Sekilas One Way Trip karya sutradara Choi Jung-yeol (juga merangkap penulis naskah) ini tak mempunyai perbedaan berarti dibanding sajian coming-of-age bertemakan persahabatan lainnya. Ditambah aspek road movie, praktis membayangkan para protagonis melakoni perjalanan yang membawa mereka menuju kejadian-kejadian mengejutkan penuh konflik hingga kesudahannya masing-masing menerima pengalaman berharga mengenai hidup serta pertemanan. Another lighthearted and cliche movie with good loking actor Kim Jun-myeon a.k.a. Suho is a member of South Korean boyband EXO as a magnet for female audience. Saya pun tidak menyangka ketika One Way Trip punya banyak dongeng untuk dituturkan dengan tone cukup kelam menyelimutinya.
Film dibuka oleh adegan kejar-kejaran antara polisi dan empat orang pemuda; Yong-Bi (Ji Soo), Sang-Woo (Kim Jun-myeon), Ji-Gong (Ryu Jun-yeol) dan Doo-Man (Kim Hee-chan). Belum dijelaskan alasan dibalik pengejaran tersebut kecuali mereka terlibat sebuah kasus penyerangan. Kemudian alurnya mundur, mengungkap bahwa keempat sahabat itu melaksanakan perjalanan bersama sebagai program perpisahan lantaran Sang-Woo akan berangkat wajib militer. Perjalanan menyenangkan itu serentak berubah 180 derajat tatkala suatu insiden menggiring keempatnya menuju serangkaian kesulitan.
Ada ambisi besar tersimpan di balik dongeng film ini. Choi Jung-yeol bukan hanya ingin menuturkan kisah persahabatan, melainkan juga kekacauan sistem hukum beserta penegaknya sampai penggalian akan bangkitnya sisi kelam insan ketika tengah tersudutkan posisinya. Guna mengakali tumpukan poin tersebut, Jung-yeol memanfaatkan alur nonlinier, melompat maju mundur antara sebelum dan setelah insiden. Paparan persahabatan tokoh utama memang jadi kurang maksimal jawaban kerap terpotongnya momentum serta perbedaan tone kedua timeline, sehingga aku urung sepenuhnya terikat pula terpikat dengan hubungan keempat protagonis. Tapi mirip pengorbanan kecil lantaran eksplorasi terhadap isu-isu lain bisa tergali mendalam, membawa One Way Trip jauh lebih kompleks dari kelihatannya.
Emosi penonton akan dibawa bergejolak mendapati abdnegara kepolisian dalam film ini hanya mementingkan terselesaikannya kasus tanpa peduli kebenaran sesungguhnya, bahkan berat sebelah kala dihadapkan pada pihak pemilik kekuatan. Cara memantik emosi itu sejatinya formula lama namun belumlah lama mengingat insiden serupa masih jamak terjadi. Tapi aspek terbaik One Way Trip adalah kala beberapa tokoh "terpaksa" menampakkan sisi gelap mereka demi kepentingan personal entah karir, masa depan, dan lain-lain. Poin itu tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan erat dengan persahabatan, bagaimana ikatan kebersamaan terbentur hasrat menyelamatkan diri sendiri. Benturan di atas membangun duduk kasus dalam batin saya. One Way Trip mampu menciptakan penonton menempatkan diri di posisi karakternya, berandai-andai bakal bersikap mirip apa jikalau mengalami situasi serupa.
Ketiga lead actors tanpa menghitung Jun-myeon mengingat minim kesempatan baginya berbuat banyak menampilkan performa cukup apik menghantarkan tiap-tiap aksara praktis disukai berkat hadirnya beberapa tawa, sehingga ketika porsi menghabiskan waktu bersama tak begitu banyak, tidak sulit mencicipi ikatan di antara mereka. Persahabatan yang believable berdampak pada kuatnya impact emosional sewaktu hubungan mereka tergoncang luar biasa.
One Way Trip sebenarnya tetap tergolong melodrama, hanya saja Choi Jung-yeol menolak berlebihan mendramatisir. Adegan menampilkan air mata masih dipertahankan, namun dalam kadar secukupnya meski sempat beberapa kali hadir berlarut-larut semisal tangisan Yong-Bi mendekati simpulan film. Ada setumpuk kesedihan bahkan tragedi mengiringi hidup karakternya, tapi penonton bukan sekedar diajak mengasihani, melainkan merenungi sambil mungkin sesekali mengintip sisi gelap di balik topeng normatif kita sehari-hari. Bagi aku momen paling emosional sekaligus heartbreaking adalah tatkala tiga dari tokoh utama terlibat pertengkaran, mirip kulminasi perjalanan menuju "the dark side of human being" yang sepanjang durasi konsisten dituturkan. 'One Way Trip' isn't a fairy tale about friendship, it's a bitter truth that'll makes you question the existence of true frienship.
Ini Lho One Way Trip (2016)
4/
5
Oleh
news flash



