Thursday, December 13, 2018

Ini Lho Spl Ii: A Time For Consequences (2015)

Pada periode ketika ini, tidak bisa dipungkiri The Raid (dan sekuelnya) mulai menjadi tolak ukur kualitas film aksi. Koreografi baku hantam memukau dan kadar kekerasan tinggi ditangkap oleh kamera secara mendetail tanpa berusaha melaksanakan cut cepat sebagai trik manipulasi. Film agresi old school yang melambungkan nama-nama menyerupai Bruce Willis, Sylvester Stallone sampai Jason Statham perlahan mulai ditinggalkan. Sejatinya merupakan keputusan sempurna untuk tidak lagi asal membuang selongsong peluru dalam sajian action. Lihat bagaimana John Wick bisa mengundang decak kagum. Tapi bicara problem "meniru" The Raid, mungkin SPL II: A Time for Consequences ini ialah "pelopor". Tampak jelas, bagaimana sutradara Cheang Pou-soi ingin menjadi Gareth Evans dalam usahanya memancing adreanline penonton. 

Bukan bermaksud membandingkan, tapi termasuk beberapa aspek di atas, semua DNA baik dari The Raid maupun Berandal bisa ditemukan disini Filmnya punya dua protagonis: seorang undercover cop dan penjaga penjara. Alurnya mempunyai unsur perihal instansi korup. Scoring yang digunakan kental nuansa adonan musik elektronik dan orkestra klasik. Terdapat adegan kerusuhan dalam penjara. Klimaksnya menghadirkan perkelahian antara dua protagonis melawan (hanya) satu musuh. Jangan lupakan juga fakta bahwa film ini dibintangi oleh Tony Jaa yang "setipe" dengan Iko Uwais. Tapi bukan berarti SPL II adalah copycat. Cheang Pou-soi hanya mengambil template-nya, menyaring apa saja yang menjadi formula kesuksesan, kemudian merangkum semua dengan caranya sendiri. Akhirnya di tengah gemuruh action blockbuster dari Hollywood yang dipenuhi CGI dan ledakan, film ini begitu menonjol.

Walaupun menggunakan pelengkap "II" dalam judulnya, SPL II: A Time for Consequences sejatinya hanyalah sequel "in-name-only" dari SPL: Sha Po Lang yang rilis tahun 2005 dan dibintangi oleh Donnie Yen serta Sammo Hung. Jalan ceritanya sama sekali berbeda dengan aksara yang berbeda pula. Wu Jing dan Simon Yam memang kembali, tapi memerankan aksara lain. Dengan dua setting lokasi, yakni Thailand dan Hong Kong, fokus pun sempat terbagi kepada dua karakter. 
Chatchai (Tony Jaa) ialah penjaga penjara di Thailand. Dia ialah laki-laki baik yang berada di tengah kondisi buruk. Sa (Unda Kunteera Yhordchanng) puterinya yang masih tujuh tahun menderita leukimia dan kesulitan mencari pendonor yang tepat. Bukan drama yang sangat berpengaruh memang, apalagi dengan kuantitas momen emosional terbatas (baca: dibatasi) mengingat Tony Jaa sendiri bukanlah sosok yang piawai dalam hal itu. Tapi untuk sekedar menciptakan kisahnya tidak kosong dan memberi story arc bagi protagonisnya, itu sudah cukup, termasuk menciptakan saya bersimpati pada "pengampunan dosa" untuk seorang tokoh di paruh akhir. Kondisi serupa hadir di tempatnya bekerja ketika Chatchai mendapati sang sipir, Ko Chun (Zhang Jin) melaksanakan aneka macam acara ilegal dibantu oleh karyawan-karyawan lain. Chatchai is a good man in bad situations, and sometimes, those situations forced him to did a bad things too.

Dari Hong Kong, ada seorang polisi berjulukan Kit (Wu Jing) yang tengah berada dalam misi penyamaran dalam sebuah kelompok kriminal yang dicurigai terlibat dalam penyelundupan organ badan manusia. Berawal dari usahanya meraih kepercayaan mereka, Kit pun terjerumus menjadi pecandu narkoba. Kit was a good man, before bad situations forced him to gone bad. Dari kedua aksara utama ini bisa dilihat walau SPL II punya dongeng yang jauh berbeda dari pendahulunya, esensi yang diusung masihlah serupa. Sha Po Lang sendiri berasal dari tiga kata yang diambil dari astrologi Cina, yang masing-masing merepresentasikan bintang yang sanggup menjadi baik maupun jelek tergantung pada situasinya. Begitulah kondisi Kit dan Chatchai disini. 
Malang bagi Kit, ketika misinya telah mendekati akhir, sebuah kesalahan menciptakan penyamarannya terbongkar. Akibatnya, Kit dijebak, dan dijebloskan kedalam penjara di Thailand. Ya, sudah niscaya itu ialah penjara daerah Chatchai bekerja, dan acara ilegal yang dilakukan oleh sang sipir juga berkaitan dengan Mr. Hung (Louis Koo), bos dari organisasi kriminal penyelundup organ daerah Kit menyamar. Nantinya akan semakin banyak link antara aneka macam konflik di Thailand dan Hong Kong. Cara film ini mengaitkan semua itu tidaklah halus. Ibarat dua tali terpisah, naskah goresan pena Jill Leung dan Huang Ying tidak menyambungnya dengan simpul, tapi mengikatnya secara paksa dengan perekat. Tapi cara merekatkan kedua tali itu tidak buruk. Perekat ditempatkan di posisi yang tepat, kemudian dipasang secara perlahan dan cukup rapih. 

Kemudian apa lagi yang bisa dikomentari dari film macam SPL II: A Time for Consequences? Tidak banyak, sebab sajian utamanya sudah niscaya action tingkat tinggi. Tapi itu saja sudah cukup. Seperti yang telah saya singgung, Cheang Pou-soi berusaha menjadi Gareth Evans, dan cukup 50% presentase keberhasilan dari perjuangan tersebut untuk bisa memperlihatkan film agresi memikat. Mengkombinasikan kekerasan melalui bunyi tulang retak ketika badan menghujam tanah atau terkena pukulan sampai sayatan pisau diiringi cipratan darah dengan keindahan koreografi bela diri ialah kepuasan terbesar menyaksikan film ini. Klimaksnya jadi kulminasi ketika trio Tony Jaa-Wu Jing-Zhang Jin mengerahkan segala kemampuan mereka dalam sebuah baku hantam yang menciptakan saya bersorak. Jika harus dibandingkan, intensitasnya memang tidak setting epic threesome showdown Iko Uwais-Dony Alamsyah-Yayan Ruhian, but being the second best is more than enough in this case. Genre film agresi butuh lebih banyak lagi film menyerupai ini untuk kelangsungan hidupnya.

Artikel Terkait

Ini Lho Spl Ii: A Time For Consequences (2015)
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email