Pada suatu kesempatan, Joko Anwar pernah menuturkan sindirannya, bahwa menciptakan film di Indonesia itu mudah, alasannya mereka yang tak punya skill memadahi pun bisa melakukannya. Cukup pitching naskah atau premis ke investor yang mana banyak tidak tahu menyerupai apa naskah atau film bagus, dan voila! Anda menerima lampu hijau menciptakan feature film untuk diputar di bioskop nasional. Saya bukan sedang membicarakan nama menyerupai Nayato Fio Nuala, alasannya beliau tahu menyerupai apa film bagus, tapi tidak tahu cara (atau tidak mau mencoba) membuatnya. Film buruk yang tercipta jawaban ketidaktahuan mengenai kualitas berbahaya bagi industri perfilman tanah air. Jika penonton suka, maka film itu telah berpartisipasi dalam pembodohan masyarakat. Jika tidak, balasannya juga fatal, alasannya masyarakat berpotensi makin kehilangan kepercayaan pada film lokal.
Saya tidak menggantungkan ekspektasi tinggi terhadap "Tausiyah Cinta" karya Humar Hadi ini. Sebagaimana lebih banyak didominasi film religi berselipkan pelengkap "cinta" di belakang kata "Islami" lain, sappy romance dengan konten agama yang preachy besar kemungkinan bakal mendominasi. Sepintas sinopsisnya menyiratkan hal tersebut. Lefan (Rendy Herpy) yaitu konseptor bisnis yang sukses sekaligus populer di Indonesia. Tapi ia bersikap apatis terhadap pedoman agama, alasannya berdasarkan Lefan justru alasannya itulah keluarganya terpecah. "Tuhan bahkan tidak mengabulkan doa mereka yang rajin beribadah", begitu ujarnya. Hingga suatu proyek mempertemukan Lefan dengan Azka (Hamas Syahid Izuddin), arsitek muda sekaligus hafidz (penghafal) Al Qur'an. Unlikely friendship terjalin diantara keduanya.
Sebelum membahas lebih detail, perlu diketahui bahwa banyak film jelek, tapi setidaknya ada satu aspek nyata yang patut sanggup pujian. Bisa akting, premis, sinematografi, musik, apapun. Walaupun semuanya jelek, tingkat kebusukannya pun beragam. Saya tidak pernah melihat ada sebuah film dengan seluruh aspeknya seragam berada di titik nadir, alias kejelekan luar biasa, alias sudah akut. Sampai datang hari Kamis, tanggal 7 Januari 2016 pukul 16:35, dimana saya berada di studio 5 jaringan XXI yang terletak di Jogja City Mall, menyaksikan "Tausiyah Cinta" dengan kondisi daerah duduk nyaris terisi penuh. Disitulah saya mendapati antitesis dari istilah "The Best of the Best" dalam suatu karya. Jika anda ingin mendapati bagaimana kompilasi dari tiap sisi pada sebuah film yang dihadirkan seburuk mungkin, tontonlah "Tausiyah Cinta". Saya deklarasikan bahwa inilah film terburuk yang pernah saya tonton di bioskop.
Naskahnya ditulis oleh empat orang yang saya malas untuk menyebutkan namanya satu per satu, alasannya toh mereka juga malas menulis naskah bagus. Jangankan eksplorasi karakter/konflik mendalam, untuk merangkai jalinan kisah koheren saja naskahnya tidak mampu. Niat utamanya yaitu menghadirkan perjalanan Lefan mencari cahaya ketakwaan lewat pertemuannya dengan orang-orang dengan rasa cinta besar (karena itu judulnya "Tausiyah Cinta"). Tapi akhirnya, fokus alur melebar tak tentu arah. Dimulai dengan konfik Lefan dengan sang kakak, berlanjut ke pertemuan dengan Azka, kemudian bencana yang menimpa Azka sampai kuat pada keimanannya, pencarian Rein (Ressa Rere) terhadap calon suami ideal, kisah cinta Lefan, perjuangan seorang anak tukang gali kubur yang saya lupa siapa namanya untuk menjadi penulis kisah non-fiksi di tengah lemahnya finansial, dan diakhiri oleh konklusi bahwa semua itu menginspirasi Lefan untuk jadi lebih baik.
This movie was really painful to watch. Terlebih dengan usahanya menyelipkan lelucon-lelucon tak lucu yang entah bagaimana dirasa oleh penulis dan sutradara berkaitan dengan keseluruhan alur. Bukan hanya tidak lucu, tapi juga menyedihkan alasannya hadirnya banyak sekali obrolan menggelikan khususnya yang membicarakan cinta atau jomblo. Seolah-olah meyakini apapun isinya, penonton bakal tertawa mendengar another joke about the sad life of jomblo. Saya sendiri punya obrolan "favorit" dalam film ini yang berbunyi sebagai berikut, "Kakak itu kalau di luar amat-amat baik, tapi kalau di dalam nggak baik-baik amat!" Yep, wordplay dialogue at its worst.
Kacau, sungguh kacau. Berusaha merangkai alur "Tausiyah Cinta" sama rumitnya dengan memecahkan misteri "Inception" milik Nolan. Bahkan saya curiga Humar Hadi dan semua tim yang terlibat memang terinspirasi dari film tersebut. Karena dalam beberapa momen terdapat adegan "flashback di dalam flashback" yang serupa dengan "mimpi dalam mimpi"-nya Nolan. Anda tentu familiar dengan scoring berbunyi "Vrrrrooooom" karya Hans Zimmer yang sekarang menginspirasi dentuman musik seluruh blockbuster bukan? "Tausiyah Cinta" punya itu. Dalam banyak momen (maunya) dramatis, akan terdengar bunyi menggelegar yang lebih menyerupai gempa besar daripada scoring. Saya tidak bercanda, alasannya sempat saya menerka ketika itu terjadi gempa alasannya mendadak ruangan bergetar ahli sambil bersamaan terdengar bunyi "Vrrrooooooom". Mengatakan bunyi itu bukan musik rasanya kurang bijak. Karena kesunyian pun yaitu musik. Simak saja lagu "4'33"" karya John Cage. Maka bisa jadi gemuruh itu musik juga. Musik alam.
Bicara soal flashback, teknik tersebut seolah jadi jalan pintas film ini merangkum semua keping kisah menjadi satu. Daripada susah-susah memikirkan timeline suatu konflik, lebih baik hilangkan saja konflik itu, dan secara mendadak munculkan lewat flashback yang out-of-nowhere. Mungkin begitu pikir pembuat filmnya. Karena itu, jangan kaget jikalau ketika menonton anda akan bertanya "itu siapa?", "itu ngapain?", "itu kapan?", "aku dimana? saya siapa?" dan lain sebagainya. Bukan salah anda dan anda tidak bodoh. Apalagi yang perlu dibahas? Akting? Jika akting beberapa menit dari Irwansyah sebagai glorified cameo adalah yang terbaik dan paling natural, bisa dibayangkan kualitas pemain lain. Hamas Syahid Izuddin sukses bertransformasi dari Azka si bijak menjadi annoying crybaby brat bermodalkan tangisan palsu. Saya bisa memahami alasan perubahan karakternya, tapi tidak dengan pembawaan sang pemain film (mudah sekali ya menyandang sebutan aktor?). Lainnya? Sama saja kakunya. Film ini memang merata di semua lini.
Aspek teknis? Entah alasannya bujet minim, skill rendah, atau intensi untuk mengemas film layaknya arthouse ala-Dogma 95 movement, kita akan banyak mendapati gambar berkualitas rendah sampai sound editing timbul karam sebagai jawaban penghilangan noise dalam suara. Mohon maaf jikalau beberapa sindiran seolah merendahkan para pembuatnya. Tapi sama saja, seharusnya mereka pun jangan merendahkan penonton dengan menyuguhkan film semacam ini ke bioskop. Bisa makin ndeso atau tambah sedikit penonton film Indonesia kalau begini caranya. Saya marah, saya murung alasannya itu. Namun tidak akan saya berkata "stop making movie!" untuk para pembuatnya, but just stop making crap movie like this one! Sebagai penutup, izinkan saya mengutip kalimat Roger Ebert dalam review-nya untuk "North" tahun 1994. "I hated this movie. Hated hated hated hated hated this movie!"
Ticket Powered by: Bookmyshow ID
Ini Lho Tausiyah Cinta (2016)
4/
5
Oleh
news flash



