Thursday, December 13, 2018

Ini Lho The Case Of Hana & Alice (2015)

"The Case of Hana & Alice" is definitely a weird case. Bukan alasannya yaitu ceritanya, melainkan pilihan Shunji Iwai untuk mengemasnya sebagai medium animasi. Film ini sendiri merupakan prekuel dari Hana and Alice, sebuah live-action yang rilis tahun 2004. Kenapa Iwai merasa perlu mengemasnya sebagai animasi? Tentu bukan sekedar sebagai gaya-gayaan belaka. Dengan cara ini beliau tidak kehilangan jiwa kedua tokoh utamanya, alasannya yaitu Anne Suzuki dan Yu Aoi bisa kembali memerankan abjad Hana dan Alice meski hanya lewat suara. Bayangkan betapa dipaksakannya jikalau kedua aktris yang masing-masing telah menginjak usia 28 dan 30 tahun itu harus memerankan arif balig cukup akal SMP. Menggunakan aktris gres pun berpotensi menghilangkan nyawa karakter, dan lagi akan kurang relevan jikalau paras mereka berubah mengingat prekuel ini hanya ber-setting kurang lebih satu tahun dari pendahulunya.

Alice (Yu Aoi) yaitu arif balig cukup akal 14 tahun yang gres pindah bersama sang ibu sesudah kedua orang tuanya bercerai. Alice yaitu gadis penuh semangat yang akan dengan gampang menciptakan penonton jatuh cinta. Dia yaitu tipikal orang yang tidak segan menimbulkan tiap langkahnya di jalan layaknya tarian. Alice bukan pula gadis yang lemah, dimana dalam salah satu adegan ia tidak segan memukul salah satu siswa yang mem-bully-nya. Bagaimana voice acting Yu Aoi yang bisa menimbulkan Alice sebagai sosok penuh semangat sekaligus lucu pun makin memudahkan penonton menyukai sosoknya. Tapi dengan semua karakteristik tersebut, kehidupan di lingkungan gres tetap tidak gampang bagi Alice. Teman-teman di sekolah bersikap ketus bahkan menjauhi dirinya. Keanehan itu ditengarai ada kaitannya dengan informasi meninggalnya seorang siswa berjulukan Judas yang konon diracuni oleh keempat istrinya. 

Kasus misterius nan absurd itu pula yang nantinya akan mempertemukan Alice denngan Hana (Anne Suzuki). Berlawanan dengan Alice, Hana yaitu gadis pendiam nan misterius yang sudah setahun lebih mengurung diri di dalam kamar dan tidak pernah masuk sekolah. Hana sendiri tinggal bersebelahan dengan Alice dan dalam beberapa kesempatan terlihat mengamati Alice secara rahasia dari kamarnya. Dari sinilah persahabatan keduanya akan dimulai. Persahabatan absurd mengingat sosok mereka yang sekilas berseberangan. Semakin absurd disaat kekerabatan itu dipersatukan oleh sebuah masalah absurd yang tidak terdengar masuk nalar sedikitpun. Bagaimana mungkin siswa Sekolah Menengah Pertama kelas 9 memiliki empat istri? Betulkah arwahnya masih terus bergentayangan di kelas? 
Dengan aneka macam misteri tersebut nyatanya Shunji Iwai sama sekali tidak berniat mengemas The Case of Hanna & Alice sebagai sajian misteri, kriminal ataupun drama pemeriksaan ala kisah detektif. Memang Hana dan Alice pada jadinya berusaha memeriksa kebenaran dibalik "kematian" Judas, tapi bukan itu poin utamanya. If a murder mystery story is what you want, than you'll be disappointed. If you disappointed because of that, than you're missing the point of this movie. Tapi misteri itu juga bukan sekedar aksesori latar tanpa esensi. Kita harus menilik kembali menyerupai apakah pertemanan antara Hana dan Alice. Sekali lagi alasannya yaitu kepribadian masing-masing, kekerabatan itu nampak tidak wajar. Makara dibutuhkan situasi tak masuk akal pula untuk menyatukan keduanya. Iwai menyajikan itu dengan penuh kehangatan sekaligus kejenakaan yang menciptakan aku terikat baik oleh abjad maupun ceritanya. Tentu aku ingin tau dengan kebenaran kasusnya, but in the end it doesn't matter at all

Semua yang terjadi dalam film ini menjurus kearah satu hal, yakni kebenaran yang tersimpan. Banyak situasi maupun abjad (termasuk Hana) yang disalah artikan. Kasus pembunuhan Judas, ketika Alice mengira Hana terseret oleh truk yang menimbulkan kehebohan massal, atau pertemuan Alice dengan seorang laki-laki bau tanah yang dikhawatirkan oleh Hana sebagai penculik. Begitu ahli kekuatan sebuah kata. Tidak butuh banyak perjuangan untuk membuatkan suatu kabar, menimbulkan suatu hal buram menjadi fakta yang dipercaya khalayak umum. Begitulah cara Iwai memperlihatkan cerminan akan cara masyarakat masa sekarang memandang sebuah kebenaran. Tanpa berusaha mencari tahu, begitu saja mereka percaya akan sesuatu. Maka pemeriksaan Hana dan Alice bukanlah mengutamakan pada misteri, melainkan esensi dari pencarian kebenaran. Saya suka cara Iwai menturukan drama penuh makna itu secara subtle, efektif, namun tetap dipenuhi kesenangan.
Kekuatan lain dari film ini terletak pada visual animasinya yang mengingatkan akan Waking Life-nya Richard Linklater. Tapi Shunji Iwai tidak menerapkan gaya yang sepenuhnya serupa. Dia mengambil kesan realistik dari visual tersebut, namun menambahkan aneka macam pemanis, sehingga di tengah kesan faktual tetap ada keindahan fantasi menyerupai kilauan cahaya merah/biru yang kerap kali muncul. Penggunaan animasi pada prekuel ini pun memberi jalan bagi Iwai untuk menangkap unsur kehidupan arif balig cukup akal Sekolah Menengah Pertama yang penuh warna. Karakternya ada pada usia dimana naik-turun kehidupan masih menjadi palet warna yang menyenangkan. Atmosfer itu pula yang jadinya bisa aku rasakan dalam film ini. Lewat media animasi pula aneka macam kelucuan situasi serta tingkah polah menarik dari Alice bisa dimaksimalkan. Karena dengan pemaparan live-action bisa saja semua itu terasa bodoh, berlebihan, ataupun mengganggu. Berkat itu aku berhasil dipuaskan alasannya yaitu tawa yang berulang kali hadir.

Salah satu permasalahan yang dimiliki film ini terletak pada supporting character. Bukan berarti mereka tidak menarik, alasannya yaitu jutru sebaliknya, sosok menyerupai Fuko yang childish atau Mu dengan segala keanehannya bisa mencuri perhatian. Sayangnya sesudah pertemuan Alice dengan Hana, mereka berdua justru menghilang. Tapi meski disayangkan, aku bisa memaklumi alasannya yaitu kebutuhan filmnya memang mengharuskan fokus penuh terhadap kekerabatan dua abjad utamanya. Satu aspek lain yang cukup mengganggu yaitu pemaparan Hana dari sosok misterius mendadak menjadi lebih cerah. Saya tahu hal itu merupakan intensi Iwai demi menghadirkan kesan bahwa "Hana tidak menyerupai yang kita kira", tapi untuk hal ini aku sedikit merasa dibohongi. Tapi beberapa poin tersebut merupakan kekurangan minor jikalau dibandingkan segala kepuasan yang aku dapatkan dari The Case of Hana & Alice. Bahkan jikalau belum menonton film pendahulunya pun, prekuel ini tidak akan menciptakan anda tersesat. Bahkan mungkin bakal timbul ketertarikan untuk menonton film tersebut.


Artikel Terkait

Ini Lho The Case Of Hana & Alice (2015)
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email