The title of this movie sounds poetic, romantic and bittersweet. Bagai ada kerinduan untuk bertemu dengan orang terkasih yang tidak bisa lagi kita temui secara langsung, sehingga mimpi menjadi satu-satunya cara berjumpa. Premisnya pun menyiratkan kesan serupa. Berikut yaitu sinopsis yang saya ambil dari Wikipedia: Carol (Blythe Danner) yaitu janda yang menyadari bahwa kehidupan sanggup dimulai lagi dalam usia berapapun. Dengan proteksi teman-temannya, Carol berusaha untuk mengeksplorasi lebih banyak hal. Dia menjalin pertemanan dengan pembersih kolamnya, Lloyd (Martin Starr), menjalani relasi percintaan dengan Bill (Sam Elliott), dan merekatkan lagi relasi dengan sang puteri, Katherine (Malin Akerman). Terdengar menyerupai kisah wacana perjalanan mencari makna hidup yang mendalam bukan? Sayangnya, hasil final yang dimiliki I'll See You in My Dreams jauh dari itu.
Sutradara Brett Haley memulai filmnya dengan cara standar yang biasa digunakan untuk memperlihatkan kehidupan repetitif dan monoton sebuah karakter. Carol bangkit di pagi hari, menjalani acara hanya ditemani oleh anjingnya, bermain kartu bersama teman-temannya yang tinggal di komunitas pensiunan, kemudian kembali tidur. Begitu seterusnya. Tapi ini bukan arthouse yang berusaha sebisa mungkin menciptakan penonton ikut mencicipi kesepian karakternya entah lewat pengemasan tanpa musik atau pengambilan gambar tanpa putus. Momen itu hanya berlalu, menciptakan penonton tahu, tapi tidak ikut masuk dalam dongeng beserta rasa. Tidak lebih dari sekedar cuplikan-cuplikan yang disatukan secara well-made lengkap dengan scoring berupa musik ala indie pop. Kondisi serupa bukan hanya terjadi pada opening saja, tapi keseluruhan filmnya.
Segala bentuk "perjalanan" Carol menyerupai tertulis pada kutipan sinopsis di atas pada risikonya tidak ada yang secara total menerima eksplorasi. Memang benar Carol melaksanakan semua itu. Dia memulai pertemanan dengan Lloyd, dimana secara tersirat sang cowok memendam perasaan lebih pada Carol. Tapi ini bukan Harold and Maude. I'll See You in My Dreams terlalu "pop" untuk berani menjamah ke area tersebut. Tapi interaksi antara Carol dan Lloyd cukup berhasil memperlihatkan kehangatan lewat obrolan-obrolan santai sembari ditemani segelas wine. Lewat pemaparan relasi keduanya pula kita berkesempatan menyaksikan Blythe Danner menyanyikan nomor klasik "Cry Me A River" secara elegan dan mempesona. Adegan itu merupakan salah satu highlight film ini.
Kebersamaan Carol dan teman-temannya sesama lansia memperlihatkan porsi komedi yang berhasil memancing beberapa tawa, dengan adegan menghisap marijuana vaporizer sebagai puncak kelucuan. Tapi tidak lebih dari itu. Mereka semua cukup lucu untuk disaksikan tapi tidak memberi sumbangsih apapun terhadap fokus utama narasi. Tidak lebih dari sekedar subplot pengisi yang menghibur. Lebih tersia-sia lagi yaitu kisah cinta Carol dengan Bill serta hubungannya dengan Katherine. Setelah semua kehampaan yang menemani hidupnya, penonton haruslah diajak mencicipi bahwa Carol risikonya kembali menemukan sesuatu yang berharga berkat kehadiran Bill. Suatu hal yang bisa membuatnya menyadari bahwa usia lanjut bukan alasan untuk berhenti mencari kebahagiaan. Tapi sisi emosional sama sekali tidak saya rasakan. Sekali lagi semua hanya tiba dan pergi tanpa kesan berarti. Termasuk kepulangan Katherine yang membuktikan kemalasan naskah goresan pena Brett Haley dan Marc Basch untuk menegaskan bahwa Carol masih mempunyai sesuatu yang berharga dalam hidupnya.
Satu-satunya alasan berpengaruh bagi saya untuk merekomendasikan film ini yaitu akting Blythe Danner yang cukup untuk mendatangkan Oscar buzz (walau mungkin pada risikonya tidak menerima nominasi sekalipun). Begitu terpancar rasa dilematis dalam tiap gerak-gerik serta ekspresi wajahnya. Dilema yang muncul alasannya disatu sisi ia pesimistis untuk menjalin keterikatan dengan orang lain atau terus maju menjalani hidup jikalau pada risikonya hanya kehilangan berujung kesedihan yang akan didapat. Tapi disisi lain ada hasrat berpengaruh untuk menikmati hari.
Saya akui I'll See You in My Dreams adalah tontonan well-made yang cukup menghibur. Tapi sebagai eksplorasi mengenai kehidupan usia lanjut yang aspek hidupnya niscaya banyak diisi dengan ajal dan duduk kasus apakah hidup harus terus berjalan, film ini sama sekali tidak menyentuh sisi emosional. Bahkan dengan sebuah bittersweet ending sekalipun tidak ada pergolakan emosi yang saya rasakan. Terlalu banyak konflik relationship yang coba diangkat tanpa ada kekuatan pada masing-masing dan tidak adanya koherensi antara satu dan yang lain. Brett Haley berusaha menuturkan narasi yang free-flowing. Dia tidak ingin menciptakan film ini sebagai sebuah dongeng yang berjalan lurus, melainkan pemaparan tiap sisi relasi yang dijalani oleh Carol. Pilihan yang sama sekali tidak keliru, hanya saja menyerupai kehidupan abjad utamanya, film ini hampa.
Ini Lho I'll See You In My Dreams (2015)
4/
5
Oleh
news flash


