udah menjadi KANIBAL!
Mereka bertahan hidup secara berkelompok & ngeburu orang-orang lain yang mereka temuin.
Disini juga diceritain secara flashback, gimana bisa sang ibu meninggalkan keluarganya walopun gak diketahui niscaya tuh ibu mati ato nggak. Apakah ayah-anak ini bisa terus bertahan hidup?
 Film ini biasanya bercerita wacana seorang tokoh utama yang berusaha survive disaat duni Ini Lho THE ROAD (2009)










Two Thumbs UP!!! Ini film yang beda. Disini kita seakan ngeliat sebuah insiden nyata. KArena gak ada tuh yang namanya adegan action buat bertarung menyelamatkan diri. Ato tindakan sok satria buat nyelametin orang lain dari serangan apra kanibal. Yang ada cuman seorang ayah yang ngelindungin anaknya tanpa peduli nasib orang lain, yang penting mereka berdua bisa terus bertahan hidup. Hal kayak gini logis banget terjadi di tiap orang dalam kondisi kepepet begitu. Di film ini juga digambarain gimana berharganya aktivitas "MANDI" di jaman itu, bener2 bikin miris, lantaran hal kayak gini juga sangat mungkin terjadi di masa depan (FYI semoga meranin karakternya bisa total, para cast di film ini sengaja gak mandi selama syuting!)

Settingan dunia di film ini juga berasa real. Gelap, surem gada keinginan hidup lagi dah rasanya. Menonton film ini kayak nonton sebuah semi-dokumenter. Mungkin bakal banyak orang yang bosen ngeliat film ini lantaran gak banyak sisi action yang ditampilin. Tapi aku sendiri merasa terhibur sama kerealistisan film yang diangkat dari novel berjudul sama ini. Akting ayah-anaknya juga chemistry keduanya bagus. Semua terlihat terjalin secara alami dari awal sampe selesai.

OVERALL : Ini bukan film yang bisa dinikmati tiap orang. Tapi kalo pengen liat film post-apocalypticic yang beda, tonton film ini.

RATING : 

 

Ini Lho The Wolfman (2010)

akhir ini makhluk jejadian macam Vampir  Ini Lho THE WOLFMAN (2010)
Akhir-akhir ini makhluk jejadian macam Vampir & Werewolf lagi ngetren (Thanks to Twilight & Underworld) Tapi mereka gak lagi dibikin sebagai makhluk serem. Image serem udah ngilang. yang ada justru image cool ato gaul. Udah jarang kayanya film yang mengangkat tema horror dengan makhluk jejadian sebagai sang penebar teror. Tapi tahun ini film seupa muncul lagi. The Wolfman itu remake dari film horo berjudul sama yang rilis tahun 1941 tapi plotnya agak dirubah dari film aslinya.

Lawrence Talbot dapet kabar adiknya, Ben Talbot terbunuh di kampung halamnnya Blackmoor. Lawrence yang semenjak kecil terasing dari keluarganya & kurang suka sama sang ayah dengan berat hati pulang alasannya yaitu pengen tahu apa sebenernya yang menimpa sang adik kesayangan. Pas pulang, ia liat mayit sang adik udah gak terang bentuknya. Makhluk apa yang sanggup ngebunuh & mencincang orang sampe segitunya? Penyelidikannya dimulai sampe suatu malam ia ketemu sama sesosok werewolf! Dia mulai ngeburu tuh makhluk yang berujung Lawrence digigit sama tuh werewolf.
Beruntung ia masih hidup. Tapi gigitan itu punya imbas lain. Lawrence juga berubah jadi werewolf. Selain berusaha nyari siapa pembunuh Ben, ia juga berusaha menghindar dari kutukannya sendiri sebagai werewolf dan menghindar dari kejaran Inspector Francis Aberline (tokoh yang ini bukan rekaan, ia inspektur aktual yang dulu nanganin kasus Jack The Ripper)
akhir ini makhluk jejadian macam Vampir  Ini Lho THE WOLFMAN (2010)








Aku resah sama genre film satu ini. Sang sutradara pengen bikin film horor, tapi gak ada seremnya sama sekali. Emang ada banyak adegan sadis, tapi itu gak cukup buat bikin serem. USahanya buat bikin penonton kaget lewat banyak false alarm juga gagal. Malah terlalu banyak false alarm. Kaprikornus lama-lama basi. Kayanya Joe Johnston sang sutradara terlalu kebawa unsur film underworld. Kaprikornus film ini malah berasa film epic, bukan horor. Apalagi di endingnya.

Tapi film ini juga bukan film yang jelek sebenernya. Setting kota Blackmoor jaman dulu yang dibikin emang bagus. Terasa realistis. Dan ada adegan di film ini yang mungkin bakal ikonik. Yaitu proses transformasi Lawrence buat jadi werewolf yang beneran realistis dan diperlihatkan detil.

OVERALL : Ini bukan film jelek sebenernya, tapi alasannya yaitu sebagai film horor film ini gagal bikin serem, jadi nii termasuk film yang gagal. Karena itu juga pendapatannya di Box Office gagal.

RATING : 

 

Ini Lho The Box (2009)


Awalnya aku cuma tertarik nonton ini alasannya yaitu genre thriller yang ditawarin. Setelah cari informasi dan tahu sutradaranya yaitu Richard Kelly yang ngebikin film cult "Donnie Darko" aku jadi makin penasaran. alasannya yaitu film bikinan Kelly macem D.Darko yaitu film yang punya "rasa" tersendiri. Cara bertutur dan ceritanya unik sehingga banyak orang yang gak suka alasannya yaitu dianggpa bikin bingung. tapi gak sedikit pula yang jatuh hati akrena dianggap film itu berkualitas & beda. Saya sendiri masuk golongan yang kedua. Film the Box sendiri yaitu pembiasaan dongeng pendek berjudul "Button, Button" yang juga pernah disesuaikan ke salah satu episode serial "Twilight Zone".

Norma & Arthur yaitu pasangan suami istri yang rukun. mereka punya anak berjulukan Walter. Hidup mereka tenang. Sampe suatu hari mereka dapet kabar jelek dari pekerjaannya masing-masing yang terperinci bikin kondisi ekonomi mereka seret. Suatu hari mereka mendapati ada sebuah kotak kayu yang diatasnya terdapat sebuah tombol yang tertutup kotak beling yang terkunci. Dan disertai surat kalo ada seseorang berjulukan Mr.Steward yang akan datang. Bener aja, keesokan harinya Mr. Steward dateng & njelasin wacana tuh kotak yang kalo dipencet tombolnya, mereka bakal dapet 1JUTA DOLLAR!

Tapi sebagai gantinya akan ada seseorang yang mati, siapapun itu. Terdorong kondisi keuangan yang seret, Norma atas persetujuan sang suami mencet tuh tombol. Dan bener aja, keesokannya Mr.Steward nyerahin tuh uang & emang bener di suatu daerah lain terjadi sebuah pembunuhan. Setelah itu hidup keluarga ini mulai menemui banyak sekali macem hal abnormal yang diluar nalar.

Lagi-lagi emang film yang cukup sulit dicerna orang biasa. Walopun untuk standar Kelly sebenernya The Box sedikit lebih sederhana. Banyak konflik yan rada berat dicerna. Tapi itu semua dihadirkan dengan cukup menarik. Walopun aku hampir gak ngerasain ketegangan di film ini, tapi tetep aja ingin tau apa yang sebenernya terjadi (tapi garis besar film ini udah cukup tertebak di pertengahan film). Sangat terlihat Kelly nyoba sedikit mainstream disini. FYI, kayanya sebelum The Box gak ada film Kelly yang di peredarannya meraup untung, bahkan selalu rugi. Mungkin alasannya yaitu beratnya cerita. nah, di The Box risikonya ia dapet untung walopun cuma sedikit.

Film ini sendiri punya setting di tahun 1976. Dan emang setting lokasinya berasa banget. gak cuma itu, aura 70an juga terasa di sepanjang film, entah dari musik, sinematografi dan hal-hal lain. Saya sendiri ngerasa menyerupai liat film di tahun 70-80an. Apakah itu salah? Sama sekali enggak. Tiap sutradara emang harus punya style masing-masing, kayak dunia-dunia abnormal Tim Burton, banjir darah Quentin Tarantino, ato special effect jor-joran Peter Jackson & James Cameron.

OVERALL: Bukan film untuk semua orang, selain itu ketegangan kurang berasa. Untungnya masih sanggup menciptakan ingin tau & ceritanya menarik.

RATING: 


Ini Lho Balibo (2009)


Ini ia film yang beberapa waktu kemudian mengundang kontroversi di Indonesia. Kabarnya film ini mengandung muatan polistis yang sangat menyudutkan Indonesia. Film ini sendiri sempat dicekal di beberapa tempat di Indonesia termasuk pameran Jiffest. Tapi pelarangnan pemutaran film ini justru bikin penasaran. Saya sendiri merasa gak mungkin terdoktrin oleh film ini, makanya aku terus nyari nih film.

Dikisahkan 5 wartawan Australia sedang meliput ketegangan yang terjadi di Timor Leste tahun 1975. Saat itu Indonesia emang lagi nginvasi Timor Leste a.k.a Timor Timur. Kelima jurnalis ini nekat untuk meliput di tempat berjulukan Balibo yang berada bersahabat eprbatasan Timor Leste & Indonesia. Bahkan mereka nekat ngambil gambar Tentara Nasional Indonesia yang lagi mulai invasi. Dan sialnya mereka tertangkap tangan & diburu sampe ke sebuah rumah. Mereka berusaha meyakinkan kalo mereka yakni wartawan Australia. Apa mereka selamat atau malah dibantai disana? Beberapa bulan kemudian, Roger East seorang wartawan senior Australia


tetapkan tiba ke Timor atas ajakan Jose Ramos Horta, yang waktu itu masih seorang pejuang muda Fretilin. Roger sendiri tetapkan memeriksa hilangnya 5 jurnalis itu dan mendatangi Balibo walau udah diperingatkan. Apakah Roger berhasil menemukan fakta dibalik hilangnya para jurnalis tersebut?

Yah, film ini emang sangat menyudutkan Indonesia khususnya TNI. Mulai dari teks narasi, adegan, sampe obrolan antar tokohnya menggambarkan kalo Indonesia yakni negara kejam yang tentaranya asal bunuh warga. Tapi aku mencoba menyikapi film ini dengan netral. Toh aku gak tahu gimana kebenaran orisinil dibalik kasus ini. Film ini dibikin sedikit dokumenter. Ketegangan didalamnya juga dihasilkan dengan cukup baik. Adat & alam Timor juga tidak mengecewakan terkspos. Saya suka mendengarkan lagu tempat sana yang dinyanyikan oleh anak kecil yang terasa damai. Gak banyak yang dapat aku tulis alasannya yakni emang film ini sarat nuansa politis & aku coba bersikap netral. Film ini sendiri emang menurut dongeng nyata, tapi lewat sudut pandang Australia. Saya rasa Indonesia jangan cuma mencak-mencak protes menanggapi ni film. Buatlah film Balibo versi Indonesia yang berupa pembelaan kalo negara kita ini bukan negara bengis.

OVERALL: Kalo anda gampang terpengaruh film ini boleh ditinggalkan alasannya yakni film ini mendoktrin dengan "cukup baik". Kandungan thriller & dramanya sendiri cukup menghibur.

RATING: 

Ini Lho Carriers (2009)

Manusia mencoba melarikan diri dari wabah virus atau penyakit. Bukan tema gres sebenarnya. M. Night Shyamalan pada 2008 pernah ngebuat The Happening yang ceritanya sekelompok insan yang mencoba melarikan diri dari kejaran virus yang ditularkan tanaman. Film itu emang ancur banget berdasarkan saya. Saya makin benci sebab dalam film superburuk itu, Shyamalan mengakibatkan aktris favorit saya, Zooey Deschanel sebagai salah satu tokoh utamanya (poor Zooey). Dan kali ini muncul film bertema sama, Carriers. Apakah akan menghasilkan thriller yang menarik? Atau malah menjadi ndeso layaknya The Happening?

Carriers bercerita ihwal 4 anak muda, Brian, Danny, Bobby, dan Kate yang mencoba menuju sebuah pantai yang jadi kawasan liburan favorit Danny & Brian semasa kecil dulu (mereka abang adik). Disana mereka berniat mengurung diri disebuah penginapan yang telah usang kosong sampe wabah virus berakhir. Oya, maksudnya wabah virus disini ialah sebuah virus flu yang amat mematikan yang udah menyebar ke pelosok dunia, sehingga dikit banget orang yang dapat bertahan. "Pelarian" mereka ini ternyata tidak semudah yang diperkirakan. Sebelum perjalanan, Brian sudah berpesan semoga jangan mempercayai siapapun yang emreka temui, & apabila melihat ada orang terinfeksi virus yang meminta tolong, jangan digubris.
Karena terinfeksi berarti mati. Tapi ternyata hukum itu tidak gampang dijalankan. Nurani mereka sebagai insan tetap ada untuk menolong roang yang mereka temui sepanjang jalan. Makara mereka harus dapat menyeimbangkan rasa iba & ego utnuk bertahan hidup. Sanggupkah mereka mencapai tujuannya?

Aroma thriller yang ditampilkan tidak mengecewakan berhasil menciptakan tegang. Ketakutan & kebimbangan tokohnya akan bisul virus emang menciptakan saya cukup ingin tau meyaksikan sepanjang film. Apalagi sedikit unsur drama yang ditampilkan disini ternyata tidak mengecewakan nendang. Gak cuma sebagai pemanis, tapi juga mengokohkan cerita. Saya jadi membayangkan apabila saya termasuk salah satu diantara 4 orang itu, apa yang akan saya lakukan. Cuek? Menolong sesama? Rela berkorban demi orang yang berharga? Atau apa? Selain itu, reaksi & tindakan yang ditampilkan tokohnya juga cukup logis. gak ada tingkah sok pendekar yang berlebihan disini. Beneran mencerminkan ketakutan insan pada maut yang siap menyergap kapanpun. Kekurangan mungkin cuma ada di durasi yang terlalu pendek. Tidak hingga 90 menit! Coba dipanjangin sekitar 20 menit lagi, mungkin bakal lebih bagus.

Ini Lho The Uninvited (2009)

Remake film horror asia yang dilakukan hollywood udah banyak banget. Macam The Ring, One Missed Call, The Grudge, dan banyak lagi. Dan semuanya punya satu kesamaan. Yaitu selalu lebih jelek & kalah serem dari versi aslinya. Itu menunjukan kalo kemampuan hollywood buat menakuti kita lewat suguhan film hantu masih sangat kurang. Dan kali ini saya nonton film remake horror asia lagi. The Uninvited ialah remake dari film korea berjudul A Tale of Two Sisters yang rilis 2003 lalu. Apakah film ini mengikuti kehancuran pendahulunya atau membuat sebuah kengerian baru?

Setelah 10 bulan tinggal dirumah sakit jiwa alasannya ialah tekanan mental yang dideritanya jawaban shock atas ajal ibunya yang mati terbakar di pondok bersahabat rumahnya, Anna risikonya bisa kembali kerumahnya. Bertemu lagi dengan ayah & saudarinya, Alex. Tapi sekarang rumah itu telah berbeda. Disana sang ayah tinggal bersama kekasih barunya, Rachel. Anna & Alex sendiri merasa kehidupan bersama Rachel tidak mengenakkan meskipun kekasih ayahnya itu mencoba bersikap baik pada keduanya. Anna sendiri sejak kepulangannya sering melihat penampakan-penampakan aneh.  Seperti hantu ibunya atau hantu 3 bocah cilik. Dan kemunculan mereka seolah mengatakan kalo Rachel ialah dalang dibalik ajal yang menimpa ibunya. Apalagi mereka kemudian menemukan fakta asing dibalik masa kemudian Rachel. Dimulailah penyelidikan Anna & Alex terhadap Rachel. Apakah benar kebakaran itu hanya kecelakaan? Atau sebuah pembunuhan?

Film ini tetap tidak bisa membuat saya takut dengan hantu yang dimunculkan. Tapi saya akui thrillernya tidak mengecewakan berhasil. Apalagi ditambah sebuah twist di endingnya. Saya sendiri belum nonton film aslinya, sehingga tetep dibentuk ingin tau sampe simpulan film. Andai sang sutradara meminimalisir kadar hantu (kalo menghilangkan kayaknya gak mungkin) Dan menambah unsur psikologikal thriller didalamnya, saya yakin film ini akan jauh lebih menarik & menegangkan. Karena di awal film kayanya saya cuma disuguhi hantu-hantuan yang gak serem. Baru sesudah melewati pertengahan menjelang simpulan kadar ketegangan meningkat. Ironisnya hal itu terjadi sesudah para hantu tidak dimunculkan lagi. Untuk akting pemerannya, Emily Browning sebagai Anna & Arielle Kebbel sebagai Alex tidak terlalu istimewa. Tapi saya terang terhibur dengan 2 gadis cantik, seksi, dan imut ini. Arielle sendiri bukan pemain gres di remake horror asia. Dia pernah tampil di The Grudge 2. Sedangkan Emily lebih sering tampil di serial TV.

Secara keseluruhan, dibalik ketidak seraman hantunya,  Film ini tetep menghadirkan ektegangan lewat thrillernya. Untuk remake asia setidaknya film ini masuk jajaran yang terbaik. Yang menunjukan hollwood sama sekali gak bisa menakuti lewat hantu, tapi thriller.

Ini Lho Chloe (2009)


Pas lagi di rentalan DVD aku tertarik melihat judul film ini. Chloe. Apalagi pas di bioskop Jogja aku tahu kalo ni film masih coming soon alias belum diputer. Nah, berarti tuh DVD tidak mengecewakan cepet? Saya putuskan buat mencoba menonton. Apalagi jajaran castnya cukup menarik, menyerupai Liam Neeson yang sukses dengan Taken & The A-Team. Serta Amanda Seyfried yang bersinar di Dear John & Jennifer's Body. Dan di sutradara ada Atom Egoyan yang langganan nominasi Cannes film festival. So, aku cukup yakin ini film bakal memuaskan.

Catherine (Julianne Moore) curiga kalo suaminya, David (Liam Neeson) berselingkuh. Dia makin yakin sesudah melihat foto suaminya berduaan dengan seorang perempuan muda. Hubungan Catherine dirumah dengan sang anak sendiri tidak terlalu dekat. Sang anak merasa jengah dengan perhatian sang ibu. Hal itu menambah beban pikiran Catherine. Merasa harus menandakan kecurigaannya, ia meminta seorang pelacur berjulukan Chloe (Amanda Seyfried) untuk mulai menarik hati suaminya.


Chloe selalu melaporkan apa yang terjadi atara ia & suami Catherine. Secara gamblang. Hal yang menciptakan Catherine agak cemburu, tapi disisi lain ia juga merasa "tertarik" mendengar dongeng seksual antara Chloe & suaminya. Bagaimana final penyelidikan Catherine? Apakah ia akan mendapat yang diinginkannya?

Okelah, banyak yang bilang twist yang ditampilkan di film ini terlalu sederhana, khususnya di ending. Tapi apalagi yang kita harapkan? Menurut aku ending di film ini udah sangat tepat. Dengan sedikit twist pada ceritanya juga menciptakan film ini menarik. Kredit khusus dapat diberikan pada Amanda Seyfried yang melepaskan image gadis baik-baik yang lekat padanya dengan bermain sebagai pelacur & beberapa kali tampil "polos" di beberapa adegan. FIlm ini emang menyuguhkan seksualitas, tetapi tidak pada tingkat murahan. Lebih elegan rasanya. Dan cukup untuk menggambarkan bagaimana ruwetnya korelasi antartokoh di film ini. Untuk akting dua pemain lain juga baik. Untuk Liam Neeson walopun cuma dapet porsi dikit, tapi setiap ia tampil ia selalu maksimal.

OVERALL: Drama yang menyuguhkan konflik yang menarik untuk disimak. Dengan suguhan seksualitas yang "menarik" dan gak murahan.

RATING: 

Ini Lho Dorian Gray (2009)


Saya pertama dengar nama Dorian Gray dari film "League of Extraordinary Gentlemen" yang rilis tahun 2003. Tapi aku belum tahu kalo tokoh itu emang ada dari dongeng lain. Terus aku makin familiar dengan nama Dorian Gray dari lirik lagu James Blunt "Tears & Rain"
                                      Hides my true shape,
                                      Like Dorian Gray...
Dan begitu tahu ada film terbaru perihal Dorian Gray aku tertarik alasannya ialah emang premis filmnya yang tidak mengecewakan menarik & menjanjikan. Dan lagi pemerannya cukup menjanjikan. Ada Ben Barnes sang Prince Caspian sebagai Dorian Gray.

Dorian Gray ialah anak lugu yang untuk pertama kalinya datang di London sesudah kakeknya yang tinggal disana meninggal dan mewariskan harta berlimpah untuknya. Dorian kemudian berkenalan dengan Basil Hallward, pelukis ternama disana yang terpesona dengan ketampanan Dorian sehingga beliau tertarik ngebikin lukisan wajah Dorian. Dorian pun mendapatkan dengan bahagia hati. Basil juga memperkenalkan Dorian dengan Lord Henry. Henry sendiri ialah penganut gaya hidup bebas. Gaya hidup itulah yang ditularkannya pada Dorian yang mulai berubah dari perjaka lugu menjadi perjaka liar yang berafiliasi dengan tiap perempuan yang ditemuinya.


Dilain pihak Basil telah menuntaskan lukisannya yang emang luarbiasa dan terlihat nyata. Dorian yang terpesona dengan ketampanan dirinya di lukisan berkata beliau rela menukar jiwanya dengan iblis asalkan ia sanggup terus rupawan menyerupai lukisan itu. Dan, hal itu terjadi. Dorian tidak pernah bau tanah & tubuhnya tidak sanggup terluka. Sebagai gantinya lukisannya bertambah bau tanah & menanggung luka Dorian. Selain itu tiap beliau berbuat dosa, lukisannya makin hancur.

Premis yang sangat menjanjikan. Sayangnya film ini terlalu berkonsentrasi pada dramanya. Andaikan lebih berkonsentrasi pada thriller dengan cara lebih menyorot sisi Dorian yang bersedia melaksanakan apapun demi melindungi rahasianya mungkin bakal lebih menarik. Selain itu si Ben Barnes sebagai Dorian kayanya kurang flamboyan dan masih terlihat lugu. Tapi meang beliau sanggup menampilkan ketampanan seorang Dorian Gray. Alur yang dihadirkan juga berasa terlalu cepat. Mulai Dorian masih perjaka lugu menjadi hedon. Lalu bagaimana lukisan itu mulai mengutuk Dorian. Hubungannya dengan perempuan pujaan hati. Sampai perubahan-purbahan lain yang terjadi terlalu cepet ditampilkan. Terburu-buru kesanny. But it's ok. Tidak menciptakan film ini menjadi parah.

RATING: 

Wednesday, February 13, 2019

Ini Lho Peacock (2010)


Efek dari nonton Inception ialah aku jadi tertarik dengan filmography para pemainnya. Saya mulai nyari film-film yang pernah mereka mainkan sebelumnya. Dan aku menemukan film ini dimana tidak hanya satu pemeran di film Inception yang terlibat, tapi dua. Yaitu Cillian Murphy dan Ellen Page. Cillian Murphy aku mengenalnya lewat kiprahnya sebagai Scarecrow di Batman Begins. Sedangkan Ellen Page terperinci paling bersinar di Juno dimana ia dapet nominasi Best Actress di Academy Awards. Tapi yang aku heran dengan cast yang menjanjikan begini, kenapa filmnya malah cuma dirilis eksklusif ke DVD tanpa lewat bioskop? Apakah hasilnya jelek? Ato ada faktor lain?

Film ini bercerita wacana John Skillpa (Cillian Murphy) seorang pegawai Bank yang tinggal di kota Peacock. Dia ialah sosok laki-laki yang sangat pemalu dan susah berkomunikasi dengan masyarakat. Saat berbicara ia gak pernah melihat kearah lawan bicaranya dan selalu berbicara dengan tergagap. Bahkan rumahnya selalu tertutup. Sama juga ditempat kerja dimana John bekerja disebuah ruang kecil yang sangat tertutup. Dibalik itu semua, John punya alter ego. Sosok perempuan berjulukan Emma yang kesudahannya dikenal warga sekitar sebagai istri John. Emma sendiri punya huruf yang beda dari John. Dia dapat bersosialisasi bahkan ngobrol dengan orang lain walopun tetep ada sedikit malu-malu. Konflik dimulai ketika suatu hari sebuah kereta "nyelonong" masuk ke halaman rumahnya.


Emma yang sedang menjemur pakaian untungnya tidak terluka. Tapi hal itu menciptakan penduduk kota menyadari keberadaan Emma. Mau gak mau ia harus banyak bersosialisasi. Masalah bertambah ketika walikota malah menimbulkan kereta yang nyungsep di halaman belakang itu sebagai materi kampanye. Udah gitu suatu malam tiba seorang perempuan berjulukan Maggie (Ellen Page) bersama anaknya meminta pinjaman John. Maggie sendiri pernah mempunyai hubungan dengan John dahulu kala. Bagaimana John/Emma menyikapi kondisi yang memusingkan ini?

Saya rasa kebanggaan patut diberikan buat Cillian Murphy yang sukses memerankan 2 huruf beda gender. Karakternya dapat berubah drastis dari John yang pemalu menjadi Emma yang lebih terbuka. Tampilan fisiknya juga cukup berbeda walopun kadang aku masih merasa melihat Emma lebih pantas sebagai banci. Tapi ssaya rasa itu udah cukup baik. Begitu juga Ellen Page yang (lagi-lagi) harus menjadi ibu muda. Yah, walopun gak sehebat di Juno, tapi aktingnya masih tetep baik. Dan aku sendiri masih heran dengan fakta ia udah berusia 23 tahunan. Padahal dengan wajah imutnya ia masih terlihat remaja. Dari segi kisah kita bener-bener digiring untuk menebak apa sebenernya yang diinginkan John dengan berperan sebagai Emma. Dan apa kesudahannya ia menentukan menjadi John atau Emma? Atau malah tetap keduanya.  Mungkin satu-satunya kekurangan ialah di penggalan kereta masuk ke halaman rumah yang kerasa banget tipuannya. Tapi yah, toh ini bukan film yang mengumbar efek. Kesimpulan aku mengapa film ini cuma dirilis ke DVD mungkin sebab cuma belum ada studio yang mau memasarkannya. Bukan sebab kualitasnya buruk.

OVERALL: Sebuah film psikologikal yang cukup menarik walopun dari unsur thrillernya masih terasa kurang.

RATING: 

Ini Lho The Silence Of The Lambs (1991)

Saya bukanlah tipe orang yang bahagia "mengobrak abrik" film lawas untuk ditonton. Walopun film itu dapet kebanggaan sekalipun. Tapi entah kenapa akhir-akhir ini aku mulai tertarik. Dan salah satu yang bikin aku tertarik yaitu Silence of the Lambs ini. Film ini memenangkan Oscar tahun 1992 di 5 kategori. Best Picture, Best Actor, Best Actress, Best Director, dan Best Adapted Screenplay. Wow! Berarti dominan penghargaan utama dimenangkan oleh film ini. Yang bikin aku ingin tau yaitu genrenya. Thriller cenderung kearah Horror. Itu yang sya tangkep waktu baca sinopsisnya. Secra film bertema begini jarang banget menang Oscar. Mungkin cuma No Country for Old Men aja. So, apa benar nih film segitu bagusnya?

Clarice Starling (Jodie Foster) yaitu calon anggota FBI. Suatu ahri ia ditugaskan oleh atasannya untuk menginterogasi seorang tahanan di rumah sakit jiwa yang berjulukan Hannibal Lecter (Anthony Hopkins). Hannibal sendiri yaitu seorang psikiater ulung. Dia ditangkap alasannya melaksanakan pembunuhan sekaligus tindakan kanibalisme. Clarice sendiri ditugaskan untuk menginterogasi Hannibal yaitu untuk mendapat isu wacana Buffalo Bill. Seorang pembunuh berantai yang sedang buron. Tidak hanya membunuh, Bill juga doyan menguliti korbannya. Tapi ternyata mengorek info dari Hannibal tidaklah mudah. Clarice harus berhati-hati terhadap tindak tanduk Hannibal yang sangat misterius.
Wow, aku salah menilai film ini. Saya kira ini yaitu film berisi gore dan darah dimana-mana. Ternyata film ini yaitu thriller yang sangat cerdas. Ketegangan dibangun di setiap waktu dan ditempat manapun. Bahkan di daerah yang di film lain tidak menegangkan, disini ajdi sangat menegangkan. Sangat pantas film ini menjadi film terbaik (walopun aku belum lihat kompetitornya selain beauty & the Beast ) Dari segi pemain juga luarbiasa. Anthony Hopkins sebagai Hannibal Lecter selalu menebar kengerian di setiap kemunculannya. Padahal adegannya cuma sebatas berbicara kepada Clarice aja, tapi kharisma dan kengeriannya selalu muncul. Entah lewat omongan atau sekedar lewat tatapan matanya. Dan sekalinya ia menunjukkan kesadisannya itu terasa sangat luarbiasa, serem, dan ngeri. Pantas sanggup penghargaan pemain film terbaik. Jodie Foster juga bermain baik sebagai distributor FBI yang membuatnya mendapat penghargaan aktris terbaik. Selian itu kok rasanya Jodie seolah-olah Katolik Stewarts ya? Saya jadi merasa duet keduanya sebagai ibu dan anak di film Panic Room emang cocok banget. Ted Levine sebagai Bufallo Bill sang penebar teror juga gak kalah bagus. Walopun gak sampe dapet oscar, kegilaan berhasil ia tunjukkan disini. Ini yaitu salah satu film thriller terbaik yang pernah aku tonton. Gak terlalu mengumbar kesadisan, tapi berhasil untuk bikin ngeri.

Ini Lho Memento (2000)

Saya pertama kali mengenal Nolan jujur gres pada film The Dark Knight. Sebuah film yang saya akui sebagai film superhero terbaik sepanjang masa. Saya yang pada dikala batman begins rilis belum tertarik dengan film, sehabis nonton TDK jadi tertarik melihat prekuelnya itu. Dan walopun gak sehebat sekuelnya, Batman begins tetep menghadirkan dongeng yang bagus. Kemudian "perkenalan" saya dengan Nolan berlanjut sewaktu bapak saya minjem sebuah DVD berjudul Insomnia. Wow! Keren tuh film. Pas ngecek nama sutradaranya, ternyata beliau yaitu orang yang ngebikin 2 film Batman tadi. Dan tahun ini saya dipertontonkan sebuah film sci-fi luarbiasa berjudul Inception yang dibikin Nolan. Saya jadi makin yakin kalo sutradara satu ini emang jenius. Tapi kata orang, film Nolan yang berjudul Memento gak kalah dari Inception. Baik dari segi kualitas atopun kerumitan ceritanya. So, saya putuskan menonton film yang rilis tahun 2000 itu.

Inti dongeng ini yaitu wacana seorang laki-laki berjulukan Leonard Shelby, seorang penderita Short Term Memory Loss sehingga beliau gak dapat mengingat hal yang gres saja beliau lakukan sehabis kurang lebih beberapa menit. Penyakit itu beliau dapet sewaktu rumahnya dimasuki orang tidak dikenal yang membunuh & memperkosa istrinya. Sang penyusup menyerang kepala Leonard sehingga beliau menderita tuh penyakit. Kematian sang istri membuatnya bertekad mencari si pembunuh.
Tapi penyakitnya membuatnya tidak dapat melaksanakan itu dengan mudah. Maka untuk membantu mengingat hal, beliau menciptakan tato goresan pena di badannya, dan membawa kamera polaroid untuk memotret hal atau orang yang beliau temui biar dapat tetep inget.

Sinopsis film ini emang gak dapat diperpanjang. Karena dapat mengakibatkan spoiler. Anda resah sewaktu nonton Inception? Niscaya nonton Memento akan lebih bingung. Sepanjang film kita diajak berpikir mengenai fakta sebenernya yang tersembunyi dibalik simpulan hidup istri Leonard. Film ini sendiri plot penceritaannya yaitu backward alias mundur. Sehingga simpulan film ini diceritakan diawal. Makara jangan pernah mengalihkan pandangan, alasannya yaitu hal itu berpotensi pada ketidakpahaman akan kelanjutan cerita. Tapi dibalik kerumitannya, nih film emang luarbiasa. Nolan menandakan beliau emang jenius alasannya yaitu tiap filmnya selalu mengangkat wangsit yang gak diperkirakan orang. Film ini beneran menampilkan ketegangan dan teka-teki yang sangat menarik. Setiap adegannya selalu menciptakan pertanyaan gres sekaligus memberi tanggapan atas pertanyaan sebelumnya. Gak salah kalo menyebut film ini sebagi salah satu film terbaik yang pernah dibuat. Buat yang doyan mikir dan misteri ini film yang sangat tepat.

Ini Lho Mystic River (2003)


Perasaan saya sehabis nonton film garapan Clint Eastwood ini hampir sama kayak sehabis nonton film Eastwood lainnya, Gran Torino. Yaitu "tertipu". Dulu saya mengira Gran Torino yaitu sebuah film action. Dan saya awalnya mengira Mystic River yaitu horror diliat dari judul dan posternya. Saya merasa "wah, Clint Eastwood mau nyoba bikin film horor, niscaya keren" Melihat jaajran cast film ini makin asing lagi, masa Sean Penn main horror? Tanpa ngecek sinopsis filmnya, saya pun nonton. Dan ternyata lagi-lagi ketipu. Film ini emang mengandung unsur thriller tapi sama sekali bukan horror.

Filmnya dibuka dengan adegan 3 bocah yang bermain bersama, mereka yaitu Jimmy, Sean, dan Dave. Mereka kemudian menuliskan nama mereka disebuah cetakan semen yang belum kering. Tiba-tiba muncul laki-laki yang mereka anggap polisi menegur mereka kemudian membawa Dave pergi. Ternyata tuh laki-laki bukan polisi. Mereka menculi Dave dan melaksanakan tindakan pelecehan seksual. Beruntung sehabis 4 hari Dave berhasil kabur. 25 tahun kemudian, ketiga bocah yang udah tumbuh jadi laki-laki remaja itu masih tinggal disitu, tapi udah berkeluarga dan jarang berkomunikasi satu sama lain. Jimmy (Sean Penn) udah punya 2 putri (kalo gak salah 2 atau 3 gitu). Sean (Kevin Bacon) menjadi polisi, tapi kehidupan rumah tangganya gak lancar. Sang istri pergi dan selalu meneleponnya tiap hari tanpa mengucap sepatah katapun. Sedangkan Dave (Tim Robbins) juga udah punya satu putra. Kehidupan mereka awalnya tenang sampe suatu hari, Katie putri tertua Jimmy menghilang dan ditemukan telah tewas. Jimmy terang sangat terpukul. Awalnya ia meragukan Brendan Harris, pacar putrinya yang hubungannya tidak ia setujui.


Tapi penyelidikan polisis yang dipimpin Sean dan Sersan Whitey Powers (Laurence Fishburne) malah menyampaikan bukan Brendan pelakunya. Penyelidikan makin rumit sehabis diketahui Dave menyampaikan tindak tanduk asing yang membuatnya dicurigai. Jimmy sendiri merasa harus melaksanakan penyelidikannya sendiri dibantu teman-temannya. Siapakah pembunuh Katie?

Meskipun saya salah menilai genre film ini, nyatanya film ini justru berhasil menghadirkan thriller dan misteri yang sangat bagus. Berulang kali saya dipaksa menuduh siapa sebenernya pembunuh Katie. Disaat saya udah yakin akan identitas si pelaku, tiba-tiba muncul scene yang menciptakan saya kembali ragu dan mengarahkan kecurigaan pada tokoh lain. Begitu seterusnya sampe balasannya semuanya terungkap di simpulan film. Film ini mengantarkan Sean Penn meraih gelar pemain film terbaik versi Academy Awards + Golden Globe. Begitu juga Tim Robbins yang menjadi Best Supporting Actor di kedua ajang tersebut. Film ini juga berjaya di Cannes FIlm Festival. Beginilah film yang disutradarai Clint Eastwood. Bukan film ringan, tapi menarik diikuti dan mendatangkan pemasukkan yang tidak mengecewakan besar. Dan seringkali panen penghargaan.

OVERALL: Film yang mampu menghadirkan ketegangan sekaligus drama yang berasal dari gejolak batin tokohnya.

RATING: 

Ini Lho Repo Men (2010)


Peran sebagai Watson di Sherlock Holmes emang membuat karir Jude Law menanjak. Namanya menjadi makin diperhitungkan. Begitu juga ketika film Repo Men ini hampir rilis. Banyak yang yakin film ini akan jadi film yang keren. Apalagi mendengar premisnya yang menarik ditambah cast yang cukup meyakinkan macam pemenang Oscar, Forest Whitaker, Liev Schreiber sang sabretooth, sampe Alice Braga yang cukup baik di Predators. Apa film ini dapat memenuhi ekspektasi orang-orang?

Di tahun 2025 insan udah gak perlu galau lagi apabila ada bab organ tubuhnya yang udah gak dapat bekerja. Perusahaan The Union yang dipimpin Frank (Liev Schreiber) berhasil membuat organ buatan yang dapat ditransplasikan ke orang yang membutuhkan. Tapi, imbalannya juga tidak murah. Biaya super mahal diperlukan untuk menebus itu semua. Apabila lebih dari 3 bulan tidak membayar, The Union akan mengirimkan agennya untuk mengambil kembali organ tersebut secara paksa. Orang yang bertugas mengambilnya dinamakan Repo Man. Remy (Jude Law) dan Jake (Forest Whitaker) yaitu partner yang udah saling kenal semenjak kecil. Mereka juga termasuk biro terbaik yang dimiliki The Union. Tugas selalu lancar. Sampe Remy merasa sudah waktunya berhenti dari pekerjaan "kasar" ini dan menentukan kembali menjalani hidup normal bersama istri dan anaknya.


Tapi pekerjaan terakhirnya tidak berjalan lancar. Remy mengalami sebuah kecelakaan yang menjadikan jantungnya harus diganti dengan jantung buatan The Union. Jelas aja Remy yang gak mampu membayarnya akan berurusan dengan para Repo Man yang notabene kawannya sendiri, bahkan termasuk partnernya, Jake.

Premis film ini emang menarik. Openingnya juga cukup meyakinkan.Saya sempat galau sehabis melihat opening yang cukup manis itu. Kenpa film ini dapat sampe flop di pasaran bahkan dikritik jelek oleh kritikus? Dan seiring berjalannya film, pertanyaan itu terjawab. Film ini tidak menjual apapun selain adegan gore dan sadis belaka. Yang mana adegan itu juga terasa agak berlebihan. Biasanya sesadis apapun film juga mempunyai pesan moral. Gak percaya? Friday the 13th misalnya, mengajarkan supaya kita tidak asala berafiliasi seksual ditengah hutan kalo gak mau dibantai Jason. Ato di A Nightmare on Elm Street dimana kita diajarkan untuk berdoa dulu sebelum dur atau Freddy akan menghantui bahkan membunuh kita. Nah disini apa yang diajarkan? Yang ada malah membenarkan para penghutang. Saya rasa yang namanya hutang harus dibayar kan? Nah, di film ini malah secara gak pribadi mengajarkan "Kalo membeli barang dan gak punya duit buat membayar, ya gak usah dibayar". Masih ada lagi kebobrokan film ini. Hal itu berada pada tokoh Remy yang diperankan Jude Law. Ditengah kondisi berserakan bukannya berusaha memperbaiki relasi dengan istrinya, eh beliau malah milih pergi dengan cewek lain. Parahnya tuh cewek diperlihatkan pribadi ke anaknya. Yang sedikit menghibur aku sehingga tidak meletakkan film ini di 5 besar film terbuuk 2010 yaitu endingnya yang tidak dipaksakan berakhir bahagia, serta openingnya yang menarik.

RATING: 

Ini Lho Splice (2010)


Sudah cukup usang saya tidak nonton film horror. Film horror terakhir yang saya tonton yaitu Predators. Dan uniknya, kali ini film yang saya tonton juga dibintangi bintang film yang sama dengan Predators, yaitu Adrien Brody. Aktor yang biasanya bermain drama ini mengambarkan beliau bisa tampil bergairah di Predators. Kalo dari premisnya, saya menyangka film ini akan punya dongeng yang menyerupai sama Alien. Yaitu perihal sesosok makhluk absurd yang ganas dan mulai memburu para manusia.

Clive (Adrien Brody) dan Elsa (Sarah Polley) yaitu sepasang ilmuwan yang sedang bereksperimen dengan mencampurkan banyak sekali macam DNA binatang untuk membuat spesies baru. Tidak puas dengan keberhasilan itu, secara belakang layar mereka berdua mencampurkan DNA itu dengan DNA insan guna membuat spesies gres yang lain. Diluar dugaan eksperimen itu menghasilakn sesosok makhluk yang punya kemampuan tumbuh amat cepat. Makin usang sosoknya makin menyerupai manusia. Hanya beliau punya kaki menyerupai binatang dan punya ekor panjang yang dilengkapi dengan bab tajam menyerupai pisau. Bukannya khawatir, dua ilmuwan itu khususnya Elsa justru antusias mempertahankan makhluk yang diberi nama Dren itu.


Bahkan Elsa memperlakukannya menyerupai anak perempuannya sendiri. Tapi apakah makhluk ini benar bisa dikendalikan? Atau suatu ketika insting binatang buasnya akan bangkit?

Sungguh saya tertipu mentah-mentah oleh film ini. Berharap menerima suguhan film sadis penuh darah, ternyata film ini menyuguhkan sebuah drama yang sedikit dibalut horror dan sci-fi. Film ini lebih menitikberatkan pada perjuangan Clive & Elsa untuk mendidik Dren. Tapi anehnya saya sama sekali gak menangkap perjuangan mereka mendidik tuh makhluk. Yang ada justru perlakuan jelek yang mereka berikan. Dari segi sci-fi malah lebih absurd berdasarkan saya. Sepertinya terlalu dangkal aja unsur sains disini. Kalo emang mau dikasih dangkal, seharusnya film ini lebih menekankan horrornya sehingga makin terang kalo film ini emang sebuah B-Movie yang gak mementingkan cerita. Tapi, film ini justru berusaha menjadi cerdas dengan lebih menonjolkan sisi dramanya, tapi malah terlihat absurd alasannya yaitu unsur sci-fi disini sama sekali tidak jelas. Saya sempet merasa 15 menit terakhir film ini akan menegangkan dan meningkatkan evaluasi saya terhadap nih film. Sayangnya, 5 menit terkahir film ini kembali membuat saya kecewa. Untungnya dari segi cast film ini cukup tepat. Walopun gak dalam performa terbaiknya, Adrien Brody tampil lumayan. Tapi yang paling manis berdasarkan saya yaitu performa Delphine Chaneac yang sanggup menghidupkan Dren dengan sangat baik. Efek visual komputer di film ini juga lumayan.

RATING: 

Ini Lho The Ghost Writer (2010)


Siapa bilang film yang mengandung unsur politik bakal membosankan? Siapa bilang film bertema thriller harus disajikan dengan tempo yang cepat untuk memperlihatkan unsur ketegangan didalamnya? The Ghost Writer yang disutradarai Roman Polanski memperlihatkan bahwa sebuah film politik juga sanggup menghibur. Film itu juga memperlihatkan bahwa tempo yang lambat dalam sebuah thriller tetap sanggup memperlihatkan ketegangan. Film yang disesuaikan dari novel berjudul "The Ghost" karangan Robert Harris yang terbit tahun 2007 ini dibintangi oleh Evan McGregor, Pierce Brosnan, Olivia Williams, dan Kim Cattrall.

Seorang penulis yang tidak disebutkan namanya, dan dipanggil The Ghost (Evan McGregor) menerima sebuah pekerjaan untuk menulis sebuah biografi dari seorang mantan Perdana Menteri Inggris, Adam Lang (Pierce Brosnan). Tentu saja beliau merasa ini akan jadi sebuah pekerjaan besar. Tapi usang kelamaan beliau mulai merasa ada sesuatu yang asing di pekerjaan ini. Penulis biografi Adam yang sebelumnya ditemukan tewas secara misterius sebelum sempat menuntaskan biografi itu. Kemudian si tokoh utama ini juga sempat mengalami kecurian sesudah mendapatkan pekerjaan menulis biografi itu. Lalu mencuatnya kasus mengenai Adam Lang yang terlibat kasus penyiksaan tawanan perang.


Maka dimulailah pekerjaan bagi The Ghost untuk menulis biografi Adam Lang sekaligus berusaha menilik misteri yang terjadi. Dan ternyata penyelidikan itu turut menyeretnya kedalam bahaya.

Seperti yang sudah aku katakan, film ini memang bertempo lambat. Tapi kehebatan sang sutradara dalam membeberkan misteri di film ini dengan sedikit demi sedikit memang sangat menarik (Padahal beliau nyelesain nih film dari dalam penjara). Penokohan di film ini juga menarik. Tokoh utama yang diperankan Evan McGregor yang sampai simpulan film tidak punya nama terang jadi penarik perhatian yang utama. Kemudian Adama Lang yang diperankan Pierce Brosnan juga sama. Walopun porsinya gak sebanyak Evan, tiap kali muncul beliau selalu sanggup mencuri perhatian. Keunggulan lain film ini juga tiba dari dialognya. Dibalik dialog-dialog serius dan misterius, beberapa kali terselip juga kata-kata lucu yang juga cerdas penggunaannya. Dan jangan lupakan juga ending film ini yang menampilkan sebuah twist yang cerdas tetapi tidak menciptakan aku merasa tertipu dan tidak terasa dipaksakan. Dan juga mengajarkan aku satu hal dasar: Hati-hati dan waspada di jalan raya.Film ini berhasil menggusur IP Man 2 dari daftar 10 film terfavorit aku di tahun 2010 untuk sementara ini.

OVERALL: Sebuah film yang hadir dari sutradara yang tahu benar cara menciptakan thriller. Begitu kata Roger Ebert, dan aku setuju.

RATING: