Showing posts with label Kurang. Show all posts
Showing posts with label Kurang. Show all posts

Thursday, February 14, 2019

Ini Lho Dear John (2010)

 Dari judulnya udah keliatan ini film wacana apa Ini Lho DEAR JOHN (2010)
Ini beliau film yang berhasil "ngusir" Avatar dari puncak Box Office sesudah 2bulan full ada di peringkat 1. Dari judulnya udah keliatan ini film wacana apa. FYI, Dear John itu sebutan buat surat yang dikirim sama seorang cewe buat cowonya yang isinya minta putus.

Okay, ini emang film mellow drama. Inti ceritanya wacana seorang tentara berjulukan John yang lagi dalam masa liburan perang ketemu cewe berjulukan Savannah secara gak sengaja, dan sesudah kenal cukup lama, mereka jatuh cinta & pacaran. TAMAT?? terperinci TIDAK! Dari judulnya aja udah keliatan kalo mereka bakal putus.
Singkat cerita, gara2 tragedi 11 September, kondisi John sebagai tentara terperinci makin sibuk. Dia makin sering ditugasi ke medan perang yang beliau sendiri gak tahu niscaya dimana. Nah, apa korelasi long distance ini dapat berjalan lancar? ato putus? Kalo putus kenapa? Apa dapat bersatu lagi?Di satu sisi, John juga punya ayah yang beliau tinggal sendiri dirumah dalam keadaan autis.



 Dari judulnya udah keliatan ini film wacana apa Ini Lho DEAR JOHN (2010)

 












Setelah liat ini yang kepikiran yaitu : Tuh Channing Tatum aktor si John dapat lisan apa kagak si?? Sepanjang film mau seneng, sedih, sakit, tetep aja mukanya lempeng. Gimana dengan si Savannah? Cukup berhasil jadi cewek anggun yang sebenernya agak terlalu sempurna.

OVERALL : Ini film drama yang sedikit menyentuh, cuma kurang maksi jadi agak susah bikin penonton nangis.

RATING :  

Ini Lho Alice In Wonderland (2010)

 terus sutradara Tim Burton terang udah jaminan mutu Ini Lho ALICE IN WONDERLAND (2010)
Petama denger ada proyek film ini, saya pribadi tertarik. Ini film ahrus tonton! Secara ceritanya udah terkenal, terus sutradara Tim Burton terang udah jaminan mutu. Dan yang paling penting, THE ONE N ONLY JOHNNY DEPP main jadi Mad Hatter disini. Hell yeaaah!!! Gak sabar rasanya. Alkisah Alice kini udah remaja. 19 tahun. Dia mengingat petualangannya dulu ke Wonderland waktu kecil sebagai mimpi tiap malem. Sampe suatu hari ia kabur dari program pertunangannya & ngikutin kelinci yang bawa2 arloji. Dia sekali lagi jatuh ke lubnag yang mbawa ia ke Wonderland.

Ternyata Wonderland udah dikuasai tangan jahat Red Queen. Nah, para penghuni aneh Wonderland bnerharap sekali lagi Alice dapat nylametin mereka.  terus sutradara Tim Burton terang udah jaminan mutu Ini Lho ALICE IN WONDERLAND (2010) Hmm..sebenernya saya nonton film ini tanpa tahu dongeng orisinil ALice (yang kutahu cuma Alice seorang bocah, ngikutin kelinci, masuk ke Wonderland, udah, hahaha) Tapi AKU TAHU VERSI ASLI ALICE ADALAH SALAH SATU DONGENG TERBAIK YANG ADA.



 



Dan ni film kayanya udah ngerusak dongeng itu. Walopun gak separah kerusakan yang disebabkan Dragon Ball Evolution (huhu) tapi kasian juga bagi penggemar Alice. Beneran bikin boring ni film. Dataaaaaarrr gitu. Apalagi "didukung" sama buruknya akting pemain drama Alice. Yah, emang akting sebagian besar pemain drama emang gak bagus banget. Tapi lebih baik nonton Kegilaan Mad Hatter (walopun Johnny Depp juga gak oke2 banget mainnya) daripada kebodohan akting Alice. Oiya, yang paling keren tentu Red Queen. Satu2nya huruf yang outstanding. White Queen juga gak buruk amat, tidak mengecewakan tampang bagus Anne Hathaway. Dan keunggulan lain film ini ya setting Wonderland yang emang ajaib

OVERALL : Salah satu film yang pling bikin kecewa tahun ini. Bahkan buat hiburan juga ngerasa ngebosenin

RATING : 

 

Ini Lho Four Christmases (2008)

 Agak abnormal emang nonton film bertema natal di waktu Ini Lho FOUR CHRISTMASES (2008)
Agak abnormal emang nonton film bertema natal di waktu2 begini. Tapi masa bodo ah, toh akunonton film ini bukan buat menyerap tema natal, cuma sebab emang film bertema komedi romantis selalu bikin tertarik. Film ini bercerita ihwal sepasang kekasih, Brad & Kate yang sudah 3 tahun hidup bersama. Mereka termasuk orang yang tidak ingin menikah & punya anak, soalnya mereka anggap hal itu merepotkan, membebani & gak bebas. Mereka punya kebiasaan ngibulin keluarga mereka pas natal biar gak ngumpul bareng keluarga mereka. Emang keluarga mereka pada berantakan. Orang renta keduanya sama-sama udah cerai & hidup pisah.

Tiap natal, mereka nelpon ortunya buat ngabarin kalo natal mereka gak dapat pulang sebab ngelakuin aktifitas sosial di bebrbagai tempat. Padahal aslinya mereka liburan sendiri. Sampe jadinya sehabis 3 athun bohong, bohong mereka tertangkap berair gara2 pas di bandara wajah mereka ketangkep kamera reporter TV yang lagi ngeliput sibuknya acara natal.  Agak abnormal emang nonton film bertema natal di waktu Ini Lho FOUR CHRISTMASES (2008)Alhasil mereka harus ngerayain natal kali ini bersama ortu & saudara2 mereka yang gak mereka senangi. Mereka ngerayain natal di 4 rumah berbeda bergantian.

 






Secara kisah emang unik ni film. Kelucuan juga dapat ditampilin dengan baik. Konflik yang ada juga cukup unik di tiap keluarganya. Tapi ada ebberapa lubang di film ini. Kayak pas pertama Brad & Kate ketemu. Emang si, di barat sono ketemu pertama eksklusif ML yakni hal wajar. Tapi kalo ketemu pertama eksklusif mutusin hidup bersama? I don't think so. Terus perubahan rujukan pikir pasangan ini dari anti korelasi serius ke mau mencoba hubugngan serius kerasa terlalu cepet. Harusnya emosi dapat digali lebih dalem lagi.

OVERALL : Sebuah film drama komedi yang dapat dinikmati siapapun sebab unsur natal cuma buat setting aja. Sayangnya kelucuannya masi kurang banget.


RATING : 

 

Ini Lho The Bounty Hunter (2010)


Film komedi romantis. Kayanya udah jadi barang yang sangat mainstream. Bisa jadi mesin pengeruk uang, tapi dari segi kualitas sering dibawah standar. Karena apa? Biasanya sebab plot ceritanay sangat gampang ditebak. Selain itu akting pemainnya juga sering terlihat buruk. Tapi film tipe gini emang sanggup dinikmati semua orang. Saya sendiri selalu tertarik sam film beginian walopun sering berujung kekecewaan sesudah film selesai. Tapi aku selalu menyempatkan nonton komedi romatis sebab berharap munculnya film menyerupai (500) Days of Summer yang sangat brilian berdasarkan saya. Akting yang manis & alur yang gak kacangan. GImana dengan Bounty Hunter? Apakah sanggup mendekati kehebatan (500) Days of Summer? Ato malah kayak film kebanyakan?

Milo yakni seorang pemburu hadiah alias bounty hunter. Dia sendiri yakni mantan polisi. Untuk kehidupan pribadinya juga gak kalah awut-awutan. Dia bercerai dari istrinya, Nicole sesudah gres menikah 9 bulan. Nicole sendiri berprofesi sebagai reporter. Suatu hari Milo sanggup usulan job buat nyari seorang perempuan yang melarikan diri dari persidangan. Yup, tuh perempuan yakni Nicole. Milo tentunya girang sebab ia ngerasa inilah kesempatan menjebloskan perempuan yang sudah ngebuat ia hancur ke penjara. Nicole sendiri bukan tanpa alesan ninggalin persidangan. Dia sedang nyelidikin suatu kasus. Pas Milo berhasil nemuin mantan istrinya itu, ia malah ikut terseret ke masalah tersebut. Mulailah mereka berdua saling bersama nyelidikin tuh kasus.


Dari premisnya sendiri udah keliatan kan? Gak ada yang gres sepertinya. Ciri khas drama komedi. Pria perempuan saling mencintai, terlibat perseteruan, & sesudah banyak sekali insiden sepanjang film kesudahannya mereka menyadari mereka saling mencintai, tamat. Happy Ending, HORE! Hanya itu. Film ini sendiri tampaknya kurang cocok disebut komedi romantis. Karna komedinya nyaris tidak kelihatan. Komedi di film ini kesannya cuma nyempil di beberapa adegan. Gak cukup bikin ketawa bahkan senyum sekalipun. Ini yakni film "Drama 1/2 serius" bukan komedi. Satu lagi yang bikin aku sebel. Yaitu adanya huruf Stewart. buat apa coba? Buat penambah lucu? Sama sekali gak. Buat cinta segitiga? Apalagi. yang ada ia cuman bikin sebel. Kalo aku ada di sana, niscaya udah aku hajar habis tuh orang, bukan cuman disuntik pake bius kuda ato pukulan ringan dengan tongkat golf.

OVERALL: Film yang ringan. Tapi kurang menghibur. Ingin nonton film tanpa berpikir? Oh, lebih tepatnya tanpa berekspresi? Coba film ini.

RATING: 

Ini Lho All About Steve (2009)


Akhir-akhir ini saya mulai mencoba mengambil langkah yang mungkin jarang diambil orang. Yaitu dengan sengaja menonton film-film yang dinominasikan Razzie alias masuk kategori terburuk. "Keberanian" itu saya ambil sehabis saya melihat beberapa fakta di Razzie. Kemenangan Transformers: Revenge of the Fallen sebagai film terburuk berdasarkan saya kurang tepat. Oke, itu film buruk, tapi banyak yang jauh lebih jelek macam Dragon Ball Evolution, Year One, ato Land of the Lost. Hal itu menunjukan kadang film yang dapet Razzie sebenernya gak bener2 yang paling buruk. So, saya mencoba menonton film-film itu. Dan yang pertama ialah All About Steve. Dimana film ini dapet beberapa nominasi terburuk termasuk Film Terburuk, Aktris terburuk (Sandra Bullock) dan Pasangan terburuk (Sandra Bullock & Bradley Cooper). Sungguh menarik mengingat Bullock dapet aktris terbaik di academy awards alias Oscar. Apakah film & aktingnya disini betul-betul buruk?

Mary Horowitz (Sandra Bullock) ialah perempuan yang punya pengetahuan diatas rata-rata. Dia sendiri bekerja sebagai pembuat TTS di surat kabar lokal. Mary sendiri bukan tipe cewek arif bergaul. Pas ngobrol dengan orang lain, ia akan nyerocos gak karuan wacana aneka macam pengetahuan rumit yang dikuasainya. Hal itu bikin banyak orang gak tahan didekatnya. Orang tuanya sadar Mary susah dapet cowok. Merekapun merancang sebuah kencan buta antara Mary dengan pemuda berjulukan Steven atau yang dipanggil Steve (Bradley Cooper) . Awalnya Mary gak antusias. Tapi begitu ia tahu Steve ialah pemuda yang ganteng ia malah jadi tergila-gila.


Steve yang awalnya biasa lama-lama "ngeri" dengan polah Mary yang ngomong gak karuan. Maka dengan alesan bekerja (Dia ialah akmeramen di kantor informasi CCN) ia kabur dari kencan itu. Mary ayng udah akdung tergila-gila dengan Steve melaksanakan hal-hal yang rada kelewatan untuk selalu ada dideket Steve termasuk mengikutinya kemanapun Steve pergi meliput berita. Apakah Mary sanggup menggoda Steve dengan kelakuana asing & polosnya itu?

Well, emang dongeng film ini sedikit awut-awutan dengan beberapa insiden gak logis & berlebihan. Dan dari plotnya saya rasa cukup pantas masuk Razzie, walopun gak pantas memenangkan pialanya. Sandra Bullock emang terlihat lebay disini. Tapi saya rasa kata "Buruk" tidak pantas dilekatkan pada perannyas ebagai Mary. Kata "Aneh" lebih pantas. Dan ia dapet worst actress??? Amat tidak pantas berdasarkan saya. Miley Cyrus ato Sarah Jessica Parker lebih pantas mendapatkannya. Untuk Worst Screen Couple juga Bradley Cooper & Bullock tidak pantas memenangkan ini. Trio manusia, werewolf dan vampir di New Moon, Will Ferrell cs di Land of the Lost, sampe Jonas Brother di 3D Concertnya lebih pantes jadi yang terburuk. Tapi saya akui di beberapa adegan akting Bullock agak mengganggu & terlalu lebay. Mungkin juri Razzie gerah melihat itu & sebal melihat tingkahnya yang bagaikan stalker yang selalu mengikuti Steve. Tapi untuk menjadi yang terburuk tentunya tidak.

OVERALL: Mungkin ini salah satu film tergagal Bullock & Cooper, tapi sebenernya gak pantes disebut ancur. Cukup lucu di beberapa bagian.

RATING: 

Ini Lho Imagine That (2009)

Eddie Murphy udah mulai kehilangan tajinya. Kita semua sadar akan hal itu. kesampingkan franchise Shrek sebab Eddie hanya jadi pengisi bunyi disitu. FIlm-filmnya gak cuma dapet kritik jelek tapi juga pendapatannya buruk. Eddie udah berkali kali dapet nominasi Razzie bahkan dinobatkan jadi pemain film terburuk dekade ini. Untuk tahun ini sekali lagi ia dapet nominasi Razzie melalui Imagine That sebagai pemain film terburuk. Apa Eddie emang sudah habis?

Evan Danielson (Eddie Murphy) yakni seorang laki-laki biasa yang sangat doyan bekerja. Dan sekarang karirnya tengah dipertaruhkan sebab ia dapet tentangan dalam memperebutkan posisi di perusahaan yang lebih tinggi Johnny Whitefeather (Thomas Hadden Church). Dan sialnya Johnny lebih punya kans buat terpilih sebab metode presentasinya yang jauh lebih menarik dari milik Evan. Disaat stress sebab kerjaan Evan malah dapet beban lain. Harus mengurus putrinya Olivia (Yara Shahidi) yang gak terlalu bersahabat sama ia selama ini. Olivia sendiri punya kebiasaan aneh yaitu berbicara dengan sobat khayalannya melalui sebuah "selimut ajaib" sebagai perantara. Selimut itu berjulukan Goo Gaa. Gak disangka selimut & teman-teman imajinasi olivia malah bisa membantu naiknya karir Evan. Evan yang pada awalnya gak eprcaya lambat laun dibentuk kagum & percaya akan keeksisan & kesaktian sobat imajinasi sang anak walopun mereka kasat mata. Dan dimulailah "kerja sama" Evan dengan selimut Goo Gaa untuk mengejar karir yang lebih tinggi bagi Evan.

Sebelum ngomongin film ini atau Eddie Murphy aku mau "berbela sungkawa" atas kesialan Thomas Hadden Church. Gimana enggak? Dalam setahun 2 filmnya (All About Steve & Imagine That) jadi nominasi razzie untuk film terburuk. Untuk akting ia di kedua film ini si gak buruk. Mungkin ia harus lebih cermat mendapatkan kerjaan. Back to the movie. Film komedi keluarga ibarat ini terang plotnya sangat gampang ditebak & endingnya seringkali dipaksakan happy ending dengan cara apapun entah itu masuk nalar atau gak, entah itu anggun ato buruk.
Dan film ini masuk kategori kurang masuk nalar & buruk. Ayolah, emang seorang ayah butuh meluangkan waktu buat sang anak, tapi sampe meninggalkan meeting yang memilih karirnya? Akting Eddie sendiri gak jelek amat. Dibandingin dengan "Adventure of Pluto Nash" aktingnya lebih baik disini. Cuma yah, emang terkesan cukup lebay di beberapa adegan. Hal itu emang jadi ciri Eddie yang sayangnya merupakan ciri yang buruk. Tapi sebetulnya film ini sedikit bisa memulihkan reputasi Eddie Murphy sebagai pelawak yang "lumayan lucu"

OVERALL: Apa film ini spesial? Tidak. Apa film ini lucu? Sedikit. Apa film ini hancur? Gak terlalu juga sih. Mungkin film ini hanya membuktikan Eddie harus memperbaharui kelucuan aktingnya.

RATING: 

Wednesday, February 13, 2019

Ini Lho Shrek Forever After (2010)


Saya belum nonton film ketiga Shrek. Tapi dua film Shrek yang pertama cukup elok dan menghibur. Tapi dari revioew yang saya baca, film ketiga katanya jelek. Dan kini rilis film keempat yang konon katanya bakal jadi seri terakhri Shrek. Hm, Toy Story 3 yang jadi epilog perjalanan franchise tersebut berhasil memperlihatkan bagaimana sebuah film mengucapkan selamat tinggal pada penggemarnya. Bagaimana dengan sang ogre ini?

Shrek yang kini udah punya 3 anak hidup tenang bersama anak & istrinya, Fiona. Dia juga punya teman-teamn baik yang selalu ada di tiap harinya. Tapi ternyata Shrek bosan dengan semua itu. Dia kangen menjadi ogre jahat yang ditakuti orang-orang. Sampe ia bertemu Rumplestilskin yang hebat sihir yang nawarin Shrek untuk mendapat kehidupannya sebagai ogre seram lagi dalam sehari.
Tapi shrek juga harus memperlihatkan sehari kehidupannya pada Rumplestilskin. Ternyata hari yang dipilih Rumplestilskin justru hari yang nantinya akan menciptakan persetujuan itu mengubah hidup Shrek.....Selamanya.....

Well, tampaknya alesan Dreamworks melanjutkan franchise Shrek hanya sebab alasan pendapatan yang menguntungkan. Liat aja film ini yang terasa begitu datar, membosankan, dan sangat predictable. Bandingkan dengan Toy Story 3 yang sampe final masih berhasil memainkan emosi & ketegangan saya. Embel-embel "Petualangan terakhir Shrek" juga berasa cuman tempelan aja. Setelah filmnya selesai saya cuma merasa biasa, gak merasa berpisah dengan sebuah huruf film. Gak ada emosi luarbiasa yang seharusnya dirasakan penonton sesudah menyaksikan sebuah tokoh melaksanakan penampilan terakhirnya. Okay, Donkey masih jadi huruf kesukaan saya. begitu juga Puss in Boots yang tampil beda di film ini. Dan ternyata Puss in Boots juga bakal dapet filmnya sendiri tahun 2011 nanti. Hal yang memperlihatkan kalo dunia Shrek belumlah selesai. Walopun terperinci petualangan ogre hijau ini terasa membosankan.

OVERALL: Film keluarga untuk hiburan yang sayangnya tidak menyuguhkan hiburan yang berarti.

RATING: 

Ini Lho Sex And The City 2 (2010)


Saya sama sekali tidak pernah mengikuti jalan kisah Sex and the City di TV. Saya juga tidak menonton film pertamanya. Kaprikornus saya menonton sekuelnya ini tanpa bekal sedikitpun perihal jalan cerita, background, ataupun penokohan huruf dalam film ini. Yang saya tahu cuma ini film perihal sekumpulan tante-tante modis yang punya problem eksklusif masing-masing. Saya juga gak tahu apakah film ini akan mengandung banyak adegan sex atau enggak (ngeliat judulnya). Yang saya tahu cuma ni film sempat masuk 3 besar box office dikala perilisannya, dan itu menciptakan saya meluangkan waktu nonton nih film.

Filmnya sendiri bercerita mengenai 4 sahabt karib yang tinggal di New York. Mereka yang sekarang udah cukup berumur punya problem eksklusif masing-masing. Carrie (Sarah Jessica Parker) merasa khawatir perihal pernikahannya. Dia takut kesepakatan nikah yang gres 2 tahun itu akan berjalan membosankan. Miranda (Cynthia Nixon) punya problem membagi waktu antara keluarga dan karir. Charlotte (Kristin Davis) yang udah punya 2 anak merasa takut sang suami akan menduakan dengan pengasuh anak yang dimilikinya. Sang pengasuh yang berjulukan Erin (Alice Eve) emang cukup menarik hati (baca: braless). Sedangkan Samantha (Kim Cattrall) yang masih single sibuk memikirkan bagaimana cara menunda menopause. Disaat keempatnya lagi bener-bener dalam tekanan, datanglah sebuah "kejutan".


Samantha menerima tiket berlibur gratis ke Abu Dhabi dengan pelayanan mewah. Dia kemudian mengajak ketiga sahabatnya. Maka dimulailah petualangan 4 "tante girang" ini ke padang pasir Abu Dhabi yang ternyata perjalanan itu justru memberi kesan tersendiri.

Jujur film ini emang cuma mengatakan pemandangan fashion bagi penontonnya. Gimana enggak? Hampir di tiap adegan keempat pemain film utama film ini berganti busana dan semuanya fashionable. Bahkan film The Devil Wears Prada yang mengatakan tema fashion aja gak seglamour ini. Tapi bagaimana dengan jalan cerita? Sebenernya film ini cukup menarik disimak. Adegan lucu di film ini sanggup menciptakan saya tersenyum dan kadang tertawa kecil. Tapi rasanya durasi hampir 2 setengah jam itu terlalu lama. Parahnya durasi sepanjang itu gak diisi dengan konflik yang lebih kompleks dan menarik. Saya gak dibentuk memikirkan ending film alasannya yaitu sama sekali gak ada problem rumit yang kita harap simpulan dari film ini. Film ini bagaikan The Hanover-nya cewek tapi dengan permasalahan yang lebih ringan dan durasi yang lebih panjang tentunya. Untuk chemistry keempat pemainnya saya rasa gak perlu diragukan. Bermain bersama semenjak serial TVnya tayang perdana tahun 1998-2004. Lalu bermain di film layar lebarnya tahun  2008. Jelas chemistry mereka udah teruji. Dan itu salah satu kekuatan utama nih film. Ditambah adanya cameo dari Miley Cyrus & Penelope Cruz. Sayangnya film ini saya rasa sedikit rasis. Saya gak mempermasalahkan dikala karakternya saling bertanya perihal penggunaan jilbab, itu reaksi masuk akal orang barat. Tapi dikala ada adegan melepas jilbab? Well, itu seharusnya gak perlu ada.  Yang terang udah waktunya franchise ini stop. Kalopun lanjut, gantilah pemerannya. Siapa coba yang mau melihat JSP ataupun Cynthia Nixon yang udah keriput dan menyerupai bencong berlenggak lenggok dengan genit gitu. (Kim Cattrall dan Kristin Davis sih masih mendingan) Mungkin Miley Cyrus sanggup melanjutkan nafas franchise ini apabila dibentuk sekuelnya.


RATING: 

Ini Lho Repo Men (2010)


Peran sebagai Watson di Sherlock Holmes emang membuat karir Jude Law menanjak. Namanya menjadi makin diperhitungkan. Begitu juga ketika film Repo Men ini hampir rilis. Banyak yang yakin film ini akan jadi film yang keren. Apalagi mendengar premisnya yang menarik ditambah cast yang cukup meyakinkan macam pemenang Oscar, Forest Whitaker, Liev Schreiber sang sabretooth, sampe Alice Braga yang cukup baik di Predators. Apa film ini dapat memenuhi ekspektasi orang-orang?

Di tahun 2025 insan udah gak perlu galau lagi apabila ada bab organ tubuhnya yang udah gak dapat bekerja. Perusahaan The Union yang dipimpin Frank (Liev Schreiber) berhasil membuat organ buatan yang dapat ditransplasikan ke orang yang membutuhkan. Tapi, imbalannya juga tidak murah. Biaya super mahal diperlukan untuk menebus itu semua. Apabila lebih dari 3 bulan tidak membayar, The Union akan mengirimkan agennya untuk mengambil kembali organ tersebut secara paksa. Orang yang bertugas mengambilnya dinamakan Repo Man. Remy (Jude Law) dan Jake (Forest Whitaker) yaitu partner yang udah saling kenal semenjak kecil. Mereka juga termasuk biro terbaik yang dimiliki The Union. Tugas selalu lancar. Sampe Remy merasa sudah waktunya berhenti dari pekerjaan "kasar" ini dan menentukan kembali menjalani hidup normal bersama istri dan anaknya.


Tapi pekerjaan terakhirnya tidak berjalan lancar. Remy mengalami sebuah kecelakaan yang menjadikan jantungnya harus diganti dengan jantung buatan The Union. Jelas aja Remy yang gak mampu membayarnya akan berurusan dengan para Repo Man yang notabene kawannya sendiri, bahkan termasuk partnernya, Jake.

Premis film ini emang menarik. Openingnya juga cukup meyakinkan.Saya sempat galau sehabis melihat opening yang cukup manis itu. Kenpa film ini dapat sampe flop di pasaran bahkan dikritik jelek oleh kritikus? Dan seiring berjalannya film, pertanyaan itu terjawab. Film ini tidak menjual apapun selain adegan gore dan sadis belaka. Yang mana adegan itu juga terasa agak berlebihan. Biasanya sesadis apapun film juga mempunyai pesan moral. Gak percaya? Friday the 13th misalnya, mengajarkan supaya kita tidak asala berafiliasi seksual ditengah hutan kalo gak mau dibantai Jason. Ato di A Nightmare on Elm Street dimana kita diajarkan untuk berdoa dulu sebelum dur atau Freddy akan menghantui bahkan membunuh kita. Nah disini apa yang diajarkan? Yang ada malah membenarkan para penghutang. Saya rasa yang namanya hutang harus dibayar kan? Nah, di film ini malah secara gak pribadi mengajarkan "Kalo membeli barang dan gak punya duit buat membayar, ya gak usah dibayar". Masih ada lagi kebobrokan film ini. Hal itu berada pada tokoh Remy yang diperankan Jude Law. Ditengah kondisi berserakan bukannya berusaha memperbaiki relasi dengan istrinya, eh beliau malah milih pergi dengan cewek lain. Parahnya tuh cewek diperlihatkan pribadi ke anaknya. Yang sedikit menghibur aku sehingga tidak meletakkan film ini di 5 besar film terbuuk 2010 yaitu endingnya yang tidak dipaksakan berakhir bahagia, serta openingnya yang menarik.

RATING: 

Ini Lho Tekken (2010)

Kalo ditanya apa game fighting terbaik, balasan aku pastinya Tekken. Game ini menghadirkan banyak huruf dengan style  bertarung yang unik dan juga kualitas gambar yang berkualitas diatas game fighting lainnya. Tapi dikala Tekken disesuaikan ke film jujur aku pesimistis akan hasilnya.Fakta memang menyebutkan lebih banyak didominasi film pembiasaan game kualitasnya kurang bagus. Kemudian film yang bertema turnamen beladiri juga jarang yang punya kualitas bagus. Lah, bagaimana kalo dibikin sebuah film pembiasaan game yang bertema turnamen beladiri?

Dunia ditahun 2039 terbagi menajdi beberapa wilayah. Dan diantaranya ada sebuah perusahaan yang punya kontrol besar lengan berkuasa yang berjulukan Tekken Corporation yang dipimpin Heihachi Mishime dan anaknya Kazuya Mishima. Disisi lain, ada sebuah tempat kumuh yang dihuni orang terbuang. Jin Kazama hidup bersama sang ibu disana. Sampe suatu hari sang ibu tewas terkena ledakan roket dari Tekken Corporation.
Jin yang menaruh dendam risikonya mengikuti turnamen Iron Fist guna membunuh Heihachi yang ia anggap sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas maut sang ibu.

Cerita film ini emang dangkal. Sangat dangkal. Plotnya sangat tertebak. Tapi bukankah jualan utama film bertema turnamen beladiri ialah keseruan dalam setiap pertarungannya? Dan sialnya pertarungan di film ini juga dangkal dan kurang seru. Style bertarung tiap karakternya kurang terekspose. Padahal tiap huruf Tekken punya jutaan gaya ebrtarung yang sangat menarik. Untung tampilan tiap tokohnya cukup menarik dan tidak jauh beda dengan tampilan di game. Bahkan Tekken termasuk sangat setia pada tampilan tiap topkohnya (kecuali Kazuya). Setting arena bertarung di film ini juga dibentuk berubah-ubah menyerupai di game. Tapi lagi-lagi kelebihan itu tertutupi oleh kekurangannya. Pemilihan tokoh yang tampil rasanya kurang pas? Dimana huruf utama menyerupai Paul, Hwoarang, hingga King. Menurut aku karakter-karakter diatas lebih penting dibanding huruf macam Miguel Rojo dan Sergei Dragunov. Kemudian penggambaran huruf Heihachi juga amatlah keliru. Seharusnya heihachi ialah main antagonist yang punya kemampuan beladiri superhebat. Lah disini? Dia cuma kakek renta yang udah habis masa jayanya. Gak ada gaharnya sedikitpun. Untung ada satu lagi penyelamat di film ini, yaitu huruf Christie Monteiro yang diperankan Kelly Overton. Dia emang sedap dipandang di film ini.

OVERALL: Film ini secara keseluruhan mengecewakan. Walopun cukup baik dalam visualisasi karakternya.

RATING: 

Ini Lho Tekken (2010)

Kalo ditanya apa game fighting terbaik, balasan aku pastinya Tekken. Game ini menghadirkan banyak huruf dengan style  bertarung yang unik dan juga kualitas gambar yang berkualitas diatas game fighting lainnya. Tapi dikala Tekken disesuaikan ke film jujur aku pesimistis akan hasilnya.Fakta memang menyebutkan lebih banyak didominasi film pembiasaan game kualitasnya kurang bagus. Kemudian film yang bertema turnamen beladiri juga jarang yang punya kualitas bagus. Lah, bagaimana kalo dibikin sebuah film pembiasaan game yang bertema turnamen beladiri?

Dunia ditahun 2039 terbagi menajdi beberapa wilayah. Dan diantaranya ada sebuah perusahaan yang punya kontrol besar lengan berkuasa yang berjulukan Tekken Corporation yang dipimpin Heihachi Mishime dan anaknya Kazuya Mishima. Disisi lain, ada sebuah tempat kumuh yang dihuni orang terbuang. Jin Kazama hidup bersama sang ibu disana. Sampe suatu hari sang ibu tewas terkena ledakan roket dari Tekken Corporation.
Jin yang menaruh dendam risikonya mengikuti turnamen Iron Fist guna membunuh Heihachi yang ia anggap sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas maut sang ibu.

Cerita film ini emang dangkal. Sangat dangkal. Plotnya sangat tertebak. Tapi bukankah jualan utama film bertema turnamen beladiri ialah keseruan dalam setiap pertarungannya? Dan sialnya pertarungan di film ini juga dangkal dan kurang seru. Style bertarung tiap karakternya kurang terekspose. Padahal tiap huruf Tekken punya jutaan gaya ebrtarung yang sangat menarik. Untung tampilan tiap tokohnya cukup menarik dan tidak jauh beda dengan tampilan di game. Bahkan Tekken termasuk sangat setia pada tampilan tiap topkohnya (kecuali Kazuya). Setting arena bertarung di film ini juga dibentuk berubah-ubah menyerupai di game. Tapi lagi-lagi kelebihan itu tertutupi oleh kekurangannya. Pemilihan tokoh yang tampil rasanya kurang pas? Dimana huruf utama menyerupai Paul, Hwoarang, hingga King. Menurut aku karakter-karakter diatas lebih penting dibanding huruf macam Miguel Rojo dan Sergei Dragunov. Kemudian penggambaran huruf Heihachi juga amatlah keliru. Seharusnya heihachi ialah main antagonist yang punya kemampuan beladiri superhebat. Lah disini? Dia cuma kakek renta yang udah habis masa jayanya. Gak ada gaharnya sedikitpun. Untung ada satu lagi penyelamat di film ini, yaitu huruf Christie Monteiro yang diperankan Kelly Overton. Dia emang sedap dipandang di film ini.

OVERALL: Film ini secara keseluruhan mengecewakan. Walopun cukup baik dalam visualisasi karakternya.

RATING: 

Ini Lho Cats & Dogs: The Revenge Of Kitty Galore (2010)

Film ini sebenernya gak masuk dalam daftar tonton saya. Tapi berhubung di bioskop semua filmnya udah aku tonton (saya tetep menghitung versi gres Avatar sebagai film yang udah ditonton). Dan sialnyan aku harus menonton yang versi 3D yang berarti pengeluarannya lebih mahal. Padahal dilihat dari premis filmnya aku rasa film ini hanya akan jadi sebuah film keluarga perihal binatang yang dapat bicara dengan plot dangkal. Hal itu udah aku tangkap dari review negatif bagi film ini. Bahkan pemasukannya gak sampe setengah dari pemasukan film pertamanya (Cats & Dogs). Tapi dengan ekspektasi rendah, biasanya sebuah film berpotensi mengejutkan. Apakah film ini juga begitu?

Diggs yakni seorang anjing polisi yang sedang dikurung sebab kesalahannya dalam melaksanakan misi. Tanpa disangka, datanglah seekor jasus anjing berjulukan Butch yang menawarinya menajdi biro untuk menggagalkan misi kucing jahat berjulukan Kitty Galore. Di misi ini, mereka harus melindungi nyawa seekor burung merpati berjulukan Seamus dan menggagalkan perjuangan Kitty Galore menguasai dunia.
Tapi kali ini para aning tidak bertugas sendiri. Mereka bekerja sama dengan MEOWS yang merupakan jasus kucing yang mengirim satu wakilnya berjulukan Catherine. Maka kali ini anjing dan kucing harus saling bekerja sama melindungi umat manusia.

Oke, diawal film aku sempet terhibur dengan agresi anjing dan kucing yang dibalut efek 3D yang cukup lumayan. Tapi usang kelamaan semuanya menjurus kearah membosankan. Komedi yang ditawarkan kurang lucu. Walopun ada satu potongan yang menampilan Mr. Tinkles memplesetkan aksara Hannibal dalam film Silence of the Lambs dan itu aku rasa cukup menghibur (bagi yang udah nonton Silence of the Lambs). Untungya film ini sadar diri dengan menampilkan durasi yang tidak terlalu panjang, cuma sekitar 80an menit. Karakter kucing dan ajingnya juga kurang ngegemesin. Selain itu, seharusnya film ini dapat dibentuk lebih epic dengan penggabungan kucing dan anijng. Bukannya menggabungkan satu biro kucing dan dua anjing.

RATING: 

Ini Lho Gosford Park (2001)

Lihatlah cast film ini. Bertabur bintang. Mulai dari aktris senior Helen Mirren sampe bintang film setengah renta Clive Owen. Itu udah jadi satu alasan film ini wajib tonton. Apalagi ditambah dengan banyaknya penghargaan yang diterima termasuk dinominasikan sebagai Best Picture dalam ajang Oscar. Dilihat dari temanya film ini juga menjanjikan. Yaitu drama yang dibalut misteri. Misteri pembunuhan lebih tepatnya. Film yang begitu selalu jadi favorit saya. Saya sangat berharap ini akan jadi sebuah film yang memacu ingin tau aku dalam segi dongeng dan didukung akting menawan dari jajaran pemainnya.

Pada sebuah selesai ahad alias weekend pada tahun 1932, disebuah kawasan berjulukan Gosford Park berkumpul banyak orang yang secara umum dikuasai ialah orang kaya raya. Ada juga sutradara dan bintang film film disana. Singkat kata disana terjadi perkumpulan orang-orang borjuis. Tapi yang berkumpul disana tidak hanya mereka. Mereka juga membawa para pelayan mereka.
Sehingga disana juga terjadi perkumpulan antara pelayan. Tentunya terjadi cukup banyak konflik disana. Tapi hal itu belum menjadi dilema sampai disuatu malam terjadilah pembunuhan terhadap salah seorang aristokrat berjulukan Sir Williams. Siapakah dalang dibalik pembunuhan itu?

Hasrat aku akan kehebatan akting para pemainnya terperinci terpuaskan. Semuanya berakting maksimal. Tapi yang menciptakan aku kecewa ialah dari segi plot. Sebenernya film ini menghadirkan plot dongeng yang menarik disimak. Tapi aku terlanjur berekspektasi film ini akan menjadi film misteri yang memacu ketegangan dan pemikiran dari awal sampai akhir. Tapi ternyata misteri gres dihadirkan sehabis film ini melewati 1 jam. Kemudian dalam pengungkapan jati diri pembunuh juga kurang memuaskan. Kurang greget. Seperti yang aku katakan tadi secara keseluruhan film ini bagus. Tapi aku terlanjur mengira film ini akan menjadi film misteri ibarat Sherlock Holmes mungkin, sehingga aku jadi kecewa.

RATING: 

Tuesday, February 12, 2019

Ini Lho Jonah Hex (2010)


Jonah Hex ini punya banyak hal yang bisa bikin film ini sukses di pasaran sekaligus punya kualitas yang tidak mengecewakan bahkan berpotensi bagus. Yang pertama terang alasannya yakni film ini yakni pembiasaan komik terbitan DC. Walopun bukan termasuk komik kelas A tapi setidaknya film yang disesuaikan dari komik sudah punya fan base. Lalu dari jajaran cast yang ada juga menjanjikan. Josh Brolin sebagai Jonah Hex terang jadi sebuah jaminan akting bermutu. Ada juga pemain drama veteran John Malkovich, Michael Fassbender, Michael Shannon dan gak ketinggalan Megan Fox sebagai penyedap mata. Tapi entah kenapa dengan aneka macam faktor diatas film ini malah flop. Dengan budget $47 juta, film ini cuma bisa dapet pemasukan sekitar $10 juta alias rugi besar! Parahnya lagi film ini sanggup jawaban negatif dari aneka macam pihak. Apa emang seburuk itu?

Jonah Hex (Brolin) yakni anak buah dari Quentin Turnbull (Malkovich) disaat terjadinya perang sipil. Tapi alasannya yakni berlawanan pendapat, Hex membelot bahkan membunuh anak Turnbull yang juga sahabatnya. Tidak terima, Turnbull dan anak buahnya menyerbu rumah Jonah dan menangkapnya beserta anak dan istrinya. Jonah dipaksa melihat orang-orang yang disayanginya mati terbakar. Bahkan, Turnbull sempat meninggalkan "jejak" luka bakar diwajah Jonah.

Beruntung Jonah tidak tewas dan diselamatkan suku Indian. Pengalaman mendekati simpulan hidup malah menciptakan Jonah tambah andal dan punya kemampuan menghidupkan orang mati. Berbekal kemampuan barunya itu beliau mencari Turnbull untuk membalas dendam. Diperjalanan beliau juga dibantu seorang pelacur yang menjadi love interestnya, Lilah (Fox).

Well, film ini emang ancur. Dari yang pertama yakni plot hole yang bertebaran. Dan plot hole yang paling ancur yakni opening yang menceritakan masa kemudian Jonah. Niatnya mempersingkat+dibikin menarik dengan balutan animasi komik malahan jadi gak jelas. Oya, dan aku kurang bisa mendapatkan wangsit ceritanya. Bagaimana mungkin seorang laki-laki yang berusaha balas dendam atas simpulan hidup keluarga yang beliau cintai dengan sangat ditengah perjalanan malah menjalin asmara dengan seorang pelacur? Terlalu dipaksain. Hal pengganggu yang lain yakni adegan "bayangan" perkelahian Jonah dan Turnbull yang menyelingi adegan didunia nyata. Entah mau dibikin nyeni atau abstrak tapi yang terang itu wangsit yang jelek dengan sanksi yang lebih buruk. Cast yang menjanjikan juga kurang optimal. Josh Brolin jadi yang tampil dengan kelasnya, beliau oke, dan keren sebagai Jonah Hex. Malkovich? Gak jelek tapi kurang berkesan jahat. Michael Fassbender juga cukup sepakat jadi penjahat semi psikopat. Dan Megan Fox? Seperti biasa seorang penyedap mata yang entah darimana tiba-tiba diakhir film jadi andal pegang senjata.

OVERALL: Kalo gak tertolong jajaran cast yang lumayan, lengkaplah film ini jadi calon berpengaruh akseptor Razzie 2011, dan emang buat aku ini termasuk salah satu film terburuk tahun ini.

RATING:

Ini Lho Saw Vii (2010)


Akhirnya franchise film Saw memasuki pecahan yang ketujuh. Franchise yang populer dengan perangkap sadisnya ini jadinya direncanakan memasuki tahap yang terakhir. Dan untuk menandai berakhirnya franchise horror tersukses ini, Saw VII dirilis dalam format 3D. Bukan 3D hasil konversi tapi di-shoot dengan kamera 3D. Tapi sebab aku menonton bukan pada format 3D jadi posting ini tetap berjudul "SAW VII" bukan "SAW 3D". Saya sendiri tidak mengikuti secara runtut franchise ini dari awal hingga akhir. Dari 6 film yang udah rilis, yang aku tonton cuma film pertama dan keempat, plus film pendek yang rilis sebelum film panjang pertamanya. Khusus untuk film pendek dan film pertamanya aku acungi jempol sebab berhasil ngasih kombinasi gore dan teka-teki yang cukup cerdas. Tapi film keempatnya buat aku terlalu umbar kekerasan tanpa kecerdasan. Dari review yang aku baca, seri yang lain (II-VI) juga kurang lebih sama. Makara apakah film epilog franchise ini akan berhasil mengembalikan kebesaran Jigsaw dengan tambahan 3D atau malah makin menegaskan keruntuhannya?

Seorang survivor dari Jigsaw berjulukan Bobby mulai sering tampil ke media sebagai guru bagi para survivor Jigsaw yang lain. Selain menulis buku wacana pengalamannya bertahan hidup dari perangkap Jigsaw, Bobby juga mengajak para survivor lain untuk menceritakan pengalaman mereka semoga dapat menciptakan hidup mereka menjadi lebih baik menyerupai sebelum mereka masuk ke perangkap Jigsaw. Disisi lain teror perangkap Jigsaw mulai "go public" alias ditampilkan dimuka umum. Hal ini menyebabkan sang serial killers namanya makin tersebar luas dan makin dikenal sekaligus dicari.
Sementara itu Hoffman sang suksesor Jigsaw berusaha mencari dan membunuh Jill Tuck, istri dari John sang Jigsaw orisinil yang di film sebelumnya berusaha membunuh Hoffman tapi gagal. Hoffman juga tetap tidak lupa menyiapkan perangkap-perangkap sadis gres bagi orang lain yang beliau anggap harus menghargai hidup layaknya korban Jigsaw sebelumnya. Seperti yang aku bilang, aku gak nonton lewat versi 3D jadi kualitas film ini dimata aku gak akan terkatrol lewat kualitas 3D-nya. Kalo dari jalinan kisah emang aku sempat sedikit galau karena gak ngikutin franchise ini secara lengkap, tapi untungnya ceritanya cukup sederhana jadi kebingungan gak berlangsung lama.

Kekuatan utama film ini terang ada pada kesadisan dan teka-teki yang ada di perangkapnya. Kalo buat aku teka-teki yang ada terang berasa dangkal tapi dipaksain cerdas. Untung adegan gore yang ada cukup sukses menghibur. Gimana darah dan hamburan pecahan badan yang ada mampu memperlihatkan kesan sadis yang menghibur buat para penggila film sejenis. Saya pribadi cukup terhibur dengan kesadisan yang ada.

Dari cerita, film ini sebenernya punya potensi buat jadi epilog yang manis dari franchise Saw. Dimana banyak teka-teki yang terbongkar, kemudian beberapa tokoh dari film terdahulu yang ditampilkan kembali, kemudian bagaimana pesan etika untuk memaknai hidup ditampilkan pada sesi yang lebih tinggi. Tapi itu semua sayangnya tersia-sia. Ketidakberhasilan merangkum hal-hal diatas dengan baik menciptakan SAW VII ini kurang tampil maksimal sebagai epilog franchise bahkan dapat dibilang sangat kurang. Padahal kalo hal-hal diatas dapat lebih dimaksimalkan aku berani menyatakan bahwa film ini berpotensi jadi yang terbaik dari rangkaian franchise SAW. Oya, disini vokalis Linkin Park, Chester Bennington ikut tampil sebagai salah satu korban. Dan kalo aku liat beliau gak perlu berakting maksimal, kenapa? Karena kiprahnya disini hanya dituntut menjerit sekerasnya dimana itu udah jadi teknik andalannya.

OVERALL: Sebuah epilog yang kurang maksimal dan berujung kekecewaan buat saya. Tapi kesadisan yang ada cukup menghibur.

RATING:

Ini Lho The Chronicles Of Narnia: The Voyage Of The Dawn Treader (2010)


Franchise yang satu ini sempat "hampir mati". Kegagalan film keduanya yang bertajuk "Prince Caspian" dilihat dari segi pendapatan (dari kualitas juga sedikit menurun dibanding film pertama) menciptakan pihak Disney menentukan gak melanjutkan franchise ini. Untung 20th Century Fox mengambil alih, dan seri ketiga yang bertajuk "The Voyage of the Dawn Treader" dibuat. Mengikuti tren, film ini juga dirilis dalam format 3D untuk mengangkat pendapatan (walopun cuma hasil konversi). Saya sendiri lebih menentukan nonton versi 2D sebab udah banyak film 3D hasil konversi yang kualitas 3D-nya mengecewakan.

Kali ini tokoh Susan dan Peter tidak lagi menjadi sentral. Mereka cuma jadi cameo. Kali ini yang bertualang yaitu Lucy dan Edmund. Mereka berdua tinggal dirumah saudara mereka. Disana ada sepupu mereka yang super menyebalkan, Eustace. Eustace mengolok-olok Lucy dan Edmund yang terus membicarakan Narnia seolah hal itu nyata. Sampai mereka bertiga menemukan sebuah lukisan yang malah menyedot mereka secara ajaib kedalam dunia Narnia.
Disana mereka bertemu dengan King Caspian yang sedang melaksanakan perjalanan bersama krunya memakai kapal kebesaran Narnia, Dawn Treader. Misi yang ia lakukan yaitu mencari 7 rekan ayahnya yang merupakan bangsawan. Lucy, Edmund dan Eustace risikonya membantu Caspian dalam misi ini yang ternyata membawa mereka kepada perjalanan yang tidak disangka-sangka.

Durasi dua film pertama Narnia yaitu sekitar 2 jam lebih. Dan untuk film ini dipangkas jadi gak hingga 2 jam. Mungkin  langkah ini yaitu untuk mencegah kebosanan penonton anak-anak, tapi jadinya malah menciptakan film ini kurang. Pencarian yang dilakukan terkesan sangat dipercepat dan gak berkesan akhir pendeknya durasi petualangan. Efek ajaib dan fantasi yang ditampilkan juga jadi berasa sangat nanggung. Saya gak mencicipi "sensasi" ajaib ibarat dikala film pertamanya. Kesan dunia ajaib Narnia disini sangatlah biasa. Tapi saya akui dari segi dampak visual, Narnia tetep elok ibarat biasanya.

Dari segi tokohnya juga buat saya kurang. Akting yang biasa menciptakan saya tidak mencicipi sisi emosional yang sanggup menciptakan murung kalo mengingat film ini yaitu perpisahan kita dengan tokoh Lucy dan Edmund yang difilm - film berikutnya (kalo dibikin) sudah gak muncul. Tokoh Eustace juga. Dia emang berhasil menghidupkan tugas bocah menyebalkan yang terus insaf. Tapi saya ragu ia sanggup jadi tokoh sentral di "The SIlver Chair" dengan wujud insan dan bukan dengan wujud naga. Untuk tokoh King Caspian yang diperankan Ben Barnes buat saya gak jelek. Tapi saya tetep lebih suka liat akting Ben di film Dorian Gray. Disini terlihat ia memainkan tugas biasa yang aman.


OVERALL: Patut disayangkan sekuel Narnia selalu menurun baik dari segi kualitas atau pendapatan. Tapi The Voyage of the Dawn Treader memperlihatkan tontonan super santai.


RATING:

Ini Lho Gulliver's Travel (2010)


Saat ini saya sedang "ngebut" nonton film-film yang sanggup review cantik atau yang menerima penghargaan dibanyak ajang untuk melengkapi list top movies 2010. Tapi diantara itu saya juga mencoba untuk sedikit bersantai dengan mencoba menonton film komedi keluarga yang ringan, "Gulliver's Travel". Film ini sendiri ialah penyesuaian novel yang rilis tahun 1726. Sebelum menonton versi terbarunya ini saya sendiri sudah tahu garis besar kisah ini, yaitu perihal insan normal yang terdampar dipulau liliput sehingga dianggap raksasa. Kali ini pelawak Jack Black didaulat bermain sebagai Gulliver. Beberapa bintang lain juga turut ambil kepingan menyerupai Jason Segel dan Emily Blunt.

Lemuel Gulliver (Black) ialah karyawan kepingan surat menyurat disebuah media massa di New York. Dia sudah sekitar 10 tahun bekerja disana tanpa kemajuan karir sama sekali dan hanya bermodalkan omong besar. Disamping itu Gulliver memendam perasaan pada rekan sekantornya, Darcy (Amanda Peet) tapi tidak berani mengatakannya. Sampai sebuah bencana tidak disengaja terjadi ketika Gulliver mencoba memikat Darcy. Gulliver yang mendapatkan pekerjaan sebagai reporter perjalanan dan ditugaskan meliput di segitiga permuda malah terdampar dipulau liliput dan dianggap makhluk rakasasa buas.
Gulliver yang awalnya ditakuti menjelma jagoan sebab berhasil menyelamatkan sang raja liliput sekaligus mengalahkan kerajaan Blefuscu yang menjadi rival liliput. Tapi Gulliver tidak sadar bahwa lisan besarnya sanggup menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.

Film ini sangat terlihat hanya mengumbar kelucuan dan kekonyolan dan menghapuskan sama sekali pesan moral yang sejatinya terkandung dalam novel. Tapi buat saya untungnya kelucuan itu cukup berhasil memancing tawa. Film ini seharusnya sanggup menjadi film murni komedi yang cantik dan menghibur diluar penghilangan pesan moral. Tapi sayang beberapa faktor pengancur ikut menyeret film ini pada krisis kualitas. Yang paling terlihat ialah akting para pemainnya. Jack Black? Well, Jack Black tetaplaj Jack Black yang mana karakternya ialah selalu tokoh konyol bermulut besar. Sebenarnya hal itu cukup lucu, tapi untk kasus sebagai Gulliver, menciptakan sosok Gulliver menjadi murni konyol dan omdo ialah kesalahan. Cast yang lain lebih parah dimana mereka berakting sangat datar, amat sangat datar dan terkadang ketika tidak datar malah menjurus kearah berlebihan. Entah angin apa yang menciptakan seorang Emily Blunt berakting begitu buruk.

Faktor kedua ialah plot yang sangat terasa terburu-buru dan dipaksakan cepat berakhir menyerupai ketika adegan Gulliver terperangkap dirumah mainan. Selanjutnya ialah berkaitan dengan humornya. Saya memang meras humor disini lucu dan menghibur tapi tetap ada beberapa yang agak dipaksakan menyerupai contoh, "mana mungkin warga liliput sanggup menciptakan poster editan X-Men Origins sementara mereka tidak tahu apa itu X-Men, dan beebrapa plesetan poster film lain". Mungkin saya yang terlalu serius menanggapinya atau memang tingkat kekonyolan film ini sudah keterlaluan? Dan faktor epilog kehancuran film ini ialah kepingan menjelang ending yang begitu konyol dan garing. Tonton dan rasakan kegaringannya.

OVERALL: Film ini akan terasa menghibur jikalau dinikmati dengan otak kososng atau disaat mencari kelucuan untuk menghibur pacar. Disamping itu film ini akan terasa terbelakang dan konyol.

RATING: